Jun 122018
 

Sistem pertahanan udara jarak jauh S-400 © Russian MoD

JakartaGreater.com – Selain kesepakatan antara Turki dengan Rusia dalam pembelian sistem rudal pertahanan udara S-400, Ankara telah mengungkapkan harapannya untuk memproduksi bersama rudal pertahanan generasi berikutnya S-500.

Seperti dalam wawancara Sputnik dengan pensiunan jenderal Angkatan Udara Turki, Letnan Jenderal (Purn) Erdogan Karakus mengatakan bahwa kerjasama senjata Rusia-Turki berkembang pesat dan akan berdampak pada keseimbangan kekuatan dikawasan itu, yang saat ini terlibat dalam sejumlah konflik. Dia menambahkan bahwa itu mungkin dapat mencegah eskalasi lebih lanjut seperti serangan Israel-AS terhadap Iran.

“Di tengah ketidakpastian tentang pengiriman jet tempur F-35 buatan AS ke Turki, Ankara mencari varian alternatif untuk kerjasama militer. Terutama adalah memperkuat hubungan kita dengan Rusia dibidang teknis militer. Pada saat yang sama, Turki bekerja mengembangkan jet tempur sendiri, tetapi kami menghadapi penolakan Inggris atas hal ini”, menurut pensiunan perwira itu.

Menurut Karakus, kerjasama Rusia-Turki adalah untuk kepentingan kedua negara. Dia menunjukkan bahwa negosiasi tentang pengiriman S-400 menciptakan lingkungan yang tepat untuk produksi bersama sistem rudal S-500. Dia mengutip pernyataan terbaru Presiden Turki sebagai contoh kesiapan untuk tingkat kerjasama seperti itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan baru-baru ini mengungkapkan bahwa Ankara menantikan produksi gabungan sistem pertahanan udara dan rudal generasi baru S-500 dengan Rusia.

“Saya telah menghubungi Presiden Putin dengan proposal tentang produksi bersama S-500”, tutur Erdogan dalam sebuah wawancara dengan TV-24.

Selain itu, kantor berita Anadolu mengutip pernyataan presiden Turki bahwa Moskow telah memberikan pinjaman kepada Ankara untuk membeli sistem rudal S-400 dengan “persyaratan yang sangat bisa diterima”.

Berbicara tentang kerjasama strategis antara Turki dan Rusia yang berkenaan dengan kebijakan regional, pensiunan Jenderal menekankan bahwa baik Rusia maupun Turki ingin menangkis hegemoni negara-negara Barat di Timur Tengah, sehingga “aliansi” Turki-Rusia adalah tanggapan terhadap ancaman dari AS tersebut.

“Seperti diketahui bahwa AS bersama Israel kini sedang membuat rencana serangan gabungan terhadap Iran. Baik Rusia dan Turki pada dasarnya menentang rencana itu. Saya berasumsi bahwa kerjasama dengan Rusia, termasuk hubungan militer, dapat mencegah serangan terhadap Iran”, kata Karakus.

Kesepakatan mengenai pasokan S-400 Rusia ke Turki, yang ditandatangani pada bulan Desember 2017, memicu ketegangan antara Ankara dan Washington, yang mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Turki, karena Amerika Serikat yakin bahwa senjata tersebut tidak sesuai dengan pertahanan NATO, dan melarang pengiriman jet tempur F-35 yang telah dijadwalkan kepada Turki.

Meskipun ada ancaman sanksi dari AS, spekulasi atas kerjasama yang lebih dalam telah meningkat, karena Turki dilaporkan menunjukkan minatnya untuk membeli jet tempur generasi kelima Rusia.

Andrew Heller, seorang analis dari perusahaan konsultan Inggris, IHS Jane, pun telah menyebut bahwa taipan senjata milik negara Rusia, yakni Almaz-Antey akan menjadi satu-satunya pemain asing di pasar militer Turki dalam sepuluh tahun ke depan, jika termasuk perjanjian S-400.

  5 Responses to “Mantan Jenderal Turki: Kesepakatan S-400 Adalah Respon Atas Ancaman AS”

  1.  

    Ayo percepat S-400

  2.  

    Bad boy from Metiteranian bg AS, Turkey seperti mengemis agar bs jd anggota UE dan membeli SAM dr AS ketika itu sulit dipenuhi Rusia masuk sebagai solusi alternatif bg keamanannya dr pr musang!he3

  3.  

    Aliansi rusia-turki.momentnya pas & dapat diterima smua pihak.ane dukung 100%.