JakartaGreater.com - Forum Militer
Feb 112013
 

marder_tank-21.jpg

Arah dijadikannya IFV Marder sebagai Tank Medium TNI AD, semakin mendekati kenyataan, setelah pemerintah Jerman memberikan blueprint Marder kepada Indonesia, satu paket dengan pembelian 100 MBT Leopard 2 dan 50 IFV Marder 1A3.

Dengan asistensi Rheinmetall Jerman, PT Pindad akan membuat line produksi dari tahap awal hingga jadi. PT Krakatau Steel diharapkan mampu membuat  spesifikasi logam untuk memenuhi armor harness Marder buatan  PT Pindad nantinya. Turret yang dipilih kemungkinan besar Hitfact 105- 120 mm Oto Melara.

Dengan bobot yang lebih ringan dan rendahnya recoil force, turet ini menghasilkan tenaga tembakan yang besar untuk menghancurkan main battle tank secara akurat. Turret Hitfact 105 – 120 mm memiliki sejumlah keunggulan karena meriam maupun senjata mesinnya telah terintegrasi.

Canon Oto Melara Hitfact 120mm

Canon Oto Melara Hitfact 120mm

Selain itu, awak dari Tank yang menggunakan turret Hitfact dapat melacak dan mendeteksi lawan secara independen, terlepas dari pergerakan turet.  Dia juga dapat mengontrol pergerakan turret maupun senjata dan mampu melacak sasaran dengan remote control, yang dipandu Kamera TV infra merah.

Selain dilengkapi senjata mesin otomatis 7,62 mm, turret ini bisa dilengkapi senjata mesin pertahanan udara 12,7 mm. Turet Oto Melara fully-stabilized 105-mm high-velocity rifled gun buatan Italia ini memiliki efektif jarak tembak 3 km dengan amunisi sesuai dengan standar NATO 105 mm.

Tank rekayasa Rheinmetall ini diklaim mampu bertarung dengan main battle tank lainnya. Rheinmetall melihat Marder memiliki sejumlah kelebihan, sehingga mereka kembangkan menjadi tipe IFV Upgrade dan Tank Marder 105-120 mm.

Armor
Protection against small arms 20 mm armour-piercing and shell splinters
Weight
29,200 kg combat condition
Speed
75 km/h maximum road speed
Range
500 km
Dimensions
Length, 6.79 m; Width, 3.24 m; Height, 2.98 m turret

Banyak komponen yang bisa diupgrade ke IFV/ Tank Marder untuk meningkatkan performanya, seperti mengganti track-nya dengan TR30, atau mengganti fuel tank, hydraulic, air pressure tank dan seat structures, dengan alumunium SAG.

Marder Mengusung Anti Udara Roland

Marder Mengusung Anti Udara Roland

Untuk urusan anti-udara Merder juga bisa dilengkapi dengan Roland short range air defence missile system yang pensiun dari militer Jerman tahun 2005,  digantikan LFK NG missile system, buatan MBDA dan Diehl. Perancis menggunakan Roland 3 untuk MBT AMX 30 mereka. Namun senjata anti-udara Roland terus dikembangkan Perancis.

Versi terbaru Roland Carol merupakan sistem senjata efektif untuk menghadapi ancaman udara dari extremely low hingga medium altitude.  Roland Carol merupakan standalone weapon system yang bisa dipasang di Marder. Senjata ini diproduksi tahun 1995 dan digunakan oleh Perancis dan Jerman.

Marder menembakkan ATGM MIlan

Marder menembakkan ATGM MIlan

Dengan demikian, Marder nantinya bisa difungsikan sebagai Infantry Fighting Vehicle (20 mm Rheinmetall MK 20 Rh202 fully remote machine gun) dengan ATGM Milan, Medium MBT  Canon 105-120mm Hitfact, maupun Lapis baja anti serangan udara jarak pendek dengan mengusung Roland Carol buatan EADS.

Jerman mendisain IFV Marder untuk pasukan Infanteri Mekanis mereka dengan konsep dasar harus bisa bertempur baik dari dalam maupun luar kendaraan dan harus bisa memberikan perlindungan dari serangan nuklir, biologi dan kimia.

Perusahaan Saab Swedia juga telah membuat  BT46 two-way simulator, yang bisa digunakan untuk berlatih perang menggunakan: Leopard, Marder, Luchs, Wiesel, Fennek dan Boxer. Jerman juga memesan simulator ini, karena Saab BT46 gun training simulator dapat mensimulasikan dengan secara recara akurat balistik dan kecepatan terbang amunisi yang secara simultan memberikan feedback kepada petembak dan target.

Teknologi IFV Marder dilepas oleh Jerman karena Marder akan dipensiunkan oleh AD Jerman, untuk diganti dengan IFV PUMA.

IFV PUMA Jerman

IFV PUMA Jerman

ifv puma-2

IFV Puma Jerman

IFV Puma Jerman

Indonesia sebenarnya ingin juga membeli IFV Puma dari Jerman. Namun untuk barang  produksi tahun 2010 itu, Ibu Angela Merkel belum bersedia menjualnya.

Dengan adanya transfer teknologi IFV Marder ke PT PIndad, diharapkan teknologi lapis baja Indonesia terus berkembang dan tank medium Pindad segera menjadi kenyataan. JKGR.

Berbagi

  26 Responses to “Marder, Lapis Baja One Stop Services”

  1.  

    Kendaraan tempur lapis baja yang sangat hebat. Beruntung Indonesia bisa mendapatkan tekonologi untuk mengadopsinya. Marder ibarat benteng berjalan yang punya aneka pertahanan sendiri untuk mampu memindahkan pasukan, dan lebih jauh mampu mengalahkan MBT, IFV, dst untuk bisa terus masuk menembus wilayah musuh. Kombinasinya dengan Leopard dan helikopter serang semacam Apache atau Super Cobra akan sangat kuat dan mematikan.

    Di sisi lain, salah satu masalah kendaraan tempur super seperti Marder dan Leopard adalah rapid deployment nya, pengerahan cepat di area yang luas apalagi dipisahkan laut. Invasi musuh sudah bisa dipastikan pertama kali mengincar wilayah RI yang penjagaannya lemah. Kedua, lokasi tsb dipilih yang yang pengiriman bala bantuannya lama, jauh lebih lama dari waktu yang diperlukan musuh untuk menumpuk pasokan untuk logistik, pertahanan dan invasi lebih jauh.

    Oleh karena itu, selain dengan kapal pendarat yang sedang dibangun itu, perlu direncanakan juga pengadaan pesawat angkut yang mampu mengangkut kendaraan berat semacam Marder dan Leopard. Airbus A-400M bisa mengangkut muatan 37 ton, dan C-17 Globemaster bisa 70 ton lebih. Selain cepat, transportasi udara ini, dengan pengamanan yang baik, bisa menghindari blokade kapal perang di suatu wilayah yg dikuasai musuh. Lebih jauh lagi, bisa untuk mengirimkan benteng berjalan dan pasukan2nya tsb ke belakang wilayah pasukan musuh yang dipertahankan secara lemah.

    Kemampuan second strike memang harus terus ditingkatkan sehingga tidak ada yang coba-coba untuk klaim atau invasi salah satu wilayah kita. Invasi Malaysia dengan mengobarkan perang di Ambalat dan wilayah lain bisa direspon keras oleh TNI dengan banyak cara, salah satunya pengiriman Marder, Leopard, dst dalam paket benteng berjalan ini langsung ke bandara Kuala Lumpur mengawali perang kota, tentunya setelah pertahanan udaranya dilemahkan. (Tentu saja batalyon tim pendarat marinir juga masuk dari laut untuk menjepit.)
    Btw, C-17 meskipun dgn sayap tipis swept back, ternyata speed nya bisa dipelankan untuk melakukan penerjunan pasukan dengan safe, tanpa kehilangan gaya angkat. C-17 bisa terbang sepelan Hercules!

    Malaysia sedang menunggu kedatangan beberapa A-400M. Pesawat angkut ini bisa untuk mengantisipasi jika wilayah timur dan barat Malaysia diblokade puluhan kapal perang kita di perairan sekitar Natuna, A-400M akan menjadi jembatan udara wilayah timur dan barat.

    •  

      “Di sisi lain, salah satu masalah kendaraan tempur super seperti Marder dan Leopard adalah rapid deployment nya, pengerahan cepat di area yang luas apalagi dipisahkan laut. Invasi musuh sudah bisa dipastikan pertama kali mengincar wilayah RI yang penjagaannya lemah. Kedua, lokasi tsb dipilih yang yang pengiriman bala bantuannya lama, jauh lebih lama dari waktu yang diperlukan musuh untuk menumpuk pasokan untuk logistik, pertahanan dan invasi lebih jauh.”

      Sebenarnya ini bisa diatasi atau dihambat pergerakan dari musuh jika kita mempunyai pasukan penjaga pantai. Namun sampai sekarang kita belum mempunyai pasukan penjaga pantai yang dilengkapi dengan meriam atau rudal pantai. Misalnya rudal P-800 Onyx versi truk (diankut kendaraan darat). Sepertinya doktrin angkatan bersenjata kita masih ..”musuh bisa masuk dan menguasai suatu daerah lalu kita usir…bukan musuh akan masuk ke daerah kita maka kita usir sebelum mereka masuk”. Lihat saja dalam skenario latihan perang, sejak saya masih SMA sampai sekarang pasti skenarionya ada daerah yang dikuasai musuh lalu TNI menghajar dan musuh dikalahkan.

      •  

        Ya…doktrin TNI kita masih berbau Ode Baru, terutama apa yg dikatakan Rudini dulu: “Biar musuh bisa menembus lautan dan udara kita, di darat mereka akan mengalami perlawanan hebat dari seluruh rakyat.” Jadi ujung-ujungnya rakyatlah yang harus melawan. Makanya TNI ngotot harus ada UU yang mengatur masalah komponen cadangan.

    •  

      Mas WH, serangan air-landed ke KL seandainya sukses bisa menjadi blitzkrieg modern yang luarbiasa, gabungan Entebbe raid + perang kota Mogadishu (Blackhawk Down), tapi pastinya juga akan menjadi logistical nightmare untuk mendukung pasukan yang berhasil didaratkan, karena mereka seperti berada di ‘pulau’, di tengah kepungan tentara lawan. (Di Entebbe-pun pasukan Israel berada di darat dalam waktu sangat singkat, dan segera kabur. Sementara di Afghanistan logistik jalur darat pasukan NATO secara rutin dihadang Taliban, logistik via airlift rasanya lebih rentan).
      Agar berhasil, mungkin sebelumnya ada serangan pasukan komando (terjun HALO) untuk mengeliminir para Kepala Staf angkatan + panglima AB (untuk menghambat koordinasi regroup pasukan lawan), pusat komunikasi Mabes AB, radar hanud (karena TNI tidak memiliki pesawat stealth dan rudal jelajah) untuk membuka jalan bagi serangan dadakan pesawat tempur TNI melumpuhkan kekuatan AU lawan, sepertinya too many moving parts, satu komponen meleset, keberhasilan operasi terancam.

      Force build-up dari tank yang didaratkan harus cepat, sebelum musuh berhasil menghimpun kekuatan kembali / regroup. Tentunya tidak hanya tank, tapi mechanized infantry, dan infantri. Kalau bisa artileri digelar di airport yang direbut, untuk dukungan tembakan bagi kendaraan tempur yang bergerak maju. Berikutnya pesawat CAS, Tucano atau heli serang -also airlifted. Pertanyaannya apakah kemampuan airlift TNI-AU diproyeksikan untuk mendukung operasi semacam ini?.

    •  

      sekarang Airbus Military kerjasama dg PTDI bikin CN 295… ke depan bisa saja berkembang kerjasama produksi A-400M…

      •  

        Setuju, pembelian A-400M sepertinya hanya soal waktu, Airbus sudah jelas ToT nya banyak … . Teman-teman saya dulu di PT DI juga ternyata kemudian pada terlibat dalam desain A-400M di Spanyol … .

        •  

          seharusnya SDM yang tersebar di perusahaan2 pesawat dunia direkrut lagi untuk mengembangkan PT DI, salah satunya utk ToT pesawat A-400M (kalau Aibas Military setuju..he2..). Mudah2an kongres Diaspora Indonesia yang udah 2 kali diselenggarakan membawa dampak positif utk peningkatan IPTEK di Indonesia, tidak cuma pesawat saja.. amin

  2.  

    Hahaha … Mas Danu, Anda benar, kok jadinya mirip operasi Entebbe dan film Black Hawk Down yah …. Masalah logistik memang harus disiapkan dan tentu saja pasukan pendahuluan/infiltrasi sudah dilakukan.

    Saya nggak tahu nih apakah kita ada plan ke model operasi seperti kisah di atas. Asumsi saya simpel saja:
    – Banyak kalangan pada ribut Leopard tidak cocok di jalanan kita. Ya udah perang saja di jalan raya negara sebelah yang mulus-mulus dan lebar. Toh yang dibeli kan versi Revolution yang cocok untuk perang kota.
    – Leopard bisa dikasih minum apa saja: bensin, diesel, minyak tanah, avtur, …. . (Gimana Admin kalau Marder?)
    – Di jiran ada 3 jutaan TKI yang sekian persennya dalam fase infiltrasi bisa dijadikan semacam wanra dalam konsep perlawanan rakyat semesta untuk membantu kelancaran logistik, pasukan penyusup, sabotase, support path finder, dll.
    – Selama ini kita terpaku operasi amfibi jarak jauh ratusan km dari Surabaya ke Sangatta. Lah jarak Sumatra ke daratan seberang kan sangat dekat? Tinggal dicari rute2 untuk menjepit KL dari luar dan dalam, sekaligus mempertemukannya. Btw, operasi amfibi di Selat Malaka kan relatif lebih aman dari gangguan kapal selam musuh.
    – KL jatuh dalam hitungan hari bakal melemahkan mental lawan keseluruhan. Potensi biaya perang sangat kecil dibanding berlarut2nya berantem di rimba Kalimantan. Pasukan khusus Commonwealth juga kecele karena mereka fokus di Kalimantan.
    – Hehehe … seterusnya silakan tambahkan lagi…

  3.  

    wah, saya makin suka dengan orang German… hebat tp nggak pelit, & nggak jual mahal, nggak suka nyampuri politik negara lain spt AS, Inggris dll.. mungkn krn ada faktor Habibie.. 🙂

  4.  

    saya lebih ingin menyikapi sikap ibu angela merkel yang belum ingin menjual puma pada indonesia, kalau menurut saya ini lebih sikap waspada ibu merkel kepada kecerdasan peneliti-peneliti indonesia. dengan diberikannya blue print pembangunan merder kepada indonesia dan jika indonesia juga diberikan kesempatan untuk membeli beberapa unit Puma maka hanya dalam hitungan beberapa tahun saja para peneliti Indonesia pasti mampu membuat produk yang menyamai bahkan melebihi Puma.

  5.  

    Geladak LPD kita cukup luas, kapan TNI AL / Marinir dapat jatah?

    Gak perlu Osprey deh 🙂

    •  

      Iya Osprey terlalu besar … geladak LPD kita kalau diisi Seahawk dan SuperCobra / Viper bakalan cantik tuh …

      •  

        Emangnya Pak Obama mau memberikan Osprey ??? 😀

        •  

          Why not? Ada larangan export?

          Terlepas dari ini, untuk saat ini jika Osprey dipakai di LPD kita persoalan utama adalah kemampuan geladak LPD menahan berat Osprey (hampir menyamai N250 !) dan menahan panas gas buang engine saat Osprey terbang / mendarat vertikal. Perlu redesain geladak lah.

      •  

        Lebih top markotop kalau ada 1-2 buah jump jet mendampingi, buat misi reconnaissance dan bantu2 attack disana-sini 🙂

        Mumpung kita lagi dirayu2 sama yang buat…

        •  

          Memang, LPD yang kita punya masih tanggung. Kita perlu punya LHD 20,000 – 30,000 ton, yang match dgn Osprey dan F-35. Setara dengan Dokdo Korea dan HMAS Canberra nya Australia.
          Jangan-jangan rombongan Dubes Spanyol dan KSAL nya ke Dephan minggu ini mengarah ke kerjasama pembuatan LHD dengan Navantia Spanyol ?

        •  

          waduh mbahas apa aja ne ketinggalan banyak..
          yang pasti wujudkan dulu penambahan armada ke 3
          mas wh

  6.  

    mari ingat kopral mar suud rusli & lettu mar sanusi… klo soal man behind the gun, di kormar ada belasan ribu yg sekualifikasi, belum di matra yg lain, bayangkan orang2 ini masuk ke orchard road bw atgm… 🙂 jadi klo soal negara kota & malingsial sebelah jelas jempol ke bawah…

  7.  

    jangan lupa sama sama Mi-35 nya, kan fungsinya hampir sama

    •  

      Betul Bang, fungsi Mi-35 similar dengan Blackhawk. Ini yang menjadi menarik kenapa TNI kini lebih suka order 20 Blackhawk dibanding menambah jumlah Mi-35. Sepertinya alasan teknislah yang menjadi penyebab. Versi Russianya saja Mi-24 banyak masalah, apalagi versi exportnya Mi-35. Tidak elok rasanya kalau mau nyerang Malaysia ternyata banyak kekurangannya … ntar sananya jadi besar kepala.

  8.  

    secangih2nya sencata di indonesia.atau di negara lain,bila kita ngak mempunyai nuklir sendiri atau bom nuklir sendiri,tetap saja kurang afdol..bayangin bila kita punya senjata nuklir sendiri,produksi sendiri,,,siapa berani macem2?? ya bom saja itu yg macem2!!…

    •  

      mas mas….
      indonesia gak perlu nuklir untuk menjadi negara besar, kuat dan ditakuti
      kalau indonesia punya nuklir, sama aja artinya kita mengkhianati isi dari pembukaan uud 1945 alinea 1
      “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

      percaya gak dengan kondisi indonesia yang sekarang (seperti orang baru bangun tidur) saja negara-negara tetangga udah pada ketar ketir
      bahkan, seorang perwira asu-pun sadar indonesia itu gak bisa dikotak katik secara militer

  9.  

    Indonesia ga perlu punya senjata Nuklir, dan ga mungkin negara pemilik nuklir ngebom Indonesia, wong Indonesia itu paru-paru nya dunia. “Masih Inget kan gimana effek nya letusan Gunung Tambora bagi negara-negara Eropa dan Amerika. Dan satu hal untuk invasi ke Malaysia atau pun ke Singapur, ndak perlu pake senjata yang mahal. Liat aja kebakaran Hutan Gambut di Riau atau di Kalimantan Barat. Mereka sudah pada teriak…..

 Leave a Reply