Jun 302014
 
Model KF-X fighter jet

Model KF-X fighter jet

Undang-undang Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan menuntut Indonesia harus siap memproduksi sendiri alusista di dalam negeri. Impor hanya dilakukan untuk senjata dan alutsista yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri dan itupun harus ada syarat adanya alih teknologi agar dalam waktu tertentu semuanya bisa diproduksi di dalam negeri. Kemandirian industri pertahanan nasional ini akan mewujudkan kemampuan menjamin ketersediaan Alutsista sehingga kemandirian pertahanan negara dan keutuhan kedaulatan NKRI akan terjaga.

Terdapat tiga hal yang dapat dicapai ketika Indonesia sudah mandiri dalam industri pertahanan, yakni kemampuan dalam membuat/mengintegrasikan Alutsista, kebebasan dalam memilih Sumber Material/ Sistem/Teknologi, dan ketidaktergantungan terhadap berbagai ikatan.

Mengacu pada Undang-undang Nomor 16 tahun 2014 maka perwujudan kemandirian industri pertahanan tinggal menunggu waktunya.

Menghidupkan Budaya Teknologi
Masalahnya sekarang terletak pada budaya yang dikembangkan oleh masing-masing stake holder. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Huntington yang melihat betapa besarnya peran budaya dalam mencapai suatu keberhasilan. Korea Selatan dengan budayanya membuatnya unggul dibandingkan Ghana. Melihat bagaimana rumpun budaya Cina mampu membawa negaranya unggul dalam proses industrialisasi dibandingkan dengan rumpun Melayu.

Budaya yang perlu dikembangkan yang dapat mendukung perwujudan kemandirian industri pertahanan harus digali dan direvitalisasi. Unsur industri pertahanan yang terdiri dari BUMNIP dan didukung oleh perusahaan swasta, perlu mengembangkan budaya “gotong royong” yang sebenarnya merupakan nilai budaya bangsa Indonesia yang ada sejak dahulu kala, namun saat ini mengalami degradasi, menuju ke arah individualistik.

Dengan kerja sama yang diawali keterbukaan dan kejujuran akan menciptakan relasi simbiosis mutualistik antar BUMNIP dan perusahaan swasta. Nilai budaya “kerja keras” dan “kerja cerdas” adalah nilai yang harus dipegang teguh dan terus dipelihara dan dikembangkan, karena dengan kerja keras dan kerja cerdas, memampukan industri pertahanan mampu meningkatkan produktifitasnya baik dari kuantitas maupun kwalitas secara efektif dan efisien.

Hal ini akan dapat memperbaiki citra BUMNIP yang tidak sehat dan bermasalah dari segi manajerial maupun financial sehingga kalah bersaing dengan industry pertahanan dari negara lain. Nilai-nilai ini akan mampu pula meningkatkan hingga 70% kapasitas tehnologi, financial dan produksi sistem senjata, sehingga secara keseluruhan kemandirian dapat terwujud.

Demikian pula akademisi dan pranata Litbang, harus meninggalkan budaya “nerabas” yang sedang menggejala. Budaya yang perlu dibangun adalah budaya yang “berorientasi pada kualitas” sehingga pranata litbang melakukan penelitian dengan mengikuti kaidah kaidah ilmiah baik dari segi metodologi dan kompetensi peneliti. Sumber daya litbang senantiasa dipenuhi rasa ingin tahu yang tinggi, yang memampukannya melakukan analisa yang tepat terhadap fenomena yang ada di lingkungan strategis baik nasional, regional maupun internasional.

Pengetahuan teoritis diperdalam terus untuk memampukannya memiliki pisau analisa yang tepat. “Belajar sampai ke negeri Tiongkok” adalah ungkapan yang mendukung nilai “terus belajar” yang memampukan peneliti menggali ilmu dan berupaya untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara.

Pengembangan roket nasional D230 (photo: Pindad)

Pengembangan roket nasional D230 (photo: Pindad)

Strategi menuju kemandirian dapat dilihat dari Masterplan Pembangunan Industri Pertahanan tahun 2010-2029, yang mempunyai 2 target utama yaitu target alutsista dan target Industri Pertahanan. Target alutsista yang akan dicapai adalah alutsista yang memiliki mobilitas tinggi dan bersifat sebagai pemukul yang dahsyat. Sedangkan target pencapaian Indhan adalah memenuhi pasar dalam negeri (jangka pendek), bersaing secara internasional dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi.

Tahapan master plan terbagi dalam 4 tahap:
Tahap pertama adalah kebijakan tahun 2010-2014 yang menitik beratkan pada penetapan program pembangunan kekuatan, stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan, penyiapan regulasi industri pertahanan, dan penyiapan new future products.

Tahap kedua adalah kebijakan tahun 2015-2019 yang menitikberatkan pada penetapan program untuk mendukung MEF, melanjutkan regulasi industri pertahanan, peningkatan kemampuan kerja sama produksi, dan melanjutkan penyiapan produk masa depan.

Tahap ketiga adalah kebijakan tahun 2020-2024, yang menitik beratkan pada penetapan program untuk mendukung postur ideal, melanjutkan regulasi industri pertahanan, peningkatan pertumbuhan industri, dan peningkatan kerja sama internasional (new product development advanced technology).

Sebagai tahap terakhir (tahap empat) adalah kebijakan tahun 2025-2029 yang menitik beratkan pada kemandirian industri pertahanan yang signifikan, kemampuan berkolaborasi, dan pengembangan yang sustainable.

Cetak Biru Riset Alpalhankam
Sebagai tindak lanjut dari Masterplan tersebut, telah disusun Cetak Biru Riset Alpalhankam yang diharapkan menjadi panduan dalam Litbang Alplahankam ke depan. Di dalam Cetak Biru tersebut terdapat 23 produk riset Alpalhankam termasuk Almatsus Polri yang sudah ditentukan tahapan risetnya mulai dari tahap 1 penguasaan desain, tahap 2 penguasaan produksi dan tahap 3 pengembangan produk baru. (by Jalo).

  63 Responses to “Membangun Budaya Teknologi (Alutsista)”

  1. Siji

  2. Wah makin seru nih…

    • Makasih bung Jalo..ternyata masterplan ini dah berjalan toh..dah mau masuk kedua lagi..paling seru yang ketiga nih..”menitik beratkan pada penetapan program untuk mendukung postur ideal”..ini harus lancar..dilanjutkan ampe yg keempat..”menitik beratkan pada kemandirian industri pertahanan yang signifikan”..jalan teruss..salut..

  3. Loro lumayan

  4. papat

  5. ikut 10 besar

  6. 10 besar.,

  7. 10 besar

  8. Kemandirian alutsista itu penting, demi harga diri bangsa… Jayalah Indonesiaku!!!

  9. sedoso?

  10. Sepuluh besar

  11. terima kasih atas artikelnya,
    salam hangat bung jalo…
    siapapun presiden terpilih nanti
    semoga semakin memberi perhatian
    khusus pada riset dan pengembangan serta penggunaan
    produk lokal (alutsista)…..bung jalo yg terus ngawal di depan ya hehe !

  12. Mantab ulasannya bung jalo..slamat menjalankan ibadah puasa rekan2. Jayalah nusantara

  13. bung jalo gmna kabarnya jet tempur pengganti F5 sudah pasti typhoon y,kpan kira2 masuk kesini end ada press releasenya kan

  14. bukan namanya indonesia klau tidak berhasil……….

  15. Assalamualaikum semua , ijin nyimak Bung Jalo.

  16. ….korea Selatan dengan budayanya membuatnya unggul dibandingkan Ghana….

    Begini bung Jalo…andaikata…tentara Kim Il Sung gak melintasi garis pararel demilitarizone 38^ dan ASU gak mendarat di Inchon,apakah korea selatan akan seperti sekarang? Saya rasa tdk.Korsel bisa seperti sekarang karena ada pisau korut yg selalu mengkilat ditempelkan ke leher korsel…korsel selalu dlm keadaan battle station sejak th.1950 hingga sekarang dan mereka terpaksa untuk menganggarkan biaya riset pertahanan yg besar agar mereka tetap eksis sbg negara…kalau korut gak usah ditanya karena sdh ciri khas negara komunis,militernya kuat rakyatnya ngos ngosan di tuntut sederajad…

    Hal yg sama jg terjadi di israel dimana sejak negara ben gurion ini berdiri hingga sekarang,mereka tdk pernah merasa aman karena dikelilingi musuh yg siap menghapus mereka dr peta bumi kapan saja…israel menempatkan riset pertahannya di urutan pertama sebelum riset riset yg lain…cm dlm jangka waktu 30 tahun dr pendiriannya,israel sdh mampu membuat jet tempur sendiri yaitu Kfir yg merupakan kopian mirage yg blue print nya di curi secara cerdik setelah perancis ogah menjual persenjataannya ke Israel akibat tekanan negara2 arab pasca musuh yg siap menghapus mereka dr peta bumi kapan membuat jet tempur sendiri yaitu Kfir yg merupakan kopian mirage yg blue print nya di curi secara cerdik setelah perancis ogah menjual persenjataannya ke israel akibat tekanan negara2 arab pasca perang 6 hari th 1967…

    Begitu pula yg terjadi pada iran yg di jepit sekelilingnya dan di ancam ASU dan Israel…

    Yg jd pertanyaan,haruskah indonesia mengalami kondisi yg sama agar bisa mencurahkan segenap daya upaya untuk riset pertahanan? Jika ya mari kita cari ribut dgn tetangga kita dijamin gak nyampe sepuluh tahun kita sdh sekuat Nazi Jerman :mrgreen:

    • Itu cuman contoh aja bung Wehr, lebih lengkapnya di komentar bawah…

      Ok sedikit penjelasan dari Mochtar Lubis dalam bukunya “Transformasi Budaya Untuk Masa Depan” juga melihat bahwa dalam proses industrialisasi rumpun budaya Tiongkok unggul
      dibandingkan dengan rumpun budaya Melayu. Budaya Tiongkok mengandung nilai kerja keras, pandai dan gigih menyimpan, bersedia menjalani penderitaan untuk menggapai kesuksesan, penghormatan terhadap nenek moyang dan orangtua yang memberikan kemantapan identifikasi diri dan hubungan sosial.

      Sekarang kita ke negara yg bernama Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak pada posisi strategis, terbentang dari Sabang hingga Merauke, yang terdiri dari 17.508 pulau, dengan luas 1.922.570 km2 dan dihuni oleh lebih dari 220 juta jiwa dari berbagai suku bangsa, agama dan latar belakang yang berbeda pula. Negara seperti ini membutuhkan satu upaya pertahanan yang sangat tangguh untuk melindungi rakyat, wilayah dan kedaulatannya dengan mengerahkan segenap kemampuan agar tidak jatuh ke dalam penguasaan dan pendudukan negara lain. Untuk memenuhi kewajiban ini, Negara memerlukan alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang cukup baik dari segi kuantitas dan juga kualitasnya, karena alutsista adalah salah satu pilar dari kemampuan angkatan bersenjata. Namun dari realita yang ada, kondisi alutsista yang dimiliki TNI ditinjau dari kualitas sebagian besar sudah melewati batas maksimum operasional dan jumlahnya pun terbatas. Oleh karena itu peran industri pertahanan dalam negeri sangat penting.

      Kemandirian sebuah industri pertahanan akan dapat meningkatkan posisi daya tawar Indonesia di
      dunia internasional, kerahasiaan alutsista terjaga, dapat meningkatkan perekonomian Indonesia, karena dengan kemajuan industri pertahanan akan mampu menyerap tenaga kerja, mampu memenuhi kebutuhan alutsista secara internal, bahkan dimungkinkan untuk mengekspor ke luar negeri. Ini memberikan manfaat efesiensi penggunaan anggran belanja negara bahkan dapat meningkatkan devisa negara. Secara teknis, dengan menggunakan alutsista produk dalam negeri akan memungkinkan untuk secara terus menerus dan berkesinambungan meningkatkan produk sehingga semakin hari semakin sempurna. Tidak kalah pentingnya adalah ketersediaan suku cadang yang mudah dan cepat diperolah. Ditambah pula kecepatan dalam melakukan perbaikan jika ada alutsista yang rusak. Yang paling menonjol adalah terhindarnya kita dari kebijakan
      embargo oleh negara produsen.

      Nah kalau lihat diatas, yakin cuman dengan 1 skadron SU-35 atau PAK-FA seluruh matra baik laut, udara dan darat bisa dibilang aman?? Yakin satu SU-35 bisa melawan 10 F-16. Untuk itu diperlukan kualitas dan kuantitas dan yg bisa mencapai itu adalah kemandirian.

      • Wkwkwk…saya cm teringat sewaktu kuliah dulu dosen saya mengatakan korsel mengalami kemajuan yg luar biasa dibandingkan dgn indonesia padahal kita startnya sama.sang dosen langsung menghantam mentalitas bangsa kita dan membandingkan dgn ras dinasti ming ygjg ada dlm darah korea…langsung sy mendebat dosen sy dgn argumen di atas…si dosen yg lulusan ASU nampak tdk senang dgn tanggapan sy karena dia sangat yakin semua yg di baby seat ASU akan maju sedangkan semua yg di baby seat si palu arit akan jeblok….gambaran seorang kapitalis birokrat sejati :mrgreen:

        menurut sy ada korelasinya dgn siapa yg ada di belakang korsel…sebagaimanajg siapa yg ada di belakang korut…iran dan israel pun tdk akan seperti skrg kalau tidak ada siapa siapa di belakangnya….mereka bs begitu karena mereka tdk netral seperti kita…

        Lalu siapakah di belakang kita? Tdk satu pun.kita berusaha sendiri dan terseok seok menuju harapan yg meskipun jauh namun tetap terlihat setitik cahaya terang…

        • By the way bung jalo…mochtar lubis bilang ras china lebih tahan banting dibandingkan dgn ras melayu…sy rasa dia lupa kalau bangsa kita jg memiliki nenek moyang pekerja keras yg mampu membangun salah satu keajaiban dunia sebanding dgn greatwall…kita jg satu satunya bangsa melayu yg berani memotong teling meng ki,utusan ku bilai khan raja mereka yg mau coba coba mengusik wilayah kita dan akhirnya terusir secara memalukan oleh bangsa melayu yg mereka anggap “kecil” ini…

          Kalau menurut sy yg salah adalah pimpinannya…mereka yg membuat kita seperti skrg ini,dibawah telapak kaki asing…pimpinan kita yg menciptakan orang2 seperti doaen sy….kita tdk kalah dgn korea atau cina…saat pemerintahan bung karno,waktu korsel masih pake popok,riset pertahanan kita sdh sangat maju dgn sumakopter,helikopter pertama kita.gelatik,pesawat pertama kita yg operasional dan di tutup dgn roket kartika yg menempatkan kita sbg negara no 2 di asia yg bs membuat roket setelah jepang…

          Sy tdk bermaksud mengungkit masa lalu tp sy mencoba komprehensif dalam menatap perjalanan bangsa kita yg kadang selalu dianggap inferior oleh bangsa kita sendiri

          • Mungkin beliau melihat perspektif perkembangan sekarang. Memang benar kita ini bangsa pejuang, namun plin-plan politik kita yg membuat kita menjadi bangsa terpinggir. Kenyataan bahwa kebudayaan kita semakin hari semakin terkikis, dulu memang masyarakat kita adalah perkerja keras, namun sekarang pemerintah kita mengajarkan cara cepat tanpa perlu kerja keras meski keyakinan kita sangat tinggi.

            Seperti RnD, berbagai penelitian bisa kita lakukan namun kenyataan membeli produk luar merupakan anjuran wajib yg dikatakan pemerintah kita. Saya pernah ketemu dengan salah seorang peneliti asal Jawa Timur yg berhasil membuat mesin mobil sejak tahun 2006 dengan nilai TKDN 80%. Mesin mobil yg beliau buat itu untuk membantu angkutan masyarakat desanya dan nilai ekonomisnya sangat tinggi. Saat itu beliau mengajukan ke Kabupaten daerah beliau, dan dari kabupaten diajukan ke pemerintah provinsi. Kenyataannya, hasil jerih payah yg beliau buat bersama karyawan di bengkelnya ini tidak direspon. Kenyataannya angkutan desa menggunakan produk luar dengan harga 5 kali lebih mahal. Hasil yg beliau buat hanya menjadi pajangan di bengkel beliau.

            Dan masih banyak kasus lainnya. Bener kata bung Wehr, pemerintah kita ini yg merusak negara kita. Salah satu peneliti yg disebutkan bung Wehr diatas itu hasil kerja keras kakek buyut saya. Untuk mengembangkan salah satu alat tersebut, beliau harus belajar dan mendapat nilai baik di negeri Beruang merah. Saat balik, terjadi perpindahan politik dan akhirnya ilmu yg beliau dapatkan hanya berhasil menjadi prototipe yg hingga skrg tidak dipergunakan, karena pemerintah lebih senang menggunakan hasil jadi dari negara lain.

            Itulah realita…

          • Maaf bung jalo sy emang gak suka sm mochtar lubis karena pro mbah to dan memang musuh politik bung karno…tp novel novel cukup asyik untuk dinikmati…

            Kalau melihat uraian bung jalo berarti kakek buyut bung jalo adl….he he he gak jd ah biar bung jalo tetap jd misteri di warjag ini … :mrgreen:

            Sepertinya Sy tahu siapa kakek buyut bung jalo…salam hormat sy untuk kakek bung jalo dan suatu kebanggaan bg sy bisa bertukar pikiran dgn cucu salah satu perintis penerbangan kita yg ternyata jg mewarisi darah sang kakek…cinta pada teknologi kemandirian bangsa….

            Salam bung jalo 😀

          • Bisa aja bung Wehr, kakek buyut saya cuman salah satu yg ikut dalam tim pengembangan aja. 😀

            Untuk Mochtar Lubis, memang pasti ada banyak negatifnya karena melihat track record beliau. Tapi dalam satu sisi pasti ada hal positif yg perlu kita perlajarin. Ingat Ali Moertopo, beliau adalah otak yg menghancurkan Presiden Soekarno, tapi saya sangat suka buku tentang beliau karena banyak yg bisa dipelajarin dari pengalaman beliau.

        • Hehehehehe, bisa aja bung Wehr. Melihat kasus2 yg sudah terjadi sebenarnya kita bisa, netral adalah jalan yg baik untuk menuju kemandirian. Enaknya kita bisa memperoleh ilmu dari dua sisi berbeda, sayang realita yg terjadi “MENTAL BURUK bak Korupsi atau Gengsi” yg selama ini ada dibelakang kita. Saya jadi ingat, masyarakat skrg, ada produk gadget baru itu harus di akusisi agar bisa menjadi ajang pamer kepada teman2 atau lingkungannya. Begitu juga dengan kendaraan, itulah budaya kita. Apakah budaya ini tidak masuk dalam lingkungan pertahanan dan keamanan.

          Saya pernah ngobrol berdua kepala Lapan di ruangannya, saya tanya kenapa dalam litbang harus menggunakan peralatan lama. Beliau mengatakan, dengan alat tua banyak pelajaran yg bisa kita ambil. Seperti mencintai alat tersebut sehingga memacu kita agar berkembang dan menghargai barang tersebut. Menurut beliau, memang alat2 baru sudah didatangkan tapi beliau memprioritaskan menggunakan alat lama. Jika kita bisa menguasai alat lama, banyak pengembangan menjadi modern.

        • Benar bung jalo…peralatan lama akan memberi kita pelajaran tentang sebuah proses…itulah kenapa Kadet AAL kita tetap berlatih menggunakan dewa ruci,kapal layar tipe Barquentine teknologi zaman colombus agar pelaut kita benar benar jadi pelaut sejati,bkn sekedar orang yg naik kapal laut…

          Saat kuliah sy juga berhitung dgn kalkulator yg menggunakan sin,cos dan tangen untuk memecahkan berbagai soal yg sebenarnya pada prakteknya di lapangan tinggal pencet tombol enter komputer muncrat semua hasilnya :mrgreen: salah satunya adl.agar kita memahami proses sehingga jika ada malfungsi sistem secara manual kita masih bs memecahkan masalah….

          • Nah, skrg pelajaran proses dan kesabaran sudah mulai ditinggalkan, makanya di artikel ini diperlukan membangun budaya kemandirian alutsista.

          • PESIMIS!!
            Banyak birokrasi bejad di negri ini!!

          • Nggak di ajak ribut, tetangga udah duluan ngajak ribut kok bung, kebangkitan kita arahnya memang utk itu.
            kalo cleaning service, upacara sarpahomanya bung satrio.

    • Pulang taraweh baca diskusi seru…terimakasih bung@wehrmacht dan bung@jalo atas tambahan wawasan nya.Salam hormat buat anda..

  17. Dibikin jadi satu artikel lagi sama bung Diego, ini diambil dari buku dan majalah WIRA. 😀

    Untuk program2nya seperti yg sudah di setujuin DPR pada akhir 2013, ini sedikit fotonya…

    Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah Pembuat Kebijakan. Bagaimana pembuat kebijakan, Kemhan dengan kebijakannya untuk melaksanakan kerja sama dengan negara lain, membuat kebijakan penggunaan oleh TNI (Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara). Nilai budaya “saling menolong” dapat dikembangkan sehingga setiap aparatur yang terlibat dalam kegiatan ini selalu digerakkan oleh nilai budaya merupakan pola pikir yang menjadi pedoman ketika berprilaku. Demikian pula nilai “bangga akan produk Indonesia” harus diyakini dan dikembangkan, sehingga walaupun saat ini secara finansial tidak ekonomis, namun harapan bahwa itu adalah proses menuju hasil yang lebih baik, memampukannya untuk membuat kebijakan yang pro-produk industri pertahanan dalam negeri.

    Unsur ketiga adalah pengguna yaitu TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Jika selama ini kita dengar “western minded” yang merasa bangga dengan produk asing (Barat), maka saatnya kita bangkit untuk “bangga dengan Produk Indonesia”. Hal ini sesungguhnya tidak sulit di negara yang bersifat paternalistik dan berorientasi ke atas. Para pemimpin, orang-orang yang dituakan menjadi panutan dan pusat orientasi. Jika para pemimpin menggunakan produk tersebut, strata yang ada di bawahnya dengan tanpa pikir panjang mengikutinya. Itu berarti para pemimpin di lingkungan TNI harus yakin bahwa menggunakan Alutsista produk dalam negeri adalah baik. Mungkin dari segi kualitas produk yang digunakan masih kurang dibandingkan dengan produk luar negeri. Namun dengan keyakinan bahwa melalui penggunaan produk tersebut, akan dapat diketahui kelemahannya untuk selanjutnya dapat dilakukan perbaikan menuju kesempurnaan produk.

    Samuel P. Huntington, salah seorang ilmuwan terkemuka dunia, memberikan penghormatan yang tinggi terhadap peran budaya, ketika membandingkan Ghana dan Korea Selatan, yang dilanjutkan dengan pertanyaan :

    ”Bagaimana menjelaskan perbedaan yang luar biasa dalam perkembangan ini?”. Lalu dijawabnya sendiri, ”Tidak diragukan lagi banyak faktor yang berperan, tetapi menurut hemat saya, budaya memainkan peran besar. Penduduk Korea Selatan menghargai hidup hemat, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi, dan disiplin.

    Penduduk Ghana mempunyai nilai-nilai yang berbeda. Pendeknya, budaya mempunyai andil”. Huntington mengkisahkan betapa miripnya data ekonomi Ghana dan Korea Selatan pada tahun 1960-an awal. Dua negara ini memiliki tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang setara; porsi ekonomi mereka yang serupa antara produk, manufakturing, dan jasa primer, serta berlimpahnya ekspor produk primer, dengan Korea Selatan memproduksi sejumlah kecil barang manufaktur. Mereka juga menerima bantuan ekonomi dalam jumlah yang seimbang.

    Tiga puluh tahun kemudian, Korea Selatan menjadi raksasa industri ekonomi terbesar nomor ke-14 dunia, perusahaan perusahaan multinasional, ekspor mobil, alat elektronik, dan barang canggih hasil pabrik lainnya dalam jumlah besar, serta pendapatan perkapita yang mendekati Yunani (saat ini sudah jauh melampaui Yunani, red.). Tidak ada perubahan seperti ini di Ghana, yang PDB per kapitanya sekarang sekitar seperlimabelas dari Korea Selatan”.

    Korea Selatan (Korsel) saat ini tumbuh sebagai negara dengan ekonomi maju, khususnya di sektor industri. Inovasi di sektor teknologi jadi kunci Korsel menjadi negara maju. Walaupun Korsel bukan negara besar, namun bisa jadi eksportir terbesar nomor 6 di dunia. Transformasi pembangunan ekonomi telah mengubah Korea Selatan menjadi negara dengan inovasi teknologi. Korea Selatan memiliki budaya yang menunjang inovasi untuk kemajuan negaranya dimana elemen utamanya adalah fondasi pendidikan.

    Menurut Economist Intelligence Unit, Korea Selatan berada di peringkat kedua sebagai negara terbaik dalam sistem pendidikan di dunia, sesudah Finlandia. Pada tahun 2009, Korea Selatan memiliki 323 ribu peneliti, meningkat 2,5 kali lipat jumlahnya dibandingkan pada tahun 1997. Di samping itu, masyarakat Korea Selatan dikenal memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Di tahun 2012, negara ini dikenal OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Budaya kerja keras tersebut disertai pula dengan budaya inovasi. Korea Selatan dikenal memiliki tendensi untuk menjadi World Pioneer dibandingkan menjadi Fast Follower. Dalam skala 0-100, Korea Selatan memiliki nilai 76,5 dalam hal tingkat teknologi industrinya. Secara makro Korea Selatan menghabiskan sekitar 3,57% dari PDB-nya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan,”.

    Lalu gimana dengan negara kita ?? Silahkan dicerna…

    • secara mental bangsa ini memang harus pelan2 mau belajar demi sebuah perbaikan, budaya yang dikatakan oleh bung Jalo memang menjadi penghambat sebenarnya dari kemandirian teknologi negara ini..sayang hal seperti ini tidak muncul di debat cawapres kemarin, hanya sebatas retorika saja.

    • lain lubuk lain ikannya. lain suku lain budaya. Indonesia terlalu banyak suku bangsa. korea dan ghana hanya satu jens anak bangsa. lebih mudah membentuk masyarakat diatas satu jenis budaya. belum lagi geososial kepulauan. Memimpin Indonesia maju bersama sama setara dengan membawa maju bersama sama umat satu dunia.

      • Kalo menurut saya justru bisa menjadi keunggulan unik yang tidak dimiliki banyak bangsa di dunia Bung Kobu. Nenek moyang kita sudah lama meramalkan keunggulan ini sehingga tercipta Bhinneka Tunggal Ika.

        Amerika Serikat bisa mengungguli Eropa karena bersatunya ratusan bahkan ribuan budaya bukan hanya dari bermacam suku seperti Nusantara, tetapi dari bermacam Ras dari ratusan negara yang bermigrasi kesana.
        Namun kenapa mereka bisa mengolahnya dengan baik?
        Kuncinya hanya satu:
        “Sebuah Orchestra yang terdiri dari puluhan alat musik, tidak akan menghasilkan simphony yang indah jika tidak dipimpin oleh dirigen yang baik”

        Nusantara itu seperti miniaturnya Amerika, terdiri dari beragam etnis yang unik. Yang dibutuhkan cuma satu: Pemimpin yang bisa menyatukan keberagaman itu dan mampu menggali keunggulan masing-masing suku/etnis untuk menjadi 1 kultur budaya kerja (ingat yang disatukan adalah kultur budaya kerja, bukan budaya secara umum, kalo yang ini jangan sampe terjadi).

        Sayangnya setelah Soekarno-Hatta, belum ada dirigen lain yang sebaik mereka….
        Berharap, kita dapat memilih presiden penerus yang tahu apa yang mampu dikerjakan rakyatnya, apa yang mampu digali dari keunikan masyarakatnya dan mengangkatnya menjadi karakter bangsa. Jangan terulangi lagi hanya memilih pemimpin yang terlihat baik, tapi melakukan pembiaran berkembang-biaknya ular-ular yang justru menggali perbedaan antar suku dan golongan, memperbesar friksi dan saling-jegal……

        • mj@saya setuju pemaparan anda kawan,bangett…

        • setelah Soekarno – Hatta sebenarnya ada Bapak BJ Habibie yang merupakan dirigen terbaik setelah kedua proklamator…

          sayangnya semangat reformasi yang kehilangan arah membutakan kita membedakan mana yang harus ditinggalkan dan mana yang masih baik untuk digenggam

  18. Karena uu mengharuskan kalau impor harus ada te o te..dan karena produsen slalu ngasih syarat bisa dibonusin te o te kalau beli banyak,maka kedepan kalau ada yg ditongolin sebiji dua biji…aku ra percoyo….btw,saya penunggu setia sambil selalu ngelus dada,nunggu gandiwa dan ifx c 103 terbang di cakrawala nusantara…

  19. Hehehe…setuju bung…kalau emang kita harus seperti itu dulu,mari !

  20. “Tahap pertama adalah kebijakan tahun 2010-2014 yang menitik beratkan pada penetapan program pembangunan kekuatan, stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan, penyiapan regulasi industri pertahanan, dan penyiapan new future products”. Produk baru apa ya? udara, laut apa darat? 😀

  21. Anda sedang halusinasi ketika mengatakan Soeharto sama dengan Deng Xio Ping …..

    Deng Xio Ping tidak pernah menggadaikan negara dan rakyatnya kepada pihak asing seperti yang dilakukan Suharto (demi memenuhi tuntutan rakus keluarganya) ,,,,,

    • Bung Frans @ Bung Karno Karno yang Merebut Irian Jaya, Soeharto yang Mengadaikannya ke USA dengan nilai Royalti hingga kini hanya 1 % saja.
      Memang ekonomi kita morat – marit di zaman Soekarno, tapi semua itu adalah suatu kewajaran, karena Indonesia diblokade ekonominya oleh USA beserta sekutunya Inggris dll. Perlu diingat kejatuhan Soekarno SDA kita tidak tergadai kepada USA dan sekutunya.

    • orang yg berfikiran sehat sdh tentu tidak mendewa2kan bung karno dan menghujat soeharto..mereka berdua sm2 pemimpin bangsa yg punya kelebihan dan kekurangan msg2,saya bkn pengagum soeharto maupun sukarno,tp saya heran skaligus bangga rupanya nama SOEHARTO jauh lbh dikenal ketimbang sukarno,tentu org luar punya penilaian yg lbh jernih!

  22. Bung frans..seperti yg saya bilang sy jadi tahu posisi anda…

    Kalau anda membela mbah to ya monggo…bagi sy dia sama saja dgn polpot yg menyebabkan penderitaan rakyat kamboja tak terkira batasnya…sama sama the smiling general dimana senyumannya berarti maut…tanpa ada dia pun indonesia akan tetap maju karena sdh tuntutan zaman dan ahli ahli yg digunakan orde baru untuk melaksanakan repelita adalah hasil jerih payah era bung karno…semua ahli itu masih teguh memegang mazhab revolusi dan nasionalisme…beda dgn ahli ahli peninggalan mbah to sekarang yg kebanyakan money oriented sehingga mencari pekerjaan di luar yg lebih sugih hasilnya…

    • benar kata byk orang..hati2 dgn bahaya laten,bibit2 komunisme ternyata msh ada dan msh diperjuangkan utk hidup kembali!

      • @bung Frans apa dasarnya anda bilang komunisme itu berbahaya……???? sebaiknya kita telisik dulu lebih jauh seluk beluknya sebelum kita bilang sesuatu itu tidakj baik……..

      • Anda hidup dimana frans? Anda pikir darimana kata kata “dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat” kalau bkn keluar dr pemikiran para founding father kita yg belajar dari teori karl marx,engels dan david ricardo…

        Jangan munafik bung! Kecuali kalau anda org malay…pantes! :mrgreen:

  23. #####

  24. tapi meskipun rakyatnya hidup dalam bayang2 komunis, militernya terkuat kedua se asia dan belanda pun dibuat angkat kaki dari papua, sedangkan sekarang malah sebaliknya, rakyatnya hidup bebas aman sentosa tapi militernya masih kalah sama negara tetangga, semoga kelak militer kita kembali seperti orde lama dengan kondisi rakyat yang bebas aman sentosa yang hidup dari SDA tanah airnya, seperti WN Kuwait yang tidak perlu bayar pajak karena sudah tercukupi dari minyak dan gas buminya

  25. Zaman soekarno kita masih zaman perang bung… terbukti dengan belanda yg mencoba mengkalim lg indonesia sbg jajahannya ……. jadi sapa bilang zaman perang itu enak….? sepertinya anda perlu belara banyak sejarah…. tentang betapa besarnya pemikiran Soekarno ttg masa depan Indonesia

 Leave a Reply