Okt 142018
 

USS Gerald R. Ford (CVN-78) © US Navy via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Amerika Serikat salah bila mengklaim bahwa mereka “dirugikan” dan “diserang secara ekonomi” dalam berbisnis dengan China hanya karena memiliki defisit perdagangan yang besar, menurut media China, People’s Daily.

Hubungan perdagangan antara AS-China adalah atas dasar sukarela dan juga saling melengkapi. China tidak pernah mencari hubungan perdagangan dengan memaksa AS, atau surplus perdagangan.

Berdasarkan data statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa pada tahun 2017, ekspor AS ke China mencapai $ 129,89 miliar, meningkat 577 persen dari $ 19,18 miliar pada tahun 2001, ini jauh lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan rata-rata keseluruhan ekspor AS yang mencapai 112 persen pada periode yang sama.

Yang perlu dicatat adalah bahwa pertumbuhan itu dicapai karena AS telah secara ketat membatasi kategori ekspor ke China dan melarang penjualan teknologi tinggi tertentu.

Defisit perdagangan AS dengan China tentunya dapat menyempit jika AS mengizinkan penjualan produk berteknologi tinggi ke China. Jika saja AS mau menjual 4 kapal induk (CVN) kelas Ford dengan harga $ 15 miliar per unit, itu akan dengan mudah menebus defisit perdagangan sebesar $ 60 miliar dengan China.

Sebuah laporan yang dirilis oleh Carnegie Endowment for International Peace pada April 2017 mengindikasikan bahwa jika AS harus meliberalisasi hambatan ekspornya terhadap China ke tingkat yang sama seperti yang berlaku untuk Brasil atau Prancis, tentu defisit perdagangan AS dengan China akan dipersempit hingga antara 24 hingga 35 persen.

Sambil terus menjaga desain produk dan juga pemasaran di wilayahnya sendiri, AS telah memindahkan jalur pemrosesan serta perakitan di luar negeri dalam beberapa dekade terakhir, dimana China menjadi negara tuan rumah terbesar dari transfer industri global tersebut.

Sejumlah besar ekspor China ke AS sebenarnya adalah produk yang dirancang AS, tetapi diproduksi di China. Perusahaan China dibayar oleh manufaktur dan mereka mendapat lebih sedikit keuntungan daripada perusahaan AS. Sangat tidak adil untuk mengatakan bahwa China telah memperoleh lebih banyak keuntungan daripada Amerika Serikat.

Alih-alih menjadi “agresi ekonomi”, pembangunan China memberikan kekuatan besar bagi pertumbuhan ekonomi global. China telah mempertahankan kontribusi sekitar 30 persen terhadap pertumbuhan ekonomi global sejak 2013. Pada tahun 2017, angka itu mencapai 34,6 persen, hampir dua kali lipat dari AS.

Perkembangan China juga telah memperluas pasar global. Dari tahun 2001-2017 saja, pertumbuhan barang-barang yang diimpor oleh China naik 13,5 persen rata-rata, dua kali lebih cepat dari rata-rata global. Pada periode yang sama, rata-rata pertumbuhan layanan dalam perdagangan yang diimpor oleh China adalah 16,7 persen, 2,7 kali dari rata-rata global.