Membentuk Pola Kemandirian Alutsista Indonesia

KRI John Lie (JOL-358) dan KRI Usman Harun (USH-359) yang baru tiba melaksanakan latihan formasi di Perairan Karimunjawa, Jateng, Minggu (28/9). [Antara/Joko Sulistyo] -
KRI John Lie (JOL-358) dan KRI Usman Harun (USH-359) yang baru tiba melaksanakan latihan formasi di Perairan Karimunjawa, Jateng, Minggu (28/9). [Antara/Joko Sulistyo] –

Untuk pembangunan alutsista Angkatan Laut, kita sebenarnya lebih unggul. Kenapa saya katakan demikian, karena teknologi yang kita miliki bukan sekedar prototipe dan perawatan, melainkan sudah mampu membuat dan memproduksinya.

Hal itu bukan given, tetapi berdasarkan visi yang dituangkan dalam pola kerja. Kala itu, atas perintah Presiden Pembangunan kita, Pak Soeharto, dipilihlah pemuda pemuda cerdas untuk peningkatan kemajuan pembuatan alutsista dalam kemandirian pertahanan. Salah satunya Pak Habibie. Selain kita menghasilkan N250 dari Jerman, kita juga mendapat ilmu dalam dunia pembuatan kapal terutama untuk tempur, maka dihasilkanlah Fast PatroL Boat 57meter (FPB57M).

Inilah cikal bakal KCR 40 meter hingga 60 meter. Seiring kemajuan teknologi dan tekanan teknologi dari negara lain, kita berusaha bekerja sama dengan negara lain, karena untuk maju kita tidak bisa menggunakan teknologi yang itu-itu saja. Kita kerjasama dengan Korea Selatan dalam pembuatan LPD yaitu kapal pendukung strategis yang mampu membawa ratusan tentara, 13 tank dan pendudkung lainnya. Inilah cikal bakal kita dalam membuat LST, LHD (yang juga ilmu pembuatannya diterapkan dalam FPB dan kapal tangker STAR50).

Berangkat dari ilmu pembuatan kapal tipe tersebut kita coba lebih maju lagi dalam pembuatan kelas frigate degan memperluas kerjasama yaitu dengan negara Belanda (begitu juga proyek refurbished KRI USMAN HARUN dari inggris) dari hasil kerja sama ini kita akan membuat cikal bakal frigate rasa nusantara atau biasa dikenal dengan PKR. Tapi selama ini kita hanya fokus di alutsista laut yang di atas permukaan.

Betul, kita menghadapi dilema untuk ilmu pembuatan kapal selam ini. Kita baru bisa menguasai kapal selam mini atau kecil (midget). Untuk yang lebih besar kelasnya kita belum sanggup. Oleh karena itu kita melanjutkan kerjasama dengan Korea Selatan setelah berhasil dalam pembuatan LPD. Yang paling membingungkan dari alutsista ini, selain dari ilmunya, untuk keberadaan kuantitas dari kapal selam yang dimiliki Indonesia juga sangat misteri. Karena jumlahnya yang diketahui cuma dua. Sungguh hal yang fenomenal bila dalam kerjasama ini kita bisa menghasilkan kapal selam yang deterannya lumayan diperhitungkan.

Dari ulasan dan paparan saya di atas, kita bisa ambil kesimpulan, setidaknya kita bisa menguasai ilmu dan membuat rangka sampai body (HULL), tetapi kita belum bisa membuat mesin dan persenjataannya, padahal itu lah jiwa dan pendukung utama dalam pembuatan kapal perang. Meski demikian gap itu bisa kita atasi sementara dengan menggunakan solusi Menteri Pertahanan yang membeli sambil mengupayakan agar ilmu pembuatan persenjataan kapal perang dapat kita kuasai seperti ketika kita mendapat kerjasama dengan Perusahaan CMI Belgia dalam membuat senjata api, mulai dari pistol, senapan serbu (SS1, SS2 dan SS3) hingga sekarang kita telah sepakat membuat Canon atau Turret Tank.

Untuk bisa membuat persenjataan kapal perang, ilmunya tidaklah mudah didapat, karena ilmu pengolahan logamnya tidak semudah seperti pembuatan bodi kapal perang dan panser. Belum lagi ilmu mekanis dalam pengisian rudal-rudal ke dalam canon atau turet kapal perang dan ilmu elektronika komponen dalam membidik target secara manual maupun otomatis. Oleh karena itu, saran saya ilmu ini kita cari dengan cara kerjasama dengan salah satu primary enemy, yaitu China.

Selain sebagai bentuk meredam memanasnya situsi di kawasan, kita juga mendapatkan ilmu dalam persenjataan dari blok timur. Ya, kalau blok barat kita sudah bekerja sama dengan Belgia yang telah lama bekerjasama dan memiliki hubungan emosional dalam pebuatan senjata api. Kini telah berkembang menuju ke canon atau turret yang akan dipakai untuk tank yang sedang kita produksi. Kerjasama pembuatan senjata dengan Belgia masih dalam skala medium dan belum mencapai skala besar, seperti pembuatan persenjataan taktis berat. Indonesia harus menjaga hubungan yang baik dengan Belgia dan semoga ke depannya CMI Belgia mau membuat MOU untuk senjata yang lebih advance. Bagaimana saran PARA SESEPUH mau ditambahkan, silakan.

(by Pengusaha Coto Makassar).

Tinggalkan komentar