Jan 302015
 

dizzy

Terima kasih

Datuk (kakek, padang) saya pernah berujar, ‘rambut boleh sama hitam, isi kepala beda-beda’.

Tak dinyana artikel saya ‘kenapa musti pusing’, lumayan menuai reaksi pro dan kontra yang cukup intens dari para pembaca.

Terima kasih atas semua kritikan yang telah diberikan, sebagaimana ungkapan ‘sahabat kita adalah cermin kita’,… kita bisa melihat kekurangan diri kita melalui ungkapan jujur dari seorang sahabat. Saya dapat melihat kekurangan saya melalui kritikan-kritikan anda, terima kasih teman.

Terima kasih atas reaksi positif yang saya terima dari anda teman, mudah-mudahan niat yang tersirat dalam artikel tersebut dapat anda pahami dengan baik.

Saya sebagai penulis

Saya suka dengan blog Jakarta Greater, di blog ini tidak terdapat sistim ‘kasta’ atau senioritas keanggotaan seperti beberapa blog lain. Anda sering menyumbangkan artikel maupun tidak, sering memberikan komentar maupun tidak, tidak menempatkan anda pada posisi maupun tempat-tempat tertentu. Semua sama, sama rata, sama rasa.

Saya mencoba keluar dari ‘zona aman’ saya dari sudut pandang saya sebagai seorang penulis artikel. Saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘apakah saya menulis artikel untuk mencari ketenaran ? masihkah saya tulus dan jujur dalam setiap artikel saya ? beranikah saya sebagai penulis berada pada posisi berseberangan dengan arus pemikiran pembaca saya ?’

Lahirlah artikel ‘kenapa musti pusing’, dengan sudut pandang dan cara ungkap yang baru dan berbeda dengan gaya bertutur saya selama ini. Dan terus terang, saya menyukainya. Andai saja anda bisa melihat senyum lebar dan ketawa saya ketika membaca komentar-komentar anda, saudaraku setanah air… sampai menggenang air di sudut mata saya, komentar-komentar anda, walaupun pedas, menyenangkan saya.

Tapi kita tinggalkan dulu suka cita saya atas kritikan pedas anda, mari kita beralih sejenak

Saya

Saya hanya seorang warga negara biasa, teman.. tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk mempengaruhi jalannya pemerintahan.

Sebagai warga negara biasa, kontribusi langsung saya pada terkait jalannya pemerintahan hanyalah lewat pemilu yang lalu. Ketika saya sudah memilih perwakilan saya di DPR, maka saya hanya bisa menerima nasib saya tanpa bisa berbuat banyak.

Saya sedih

Seiring berjalannya waktu, banyak masalah melanda negara kita tercinta. Rasa cinta saya terhadap tanah air ini membuat saya protes banyak, yang tertuang dalam obrolan-obrolan saya bersama istri tercinta. Tapi apalah daya dua orang manusia tanpa posisi spesial di negara ini, hanya sebatas omongan saja akhirnya.

Saya, diri saya pribadi

Saya mulai melakukan perubahan pada diri saya pribadi. Saya bertanya pada diri saya sendiri, sudahkah saya baik secara pribadi ? Kontribusi positif apakah yang bisa saya berikan selaku individu kecil terhadap negara ?

Saya memulainya dengan mematikan mesin motor saya ketika antri bensin di SPBU… hehehe… maaf jika anda menganggapnya terlalu sepele. Saya berusaha berhenti dan memungut setiap paku maupun botol kaca yang terletak di tengah jalan. Saya selalu berusaha berhenti dan membantu anak-anak sekolah ketika mereka berusaha menyeberangi jalan raya.

Terkadang jika mood saya lagi oke, saya akan menasehati para pengendara yang melawan arus jalan raya… jika mood saya lagi jelek, saya maki mereka sekuat teriakan saya.

Ketika motor saya ditabrak mobil dari belakang dan tidak ada kerugian yang cukup berarti, saya mencoba berlapang dada dan berkata ‘lain kali tolong lebih berhati-hati pak’. Entahlah jika kemudian motor saya rusak parah, mungkin saya akan mencak-mencak duluan… hehehe… gue juga manusia bung…

Saya berusaha menunaikan ibadah saya tepat waktu, saya sadar, dengan menunaikan kewajiban pada Allah tepat waktu, secara langsung saya mendidik diri saya untuk disiplin waktu dalam kehidupan saya.

Saya berusaha memperbaiki diri saya, minimal itu yang bisa saya lakukan untuk negara ini.

Saya, sebagai kepala keluarga

Saya memastikan semua lampu dalam keadaan mati ketika seisi rumah menjelang tidur, terkecuali lampu-lampu menuju kamar mandi. Saya memarahi anak-anak saya ketika saya mendapati keran air dalam kondisi terbuka sementara bak mandi dalam kondisi penuh.

Ketika putra sulung saya menghilangkan sepatu sekolahnya, saya mengajarkannya arti disiplin dan tanggung jawab dengan tidak serta merta membelikannya sepatu sekolah baru. 3 hari setelah dia menceritakan permasalahannya barulah sepatu itu saya belikan, selama 3 hari itu pula dia tidak masuk sekolah dan berujung surat kepada saya untuk menemui guru Bimbingan dan Konsultasi-nya. Ketika gurunya bertanya, saya jawab sejujurnya dan saya terangkan maksud keterlambatan saya membelikan si sulung sepatu sekolah baru.

Saya memastikan anak-anak saya menuaikan ibadah lima waktunya dengan baik.

Ketika anak-anak saya mengejek pemimpin-pemimpin kita, saya menegur dan menasehati mereka. Saya melarang mereka mencemooh hanya karena mereka terpancing komentar pedas para komentator di televisi. Saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh dengan kebencian. Saya ingin anak-anak saya bisa menilai setiap permasalahan dengan objektif. Mengerti… baru kemudian memberikan tanggapan. Saya berusaha meluruskan pandangan-pandangan mereka

Saya selaku pemilik usaha

Istri saya penjahit pakaian wanita, kami membuka butik dan saya mengkhususkan diri di konveksi pakaian seragam. Usaha ini baru kami dirikan per Oktober lalu, sebelumnya saya bergerak di bidang perumahan.

Ada 3 peraturan yang berlaku di tempat kerja saya, pertama “bertanggung jawab”.Kedua, “tunaikan kewajiban melaksanakan sholat”. Ketiga, “wajib sholat dhuha”. Ada 2 orang pegawai tetap di tempat saya dan 3 orang pelajar magang dari SMK. Karena semua Muslim, semua peraturan berlaku sama. Maaf, belum ada non Muslim yang melamar bekerja pada saya, jadi saya belum bisa memberikan pembanding.

Saya selalu berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan pegawai maupun dengan pelajar yang magang. Saya berusaha memahami kondisi hidup mereka dan berusaha berempati. Saya mendahulukan karyawan saya menyantap makan siang sebelum saya, terkadang kami makan bersama, sambil lesehan.

Saya memberikan pelatihan gratis kepada teman-teman yang ingin belajar namun tidak memiliki biaya yang cukup untuk mengikuti pelatihan menjahit. Saya mengajak penyapu jalan yang bekerja di sekitar rumah saya untuk mengikuti belajar membuat souvenir pernikahan, tanpa biaya.

Saya memiliki perusahaan dan terdaftar menjadi wajib pajak ketika saya masih berkecimpung di bisnis properti. Saat ini kami sedang dalam proses pengurusan perizinan untuk usaha baru ini.

Saya selaku anggota masyarakat

Saya sadar, kenaikan harga bahan bakar akan membuat kehidupan sebagian masyarakat makin berat, sayapun sudah merasakannya.

Karena itulah saya mewajibkan diri saya untuk mengeluarkan zakat dari tiap uang yang saya terima dan langsung menyerahkannya kepada anak-anak yatim piatu yang ada di lingkungan saya.

Tidak banyak dalam jumlah memang, saya akui, tapi setidaknya saya menunaikan kewajiban itu lebih dari persentase yang diwajibkan.

Belakangan saya mulai mempertimbangkan untuk membayarkan zakat kepada lembaga amil zakat, agar uang itu dapat terkumpul dan lebih bermanfaat jika diberikan kepada yang memerlukan jika diserahkan dalam jumlah yang cukup banyak. Lumayan bisa untuk modal usaha bagi yang memerlukan.

Saya mewajibkan diri saya untuk bersedekah memakmurkan masjid pada tiap hari Jumat dengan angka yang signifikan, tidak lagi sekedar menginfakkan uang receh.

Saya berusaha setidaknya satu kali dalam tiap Minggu untuk membelikan satu bungkus nasi yang kemudian saya serahkan pada peminta-minta yang saya nilai patut saya bantu.

Saya selaku penggemar blog Jakarta Greater

Saya berusaha membangkitkan rasa cinta tanah air lewat tulisan-tulisan saya. Saya berusaha meniru semangat para kontributor dalam berbagi informasi dan pemikiran. Saya minta maaf jika tulisan saya jauh dari kesempurnaan, setidaknya saya sudah mencoba.

Saya senang akhirnya secara perlahan-lahan, blog ini berubah menjadi kumpulan orang lewat biro-biro daerah. Mudah-mudahan biro-biro daerah dapat mengadakan pertemuan, menjalin silaturahmi dan mengagendakan kerja nyata bagi masyarakat di daerahnya.

Saya dan batu akik

Mohon maaf, saya tidak menemukan sensasi seperti yang anda temui ketika melihat batu akik. Jadi saya tidak bisa berkontribusi banyak pada kegemaran baru para lelaki saat ini… hehehe…walaupun saya sadar bahwa lewat hobi, saya bisa menjalin tali silaturahmi

Jangan Berburuk Sangka

Tidak ada maksud saya membanggakan diri lewat penggambaran-penggambaran di atas, InsyaAllah tidak ada niat untuk itu. Saya bukanlah individu yang sempurna, saya bahkan belum memberikan kontribusi maksimal. Saya yakin banyak contoh-contoh positif yang lebih baik dari saya.

Saya hanya ingin mengajak anda untuk bersama-sama memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.

Banyak hal negatif yang sedang berlangsung dalam kehidupan kita sebagai sebuah bangsa, dan saya senang ketika anda bersikap kritis akan hal-hal tersebut… saya bisa melihat sikap kritis anda lewat semangat membangun yang tercermin dari komentar-komentar anda

Akan tetapi… wahai sahabatku setanah air… sikap kritis itu hendaknya dibarengi dengan semangat untuk mengubah keadaan… dan diikuti dengan langkah real memberikan kontribusi positif… entah apapun itu bentuknya.

Melalui perbaikan diri pribadi, perbaikan pada keluarga dan kontribusi positif pada masyarakat, perlahan-lahan kita berusaha membuat Republik Indonesia yang lebih baik.

Jika anda muslim, maka anda pasti sudah mahfum bahwa Muslim itu rahmat bagi seluruh alam. Seorang Muslim tidaklah dikatakan beriman jika dia hanya baik bagi dirinya sendiri dan keluarganya tanpa berusah memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitarnya.

Obat anti pusing saya

Ketika saya sudah menunaikan peran saya selaku pribadi, peran saya pada keluarga, peran saya selaku pemilik usaha dan peran saya sebagai bagian dari anggota masyarakat, maka saya sudah ‘memakan obat anti pusing saya’

Saya bisa tidur nyenyak karena saya sadar saya sudah melakukan sesuatu, walaupun sesuatu itu terlihat kecil bagi anda teman. Minimal saya sudah melakukannya

Saya sudah mengubah diri saya dari sekedar seorang komentator menjadi unsur pengubah pada masyarakat. Biarlah Allah yang menjadi hakim bagi saya, karena Beliau adalah sebaik-baik dan seadil adil Hakim

Pekerjaan rumah saya

Saya ingin suatu saat nanti bisa membeli 2 eksemplar buku tiap kali saya ke toko buku. Satu untuk saya pribadi dan satu lagi untuk disumbangkan ke perpustakaan daerah.

Saya ingin suatu saat nanti saya bisa secara rutin mengalokasikan dana untuk keperluan sekolah seorang anak asuh

Saya sadar bahwa saya berkewajiban menunaikan shalat 5 waktu di masjid dan membawa anak-anak saya turut serta, saya harus segera menunaikan kewajiban ini. Karena melalui shalat berjamaah di masjid, merupakan pintu menuju perbaikan silaturahmi

Saya ingin turut serta dalam klub baca, mudah-mudahan di kota saya ada satu, saya belum browsing akan hal ini

Saya salut pada LSM yang memfokuskan diri membersihkan dan menjaga kebersihan kali Ciliwung, saya berharap saya bisa menemukan LSM serupa di kota saya, saya tertarik turut serta.

Saya kagum pada ibu-ibu yang berinisiatif mencuci secara bergiliran mukena-mukena dari mushola-mushola yang mereka temui. Sederhana, mudah dilakukan, bermanfaat… saya harus menirunya

Jangan pakai kacamata yang salah

Sebagian dari anda mungkin akan mencibir dan mengeluarkan komentar negatif bahwa saya berusaha pamer, atau mungkin menyatakan ‘klise’.

Tapi… biarlah resiko itu saya ambil… saya hanya berusaha menggugah anda, wahai saudara saya setanah air… perubahan negara ini tidak bisa kita bebankan semata-mata pada pundak pemimpin-pemimpin kita… perubahan negara ini sebenarnya terletak pada kepalan-kepalan tangan kita.

Apapun tanggapan anda terhadap saya, teman… tidak akan mengubah keadaan bahwa anda adalah saudara saya setanah air… suka tidak suka saya terikat dengan anda… sebagaimana anda-pun terikat dengan saya… karena kita masih sama-sama mencintai tanah air kita…

Salam hangat dari biro Jambi, Afiq0110

 

 Posted by on Januari 30, 2015