Melacak Wujud Drone MALE PTDI

46
430
MALE UAV, Yi Long, China
MALE UAV, Yi Long, China

PTDI sedang mengembangkan drone atau Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) jarak menengah atau Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang dirancang mampu terbang non stop 24 jam dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 kaki.

“Drone ini dirancang mampu terbang 24 jam di udara,” ujar Chief Engineer PTTA, PTDI, Bona P. Fitrikananda, Senin (25/1/2016). Drone ini dirancang untuk misi terbang jarak jauh, yang bertugas hingga ke pulau-pulau terluar.

UAV MALE ini bisa melakukan pengintaian lebih awal bahkan penindakan langsung ke sasaran yang berbahaya, sebelum pasukan yang digerakkan tiba di lokasi, karena drone ini bisa langsung menembak sasaran dengan roket.

“Permintaan TNI supaya memiliki fungsi penindakan. Kalau ada sesuatu berbahaya, sebelum tentara atau bantuan datang, kita bisa melakukan penindakan,” ujarnya.

PTDI berencana menggandeng PT LEN untuk pembuatan sistem elektroniknya, sekaligus langkah meningkatkan konten lokal. Drone PTDI ini masuk kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE), mengikuti drone sekelas MQ-1 Predator AS dan drone CH-4 buatan China. Drone jenis ini direncanakan bisa membawa 2 sampai 4 unit roket dan ditargetkan, mulai uji terbang tahun 2018.

MALE UAV, Yi Long, China
MALE UAV, Yi Long, China

Kerjasama dengan China.

Seperti apa kira kira bentuk Drone MALE PTDI itu ?. Indonesia sebelumnya telah bekerjasama denghan China, melalui BPPT/PT.DI/PT.LEN dan ALIT (China) dalam proyek UAV, yang kontraknya telah ditandatangani pada Maret 2011.

Pada bulan Februari 2015, ALIT dan PT.LEN menandatangani kontrak kerjasama pengembangan UAV Wulung. Rincian kerjasama kedua lembaga, ditargetkan rampung di akhir tahun 2015, yang selanjutnya masuk ke tahap implementasi.

Desain UAV Male
Perkiraan desain UAV Male, PTDI
Perkiraan desain UAV Male, PTDI
Perkiraan desain UAV Male, PTDI

Melalui UAV Wulung, Indonesia memiliki roadmap untuk mengembangkan UAV Medium Altitude Long Endurance (MALE). Pada bulan Mei 2015, ALIT China dan BPPT/PT.LEN/PT.DI telah menandatangani pengembangan UAV MALE, di bawah pengawasan Kementerian Pertahanan.

Dalam produksi bersama MALE ini, ALIT China akan memasok: teknologi, bantuan teknis dan peralatan untuk mencapai tujuan dari program tersebut.

46 COMMENTS

  1. Tahun 2016 Kapal PKR selesai diBUAT, tahun 2017 KS CBG IMPROVED jadi dan Prototipe Tank Medium jadi, tahun 2018 prototipe Drone PT. DI jadi dan 2019 prototipe KFX/IFX jadi..SABAR tunggu 2-3 thn lagi smua bisa diBUAT DI DALAM NEGERI..@selamat datang kemandirian bangsa..

  2. Beneran nih butuh 2 tahun bangun drone spt itu?
    N219 aja 3 tahun kalo g salah…..harusnya lebih cepat…krn secara dimensi lebih kecil…dn secara pengalaman pt.di…sudah diakui secara internasional…
    Kalaupun benar 2 tahun…mungkin biar sinergi dng sistem teknologi dn jaringan untuk tactic and command tepadu milik TNI….dn sinergi dng senjatanya…hehehe
    Imho

    • Saya meragukan kerjasama dengan ChINA inI . Kerjasama bikin rudal sudah dari tahun 2004 di dengungkan sampai sekarang masih di atas kertas. Tapi herannya pemerintah tidak kapok masih juga berpaling sama China.

      Ini sudah dari tahun 2011 mau bikin DRONE sampai sekarang juga masih di atas kertas ,2018 katanya mau dimunculkan ….,itupun kalau tidak molor lagi dengan alasan yang tidak jelas. Lebih bagus kayak Vietnam kerjasama dengan Belarus roadmapnya jelas dan jreng berhasil …sama China cuma wacana doang ….alias cuma angin sorga ujung ujungnya nanti China minta bayaran setinggi langit ,pemerintah tak mau keluar duit karena China seperti tengkulak ,kebangetat mintanya.

  3. liat program aiman di salah satu TV dengan topik kala lapind* ngebor lagi.
    dimana menunjukkan teror yang dilakukan pihak lapind* kepada warga.
    kira2 teror seperti itu masuk dalam draft revisi UU teroris apa tidak ya?

  4. Menurut teman2, bila POLRI dan TNI dipersenjatai dgn Heli yg memiliki kapasitas radar& sensor sekelas Apache apakah tidak akan melanggar UU yg berkaitan dgn penyadapan maupun batasan tugasnya? Lalu kapasitas teknologi yg mana yg pas dan tidak pas untuk POLRI?

  5. Bentang sayap 16m? Apakah tidak bisa diperpendek maks 10m biar bisa lincah nyelip2 di antara gedung, kolong jembatan atau nembus terowongan?! Jika bisa, ini akan jadi nilai plus dalam tot desain uav male.

  6. kemarin kerjasama TOT-rudal -dengan cina …tapi nyatanya seakan kini-mati suri-setelah sekian lama ta da kabar beritanya…??????
    …dan sekarang dengan cina sudah kerjasama tentang -drone versi lokal-….?? ????
    ….ibarat habis terang terbitlah gelap…mungkin bagi pemerintah yang penting sudah -kasih tahu-rakyatnya sebagai syarat kewajiban(amanah)…namun kelanjutannya biarlah menjadi-rahasia-negara…… hahahahahhaaaaaaa.

  7. kalo dijarak LOS (line of sight) msh pake kontrol dan komunikasi radio dari pusat kendali, kalo udah dijarak beyond LOS biasanya udah pake bimbingan satelit dan gps bung, kalo MALE IAe kyknya blm pake bimbingan satelit dan gps
    cmiiw 😀 . . . . . .

    • batasan LOS kan cakrawala…misalkan untuk mencapai jarak kontrol yang lebih jauh mungkin menara pusat kontrolnya bisa ditinggikan sehingga melampaui batas cakrawala….klo jarak yg lebih jauh lagi emang harus pake satelit..

      • bung @senyap, kalau mau nambah jarak ya memang antenna ditinggikan, nanti ya ketemu berapa sekian jarak line of sight itu, makin tinggi terbangnya drone dan makin tinggi antennanya makin jauh pula jarak LOS-nya, tapi kan g mungkin juga mau ngebuat menara / antenna setinggi gedung, makanya lbh masuk akal dan efektif nambah jarak diluar batas cakrawala / jangkauan antenna / beyond LOS ya pake bimbingan dan komunakasi via satelit dan via gps untuk memandu uav ke target 😀

    • jadi klaim dari pemciptanya…bisa terbang 24 jam omong kosong doang ya?

      kalau kecepatannya drone 225km/jam…berarti daya jelajahnya 6000 km an….
      berarti sudah beyond LOS dong. alias sudah pakai satelit…itu kalau sesuai dg klaim diatas yang 24 jam non stop.

LEAVE A REPLY