Feb 112019
 

JakartaGreater.com – Apa gunanya membeli banyak pesawat tempur canggih, jika tidak mempunyai cukup tanker udara untuk mengisi bahan bakar mereka? menurut analisis Michael Peck di majalah National Interest, 8 Februari.

“Dengan meningkatnya aktivitas penerbangan jarak jauhnya, serta penyebaran unit penerbangan Rusia hingga ke Utara dan di Timur Jauh, dengan jarak yang sangat jauh, kebutuhan akan tanker udara menjadi lebih besar, baik di tingkat strategis dan taktis”, menurut ke surat kabar Rusia, Izvestia.

Pesawat tempur Rusia dan Soviet yang lebih tua, seperti MiG-25, tidak memiliki kemampuan untuk pengisian bahan bakar di udara. Akan tetapi sebagian besar pesawat modern Rusia memiliki kemampuan tersebut, termasuk berbagai model jet tempur dan pesawat serang MiG-31, MiG-29, Su-30 dan Su-24.

Bomber strategis Tu-160 Blackjack bahkan dapat diisi bahan bakar di angkasa, seperti halnya Tu-22M3M, versi terbaru dari bomber Tu-22M Backfire. Pesawat tempur siluman baru Rusia, Su-57, telah mempraktikkan pengisian bahan bakar di udara.

Pesawat pembom strategis Tu-160 “Blackjack”. © Alex Beltyukov via Wikimedia Commons

“Tapi tidak ada refueller”, keluh penulis Izvestia Ilya Kramnik. “Dan atas semua kemegahan ini, ada sebuah resimen pesawat tanker dengan 15 pesawat Il-78 dan Il-78M dibangun berdasarkan pesawat angkut militer Il-76”, tulisnya.

“Prospek pertumbuhan jumlah tanker itu juga tidak menginspirasi optimisme”, tambah Kramnik. “Mengingat promosi yang sangat sulit dari seri Il-76MD-90A yang diperbarui, yang dipandang sebagai platform untuk tanker dan kebutuhan Angkatan Udara Rusia baik sebagai kendaraan transportasi sendiri dan radar udara, jumlah kebutuhan pesawat tanker jelas tidak besar. Akan optimis untuk di asumsikan bahwa United Aircraft Corporation (UAC) akan dapat mentransfer lebih dari selusin pesawat Il-78M-90A dalam 10 tahun ke depan, yang dalam kasus terbaik akan meningkatkan jumlah tanker udara dalam Angkatan Udara menjadi 30 pesawat, termasuk Il-78M”, ulasnya.

“Baik jumlah 15 atau 30 tanker sangat sedikit, mengingat jumlah pesawat yang mampu mengisi bahan bakar di udara akan bertambah”, Kramnik menyimpulkan. Selain pesawat tempur, ia juga bertanya-tanya apakah pesawat angkut militer Rusia akan perlu diisi saat berada di udara.

“Dengan mempertimbangkan penyusutan armada pesawat angkut militer, yang ada kemungkinan pengisian bahan bakar akan dibutuhkan di masa depan, bagi mereka sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan armada udara, tanpa menambah jumlahnya”, bebernya.

Pesawat Il-76MD yang menjadi basis pengembangan pesawat laser anti-satelit Beriev A-60. © Dmitry Terekhov (CC BY-SA 2.0) via Wikimedia Commons

Meski bereksperimen dengan pengisi bahan bakar udara-ke-udara pada 1930-an, Uni Soviet menganggap pengisian bahan bakar di udara oleh jet tempur ini hanya sebagai “kemewahan”, menurut Kramnik. Sebuah sistem, dikembangkan untuk MiG-15 guna diisi bahan bakar sehingga dapat mengawal pembom jarak jauh, tetapi sebaliknya, Soviet memilih untuk meningkatkan kecepatannya dan ketinggian maksimum pembom mereka sehingga mereka tidak akan memerlukan pengawalan pesawat tempur.

Namun, Soviet menyadari bahwa mengingat luasnya wilayah mereka, pengisian bahan bakar di udara diperlukan untuk menjaga angkatan udara mereka tetap bergerak. Tanker udara pertama Uni Soviet dikonversi menjadi pembom M4 dan Tu-16, yang menggunakan pengisi bahan bakar di ujung sayap daripada pakai teknik yang tidak berbahaya seperti selang-dan-parasut. Akhirnya, pesawat angkut pun dimodifikasi menjadi tanker udara.

Runtuhnya Uni Soviet telah mengganggu modernisasi pesawat Rusia. Namun, Angkatan Udara Rusia menekankan mobilitas strategis baru untuk segera dapat mengerahkan pesawatnya, seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Pengisian ulang udara telah digunakan oleh pesawat Rusia yang terbang antar Rusia dan Suriah, dan pesawat Rusia yang memberi dukungan tempur kepada pasukan Suriah.

An Air Force B-1 Bomber separates from the boom pod after receiving fuel from a KC-135 Stratotanker while en route to strike chemical weapons targets in Syria, April 14, 2018. Air Force photo

Kramnik menyarankan rencana untuk menghidupkan kembali, yang sebelumnya telah dibatalkan, untuk membangun tanker berdasarkan pesawat Il-96.

“Jika Kementerian Pertahanan menunjuk lagi, maka itu akan menyelesaikan dua masalah: pertama akan membenarkan biaya untuk memulai kembali Il-96 tanpa memaksakannya sebagai pesawat sipil komersial, dan mungkin menghilangkan kebutuhan untuk menggunakan platform Il-76MD-90A sebagai tanker. Tanker potensial berdasarkan IL-96, dengan mempertimbangkan ukuran beserta daya dukungnya, dapat memenuhi kebutuhan penerbangan strategis masa depan dengan volume pemesanan 30-40 pesawat selama 15 tahun ke depan”, terang Kramnik.

Pilihan lain adalah mengubah pesawat transportasi Il-78 dan Il-78M yang ada menjadi tanker. Atau, versi kargo dari pesawat Tu-204 dapat diubah menjadi pesawat tanker bahan bakar.

Apa pun yang diputuskan Rusia, ia sedang mempelajari sebuah pelajaran yang telah diketahui Angkatan Udara AS sejak Perang Dunia II: armada tempur akan sama baiknya dengan pesawat pendukung yang mampu menopangnya.

  4 Responses to “Masalah Terbesar di Angkatan Udara Rusia (Bukan F-22/F-35)”

  1.  

    Komentar: tes

  2.  

    Tanker kere dan kapal induk ga ada???

  3.  

    pemikiran yg cukup matang.

  4.  

    Artikel sindiran neh … kalo ngebet terbang jarak jauh musti punya tanker udara kelas berat.