Jun 242013
 
MBT Leopard 2A4 Revo

MBT Leopard 2A4 Revo

Satuan Batalyon Kavaleri 8/Tank Macan Kumbang akan semakin garang karena sebentar lagi diperkuat dengan main battle tank ”Leopard” buatan Jerman. Batalyon Kavaleri (Yonkav) 8 yang berkedudukan di Beji – Pasuruan ini, merupakan markas kendaraan tempur Scorpion dan Stormer.

Yonkav-8/Tank berada di bawah komando Divisi Infanteri 2 Kostrad, dan merupakan salah satu satuan bantuan tempur yang menjadi pemukul di jajaran Kostrad. Yonkav 8/Tank mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk mengoperasikan tank Leopard dengan kekuatan 1 batalyon lengkap, untuk wilayah timur. TNI AD akan membentuk dua batalyon tank berat Leopard, masing-masing untuk kawasan barat di Cilodong dan timur di Beji Pasuruan.

Pengadaan Tank Leopard untuk TNI AD sempat menuai pro-kontra dan perdebatan yang sengit. Bahkan beberapa mantan petinggi TNI berpendapat, main battle tank seperti Leopard, tidak cocok untuk Indonesia, melainkan harus tank dengan bobot yang lebih ringan.

KSAD saat itu Jenderal Pramono Edhie Wibowo tetap dengan pendiriannya untuk membeli tank Leopard. “Kalau kita mau membeli tank, harus membeli tank yang terbaik dan tank itu adalah Leopard”, ujar Pramono Edhie Wibowo dengan penuh semangat di Mabesad Jakarta.  Jika tank itu nanti datang, nama Pramono Edhie Wibowo akan dikenang oleh Batalyon Kavaleri 8/Tank  Macan Kumbang, karena ikut berjuang mendatangkan mbt Leopard 2.

Semangat dan wibawa Batalyon Kavaleri 8/Tank Macan Kumbang akan meningkat berlipat-lipat. Mereka juga akan berkenalan dengan teknologi baru dari tank terhebat saat ini, tidak lagi hanya mengutak-atik dan memelihara tank yang sudah tua.

KSAD saat itu Jenderal Pramono Edhie Wibowo, juga mendatangkan alutsista kelas wahid, meriam multi laras MLRS Astros II serta Howitzer  Caesar 155mm. Kejutan demi kejutan terus dibuat oleh Pramono Edhie Wibowo dengan hendak mendatangkan helikopter serang AH 64 Apache serta ATGM Javelin. “Kita juga sedang berupaya mendatangkan helikopter Apache serta ATGM Javelin. Dengan Javelin, prajurit cukup duduk santai saat menembak sasaran. fire and forget. Akurasinya sangat tinggi”, ujar Pramono Edhie Wibowo. “Prajurit kita harus memiliki alutsista yang handal agar disegani. Doakan saja, kami akan berjuang di DPR untuk meloloskan Apache ini, karena harganya memang mahal”, ujarnya.

Babak Baru.

Pikiran kitapun melayang. Jika prajurit TNI AD nantinya menggunakan helikopter Apache, maka kemampuan teknologi prajurit akan melompat tinggi. Namun proyek pengadaan helikopter Apache tampaknya tidak berjalan mulus. Di bawah KSAD yang baru Jenderal Moeldoko, TNI AD memutuskan untuk menunda pembelian helikopter tempur Apache.

“Apache akan kami tunda,” ujar KSAD Jenderal TNI Moeldoko di Jakarta. KSAD yang baru mengatakan, penundaan terjadi karena kondisi keuangan pemerintah sedang tidak kondusif. “Kami sesuaikan dengan kemampuan negara. Ini (pembelian Apache) akan diusulkan lagi,” terang Moeldoko.

Kejutan lain muncul dari Kementerian Pertahanan yang menyusun ulang beberapa rencana pembelian senjata. Salah satunya adalah anggaran untuk pos TNI Angkatan Darat untuk membeli rudal Javelin. Rudal canggih antitank itu sudah diuji coba TNI-AD. “Masih dalam tahap pengkajian. Itu perencanaan yang diusulkan TNI-AD,” ujar Staf Ahli Menteri Pertahanan Mayjen Hartind Asrin di Jakarta.

Usul tersebut akan dibahas dalam komite pengadaan yang diketuai Wakil Menteri Pertahanan Letjen Sjafrie Sjamsoeddin. Menurut Hartind, setiap pengadaan senjata baru selalu melalui satu pintu. Itu merupakan upaya transparansi sekaligus kontrol kualitas. “Kita sudah tidak pakai lagi rekanan atau pihak ketiga, kalau bisa G-to-G (government-to-government, Red),” kata mantan atase pertahanan KBRI Malaysia tersebut.

Pangeran Harry Inggris mengagumi Helikopter Apache usai mendarat di Camp Bastion, Afghanistan (photo: PA Wire)

Pangeran Ingris Harry mengagumi Helikopter Apache usai mendarat di Camp Bastion, Afghanistan (photo: PA Wire)

Pangeran Harry terpesona dengan sistem elektronik Helikopter Apache di Camp Bastion, Afghanistan (Photo: John Stillwell/PA Wire)

Pangeran Harry terpesona dengan sistem elektronik Helikopter Apache di Camp Bastion, Afghanistan (Photo: John Stillwell/PA Wire)

Pangeran Harry mempelajari canon 30mm Helikopter Apache di Camp Bastion saat bertugas sebagai co-pilot gunner (photo: AP)

Pangeran Harry mempelajari canon 30mm Helikopter Apache di Camp Bastion saat bertugas sebagai co-pilot gunner (photo: AP)

Penundaan pembelian helikopter Apache dan pengkajian ATGM Javelin, seakan menunjukkan, ganti pemimpin ganti kebijakan termasuk masalah alutsista. Fenomena itu ikut menjelaskan road map pengadaan alutsista Indonesia ternyata masih abu-abu. Akibatnya kita bisa paham, mengapa banyak alutsista yang akhirnya sebatas prototype, tidak jelas kelanjutannya.

Beruntunglah Batalyon Kavaleri 8/Tank Macan Kumbang yang sudah dibelikan MBT Leopard dan tinggal menunggu kedatangannya.(JKGR).

  14 Responses to “Melayang Bersama Helikopter Apache”

  1. “ganti pemimpin ganti kebijakan termasuk masalah alutsista”, SEMOGA KARENA PAK MOELDOKO LEBIH NGEFANS SAMA K-52 & KORNET YAAA…

  2. Sebuah tradisi jelek yg harus dihilangkan demi kemajuan NKRI

  3. Kenapa pulau jawa terus yang dominan mencicipi alutsista alutsista baru?? Juga berbagai infrastruktur-infrastruktur strategis selalu dipaksakan untuk dibangun di pulau ini.

    kalau dibandingkan pulau-pulau yang lain, seandainya Indonesia collaps, pulau jawa lah yang paling mampu untuk menjadi sebuah negara, karena seluruh mega-infrastruktur dari hulu sampai hilir, telah lengkap di pulau jawa. Sementara, infrastruktur-infrastruktur di pulau pulau yang lain, sudah pasti hanyalah pertambangan dan energi, yang selalu disetor ke pulau jawa untuk dikorup oleh orang-orang partai dan birokrat-birokrat rakus.

    Sumatera, kalimantan, sulawesi, papua, hanya akan mendapat alutsista-alutsista / infrastruktur-infrastruktur itu kalau di pulau jawa sudah tidak muat lagi….

    Tolonglah kepada birokrat-birokrat yang ada di pulau jawa, untuk tidak memperkaya dirinya sendiri hingga tujuh turunan, bagilah kue pembangunan ke wilayah laen. Jangan sampai peristiwa tahun 50-an terulang kembali di zaman rerformasi ini…

    • Kalimantan terisi = 1 batalyon mlrs atross, 1 batalyon caesar, 1 batalyon scorpion, 1 divisi kostrad, beberapa baterei persenjataan arhanud itu untuk tni ad blm 2 batalyon mekanis, 1 skadron heli serbu
      Tni au= 1 skawdron uav dll
      Sumatra= 1 skawdron f16 c/d, 1 baterei arhanud jarak sedang, 1skadron heli serbu dll
      Papua = 1 divisi marinir lengkap persenjataan

      Silahkan klo ada yg koreksi

    • Sulawesi 1 squadron TNI AU main fighter Sukhoi, rencananya juga jadi sarang Changbogo di teluk Palu..

    • @gue, pimikiran loe yg skeptis & tendensius., dalam hal militer byk sekali perhitungan taktis yg di buat, tidak asal comot & main taruh aja, karena yg di pertaruhkan itu bangsa dan negara. Di Jawa dgn populasi yg sedemikian besar tentunya akan menjadi kekuatan sentral negara ini dgn dukungan dari wilayah2 lain untuk keutuhan NKRI. Sedang di wilayah2 lain jg di letakkan peralatan2 tempur yg kuat & canggih. Ttp kalo yang loe bilang “kue” itu aliran dana dr APBN, bukannya saat ini Otonomi daerah/otonomi khusus sdh lama di gulirkan dgn dana yg sedemikian besar terhadap daerah. Yg jadi masalah adalah uang itu di kemanain sama daerah..?? Loe bs lihat “KORUPSI2” besar2 di daerah sanagat merajalela.

  4. bung desperado mungkin para elit qt masih menganut paham keseimbangan kawasan sehingga riskan menaruh alutsista di perbatasan

  5. saatnya prinsip keseimbangan kawasan diubah,hehehhe

  6. Sangat setuju jika Apache dikaji lagi, terlalu mahal karena harus beli kapabilitas utama yang saat ini diragukan efektivitasnya: deep attack.
    Dengan kode AH, awalnya misi attack yang dibebankan AS/NATO kepada Apache adalah FOFA (follow-on forces attack), serangan terhadap gelombang susulan serangan lapis baja (2nd/3rd echelon) Pakta Warsawa ke Eropa Barat (ujung tombaknya akan dihadang satuan lapis baja NATO, yang kekuatannya hanya 1/3 Pakta Warsawa). Di Irak saja satuan Apache pernah mengalami korban besar, padahal jalur terbang telah disterilkan dengan rentetan tembakan MLRS terlebih dahulu. Di Kosovo malah samasekali tidak diturunkan, alasannya tidak familiar dengan medan bergunung. Lebih baik Cobra yang sederhana gak neko2, untuk peran air escort.

    • Ane juga setuju kok klo dikaji ulang, harganya aneh klo liat pesenan India and Korsel.. Klo ane mendingan Havoc (mi-28) bang dengan syarat TOT maintenance, jadi klo overhaul nggak usah kirim barang jauh2. Toh kita dah punya mi-35 sama mi-17, jadi sekalian dibikin depo perawatan dan overhaul disini. Minta pelatihan untuk perbengkelan sekalian peralatan, ane kira cukup “good value” dan mengurangi masalah “Logistic Nightmare”.

  7. logicnya karena harga mahal, dan kornet karena tradisinya mengikuti atau sama dengan punya tetangga2 sebelah (F5,A4,LEO,ASTROSS,APACHE dll ), apache gak bisa karena mahal, jadi alternatifnya cari yang seimbang dan gak ribet.

  8. KASAD ngapain mikirin keuangan negara itu kan udah ada yang nanganin, ibarat mu perang masih mikirin makan gak makan. KASAD itu yang penting mu perang tinggal perang peralatan sudah lengkap masalh biaya biar agan2 di gedung sana tg mikirin

 Leave a Reply