Mar 182018
 

ilustrasi : Drone CH-4 Rainbow (DNEWS CHN)

Jakarta – Saat menjabat Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Hadi Tjahjanto punya siasat tersendiri untuk menghindari pembelian alutsista dari para calo. Pembelian alutsista benar-benar berorientasi pada kebutuhan bukan kepentingan yang mungkin lebih berorientasi pada profit.

Salah satu contoh kemandirian memilih berdasarkan kebutuhan adalah pesawat nirawak alias drone. Indonesia pernah menggunakan produk Israel, negara yang paling menguasai teknologi drone. Tapi sampai sekarang negara itu tak mau melepas kendali pengoperasian pesawat-pesawat tersebut. Akhirnya, Marsekal Hadi memilih drone buatan dalam negeri dan China, dirilis oleh Detik.com, 17/3/2018.

“Alasannya, hanya China yang tak membatasi pemanfaatan drone produksi mereka, siapa pun boleh membeli teknologi maksimal yang mereka hasilkan,” kata Hadi dalam buku Anak Sersan Jadi Panglima yang diluncurkan, Jumat, 16/3/2018.

Pertimbangan lainnya adalah soal harga, dan kemampuan yang sudah terbukti dalam peperangan di kawasan Timur Tengah. Selain itu, produk drone yang ditawarkan ke Indonesia, Rainbow CH-4, mampu terbang selama 40 jam dengan area pengawasan yang bisa diperluas berkali lipat jika pesawat dihubungkan dengan satelit milik BRI.

“Rainbow CH-4 punya bentang sayap sepanjang 18 meter, besarnya hampir sama dengan Sukhoi. Drone ini yang paling banyak diminati dan kenyang dengan pengalaman tempur. Di Irak, misalnya, sukses menggunakan drone yang bentuknya menyerupai MQ-9 Reaper dan MQ-1 Predator itu untuk memerangi ISIS,” papar Hadi dalam buku yang ditulis teman masa SMA, Eddy Suprapto.

Dengan tubuhnya yang bongsor, CH-4 sanggup membawa beban maksimal 250-345 kilogram, dan bahan bakar 165 kg. Ketinggian terbang maksimalnya 8.000 meter dan jarak jelajah maksilam sekitar 250 km, serta mampu menembak dari jarak 5.000 meter.

Dengan kualifikasi seperti itu, Hadi membayangkan tugas patrol perbatasan dan patrol laut untuk mencegah penyelundupan, terorisme, atau illegal fishing bisa dilakukan dengan lebih efektif, aman, dan murah ketimbang menggunakan pesawat berawak.

Kebijakannya dalam menentukan alutsista semacam itu tentu terus dibawanya ketika menjadi KSAU sejak 18 Januari 2017, dan makin kukuh setelah dirinya menjadi Panglima TNI sejak 8 Desember 2018.

Rainbow CH-4

CASC CH-4 adalah Kendaraan Udara Tempur Tak Berawak (UCAV) asal China. Dikatakan drone ini mirip dengan yang sudah ada yakni MQ-9 Reaper UCAV, Amerika Serikat.

CH-4 maupun MQ-9, keduanya ditujukan untuk misi serangan melalui berbagai amunisi presisi berpandu dan dirancang untuk berkeliaran di atas area sasaran selama berjam-jam (CH-4 sportsmemiliki ketahanan misi empat belas jam), seperti dirilis militaryfactory.com.

CH-4 adalah salah satu rangkaian panjang produk UAV sistem tak berawak CASC “Rainbow” yang mencakup CH-1, CH-2 dan CH-3. UCAV CH-4 dipasarkan dalam dua bentuk yang berbeda: “CH-4A” digunakan terutama untuk pengintaian dan “CH-4B” untuk peran pengintaian bersenjata / mode serang.

Seperti halnya desain Reaper, UCAV CH-4 bergantung pada badan pesawat yang ramping yang memiliki perlengkapan optik, perangkat avionik, tempat bahan bakar dan instalasi mesin (mesin menggerakkan unit baling-baling tiga bilah di bagian belakang badan pesawat). Pada posisi “dagu” ada blister yang merupakan kit sensor baik dengan Infra-Red (IR) dengan zoom serta pengintai laser. Persenjataan didukung baik oleh Rudal Terpandu Anti-Tank modern China (ATGMs) maupun bom presisi berpandu, mengangkut empat sampai enam hardpoints di underwing.

Operator CH-4 yang diketahui antara lain Mesir, Irak dan Arab Saudi. Militer Irak telah menempatkan CH-4 melalui langkah tempurnya melawan pasukan ISIS, sementara Saudi telah mengerahkan beberapa armada mereka melawan pemberontak Houthi dalam perang yang sedang berlangsung. CASC sedang dalam pembicaraan dengan Kerajaan Saudi untuk mengatur produksi lokal beberapa ratus pesawat CH-4 untuk negara kaya minyak ini.

CH-5 merupakan versi yang sedikit lebih maju dari CH-4, terbang pertama pada bulan Agustus 2015. Produk ini dilengkapi dengan spesifikasi kinerja yang ditingkatkan termasuk ketahanan dan ketinggian yang lebih besar.

Bagikan Artikel :

  19 Responses to “Marsekal Hadi Ungkap Alasan Pilih Drone China dan Dalam Negeri”

  1.  

    Jangan Lupa Offset 85% Drone Wing Long & CH-4

  2.  

    “Rainbow CH-4, mampu terbang selama 40 jam dengan area pengawasan yang bisa diperluas berkali lipat jika pesawat dihubungkan dengan satelit milik BRI”
    Darurat satelit Militer

  3.  

    Bungkus tidak perlu lama lagi entar
    Negri jiran sebelah ikut* tan beli…

  4.  

    Bs dioprek dan dipersenjatai dgn selain rudal buatan China gak ya? Klu ini bs memakai sesuka hati drpd barat terutama AS beli serasa minjam dgn syarat mencekek leher!he3. Cuma drone dlm negerinya yg gak diulas secar gamblang!

  5.  

    Make nyuss

 Leave a Reply