Okt 122019
 

Jet tempur Su-35 Rusia (foto:Su-35Twitter)

Sukhoi Su-35 Flanker-E adalah pesawat tempur superioritas udara terbaik Rusia saat ini, dan merupakan puncak dari desain pesawat jet tempur generasi keempat, hingga nantinya akan digantikan oleh pesawat tempur siluman PAK-FA yang sudah mulai memasuki masa produksi.

Dibedakan oleh kemampuan manuvernya yang tak tertandingi, dengan kemampuan elektronik dan persenjataan Su-35 yang setara dengan jet tempur Barat, seperti F-15 Eagle. Meski mungkin merupakan musuh mematikan bagi F-15, Eurofighters dan Rafale, masih menjadi tanda tanya besar apakah Su-35 dapat bersaing dengan pesawat tempur siluman generasi kelima seperti F-22 dan F-35.

Sejarah

Su-35 adalah evolusi dari Su-27 Flanker, desain Perang Dingin akhir yang mirip dengan konsep F-15: pesawat tempur multirole bermesin ganda yang menggabungkan kecepatan luar biasa dan pemuatan senjata dengan kelincahan pertempuran udara.

Su-27 mengejutkan penonton Paris Air Show pada tahun 1989 ketika mendemonstrasikan Pugachev’s Cobra, sebuah manuver di mana jet tempur menggerakkan hidungnya hingga 120 derajat vertikal — tetapi tetap terus melaju ke depan dengan hidung mendongak.

Diekspor secara luas, Flanker belum pernah melakukan duel dengan pesawat tempur Barat, tetapi saat terjadi perang Ethiopia dengan Eritrea, mencetak empat pembunuhan melawan MiG-29 tanpa kerugian. Su-27 juga telah digunakan pada misi serangan darat.

Sejarah pengembangan Su-35 agak rumit. Flanker yang ditingkatkan dengan canard (sayap kecil tambahan di depan sayap utama) yang disebut Su-35 pertama kali muncul jauh pada tahun 1989, tetapi bukan pesawat yang sama dengan model saat ini dengan hanya lima belas yang diproduksi. Flanker lain yang ditingkatkan, Su-30 dengan dua kursi telah diproduksi dalam jumlah yang cukup besar dan variasinya diekspor ke hampir selusin negara.

Model masa kini yang tanpa canards, disebut Su-35S dan merupakan tipe paling maju dari keluarga Flanker. Mulai dikembangkan pada tahun 2003 di bawah pabrikan Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO), subkontraktor Sukhoi. Prototipe pertama diluncurkan pada 2007 dan produksi dimulai pada 2009.

Airframe dan Mesin

Rangkaian pesawat Flanker adalah supermaneuverable — artinya direkayasa untuk melakukan manuver terkontrol yang tidak mungkin dilakukan melalui mekanisme aerodinamik biasa. Pada Su-35, hal ini sebagian dicapai melalui penggunaan mesin daya dorong vektoring : knalpot mesin turbofan Saturnus AL-41F1S-nya dapat secara mandiri berputar ke berbagai arah dalam penerbangan untuk membantu pesawat bermanuver. Hanya satu jet tempur Barat yang memliki teknologi serupa, yakni F-22 Raptor.

Ini juga memungkinkan Su-35 mencapai sudut serangan yang sangat tinggi — dengan kata lain, pesawat bisa bergerak ke satu arah sementara hidungnya menunjuk ke arah lain. Sudut serang yang tinggi memungkinkan pesawat terbang untuk lebih mudah mengarahkan senjatanya pada sasaran yang menghindar dan melakukan manuver yang ketat.

Manuver semacam itu mungkin berguna untuk menghindari rudal atau pertempuran udara dalam jarak dekat — meskipun membuat pesawat terbang dalam kondisi tenaga yang rendah.

Flanker-E dapat mencapai kecepatan maksimum Mach 2,25 pada ketinggian tinggi (sama dengan F-22 dan lebih cepat dari F-35 atau F-16) dan memiliki akselerasi yang sangat baik. Namun, bertentangan dengan laporan awal, tampaknya Su-35 tidak dapat melakukan supercruise — atau penerbangan supersonik yang panjang tanpa menggunakan afterburner. Kemampuan terbang ketinggiannya adalah enam puluh ribu kaki, setara dengan F-15 dan F-22, dan sepuluh ribu kaki lebih tinggi dari Super Hornets, Rafales, dan F-35.

Su-35 telah memperluas kapasitas bahan bakar, dengan jangkauan 2.200 mil dengan bahan bakar internal, atau 2.800 mil dengan dua tangki bahan bakar eksternal. Su-35 menggunakan bahan titanium yang lebih ringan dan mesin dengan lifetime 6000 jam, jauh lebih lama dari seri Flanker lawas dengan 4.500 jam penerbangan. (Sebagai perbandingan, F-22 dan F-35 memiliki lifetime delapan ribu jam).

Badan pesawat Flanker tidak siluman. Namun, penyesuaian pada inlet engine dan kanopi, dan penggunaan bahan penyerap radar, seharusnya mengurangi separuh bagian penampang radar Su-35. Salah satu artikel mengklaim ukurannya antara satu dan tiga meter. Ini bisa mengurangi jarak yang bisa dideteksi dan ditargetkan, tetapi tetap Su-35 masih bukan “pesawat tempur siluman.”

Persenjataan

Su-35 memiliki dua belas hingga empat belas cantelan senjata, yang menjadikannya pemuatan yang luar biasa dibandingkan dengan delapan cantelan pada F-15C dan F-22, atau empat rudal yang disimpan secara internal di F-35.

Pada jarak jauh, Su-35 dapat menggunakan rudal berpandu radar K-77M (dikenal oleh NATO sebagai AA-12 Adder), yang diklaim memiliki jangkauan lebih dari 120 mil.

Untuk pertempuran jarak pendek, rudal berpemandu inframerah R-74 (sebutan NATO: Archer-11) mampu menargetkan “off boresight” —sederhana dengan melihat melalui penglihatan optik yang dipasang di helm, pilot dapat menargetkan sebuah pesawat musuh yang naik enam puluh derajat dari arah pesawatnya. R-74 memiliki jangkauan lebih dari dua puluh lima mil, dan juga menggunakan nozel-vektoring.

Rudal jarak-jauh R-27 dan R-37 (alias Arrow AA-13, untuk digunakan melawan pesawat AWAC, EW, dan pesawat tanker) melengkapi pemilihan rudal udara-ke-udara Su-35.

Selain itu, Su-35 dipersenjatai dengan meriam tunggal 30mm dengan 150 amunisi untuk dogfight jarak dekat.

Flanker-E juga dapat membawa bom udara-ke-darat hingga tujuh belas ribu pound. Secara historis, Rusia hanya menggunakan amunisi berpandu presisi (PGM) yang terbatas dibandingkan dengan angkatan udara Barat. Namun, kemampuan untuk menggunakan senjata-senjata presisi bisa dilakukan oleh Su-35.

Sensor dan Avionik

Perbaikan paling penting Su-35 dari pendahulunya mungkin dalam perangkat keras. Su-35 dilengkapi dengan sistem penanggulangan elektronik L175M Khibiny yang kuat yang dimaksudkan untuk mendistorsi gelombang radar dan misil peluru kendali musuh. Ini secara signifikan dapat menurunkan upaya untuk menargetkan dan menyerang Flanker-E.

Radar passive electonically scanned array (PESA) IRBIS-E Su-35 diharapkan memberikan kinerja yang lebih baik terhadap pesawat stealth. Radar diklaim mampu melacak hingga tiga puluh target di udara dengan penampang radar tiga meter hingga 250 mil jauhnya – dan target dengan penampang sekecil 0,1 meter lebih dari lima puluh mil jauhnya. Namun, radar PESA lebih mudah dideteksi dan di jammer daripada radar Active Electronically Scaned Array (AESA) yang sekarang digunakan oleh pesawat tempur Barat. IRBIS juga memiliki mode udara-ke-darat yang dapat mnyerang hingga empat target permukaan pada satu waktu dengan bom presisi Rusia.

Melengkapi radar adalah sistem penargetan OLS-35 yang mencakup sistem Infra-Red Search and Track (IRST) yang dikatakan memiliki jangkauan lima puluh mil — berpotensi menjadi ancaman yang signifikan bagi pesawat tempur siluman.

Lebih banyak sistem yang biasa tetapi vital — seperti tampilan multi-fungsi dan avionik fly-by-wire — juga telah diperbarui secara signifikan.

Pelanggan Su-35 Diluar Negeri

Saat ini, Angkatan Udara Rusia hanya mengoperasikan empat puluh delapan Su-35. Lima puluh lainnya dipesan pada Januari 2016 dan akan diproduksi sepuluh unit per tahun. Empat Su-35 dikerahkan ke Suriah setelah Su-24 Rusia ditembak jatuh oleh F-16 Turki. Dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara, Su-35 dimaksudkan untuk mengirim pesan bahwa Rusia dapat menimbulkan ancaman udara jika diserang.

China telah memesan dua puluh empat Su-35 dengan biaya US$ 2 miliar, tetapi diperkirakan tidak mungkin membeli lebih banyak. Minat Beijing diyakini sebagian besar terletak keinginan untuk menyalin mesin vektor-dorong Su-35 untuk digunakan dalam desain sendiri. PLAAF Cina saat ini sudah mengoperasikan Shenyang J-11, salinan dari Su-27.

Su-35 belum berhasil dipasakan ke luar negeri, terutama ke India dan Brasil, yang sebagian besar kandas. Baru-baru ini,Indonesia telah mengindikasikan keinginan untuk membeli delapan unit tahun ini, meskipun penandatanganan kontrak telah berulang kali tertunda. Aljazair dilaporkan mempertimbangkan untuk memperoleh 10 Su-35 senilai US$ 900 juta. Mesir, Venezuela, dan Vietnam juga merupakan pelanggan potensial.

Perkiraan biaya untuk Su-35 mencapai antara US$ 40 juta dan US$ 65 juta, namun kontrak ekspor berada pada harga di atas US$ 80 juta per unit.

Menghadapi Pesawat Tempur Siluman

Su-35 setidaknya setara — jika tidak superior — dengan pesawat tempur generasi keempat terbaik milik Barat. Pertanyaan besar adalah seberapa baik kinerjanya terhadap pesawat tempur siluman generasi kelima seperti F-22 atau F-35?

Kemampuan manuver Su-35 menjadikannya sebagai petarung yang tak tertandingi. Namun, bentrokan udara di masa depan dengan menggunakan rudal terbaru (R-77, Meteor, AIM-120) berpotensi terjadi pada jarak yang sangat jauh, sementara pertempuran jarak pendek pun dapat melibatkan semua rudal seperti AIM-9X dan R-74 yang tidak perlu mengarahkan pesawat ke target. Meskipun demikian, kecepatan Su-35 (yang berkontribusi terhadap kecepatan rudal) dan kemampuan membawa beban yang besar membuatnya dapat bertahan dalam pertarungan di luar jangkauan visual. Sementara itu, kelincahan dan penanggulangan elektronik Flanker-E dapat membantunya menghindari rudal musuh.

Namun, masalah yang lebih serius adalah seberapa efektif teknologi stealth menghadapi lawan yang berteknologi tinggi. Sebuah pesawat tempur siluman F-35 yang melakukan duel jarak pendek dengan Flanker-E akan menghadapi masalah besar.

National Interest

 Posted by on Oktober 12, 2019

  8 Responses to “Masihkah Su-35 Pesawat Tempur Terbaik?”

  1.  

    Kita akan dapat 11 unit Su-35 secara full combatan… Kalau ada uangnya.

  2.  

    Pasti datang. Tenang aja mas broo.

  3.  

    kayaknya sudah dekat nih SU 35 kita …
    pilot2 nya mungkin yg sdh pernah pegang SU 27 dan SU 30 ya …

  4.  

    Musti sabar sampai thn depan neh …

  5.  

    Ayo angkat lagi beritanya ,iming2 ini