Mar 022014
 
Menyambut Masyarat Ekonomi Asean 2015 (photo: Fransiskus Simbolon/ Kontan)

Menyambut Masyarat Ekonomi Asean 2015 (photo: Fransiskus Simbolon/ Kontan)

Kuala Lumpur 01/03/2014 – Tahun 2015 adalah awal diberlakukannya perdagangan bebas Asean, dalam bingkai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)/Asean Economic Community(AEC). Dengan platform baru yang hampir menyerupai Masyarakat Ekonomi Eropa/EU, Asean diharapkan akan segera memiliki akses Ekonomi dan diplomasi yang lebih terbuka, solid, merata dan menguntungkan.

Peran serta rakyat di masing-masing negara anggota akan terus didorong untuk menjadi perekat utama Asean sebagai wilayah ekonomi yang semakin borderless. Ada kekhawatiran yang logis menghinggapi para anggotanya. Meskipun ide ini dianggap sebagai jawaban atas tuntutan zaman, namun secara tidak langsung juga akan menggambarkan persaingan yang semakin terbuka. Tidak adanya harmoni dalam hal penerapan subsidi dan pengenaan subsidi terhadap sektor-sektor atau komoditas tertentu, tidak adanya keseragaman terhadap besaran pajak dan pengenaan pajak pada sektor-sektor atau komoditas tertentu, serta adanya disparitas tingkat suku bunga perbankan yang cukup jauh antara negara anggota, telah menjadi salah satu pemicu lahirnya kekhawatiran beberapa kalangan.

Sebagai contoh, Malaysia menerapkan suku bunga perbankan sebesar 2%, sedangkan Indonesia pada kisaran 10-13%. Kondisi ini melahirkan kekhawatiran di pihak Indonesia yang merasa terancam sektor manufaktur dan sektor-sektor riil lainnya. Namun Malaysia juga merasa khawatir akan mengeluarkan subsidi yang lebih besar lagi, ketika produk-produk yang selama ini dikenakan subsidi mulai berdatangan dari negara Asean lainnya. Pasar tenaga kerja yang murah di Vietnam, Philipine dan Indonesia, adalah kegusaran negara-negara Asean yang minim penduduknya, seperti Malaysia dan Singapore. Selain itu, dengan tingkat suku bunga yang tinggi di Indonesia, sangat dikhawatirkan terjadinya outflow dana masyarakat dari negara-negara Asean yang menerapkan suku bunga rendah ke Indonesia yang bersuku bunga tinggi.

Bagi Indonesia, hal ini sangat memungkinkan terjadinya fenomena kelebihan likuiditas, mengingat pelaku industri dalam negeri lebih memilih negara yang bersuku bunga rendah. Stabilitas Rupiah akan kembali terancam, sedangkan respon pemerintah dalam menggiatkan pembangunan infrastruktuf masih sangat minim, sehingga iklim usaha biaya tinggi akan menjadi momok bagi perekonomian Indonesia.

Satu hal yang menjadi modal penting, kita masih memiliki potensi SDA yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan negara lainnya. Selain itu, pasar domestik yang luas akan menjadi gambaran umum bagi wajah pasar Asean secara keseluruhan.

Pada tahap awal memang diyakini akan mengalami instabilitas di semua negara anggota sebelum akhirnya wujud masyarakat ekonomi Asean ini sendiri menemukan wujud dan bentuk yang wajar dan semestinya. Hal yang perlu dicermati adalah kekuatan yang akan lahir manakala masyarakat Asean ini telah menjadi satu. Asean akan menjadi sebuah wilayah ekonomi yang dihuni oleh lebih dari setengah miliar penduduk bumi, yang akan menempatkannya sebagai wilayah ketiga terbesar di dunia setalah China dan India.

Kekuatan Asean akan semakin diperhitungkan oleh masyarakat Internasional. Untuk itu Asean harus senantiasa tanggap terhadap segala tuntutan peradaban.

aec-3

Paradigma Asean versus China harus segera diubah, karena jika dua kekuatan besar dipertentangkan, maka yang akan terjadi adalah pertentangan besar yang akan berakhir pada kehancuran yang besar.

Pemikiran Asean plus China yang sekarang baru sebatas pada bidang diplomasi, harus terus dikembangkan pada bidang-bidang lainnya. Harus segera dibentuk sebuah wadah khusus yang berfungsi untuk meredam setiap pergesekan yang ada, sehingga Asean bisa lebih mandiri, sehingga mampu mencegah masuknya pihak yang tidak berkepentingan.

Peran kesekretariatan yang ada selama ini, harus mampu memiliki daya tawar di tingkat global.

Akankah Konflik Asean – China Pecah ?
Kebetulan hari Sabtu ini 001/03/2014, saya sedang tidak disibukkan oleh rutinitas kerja. Seorang teman asal Korea Selatan mengajak saya untuk ikut serta dalam acara keluarganya, melakukan penyelaman di pulau Pangkor, perjalanan 4 jam dari Kuala Lumpur.

Sebuah gugusan pulau kecil yang berada tudak jauh dari pangkalan utama TLDM di Lumut, negara bagian Kesultanan Perak. Sepanjang perjalanan, kami hanya membicarakan soal ekonomi, seni, budaya dan olah raga. Sampai akhirnya dari obrolan itu saya bisa mengetahui profesi masing-masing. Ada dua orang yang profesinya sangat jauh dari apa yang kami lakukan sehari-hari. Seorang yang sudah agak berumur namum masih tampak tegap adalah ternyata direktur atase pertahanan Korea untuk Malaysia. Berlatar belakang sebagai perwira tinggi angkatan darat Korea, yang pernah ditugaskan diperbatasan Korsel dan Korut. Sedangkan yang satunya, sejak awal bertemu, feeling saya udah menerkanya sebagai seorang prajurit. Ternyata benar, dia adalah adik ipar dari direktur atase pertahanan Korea itu. Latar belakangnya bisa dilihat dari bentuk tubuhnya yang nyaris sempurna, seorang perwira menengah di angkatan laut Korea. Pernah berdinas di satuan elite angkatan laut Korea, menjadi utusan yang dikirim untuk melakukan pelatihan bersama dengan berbagai negara Eropa dan Amerika.

Hal menarik yang ingin saya bagikan, sebenarnya bukan tentang silsilah mereka, dan juga bukan soal militer Korea. Tapi lebih kepada pengetahuan dan wawasan mereka terhadap kondisi real perkembangan militer di Asia Tenggara. Seringkali mereka memotong pertanyaan saya dengan langsung menjawabnya dengan point yang saya maksudkan, bahkan dia juga memberikan perbandingan dengan apa yang terjadi antara Korsel dan Korut.

Ketika pembicaraan sedang menuju pada konflik LCS yang melibatkan beberapa negara Asean dengan China, mereka mengomentarinya sangat ringan. Mereka berpikir bahwa konflik yang sedang berlangsung, tidak lebih berat dan panas jika dibandingkan dengan konflik yang mereka hadapi dengan Korut. Konflik yang terjadi baru pada sebatas konflik kepentingan yang berupa klaim teritori.

aec-1

Prospek penyelesaiannya masih sangat cerah, mengingat hingga saat ini belum ada satu pun alat penyelesaian yang dipakai. Indikator lainnya, kondisi hubungan bilteral antara negara-negara yang sedang berkonflik juga masih sangat bagus bahkan menunjukan saling ketergantungan. Jika kondisi business as ussual masih tercipta, maka ancaman perang sebenarnya boleh dibilang gak ada, atau setidaknya masih sangat jauh.

Apalagi belum ada satupun pemimpin negara yang melakukan provokasi perang, ini menyiratkan bahwa kondisi yang sebenarnya masih relatif aman. Bukti nyata yang bisa kita lihat, adanya indikasi peningkatan nilai bilateral dalam sektor ekonomi diantara negara yang berkonflik. Bukan hanya itu, mereka juga masih giat untuk saling berinvestasi. Jadi apanya yang menandakan mau perang? Kondisi seperti yang sedang memanas ditengarai hanya ulah usil dari pihak ketiga yang mencoba mengambil keuntungan dari iklim ekonomi yang sedang robust di kawasan itu.

Pertumbuhan ekonomi China yang tinggi, telah menyedot hampir separuh energi dunia. Dampaknya bagi dunia adalah menjadi langkanya energi dan berimbas pada kenaikan harga energi yang sangat bombastis. Sedangkan China sendiri menikmati benefit harga energi yang murah, karena mereka telah melakukan kontrak justru di saat harga energi itu belum melambung tinggi. Inilah yang menjadikan konflik ini terasa begitu special. Negara-negara besar yang sudah fasih dengan bahasa konflik akhirnya datang untuk mengaut keuntungan. Konflik mungkin akan dibuat tetap panas, memanas dan lebih panas. Tapi percayalah, perang ala militer yang sesungguhnya tidak akan pernah ada.

Di akhir obrolan kami, dua orang ini justru iri melihat kiprah Indonesia. Mereka menyebutnya, bangsa kita sebagai bangsa yang cerdik dan otak dagang. Hehehe..! Sambil tertawa, mereka bilang dari semua konflik yang ada, akhirnya Indonesialah yang akan meraup keuntungan. Persis mirip Jepang era Perang Dunia. Ketika saya coba mengejar apa maksud mereka, jawaban singkat terlontar dari mulutnya; think it..! Pikir aja sendiri. Sambil lompat dari boat dan menenggelamkan diri ke laut. 😀 (by yayan@indocuisine).

  33 Responses to “Masyarakat Ekonomi Asean 2015”

  1.  

    “Kekuatan Asean akan semakin diperhitungkan oleh masyarakat Internasional.”
    tetapi tidak lepas dari cengkraman dan kepentingan negara besar

    laos,myanmar,cambodia, …………..lebih berat ke china
    filipina,thailand,vietnam,……………..lebih berat ke U S A
    malaysia,singapure,brunai………….lebih berat ke inggris
    nah indonesia kemana yah..?

    •  

      posisi Indonesia bagai macan yg sedang bobo siang(netral) selagi memulihkan tenaga(otot) selama tidurnya tidak di ganggu oleh hewan(negara) lain.macan tersebut tetap akan tidur
      tidak menitik beratkan naga atau elang botak yg lagi ribut

    •  

      Hehehe..! Semoga Indonesia ada dalam kelompok yang bung Angel Eyes maksudkan sebagai negara besar yang memberikan pengaruh. Amien..!

  2.  

    yg lebih panas lagi bukan di asean bung atau LCS
    barusan bangun pagi
    liat berita Putin minta persetujuan parlemen rusia mau kerahkan militer ke Ukraina
    waduh ada apa tuh.

    •  

      jadi inget masalah penyadapan terhadap udang dan tembakau indonesia oleh barat yg saya baca di koran
      alasan mereka kan teroris
      masa iya udang di rekrut jadi teroris,di cekoki bom.ntar di makan bisa leduk 😀
      salah apa itu udang ampe di jadikan target penyadapan

      •  

        Melemahkan (mempreteli) suatu negara bisa melalui beberapa cara, apa yang terjadi di Suriah, Ossetia, sekarang di Ukraina bisa jadi adalah salah satu upaya pihak barat melemahkan Rusia. Jika Rusia tidak berupaya membangun kembali aliansi dengan negara lain, maka perlahan Rusia akan mengalami kejatuhan juga menghadapi konspirasi barat.

  3.  

    Negarawan yang menyetujui indonesia masuk di Masyarakat Ekonomi Asean 2015 adalah negarawan yang tidak mengenal kondisi indonesia secara nyata. Indonesia bukan hanya jakarta, surabaya, medan dan bali. indonesia itu dari sabang sampai merauke.

    Sampai sekarang saya tidak pernah mengerti kenapa negara sebesar indonesia mengimpor minyak dari Singapura. Semua orang mengerti bahwa singapura bukanlah penghasil minyak. Apa susahnya mengimpor minyak mentah dari negara-negara penghasil minyak kemudian diolah di indonesia. Pasti indonesia akan mendapat harga yang lebih murah, kalau hanya masalah SDM, seharusnya tinggal merekrut 1000-10.000 sarjana kemudian kirim sekolah keluar negeri. 5 tahun kemudian indonesia bisa mengolah minyak sendiri.

    Jika Indonesia tidak ulet dan licin, Masyarakat ekonomi asean 2015 hanya akan menjadikan indonesia sebagai pasar dari produk negara tetangga.

    Semoga pemilu 2014 berhasil melahirkan pemimpin yang tangguh, cerdas, licin dan ulet seperti Presiden Vladimir Putin. Minimal melahirkan pemimpin selevel PM Lee Kuan Yew.

    Indonesia kedepan dengan segala cara harus bisa memanfaatkan kondisi regional untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

    •  

      Amien..! Bung Mbah Moel, harapan akan lahirnya penimpin Indonesia yang cerdas, licin,ulet, adil, jujur dan amanah pada Pemilu 2014 ini, adalah cita-cita bersama segenap bangsa Indonesia.
      Sekedar menjawab keherenan bung Mbah Moel akan penyebab Indonesia yang mengimpor minyak dari S’pore yang bukan negara penghasil minyak. Jawabannya adalah terletak pada kemampuan S’pore memberikan kesempatan dan penawaran yang menggiurkan pada perusahaan-perusahaan minyak besar dunia untuk membangun kilangnya di sana. Dengan jumlah penduduk yang sedikit, tetapi kilang-kilangnya memiliki produktivitas yang sama dengan kilang di Indonesia, maka tidak heran jika kemudian mereka mengalami kelebihan produksi, dan mengekspornya ke Indonesia. Singapore tidak menempatkan dirinya sebagai negara produsen karena mereka sadar akan keterbatasan lahan yang ada. Untuk itu mereka menyebutnya sebagai negara pusat jasa internasional. Selamanya mereka akan berprinsip untuk senantiasa tahu semua kebutuhan negara-negara besar disekelilingnya. Dulu negara dengan ekonomi terbesar di Asean adalah Philipine. Pada masa kekuasaan Marcos, korupsi merajalela. Singapore sadar, mereka harus bisa menampung aliran uang hitam yang keluar dari negara itu. Dia juga yakin, fenomena serupa juga pastinya terjadi di negara lain. Inilah titik mula mereka membangun private banking yang kokoh di Asia Tenggara. Suka atau tidak, nyatanya dengan segala kepercayaan yang diberikan kepadanya, kini Singapore telah menjadi pusat keuangan yang telah sejajar dengan pusat-pusat keuangan dunia lainnya.

      •  

        …Singapore tidak menempatkan dirinya sebagai negara produsen karena mereka sadar akan keterbatasan lahan yang ada…

        Sedikit catatan;

        Sin tidak bisa disebut produsen karena tidak mengekstraksi minyak metah dari perut bumi/ tidak memiliki sumur minyak.
        rujukan: Singapore crude oil production by year, 1980-2012: N/A (indexmundi.com)

        Keterbatasan lahan yang ada tidak akan mampu mencegah eksploitasi jika memang ditemukan cadangan minyak bumi dalam volume signifikan, karena bisa dilakukan dengan anjungan lepas pantai sekalipun cadangannya berada di bawah daratan Sin (teknologi directional drilling).

        Dengan hanya memiliki kilang, predikat Sin adalah penyedia layanan pengilangan / refining service provider…

      •  

        Terlalu berlebihan kalau kita mengharapkan akan lahirnya penimpin Indonesia yang cerdas, licin,ulet, adil, jujur dan amanah pada pasca Pemilu 2014 nanti …. ketika melihat realita yang terjadi pada bangsa ini saat kini yang tak lebih daripada sekumpulan maling yang berkhotbah kebaikan kepada rakyatnya ….

        Hanya perubahan besar dan mendasar saja yang dapat merubah Indonesia ke arah perbaikan …. sedangkan Pemilu 2014 hanya bagian dari ritual mempertahankan “status quo” keboborokan negara ini saja …

  4.  

    Selamat pagi Bung Diego..! Wah, kaget banget waktu saya buka Jakarta Greater pagi ini. Teman saya sesama peminat JKGR di Kuala Lumpur, barusan call saya, dia bilang; please open the Jakarta Greater right now, any something special for you. Gak ngerti dengan maksud mereka, saya segera buka laptop, ternyata comment saya yang kemarin sudah dijadikan sebagai sebuah postingan. Terima kasih Bung. BTW, saya jadi malu, takut ada yang mengira telah menggurui. Hehehe..! Saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Saya sekedar ingin berbagi pengalaman saya disini dengan teman dan saudara yang lainnya di Indonesia. Salam hangat untuk semua, dari kami di Kuala Lumpur.

  5.  

    Sependapat dengan @Mbah Moel,

    1/ Semoga pemilu 2014 berhasil melahirkan pemimpin yang tangguh, cerdas, licin dan ulet seperti Presiden Vladimir Putin.

    2/ Negarawan yang menyetujui indonesia masuk di Masyarakat Ekonomi Asean 2015 adalah negarawan yang tidak mengenal kondisi indonesia secara nyata.

    jujur aja “tangguh, cerdas, licin dan ulet” adalah predikat yang terlalu berat bagi pemimpin RI sejauh ini, makanya setuju dengan Masyarakat Ekonomi Asean. Semoga pemilu tahun ini dapat menghasilkan pemimpin yang minimal ‘cerdas’ sehingga akan meninjau ulang (minimal menunda) berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean.

    @Mbah Moel: Jika Indonesia tidak ulet dan licin, Masyarakat ekonomi asean 2015 hanya akan menjadikan indonesia sebagai pasar dari produk negara tetangga

    @yayan: Selain itu, pasar domestik yang luas akan menjadi gambaran umum bagi wajah pasar Asean secara keseluruhan.

    Pasar domestik yang paling luas adalah RI, 250 juta orang dan kita masih mengimpor garam, bawang !
    lalu kita mau jual apa ke mereka?
    jika Asean membeli produk PTDI/PAL tanpa Masyarakat Ekonomi Asean juga jalan karena tidak ada saingan.
    selebihnya, kita menyediakan pasar/250 juta jiwa konsumen, mereka yang menyediakan produk2nya…

    •  

      Saya bisa mengerti dengan keresahan bung Danu. Keresahan itu pulalah yang saya rasakan saat ini. Karena setiap kali ada kesempatan untuk mendatangi beberapa negara Asean lainnya, saya berusaha untuk mencari tahu tentang keresahan mereka. Sejujurnya tidak ada satu pun anggota Asean yang sudah merasa siap dan yakin 100% dalam menghadapi persaingan bebas ini. Namun belajar dari awal keberhasilan yang diraih China saat ini, semestinya optimisme menjadi milik kita. Beberapa rekan saya dari Thailand dan Vietnam hampir semuanya beranggapan seperti itu. Di masa kebangkitan China, siapa bilang China tidak mengimpor begitu banyak komoditas. Kita yang berada di luar China mungkin hanya melihat label made in china tertera dalam setiap produk yang kita pakai. Setiap saat kita melihat peningkatan volume eksport ke seluruh dunia. Tapi dibalik semua itu, pernahkah kita mau mendengar dan melihat keresahan yang dihadapi oleh ratusan juta rakyat RRC. Saat itu hampir semua produk yang dieksport oleh China adalah produk dari perusahaan-perusahaan multinasional yang mendirikan pabriknya di China. Rakyat China dieksploitasi asing untuk membuat produk yang murah, dengan biaya buruh yang rendah. Yang dirasakan oleh kebanyakan rakyat kecil di sana setali tiga uang dengan yang dihadapi oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Pernah suatu ketika saya diutus perusahaan ke Mumbai, India. Saya diajak jalan ke sebuah mall yang sangat megah di tengah kota. Teman India ini bilang, please brother, you are Indonesian, I need your opinion about this shoes and jeans, sambil menunjuk ke arah produk sepatu bermerek Timberland dan celana jeans Levi’s 501. Dalam hati saya, itu adalah produk terkenal dari US, apa yang harus saya komentari, kita semua sudah tahu tentang kualitasnya yang bagus. Tapi teman saya membuyarkan pikiran saya, dia melanjutkan bahwa dia tidak menyukai produk lokal India, kualitasnya kurang bagus, dan produk yang ada didepan kami adalah produk dari Indonesia, semua orang sangat menginginkannya. Saya kaget, kemudian saya buka bagian dalam sepatu itu, tertera tulisan 100% genuine Indonesian buffalo leather. Size:8, made in Indonesia. Dan perhatian saya alihkan pada celana levi’s itu. Saya mencari stempel yang lumrah berada di bawah kain saku celana untuk meyakinkan bahwa itu produk original, saya dapatkan. Satu hal yang membuat saya terharu adalah disitu saya menemukan kembali keterangan yang menegaskan bahwa perusahaan Levi’s di California USA memberikan kepercayaan penuh pada Indonesia untuk membuat produk berkualitas tinggi kebanggaan Levi’s ini. Dan diakhir keterangan yang panjang, kembali tertulis Made in Indonesia, yang dibarengi stempel ORIGINAL. Hehehe…! Sembari tertawa saya yakinkan teman saya untuk membeli produk itu.

      Peristiwa itu mengingatkan kembali pada kita dan China. China juga sempat miris dengan fenomena serbuan merek asing ke dalam pasar domestiknya. Dengan pasarnya yang super besar, China justru mendapatkan benefit dan kekuatan dalam diplomasi guna mendorong perusahaan dunia yang mengincar China sebagai pasar utamanya, harus mau mendirikan pusat produksinya di China. Maka jadilah China sebagai negara yang bisa membuat apa saja. Tinggal bilang anda mau buat apa. Besok sampel barang akan datang ke tangan anda. Soal garam, China juga mengimpornya dari Nepal? Kita mungkin heran, Nepal yang berada di atas ketinggian Himalaya kok bisa ekspor garam? Dari pengalaman itu, kini China pun mampu menghasilkan garam berkualitas tinggi setara dengan produk Nepal, yang dihasilkan dari ketinggian gunung-gunung di China.

      Kalau melihat fenomena impor di Indonesia, memang sedih. Tapi setidaknya saya tahu ternyata gak ada satu pun negara di dunia ini yang bebas impor. Bahkan berlaku sebuah kecenderungan bahwa semakin besar dan kuatnya ekonomi suatu negara, maka akan semakin besar pulalah nilai impor mereka. Paradigma swasembada yang selama ini dianut, mungkin harus segera diubah. Karena kenyataannya dalam hidup kita yang lebih diperlukan adalah nilai produk atau value. Swasembada diartikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tapi apa artinya kita memaksakan swasembada jika harus mengorbankan kepentingan konsumen. Logika yang bisa kita tiru adalah kebijakan China itu sendiri. Sejak pudarnya pengaruh ideologi komunis, China berusaha untuk memberikan kesejahteraan pada rakyatnya. Jika beras dalam negeri terasa mahal, maka ia akan impor untuk mendapatkan beras yang baik dengan harga yang lebih murah. Tetapi dengan catatan, mereka juga harus mampu memberikan nilai tambah pada setiap produk yang diimpornya. Sekarang berkat impornya, China telah mampu memproduksi produk-produk turunan yang lebih bernilai tambah.

      Prinsip dan sikap tegas yang harus diambil dalam hal impor adalah kita jangan membolehkan impor, kemudian habis cerita. Tapi yang benar adalah, kita boleh impor, kemudian lakukan proses nilai tambah.

      •  

        Bung Yayan, sedikit sharing informasi ya ini.
        Kebetulan saya bekerja di perusahaan export dan sering mengirimkan barang keluar negeri.
        Sebetulnya banyak produksi indonesia yg disukai dunia, pernah dengar lavayete, billaboang, quiksilver, ripcurl, dan masih banyak merk terkenal lainnya adalah produksi negara kita tercinta ini. Itu hanya untuk pakaian saja, sendok garpu, perlenkapan rumah lainnya juga masih banyak adalah produk Indonesia.

        Tetapi memang hanya untuk dipasarkan diluar negeri, yg kita bisa dapatkan didalam negeri hanya kw2 mkn. Tapi itupun sudah bisa dianggap kualitas “A”, bisa dibayangkan bagaimana sebenarnya kualitas produk kita.

        Sedangkan untuk produk2 yg sebenarnya bisa dihasilkan didalam negeri Indonesia sendiri tetatpi kita justru banyak menginmport dari negara lain. Sedikit banyak adalah pengaruh dari broker ke pembuat kebijakan sendiri. Karena di area tersebut sangat banyak keuntungan yg akan mereka peroleh.

        Sharing saya diatas hanya sebagian kecil yg ada, masih banyak sebenarnya yg patut dibanggakan dalam hal produksi di Indonesia.

        terima kasih…

        •  

          a very good point bung;

          saya kutip lebih lanjut dari analisis faisal basri,

          -bagaimana hendak masuk MEA jika infrastruktur berantakan

          -bagaimana bisa penetrasi pasar Asean jika ongkos angkut kontainer RI termahal ketiga di Asean

          -barang impor akan langsung masuk ke daerah, tak perlu lagi dipasok dari jawa seperti selama ini
          (seperti saya ulas, industri padat karya di jawa akan mati)

          dan saya kutip point anda yang sangat luar biasa:

          – bagaimana jika ada pengaruh dari broker ke pembuat kebijakan sendiri,
          karena di area tersebut sangat banyak keuntungan yg akan mereka peroleh ?.

      •  

        Saya setuju dgn bung yayan, jangan mengkerdilkan potensi negara kita sendiri, seolah2 kita yg akan di ekplotasi oleh negara lain. Bagi kami yg terbiasa berusaha itu adalah kesrmpatan besar utk melebarkan sayap ke negara lain, tp entahlah bagi yg bermental kuli

        •  

          tidak ada yang dikerdilkan disini bung, kita bicara data

          jika anda punya data yang menunjukkan kita punya kesempatan besar untuk melebarkan sayap ke negara lain, silakan dishare disini lengkap dengan rujukannya…

    •  

      bung yayan,

      saya tanggapi dulu soal garam karena ini dapat menjadi indikator keseriusan/’kebecusan’ pemerintah mengelola ekonomi.
      tanpa googling saya yakin RI memiliki pantai terpanjang di kawasan khatulistiwa, jika memanfaatkan anugerah alam yang teronggok di depan mata saja kedodoran, saya tidak bisa bayangkan sektor2 yang lebih sulit.
      tak heran jika anugerah alam yang lain, panas bumi baru 5% yang dikonversi menjadi listrik, mayoritas masih mengandalkan energi tak terbarukan.
      dilihat di peta panjang pantai china kl. = panjang pantai sumatera + jawa, sementara penduduk 5+ x RI, wajar jika mereka impor.
      nyatanya mereka justru mengekspor ke….n e p a l !

      saya cukup heran mendengar nepal yang land-locked mengekspor garam ke china, ternyata sebaliknya, nepal sendiri tidak memproduksi garam.

      Salt Trading Corporation (STC) Limited is one of the largest business organization in Nepal established as an experiment of the utility of Public Private Partnership (PPP) for a developing country under PPP act of Government of Nepal. About 48 years ago (established in 1963 AD), the corporation was launched with objective to avail iodized common salt (since salt is not produced in Nepal and depends on import from India and China) – stcnepal.com

      btw, selama enam bulan (Januari-Juni 2013), impor garam RI tercatat mencapai 923 ribu ton atau senilai US$ 43,1 juta (detikFinance), jadi jumlah devisa yang diboroskan setahunnya kira2 dapat 1 Su-35…

      •  

        benar seperti anda katakan, china memperoleh garam melalui salt mining / tambang garam, sementara RI sebagai negara kepulauan harusnya juara dunia dalam metoda ‘solar evaporation’…

        •  

          Garam…

          ya, itu saja dulu parameter ekonomi nasional Indonesia. Garam dan ikan asin

        •  

          Kelebihan tambang garam adalah tidak mengenal cuaca. Sedangkan pembuatan garam tradisional di pantai dengan bantuan sinar matahari langsung akan terkendala cuaca, dan itu terjadi ketika musim hujan tiba.

          Walaupun suatu negara tidak punya pantai sepanjang RI, bisa saja negara tsb mengungguli RI dengan menggunakan teknologi, misalnya teknik reverse osmosis yang memisahkan garam dari air laut. Cukup dengan pipa yang menyedot air laut, dapat bersaing dengan pantai yang ratusan kilometer panjangnya.

    •  

      bung yayan,
      keprihatinan mendasar saya terkait Masyarakat Ekonomi Asean adalah rendahnya Logistics Performance Index RI dibandingkan negara2 Asean lain. LPI yang lebih rendah mengakibatkan harga produk kita lebih tinggi, sehingga kalah bersaing dari negara2 Asean tsb.
      Ranking LPI dunia, 2012:
      Sin 1
      Mal 29
      Tha 38
      Phi 52
      Vie 53
      RI 59
      Jika sebuah pabrik RI berhasil membuat sepatu dengan kualitas dan ongkos yang sama dengan negara2 Asean tsb. ongkos transpor yang lebih tinggi (konon lebih murah mendatangkan jeruk China ke Jkt daripada jeruk Pontianak) serta antrean waktu pengapalan yang lebih panjang (=biaya sewa gudang ekstra) akan membuat produk yang tadinya masih bisa bersaing menjadi lebih mahal sehingga tidak laku.

      Data global clothing manufacturers dan global footwear manufacturing;

      Clothing manufacturers have always preferred a combination of low price and quality. This has lead to the flourishing of the apparel industry in many Asian and African countries due to good quality labor and affordable resources. The top destinations for clothing manufacturers around the world are: china, VIETNAM, hong kong, THAILAND, srilanka, bangladesh, ethiopia, CAMBODIA, north korea, mexico (thesourcingplace.com).
      Jadi yang unggul dalam LOW PRICE adalah ketiga negara Asean di atas dan jika dibebaskan (tanpa trade barrier seperti bea masuk), pasar garment Asean akan dikuasai ketiga negara tsb. dan industri garment RI yang menyerap banyak tenaga kerja / padat karya akan mati.

      Demikian juga dengan industri padat karya lain, alas kaki, data 2010;
      In 2010, approximately 57% of total shoes manufactured in the world, or 6.9 billion pairs of shoes, are expected to be Chinese-made shoes. This was up from around 6.5 billion pairs, or 56% in 2006.
      Vietnam is projected to be the next largest manufacturer with about 975 million pairs produced or 8% of total world production in 2010. This is up from 700 million pairs or 6% of world production in 2006. The Vietnamese footwear manufacturing industry has developed considerably through substantial overseas investment. Manufacturers have moved to the country to take advantage of the low labor costs; production costs in the country are less than in China.
      Dibawah Vietnam, India, Brazil.dan Itali (IBISWorld Industry Report -Global Footwear Manufacturing)

      Dengan perdagangan bebas, sepatu Vietnam akan menguasai pasar Asean, dan puluhan ribu buruh RI akan kehilangan pekerjaan…

      •  

        bung desperado, tanggapan anda lumayan OOT dan mengaburkan fokus pada gawatnya dampak MEA bagi ekonomi RI (sin hanya figuran statistik di sini).

        data LPI dihimpun world bank berdasarkan penilaian atas 6 aspek:
        1. efisiensi proses clearance bea cukai
        2. kualitas infrastruktur terkait perdagangan (pelabuhan, rel, jalan raya – kita bukannya tidak menyadari, Priok sedang diperluas, membangun pelabuhan baru di cilamaya sebagai outlet alternatif kawasan industri karawang – cikarang, pembangunan rel double track jkt – sby, jika anda mengemudi di JORR atau cipularang sekitar karawang atau cikarang terasa sekali crowdednya jalan dengan truk container -> gejala bottleneck, harus diperlebar, pelabuhan ferry anyer sering krisis dst)
        3. kemudahan pengapalan dengan biaya kompetitif
        4. kompetensi dan layanan logistik
        5. kemampuan untuk melacak dan menelusuri posisi barang kiriman / IT
        6. ketepatan waktu barang kiriman tiba di tujuan

        kalau sin unggul gak aneh, pelabuhannya kelas dunia sementara wilayahnya hanya seupil, semua serba lancar.

        The Port of Singapore, which handled 537.6 million tonnes of cargo in 2012, is the second biggest port in the world (ship-technology.com).

        top-50-world-container-ports
        rank 2 Singapore 31.65 (Million TEUs) – 2012 (worldshipping.org)

        Singapore (Singapore): The port of Singapore is the world’s busiest transshipment port – (morethanshipping.com/the-top-five-busiest-ports-in-the-world)

        sekali lagi mereka hanya statistik, bukan ancaman buat industri padat karya kita, karena fokus mereka di jasa padat modal / teknologi.
        ancaman bagi kita adalah vietnam yang baru selesai perang mengusir pasukan asing 30 tahun setelah kita merdeka dan sekarang unggul jauh dari kita di banyak aspek termasuk pendidikan…

        •  

          lebih jauh tentang infrastruktur bisa dibaca di kompas hari ini, halaman 15, analisis ekonomi faisal basri -kebetulan baru baca 🙂

          Infrastruktur Tertatih Menyongsong MEA 2015

          saya kutip dua kata terakhir saja : s e s a t p i k i r

          •  

            Ach… itukan hanya angka2….
            Angka-angka diatas kertas itu relatif… bisa digelembungkan dan bisa dikurangi… siapa yang tahu….!

            Macam gak tau aja tabiat lembaga survey…

          •  

            agar lebih konstruktif dan jelas arahnya, sebaiknya anda ajukan saja angka dan data yang berlawanan dari sumber2 lain sehingga forum dapat mencermati bersama, cukup fair ‘kan?

        •  

          @ Bung Danu,

          Memang benar apa yg diberitakan di LPI atau lainnnya seperti itu adanya.

          1. efisiensi proses clearance bea cukai —- memang lebih cepat dan itu karena mereka satu atap. untuk Indonesia memang sudah satu atap, tetapi kadangkala kita hanya untuk proses clearance memerlukan waktu yg agak lama dan birokrasi yg berbelit.

          2. kualitas infrastruktur terkait perdagangan (pelabuhan, rel, jalan raya – kita bukannya tidak menyadari, Priok sedang diperluas, membangun pelabuhan baru di cilamaya sebagai outlet alternatif kawasan industri karawang – cikarang, pembangunan rel double track jkt – sby, jika anda mengemudi di JORR atau cipularang sekitar karawang atau cikarang terasa sekali crowdednya jalan dengan truk container -> gejala bottleneck, harus diperlebar, pelabuhan ferry anyer sering krisis dst)
          — harus benar2 dikawal untuk perbaikan infrastuktur dinegara kita ini, banyak dana tapi kecil realisasinya.

          3. kemudahan pengapalan dengan biaya kompetitif
          — karena singa merukapan “hub” utama di asia pasifik. Malaysia dan hongkong sebenarnya juga “hub”, tetapi masih kalah dengan negara unyil tersebut. Seharusnya Indonesia bisa menjadi “hub” apabila infrastuktur dibenahi, dan membuat policy dengan pemilik kapal / liner langsung. memudahkan alur logistik dan menambah SDM yg berkualiatas, ditambah mempermudah brikrasi itu sendiri.
          dengan seperti itu biaya yg murah akan bisa terealisasikan dengan sendirinya.

          4. kompetensi dan layanan logistik
          — coba renungkan, kita membawahi banyak pelayan dari dalam negeri sendiri sudah sedemikian banyak. singa hanya membawahi pelayaran international yg sudah terbentuk systemnya. walaupun banyak. pasti mereka bisa handle semuanya. bandingkan dengan Indonesia, system sudah ada untuk pelayaran international. tetapi “PR” juga masih banyak, belum ditambah pelayaran lokal itu sendiri. SDM kita yg wajib ditambah dan ditingkatkan lagi (seperti ulasan sebelumny)

          5. kemampuan untuk melacak dan menelusuri posisi barang kiriman / IT
          — idem (sudah ada diulasan sebelumnya)
          6. ketepatan waktu barang kiriman tiba di tujuan
          — idem (sudah ada diulasan sebelumnya)

          untuk Vietnam…
          Memang negara sangat pesat pertumbuhannya, dan apa yg dikawatirkan memang benar adanya. Apalagi demo buruh akhir2 ini membuat para calon investor berfikir ulang untuk menanamkan modal di Indonesia. Cobalah buruh / pekerja diberikan sosialisasi apa dampak yg akan timbul apabila terus seperti itu.
          Benar itu adalah hak mereka, dan mereka pantas menuntut hak tersebut. Tetapi jangan naif juga untuk menuntut hak tersebut, karena mkn ada perusahaan yg benar2 tidak bisa berjalan dengan gaji yg mereka harapkan.

          untuk analisa faisal… no coment ya… 🙂

          terima kasih

    •  

      Last but not least, saya kira perkataan dua rekan Korea anda bahwa “kita bangsa yang cerdik dan otak dagang” adalah lip service yang berbeda 180° dengan kenyataan.
      dalam bahasa kakilimanya, penilaian rekan Korea tersebut = “apa2 jadi duit”, nyatanya laut yang 70% wilayah itu gak jadi garam, panas bumi yang berlimpah gak jadi listrik…
      kalau saya presiden, swasta yang mau membangun jembatan yang akan menghubungkan sumatera – jawa – bali hingga timor akan saya beri segala insentif dan kemudahan, mulai dari perijinan hingga pajak, sehingga tidak akan mangkrak seperti jembatan selat sunda, terlalu banyak kepentingan bermain di negeri ini…

      dalam bahasa kerennya, “apa2 jadi duit” = ease of doing business.
      peringkat dunia 2013;

      sin 1
      mal 6
      tha 18
      vie 99
      RI 116

      pasar bebas ibarat pertarungan bebas, bicara pertarungan bebas jika anda gemar nonton UFC di star / fox sports tentunya tahu bahkan disinipun dikenal pembedaan kelas, kelas berat tidak diadu melawan kelas layang…

  6.  

    Teori asimetris suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir inilah yg dilakukan oleh kaum kapitalis,dengan spektrum perang yang sangat luas dengan pola EKONOMI.

  7.  

    indonesia mw punya daya saing di MEA harus hapus tuh namanya subsidi barang ganti jadi subsidi orang, kalo perlu tidak perlu lagi negara ini di manjakan dengan subsidi.

  8.  

    Harus ada perlindungan atau prioritas bagi wni. Contoh sederhana bisa dilihat bagaimana sulitnya bank di indonesia hendak membukacabang di malay. Jadi birokrat haris cerdas dan jiwanya tidak tergadai untuk keuntungan sesaat bahkan sudah dibeli oleh pemodal besar

  9.  

    persaudaraan Asean?
    sangat jauh bakal tercapai jika rasa saling percaya belum ada.
    negara2 asean ada banyak beban masa lalu yg bikin mereka saling curiga / tidak akan saling percaya sembilan puluh persen. contoh: myanmar-thai, indo-msia, msia-sing, thai-kamboja, kamboja-viet, msia-phil.

    ini salah satu contoh negara asean yg tidak henti2nya memprovokasi tetangganya lewat program ‘gw kudu jauh lebih kuat lebih hebat lebih canggih dari elu’

    keluar ke dunia internasional selalu mengesankan ‘gw negara kecil, negara bersih, negara lurus yg dizolimi terus sama tetangga gw yg besar2.. wajar kalau gw kudu jauh lebih canggih lebih kuat’

    http://www.defensenews.com/article/20140301/DEFREG03/303010020/Is-Light-Carrier-Singapore-s-Future-

    silakan dibaca sendiri link-nya… singapur bakal bikin Light Carrier ditandemkan dengan F-35 pesanannya.

    apalagi tujuannya kalau bukan power projection dikombinasikan dengan serangan mendahului sebelum musuh sempat menyerang mereka.

    Is a Light Carrier in Singapore’s Future?
    03 Maret 2014

    Assault Capability: A model of ST Engineering Marine’s Endurance-160 multirole support ship reconfigured to accommodate F-35B joint strike fighters. (photo : DefenseNews)

    TAIPEI — For years, Singapore’s ST Engineering Marine has been parading a ship model of a landing helicopter dock (LHD) vessel that could handle the jump-jet variant of the F-35 joint strike fighter.

    The model was most recently on display at last month’s Singapore Airshow. And while Singapore’s Ministry of Defence (MINDEF) won’t confirm that it has plans to build such a vessel, it’s also not denying it.

    The model shows a variant of the Endurance-160 multirole support ship configured as an LHD.

    MINDEF confirmed that Singapore has expressed an interest in the F-35B, as illustrated by the recent inspection of the aircraft by Defense Minister Ng Eng Hen during his visit to Luke Air Force Base, Ariz., in December.

    In an interview transcript released by the Defense Writers Group, conducted in late July, US Air Force Gen. Herbert Carlisle disclosed that Lt. Gen. Ng Chee Meng, Singapore Defence Force chief, had told him that Singapore would procure the F-35B.

    “I know that’s a decision that’s been made and that’s why they’re part of the program, but I don’t know where they’re at in putting that in the budget,” said Carlisle, commander of Pacific Air Forces.

    Four 14,000-ton Endurance multirole support ships already serve in the Singapore Navy as landing ship tank (LST) vessels, and ST Marine delivered its first export order for the vessel to Thailand in 2012.

    Though significantly smaller than the 40,000-ton US Wasp-class LHD amphibious assault ships, outfitting a 14,000-ton vessel such as the Endurance with F-35Bs is not a new idea. South Korea’s LPH-6111 Dokdo-class and Japan’s Hyuga-class “helicopter destroyer,” each 14,000 tons, reportedly have had their flight decks covered with urethane to make them resistant to jet engines.

    Factors driving Singapore’s need to build light aircraft carriers include maintaining the sea lines of communication in the Malacca Strait, consolidation plans that reduce air bases from three to one, lack of strategic depth, and unresolved histories that include animosity and violence with Indonesia and Malaysia.

    An unsettling reminder occurred during the Singapore Airshow in mid-February, when Indonesia named a Navy corvette “the KRI Usman Harun” in honor of the two marines who planted a bomb in a Singapore bank building in 1965 as part of then-President Sukarno’s “confrontation” policy. More than 30 bombs were set off in Singapore during the crisis. In 1968, Singapore hanged both men. Singapore has protested the naming and barred the Nakhoda Ragam-class vessel from entering Singapore.

    A short-takeoff, vertical-landing (STOVL) jet is well suited for Singapore’s congested land mass, said Carl Thayer, professor at the Australian Defence Force Academy.

    “Singapore is in the process of consolidating its three military airfields. The reduction in runways is compensated for by the F-35s ability to take off in a short space. A fully loaded F-35B needs only 168 meters of runway,” he said. “In addition, the F-35B has demonstrated that it can land and take off easily from ships at sea.”

    In August, the F-35B performed its first night vertical landing aboard WASP. This type of capability would “suit Singapore future procurement plans,” Thayer said.

    But not everyone is sold on the idea.

    “I’m sure it has its appeal, not just from a power-projection and anti-piracy perspective but also from a force survivability standpoint,” said Richard Aboulafia, vice president for analysis at the Teal Group, Fairfax, Va. “But it would add considerably to Singapore’s F-35 acquisition bill.”

    Costs could increase as much as 25 percent to buy and operate the F-35B relative to the standard takeoff version. This would mean fewer planes, Aboulafia said.

    “Singapore, as an island nation, realizes their combat aircraft runways would be vulnerable and likely targets,” said Guy Stitt, founder and president of AMl International, a Bremerton, Wash., naval analysis firm. “A STOVL capability gives them the ability to ensure combat air capabilities could be maintained without runways, although vertical take-off does eat a lot of fuel.”

    The Endurance LHD design would require considerable enlargement and revamping to operate and store fixed-wing aircraft, said AMI’s chief analytical officer, Patrick Bright. The vessel would require a ski ramp and a larger elevator to handle the F-35B.

    Singapore appears to be eager to procure either the F-35B or a light aircraft carrier. With the procurement of submarines and the littoral mission vessel, “I imagine the new multirole vessel design would follow them starting in 2021,” Stitt said.

    The time frame would fit with plans to upgrade the country’s F-16 fleet and allow for others to iron out bugs in the F-35B program, Thayer said.

    MINDEF officials said Singapore is in “no hurry” to buy the F-35.

 Leave a Reply