Membangun Pertahanan Indonesia Part II

Kecepatan Mobilisasi Alutsista, Suplai dan Prajurit adalah Kunci

by Sugimura Agato

Pada part sebelumnya kita telah sedikit membahas kebutuhan Militer Indonesia untuk membangun sayap payung udara yang sangat kuat lewat pengadaan kapal perang berkemampuan perang anti udara atau Anti Air Walfare (AAW). Selain ditujukan untuk menjaga pertahanan Indonesia juga untuk menciptakan sebuah zona Anti Access Area Denial serta kemampuan untuk membangun Air Defence Identification Zone tersendiri, khususnya di daerah Laut Natuna Utara, Perairan utara Biak serta perairan selatan Pulau Jawa dan Sumatera.

Kemampuan payung udara tersebut bersama dengan kekuatan udara nasional yang tangguh tentu akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh rakyat Indonesia sekaligus memperkuat wibawa kedaulatan Indonesia di mata internasional.

Di titik inilah kecepatan mobilisasi akan sangat dibutuhkan untuk medukung serangan sekaligus sebagai pijakan pengerahan kekuatan militer Indonesia. Indonesia khususnya TNI-AL sudah lama dikenal sebagai angkatan laut dengan kemampuan mobilisasi pasukan dan logistik termasuk yang terbesar di kawasan Asia-Pasifik.

Hal ini karena didukung oleh kepemilikan puluhan kapal angkut berbagai jenis seperti LST (Landing Ship Tank) dan LPD (Landing Platform Dock) yang memungkinkan militer Indonesia untuk mengangkut hingga 15.000 – 20.000 pasukan siap tempur beserta logistiknya ke semua penjuru dalam sekali embarkasi. Hanya saja dengan penuaan beberapa LST yang telah berusia puluhan tahun tentu harus menjadi perhatian utama pimpinan militer Indonesia.

Ada beberapa pilihan yang bisa diambil termasuk pengadaan LST dan LPD baru untuk penggantian alutsista lama namun bisa saja seperti pemilihan LHD (Landing Helicopter Dock) akan lebih meningkatkan kemampuan mobilisasi pasukan melalui laut serta menambah sayap udara dengan penempatan beberapa helikopter anti kapal selam/kapal permukaan dan helikoper serang seperti Apache dan Mil Mi-35 yang telah dimiliki oleh militer Indonesia bisa digunakan dengan lebih efektif serta efisien.

Boeing C-17A Globemaster III. (@ Steve Lynes from Sandshurst – commons.wikipedia)

Selain itu untuk mobilisasi udara, kemampuan yang dimiliki oleh Indonesia dirasa masih kurang walaupun Indonesia sudah memiliki puluhan Hercules C-130 dan beberapa heli angkut sedang seperti NH-225 Superpuma, Mil Mi-17 dan AgustaWestland AW-101.

Hal ini dikarenakan kuda beban udara yang dimiliki oleh militer Indonesia masih belum mampu digunakan untuk mengangkut alutsista seperti MBT atau Medium tank yang dibutuhkan sebagai penggebuk utama dalam pertempuran di darat. Mengangkut artileri dan atau tank lewat laut masih membutuhkan waktu yang lama dan pengangkutan lewat udara akan bisa memberikan bantuan respon yang cepat dan kuat sebelum kekuatan utama lewat laut sampai ditempat tujuan.

Untuk itulah pengadaan seperti CH-47 Chinook serta A-400 Atlas yang telah diambil oleh pihak Indonesia lebih kurang bisa mengangkut jumlah alutsista dan atau suplai yang lebih banyak dengan cepat. A-400 Atlas memungkinkan untuk membawa 1 medium tank Harimau buatan dalam negeri hingga jarak 3.000 km dalam sekali angkut.

Hanya saja Indonesia masih membutuhkan banyak kuda beban udara dalam jumlah yang lebih banyak untuk orientasi kemampuan membawa tank dan atau artileri berat. Salah satu pilihan yang terbaik bisa datang dari Il-76 atau C-17 GlobeMaster.

Pesawat Il-76 mampu membawa beban 60 Ton untuk sekali angku hingga jarak 4.000 km, sedangkan C-17 walaupun lebih mahal dari il-76 tapi mampu membawa beban lebih berat dan lebih jauh, beban 71 ton mampu diterbangkan hingga jarak 4.480 km.

Dengan demikian C-17 bisa membawa 2 medium tank harimau atau 1 tank Leopard dengan jarak hampir 1.5x lebih jauh dan 2x lebih berat dari kemampuan A-400 Atlas. Dengan kemampuan mobilisasi lewat laut dan udara tentu kemampuan militer Indonesia dalam melakukan gelar pasukan bisa dilakukan dengan lebih baik dan lebih cepat ke setiap penjuru Hotspot yang muncul seperti di area Laut Natuna Utara contohnya.

Pengadaan alutsista sebanyak itu tentu akan membutuhkan anggaran militer yang sangatlah besar karena seperti banyak pemikir negara dan militer ternama, kita harus selalu sedia payung sebelum hujan, Ci vis Pacem, Para Bellum, bila kita menginginkan damai maka bersiaplah untuk berperang.

6 pemikiran pada “Membangun Pertahanan Indonesia Part II”

  1. sangat menarik artikel nya, ada titik masalah utk penguatan sarana mobilisasi, jika kita menambah pswt transport berat dan kapal LST dlm kuantitas besar tentu perlu waktu dan biaya besar …
    sy lebih memilih memperkuat doktrin pertahanan tiap pulau besar, tiap pulau minimal punya MBT + medium tank + hanud medium dan long range …masing2 diperkuat 1 yon penuh, kalo ada hot spot bisa langsung di cover pada hari yg sama.
    memang memiliki armada transport udara dan laut adalah wajib krn kita negara kepulauan, tapi memperkuat sista pulau besar biaya nya lebih kecil daripada pengadaan pswt transport besar.
    pemikiran sy mungkin berlaku utk menghadapi kalo ada konflik dg negara sekelas tetangga Asean + New Guinea + Timor Leste.
    apabila mengahadapi konflik dg negara sekelas Cina, Amrik, Rusia ataupun Aussie maka mobilisasi sista lewat udara dan laut akan beresiko tinggi, musuh punya kemampuan menyerang sampai ke titik dalam pertahanan kita.

  2. Nah kalo yg ini baru bisa dibilang penulis yg fair, tidak terkesan keberpihakan. Mengulas berdasarkan fakta dan data yg ada pada pihak barat maupun pihak timur.
    Biarkan para komentator yg menyimpulkan secara keberpihakan mereka, yg akan menjadi argumentasi diantara para komentar.
    Bukan pengarahan opini dr penulis. Sptnya kritikan saya ditanggapi positif oleh bung Gatol. Good luck bung…..xicixicixicixicixi

Tinggalkan komentar