Jul 022014
 
Kapal Induk China Liaoning yang bergerak ke Laut China Selatan (photo; PLA Navy)

Kapal Induk China Liaoning yang bergerak ke Laut China Selatan (photo; PLA Navy)

Jakarta, Pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie, berpendapat, perlu ada koreksi mendalam tentang pendekatan penyusunan Minimum Essential Force (MEF) Indonesia. Selama ini, dia menilai, pelaksanaan MEF hanya terfokus pada pendekatan anggaran yang tersedia, tidak didasarkan pada ancaman yang berkembang. Jika ini terus dilakukan, MEF tidak akan tercapai.

“Jika pengukuran MEF itu berdasarkan ancaman, artinya angkanya harus berubah tiap tahun. Ancaman kita 10 tahun lalu, ancaman kita 5 tahun lalu, dengan ancaman kita hari ini, kan sudah berubah,” ucap Connie.

Ia menjelaskan, dinamika ancaman kawasan saat ini sudah cukup kompleks. Oleh karenanya, penegasan terhadap paradigma outward looking TNI yang sudah dicetuskan sejak reformasi 1998, perlu segera diwujudkan, tidak sekadar wacana di atas kertas.

“Seperti ada ancaman ketika Tiongkok menetapkan kebijakan green water policy. Green water policy Tiongkok akan masuk sampai pada Selat Malaka. Dan blue water Tiongkok akan masuk sampai Samudera Hindia. Kalau kita mengukur MEF dari ancaman tersebut, seharusnya sudah berubah hitungan MEF dari Kemhan hari ini,” katanya.

Untuk matra laut, Connie berpandangan, Indonesia setidaknya memerlukan 755 kapal perang KRI, 4 buah kapal induk, dan 22 kapal selam. Kebutuhan ini untuk melindungi kepentingqan Indonesia, minimum hingga 60 tahun mendatang.

“Visi MEF saya bagaimana melindungi kepentingan Indonesia minimum 60 tahun mendatang. Visi MEF hari ini itu per 10 tahun, susah. Itu cara perhitungannya berbeda,” cetus Connie.

Dia melihat kemunduran cara berpikir dalam paradigma pembangunan pertahanan Indonesia sekarang. Salah satunya, masih dominannya orientasi pertahanan darat. Seharusnya, jika sejalan dengan doktrin outward looking military, arah penguatannya ada pada matra laut dan udara.

“Paradigma pertahanan kita juga terlalu berorientasi kepada daratan. Cara kita menetapkan ancaman kita juga dari darat. Kenapa kita tidak seperti zaman nenek moyang kita dahulu, seperti kerajaan Ternate dan Tidore misalnya? Mereka melihat ancaman itu dari laut. Makanya kenapa dulu kekuatan maritim kita bisa sampai ke Madagaskar. MEF kita zaman sekarang kalah dengan MEF kita zaman Tidore. Cara berpikir kita sekarang benar-benar mundur,” pungkasnya. (Anwar Iqbal / Arif Giyanto / Jurnalmaritim.com).

  138 Responses to “MEF Indonesia dan Ancaman Kawasan”

  1.  

    Kalo menurut saya MEF yg sekarang sudah baik dengan adanya road map jangka panjang bagi tiga matra TNI..hanya saja prioritas nya saja yg harus rubah..saya setuju dng wacana bhwa TNI-AL dan TNI-AU harus mendapat prioritas terlebih dahulu dlm MEF yg akan datang dengan tidak meninggalkan TNI-AD..Semoga Ego dan Gengsi dlm Ketiga Angkatan dapat dikurangi ato malah dapat dihilangkan salah satunya dengan tidak adanya Embel – embel “Anak Emas” Dlm ketiga Matra TNI krn pengalaman selama ini bhwa adanya “Anak Emas” dlm TNI ini akan menghambat keseimbangan kekuatan baik Alutsista dan Personil 3 matra TNI
    Sekaranglah dimulainya tugas kedepan dimana pemimpin dlm pemerintahan dan 3 matra TNI baik Darat,Laut,Udara dapat membagi porsi yg Pas sesuai Tugas dan Tanggung jawab Masing matra utk menjaga kedaulatan NKRI tanpa harus mengedepankan Gengsi Dan Ego Masing2…Amin

  2.  

    Kalau pendapat saya sih daripada punya kaprang atas air 755 unit, lebih baik di ganti sama 700 unit midget submarine dgn torpedo yang gahar, 50 unit medium submarine klass CBG, Amur, Kilo, U 209-218, Scorpene di buat VLS utk S Klub missile submarine dan 5 unit Typhoon submarine yang bisa bawa Bulava, mungkin negara MUSANG akan berpikir 100x untuk menyerang kita meski kroyokan tuh. Maaf ngelantur….

  3.  

    WANI PIRO…………..

  4.  

    izin nyimak

  5.  

    kalau tidak salah kerugian SDA kelautan indonesia tiap tahun trilyunan(cmiiw)
    kalau memang benar,sepertinya bisa tcapai ideal alutista laut ,yg notebane kerugianya pertahun bisa untuk memperkuat alutista.

    maaf cucu lancang

  6.  

    kepulauan indonesia adalah labirin alami raksasa didunia ini dan merupakan bentuk pola alami buat pertahanan maupun penyerangan . tutup tiap pintu(selat) pulau terluar dengan dirikan warkop 3matra .
    kalau bisa seperti ini kita belum perlu kapal induk, lebih bijak perbanyak pespur dan maenanya bung ps dulu
    ada yg mau nambahin…

  7.  

    klo terpaksa dan dirasa perlu(mendesak),saya rasa rencana itu bkn suatu hal yg sulit utk di wujudkan..rakyat indonesia yg memiliki kekayaan di atas 1milyar sangat byk,diatas 10 milyar saja sdh ratusan ribu org..saya yakin klo dijumlahkan bs diatas puluhan bilyun,jk 10% saja di sumbangkan demi dan utk negara..bs di bygkan betapa mengerikan kekuatan militer indonesia

  8.  

    poros maritim dunia, dengan kapal2 canggih sekelas cruiser, destroyer, frigate n heavy submarine, semoga bisa mengulang kejayaan maritim sriwijaya dan majapahit, negeri nusantara dahulu kala,,

  9.  

    Negara upil mau bikin kapal induk helikopter (LHD ?) dengan berat 14.500 ton bisa mengangkut 5 heli
    (sumber defend studied)

  10.  

    Saya pernah menghitung secara cermat dan terukur mengenai besaran anggaran yg bisa kita raih jika kita konsisten dengan pertumbuhan anggaran militer kita sebesar 7% pertahun, dimulai dari tahun anggaran 2014 sebesar Rp 86 T. ; yang mana 50% nya untuk belanja alut sista, maka 30 tahun dari tahun 2015 atau tahun 2045 angka yg terkumpul untuk membeli alut sista adalah sebesar sekitar, Rp 7750 Trilyun (tujuh ribu tujuh ratus lima puluh trilyun) total uang di akhir tahun 2045.
    Jika dinilai dengan uang sekarang dengan bunga internasinal sekitar 4% maka uang yg sekarang bisa dibelanjakan alut sista adalah sebesar sekitar Rp. 2250 trilyun. (dua ribu dua ratus lima puluh trilyun)
    Apa yg bisa dieli dengan uang sebanyak itu.??

    1. Pespur su 35 atau F35 atau setara bisa 500 unit senilai 500 trilyun
    2.Kapur, seharga Rp 250 milyar bisa 400 unit setara kcr 60, seharga Rp. 100 trilyun.
    3. Kapur seharga 500 milyar setara frigate, bisa 200 unit seharga Rp. 100 trilyun.
    4. Kasel seharga Rp. 2.5 Trilyun, setara kilo class sebanyak 60 unit senilai Rp 150 trilyun
    5. Kapal Induk tercanggih setara USS Gerald ford, Rp. 120 trilyun perunit. sebanyak 4 unit = Rp 480 T
    6. Sisa belanja alutsista yg lain-lain. Rp 2250T – Rp 1330T = Rp. 920 Trilyun.

    Sedangkan untuk yg lain lain yg tidak termasuk diatas, dapat memakai dana sisa Rp 920 ditambah dengan dana taktis non budgeter seperti model MEF saat ini, dan juga bisa dittip di kementrian lain, spt diknas untuk pendidikan dan latihan, PU untuk Infrastruktur, Ristek untuk R & D, Kemimfo untuk Radar dan satelit.

    Thanks.

  11.  

    MEF sonotan n sonora menyesuaikan ancaman dari R.I. ,, itu yang sebenernya terjadi 😀
    salam ngawurisme

  12.  

    Bukankah terjadi ketika seorang pengamat diberi pekerjaan sesuai yang diamati malah jadi gagap gak bisa kerja? Maaf pemikiran orang desa di seputaran IWJ.

  13.  

    Bukankah terjadi ketika seorang pengamat diberi pekerjaan sesuai yang diamati malah jadi gagap gak bisa kerja? Maaf pikiran orang desa di seputaran IWJ.

  14.  

    anggap saja ini clue : bahwa kita sebenarnya sudah memiliki 755 Kapal perang dari berbagai jenis dan ukuran, 4 Kapal Induk dan 22 jenis kapal selam yang jumlahnya tau deh…. 😀

  15.  

    Bu Connie lupa ya

    Sistem Pertahanan Nasional adalah Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki Alur Laut Kepulauan Indonesia.

    Terdiri dari beberapa Zona Pertahanan Strategi Pertahanan Berlapis (Layered Defense):
    Zona Pertahanan I: zonapenyangga, berada di luar batas Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia hingga wilayah musuh.
    Zona Pertahanan II: zona pertahanan utama. Zona ini meliputi wilayah antara garis pantai kepulauan
    Indonesia dan batas ZEE.
    Zona Pertahanan III: zona perlawanan mencakup seluruh wilayah darat Indonesia namun diprioritaskan kepada pulau-pulau besar di Indonesia.

    Jadi benar : TNI AL dan AU perlu sangat kuat untuk melindungi Zona Pertahanan I . Namun tidak perlu kapal induk, karena potensi lawan (China dan Ossie) masih bisa dicapai dengan KS dan pespur Su-34.
    TNI AL dan AU juga perlu sangat kuat untuk melindungi Zona Pertahanan II terrmasuk ALKI. Disini intinya adalah Yakhont versi darat dan KS untuk TNI AL, dan S-400 dan Su-35 untuk TNI AU.

    Alutsista lain adalah pendukung. Kalau sudah sampai ke Zona Pertahanan III, itu artinya kita siap2 kalah perang.

  16.  

    kira2 agus gak ya kalo ada program “INDONESIA SEJUTA RUDAL”

 Leave a Reply