Apr 102014
 
F-5 Tiger TNI AU (photo: Eddy Februanto Putra)

F-5 Tiger TNI AU (photo: Eddy Februanto Putra)

Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara masih mengkaji calon pengganti pesawat tempur F-5 Tiger yang akan dikandangkan. Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis, mengatakan empat pesawat generasi 4,5 atau mendekati kemampuan pesawat siluman atau antiradar yang dilirik adalah Sukhoi Su-35 buatan Rusia, SAAB JAS Gripen produksi Swedia, Dassault Rafale dari Prancis, serta Boeing F/A-18E/F Super Hornet bikinan Amerika.

“Masih kami pertimbangkan dari sisi anggaran. Kami mempelajari yang paling menguntungkan pemerintah,” kata Rachmad kepada Tempo di kantornya, Rabu pekan lalu. Rachmad belum bisa memastikan jumlah anggaran untuk membeli pesawat baru.

Sumber Tempo di Kementerian Pertahanan mengatakan sebenarnya ada usulan baru pengganti F-5 Tiger. Yaitu Eurofighter Thyphoon yang diproduksi bersama oleh Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia. Usul pembelian Thyphoon diajukan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Menurut sumber ini, PT DI beralasan para produsen Thyphoon lebih mau berbagi ilmu atau transfer teknologi. Bahkan, sangat mungkin PT DI diberi lisensi memproduksi beberapa suku cadang. “Kalau pesawat buatan Amerika dan Rusia tak ada transfer teknologi,” kata si sumber. Berdasarkan Undang-Undang Industri Strategis, pembelian alat utama sistem persenjataan dari luar negeri harus disertai dengan alih teknologi.

Direktur Teknologi Penerbangan PT DI Andi Alisjahbana tak mau berkomentar tentang usulan perusahaannya. Dia hanya mengatakan pengadaan persenjataan sebaiknya tak hanya melihat kecanggihannya. “Tapi diperhatikan pula kesediaan negara pembuat untuk membagi teknologi dengan industri dalam negeri,” katanya.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto menanggapi positif usulan Typhoon sebagai pengganti F-5 Tiger. Musababnya, Typhoon punya kemampuan relatif sama dengan calon pengganti lainnya. Hadi juga menilai pembelian Typhoon bakal menambah varian pesawat tempur Angkatan Udara. “Tapi keputusan pembeliannya berada di Kementerian Pertahanan.” Sejumlah pilot tempur yang ditemui Tempo justru menilai pemerintah seharusnya membeli Sukhoi Su-35. Pesawat ini dianggap superior di udara dan menimbulkan efek gentar bagi negara tetangga. Tempo.co / INDRA WIJAYA

Bagikan Artikel :

  213 Responses to “Memilih Pengganti F5 Tiger TNI AU”

  1. no koment

    • numpang

    • Saya rasa kita harus merapat ke om ruskie, kasih perbandingan dan referensi bahwa kalau om rusky ngasih brazil lisence atau TOT kenapa ke indonesia ogah2an. Indonesia siap berbagi untuk kemajuan ekonomi bersama. Kita bisa menjamin komitmen pembelian semua alutsista yang diproduksi Rusia selama ada pembagian ilmu TOT. Kita bisa kasih tambang tambang dan proyek2 besar sebagai offset counter trade dengan om Rusky. Selama ada kemauan dan usaha mudah2an dapat ilmu TOT yang sangat kita butuhkan. Kalau jawabannya , Brazil belinya puluhan squadron, kita juga bisa beli lebih , selama ekonomi kita maju dan anggaran pertahanan dinaikkan terus pertahun, kita pasti bisa mencapai target jumlah pembelian. Kalau tidak mau juga, kita harus ingat ingat, mungkin masih terasa bahwa ” Om Rusky pernah dikhianati” di era Orla atau Orba sehingga ngambek.

  2. Sukhoi su-35 + TOT

  3. pertamaxx

  4. beli yang kelas herder,,,su-35 titik

  5. . berharap su 35 yg d bungkus.. Kga usah bnyk2 6 biji aja udah bkin ttangga rame.

  6. beli dua duanya saja, dananya masih banyak kok..

    • benar bro, negara kita negara kaya kok,…….(gak semua orang tau)

      • beli aja SU 35 Jangan di korup uang itu.. bongkar untuk beli senjata

      • mungkin gak banyak yang tahu, termasuk orang Indonesia sendiri..
        bahwa negara ini adalah negara terkaya di dunia. saya tidak perlu menyebutkan potensi2nya.
        itulah kenapa kita selalu jadi rebutan. coba kalu negara ini di kelola dengan bener, oleh orang2 yang berkompeten dan jujur (minimal gak korupsi lah..)

        ntah berapa tahun lagi, sekarang sedang proses menuju yang lebih baik. perkiraan saya 5 tahun kedepan sudah keliatan terang sinarnya Nusantara tercinta..
        maap jadi melankolis kalo ngomongin Nusantara.. hehehehe

  7. No berapakah ….

    Semoga saja yang di pilih rafale. #hope
    Dan SU-35 tetap di bungkus, semoga pada waktu pergantian pemimpin nanti tidak ada yang membatalkannya.

  8. Cuma SU-35 yang melekat dihati. Keuntungan nya sudah jelas : anti embargo, logistik tidak sulit lagi, kemampuan tidak diragukan lagi.

    • Ga ada jaminan dr negara manapun yg bebas dr embargo bung…

      • Klo dr liat sejarah rusia yg dulu msh Uni soviet jg pernah mengembargo loh bung… saya sih bkn pro barat atau timur saya cm menggarisbawahi pernyataan bung yg anti embargo… hayoo blok timur jg pernah menyakitkan loh bung dri pesawat pengembom, kapal selam sampai kapal penjelajah KRI irian sama2 pernah merasakan sakit’y embargo.. think smart 🙂

        • Rusia tidak pernah mengembargo dengan alasan HAM lho. Dan kita paling rawan kena embargo dengan alasan HAM.

          • Tp tetep aja bung siapa yg bs menjamin bebas embargo? Jgn trlalu mendewakan russia bung.. tetep aja smua sarat kepentingan politis… apa msh ada jaminan rusia ga mengembargo indonesia jika terjadi perubahan kebijakan dri calon pemimpin RI di masa depan ataupun sebalik’y yg cenderung pro ke barat? Hayok direnungkan lg, jgn trlalu termainstream pro ke russia

      • Cara bebas dari embargo adalah mandiri…
        Selain itu keuntungannya banyak, harga satu pesawat import mungkin kita bisa dapatkan lebih murah… Coba lihat negara besar, mereka menjadi raksasa karena mereka punya industri maju didalam negerinya. Kta mau menjadi negara besar yg punya efek bergaining dengan negara lain, atau menjadi negara yg selalu dijajah secara halus?? renungkan 🙂

    • Setidaknya lihat dari sejarah bung. Kalau memang gk 100% bebas embargo, tapi setiaknya kemungkinan itu terjadi kecil. Bandingkan dengan negara2 barat yang sudah jelas menyakitkan bangsa indonesia.

      • Klo dr liat sejarah rusia yg dulu msh Uni soviet jg pernah mengembargo loh bung… saya sih bkn pro barat atau timur saya cm menggarisbawahi pernyataan bung yg anti embargo… hayoo blok timur jg pernah menyakitkan loh bung dri pesawat pengembom, kapal selam sampai kapal penjelajah KRI irian sama2 pernah merasakan sakit’y embargo.. think smart

        • Uni Soviet dulu embargo karena ada perubahan orientasi politik yang radikal saat pergantian era Sukarno ke Suharto. Sedangkan embargo barat terjadi saat Suharto, ketika kita tetap di “poros” barat, tetapi muncul tuntutan tentang HAM.
          Berkaca dari itu, memang tidak ada jaminan bebas embargo. Tapi juga dalam sejarah hubungan dengan Uni Soviet dan Rusia, kita tidak pernah direcoki masalah HAM, meskipun tidak ada yang bisa menjamin di masa depan Rusia akan tetap seperti itu, atau akan muncul isu lain yang saat ini belum terlihat.

        • Diembargo Uni Soviet karena pemerintahan orla jatuh kepada orba pimpinan Soeharto dan banyak tehnologi Uni Soviet dibocorkan ke Amerika saat itu. Kalau Rusia melakukan embargo saat itu kepada Indonesia apa salah?.
          (Pernahkan hal ini diliput atau dibahas oleh pers. Saat Soekarno jatuh ada kapal angkut Uni Soviet datang dan mau merapat dipelabuhan tanjung priuk membawa Mig 17 dan Mig 21. Namun saat kejatuhan Soekarno kapal tersebut kembali ke Uni Soviet membawa Mig 17 dan Mig 21).

        • om Andry, di”embargo” unisovyet kala itu karena RI jatuh ke tangan rezim orba. Pelajari juga detail bagaimana proses peralihan dari sukarno ke suharto. think smart 🙂

        • Bung ace & didoth jgn trlalu termainstream pro russia… point saya sebenar’y hanya utk menggarisbawahi pendapat dr bung brici yg mengatakan anti embargo produk russia.. saya katakan ini bukan jaminan bung kita bebas embargo, smua pasti punya peluang utk terkena embargo dr blok barat ataupun timur… bagi saya pribadi sih lbh baik ttp bermain elegant yaitu non blok serta di dukung kemandirian alutsista.. think about it!

      • Kita pelajari penyebab nya kenapa Uni Soviet embargo kita bung? Yang jelas ada perbedaan alasan pihak barat embargo, mereka selalu menggunakan alasan HAM.

        • Nah itu point’y bung jadi tidak ada jaminan dr negara manapun yg bebas emabargo trlepas dari alasan HAM atau sbagai’y.. inti’y spt yg dikatakan bung jalo hrs ada kemandirian alutsista… gausah trlalu berharap byk sm russia.. 🙂

          • Kemandirian itu butuh proses, juga butuh waktu. Saya pribadi lebih respek terhadap Rusia. Melihat komitmen pemerintah Rusia terhadap kebijakan penjualan senjata Rusia. Komitmennya seperti apa, tentunya om Andry sudah tahu, kalau belum silahkan baca, cari info resmi dari pemerintahan Rusia.

          • Komitmen yg mana bung? Bagi saya sih itu sekedar lips service aja, cm omongan org dagang biar laku jualan’y… ttp aja klo itu senjata seandai’y di pakai utk melawan russia ataupun kebijakan pimpinan RI di masa depan tdk sesuai dgn harapan russia apa msh rusia mengatakan bebas embargo?? Mari di renungkan kembali baik2.. jgn trlalu termainstream pro ke russia.. lbh baik spt saat ini non blok

          • Ingat landasan kita bung…

            Politik Luar Negeri Indonesia dilaksanakan berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 khususnya alinea II dan IV menegaskan bahwa negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat berhak menentukan nasibnya sendiri, serta berhak mengatur hubungan kerja sama dengan Negara lain.

            UU No. 37 tahun 1999 pasal 3 dan pasal 4 menegaskan, bahwa prinsip politik luar negeri kita adalah bebas aktif dan dilaksanakan melalui proses diplomasi yang kreatif, aktif dan antisipatif, tidak sekedar rutin dan reaktif, teguh dalam prinsip dan pendirian serta rasional dan luwes dalam pendekatan.

            Politik Luar Negeri Indonesia dilaksanakan berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 khususnya alinea II dan IV menegaskan bahwa negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat berhak menentukan nasibnya sendiri, serta berhak mengatur hubungan kerja sama dengan Negara lain.

            UU No. 37 tahun 1999 pasal 3 dan pasal 4 menegaskan, bahwa prinsip politik luar negeri kita adalah bebas aktif dan dilaksanakan melalui proses diplomasi yang kreatif, aktif dan antisipatif, tidak sekedar rutin dan reaktif, teguh dalam prinsip dan pendirian serta rasional dan luwes dalam pendekatan.

    • Saya pernah menulis kok tentang embargo rusia coba kita review

      Embargo Militer dari pihak Timur juga pernah kita alami saat penggantian orde lama ke orde baru. Saat itu pihak Uni Soviet memutuskan hubungan dikarenakan kecewa dengan Indonesia yang jatuh ke pelukan barat, sehingga membuat kekuatan militer kita dari yang terkuat di belahan bumi paling selatan, menjadi sebaliknya. Seharusnya saat itu Presiden Soeharto bisa memainkan kartu dan diplomasinya dengan CANTIK yaitu tetap Ideologi negara ini berpaling ke blok barat tetapi tetap mempertahankan kekuatan militernya yang dari blok timur yang sudah terbangun. Hal tersebut dilakukan oleh Mesir sehingga pihak barat tidak seenaknya mendikte kebijakan Mesir. Sementara Indonesia, kita membebek saja karena kekuatan militernya sudah dipaksa untuk dipreteli.

      Pak Harto mulai sadar dengan membuka hubungan baik (PEMULIHAN) dengan pihak Uni Soviet diawali dengan berlangsungnya pertukaran nota pengesahan protokol pada 4 Juli 1968 di Jakarta yang membahas kewajiban pembayaran kembali hutang Indonesia kepada Uni Soviet, serta pemulihan kembali soal soal hubungan ekonomi antara kedua negaradan negara negara blok timur lainnya. Berlanjut ke persetujuan mengenai kerjasama ekonomi dan teknik dengan Rumania pada bulan september 1972 dan dengan Uni Soviet bulan Desember 1974, serta memulai kedekatannya dengan militer Rusia di era 1990, untuk penjajakan pembelian Pesawat Sukhoi 27 (setelah diembargo 1991). Mungkin Pak Harto di masa terakhir pemerintahannya menyesal dengan terlalu mempercayai pengadaan alutsista militernya terhadap blok barat.

      http://jakartagreater.com/pola-pembelian-alutsista-menuju-kemandirian/

  9. Kalau ada dananya sih, mending beli sekalian 1-2 skuadron F-35, biar tetangga makin “ngeri-ngeri sedep”.

  10. Aduuuh, saya lagi maksudnya Copy paste…

    • Rencana pengakuisisian Thypoon kemungkinan bakal mbulet nih seperti Leopard bung Jalo…dilihat dari histori masa lalu dan kondisi parlemen yg akan berganti…mayoritas kursi diparlemen mendatang kan bukan Demokrat lagi..PT.DI punya klausul seperti apa seandainya mau bekerjasama dengan Eurofighter??

      • Kan sering saya bahas seperti tulisan di tempo itu, “Menurut sumber ini, PT DI beralasan para produsen Thyphoon lebih mau berbagi ilmu atau transfer teknologi. Bahkan, sangat mungkin PT DI diberi lisensi memproduksi beberapa suku cadang. ”

        Ada namanya basic knowledge, self improvment dan program ToT. Itu tujuan agar kita bisa melangkah ke teknologi selanjutnya. Nah untuk basic knowledge dan self improvment saya rasa insinyur kita sudah bisa. Nah untuk program ToT ini ada berapa persen yang kita belum bisa. Dalam tawaran mungkin seperti Aiframe dan Avionicsnya. Dan juga disitu pihak Typhoon mau berbagi apalagi kita diberi lisensi memproduksi beberapa suku cadangnya. Ini penting karena dari suku cadang akan jadi pesawat tempur rasa Indonesia. Optimis aja, seperti kata teman “ada kepercayaan maka kami bisa lakukan”…

        Ambil contoh N-219, N245…. Lihat sejarahnya sampai akhirnya kita berencana membuatnya. Salam

        • Setuju bung drpd beli mahal2 tp ga dapet ilmu apapun… tidak menutup kemungkinan kan PT. DI dri belajar tukang jahit/sulam pesawat menjadi desainer skaligus punya konveksi’y… point penting’y bs mendapat/mencuri ilmu sebanyak2’y demi kemandirian/swasembada produksi alutsista.. karna tidak ada jaminan dr negara manapun baik itu blok barat ataupun timur bebas embargo

        • Kan kita mau jadi negara raksasa, dan industri dalam negeri adalah salah satu syarat…

        • Yang tak boleh dilupakan juga industri komponen. Harus mengarah ke sana, meskipun bertahap.

        • N219 dan N 250 mungkn maksudnya bung jalo.ataw mungkn ada N245? Minta pencerahan lg ne!maklvm nyubi!

        • Ada N-245 bung tapi nunggu N-219 selesai dulu. N-245 desain daa mock-upnya udah ada. Ini namanya CN-235 New-G tapi disini namanya N-245

  11. Dan negara kita juga memilih stop-gap dari Rusia…

    • @ bung jalo
      Wah bang, berarti program KFX/ IFX nya ga jd gt atau di pending? Trus nasib dana yg sudah di gelontorkan bagaimana?
      Apabila programnya di pending/ batal, berarti kita konsen ke LFX atau progeram LFX juga akan terkena dampak?
      Waduh, kapan dong kita bisa bikin pespur 4++/5 sendiri dong?

      • Bung UCAV, program IFX tetaap jalan karena kita dananya sudah disiapkan… Nah ini mungkin loh, program baru bisa DIFX atau apa ghitu. kalau LFX itu program agar kita bisa tahu tentang Basic Knowledge dan Self improvment… IMO

  12. Coblos apa aja yg ptg bisa bikin tetangga tdk bisa tidur nyenyak 🙂

  13. saya setuju sama bung jalo……tapi untuk menambah daya getar dan daya bargaining untuk negara kita, saya rasa membungkus 6 unit atau 1 skuadron SU 35 saya rasa masuk akal, dan pastinya bikin saya merasa aman hehehehehe

  14. Tumben, warjager sepi. Saya jadi yang pertama komentar. Apapun pesawat tempur yang dipilih, saya berharap pemilihan tetap didasarkan pada rasa kebangsaan dan cinta tanah air melebihi pertimbangan politis semata-mata.

  15. seandainya pemerintah adakan Pilsista (Pemilihan Alutsista).. Pasti masyarakat piluh SU-35… 😀

    Masih terbawa suasana Pemilu… 😀

    • tul om..240 jt rakyat brgantung pd pilot2nya, saatnya ngikuti apa maunya pr pilot.

    • betul bung. Pilot yang lebih tau, karena mereka yg merasakan langsung bgaimana kinerja pespur tersebut. Petinggi TNI pun idamkan SU-35 jadi milik TNI.

      • setuju sih, saya pribadi juga pendukung Su-35 ( dan Rafale :mrgreen: ), terus terang jika Typhoon membatalkan rafale atau Gripen (apalagi Su-35), saya agak kecewa juga, tapi mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan rencana kemandirian alutsista jangka panjang.

        kabar bagusnya, konon issue Typhoon tidak ada hubungannya dengan rencana Su-35. Amin

        • Akur bung now..itu memang tidak berhubungan soalnya SU 35 itu kesayangan pak de..hehehe

        • Iya bung nowy, saya berharap program EF typhoon tidak mempengaruhi program SU-35. Saya yakin pihak think-think kita tidak akan melupakan sejarah masa lalu Indonesia mengenai embargo. Setidaknya typhoon di akuisisi sebagai dasar untuk kemandirian Indonesia dalam pembuatan pespur sendiri. Dan untuk daya gentar TNI AU, tetap menjatuhkan pilihan ke SU-35.

          Salam NKRI

        • setuju bung. ato jangan2 su35s + ET (tot bayangan)+jin Rafa (tot resmi) karena masing-masing punya spesifikasi tempur sendiri2.maaf orang oot

        • Sudah sembuh bung Nowy..?? hehehe
          Akur banget bung, SU-35 + Rafale. Tidak ada satu produsen pun yang pada akhirnya memberikan 100% TOT. Pertanyaannya, kalau Dassault kasih TOT 40-50% dan Eurofighter kasih 60-65% TOT dari struktur pesawat, mana yang akan kita pilih?
          Pada akhirnya kalaupun TOT 100% ( walaupun sepertinya impossible ) tetap saja akan disesuaikan dengan kenyamanan pilot-pilot kita sebagai usernya kan?

  16. Andaikan semua pihak yg punya wewenang tentang pengadaan alutsista untuk mau berunding dan saling mengedepankan kepentingan industri strategis bagi bangsa ini, maka pilihan paling pas adalah pespur sebagai pengawal matra udara harus pilihan ke pesawat yg mau memberikan ToT yg paling menguntungkan buat RI

    Yang namanya alutsista impor, itu rawan embargo

    Semoga pengadaan pesawat buat TNI lancar dan segera disetujui secepat-cepatnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya 😀

  17. Setuju bung BRICI…. min 3 skuadron SU-35 1 Skuad SU-34….muantaappps.. sayang ya sy caleg daerah , coba kalau caleg dpr RI.. dan sampai senayan…waaaah… mungkin rame deh Sukro Family…hehehe

  18. ternyata hoax warjag terus diamini mainstream media, obat anti mabok untuk yang ga kuat jalan berliku 🙂

  19. Lam knl para sesepuh,ane lebih condong su 35 yg mnimbulkan efek getar gemuruh gledek di skitar kwasan,mmberi pesan tegas kpda ttangga yg suka usil tuk jgn bertingkah di wilayah nkri,krna nkri hargi mati,jas merah jng lupa kn sejarah bhwa indonesia merdeka dngn prjungan smpe titik darah trakhir hngga trcipta nkri,skali merdeka tetap merdeka nkri hrga mati,kami rakyat siap angkat senjata demi nkri

  20. Seandainya ada pemilihan umum alutsista, maka su 35 langsung dicoblos oleh kaum warjager bersaing ketat dengan jin rafa sebagai lapis kedua…..
    NKRI harga mati!!!

  21. Sudah lama wacana pengganti F-5 digulirkan

    Hingga kini masih dimatangkan oleh Kemenhan

    Buat saya orang awam jika yang dibeli Typhoon syukur, Rafale juga syukur, SU-35 lebih syukur lagi

    Yang penting tidak ada wacana pembatalan dari presiden/pemerintahan baru periode 2014-2019

  22. sya renang2 ditmptnya mbh google nemu ini gan
    http://haryopanji.deviantart.com/art/IFX-25A-Archer-421357427
    haryopanji.deviantart.com/art/IFX-25A-Archer-421357427
    maksudnya apaan nich????

    • Persis sama sukhoi su-47 irkut ..pesawat percobaab buat penelitian ,, wah masak IFX body nya gini

    • Devianart itu kalo nggak salah adalah tempatnya para kreator seni nongkrong. Nah, sepertinya IFX25A di-link tersebut adalah model kit dimana modelnya sendiri adalah hasil imaginasi si senimannya itu. CMIIW

  23. SU-35 udah pasti bikin ngeri tetangga..ngeliat kedepanya konflik di LCS mulai memanas sudah seharus’a kemenhan sehati dgn keinginan pilot.. Tpi ToT jga di butuhkan..menurut ane sebagai orng awam kemenhan bakal ambil SU-35 2skuadron and EF typoon..

  24. Kalau bisa tetap family Flanker’s S35serinya ambil 3 squadron dulu…masalah TOT IFX masih jauh dari harapan kemandirian nantinya akan tercipta dari kebiasaan mentenennya untuk mengotak-atik si flanker’s family siapa tau si beruang mau ngasih copynya…karena masih diliat kesetiaan RI dengan si beruang apa tidaknya..

  25. Berkenaan dengan alutsista, kalau menurut saya , menjaga kedaulatan, integritas, dan kehormatan bangsa dan negara itu adalah prioritas utama; baru kemudian ToT guna kemandian kita. Siapa yg bisa menjamin 100% kalau besok atau tahun depan kita tdk akan terlibat konflik terbuka atau perang? Kemudian jika ToT “dipaksakan” juga (pespur misalnya), siapa yg berani menjamin kalau 5 atau 10 tahun mendatang kita bisa membuat pesawat tempur (sekelas medium fighter paling tidak)?

    Pesawat tempur jelas teknologi dan kompleksitasnya jauh diatas APC atau medium tank; medium tank saja kita belum bisa membuatnya (barangkali baru sebatas prototype). Kemandirian beralutsista tentu saja merupakan cita2 indah dan mulia, tapi kita juga mesti realistis. Saya pastikan, negara yg ingin mendapat ToT dan mandiri di bidang alutsista canggih itu tdk hanya negara kita.

    Comment saya ini hanya agar kita sedikit realistis saja, agar tdk selalu “mendewakan” yg namanya ToT. Negara kita ini masih berkembang, maka anggaran (alutsista) jg pasti sangat terbatas. Saya itu bingung mencari rumusnya; maaf, bagaimana bisa kita mendapat ToT dg mudahnya kalau kita (sering) membelinya ketengan. Apakah negara kita ini begitu berjasanya kepada negara2 produsen alutsista canggih, sehingga sedikit2 lalu bicara minta ToT? Akuisisi cash murni (dan tanpa ToT) saja saya kira tidaklah mudah, apalagi dg ToT bahkan kredit. Pertinbangan ekonomis/bisnis selain politis/militer tentu saja mengemuka dari sisi produsen. Lihat saja China dan India. Mereka ini memperoleh kemajuan dan kemandirian alutsista tidaklah melalui jalan yang gampang, murah, dan singkat; bahkan sampai saat ini mereka msh aktif mengimpor (paling tdk sebagian), dan produk alutsista yg mereka hasilkan sebagian jg masih “sempoyongan”.

    Sebagai seorang anak bangsa, tentu saja saya juga memgharapkan dan mendambakan suatu saat kelak kita bisa mandiri termasuk urusan alutsista canggih; tapi cita2 tentu saja mestinya tidak boleh cuek begitu saja terhadap realita.

    ===== hanya pendapat orang awam =====

    • bung Flanker… saya tanya ini deh, realita mana saat Indonesia meluncurkan roket buatan sendiri dibanding membeli roket dari luar… realita mana saat N-250 diterbangkan dan diliput atau diikuti intelijen asing dari pada kita membeli pesawat dari luar. realita mana saat kita membuat kapal sejenis trimaran daripada membeli dari luar… Itu baru sebagian realita, saya ambil kata KSAD—> “Sejelek apapun alutsista yang kita buat sendiri, orang akan lebih takut dibandingkan kita membeli yang kurang bagus dari luar, kecuali yang super bagus.”

      nah kalau mengerti artinya omongan KSAD yg juga sebagai Sekjen Kemenhan mungkin anda akan mengerti…. kenapa ToT, karena negara kita tertinggal dalam bidang teknologi…

      • 1, Saya tidak pernah membenci ToT; yg saya maksud jgn sedikit2 ToT…sedikit2 ngomong ToT. Beli beberapa biji maunya ToT.
        2. N-250 itu mesinnya siapa yg buat bung? CN-235 itu mesinnya negara mana yg buat bung? Avionicnya?
        3. Yg anda maksud itu roketkan bung, belum rudal. Oya, negara kita ini di Asia termasuk yg senior lho. Kalau kita mau ngejar ketinggalan dari China atau India, ga bisa selalu ketengan bung utk mengharap ToT.
        4. Trimaran yg anda maksud itu mesinnya buatan mana bung? Bagaimana dg radar, elektronik dan senjatanya bung?
        5. Tentang senjata bikinan sendiri akan membuat negara lain lbh takut, saya rasa ini masih debatable.

        • 1. Pertama anggaran negara kitanya bisanya segitu, Kemenhan maunya lebih tapi alasan bapak2 yg terhormat program pemerintah ini bukan hanya Kemenhan, masih banyak yg lain. Seperti pendidikan yg mendapat jatah 20%, dan hasilnya tingkat pendidikan kita belum juga naik. Belum lagi pembangunan ekonomi dan daerah tertinggal. Sampai ada anggaran di APBN TNI untuk memajukan daerah perbatasan, lah ini bukannya tugas Kementrian PDT. Nah dengan anggaran segitu ada yg menawarkan ToT, apakah kita harus melepaskannya??

          2. N-250 itu menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison. Ok setidaknya itu pesawat pertama nilai komponen lokal diatas 50%. nanti kalau sudah berjalan pasti nilai komponen lokal itu akan naik. Untuk mesin, dalam waktu dekat Rolls Royce akan membangun mesin pesawat di dalam negeri. nah disni kita bisa belajar dan mudah2an kedepan rencana BUMN membuat salah satu pabrik mesin strategis bisa terlaksana. Setidaknya lakukan dulu ToT-nya, di UU No. 16 Th. 2012 TENTANG INDUSTRI PERTAHANAN menyatakan adanya imbal dagang, kandungan lokal dan/atau ofset paling rendah 85% (delapan puluh lima persen) lalu kandungan lokal dan/atau ofset sebagaimana dimaksud pada huruf e paling rendah 35% (tiga puluh lima persen) dengan peningkatan 10% (sepuluh persen) setiap 5 (lima) tahun.

          3. Yakin kita belum membuat rudal?? di artikel2 warjag cintailah industri strategis Indonesia sudah ad tuh bung, lengkap beserta foto. Nih link-nya http://jakartagreater.com/cintailah-produk-produk-dalam-negeri/

          4. Ok mesinnya buatan luar yakni 4 X C32 Caterpillar. Tapi di UU nomer 16 tahun 2012 yg saya sebut diatas nilai komponennya akan naik terus.

          5. Coba sekali2 main ke sini : http://malaysiaflyingherald.wordpress.com/2012/04/09/indonesias-splv-is-it-peaceful-altogether/

          Atau ini, http://www.scoop.co.nz/stories/WL0910/S01681/cablegate-missile-technology-control-regime-mtcr-us.htm

          Ok saya tidak akan buka masalah ini, karena negara kita dipantau yg namanya MTCR itu…

          • Jadi gini; kita tentu sepakat ToT dan kemandirian itu adalah cita2 yg mulia dan mesti diraih; dan untuk mencapainya pasti ada “harga” yg harus dibayar.

            Kita jg tentu sepakat kalau kemampuan negara kita jg (sangat) terbatas. Oleh karenanya, menurut saya ToT dan kemandirian itu harus dilakukan bertahap; misalnya mengenai KS dan rudal dulu. Matangkan dan pastikan dulu keberhasilan kedua item ini. Jangan sampai nanti ada kesan kalau kita itu “nafsu besar tenaga kurang”; ingin semuanya diraup sekaligus dan dalam tempo yg sesingkat-singkatnya.

            Kemandirian jg hendaknya dilihat dari sisi ekonomis. Diharapkan kemandirian (yg pada akhirnya jg menumbuhkan kebanggaan) itu jg menunjang perekonomian; setidaknya bukan malahan merugi atau menggerogoti keuangan negara. Oleh karenanya, negara semapan Prancis misalnya skrg ini sibuk memasarkan Rafale; ini berkaitan dengan nilai ekonomis yg ingin mereka dapat.

          • Terima kasih bung Flanker untuk diskusinya…
            Salam damai untuk bung Flanker…

            Bener bung, dalam kemandirian alutsista PR kita sangat banyak… Saat kita mengejar teknologi pespur sampai selesai saya rasa kita baru bisa di gen 4.5 sedangkan negara2 lain sudah berada di gen 6. Saat kita membuat medium tank, tiba2 muncul tank yg bisa menghindar dari sensor panas, seperti yg dibuat Polandia dan BAE System. Begitu juga dengan KS, saat kita baru membuat tipe medium, negara2 lain sudah memiliki KS Nuklir. Miriiis sekali ketinggalan kita, benar seperti kata bung Flangker

            “Kita jg tentu sepakat kalau kemampuan negara kita jg (sangat) terbatas. Oleh karenanya, menurut saya ToT dan kemandirian itu harus dilakukan bertahap,”

            nah tahapan itu sudah kita lakukan. Nah untuk pespur seperti yg sudah dibahas bung Satrio disebelah. Untuk menunggu kehadiran pespur rasa kita dengan teknologi canggih itu kita perlu stop-gap-nya. Dan Pespur Rusia yg masuk ke nominasi kita.

            Untuk masalah Kemandirian jg hendaknya dilihat dari sisi ekonomis. Itu sudah saya coba angkat tulisan dari salah seorang pimpinan Litbang Kemenhan, disitu sudah menjelaskan semua… Semoga artikel itu bisa menjawab pertanyaan bung Flanker…

            Jabat tangan kita bung 🙂

          • Bung Flanker
            Menjaga harga diri dan integritas bangsa itu tetep nomer satu
            Untuk pemenuhan stopgab Dan keperluan daya tangkal kita tidak terlalu rewel TOT nya.,tetapi kalau masih bisa diminta dan bisa menguatkan Inhan kita kenapa tidak ? Toh kita tetep mendapatkan TOT lho walau belinya ngeteng..misal TOT pemeliharaan sampai depohar tingkat 2 atau tingkat tiga,,,jangan asal beli tetapi kagak bisa ngerawat malah boros dianggaran seperti Sukhoi MKM yang TOT nya diminta dengan program mengikutkan warganya sbg Astronut.
            Kalau belia alutsista yang teknologinya menengah yaa syarat TOT nya makin ketat agar kita dapat ilmunya sesuai kemampuan teknologi kita,

            Bila nanti kita sudah bisa bikin (menjahit) pespur medium sendiri ,,saat beli sukhoi family heavy Fighter yaa kita minta TOT yang lebih berat misal mesin,atau perangkat ECM dll,..
            MUMPUNG ada program MEF kita ndompleng pembelian alutsista untuk mendapatkan TOT menuju kemandirian (Mendompleng MEF Menuju Kemandirian.)..kapan lagi ada program MEF ,,kita aja stagnan puluhan tahun belanja militer gede gedean.

            Masalah dana analoginya begini
            Anda tentu tidak menyerahkan semuanya penghasilan anda (take Homepay) kepada istri anda semua untuk daftar belanja dan tabungan keluarga kan ? (ayo ngaku 😀 )
            Pasti ada uang Laki ( Duwek lanang bahasa jawanya) entah penghasilan itu dari side job (kerja sampingan ) ,ngobyek,penghasilan dari hoby,,atau hasil keuntungan usaha dari perusahaan keluarga (warisan) yang uangnya anda simpan sendiri untuk keperluan anda dan mendukung operasional anda pribadi,(entertain,hoby dll)

            maaf ya kalau ngawur bung FB

          • @bung Satrio…. Pada paragraf kedua; saya senang anda menggunakan kata “menjahit” pada paragraf tersebut. Anda mungkin percaya kalau saya bilang saya bisa membuat/merakit/menjahit kendaraan roda dua. Saya hanya perlu beberapa org utk membantu saya. Rangkanya saya buat sendiri; mesinnya saya beli dari pabrikan (ternama), juga komponen2 lainnya. Jika saya “beruntung”, saya bisa meminta nama mesinnya “Satrio”; jadilah nama kendaraannya “Satrio125” 😀 😀 😀

            Salam kenal dan hangat utk semuanya; terotama utk bung Jalo dan Satrio…. peace!!! hehehe…. 😀 😀 😀

        • bung Flanker, untuk masalah ini nunggu admin dulu karena saya sertai link…

    • Apakah ToT itu tidak menjaga kedaulatan, integritas, dan kehormatan bangsa??

      Siapa yg bisa menjamin 100% kalau besok atau tahun depan kita tdk akan terlibat konflik terbuka atau perang?? Ok masalah perang, Kemenhan dan Mabes TNI sudah punya tim yg mengkaji masalah ini. Dalam pembuatan Rencana pertahanan Alpalhankam Strategis itu sudah masuk didalamnya pembeliannya untuk ancaman seperti apa…. Ada Lemhanas, ada BIN, ada Bais dll, kalau pertanyaan anda seperti itu berarti anda tidak tahu kalau negara kita punya TNI dan Kemenhan. IMO

      🙂

      • Ok bung FB saya mohon maaf kalau ada kata2 saya yg salah….
        Saya cuman kurang setuju aja dengan pernyataan bung FB tentang ini : “Comment saya ini hanya agar kita sedikit realistis saja, agar tdk selalu “mendewakan” yg namanya ToT.”

        Sekarang ada negara yg menawari kita ToT pespur, apakah kita harus menolaknya… Dalam dunia pendidikan dan teknologi kita sudah sangat2 tertinggal, kenapa dibentuk UU No. 16 tahun 2012? agar kita bisa mengejar ketinggalan itu diperlukan ToT. Sekarang negara terancam, nah ancaman ini telah ada yg memonitornya. Dari orde lama hingga kini kita sudah berperang. Perang asimetris inilah yg membuat negara kita jauh dari ketinggalan. Saat kita membuat roket dan kapal, itu negara2 lain sudah memperhatikan kita. Apalagi ditengah krisis eropa dan amerika saat ini, kita malah belanja alutsista secara besar2an melalui program MEF. Dan kalau kedepan, ekonomi kita akan baik itu membahayakan mereka. Kalau menurut undang2 saat ini negara sedang memprioritaskan pembangan Indhan, agar kita terbebas dari embargo atau melepas diri kita dari intervensi asing.

        Mungkin sekian, saya mohon maaf kalau ada kata2 saya yg salah dan menyinggung anda. Salam hormat buat bung FB

        • “Sekarang ada negara yg menawari kita ToT pespur”
          Mohon diberi pencerahan, TOT sedetail apa ? Terimakasih.

        • Ada yg nawarin kita masalah Airframe dan Avionics…
          Lalu kedepan ada pabrik mesin pesawat yg akan beroperasi disini, kalau macam2 kita nasionalisasi aja…
          hahahahhaha…. 🙂

        • @bung Jalo; saya yakin andapun tahu kalau bukan perkara mudah menasionalisasi sebuah perusahaan.

          Saya jg yakin kalau anda jg tahu bahwa kebanyakan karyawan pabrik roti itu tdk tahu resep roti yg mereka kerjakan. Di Malaysia dan Kostarika jg ada pabrik procie Intel, tapi saya yakin orang Malaysia ataupun Kostarika tdk/belum bisa membuat sendiri procie sekelas Intel. ===== (Orang Malaysia yg baca ini tdk usah tersinggung, ini hanya contoh; Indonesia jg tdk/blm bisa membuat procie sekelas Intel) ===== 😀

        • Maaf bung, itu cuman candaan aja biar gak tegang…
          maaf kalau bercandanya garing,

          Yup bener sekali bung, setidaknya dalam perusahaan itu ada orang Indonesia yg ikut terlibat. Dulu ada ahli radar orang Indonesia yg pernah bekerja di perusahaan radar besar di dunia. Pulang ke Indonesia, bapak ini lalu bekerjasama dengan pemerintah dan industri radar swasta dan akhirnya radar pertama yg dibuat sudah setara dengan produk2 berkelas dunia. Dan radarnya sekarang sedang dikembangkan lebih baik lagi dengan teknologi terbaru yg ia buat.

          Nah kalau ada banyak orang Indonesia yg terlibat, saya yakin suatu saat mereka ini akan membuat mesin pesawat sendiri. Rencana, Rolls-Royce Aero Engines sebagai pembuat mesin pesawat terbesar kedua akan membuat pabrik mesin di Indonesia.

        • Dan yg menarik Lapan telah mengembangkan teknologi Turbojet dan Turbofan…. Semoga target pada tahun 20.. bisa segera terealisasi. 😀

        • IIRC salah satu owner/BOD dan CEO produsen microprocessor/microchip Marvell Technologies (pernah kerjasama/produksi chip intel) itu orang indonesia……(CMIIW)

          klo pemerintah mo sungguh2 memulai kemandirian di berbagai bidang bisa memanggil/kerjasama dgn ahli2 kita diluarsana……

          Bagaimanapun tertinggalnya teknologi kita, memulai utk mandiri sudah langkah yg tepat…..

          Jadi inget pepatah tionghoa :
          “Perjalanan 1000 mil tetap dimulai dgn 1 langkah……”

    • Bung Fb mau sampai kapan bung negara indonesia tercinta jd konsumer doang?? Mau kan NKRI di segani byk pihak ya cara’y mandiri alutsista bung, klo masih import alutsista sebanyak apapun tidak akan di pandang bung, apa lg yg nama’y embargo bakal jd bahan rongsokan tuh alutsista yg canggih dan banyak di beli… Kemandirian alutsista kan ada cara2’y, ada yg dr penelitian dan pengembangan murni dr ilmuwan kita dan jg ada yg belajar dr negara yg sudah mapan industri alutsist.. Kita ga bs berpikiran senaif itu bung… Hargailah kerja keras ilmuwan RI

    • setuju dgn buah pikiran bung Flanker, akuisisi z dulu perabotan yg gahar dgn jumlah yg cukup, sehingga R&D via tot ini bisa berjalan dgn tenang tidak terburu2, biar hasilnya maksimal.

      tot jelas sangat penting, untuk melahirkan produk sendiri nantinya, tapi mengakuisi perabotan gahar timur-barat tetap diperlukan sekalipun kita sudah jago membuat variance dan memproduksi ifx misalnya.

      # jadi tidak ada alasan malu mengakuisisi dlm jumlah cukup, kecuali malu memberitakannya itu lain hal 😀

    • Menurut saya pandangan mas “Flanker Bravo” dan Bang “Jalo” serta mas Andry benar semua tidak ada yang perlu dipermasalahkan satu sisi kita harus dengan segera berusaha untuk memenuhi kebutuhan EMF untuk siap hadapi kemungkinan apa dan kapanpun yang mengancam NKRI disisi lain kita juga harus menjadi bangsa yang mandiri agar dapat memenuhi kebutuhan kita sendiri untuk pengadaan alutsista.

      saya tidak meragukan bangsa kita serta para ahli-nya,pasti sudah menimbang dan merumuskan formula dengan cara bagaimana keduanya bisa berjalan dan berhasil dengan segera walaupun itu sulit pasti ada jalannya.

      Klo bangsa china dan india bisa kenapa kita tidak bisa, salah satu contoh Brasil disatu sisi akan segera penuhi kebutuhan alutsitanya dengan pembelian Flanker disisi lain dapat mengembangkan, memoderisasi dan memenuhi kebutuhan alustsitanya sendiri nantinya sebab dapat TOT. walaupun memang harus mengakusisi flanker dengan jumlah yang banyak dari Rusky.

      Dari contoh diatas keduanya bisa berjalan. kenapa Indonesia tidak bisa? pasti bisa juga!. Apa yang salah jika Indonesia mengakusisi misal : 10 atau 20 ska SU-35 dengan syarat TOT, kenapa harus ambil ketengan? lebih dari 20 ska juga tidak masalah soal pembayaran kan banyak cara bukan hanya cash. (bahasa awam) kredit dulu juga pasti bisa, mau kredit apa keq namanya. Nah dari TOT yang kita dapatkan itu sdh dapat digunakan untuk pengembangan dan produksi alutsista untuk kebutuhan sendiri sekaligus untuk merawat sejumlah ska SU-35 yang sdh kita miliki.

      Klo sudah begitu jika mau ada embargo yah silahkan! mau ada perang silahkan aja! coba aja senggol NKRI klo mau hilang dari peta Dunia.

      Maaf ,saya kira begitu opininya orang awam

  26. Berkenaan dengan alutsista, kalau menurut saya , menjaga kedaulatan, integritas, dan kehormatan bangsa dan negara itu adalah prioritas utama; baru kemudian ToT guna kemandirian kita. Siapa yg bisa menjamin 100% kalau besok atau tahun depan kita tdk akan terlibat konflik terbuka atau perang? Kemudian jika ToT “dipaksakan” juga (pespur misalnya), siapa yg berani menjamin kalau 5 atau 10 tahun mendatang kita bisa membuat pesawat tempur (sekelas medium fighter paling tidak)?

    Pesawat tempur jelas teknologi dan kompleksitasnya jauh diatas APC atau medium tank; medium tank saja kita belum bisa membuatnya (barangkali baru sebatas prototype). Kemandirian beralutsista tentu saja merupakan cita2 indah dan mulia, tapi kita juga mesti realistis. Saya pastikan, negara yg ingin mendapat ToT dan mandiri di bidang alutsista canggih itu tdk hanya negara kita.

    Comment saya ini hanya agar kita sedikit realistis saja, agar tdk selalu “mendewakan” yg namanya ToT. Negara kita ini masih berkembang, maka anggaran (alutsista) jg pasti sangat terbatas. Saya itu bingung mencari rumusnya; maaf, bagaimana bisa kita mendapat ToT dg mudahnya kalau kita (sering) membelinya ketengan. Apakah negara kita ini begitu berjasanya kepada negara2 produsen alutsista canggih, sehingga sedikit2 lalu bicara minta ToT? Akuisisi cash murni (dan tanpa ToT) saja saya kira tidaklah mudah, apalagi dg ToT bahkan kredit. Pertinbangan ekonomis/bisnis selain politis/militer tentu saja mengemuka dari sisi produsen. Lihat saja China dan India. Mereka ini memperoleh kemajuan dan kemandirian alutsista tidaklah melalui jalan yang gampang, murah, dan singkat; bahkan sampai saat ini mereka msh aktif mengimpor (paling tdk sebagian), dan produk alutsista yg mereka hasilkan sebagian jg masih “sempoyongan”.

    Sebagai seorang anak bangsa, tentu saja saya juga memgharapkan dan mendambakan suatu saat kelak kita bisa mandiri termasuk urusan alutsista canggih; tapi cita2 tentu saja mestinya tidak boleh cuek begitu saja terhadap realita.

    ===== hanya pendapat orang awam =====

    • Menurutku apa yang disampaikan BUNG FB Benar, kalo saya garis bawahi dari pernyataan bung Flanker Bravo yaitu : kita harus realistis dengan kekuatan yang ada makanya kita harus perkuat dulu alat pertahannya sampai beteul betul kuat dan handal bila terjadi peperangan sungguhan, setelah semuanya yakin alutsista kita terpenuhi dan terukur dan dapat diandalkan dalam perang sungguhan baru kita mengejar kemandirian lewat berbagai cara spt. TOT, R&D sendiri dll. ..

      Dan yang disampaiaknan Bung Jalo juga benar, kalo saya garis bawahi : semua pengadaan alutsista pasti sudah diukur secara seksama oleh berbagai pihak dan memasuki kajian yang mendalam dari para petinggi kita baik tingkat ancamannya, daya tawarnya, daya pukulnya, daya gonncangannya terhadap pandangan lawan.. walaupun mislanya beli alutsita yang kita ketahui secara umum Ngeteng/ ngecer ( mengenai jumlah dan kualitas saya yakin dirahasiakan ). yang pasti belinya harus dibarengi TOT, dan aku yakin banyak tawaran yang kita miliki sbg opsi untuk mendapatkan TOT dari pihak produsen..

      kesimpulanku yang masih awam : aku yakin pada para petinggi kita bahwa semua pengadaan Alutsista sudah melewati berbagai studi sudah terukur tingkat ancamannya dan cara penangkalanya.. sekaligus kita juga harus mendapatkan TOT dari pembelian Alutsista tersebut untuk kemandirian bangsa kedepannya..

      semoga ulasan ulasan dari bung bung warga JKGR ini semakin hari tambah semakin berkualitas infonya sekaligus ajang berdiskusi dan mencerahkan demi kejayaan NKRI tercinta…

      salam kepada seluruh Bung – bung semuanya…

  27. semoga tidak berakhir tragis seperti mrca malaysia

  28. pertanyaan untuk para hoaxers yang selalu menuntut pembuktian :

    apakah berita tempo ini tergolong hoax?

    …Direktur Teknologi Penerbangan PT DI Andi Alisjahbana tak mau berkomentar tentang usulan perusahaannya…

    > apa buktinya Andi Alisjahbana tak mau berkomentar ?

    …Dia hanya mengatakan pengadaan persenjataan sebaiknya tak hanya melihat kecanggihannya. “Tapi diperhatikan pula kesediaan negara pembuat untuk membagi teknologi dengan industri dalam negeri,”

    > apa buktinya Andi Alisjahbana mengatakan hal tersebut ?

    kalau wajib membuktikan, tempo mungkin akan terpaksa menyertakan usb flash drive berisi kumpulan rekaman wawancara2 yang dimuat sebagai berita untuk tiap edisi 🙂

  29. kalau saya sih pilih SU-35, dari pada Eurofighter Thyphoon yang rawan embargo Pak PUR bugkus aja SU-35. dia tidak rawan embargo. {maaf jangan dengerin DI} kalau dari RUSIA beli suku cadangya ibarat kaya apotik dan tidak sulit lagi

  30. Go ahead bung nar…semoga sehat selalu..

  31. Hayoo bung nara.. ada info “hoax” apa lagi ini yg bs buat warjagers pd mabuk? 😀

    • Tambahan bung nara… bung skali2 bahas dunia intelejen dong ya yg umum2 aja gausah trlalu spesifik

    • @ bung nara..
      coba masukin juga dlm bahasannya bung , kemungkinan2 taktik perang yg akan diterapkan kepada Inndonesia jika hal itu benar2 dipraktekan oleh (mamarika juga paman mao). untuk mengeksplorasi kemungkinan2 lain dari pemikiran warjager..yg siapa tau .ada yg nyerempet skenario sebenarnya.

      kepemilikan senjata ciri khas masing2 tentu menunjukan kemungkinan taktik yg diperagakan..

      #kesuwun

      • jika F-35B nantinya sudah operasional berarti mangkal di Darwin juga. pesawat USMC plus canberra class reaksi kita apa bung? dong feng kah? ❓

      • Bung Nowy, kalau saya radar dulu yang diperhatikan…
        lalu anggaran BBM yang cukup agar radar kita bisa beroperasi selama 24 jam. Sekarang pengembangan radar dalam negeri lagi gencar dan sudah mulai bagus2, sekarang baru arah ke medium.range. Nanti tahun depan sudah masuk ke long range. lalu ada coastal radar, dibuat dengan sistem low-probability-of-intercept nah menurut ane, radar yg terpenting.

      • Apalagi radar kita dibalut dengan material jenis polyaniline atau kitosan…

    • Seru tuh bung Nara. di tunggi… 😀

    • @Bung nara : minta tanggapanya tentang artikel bung garuda hitam, kemarin bung satrio, bung jalo, bung nyd sudah menanggapi
      mumpung bung nara sedang mampir, di tunggu tanggapannya….

      biar kami tambah pinter bung…

  32. su-35 yg diutamakan selanjutnya terserah anda (pengambil kebijaksanaan)

  33. Waalaikumussalam Wr. Wb bung nara…
    Sudah lama gak nongol, lagi sibuk ya?? 🙂

  34. kalau saya sih pilih SU-35, dari pada Eurofighter Thyphoon yang rawan embargo Pak PUR bugkus aja SU-35. dia tidak rawan embargo. {maaf jangan dengerin DI} kalau dari RUSIA beli suku cadangya ibarat kaya apotik dan tidak sulit lagi

    Coba tanya ama pilot SU-27/30, dia lebih respek ke pesawt dari Rusia

  35. SU-35 S WAJIB….

  36. Pilot stress?

  37. maaf…tadi di tv nasional ada pemberitaan tag line/running text
    bahwa pesawat RI-1 yg baru tiba sudah anti serangan rudal, …mungkin jawabannya
    sudah pernah di bahas tp ane terlewat membacanya…apakah semacam flare atau ada
    teknologi / gadget terbaru yg di pasang ? …terima kasih kepada siapapun yg memberikan pencerahan.

  38. Masih seperti harapan kemarin, untuk heavy fighter ambil SU-35 dan SU-34 (harus satu paket).
    TOT untuk yang medium.. terserah mau ambil apa..

    Kalau pendapat saya pribadi sih, Dengan menimbang keadaan yang ada. Yang kita kebut dan konsentrasikan penguasaan tehnologi matra darat dan matra laut dulu, untuk udara belakangan.

    Untuk matra udara saat ini yang lebih masuk akal adalah penguasaan untuk teknologi helikopter, bolehlah kita kerjakan membuat helikopter serang. Terbangkan Gendiwa, asupkan tehnologi helikopter serang modern pada Gendiwa. Gendiwa terbang sudah serem kok 🙂

  39. Kalau analisis Saya, program pengadaan SU-35 tidak ada hubungan nya dengan penggantian F-5. Atau mungkin saja pengadaan penggantian F-5 ini yan terkesan berbelit-belit hanya untuk menutupi pengadaan SU-35 agar tidak bisa dibaca pihak luar. Menyembunyikan SU-35 tidak susah kok walaupun alutsista ini baran terbang tidak seperti Kapal Selam yang hanya bersembunyi di bawah air. SU-35 kan dasar pengembangan dari SU-27. Dari segi design nyaris tidak ada perbedaan dengan SU-27.

    Cuma Pendapat, dan semoga benar. Amin

  40. Tetap bungkus Su-35 sebagai heavy fighter TNI AU. Di sisi lain, pengganti F-5 Tiger sebagai Medium saya lebih memilih Thypoon drpd Rafale karena Menurut PT DI pihak Typhoon lebih mudah untuk berbagi TOT. Dan pada artikel sebelumnya ( http://jakartagreater.com/eurofighter-typhoon-dan-sukhoi-su-35/ )dikatakan bahwa Jika ternyata di tahun yang sudah ditentukan PT. DI gagal, tentunya harus ada yang bertanggung jawab atas kegagalan itu dan recomendasi dari PT. DI untuk pembelian Typhoon perlu di selidiki oleh BIN dan KPK.
    Menurut saya inti permasalahnnya adalah Pilot tempur kita lebih memilih SU 35 ketimbang pesawat lainnya. Ini sangat beralasan krn jika terjadi pertempuran maka secara teknologi Su 35 memiliki banyak keunggulan untuk menang dan tentu saja nyawa pilot tempur kita akan selamat. Mungkin keinginan TNI AU untuk Su 35 sama halnya dengan TNI AD terhadap MBT Leopard. Mengapa? Karena kehadiran MBT Leo sebagai pemukul kelas berat tentu saja meningkatkan wibawa dan moral prajurit manakala harus berhadapan dengan MBT lainnya. Begitu juga kehadiran Su 35 sebagai heavy fighter akan meningkatkan moral dan wibawa pilot TNI AU kita manakalah harus berjibaku dengan penempur kelas berat lainnya dari negara tetangga kita misalnya Harus berpapasan dengan F-35. Maka sebaiknya SU 35 tetap dibungkus berdasarkan keinginan User dan utuk mendapatkan TOT sebaiknya kita ikuti apa yang diinginkan oleh PT DI.
    Itu menurut pendapat saya…mohon maaf kalau ada salah kata.

  41. Pesawat Cesna sipil aja di sergap dengan menggunakan 2 buah F-16, kalau ada pesawat tempur asing yang lebih canggih, misal milik Australia, singapura, malay, atau bahkan Amerika masuk wilayah teritori Indonesia tanpa ijin, apakah F-16 Tni AU masih sanggup menyergap pesawat tsb atau disergap menggunakan Su 27/30??

    • @BUNG rdadi, trus kalo pesawat kalah canggih emang gak boleh intercept? meskipun kalah canggih, tapi pesawat tni punya hak untuk menembak jika musuh membandel tanpa harus memproklamirkan perang. Sebaliknya pesawat musuh yang bandel tidak akan berani menembak pesawat super tucano sekalipun jika tidak ingin digantung komandannya…

      • Betul..masih ingat kejadian hawk TNI AU yang ngelock hornet Aussie. Tinggal pencet tombol tunggu acc pakde, kesundut dah. Yang ni baru gw salut sama Top Gun kita, kucing lawan singa. Hanya karena hawk 200 dah mentok service ceiling-nya yg membuat hornet aussie lolos :p

  42. Terimakasih bung, semoga bukan upaya pihak asing yang sedang mencoba main-main ya…

  43. untuk admin.. kesininya makin gak seru nih.. gak ada yang kontra,, jadi kayak pengajian.. yang dengerin cuma bilang aminn..aminn …… gak kayak dulu pas awal2 nih forum.. maaf ea semuanya cuma kritik

    • Sebenernya di artikel2 sebelumnya udh banyak sepuh yg ngasih clue……
      Klo gak salah ada jg yg bilang masak semuanya (Su-35,Rafale,EFT) buat gantiin f-5 doank?

      IMO Su-35 itu pengecualian kebutuhan darurat utk matra udara, so faktor Tot bisa di tahan dulu utk sementara……klo utk rafale / typhoon ya faktor Tot bolehlah dipandang krusial……klo mo ane sih bli dapat Tot dr keduanya meski blinya cuma 1/2 porsi…..

      CMIIW

  44. mungkin yang lebih pas SU 35 ya om

  45. Bung Jalo :

    Mbok bilang saja kalau projek KFX saat ini sedikit bermasalah, sehingga Dephan terlihat sedikit loncat – loncat mencari sumber partner baru.

    Korea Selatan sudah dipastikan membeli F-35 lightning II.

    Daripada loncat-loncat lebih efisien fokus ke SU-35 sebagai pemukul kelas berat dan untuk IFX bisa menjiplak brazil yaitu Saab Gripen NG

    http://www.saabgroup.com/en/Air/Gripen-Fighter-System/Gripen-for-Brazil/The-Fighter-Gripen-NG/

    • Iya bener Mbah Moel, tapi Kemhan tidak loncat2… Nih pemilihan lewat user, indhan, KKIP, tim pengadaan, Mabes TNI, ini mereka masih menggodok. Kemenhan ini akan menerima keputusan dari hasil mereka nanti disesuai dengan anggaran dan bentuk ancaman yg ada. kalau nanya, tugasnya kemenhan apa aja?? yah mereka menunggu keputusan lalu menilai nih barang, sesuai anggaran yg ada, aspek ancaman maupun ToT seperti tertuang dalam UU No. 16 tahun 2012 dan Perpres no. 54 tahun 2010 dan perubahannya. lalu dibuat Permenhan tentang rencana Strategis pertahanan negara.

      nah soal ROK membeli F-35, tuh sudah dijelaskan bung Brotosemedi yg tertulis diatas. Dan itu masih lama, makanya mereka rencana untuk mengambil Typhoon karena F-35 kelamaan.

      Dan mbah Moel, kan sering dibahas, pespur Rusia tetap dibeli dengan fungsi sebagai stop-gap menunggu kemandirian bangsa…. nanti kalau sudah mandiri mau buat lebih baik dari Su-35 juga bisa, yang penting ilmunya kita serap dulu…. Soal pemilihan ini, ingat yg KFX/IFX itu bukan hanya dari Insinyur PT. DI, ada juga tim litbang, ada pilot, dll….

      salam damai Mbah 🙂

  46. kok cuman ditempel lalu diturunkan, diintrogasi si pilot. skalian bongkar isi pesawatnya biasanya ada alat pemeta wilayah untuk lihat wilayah rahasia tni.

  47. # maaf oot..

    * Bagaimana bentuk serangan militer asing. yg harus dihadapi Indonesia Jika perang terbuka ? *

    – dari arah mana saja.?
    – dgn eskalasi seperti apa.?
    – dari matra mana serangan dibuka.?
    – berapa lama perang akan terjadi.?
    – Sejauh mana kerusakan yg akan diderita Indonesia.?
    – Alutsista apa saja yg bisa mementahkan serangan militer asing.??
    – Mampu kah kita survive..?

    pertanyaan2 diatas kerap kali mengganjal benak pikiran gue priabdi..
    kalo2 ada yg memiliki pandangan know how-nya..monggo dishare ..
    tentu semuanya hanya berdasarkan analisa dan perkiraan saja…
    trimakasih sebelumnya.

    • Bung Donnie biar gak IMO2-an coba baca PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA STRATEGIS PERTAHANAN NEGARA TAHUN 2010-2014

      Disitu lengkap, semoga membantu… 🙂

      • trima kasih bung jalo..
        pastinya sangat membantu memetakan kemungkinan apa yg akan terjadi,..
        tapi tetap tidak menutup kemungkinan ..ada masukan dari warjager mengenai strategi pihak lain yg akan diterapkan.
        hitung2 belajar menganalisa perang..hehehe
        gpp lah ya..iseng2..:D

      • Nah ini baru asyiik. Kalo sy sering memikirkan negara mana yg paling menarik utk dijajah (dlm pengertian konvensional) oleh kekuatan utama dunia. Menurutku yg paling menarik australia krn luas wilayah dan jumlah penduduk sedikit. Klimantan dan papau jg cukup menarik. Njajah jawa ribet krn terlalu byk penduduk. Monggo dielaborasi teman-teman.

    • jiah ngetroll nih 😆 sorri bung admin maaf konekci ane bubar jalan nih 😀

    • “mamarika akan membuat semacam BENCANA ALAM terlebih dahulu, seperti tsunami Aceh” Emang bisa ya ? Caranya ?

      • apa yg menimbulkan gelombang tsunami.?

        karena ada retakan pada lempeng benua secara vertical, retakan ini menjadikan sebuah area yg segera diisi air laut dan akan menimbulkan effect gelombang air laut ke arah sebaliknya..
        semakin besar dan dalam ruang retakannya, semakin besar-tinggi pula effect yg dihasilkan.

        bagaimana membuat ruang retakan tsb yg cukup dalam..?? tentu diperlukan semacam ultra high explossive..

      • Konon, Tsunami di Aceh dan Jogja juga ulah mamarika…

    • Seperti kasus timor leste dulu y bung lepas dr NKRI… oiya bung nara klo mengenai kasus skrg spt yg terjadi di papua yg dilakukan kelompok bersenjata OPM spt’y ada pembiaran ya dr aparat kita kok sulit skali memberantas kelompok pengacau ini? Sebenar’y apa yg terjadi sih bung dsna? Apa ada kemungkinan mereka di bekingin sonotan atau mamarika dlm hal ini, baik dalam hal keuangan ataupun persenjataan?bagaimana peran sesungguhnya intelejen kita knp terkesan kurang cekatan mengantisipasi pergerakan kelompok bersenjata semacam ini?Sungguh prihatin belasan prajurit tni/polri yg tewas dsna tetapi spt tidak ada tindakan yg tegas dr aparat keamanan… saya kira ini bs jadi celah dlm skenario klo mamarika atau sonotan mau invasi ke indonesia..

    • Smua diliat dri tingkat kepentingan baik politik ataupun ekonomi… cina ataupun russia tidak akan sekonyong2’y membackup indonesia jika terjadi invasi yg di skenariokan mamarika/sonotan.. mereka melihat untung/rugi’y membela indonesia.. seandai’y membela saya kira hanya sekedar dukungan diplomatis tidak disertai iring2an armada perang dr mereka… yg terpenting poros terkuat adalah persatuan dan kesatuan dri masyarakat/warga negara’y sendiri.. jgn terlalu berharap byk dgn negara lain..

    • terima kasih all… untuk respon nya..

      gue membuka wacana ini, ya siapa tau ada yg punya pemikiran “bagaimana jika mamarika atau paman mao menerapkan strategi nya jika menginvasi Indonesia.”
      mengeksplorasi berbagai kemungkinan yg bisa terjadi… semoga menjadikan kita waspa dan sadar bahaya didepan kita…
      silahkan share-nya..monggo lapak masih dibuka 24 jam everyday, hehe

  48. Bung Nara/Bung Jalo Mau tanya.
    Emang rencana ambil Thyphoon itu brapa unit ya bung agar syarat TOT dapat dilaksanakan bersama PT DI? apakah budget untuk Thyphoon (yg kemungkinannya ambil banyak supaya dapat TOT) tidak mempengaruhi budget utk melirik pesawat lainnya seperti misalnya SU35?

  49. emang ngangenin warung ini, oplosanya bikin ketagihan

  50. emang ngangenin warung ini, menu racikan oplosannya bikin ketagihan

  51. Hemmm…

    MH-370 yang segede Bus antar propinsi itu sepertinya memang tidak melanggar udara Indonesia. karena pesawat cessna yang baling2 tunggal saja ketahuan.

    kenapa itu cessna lewat dekat bandara Soewondo ya, padahal itu bandara baru saja di fungsikan sebagai salah satu bandara militer ??

    • apa mungkin ini cuma diversion/pengalih perhatian?

    • Bs jadi tuh pesawat mau ngintip apa yg di sembunyiin TNI di Soewondo mbah…tupolev series kah…? 🙂

      Trs dgn TNI mengerahkan 2 F16 untuk mencegat pesawat yg di blips radar saja sdh ketahuan pesawat sipil dr kecepatan n altitude nya sdh menimbulkan pertanyaan sebegitu berbahayakah tuh capung bagi Soewondo?

      Kepingan puzzle lagi…:-)

      • @bung Wehrmacht,
        Emang route normalnya klo terbang dari NZ ke KL itu arahnya mana sich? apalagi pesawat kecil gitu ?emang ga transit minum aftur dulu ?

        suwun

  52. Semua baru wacana. Mau su-35, thypoon, rafale, f-18, ataupun gripen semua punya kekurangan dan kelebihan masing2. TOT adalah prioritas dalam setiap pengadaan alutsista, tapi tidak ada salahnya jika kita juga harus memikirkan kebutuhan mendesak akan fighter yang mumpuni sebagai langkah antisipasi menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi yang bisa mengancam kedaulatan negara jika ditilik situasi kawasan yang tak menentu. Jadi sekali dayung 2 atau kalo perlu 5 pulau terlampaui. Proses program TOT tetap jalan, kedaulatan tetap terjaga, dan uang rakyat juga bisa tepat guna.
    Salam wargager. Nganjuk

  53. Teringat dengan peristiwa MH-370. Pesawat kecil kayak gini aja msaih trtangkap radar. Gimana dengan pesawat jumbo seukurun B-777 ?

    • klo tau triknya gampang koq ngilang dari radar, nyang jd pertanyaan saat blip nya ilang dari radar & no respon di radcom seharusnya tudm langsung scrambled pespurnya. dalam kondisi ini hanya pespur ( aerial search & track dgn klenengan sapi ) nyang bisa bisa nyari ntu 777 seblum diperkirakan masuk wilayah negara lain…..maaf hanya analisa orang kebanyakan……he,he,he

      • Sejak awal saya bertanya-tanya, ke mana TUDM nya. Sejak belok ke barat sampai belok lagi ke selatan, memakan waktu lumayan, bisa 2 jam.
        Bagaiman itu kira-kira Bung Erich ..

      • gw ikut aja deh, kalo pilot udah ngomongin kandangnya sendiri, mahluk lain hooh aja 🙂

      • @bung erich

        Menarik kata bung bahwa begitu MH370 hilanh dr radar boro2 pespur malay scramble.justru awalnya harusnya otoritas sipil malay yg segera mengumumkan uncertainty phase (INCERFA) yg dinyatakan 30 menit setelah pesawat menghilang.sesudah INCERFA dinyatakan ttp tdk ada kontak status ditingkatkan pasa tahap waspada,Alert Phase atau ALERFA.jika tdk ada perkembangan langsung diumumkan tahapan gawat, distress phase atau DETERFA…ini boro2 mengikuti standar internasional menghadapi kemungkinan aircrash…malah sudah berjam jam baru ribut…

        Malahan sdh tau ada yg aneh dgn lintasan MH370 malah semua negara di suruh melototi wilayah kosong…kelihatan benar ada udang di balik rempeyek…

        Bener2 bangsa bolot…jd bung erik jgn harap harap pespurnya mau scramble…lha wong tahapan menghadapi aircrash accident aja mereka gak tau…

      • @bung Erich, bung Wehrmacht n bung NYD………
        boleh dunk diulas jadi artikel kejadian MH370 dari sisi teknis saja … jangan ke arah non-teknis/politis, kasihan ama korban-korbannya.

        Misal SOP crash accident itu, kemampuan radar kita di Aceh and Radar Malaysia, beda radar sipil vs militer, peralatan apa yg cocok buat nyari saat ini, kenapa satelit ga bisa record trackingnya dll ….. Satu kejadian tetapi kayaknya ilmunya banyak buat di ulas disini…..
        suwun

  54. Wallaikum salam bung Nara apa kabarnya sekarang mungkin sudah agak santai ya setelah beberapa hari ini ngepam :mregreen:

  55. Asslamualaikum wr.wb
    Saya mau tanya, arah perkembangan peperangan pesawat tempur dimasa 10-20 tahun mendatang seperti apa? avionik, design, kecepatan misal sampai 3 mach atau ada hal lainnya 😀
    maaf oot 😀

    • waalaikumsalam wr wb,
      20-30 tahun ke depan masih masa generasi 5, tapi bahkan sekarang sudah dibicarakan kemungkinan bentuk next gen fighter. dari berbagai masukan secara konsep yg banyak disebut sebagai ciri pesawat generasi selanjutnya (6) adalah kemampuan transformasi selain semua kemampuan generasi 5 (ciri gen 5 adalah fitur siluman). transformasi di sini bukan berarti seluruhnya berubah bentuk, hanya bentuk menyesuaikan dengan tugas, misal posisi sayap yang bisa berubah ketika dalam mode jelajah dan pertempuran, sayap ramping seperti rudal dalam mengejar kecepatan dan berubah seperti Su-37 ketika dogfight. Disebut sebut juga kemungkinan aplikasi nano technology dalam pembangunan badan pesawat agar mampu menahan beban maneuver ekstrem. ada 2 kemungkinan, dikendalikan remote (pilot di darat) atau sepenuhnya mandiri dengan AI (kecerdasan buatan) seperti dalam film 🙄

      edit#tambahan, Su-47

      • Bung now@ bukan nya su 47 itu hanya prototipe dan dibuat hanya untuk penelitian ya

        • iya bung, sangat superior dalan maneuver tapi memberikan tekanan bagi rangka pesawat.
          teknologi material yang bisa menahan sekian G maneuver sudah ada, hanya masih mahal dan belum efisien untuk jadi bahan baku badan pespur produksi, tapi 20-30 tahun yg akan datang mungkin akan tersedia untuk skala industri

      • SU 47 BERKUT…SATU SATUNYA PROTOTIPE NIH..CIKALBAKAL PAKFA DI AMBIL BYK DARI PESPUR INI

  56. Bung cahyo, wlaupun nanti di bongkar dan ketahuan isi nya ada peralatan pengindra/pemetaan, paling2 nanti gk akan di publis, agar si pemilik gk malu, dan ujung2 nya di ksih hadiah alutsista oleh si pemilik. Mirip kasus Hoax nya 007 yang di tangkap di laut selatan indonesia.. Lontongnya di sundul naik, ehh malah di tawarkan lontong nuke… 😀

  57. yg bener aja new zeland —malayy????
    jauh banget neh jarak tempuh pesawat latih, sendirian lagi,,
    luar biasa neh pilot

  58. gimana menurut kalian kalau sisa pesawat su 27 yg datang tahun kemarin itu tipe su 27m?
    masuk akal gak ya?
    hehehe
    terus tentang tot mesin jet yg kita dapat dari gripen jadi di ambil gak?

  59. gimana menurut kalian kalau sisa pesawat su 27 yg datang tahun kemarin itu tipe su 27m?
    masuk akal gak ya?
    hehehe
    terus tentang tot mesin jet yg kita dapat dari gripen jadi di ambil gak?

  60. 1.UU No. 16 Th. 2012 TENTANG INDUSTRI PERTAHANAN Bagian Ketujuh Pengadaan, Pemeliharaan, dan Perbaikan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan, Pasal 43 Ayat (5) d. jaminan tidak adanya potensi embargo, kondisionalitas politik dan hambatan penggunaan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan dalam upaya mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara;

    Misalnya, coba bandingkan jaminan dari Negara2 Euro (banyak Negara produsen Eurofighter) dengan Federasi Rusia (satu Negara produsen Su-35), lebih nyaman mana.

    2.Teknis :
    – kelebihan Su-35 vs pespur Barat : radar X-band AESA di hidung dan radar L-band anti VLO di sayap, mesin AL-37FU/ 117S, OLS 35, dll dapat diturunkan / diaplikasikan ke adik2nya Su-27SKM dan Su-30MK2 yg telah kita punyai, tanpa kesulitan karena seyogjanya Su-35 adalah pengembangan dari Su-27.
    – weapon systems commonability antara Su-35 dengan Su-27SKM dan Su-30MK2, menghemat.
    – ECM commonability antara Su-35 dengan Su-27SKM dan Su-30MK2, menghemat.
    – Radar, weapon systems dan ECM Su-35 kecipratan PAKFA, sehingga kalau mau beralih/ beli PAKFA relative mudah dan merupakan the logical next step.

    3.Pengalaman operasi, pemeliharaan, pelatihan satu decade lebih dengan Su-27SKM dan Su-30MK2TNI AU adalah sangat berharga. Jadi sangat logis kalau memilih Su-35. Apa ini mau dibuang? Ck ck ck.

    Jadi, Su-35 setrong!!!

    • PAK MOEL NGIMPINYA SU35, JOKI F5 NGAREPNYA SU35..
      PT. DI NGALAH AJE DULU, YANG PENTING KESELAMATAN NKRI TERJAMIN. :mrgreen:

    • Coba lihat ini, si Mr. Think-thanknya alutsista…

      “Masih kami pertimbangkan dari sisi anggaran. Kami mempelajari yang paling menguntungkan pemerintah,” kata Rachmad kepada Tempo di kantornya, Rabu pekan lalu. Rachmad belum bisa memastikan jumlah anggaran untuk membeli pesawat baru.

      hahahahahahaa, saya yakin pasti bung Antonov akan mencari2 apa yg bisa mempertahankan Su-35… Ok Bung SU-35 bisa dipastikan berbeda pengadaannya dengan Typhoon. 🙂

      Cuman bahasa TNI itu selalu semua pembelian pespur masuk dalam rencana penggantian F-35. Dari kelas berbeda, SU-35 masuk dalam Heavy Fighter dan Typhoon masuk dalam Medium Fighter. 🙂

      ada cerita begini, namanya MEF itu semua kelas harus diisi. dari PSU itu mulai jarak pendek mulai dibeli, tahun depan PSU jarak sedang. begitu juga dengan Tank, light tank barangnya ada dan juga sedangan pengembangan juga dengan medium tank di Indhan. lalu ada kapal selam, untuk laut kelas ringan (midget) dan kelas sedang (changbogo) sudah tekan kontrak dan untuk laut dalam (no comment). nah pespur juga ghitu, Kelas light Fighter kemarin baru beli dari Korea, lalu kelas medium (F-16 dkk), lalu ada kelas Heavy Fighter.

      • Semoga membantu bung Antonov

      • maaf bung, maksudnya F-5 kah? kok di atas tulisannya F-35?

        maaf kalau sok tau

        • Ooh iya, terima kasih sudah diganti bung ex… Maksudnya F-5

          • sama2 bung @Jalo, berkat salah ketik it, saya seketika berfantasi ada F-35 dgn segilima merah putih di ekornya sdg terbang vertikal. hehehe
            ohya, IFX dgn VTOL keren juga loh bung. kan ada teknologi VTOL soviet yg jadul (kalau bisa/boleh ambil teknologinya), kira2 desain IFX dgn delta+canard dipasangi VTOL nyaut ngga y? awam banget saya, jadi ngelantur.

            maaf kalau sok tau

      • Saya juga he he he Bung Jalo, euforia MEF, huruf M bisa diartikan Minimum atau Maximum, ada A1 list, ada Su-35, Rafale, Gripen, sekarang Eurofighter, rencana ToT , belum KFX/IFX. Semua itu butuh biaya. Rencana is OK, malah perlu, tapi implementasinya kan butuh duit. Proyeksi pertumbuhan kita tahun ini dan depan diperkirakan tidak akan melebihi tahun lalu, artinya anggaran pertahanan tidak beranjak dari semula. Konsekwensinya, rencana jangan melebar malah harus mengerucut, prioritas.
        Selain itu, 46% dari anggaran pertahanan habis untuk belanja pegawai/ personil. Konsekwensinya, ineffisiensi, ketidaksiapan alutsista.
        Ada think tank u/ strategi dan alutsista, bagaimana dengan think tank untuk efisiensi anggaran pertahanan? Ada kekuatiran masalah seperti kelebihan PNS akan terjadi di pertahanan. Ini memang masalah sensitif, tapi bukan berarti kurang diperhatikan.
        Ke depan masih banyak faktor yg tidak menentu, apalagi dengan pergantian pemerintahan.

        • Mengutip kata bung Antonov
          …”Semua itu butuh biaya. Rencana is OK, malah perlu, tapi implementasinya kan butuh duit. Proyeksi pertumbuhan kita tahun ini dan depan diperkirakan tidak akan melebihi tahun lalu, artinya anggaran pertahanan tidak beranjak dari semula. Konsekwensinya, rencana jangan melebar malah harus mengerucut, prioritas…”

          ane setuju bung, bahkan mungkin perlu dicarikan sumber duit laen sebagai tambahan.
          Misal, gaji setiap TKI dipotong 1 satuan uang lokal per bulan :
          -yang kerja d malay dipotong RM 1 per bulan
          -yang kerja d amerika dipotong USD 1 per bulan, dst
          Memang keliatanya kecil, tapi coba bayangkan berapa jumlah TKI kita di dunia & bayangkan berapa duit yang didapat dalam 1 bulan jika terealisasi?
          saya kira kalo di kelola dengan bener mereka tentunya tidak keberatan,yah itung-itung ikut nyumbang ke negara (pembelian alutsista khususnya).

          ada cara lagi cuman agak ekstrim.
          yakni dibuat coin sumbangan alutsista (mirip sumbangan bencana alam) kalo perlu..

          Maaf sesepuh nubie ijin lewat, kalo tata bahasa berantakan mohon dimaklumi karna baru belajar pegang keyboard.Ikutan pake IMO ama CMIIW

          • Kalau g salah TKI udah ada potongan gaji bahkan lebih dar 1 satuan mata uang nagara tempat TKI kerja. cuma brp % yang benar2 masuk ke kas negara. jgn salah yo…

      • Su-35 tetep diakuisisi dan tidak terpengaruh walaupun TNI membeli pespur jenis lain, ini clue yang saya tangkap dari statemen bung jalo dan bung nara diatas

  61. woooi, sekali ini ogut termasuk saksi mata waktu F-16 take off, trus turun lagi udah ada capung merah di depannya he..he… kantor aye kan segaris ma landasan polonia lama 🙂

  62. Pak moel tu dah jelas katakan penganti f-5 adalah su 35 karena miliki deterent tinggi,,,,, dan gak di anggap remeh oleh negeri tetangga,,, dah bulat keinginan panglima tni kita dan sudah di iyakan kasau.tingal dpr blg iya presiden iya tgl tanda tangan tuh kontrak.coba saja pd ntn di metro tv apa yg di katakan pak moel dah jelas beliau pengen pengganti f5 adalah su 35.tgl rusia oke pa gak,,,. china saja yg pengen su 35. dgn jmlh 48 unit saja lum di acc rusia krna khawatir di copy paste .br s-400 yg di acc itu aja 2016 br bisa di kirim s-400 ya,,,,

  63. Su-35 bukan hanya punya deterent tinggi, manuver abilitas tinggi dan lain-lain yang serba tinggi. Tapi juga gengsi sebagai negara gelombang pertama yang diijinkan untuk membeli pesawat ini. Malaysia aja yang udah beli Su-30 lebih banyak juga gak dapet ijin, maka kepemilikan pespur ini oleh Indonesia akan sangat menaikkan gengsi di kawasan!

  64. SETUJU BUNG@MZONOV

  65. Kalo sy gampang aja, beli rafale utk ganti f-5, beli typhoon utk belajar dan ToT dlm rangka IFX, beli su-35 utk gantiin mig-21 kan dr tahun 1966 blm ada gantinya, hehehe

  66. ga akan ada habis nya klo berbicara pengganti F5 ini
    saya pikir apapun itu alutsista nya yg penting

    1. Dana mencukupi ( tidak menambah lagi beban hutang luar negeri)
    2. Mempunyai kemampuan utk penyeimbang kawasan,
    3. Berguna bukan hanya utk 5 thn kedepan tp selama nya, dan sebagai langkah awal pespur nasional. sehingga bisa diteruskan ke generasi selanjutnya,,

    pengganti F 5 ini klo masih dari genre 4,5 kyk nya ga akan bertahan lama,, paling 10 atau 15 thn kemudian sudah di ganti genre yg lebih baik lagi, bisa jadi genre 6 sudah masuk di kawasan minimal nya genre 5 yg disempurnakan,,

    trus apa kita harus beli lagi genre 5 padahal umur jam terbang pespur 4,5 tsb masih layak.. tapi sudah ketinggalan zaman lagi,,da bisa jadi bulan2an pespur genre 5 / genre 6,,

    1, jangan terlalu banyak beli genre 4,5 karena saat ini masih masa transisi,, ke genre 5
    bahkan di targetkan USA sudah bisa buat mesih genre 6 thn 2017, dgn nama Program ADVENT dgn kecepatan 5000 km/jam

    2. lebih baik beli pespur yg memberikan teknologi tinggi,dari A smpai Z yg bisa digunakan utk riset pespur nasional sehingga bisa dikembangkan lagi ke IFX, utk mewujudkan pespur genre 5,

    3.klo bisa dan ada dana melakukan riset dgn negara maju yg menguasai ilmunya, tuk pespur genre 6 tanpa tekanan apapun,

    hatur nuhun ka sadaya na,,

  67. jd kangen nhiec ane sama ndng okelah,,

  68. sebenarnya dengan posisi indonesia yg saat ini sangat menguntungkan, indonesia bisa saja meminta kepada ASU untuk mendapatkan hibah dari pesawat yg sdh dipensiunkan / tidak dipakai, namun masih memiliki daya gentar cukup tinggi. F-117 Nighthawk / YF-23 blackwidow. toh mereka udh gak pakai juga. tinggal gimana caranya aja melobi dan bernegosiasi dengan mereka. mulai dari blok migas sampai freeport bisa dipakai untuk nego.. gitu aja kok repot… xixixixixi….!! *ocehanorangngelamun

  69. disebelah ada info ASU mau TOT F-22 sama F-35 tuh… wkwkwkwk..!! tambah panas deh otak…

  70. menurut saya tdk adalah salahnya indonesia mengakusisi 20-24 skuadron SU 35. dr 20-24 skuadron, 8 skuadron SU 34, masing-masing pesawat SU 35 dan SU 34 diambil 1-2 unit pesawat utk dibongkar, setelah dibongkar baru dipelajari, materialnya, bodynya, radar dan bentuk avioniknya, dll, dengan cara demikian tujuan untuk melakukan penelitian dan pengembangan tercapai. mengapa saya menyarankan demikian ? jangan lupa kita juga membutuhkan waktu utk melatih calon-calon pilot supaya saat menghadapi pesawat tempur SUDAH AHLI dan TIDAK CANGGUNG menghadapi pesawat tempur negara lain yang menyerang negara kita atau memasuki wilayah udara kita tanpa izin. calon-calon pilot kita tersebut selain penting untuk dilatih kemampuan2 manuver dan pola penyerangan serta cara mengintersepsi perlu juga utk melatih mentalnya supaya mental calon pilot kita tdk ciut saat berhadapan dengan pswt tempur dr negara lain, krn saat perang taruhannya bukan hanya pesawat melainkan nyawa, meskipun pesawat tempurnya canggih. semuanya itu selain butuh uang juga butuh waktu dan tenaga, krn tdk mungkin kita baru adakan langsung calon pilot kita langsung bisa menerbangkannya tanpa melalui latihan di saat terjadi perang. selain itu ga ada salahnya kalau mau beli 4 skuadron EF Thypoon dan 5 skuadron rafale, semuanya perlu utk dipelajari dan menggabungkan semua kelebihan dari masing2 pesawat ke dalam design dan prosek pengerjaan IFX.

  71. Benar bang Arian T kita hrs selalu utk mendptkan teknologinya, agar kita tdk selalu dipermainkan oleh pedagang2 alutsista luar kalau perlu TNI AD mengadakan operasi senyap utk mendpt kan ahli2 dr Ukraina spt roket, pesawat jet,ahli2 naturlogi dan selagi situasi di Ukraina sedang bergejolak kita mencontoh AS/Rusia saling berebut ahli2 dari Jerman. Hasilnya dpt kita lihat AS/Rusia sangat maju. Salam………..

  72. bgmn perkembangan pespur pengganti f5, apakah dlm situasi yg dipastikan aman dan lancar, bung?

  73. sukro ma pak fa ….juragan….

 Leave a Reply