Membandingkan Efisiensi Program Militer AS dan Rusia

24
37
Electro-Magnetic Rail-Gun (EMRG) © John F. Williams via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Anggaran Pertahanan AS adalah sebesar $ 824,6 miliar. Anggaran Belanja militer AS masih jauh lebih besar dari sembilan negara berikutnya digabungkan. Sementara itu, Anggaran Pertahanan 2018 untuk Kementerian Pertahanan Rusia hanya berjumlah $ 46 miliar. Terlepas dari perbedaan besar dalam pengeluaran, potensi militer kedua kekuatan besar tersebut di bandingkan tanpa menawarkan kesimpulan yang tak terbantahkan.

Ini adalah sebagai fenomena yang sangat menarik dan banyak orang bertanya-tanya bagaimana mungkin.

Meluncurkan program pengembangan sistem senjata baru merupakan tanggung jawab besar, kesuksesan tidak pernah dijamin dan selalu ada halangan dalam perjalanannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kapal selam peluncur rudal balistik (SLBM) R-30 Bulava Rusia telah diterpa masalah tersebut. Itu bukanlah mengenai desain melainkan kualitas produksi.

Penelitian menyeluruh telah dilakukan untuk mengatasi kesulitan . Ini semua berakhir sekarang, sebagaimana ditunjukkan dalam uji terbaru dan rudal dengan kemampuan yang ditingkatkan mampu menghindari pertahanan anti rudal balistik (ABM) dan telah memasuki layanan Angkatan Bersenjata Rusia.

Program utama lainnya, FA PAK, yang sekarang berganti nama menjadi pejuang Su-57 tidak berjalan dengan lancar. Banyak usaha sudah dilakukan untuk mengembangkan pembangkit listrik (mesin) baru. Pada awal Desember 2017, pesawat tersebut berhasil diujicobakan dengan mesin baru.

Tank generasi baru T-14 Armata Rusia, yang mampu menembakkan rudal anti-tank ke sasaran lebih dari tujuh mil jauhnya, akan memasuki layanan pada tahun 2020. Kapal selam rudal balistik nuklir (SSBN) terbaru Rusia, Knyaz Vladimir telah diluncurkan secara resmi pada November lalu.

Rudal anti kapal baru Rusia, 3M22 Zirkon yang mampu menempuh kecepatan 8 Mach atau 9.900 km/jam akan memasuki layanannya tahun 2018 untuk menjadikan Rusia pemimpin dunia dalam bidang senjata hipersonik.

Angkatan Bersenjata Rusia telah melakukan uji coba peluncuran rudal pencegat rudal balistik Nudol yang berhasil, sementara efisiensi dari pencegat rudal berbasis darat (GBI) milik AS masih tetap meragukan.

Memang selalu lebih sulit dari yang diharapkan tapi rencana tetap berjalan. Mungkin ada penundaan dan pengeluaran bisa meningkat, tapi yang penting sebenarnya adalah tidak ada program persenjataan besar Rusia yang telah ditunda atau ditinggalkan.

Strategi Keamanan Nasional AS yang baru lebih menekankan senjata hipersonik, laser, railgun elektro-magnetik, senjata kontra-ruang angkasa dan robot dilengkapi dengan kecerdasan buatan untuk memastikan superioritas AS pada abad ke-21 dan mampu meninggalkan Rusia dan China.

Besarnya program senjata AS membuat kita menghela napas. Dunia tampaknya sering frustrasi oleh berita bahwa banyak program yang ditangguhkan ataupun direvisi demi menghilangkan kekurangan dan biaya yang mengejutkan.

Kira-kira, $ 85, 8 miliar telah dihabiskan dalam sepuluh tahun terakhir untuk program yang tak pernah membuahkan hasil. Misalnya, penangguhan program electromagnetic railgun (EMRG) yang telah dilakukan selama satu dekade demi berpihak pada alternatif yang lebih murah tentu cukup mengejutkan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa AS, Rusia, China, Israel dan beberapa negara lain sedang mengerjakan senjata berdasarkan prinsip-prinsip fisika baru. Tetapi hanya AS, satu-satunya yang memiliki platform yang siap untuk memasang senjata semacam itu.

Awalnya USS Zumwalt (DDG-1000) membawa 80 rudal jelajah Tomahawk dan sebuah railgun elektromagnetik. Sebaliknya ia membawa senapan biasa dengan jangkauan 148 km. Jangkauannya memang bagus, tapi biaya satu tembakan adalah sebesar $ 2 juta.

Ini bahkan sebanding dengan biaya rudal jelajah Tomahawk, yang mampu menjangkau lebih jauh dan membawa muatan jauh lebih berat. Dan hasilnya? Angkatan Laut AS telah menerima kapal senilai $ 4 miliar namun dengan kemampuan sama seperti kapal perusak Arleigh Burke yang harganya cuma $ 1,5 miliar.

F-35 Lightning II menjadi tulang punggung bagi armada tempur Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS. Sebanyak 280 pesawat telah diproduksi sejak 2006. Biayanya adalah $ 100 miliar selama hampir 25 tahun. Sebuah pesawat berharga lebih dari $ 100 juta.

Pada saat ini pesawat masih harus menempuh perjalanan panjang sebelum beroperasi, mungkin tidak lebih awal dari tahun 2021. Pada bulan Oktober, Angkatan Udara Israel menggunakan F-35 untuk menyerang posisi tentara Suriah di dekat kota Baalbek. Salah satu pesawat dilaporkan rusak oleh sistem pertahanan udara S-200 yang sudah usang (sejak tahun 1967).

Sistem senjata laser Boeing YAL-1 Airborne Laser Testbed (sebelumnya Airborne Laser) adalah chemical oxygen iodine laser (COIL) kelas megawatt yang di pasangkan pada modifikasi Boeing 747-400F. Telah diperkirakan bahwa AS akan mampu melumpuhkan rudal balistik musuh.

Pada tahun 2010, sistem tersebut menghantam dua rudal selama tes di California. Tapi masalahnya terbukti tidak dapat diatasi. Biaya satu jam penerbangan adalah $ 92 juta. Sementara jangkauan operasionalnya hanya lebih dari 80 km mengakibatkan pesawat harus memasuki ruang udara musuh, tentu menjadikan rentan terhadap pertahanan udara lawan.

Akibatnya, program tersebut dibatalkan pada tahun 2011 dan pesawat itu dikeluarkan dari layanan pada tahun 2014. Perkiraan biaya program yang berjalan dari tahun 1996 sampai 2011 adalah lebih dari $ 4 miliar.

Future Combat Systems (FCS) adalah program modernisasi utama Angkatan Darat AS pada periode 2003 sampai awal 2009 yang merupakan program paling ambisius dan modern sejak Perang Dunia II.

Tujuannya adalah untuk menciptakan brigade baru yang dilengkapi dengan kendaraan berawak dan tanpa awak yang terhubung ke dalam jaringan medan tempur yag cepat dan fleksibel yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Program ini dibatasi pada tahun 2009 dan akhirnya dibatalkan pada tahun 2011. Satu-satunya hasil dari program tersebut adalah kendaraan portabel tanpa awak XM1216 Small Unmanned Ground Vehicle (SUGV) yang dapat digunakan dalam operasi militer di lingkungan perkotaan, terowongan, gorong-gorong dan gua.

Beberapa pengembangan digunakan untuk implementasi konsep Modernisasi Team Brigade Combat. Biaya program yang gagal tersebut adalah $ 18,1 miliar.

USS Gerald Ford, kapal induk pertama di kelasnya, dikirim kepada Angkatan Laut AS setelah mengalami penundaan selama 15 bulan dan ini telah menghabiskan anggaran sebesar $ 14 miliar.

Ada sebuah alasan untuk mengatakan bahwa biaya setinggi langit tidak menghasilkan dalam pelaksanaan program membuat AS memimpin lomba “superweapons”.

Pada tahun 2012, Citizens for Responsibility and Ethics di Washington dan organisasi nirlaba Brave New Foundation menemukan bahwa ada 70 persen pensiunan jenderal berbintang tiga dan empat bekerja dengan kontraktor atau konsultan pertahanan.

Kontraktor pertahanan bahkan menikmati pengaruh yang besar di antara para anggota parlemen. Megaproyek diluncurkan, sejumlah besar dikeluarkan tetapi entah senjata apa muncul. Senapan dengan frekuensi tinggi, laser jarak jauh, dan persenjataan iklim serta rudal jelajah bergerombol dan senjata fiksi ilmian lainnya hanya digunakan dalam film-film Hollywood.

Jawaban atas pertanyaan siapakah yang memimpin dalam lomba “efisiensi biaya” tidak menyisakan keraguan.

Artikel ini pertama kali dirilis oleh situs Strategic Culture Foundation.

24 KOMENTAR

  1. Ini dari sudut pandang Rusia, nnti kita lihat komentar dari sudut pandang ASanboy 😛 wkwkwk 😆

    XM1216 Small Unmanned Ground Vehicle (SUGV) yang dapat digunakan dalam operasi militer di lingkungan perkotaan, terowongan, gorong-gorong dan gua.

    Itu seperti mobil batman ya?