Home » Headlines » Marinir AS Latih Petempur di Suriah Selatan, Pesan Bagi Rusia

Marinir AS Latih Petempur di Suriah Selatan, Pesan Bagi Rusia

ilustrasi (U.S. Army photo by Spc. Anthony Zendejas IV)

Amman, Jakartagreater.com – Panglima pemberontak di Suriah, Kamis 13-9-2018 mengatakan bahwa pelatihan militer, yang jarang dilakukan, bersama dengan marinir Amerika Serikat di bagian Selatan Suriah, merupakan pesan kuat kepada Rusia dan Iran, dirilis Antara, Jumat 14-9-2018.

Isi pesan itu ialah bahwa pihak Amerika Serikat dan pemberontak berniat tetap pada sikapnya dan siap menghadapi ancaman terhadap kehadiran mereka.

Kolonel Muhanad al Talaa, komandan kelompok Maghawir al Thawra, yang didukung Pentagon, mengatakan kepada Reuters, pelatihan 8 hari itu, yang berakhir pekan ini di pos luar militer AS di Tanf, merupakan pelatihan pertama dengan senjata darat dan udara, melibatkan ratusan tentara AS dan petempur.

“Pelatihan itu memiliki kepentingan besar dan meningkatkan ketahanan kawasan serta menaikkan kemampuan tempur dan moral dan mereka dari warga di kawasan itu,” kata Talaa kepada Reuters lewat telepon dari Tanf, dekat perbatasan Yordania dan Irak.

Juru bicara militer AS mengatakan pelatihan itu merupakan unjuk kekuatan dan bahwa Pentagon telah memberitahu Moskow melalui saluran “penghapusan konflik” guna mencegah “miskomunikasi atau meningkatkan ketegangan”.

“Pelatihan itu dilakukan untuk memperkuat kembali kemampuan kami dan menjamin kami siap menghadapi setiap ancaman terhadap pasukan kami di dalam wilayah operasi-operasi kami'” kata Kolonel Sean Ryan kepada Reuters sebagai tanggapan melalui surat elektronik atas pertanyaan mengenai pelatihan tersebut.

Rusia dan pemerintah Suriah berulang-ulang menyerukan Washington agar menarik pasukannya dari pangkalan Tanf, tempat dinyatakan sebagai “zona dekonflikasi” dengan radius 55 km terlarang bagi pihak lain.

Pemberontak mengatakan ratusan anggota marinir AS tiba pada bulan September 2018 ini di Tanf untuk ikut dengan pasukan operasi khusus yang sudah berpangkalan di garnisun itu dan berperan serta dalam pelatihan tersebut, di tengah-tengah peningkatan ketegangan AS-Rusia di Suriah dan pembangunan angkatan laut di Laut Tengah.

Zona dekonflikasi itu telah menjadi kawasan aman bagi sedikitnya 50.000 warga sipil yang tinggal di kamp Rukban yang berada di dalamnya. Kementerian Pertahanan Rusia pada Agustus 2018 mengulangi tuduhan bahwa Washington telah memasukkan para militan ISIS ke dalam zona itu.

“Kami akan menetap apakah pihak Rusia atau pihak Iran menginginkan atau tidak,” kata panglima itu. Pos tersebut, yang dikelilingi gurun pasir, didirikan dalam pertempuran-pertempuran melawan para militan ISIS yang mengendalikan bagian timur Suriah yang berbatasan dengan Irak.

Setelah ISIS diusir, pesawat-pesawat tempur koalisi pimpinan AS menghantam milisi dukungan Iran pada beberapa kesempatan untuk mencegah mereka bergerak maju. Washington menyebut langkahnya itu sebagai bela diri. Tanf, yang berada di jalan raya Damaskus-Baghdad, pernah menjadi jalur pemasok besar bagi persenjataan Iran ke Suriah.

Tinggalkan Balasan