Feb 082015
 

 INDONESIAN AIR FORCE BASES, AIR FIELDS & AIR STRIPES

Tugu Mac Arthur

Tugu Mac Arthur

Tulisan ini saya buat untuk menanggapi upaya menghilangkan/mencoret Grand Design dari TNI AU yang akan menambah Skadron baru di kawasan timur Indonesia (Hal ini diungkapkan oleh Mantan kepala staf Marsekal Ida Bagus Putu tahun 2014). Sementara KASAU yang baru diangkat, Marsekal Agus Supriatna mengatakan “Tidak perlu mendirikan basis skuadron baru di kawasan timur Indonesia, karena kita dapat mengirim jet tempur kita dari Pangkalan Udara Hasanuddin.” Baru-baru ini pula ada statemen KASAU bahwa kita akan memberdayakan 5 pangkalan udara strategis di perbatasan yaitu Soewondo AFB (Air Force Base) di Medan, Ranai AFB di Natuna, Tarakan AFB di Kaltara, Eltari AFB di NTT dan Jayapura AFB di Papua.

Pernyataan tentang 5 Air Force Base Strategis (Medan, Natuna, Tarakan, Kupang dan Jayapura) kenyataan sesungguhnya adalah Lanud yang tidak ada apa-apanya selain menyandang status strategis. Di lima Lanud itu tidak ada skuadron tempur permanen apalagi bicara perlindungan udara semacam Oerlikon Skyshield dan PASKHAS yang bersenjata lengkap. Pentingnya Air Superiority tidak dapat terlepas dari jumlah dan strategi penempatan & perkuatan INDONESIAN AIR FORCE BASES, AIR FIELDS & AIR STRIPES. Kekuatan Udara TNI AU tidak semata bergantung kepada jumlah dan kualitas pesawat yang terdiri dari jenis Transpor, Tanker, Patroli, SAR hingga Penggebuk yang mumpuni yang selalu siap meladeni hingga Dog Fight pesawat siluman generasi terakhir.

Bandara Sentani - Jayapura

Bandara Sentani – Jayapura

TNI AU memiliki Pangkalan Militer Tempur sebagai Home Base dimana terdapat hanggar dan Pesawat Tempur permanen yakni Hassanuddin-Makassar, Supadio-Pontianak, Abdul Rahman Saleh-Malang, Iswahyudi-Madiun, dan Roesmin Nurjadin-Pekanbaru. Menurut rencana Grand Design TNI AU sebelumnya maka Lanud Sentani-Jayapura yang saat ini masih berstatus Type C akan ditingkatkan statusnya menjadi Type A menjadi Pangakalan Udara Utama (LANUMA), nah dengan pernyataan KASAU terbaru maka Bandar Udara terbesar di wilayah timur NKRI akan tetap dijaga Lanud TNI AU Type C, kalaupun naik hanya menjadi Type B dengan dukungan alutsista pertahanan udara yang minim. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan rencana Grand Design yang jelas ditujukan untuk menghadapi Infiltrasi bahkan serangan musuh yang berasal dari Timur atau Utara yang melewati Timur.

Hollandia Airfield setelah serangan 5th Air Force sekutu

Hollandia Airfield setelah serangan 5th Air Force sekutu

Belajar dari sejarah kemenangan Mac Arthur dengan strategi inovatifnya “Leap Frog,” tidak terlepas dari pentingnya perebutan Pangkalan Udara di Sentani-Jayapura (Sekarang menjadi Bandara Sentani). Operasi militer Sekutu untuk merebut Jayapura (saat itu bernama Hollandia) dan Sentani dari pihak Jepang ini berlangsung dari tanggal 22-26 April 1944 dan dikenal dengan nama Operation Reckless dan biasanya disebut secara simultan dengan Operation Persecution yang dijalankan secara bersamaan dengan target Aitape, 200km di sebelah timur Jayapura, diwilayah Papua Nugini Sekarang.

Peta Perebutan Lanud Sentani

Peta Perebutan Lanud Sentani

Target Operasi dari serangan ke Hollandia (pernah berganti nama menjadi Soekarnopura dan sekarang menjadi Jayapura), selain kota dan pelabuhan lautnya, yang menjadi sasaran utama Sekutu adalah tiga pangkalan udara di daerah Sentani (sekarang kabupaten Sentani), 40km di barat kota Hollandia, yang masing-masing disebut lanud Sentani, lanud Cyclops dan lanud Hollandia dan lanud Tami(Muara Tami) yang keempat, ada di dekat perbatasan RI-PNG sekarang. Sasaran-sasaran di Sentani ini direncanakan dijepit dengan penyerangan simultan melalui pendaratan amfibi dari dua arah, yaitu dari arah Teluk Humboldt (Teluk Yos Sudarso sekarang) dan Teluk Tanah Merah. Operasi militer dijadwalkan berlangsung pada 22 April 1944.

Dengan hancurnya dan lalu direbutnya Pangkalan Udara milik Jepang dimaksud maka selanjutnya sisa-sisa tentara Jepang melarikan diri lewat darat dan praktis dukungan udara untuk kantong-kantong pertahanan Jepang menjadi lemah. Karena penyekatan pasukan AS, kelaparan, tersesat, kelelahan, luka dan penyakit termasuk malaria, perjalanan ini menjadi mematikan, dan hanya sekitar + 7% yang sampai di Sarmi. Secara total, hanya sekitar 1000an orang tentara Jepang yang selamat dari penyerbuan Hollandia. 3300an orang terbunuh atau ditemukan tewas, dan sisanya (hampir 7000) hilang. Di lain pihak, hanya 124 pasukan AS yang gugur, 1057 terluka dan 28 hilang.

Dukungan udara pendaratan Sekutu di Tanah Merah

Dukungan udara pendaratan Sekutu di Tanah Merah

Setelah menguasai Sentani lalu Jend. D. MacArthur dan Mayjen H.H Fuller mendirikan markas Komando Mandala Pasifik Barat Daya di bukit Ifar Gunung/Bukit Cyclops dan tempat ini sekarang terkenal dengan sebutan bukit Mac Arthur. Selepas menguasai Sentani dan Hollandia lompatan berikutnya hingga perebutan Lapangan Udara di pulau Biak. Nah di Biak inilah sejatinya TNI AU sudah merencanakan untuk menjadikannya Skadron Baru yang setidaknya dapat diisi F16 Block 60, Gripen E/F atau Eurofighter Typhoon dan hal ini tentunya sekaligus akan menjadi payung udara bagi keberadaan Divisi Marinir di Sorong dan Freeport tentunya.

Perebutan Pangkalan Militer Jepang di Pulau Biak

Perebutan Pangkalan Militer Jepang di Pulau Biak

Dengan penggantian/penghapusan rencana penambahan Skadron baru khususnya di wilayah teras timur Indonesia maka jelas masih terbuka lebar celah bagi kekuatan asing untuk menyerang NKRI. Apabila TNI AU hanya mengandalkan 5 pangkalan udara militer yang ada saat ini maka akan selalu telat dan mahal dalam melakukan Intercept pesawat asing semisal infiltran pesawat masuk dari PNG di Intercept dengan menerbangkan Sukhoi 30 dari Lanud Sultan Hasanuddin-Makassar apalagi serangan dadakan musuh dari luar karena NKRI dikelilingi negara FPDA plus Amerika.

Peta Pangkalan Militer Amerika siap mengamankan/menjepit NKRI

Peta Pangkalan Militer Amerika siap mengamankan/menjepit NKRI

Demi alasan efisiensi boleh saja Bandara Sipil dan Lapangan Terbang Perintis dapat sewaktu-waktu dioperasionalkan sebagai pangkalan militer di saat kondisi darurat perang namun belajar dari Strategi “Leap Frog” Mac Arthur maka demi menjaga dan memberikan Efek Deteren sudah waktunya penambahan Skadron Tempur mutlak dilakukan penambahan. Sebagai penutup, lantas bagaimana Grand Design pengembangan organisasi TNI AU menuju postur kekuatan dan kemampuan yang ideal yang telah disusun dan telah dipublish dapat dipaparkan sebagai berikut :

Panglima Komando Operasi Udara (Koopsud) dipimpin Panglima berpangkat Marsekal Madya (bintang 3):

  1. Komando Tempur Udara (Air Combat Command)
    1. Komando Pertahanan Udara (Kohanud) dipimpin Panglima berpangkat Marsekal muda (bintang 2):
      1. Kosekhanudnas I/II/III/IV, masing-masing dipimpin Panglima berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1):
        1. Wing/Resimen 100 Pertahanan Udara Rudal Jarak Jauh Paskhas / Komandan berpangkat Kolonel. Tiap Satrad terintegrasi dengan Unit-unit / Satbak Satrudal Yon Peluncur Rudal Paskhas di masing-masing Kosekhanudnas wilayahnya. Wing 100 terdiri dari:
          1. Detasemen Khusus Rudal (Densus Rudal) Paskhas Perisai Udara Istana Negara
          2. Yon 101 Peluncur Rudal Paskhas Kosekhanudnas I / Komandan berpangkat Letkol
          3. Yon 102 Peluncur Rudal Paskhas Kosekhanudnas II / Komandan berpangkat Letkol
          4. Yon 103 Peluncur Rudal Paskhas Kosekhanudnas III / Komandan berpangkat Letkol
          5. Yon 104 Peluncur Rudal Paskhas Kosekhanudnas IV / Komandan berpangkat Letkol
        2. Wing 200 Radar dipimpin Komandan berpangkat Kolonel:
          1. Satuan Radar 211-219 Kosekhanudnas I / Komandan berpangkat Letkol
          2. Satuan Radar 221-229 Kosekhanudnas II / Komandan berpangkat Letkol
          3. Satuan Radar 231-239 Kosekhanudnas III / Komandan berpangkat Letkol
          4. Satuan Radar 241-249 Kosekhanudnas IV/ Komandan berpangkat Letkol
        3. Wing 300 Tempur Sergap dipimpin Komandan berpangkat Kolonel:
          1. Skadron 301 Tempur Sergap Kosekhanudnas I / Komandan berpangkat Letkol
          2. Skadron 302 Tempur Sergap Kosekhanudnas II / Komandan berpangkat Letkol
          3. Skadron 303 Tempur Sergap Kosekhanudnas III / Komandan berpangkat Letkol
          4. Skadron 304 Tempur Sergap Kosekhanudnas IV / Komandan berpangkat Letkol
        4. Wing/Resimen 400 Pertahanan Udara Titik Rudal Jarak Pendek Paskhas / Komandan berpangkat Kolonel:
          1. Den Hanud 471 Paskhas Lanuma Halim / Komandan berpangkat Letkol
          2. Den Hanud 472 Paskhas Lanuma Hasanudin / Komandan berpangkat Letkol
          3. Den Hanud 473 Paskhas Lanuma Supadio / Komandan berpangkat Letkol
          4. Den Hanud 474 Paskhas Lanuma Adi Sucipto / Komandan berpangkat Letkol
          5. Den Hanud 475 Paskhas Lanuma Iswahyudi / Komandan berpangkat Letkol
          6. Den Hanud 476 Paskhas Lanuma Rusmin Nuryadin / Komandan berpangkat Letkol
          7. Den Hanud 477 Paskhas Lanuma Abd. Saleh / Komandan berpangkat Letkol
          8. Den Hanud 478 Paskhas Lanuma Manuhua/ Komandan berpangkat Letkol
          9. Den Hanud 479 Paskhas Lanuma Soewondo / Komandan berpangkat Letkol
    2. Komando Serangan Udara (Koserud) dipimpin Panglima berpangkat Marsekal muda (bintang 2):
      1. Divisi Serangan Udara dipimpin Panglima berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1):
        1. Wing Tempur Strategis + Pembom dipimpin Komandan berpangkat Kolonel:
          1. Skadron Tempur Strategis 1 / Komandan berpangkat Letkol
          2. Skadron Tempur Strategis 2 / Komandan berpangkat Letkol
          3. Skadron Tempur Strategis 3 / Komandan berpangkat Letkol
          4. Skadron Tempur Strategis 4 / Komandan berpangkat Letkol
        2. Wing Tempur Taktis dipimpin Komandan berpangkat Kolonel:
          1. Skadron Tempur Taktis 1 / Komandan berpangkat Letkol
          2. Skadron Tempur Taktis 2 / Komandan berpangkat Letkol
          3. Skadron Tempur Taktis 3 / Komandan berpangkat Letkol
          4. Skadron Tempur Taktis 4 / Komandan berpangkat Letkol
      2. Divisi Parako PPRC Paskhas dipimpin Komandan berpangkat Brigadir Jendral Paskhas (bintang 1):
        1. Brigade Parako PPRC 1 Paskhas (Yonko 461,462,463) dipimpin Komandan berpangkat Kolonel
        2. Brigade Parako PPRC 2 Paskhas (Yonko 464,465,466) dipimpin Komandan berpangkat Kolonel
        3. Brigade Parako PPRC 3 Paskhas (Yonko 467,468,469) dipimpin Komandan berpangkat Kolonel
        4. Resimen Bantuan Tempur Paskhas dipimpin Komandan berpangkat Kolonel
      3. Resimen Bantuan Administrasi Tempur Paskhas dipimpin Komandan berpangkat Kolonel
      4. Sat Bravo 90 Paskhas Anti Teror dipimpin Komandan berpangkat Kolonel
      5. Den Matra 1/2/3 Paskhas dipimpin Komandan berpangkat Letkol
    3. Komando Dukungan Udara (Kodukud) dipimpin Panglima berpangkat Marsekal Muda (bintang 2):
      1. Wing Angkut Berat
        1. Skadron Udara 31
        2. Skadron Udara 32
        3. Skadron Udara 33
      2. Wing Angkut Sedang
      3. Wing Angkut Ringan
      4. Wing Intai
        1. Skaron Udara Awacs
        2. Skadron Udara Patmar
        3. Skadron Udara UAV
      5. Wing Heli
        1. Skadron Udara 6
        2. Skadron Udara 7 (Pendidikan)
        3. Skadron Udara 8
        4. Skadron Udara 9 (Sar Tempur)
      6. Wing VVIP/VIP
        1. Skadron Udara 17 Fix Wing
        2. Skadron Udara 45 Rotary Wing
        3. Air Force One
  2. Komando Wilayah Udara/Kowilud atau Teritorial Udara (Air Region Command)
    1. Komando Wilayah Udara I (Teritorial Udara NKRI bagian Barat) Medan, Sumut. Dipimpin Panglima (Pangkowilud I) berpangkat Marsekal muda (bintang 2):
      1. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Pekanbaru dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud disekitarnya.
      2. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Medan dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud disekitarnya.
      3. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud I
    2. Komando Wilayah Udara II (Teritorial Udara NKRI bagian Tengah) Surabaya,Jatim. Dipimpin Panglima (Pangkowilud II) berpangkat Marsekal muda (bintang 2):
      1. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Supadio Pontianak dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud Pulau Kalimantan.
      2. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud II wilayah Kalimantan.
      3. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Halim PK Jakarta dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud wilayah Ibukota.
      4. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud II wilayah Ibukota.
      5. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Atang Senjaya Bogor dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud wilayah Jawa Barat.
      6. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud II wilayah Jawa Barat.
      7. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Adi Sucipto Yogyakarta dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud wilayah Jawa Tengah.
      8. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud II wilayah Jawa Tengah.
      9. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) ABD Saleh Malang dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud wilayah Jawa Timur.
      10. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud II wilayah Jawa Timur.
    3. Komando Wilayah Udara III (Teritorial Udara NKRI bagian Timur) Makassar Sulawesi. Dipimpin Panglima (Pangkowilud III) berpangkat Marsekal muda (bintang 2):
      1. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Hassanudin Sulawesi dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud Pulau Sulawesi.
      2. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud III wilayah Sulawesi sekitarnya.
  • Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Jayapura Papua dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud wilayah Papua sekitarnya.
  1. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud III wilayah Papua sekitarnya.
  2. Lanuma (Pangkalan Udara Utama) Ngurah Rai Bali dipimpin Komandan berpangkat Marsekal Pertama (bintang 1) membina Lanud wilayah Nusa Tenggara sekitarnya.
  3. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan (Satkamhanlan) Kowilud III wilayah Nusa Tenggara.
  • Resimen Pertahanan Pangkalan Paskhas (Menhanlan Paskhas)
  • Komando Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) Dipimpin Komandan Jendral bintang dua berpangkat Mayjen TNI Paskhas.
  • Komando Pemeliharaan dan Materiil TNI AU (Koharmatau) dipimpin Komandan bintang dua berpangkat Marsekal Muda.
  • Komando Pendidikan TNI AU (Kodikau) dipimpin Komandan bintang dua berpangkat Marsekal Muda.

 

(by : Ayoeng – Biro Jambi)

  45 Responses to “MEMPERKUAT TERAS NKRI III”

  1.  

    he.. he…

  2.  

    Terima kasih, Terima kasih tambah wawasan lagi saya,

  3.  

    Saya mendukung adanya skuadron baru diwilayah timur Indonesia, mengingat luasnya wilayah Indonesia timur, meski harus disesuaikan dengan anggaran yang ada…

  4.  

    nyimak ajaa deh…

  5.  

    1

  6.  

    #salam gigit jari

  7.  

    Mengutip artikel sebelumnya tidak akan ada skuadron baru. Miris …..

  8.  

    Ulasan yg mantap bung ayoeng, semoga pernyataan kasau beberapa hari yg lalu itu bukan merupakan firman tuhan yg mutlak kebenaranya, grand design tni secara keseluruhan harus di jalankan berkesinambungan demi terciptanya tni yg kuat amin…….

    •  

      heh kecemplung, ………………. jangan gegabah, kalo ngomong yang benar, mana bisa pernyataan KSAU merupakan/disamakan dengan firman Tuhan ………….. ???

  9.  

    Salam ngemut jari….

  10.  

    Yah….tidak semua yang berseragam tentara itu patriot.

  11.  

    Efisiensi = pelemahan !

    Korupsi di buat efisiensi jgn kekuatan militer kita woyy

  12.  

    waspada NKRI dalam pelukan USA/Israel,Inggris,Australia dan Singapore.negara2 ini yg paling berbahaya dan berpengaruh akan keutuhan NKRI.#SAVE NKRI.

  13.  

    Papua …
    Biak : 3 unit SU30/F16 … sekalian buat nyenggol tetangga nakal
    Jayapura : 3 unit Tucano … buat cover pamtas border
    Merauke. : 3 unit Tucano

    utk mobilitas pamtas perlu 1ska … 16 unit gabungan NB412 + Mi35, saat ini msh sgt kurang, kasian prajurit yg jaga pos.
    utk patrol sungai baiknya AD tempatkan kapal motor cepat yg baru,
    maksudnya spy supply logistik prajurit bisa lebih lancar …

  14.  

    Ujung2 nya semua program ga ada yg jalan…padahal danax lebih besar dari mef 1….kangen pa poer dan pa safry.

  15.  

    aneh dan janggal… padahal salah satu visi pemerintah saat ini (maritim) dengan banyak expose penenggelaman kapal asing jelas berbeda dengan prinsip pemerintah terdahulu (zero enemy thousand friend) dan mengapa apa yang di rencanakan pemerintah terdahulu guna penguatan pertahanan malah di pemerintahan saat ini dengan visi berbeda tadi malah seakan melemahkan pertahanan. bukankah seharusnya jika dulu ada rencana penambahan 1 skuadron baru di timur harusnya pemerintah saat ini dengan visi digjaya nya menambah 2 atau 3 skuadron. bukankah mereka ingin show force?

    ada apa? sebenarnya arah pemerintahan saat ini itu mau kemana? seperti apa?
    ga jelas sepertinya…
    maaf saya masih OOT.

  16.  

    jangan bingung dengan arah pemerintah sekarang.. garis bawah adalah PENCITRAAN. jadinya pemerintah cumen omong kosong doang. gak kayak presiden yang kemarin diam2 tapi sedang bekerj (MEF). kukannya kaya sekarang ngomong doang banyak haus pujian.. salam NKRI

    PRABOWO SUBIANTO presidenku.

  17.  

    cukup..cukup..clue nya udah bertebaran.. makasih bung ayoeng 🙂

  18.  

    Apakah KSAU tidak pernah lihat peta, bahwa pangkalan militer ASu sudah mengepung NKRI, bila ASu bergerak merebut Papua, kita tidak akan bisa berbuat apa2, karena tidak ada pertahanan yg memadai yg menjaga papua ………… sungguh aneh, pulau cantik berharga yg mempunyai SDA yg melimpah dibiarkan telanjang, pasti ada yang tidak beres …….. apakah karena upeti berupa US dollar ??? …….

  19.  

    Mungkin pengalihan isu..biar ga tambah meriang negara di kawasan asean dan sekitarnya..karena adanya isu tni au jdi mau beli 1 ska/16 su35….cmiiw..:)

  20.  

    kalo begini ya gak adil dong,bagi keamanan saudara kita di timur

  21.  

    Kenapa tiap ada bantingan pada muntah, ngamuk. kenapa ga liat clue2 yang berserakan di tiap berita yang beredar. Emosi dikedepankan, baca pake mata, mikir pake otak, jangan pake perasaan, apalagi pake dengkul. Ujung2nya hujat para perumus kebijakan dan merasa paling paham soal kebutuhan. Enek rasanya liat beberapa warjager kunyah mentah info. Coba ada yang masih ingat gak panduan bung Satrio tentang cara analisis buat nyari clue2 dan kemudian dtarik benang merah. #menipu langit membelah samudra

  22.  

    perebutan antara Rusia vs AS atas Indonesia baru terlihat gambaran mentahnya saja dan dan publik blm mampu mencerna dari fakta sesungguhnya. konsumsi publik, Indonesia terlihat jelas cendung tunduk dan tak mampu keluar dari pelukan AS. sedang Russia tetap bersemangat berusaha masuk ke-lingkaran, apalagi akhir akhir ini Indonesia dinobatkan tukang selingkuh sehingga AS tak mau kecolongan. mempertegas “nonbloack” lebih diperlihatkan India sedangkan RI cukup sekedar wacana, 25% mungkin iya. sebuah negara patut mempertegas sebagi golongan nyata atau block, barat-timur atau nonblock

  23.  

    Yg akan jadi pertanyaan kok Panglima TNI juga gak menganulir ato mengkoreksi rencana TNI-AU tsb lha kan beliau istilahnya Direktur Utama antara pimpinan 3 Matra harusnya bisa donk mengkoneksikan rencana pertahanan antar 3 Matra TNI agar bisa sinkron nah kalo begini kan kayak 3 matra TNI berjalan sendiri2…lha trus hasil Latgab 3 Matra besar2an kmaren gmna

  24.  

    salam tabik bung Ayoeng…artikelnya memberikan pemahaman proyeksi lanud kita nanti…

  25.  

    Mungkin duit yg direncanakan utk membangun pangkalan baru tsb dipakai utk memperkuat skuads yg sudah ada dgn 16 SU35 dan 32 Grippen/ Typhoon, jauh lebih bagus kan dibanding dgn ada pangkalan baru tapi kosong :mrgreen:

  26.  

    SI KABAYAN TEA…

  27.  

    klo liat tugu mc arthur jd ingat ms kecil dl naik sepeda sm teman” ke sana setelah capek cr selongsong M16 🙂

  28.  

    Lanud-lanud lama saya setuju kalau diberdayakan kembali. Tetapi akan lebih baik lagi kalau pemberdayaan tersebut diikuti dengan pembangunan skadron baru di Biak. Jadi berjalan beriringan. Masalah dana, itu persoalan skala prioritas, mana yang ingin dicapai lebih dulu. Namun cita-cita membangun skadron tempur di Biak jangan lantas dimatikan. Itu saya yakin sudah melalui proses pemikiran dan perencanaan yang matang dan cukup lama, jauh sebelum era Kasau sekarang ini.

    •  

      dari bbrp komentar diatas (menyedihkan, sebaiknya anda amati saja (telaah sendiri) jangan mengkomen yg sifatnya adu domba secara tebuka ( perhatikan dan perkuat nasionalis diri) kita jangan mudah diadu domba, percayalah anda jangan menelan begitu saja secara mentah2 pernyataan kasau yg seolah tidak berkwalitas, yg perlu anda lihat indonesia itu jangan dari kata2nya tapi lihatlah dari perbuatan / tindakan atau action nyata di lapangan, mari kita analisa sedikit saja , mengingat Papua / Indonesia Timur sdh banyak disatroni oleh pasukan asing dengan banyak pangkalan tempur udara /marinir/AL asing yg bertebaran disekitar kita, memang apa yg diucapkan KASAU itu hanya diatas kertas, sedangkan cover defence / ofensive area sudah dipersiapkan dgn matang dan memadai, jika sdh tiba saatnya / realitanya kita sdh menempatkan bbrp pesawat tempur kelas heavy/ Medium/ yg ringan seolah bertugas patroli kadang ada kadang nggak( tersamar ) . dari kaca mata ini jika kita benar sdh mengisi kekuatan setingkat skadron/divisi/batalion dan arsenal/ matra darat ,udara, AL ( + Hiu selam yg bertaring tajam) itu terlihat sdh tidak menyolok bagi kekuatan asing penyatron tadi, seolah diibaratkan kekuatan kita sebenarnya sdh powerfull namun terselimuti kabut awan, shg tidak mudah terbaca oleh lawan jadi yg tampak dipermukaan seolah hanya pesawat patroli saja, indonesia utk taktik & strategi is nomber one. mari kita jaga bersama, dan kita selalu kompak .. jika dibutuhkan para patriot sejati dan pejuang bangsa siap membela Tanah Air dan udara diatasnya, bersatulah semua…..galang kekuatan sekali merdeka ……jangan pernah mengalah ….. tetap Meeeeerrrrrrrrrr DEKA. berkibarlah sang merah putih, jayalah bangsaku…..InDoNeSia……..amin..

  29.  

    @.p h. Mantab bung. 5 jempol buat anda sisakan 1 untukku ya. Lanjut bung

  30.  

    menyimak saja.
    bagus artikelnya bung Ayoeng

    1.mencoba mempercayai pemerintah dan TNi dlm menghadapi Asimetrik Warfare krena hanya merekalah yg mengerti strtegi NKRI
    2.meski hati ini deg degan melihat perkembangan geopolitis bila pecah perang.ane masih percaya RI

    edisi :wes mas sak karepmu atur pertahanan ri dan doktrin pre emtive strike

  31.  

    Mari kita lihat dari sudut pandang Capabilities Based Planning (CBP) dan Threat Based Planning (TBP).
    CBP menghasilkan Grand Design dari TNI AU yang akan menambah Skadron baru di kawasan timur Indonesia.

    Sedangkan TBP mungkin memilih meninggalkan Grand Design (untuk sementara), dan menggantikannya dengan evaluasi ancaman yg nyata. Dalam hal ini ancaman nyata dalam waktu dekat adalah di Utara, Laut China Selatan, bukan di Selatan, NTT. Artinya ada pemanfaatan / re alokasi sumber daya yang terbatas. Jarak Biak – Darwin itu lebih besar dari jarak Makasar – Darwin.

    Suatu hal yg menurut saya wajar.

    BTW, TBP itu ada dalam langkah2 membuat CBP. Jadi seharusnya dievaluasi dulu TBP, baru membuat CBP. MEF kita itu lagsung ke CBP tanpa melalui TBP.

    •  

      Dalam bbrp hal saya setuju dgn teory yg anda kemukakan, dan saya setuju dimana yg paling diprioritaskan itu melihat skala ancaman dimana, kapan baru menempatkan antidotnya. seperti itu. Tp perlu diingat bung, terlepas ancaman sdh berubah ke utara, tp ttplah skuadron baru di papua perlu ditindak lanjuti krn melihat dari pulau2 besar indonesia, sdh mempunyai skuadron, minus papua yg SDAnya kaya, politik yg tdk stabil dan banyaknya org2 asing yg berkedok jurnalis, peneliti, misionaris yg bekerja ganda menjatuhkan krediblitas NKRI dan blm lg letaknya yg diujung menjadikan lbh sulit mengawasi dan dgn tdk adanya pangkalan udara berisi pespur tempur komposit menjadikan papua itu sangat rentan di duduki musuh. syukurnya TNI AL menyadari ini dgn membuat pangkalan marinnir setingkat divisi. yg dpt mencegah LHD aussie mendaratkan panser amfibinya. tp kedepan siapa tau..? ngapain jg buat LHD yg notabene sbg alat angkut utk menginvasi daratan.

      Salam..

  32.  

    Bung antonov coba buat artikel simulasi pertempuran udara f 35, f 18 vs pespur kita. Di wilayah barat indonesia ,dengan di aktifkanya lanut lanut yg lama mula tipe B-c serta di bentukya lanut A. Skenario ini tidak mengikutkan skuadron baru. Ma’af sebelumya kalo lancang. Salam kenal

 Leave a Reply