Membanggakan, PT Dirgantara Indonesia Ekspor 396 Unit Pesawat ke 11 Negara

29
8
Deretan pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia. (defence.pk)

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis di bidang industri pesawat, PT Dirgantara Indonesia (PT DI), berhasil “mengepakkan sayapnya” hingga ke pasar internasional. Hingga saat ini, PT DI telah mengekspor sebanyak 396 unit pesawat ke 11 negara.

Sejumlah negara yang telah menggunakan pesawat buatan PT DI adalah Venezuela, Turki, UAE, Burkina Faso, Malaysia, Korea Selatan, Pakistan, Guam, Senegal dan Filipina. Terbaru, PT DI mengekspor pesawat NC 212 ke Thailand.

Marketing of Communication PT Dirgantara Indonesia, Nadira Ghaisani, mengatakan bahwa komposisi pesawat yang dibuat PT DI sudah didominasi buatan dalam negeri. Pesawat buatan PT DI yang didominasi buatan Indonesia yaitu CN 235 dan NC 212.

“Untuk engine dan avionic juga masih impor, tapi overall kita udah bisa bikin sendiri ya di Bandung. Jadi total semuanya kita sudah buat sendiri,” ujar Nadira seperti dilansir merdeka.com pada Selasa (13/9).

Nadira menjelaskan bahwa saat ini belum ada yang memiliki keahlian khusus untuk membuat mesin pesawat sehingga masih harus mengimpor komponen tersebut. Komposisi pesawat yang diimpor biasanya berasal dari Amerika Serikat dan Swedia.

Sumber: merdeka.com

29 COMMENTS

  1. Itu hal yg biasa bu Nadira, selama ini blom ada pabrik pesawat yg jg memproduksi mesin sendiri. Airbus aja mesinnya dr RollRoyce. Yg penting N219 nya kapan launcing penerbangannya bu.? Jangan ditunda lg. Pasar sudah menunggu bu.

  2. Berarti angka 396 adalah penjualan keseluruhan bersama CASA. Namun setiap pembelian CN-235 ke CASA pun PTDI juga ikut mendapatkan bagiannya karena merupakan projek bersama. Selama ini pengguna CN lebih banyak yang memesan ke CASA karena kalau ke PTDI terlalu lama dalam penyelesaian karena lini produksi yang sangat terbatas.
    Dan 396 unit pun adalah angka yang kecil untuk penjualan dalam kurun waktu puluhan tahun. Kondisi ini antara lain disebabkan ada waktu bertahun-tahun PTDI mengalami ‘pingsan’ karena dihantam krisis tahun 1998. Bahkan hampir ditutup karena pailiat. Hutang menumpuk. Aset kebanggaan bangsa di bidang teknologi dirgantara ini pun hampir terkubur.

    http://arsip.gatra.com/2003-07-25/artikel.php?id=30252

    Setalah tertatih-tatih membenahi masalah (selama beberapa tahun) maka mulai ada secercah harapan sejak ada pesanan 4 unit CN dari Korea Selatan. Disusul TNI AL memesan CN versi MPA. PTDI mulai bangkit.

LEAVE A REPLY