Jul 022014
 
Kapal Induk China Liaoning yang bergerak ke Laut China Selatan (photo; PLA Navy)

Kapal Induk China Liaoning yang bergerak ke Laut China Selatan (photo; PLA Navy)

Jakarta, Pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie, berpendapat, perlu ada koreksi mendalam tentang pendekatan penyusunan Minimum Essential Force (MEF) Indonesia. Selama ini, dia menilai, pelaksanaan MEF hanya terfokus pada pendekatan anggaran yang tersedia, tidak didasarkan pada ancaman yang berkembang. Jika ini terus dilakukan, MEF tidak akan tercapai.

“Jika pengukuran MEF itu berdasarkan ancaman, artinya angkanya harus berubah tiap tahun. Ancaman kita 10 tahun lalu, ancaman kita 5 tahun lalu, dengan ancaman kita hari ini, kan sudah berubah,” ucap Connie.

Ia menjelaskan, dinamika ancaman kawasan saat ini sudah cukup kompleks. Oleh karenanya, penegasan terhadap paradigma outward looking TNI yang sudah dicetuskan sejak reformasi 1998, perlu segera diwujudkan, tidak sekadar wacana di atas kertas.

“Seperti ada ancaman ketika Tiongkok menetapkan kebijakan green water policy. Green water policy Tiongkok akan masuk sampai pada Selat Malaka. Dan blue water Tiongkok akan masuk sampai Samudera Hindia. Kalau kita mengukur MEF dari ancaman tersebut, seharusnya sudah berubah hitungan MEF dari Kemhan hari ini,” katanya.

Untuk matra laut, Connie berpandangan, Indonesia setidaknya memerlukan 755 kapal perang KRI, 4 buah kapal induk, dan 22 kapal selam. Kebutuhan ini untuk melindungi kepentingqan Indonesia, minimum hingga 60 tahun mendatang.

“Visi MEF saya bagaimana melindungi kepentingan Indonesia minimum 60 tahun mendatang. Visi MEF hari ini itu per 10 tahun, susah. Itu cara perhitungannya berbeda,” cetus Connie.

Dia melihat kemunduran cara berpikir dalam paradigma pembangunan pertahanan Indonesia sekarang. Salah satunya, masih dominannya orientasi pertahanan darat. Seharusnya, jika sejalan dengan doktrin outward looking military, arah penguatannya ada pada matra laut dan udara.

“Paradigma pertahanan kita juga terlalu berorientasi kepada daratan. Cara kita menetapkan ancaman kita juga dari darat. Kenapa kita tidak seperti zaman nenek moyang kita dahulu, seperti kerajaan Ternate dan Tidore misalnya? Mereka melihat ancaman itu dari laut. Makanya kenapa dulu kekuatan maritim kita bisa sampai ke Madagaskar. MEF kita zaman sekarang kalah dengan MEF kita zaman Tidore. Cara berpikir kita sekarang benar-benar mundur,” pungkasnya. (Anwar Iqbal / Arif Giyanto / Jurnalmaritim.com).

  138 Responses to “MEF Indonesia dan Ancaman Kawasan”

  1. Makin Mantab dah INdonesia

    • mudah-mudahan pandangan bu Connie terwujud,
      dan saya masih hidup saat melihat semua tercapai….

    • Akan sperti sarang lebah yg mengambang di laut ya Bu,kapal induk jdi sarangnya,pelindung-pelindungnya sperti pespur,KS,dll jdi lebah yg mengiringi serta melindungi sarangnya.aq liat dompet q tanggal sgini udh tinggal 10rb,moga Pemerintah mampu membiayai,klwpun enggak kan para lebah d biakan d pulau2 terdekat dgn ancaman terbesar mungkin lebih baik,hehehe,jayalah NKRI (y)

  2. uangnya siapa bu, kapal induk sampai 4???

    • ada – ada aja bu connie, dengan MEF sekarang menurut saya lebih realistis dan masih bisa menghadapi ancaman yang ada lagian sekarang zamannya perang asimetris jadi ngga perlu latah mengcopy paste strategy tetangga lain, tetangga punya kapal induk kita harus punya kapal induk, ngga perlu bu.. lagian dengan KCR 40, 60 yang jumlah semakin banyak plus persenjataan yang baik dan biaya operasional yang murah lebih cocok indonesia dibandingkan memiliki kapal induk, LPD aja cukup bu

      • maksudnya ibu connie itu, bagaimana TNI melihat perubahan ancaman yang setiap waktu terus meningkat….
        “Indonesia setidaknya memerlukan 755 kapal perang KRI, 4 buah kapal induk, dan 22 kapal selam. Kebutuhan ini untuk melindungi kepentingan Indonesia, minimum hingga 60 tahun mendatang.

        bukan harus saat ini

        • Kalau memang nanti kita ingin menjadi “polisi” kawasan memang perlu kapal induk. Tapi kalau tidak, juga tidak. Jadi tergantung kebijakan politik.

          • @ bung ghi…

            apa sih untungnya kita menjadi ‘polisi’ kawasan…
            buang-buang duit…

          • kan ada uang keamanan bung afiq… hehehe…
            maaf ngelantur.

          • amerika jadi polisi dunia sebagai alasan menjajah dan mengeruk sumber daya alam negara yang ditekan…

            kita kan nggak mau besar dan berkembang menjadi tidak bermoral seperti amerika toh…

            sebagai manusia beradab dan berakhlaq kita emang dituntut untuk membantu yang lemah…

            tapi sudah siapkah kita dengan kondisi arsenal yang masih dalam proses mengganti yang uzur dengan yang lebih modern…

            kita belum menambah loh ya… jangan terlena… kita baru sebatas update alutsista agar makin canggih sembari menonaktifkan yang sudah uzur…

            belum lagi realita bahwa menjadi polisi pasti menguras kantong negara…

            negara yang dibantu juga belum tentu berterima kasih dan mau membuka akses ekonomi untuk kita…

            hayooo…

      • Rekan-rekan , spertinya kita juga lupa bahwa penguatan Angkatan darat adlah ” warisan ” orde baru” , cukup lama memang 30 thn lebih , dan sangat cukup waktu ketika Indonesia memperkuat barisan pertahanan dengan metode darat > dan juga sistem pertahanan berbasis HANKAMRATA dan doktrin juga saat itu adalah musuh datang dulu baru ” dikeroyok ”
        menurut saya , mungkin penguatan matra Darat saat itu juga buah dari ” deal” terselebung , yg mana pihaka mamarika akan bantu penguatan matra darat , akan tetapi Udara , dan Laut Tidak boleh dikuatkan / dalam arti dipreteli kekuatannya

        sehingga praktis Indonesia menjadi kekuatan Darat saja yang maju , hal ini bisa dilihat sepanjang era orde baru , banyak penguatan alutista matra darat mendapat bantuan , entah bentuk hibah, pinjaman lunak maupun pinjaman dengan syarat
        hal ini berbanding terbalik dengan Udara , maupun Laut ,
        untuk udara hanya boleh di ijinkan import jarak pendek saja ( apalah artinya bilsa saat itu bertempur dengan Sonora , misalkan , tentaunya kita hanya bisa menunggu musuh datang, sedangkan mereka banyak menyerang berbasis jarak jauh tanpa kita tahu dari mana asal serangan

        mungkin sedikit bukti lain kalau tidak salah ( semoga benar ) dokumene perjanjian Udara FIR Indonesia – Singapura kala itu di tandatangani Letjen Purn Edi Sudrajat ( AD ) , yang mana seharusnya matra AU dan AL diajaka untuk ” rembukan ” dan kalau tidak salah pun Juga Bapak Edi Sudrajat juga memegangn tampuk pimpinan Menhankam ( kalau tak salah pula )

        dan penguatan alutista matra darat sampai saat ini pun masih berlanjut , kalaupun negara ini membeli atau mengembangkan Rudal / roket jarak pendek , mengapa tidak sekalian 3 digit dan gahar , bila perlu 4 digit ( belajar lah dengan IRAN ) , akan teteapi pemerintah masih terkesan seteangah hati , dan mungkitn takut sama Mamarika bila belajar ke IRAN ,
        ( bisa mengguncang kawasan ASEAN )

        pembelian alutista jangkauan jarak jauh baik kapal , rudal maupun pesawat , hal ini tentunya bisa dilakukan sejak jaman orde baru sampai sekarang .

        Tapi jangan khawatir , matra Laut kita sudah mendekati GReen water Navi
        sampai saat ini TNI AL masih dijuluki Most Amphibious Force , yang mana dapat beroperasi di luar wilayah nya sendiri

        oleh Karena itu mari kita dukung TNI dalam hal penguatan Alutista berdaya jangkau Jauh , baik Darat / Laut / Udara .

        buat Pemerintah , inilah ” sedikit’ jeritan hati anak bangsa yang bosan sekali ditertawakan oleh dunia dalam hal Alutista

        Konsep Pre- Emptive Strike , pada latgab kemren , OK
        saya bangga sebagai komponen anak bangsa

    • Kapal Induk bagusnya 3 saja…satu utk Orientasi Samudera Pasifik dan satu lagi Samudera Hindia, satu utk Pertahanan dalam negeri…merangkap cadangan…bagaimanapun kedepan Indonesia tetap mengacu armada laut biru…postur armada terlalu besar bisa mendorong perlombaan senjata…terlalu sederhana diremehkan negara tetangga..yang pas2 saja…tapi tergantung politik LN jg dan kondisi kedepan…bagaimanapun itu hanya forecasting…dulu juga kita hanya selalu membatas info kapalselam kita hanya 2 ..padahal diatas itu jumlahnya…krn Indonesia tdk berkehendak mendorong perlombaan senjata…tapi kondisi politik negara2 jiran yg kurang kondusif..maka kita memperbaiki alutsista kita secara bertahap..ini sdh cukup cerdas…

      • Karena harga & operasionalna mahal, imho cukup 1 saja bung, Pembangunan lanud & lanal di pulau2 kita memang ok, tapi ke depannya perlu juga nih kapal induk.
        Kapal induk kan seperti pangkalan tempur terpadu yang bisa dipindah2. Jadi fleksibel, multifungsi & bisa ditempatkan dimana saja baik sebagai kekuatan utama atau sebagai pendukung. Yang terpenting ya efek sabun deterjennya, jadi si malon gak akan bertingkah lg…

        • punya kapal induk, emang kapal mau invasi kemana mas mendingan duitnya digunakan beli destro ato ks, kalo pengen keroyokan yang belikan midget dapat segambreng

          • kan buat ke depannya bung, gak sekarang…lagipula ngga mau invasi kemana2 kok, tapi kalau misalnya harus menginvasi..ya ke sonora itu

    • kapal induk? Udah dihitung biaya operasionalnya? 1 kpl induk pasti ada yg ngiringi : destroyer, fregat , ks
      harusnya Bu Connie belajar dulu di warjag pada sesepjh warjag he he he he mbak connie sorry

      • Maaf bung @Gatot, anda belajar dari warjag yg mana, berulang kali disini sudah di bahas, kapal induk tercanggih saat ini harganya hanya US$ 15 milyar, untuk buatan USA, kalau Rusia, harganya bisa hanya US$ 10 milyar, sedangkan biaya operasional hanya US$ 1,5 milyar dan masa perang hanya US$ 2,5 milyar tiap satu armada kapal induk, yg terdiri dari pespur, kapur dan kasel.
        malah kalau kita mau 60 tahun itu kelamaan kita bisa mencapainya hanya dalam 30 tahun, anggaran yg ringan bahkan tidak terasa, cukup sekitar 1,5% dari GDP tiap tahunnya sesuai dengan pertumbuhan ekonomi kita.

        • bung inul, yang dimaksud mungkin selama hampir 70 tahun merdeka kita pernah dirongrong oleh negara jauh yang mana sehingga butuh kapal induk ? (kecuali mungkin bajak somalia)

          60 tahun ke depan, negara jauh mana yang akan mengganggu kepentingan nasional kita?

          seperti belanja rumah tangga, pengadaan alutsista harus didasarkan pada ‘need’ bukan ‘want’…

    • kalo mikir indonesia yg ecek2 dan tidak mampu meproyesikan kekuatan lautnya utk melindungi kepentingan2 kita nun jauh disana, seperti melindungi kapal dagang, oil rig, jalur pelayaran dan sekutu2 kita blok baru nusantara, yah kapal induk memang tidak guna, tapi apa kita tak mengerdilkan diri kita sendiri kalo dua puluh tahun mendatang atau lima dekade mendatang kita sudah harus menjadi superpower baru, dan membutuhkan armada yg siap untuk peran baru itu.

    • Pandangan bu Connie 60 tahun kedepan wajar aja bila mengidamkan punya 4 kapal induk lagian dalam 60 tahun kedepan Indonesia harus semakin jaya dan masuk ekonomi 7 besar dunia

    • izin nyimak

    • bung Makrov Zonov,

      jika

      “Semua PASTI bisa diusahakan asalkan ada kemauan”

      jauh lebih murah usahakan dan PASTI-kan saja perdamaian dengan seluruh negara dari berbagai pelosok dunia, duit yang milyaran $ lalu digunakan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan rakyat…

      • bung Makrov Zonov,

        jawabannya sangat kompleks, tapi sekedar ilustrasi, RI nomor 3 di asia setelah cina dan india, yang masing2 telah memiliki 8 dan 7 pemenang nobel.
        cina, 4 dari 8 pemenang adalah untuk bidang sains, Chen Ning Yang dan Tsung-Dao Lee memenangkan nobel fisika 1957.
        india, 5 dari 7 untuk bidang sains, C.V. Raman mendapat nobel fisika tahun 1930.
        gak heran mereka menguasai teknologi senjata nuklir, program luar angkasa dst…

        apakah kita bisa menyaingi mereka?
        teoritis bisa.

        kapan?
        jawaban aman: hanya Tuhan yang tahu !

  3. Uno kapten

  4. Mudahan bisa dipikirkan pemimpin yang akan datang

  5. wajib tuh al menjadi blue water policy tuk nandingi tiongkok

  6. 10 besar

  7. Semoga bisa terwujud… SR lagi…

  8. 10 besar.. Ijin nyimak

  9. setuju bangt deh… ayooo siapa yg mau keliling di warjagers buat narikin setiap- siapapun yg masuk. hhihi

  10. Bener Kata ibu ini, TNI AL dan AU mendapat anggaran yg lebih besar

  11. nyimak lg,15 besar

  12. nomor sial lagi???

    • Setubuh sekali dengan Connie, jika MEF dianggarkan sesuai ancaman yang ada.

      Singaporn udah menerapkan dari dulu, makanya alutsistanya sekarang adalah yang paling gahar se kawasan, dibanding luasnya yang paling imut.

      Jika sesuai ancaman, maka kualitas dan kuantitas harus merupakan jumlah dari:
      Alutsista FPDA + Alutsista China di LCS + Alutsista USA di Philipine + Alutsista USA di Australia

      • Masih harus ditambah lagi penguatan sesuai jumlah pasukan Timor Leste + Papua New Guinea tapi dengan alutsista yang setara dengan mereka khusus di perbatasan, untuk menghindari friksi dan mengubah pandangan yang sudah ada menjadi sikap bersaing.

      • kebutuhan alutsista matra laut yang dibicarakan bu Connie untuk 60 tahun kedepan, saya rasa untuk pembentukan armada kapal induk mungkin sekali bisa diwujudkan..penguatan Al dan AU yang lebih diprioritaskan juga menjadi hal yang saya juga sependapat, tetapi dalam jangka waktu saat ini hal tersebut baru akan terwujud di MEF ke 2-3.

      • Singapura tampaknya akan pakai LHD, karena negaranya setitik, dia perlu armadanya ada di luar perairannya sebagai penggempur dari luar wilayah.

      • Untuk masa 60 tahun kedepan bisa jadi, untuk masa itu saya kira kita tidak lagi memandang Upil sebagai kompetitor mestinya udah US, Rusia dan China yang harus kita perhitungkan. Namun toh semua tidak bisa langsung ujuk-ujuk jadi, maka harus dipersiapkan dari sekarang. konsisten di angka 1.5-2% APBN pertahun saya kira dengan sendirinya negara kawasan udah terlewati..

  13. Siip..lanjutkan program MEF dgn secepatnya…salam nkri..

  14. 755 kapal perang
    4 kapal induk
    22 kapal selam …
    Pespur utk TNI al nya sekalian bu. su 33. / rafael. & Heli serang nya jg utk marinir.

  15. Cara berpikir saat mef per 10 th cukup realistis , anggaran maupun kebutuhan. Tapi sy yakin TNI sdh berpikir jauh kedepan. Dan idea2 seperti ibu tdk menutup kemungkinan sdh dibahas. was.

  16. Untuk pertahanan Negara, beaya bukan dijadikan ukuran… Kalau ingin negara ini di segani kawan dan lawan….Bravo TNI.

  17. Uang untuk beli alutsista dari gunung emas di sebelah freepot ditambang sendiri..

  18. pandangan @ bu connie benar menurut saya… …untuk menghadapi lcs yg semakin memanas,dan para tetangga yg selalu merendahkan kekuatan tentara kita.

  19. Ahh yang bener aja RI butuh kapal Induk,,kapal Induk kan untuk bawa pesawat tempur, rudal, dll adalah sasaran EMPUK yg butuh pengawalan dari kapal combatan berbagai jenis termasuk kapal selam,,ngapaiin mahal2,,negeri ini luas diberkahi dgn ribuan pulau,,pulau2 tertentu bs dimanfaatlan sebagai pangkalan, LANUD mauapun LANAL,,yang dibutuhkan RI adalah akuisii KRI kelas Destroiyer, Cruiser, Heavy Fregat, perbanyak light Fregat, Corvet Sigma Class, KCR 60,KCR40, FPB, Submarine U 216/Amur/Chang bogo class, LHD kelas KRI Banda Aceh, Kapal2 pendarat lainnya ,,perbanyakRudal Yakhont, C 802,C 705, Exocet MM4Block II, Torpedo Kelas berat jarak jauh, Rudal2 bawah air kelas Club S, Perangkat perang elektronika, Pesawat Intai Maritim CN 235MP class, Heli AKS…soal Fokus pada Maritim kita sangat setuju, namun tidak perlu Kapal Induk, lebih efektif & efisien memanfaatkan pulau2 yg ada ..coba taruh pd pulau terdekat SU 30/34/35, Rudal2 Jarak 200-300 km baik rudal darat-darat, darat-udara, udara-udara,,akan seperti apa reaksi negara2 tetangga+asing lainnya..menurut saya NKRI tak perlu kapal induk Bu..

    • Kapal induk perlu kalau mau jadi polisi kawasan. Tapi saya kira tak perlu ke situ. saya juga setuju dengan pemakaian pulau-pulau sebagai pangkalan.

      • sdr. ITTo, anda terlalu percaya dengan penguatan darat, saya sangat setuju / sepemikiran dg. ibu C diatas, bahkan lebih kuat lagi, jika KRI 750 bh ok, sudah lbh dr l lumayan untuk semua tingkat / jenis kaperang, kapal selam perlu ditambah dgn kelas beda2 jenis/ tujuan utk pemburu / penjaga ALKI + cadangan 22 – 25 buah & 30 lagi untuk satuan penghancur/pemukul total 55 bh yg bisa berkeliaran di lautan yg kita target misal AS, Cina + rudal jelajah berkepala N minimal 500-1000 km & 1500-3000, dimana kapal selam kita bisa bergerilya dilaut dangkal/dalam dgn systim hit & run ini berguna jika kita diserang dan pangkalan statis kita asumsikan hancur hancur karena dihantam rudal TOHA usa = tomahawk seperti pangkalan suriah yg dihajar 59 TOHA shg kita bisa balas dan menghancurkan musuh 30-60 persen kekuatan musuh. demikian juga kapal induk 4 buah itu saya sangat setuju (ibaratnya 4 sehat 5 sempurna , 1 di Wil Barat, 1 ditengah , 1 ditimur & 1 untuk cadangan semua itu dengan alasan serangan tsb diatas akan berguna utk intersep lawan dan untuk counter attack, semua itu utk antisipasi jika daratan diludeskan lawan, ITTo jgn berfikir sederhana dgn Systim pertahanan pulau, berfikirlah sedikit out the box, krn kapal induk itu memiliki mobilitas jadi lebih sulit dihancurkan lawan, sementara pertahanan pulau bersifat statis mudah dihabisi toha lawan dgn rudal jelaljah yg bisa diluncurkan dari jarak 1500 km .tentunya setiap kapal induk TNI AL minimal dgn kekuatan tempur udara 48-64 bh setiap kapal induk, maka lawan akan berfikir 1000 x u menyerang indonesia apalagi disertai sishannud + Pswt Tempur terbaik seperti T50 PAKFA (5 skadrone) dgn wing backnya (ghoib): Typhon , Rafale,SU 27,30,35 , MIG 35, Gripen utk Patroli by murah, f16, p. Tempur Bango dgn mesin Rusia + avionic Blasteran PT LEN + Satelit Militer terpadu / terintegrasi dgn arhanud Dan semua matra Darat, Laut , Udara, musuh ngacir… maka jayalah Nusantara,water green navy… indonesia super hebat.

    • 1000% agree…..
      saya tdk setuju kl dalam waktu dekat timeframe 10 th dari sekarang beli CSG…
      local sub plus kcr 40 dan 60 aja banyakin…
      sebagai penyekat alki tentu aja sub dgn terpedo shvkal dan vls…. kcr paling gak C705 atau C805 dan shvkal..
      ini aja banyakin….. aman sentosa alki….

      lain lagi kl buat menghajar musang… butuh lah yg kelas berat.. destro di air, plangker di udara, dan MBT di darat..

  20. 755 KRI, 4 Kapal Induk dan 22 KS ? (garuk-garuk kepala) :mrgreen:

    • kalau untuk KS udah segitu kan bung PS. . .hehe. . .

      SALAM NKRI

      • hehehe… sebetulnya MEF itu dibarengi dengan strategi peperangan laut yang kita anut Bung, jujur aja saat ini kita memang sedang membangun kekuatan armada bawah air. kenapa? karena daya gebuknya yang luar biasa setara dengan 7 sampai delapan kapal atas air. selain itu dalam operasinya KS ini bisa sendiri, bisa nyelonong jauh kepusat kekuatan musuh tanpa terdeteksi sendirian dan ndak perlu back up kapal lain. untuk Kapal Atas Air memang perlu tetapi sebatas mencukupi kebutuhan dulu :mrgreen:

        • Serupa strategi Rusia Bung?

        • sebenarnya ndak perlu ikut doktrin negara lain…
          punya kapal induk, punya bettlecruser..
          yg perlu bagi negara suku air macam kita ini (nyontek avatar aang) adalah kapal selem yg berbagai ukuran mulai setara yassen sampai yg imut…
          lalu jumlah nya 50 biji lah…

          • torpedo nya SHKVAL…
            dgn 50 BIJI sub musang mikir mikir kl mau invasi..

          • @bonex kalo BattleCuiser atau FlagShip memang perlu sekali buat TNI AL bung cuman ga banyak paling banter sih 3-4 biji :mrgreen: seperti yang dikatakan oleh comrade PS saat ini armada hiu kita masih jauh dari ideal dan kta akan trus menambah armada hiu untuk daya gebrak :mrgreen: IMHO

          • bung ngurah,kayanya saya bisa mereka-reka seperti apa,pertahanan berlapis dari ujung zee sampai daratan.
            dahsyat

          • @urakan hehehehe :mrgreen: inget strategi kita sekarang adalah pre emptive strike yang arti nya armada kita bisa memukul dari luar ZEE dan didalam ZEE juga bisa memukul musuh apalagi di bibir pantai hehehehehehe 😀 :mrgreen: jangan dipercaya lo ya hanya opini tukang sapu :mrgreen:

          • satuju kamerad Rai hehehe… :mrgreen:

          • bung@ngurah :….inget strategi kita sekarang adalah pre emptive strike yang arti nya armada kita bisa memukul dari luar ZEE dan didalam ZEE juga bisa memukul musuh apalagi di bibir pantai…
            Makin hebat TNI…

        • Betul Bung PS…se simple2nya Kapal selam dg teknologi saat ini adalah tetap monster bagi kapal permukaan,,daya hancur, tangkal & daya gentar tetap sangat tinggi…

        • Lebih tepatnya kita belajar dari Inggris Bung GHI…inggris megap megap di gunting KS Kriegsmarine karena seluruh suplay produksi dan kebutuhan sipil/militer harus melalui laut…

          KS adalah jaminan kita agar laut kita tdk dpt diblokade musuh karena selain efektif memukul kapal permukaan KS adalah musuh sesama kapal selam yg paling ditakuti…apalagi oleh kapal selam yg brisik :mrgreen:

        • bung ps,klo feeling saya pengadaan alutsista saat ini disesuaikan dengan doktrin yg sekarang pre emptive strike.dari doktrin ini akan bisa dihasilkan banyak strategi.karna wilayah kita banyak dikelilingi lautan ya maka strateginya pre emptive strike akan berkisar di strategi penyerangan dilautan sblm musuh masuk zee.dan saya yakin banyak strategi yg udah disiapkan TNI,dan pembelian alutsista disesuaikan strategi itu
          pake cmiiw ya bung ps

        • Adm Gorshkov frigate class masuk daftar belanja gak Bung Pocong Syereem? Project 22350 ini walaupun pengembangan dari krivak dan talwar, kayaknya 1 tier lebih bagus.

    • 755 KRI, 4 Kapal Induk, 22 KS? (Menkeu garuk garuk kas di brankas :mrgreen: )

      • hahahaha…. :mrgreen:

      • wakakaka …
        ini yang paling logis ….
        jangan sampai mau beli alutista dari ngutang …..

        saran saya adalah …
        menjadikan TNI sebagai SPG/ BPG BUMN pertahanan agar negara lain membeli banyak produk ….

        menjadikan TNI sebagai tempat riset alamiah berkelanjutan bagi BUMN penyedia alutista, sehingga menghasiilkan produk yang berkualitas

        jika makin banyak yang beli maka akan semakin banyak kas dan semakin pintar pula SDM kita

        bahkan kalau bisa ……
        semua BUMN yang menyediakan pertahanan dan keamanan …
        deviden dan lain lainnya dikhususkan untuk memperkuat alutista

        karena si USA juga begitu memperlakukan perusahaan senjata dan angkatan bersenjatanya

    • Klo kita punya kapal induk malah seolah2 kita seperti aggresor ……kaya usa itu yang ndan@ ps he……………

      • hehehe… mahal di operasional dan perlu banyak armada pendukungnya Bung, untuk saat ini dan beberapa tahun kedepan memang belum perlu hehehe… :mrgreen:

        • “untuk saaat ini dan beberaa tahun ke depan memang belum perlu” kalau sya cermati,para petinggi memang berniat mempunyai kapal induk dong Pak PS? namun untuk sekarang dan melihat arsenal yang kita miliki sekarang belum cukup mendukung untuk memiliki kpl induk,maka dari itu beberapa tahun ke depan belum perlu hehehe cmiiw Pak PS…. nusantara jilid 2 on progress hehheh 😀

      • Iya bung@ps lagian itu kan sama dengan pangkalan militerkan bung kapal induk itu, yang tentunya butuh pendukung sebagai pengaman kapal induk tersebut dari serangan udara maupun dalam laut dalam konteks buat pertahanan sih itu kurang efektif, malah ini sifatnya sebagai penggetar aja

      • he……beda lagi kalo indonesia mo jadi kaya usa (polisi dunia) itu malah wajib hukumnya kan Ndan@ps heheheheh………..

    • Itu bukan hal yg mustahil bung PS, 50-60 thn kedepan ekonomi kita mungkin sdh 5 bsr dunia, dan tantangannya jg berbeda dr skr. Dan ufk mef berikutnya perlu percepatan yg pogresif mengingat dinamika politik yg terjadi di lcs, pasifik dan samudera hindia, salam kenal bung ps…..SR kembali

  21. kenapa tidak duduk bersama dan dirumuskan yg terbaik ?

  22. Benar bung itto.. NKRI kan punya kapal induk yg sdh ada. Yakni pulau-pulau terluar jadikan aja pangkalan udara dan pangkalan angkatan laut.

  23. pitu

  24. Bu Connie Bakrie mudah mudahan bisa jadi wakil menhan untuk kabinet mendatang

  25. Gk sependapat dgn Bu Connie…
    1. MEF sudah baik, krna di sesuaikan dengan anggaran negara. Kalau di sesuaikan dengan ancaman, mau dapat dana dari mana?
    2. Jika MEF sesuai dengan ancaman, maka MEF jadi gk jelas dan gk terarah, karena ancaman tiap saat selalu berubah. Dengan asumsi bahwa, jika tahun ini MEF kita ikuti ancaman LCS, maka belanja alutsista kita akan besar2an. Dan jika nanti suatu saat LCS meredah, alutsista kita yang menumpuk bagaimana? Karena sudah tidak sesuai dengan kebutuhan negara. Yg ada malah perawatan yg membengkak biaya nya, prajurit jg meningkat.
    Sebaliknya, kalau seandainya tahun ini ancaman kecil, dan tiba2 ancaman membesar? Mau tiba2 juga belanja alutsista nya? Dana ambil dari mana? Produsen alutsista juga psti gk siap secepat itu menyediakan alutsista yg kita pesan. Semua butuh proses.

    • Setuju bung BRICI, kalo anggaran disesuaikan sengan tingkat ancaman LCS makin tidak menentu, bisa jadi tingkat ancaman menjadi fluktuatif.. Dan sama saja akan menjadi pemborosan dana jika kita beli alutsista berdasarkan gaharnya alutsista tetangga.. Kasarannya perlombaan senjata

    • setuju bung BRICI,

      MEF dikritik tidak didasarkan pada ancaman yang berkembang, sebaliknya kepentingan Indonesia seperti apa yang butuh dilindungi 4 buah kapal induk ?

      755 kapal perang, 4 buah kapal induk, dan 22 kapal selam minimum hingga 60 tahun mendatang ?

      PD banget jangka waktu proyeksinya, hari ini aja udah mulai muncul pendapat di kalangan militer bahwa surface fleet mulai obsolete.
      dalam 60 tahun mungkin akurasi generasi kesekian rudal df-21 sudah sempurna dan dapat menjangkau seluruh pelosok dunia?

      btw,

      as dengan gdp 16,800 M usd total hanya punya 285 kapal perang, 60 tahun lagi gdp kita yang sekarang baru 868 M usd diproyeksikan berapa?

      781 kapal kira2 3x armada usn, apakah gdp kita kira2 udah mencapai 3 x 16,800 m usd?

      http://www.history.navy.mil/branches/org9-4.htm#2000

      • dari 868 M usd naik ke (3 x 16,800) M usd = 58x lipat.

        pertumbuhan gdp RI 2013 = 5,78%, dengan prosentase pertumbuhan tahunan seperti ini, dalam 60 tahun gdp kita baru 27x lipat (cmiiw), masih tekor…

        bicara alutsista jangan dilepaskan dari ipol-EK-sosbud… 🙂

      • kembali ke tabel kekuatan USN di atas, tahun 50an jumlah kapal sekitar 1,000 dan terus menurun hingga mencapai 280an 3 tahun lalu, sementara dalam kurun waktu sama gdp mereka meningkat terus, sehingga mampu memiliki kapal lebih banyak.

        ini dimungkinkan karena meningkat pesatnya akurasi/presisi dan jangkauan senjata.
        jadi peningkatan kekuatan tidak berbanding lurus dengan jumlah alutsista, bisa jadi jumlah justru nenurun tapi dikompensasi oleh peningkatan besar pada jangkauan dan akurasi.

        http://img.photobucket.com/albums/v699/xu-an/b-2_jdam_obvra_runway.jpg

        runway lanud serbia ini diputus di 6 titik dengan sangat akurat oleh 6 bom JDAM yang dijatuhkan 1 B-2.
        dengan akurasi senjata PD II, dibutuhkan belasan sortie dengan belasan pembom per sortie untuk mencapai hasil yang sama.

  26. kalo mau jadi polisi di kawasan asean kita ga perlu pake kapal induk, cukup buat pangkalan militer aja di negara sahabat kita kyk Brunei, Kamboja dll. Seperti halnya mamarika yg buat pangkalan di siupil, filiphine, ama sonotan. maemperkuat ekonomi kita pasti memberikan pengaruh bagi kawasan dan pastinya denagn menjalin kerja sama dgn negara2 sahabat tadi ga mustahil kita jadi polisi di kawasan asean…..
    CMIIW

  27. sebenarnya secara realistis program MEF sudah bagus untuk negara yang ekonominya baru berkembang seperti Indonesia. hanya yg harus diperbaiki adalah efektifitas dan efisiensi pembelian senjata. jangan sampai kita melakukan pembelian senjata melalui mafia yg menyebabkan harga pasti lebih mahal,.yang selanjutnya adalah bagaimana pembelian senjata harus yang benar-benar sudah melalui dan mengikuti kajian bahwa alutsista itu memang kita perlukan jangan sampai tim pengkaji sudah menetapkan alutsista A yg harus dibeli tp krna tekanan dari negara lain maka alutsista yg dibeli jadinya tipe B

  28. banyakin saja kcr40,kcr60 untuk sedikit menutup celah yang terbuka bung, biar gahar tiap kcr gotong rudal

  29. Kalo sejarah Ternate – Tidore – Makassar – Bone kekuatan armada lautnya sangat disegani … hanya istilah armada laut saat itu lebih identik dengan armada kapal niaga bukan identik dg kapal khusus utk perang … nenek moyang kita sdh biasa ke Madagaskar – Afrika Selatan – India – China – Aussieu dg tujuan utk barter perdagangan

  30. Pula terluar yang letaknya strategis memang layak jadi pangkalan kekuatan TNI 3 matra kita, kapal Induk tidak diperlukan bagi Indonesia untuk saat ini, kecuali di masa datang pada saat kekuatan pertahanan kita undah ideal (setelah EMF kita selesaikan), mungkin kita perlu kapal Induk untuk kampanye militer ke dunia untuk menunjukkan kebesaran militer kita walaupun banyak kekuatan yang masih tersembunyi baik dari matra darat, laut, dan udara. Salam NKRI, dan kepada MUSANG Ojo gganggu kecuali mau di kepruk gundulmu..

  31. Yg penting jelang 2014-2019 Indonesia beli dulu deh 2skd su-35, 2skd Rafale f3, 1skd su-34, 10 battery s-400, Hq-16 SAM 20 battery, Pantsir s1 50 buah, 15 ks kilo, 10 frigate, 10 destroyer.

    Kira kira cukup ga uangnya? ahhahahaah

  32. Setuju bu connie smart melihat ancaman jangka panjang yg semakin komplek, dah selayaknya kita mengikuti jejak india n china. Pemikiran yg smart

  33. Si ibu jadi mentri pertahanan ajah pasti mantap

  34. Sebetulnya ini kritikan bagus bagi pemerintah, MEF harus diukur dari beberapa parameter standar tidak hanya dari ketersediaan di sisi anggaran tapi juga harus berdasarkan tingkat ancaman dan kebutuhan untuk menjaga wilayah beserta kekayaan alam yang ada di dalamnya. Pertama harus diukur dari parameter kebutuhan wilayah, wilayah laut kita lebih luas dari daratan, maka perlu kapal perang dan kapal selam yang banyak untuk menjaganya, lalu setelah itu dari tingkat ancaman, berdasarkan tingkat ancaman sejauh mana posisi laut, udara, dan darat kita dari ancaman negara luar, baru kemudian disesuaikan dengan anggarannya.

  35. Sebetulnya potensi perikanan kita luar biasa. Banyaknya pencurian ikan karena lemahnya Pengamanan laut kita. Seharusnya APBN bisa mendapat sumbangan maksimal dari produksi perikanan kita. Artinya ketika armada laut kita kuat, otomatis pencurian ikan Akan turun bahkan mungkin hilang. Imbasnya pendapatan dari sektor perikanan Akan meningkat. Efek dominonya selain ekonomi kuat, pembelian alutsista laut pun bisa dengan gampang kita laksanakan. Oleh karena itu tentu mulai sekarang kekuatan laut perlu segera diperkuat guna menjaga wilayah laut kita dari berbagai ancaman.

  36. Setuju dengan pendapat Bu Connie. Sejak jaman dahulu sejarah membuktikan bahwa penguasaan MARITIM menunjukkan kejayaan suatu bangsa, Kekuatan maritim yang mumpuni sangat dibutuhkan memberikan kebanggaan dan kebesaran sebagai bangsa, memberikan rasa aman, efek gentar dan segan bagi bangsa lain apalagi dengan status sebagai NEGARA KEPULAUAN yang terbesar di dunia. Tidak lupa ingatan kita akan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit ataupun Inggris, Amerika, Rusia, China, India dan Brazil yang disegani karena angkatan lautnya yang kuat. Harapan saya ke depan mudah2an kita bisa memiliki angkatan laut yang kuat. Salam NKRI.

  37. Untuk pengadaan kapal Induk mungkin dalam jangka pendek bisa diambil tawaran dari Ratu Inggris atas ex HMS Ark Royal kemudian diretrofit dan diisi dengan pespur Harrier dan F 35. Untuk kapal induk helikopter serbu bisa dilakukan dengan pengadaan dari PT PAL, kedua pengadaan ini diposisikan untuk melawan 2 kapal induk milik Australia dan 2 kapal induk milik Tiongkok

  38. Meskipun hanya pedagang ayam, saya paling demen dng artikel yg masih terbuka utk dibabar, duduk manis sambil nonton jurus2 yg dikeluarkan oleh para sesepuh, asyik buat ngabuburit. Mohon JKGR tidak usah mengeluarkan artikel rilise resmi (apalagi sdh kedaluwarso, krn sudah keduluan warung2 sebelah, sambil colek Bung @Diego) krn tidak memberi ruang untuk para sesepuh mengeluarkan jurus2nya. Xixixixi.

  39. 700-an kapal permukaan dan hanya 22 kapal selam lebih terdengar seperti sedang memamerkan kekuatan, yg secara tidak langsung juga memamerkan kelemahan, krn musuh dengan mudah memetakan kekuatan militer kita.

    pihak musuh lebih takut bila kita memperkuat armada bawah laut krn sangat sulit dideteksi.

  40. bu Connie, kalo ibu bikin rencana alutsista utk 60 thn ke depan artinya DPR & Pemerintah jg kudu bikin rencana pembangunan negara utk 60 thn ke depan, pengadaan alutsista jg tergantung dari kondisi APBN.
    Kita jg hrs ingat kemajuan tekno selalu meningkàt cepat, mungkin pd tahun 2030 kapal perang sdh tdk ada lg … diganti ma pesawat yg bisa berenang & bisa nyelem, pelor jg diganti laser, prajurit diganti robot tempur dsb.
    Baiknya tetep pake renstra per 5 tahunan agar mudah disesuaikan dg kemajuan tekno

    • tepat sekali, proyeksi teknologi terlalu jauh ke depan akan sangat tidak akurat, karena banyak hal yang tidak terbayangkan / belum ditemukan saat ini.

      10 tahun lalu paket standar sebuah komputer adalah cpu + CRT monitor yang berat + keyboard + mouse + rangkaian kabel yang menghubungkan masing2 komponen, sekarang semua hilang digantikan 1 tablet.

  41. Kalo menurut saya MEF yg sekarang sudah baik dengan adanya road map jangka panjang bagi tiga matra TNI..hanya saja prioritas nya saja yg harus rubah..saya setuju dng wacana bhwa TNI-AL dan TNI-AU harus mendapat prioritas terlebih dahulu dlm MEF yg akan datang dengan tidak meninggalkan TNI-AD..Semoga Ego dan Gengsi dlm Ketiga Angkatan dapat dikurangi ato malah dapat dihilangkan salah satunya dengan tidak adanya Embel – embel “Anak Emas” Dlm ketiga Matra TNI krn pengalaman selama ini bhwa adanya “Anak Emas” dlm TNI ini akan menghambat keseimbangan kekuatan baik Alutsista dan Personil 3 matra TNI
    Sekaranglah dimulainya tugas kedepan dimana pemimpin dlm pemerintahan dan 3 matra TNI baik Darat,Laut,Udara dapat membagi porsi yg Pas sesuai Tugas dan Tanggung jawab Masing matra utk menjaga kedaulatan NKRI tanpa harus mengedepankan Gengsi Dan Ego Masing2…Amin

  42. Kalau pendapat saya sih daripada punya kaprang atas air 755 unit, lebih baik di ganti sama 700 unit midget submarine dgn torpedo yang gahar, 50 unit medium submarine klass CBG, Amur, Kilo, U 209-218, Scorpene di buat VLS utk S Klub missile submarine dan 5 unit Typhoon submarine yang bisa bawa Bulava, mungkin negara MUSANG akan berpikir 100x untuk menyerang kita meski kroyokan tuh. Maaf ngelantur….

  43. WANI PIRO…………..

  44. izin nyimak

  45. kalau tidak salah kerugian SDA kelautan indonesia tiap tahun trilyunan(cmiiw)
    kalau memang benar,sepertinya bisa tcapai ideal alutista laut ,yg notebane kerugianya pertahun bisa untuk memperkuat alutista.

    maaf cucu lancang

  46. kepulauan indonesia adalah labirin alami raksasa didunia ini dan merupakan bentuk pola alami buat pertahanan maupun penyerangan . tutup tiap pintu(selat) pulau terluar dengan dirikan warkop 3matra .
    kalau bisa seperti ini kita belum perlu kapal induk, lebih bijak perbanyak pespur dan maenanya bung ps dulu
    ada yg mau nambahin…

  47. klo terpaksa dan dirasa perlu(mendesak),saya rasa rencana itu bkn suatu hal yg sulit utk di wujudkan..rakyat indonesia yg memiliki kekayaan di atas 1milyar sangat byk,diatas 10 milyar saja sdh ratusan ribu org..saya yakin klo dijumlahkan bs diatas puluhan bilyun,jk 10% saja di sumbangkan demi dan utk negara..bs di bygkan betapa mengerikan kekuatan militer indonesia

  48. poros maritim dunia, dengan kapal2 canggih sekelas cruiser, destroyer, frigate n heavy submarine, semoga bisa mengulang kejayaan maritim sriwijaya dan majapahit, negeri nusantara dahulu kala,,

  49. Negara upil mau bikin kapal induk helikopter (LHD ?) dengan berat 14.500 ton bisa mengangkut 5 heli
    (sumber defend studied)

  50. Saya pernah menghitung secara cermat dan terukur mengenai besaran anggaran yg bisa kita raih jika kita konsisten dengan pertumbuhan anggaran militer kita sebesar 7% pertahun, dimulai dari tahun anggaran 2014 sebesar Rp 86 T. ; yang mana 50% nya untuk belanja alut sista, maka 30 tahun dari tahun 2015 atau tahun 2045 angka yg terkumpul untuk membeli alut sista adalah sebesar sekitar, Rp 7750 Trilyun (tujuh ribu tujuh ratus lima puluh trilyun) total uang di akhir tahun 2045.
    Jika dinilai dengan uang sekarang dengan bunga internasinal sekitar 4% maka uang yg sekarang bisa dibelanjakan alut sista adalah sebesar sekitar Rp. 2250 trilyun. (dua ribu dua ratus lima puluh trilyun)
    Apa yg bisa dieli dengan uang sebanyak itu.??

    1. Pespur su 35 atau F35 atau setara bisa 500 unit senilai 500 trilyun
    2.Kapur, seharga Rp 250 milyar bisa 400 unit setara kcr 60, seharga Rp. 100 trilyun.
    3. Kapur seharga 500 milyar setara frigate, bisa 200 unit seharga Rp. 100 trilyun.
    4. Kasel seharga Rp. 2.5 Trilyun, setara kilo class sebanyak 60 unit senilai Rp 150 trilyun
    5. Kapal Induk tercanggih setara USS Gerald ford, Rp. 120 trilyun perunit. sebanyak 4 unit = Rp 480 T
    6. Sisa belanja alutsista yg lain-lain. Rp 2250T – Rp 1330T = Rp. 920 Trilyun.

    Sedangkan untuk yg lain lain yg tidak termasuk diatas, dapat memakai dana sisa Rp 920 ditambah dengan dana taktis non budgeter seperti model MEF saat ini, dan juga bisa dittip di kementrian lain, spt diknas untuk pendidikan dan latihan, PU untuk Infrastruktur, Ristek untuk R & D, Kemimfo untuk Radar dan satelit.

    Thanks.

  51. MEF sonotan n sonora menyesuaikan ancaman dari R.I. ,, itu yang sebenernya terjadi 😀
    salam ngawurisme

  52. Bukankah terjadi ketika seorang pengamat diberi pekerjaan sesuai yang diamati malah jadi gagap gak bisa kerja? Maaf pemikiran orang desa di seputaran IWJ.

  53. Bukankah terjadi ketika seorang pengamat diberi pekerjaan sesuai yang diamati malah jadi gagap gak bisa kerja? Maaf pikiran orang desa di seputaran IWJ.

  54. anggap saja ini clue : bahwa kita sebenarnya sudah memiliki 755 Kapal perang dari berbagai jenis dan ukuran, 4 Kapal Induk dan 22 jenis kapal selam yang jumlahnya tau deh…. 😀

  55. Bu Connie lupa ya

    Sistem Pertahanan Nasional adalah Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki Alur Laut Kepulauan Indonesia.

    Terdiri dari beberapa Zona Pertahanan Strategi Pertahanan Berlapis (Layered Defense):
    Zona Pertahanan I: zonapenyangga, berada di luar batas Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia hingga wilayah musuh.
    Zona Pertahanan II: zona pertahanan utama. Zona ini meliputi wilayah antara garis pantai kepulauan
    Indonesia dan batas ZEE.
    Zona Pertahanan III: zona perlawanan mencakup seluruh wilayah darat Indonesia namun diprioritaskan kepada pulau-pulau besar di Indonesia.

    Jadi benar : TNI AL dan AU perlu sangat kuat untuk melindungi Zona Pertahanan I . Namun tidak perlu kapal induk, karena potensi lawan (China dan Ossie) masih bisa dicapai dengan KS dan pespur Su-34.
    TNI AL dan AU juga perlu sangat kuat untuk melindungi Zona Pertahanan II terrmasuk ALKI. Disini intinya adalah Yakhont versi darat dan KS untuk TNI AL, dan S-400 dan Su-35 untuk TNI AU.

    Alutsista lain adalah pendukung. Kalau sudah sampai ke Zona Pertahanan III, itu artinya kita siap2 kalah perang.

  56. kira2 agus gak ya kalo ada program “INDONESIA SEJUTA RUDAL”

 Leave a Reply