Apr 112017
 

Fighters TNI AU usai atraksi udara di HUT ke 71 TNI AU, di Jakarta (photo : @_TNIAU)

Bulan Maret lalu, PERSIB, klub sepak bola kebangaan kota Bandung mengumumkan pembelian pemain top Eropa Michael Essien ketika merayakan ulang tahun klub yang ke 84. Lalu apakah akan ada kejutan pembelian Alutsista TNI AU baru setelah ulang tahun TNI AU ke 71 pada bulan April ini?

Masyarakat Indonesia, khususnya para pengamat pertahanan, memang tengah menanti soal pembelian pesawat tempur pengganti pesawat F-5 Tiger II yang sudah memasuki usia pensiunnya di tahun 2017 ini. Rencana pembelian pesawat pengganti sendiri sudah dicanangkan dalam rencana pembelian alutsista di MEF II. Namun hingga saat ini belum ada ketuk palu, pesawat mana yang akan mengisi kekuatan skadron 14 TNI AU.

Banyak kandidat pesawat pesawat tempur pengganti, namun kandidat pesawat pengganti F-5 Tiger II ini mengerucut seiring waktu. Kandidat kuat pengganti pesawat tempur tersebut adalah pesawat Sukhoi Su-35 Super Flanker dari Rusia, Saab JAS-39 Gripen dari Swedia, dan yang terakhir adalah F-16 block 70 Viper dari Amerika.

Memang banyak kabar yang mengatakan bahwa TNI AU sendiri sebenarnya lebih condong memilih pesawat buatan Rusia, yaitu Su-35 Super Flanker karena pesawat ini merupakan produk terbaru Sukhoi dimana penggunanya pun masih terbatas sehingga memiliki daya gentar yang amat tinggi karena teknologinya pun masih misterius. Beberapa penerbang dari Skadron 14 juga sudah ada yang menjalani pendidikan konversi agar sanggup menerbangkan pesawat Sukhoi.

Namun, hingga saat ini pemerintah belum ketuk palu pesawat mana yang akan mengisi hanggar skadron 14. Bisa jadi pembelian Sukhoi terhambat karena terbentur UU no 16 tahun 2012 tentang Industri pertahanan yang mensyaratkan adanya transfer teknologi ketika pemerintah mengimpor alutsita baru dari luar negeri.

Pihak Rusia memang terkenal “pelit” memberikan Tot kepada Indonesia. Sejak pembelian Su-27/30 tahun 2003 silam, Sukhoi memang belum memberikan transfer teknologi kepada industri dirgantara dalam negeri, dalam hal ini adalah PT Dirgantara Indonesia.

Dalam hal menentukan pilihan bagi pembelian alutsista, TNI AU, Kementerian Pertahanan bersama dengan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) harus bisa jeli dalam menentukan pilihan. Tentu pemerintah harus membeli pesawat yang memiliki daya gentar tinggi, namun harus memiliki resiko terkena embargo juga paling kecil, ditambah produk yang dibeli pun harus menyertakan skema transfer teknologi supaya industri pertahanan dalam negeri, khususnya di bidang kedirgantaraan terus berkembang.

Saat ini, pemerintah Indonesia sedang mengembangkan pesawat tempur generasi 4,5 bersama pemerintah Korea Selatan yang diberi nama proyek IFX/KFX. Proyek ini merupakan proyek patungan antara pemerintah Indonesia bersama Korea Selatan dimana pemerintah kedua negara berharap memiliki pesawat tempur yang memiliki kualitas setara dengan jet-jet tempur produksi Amerika dan Eropa saat ini. Dalam proyek ini, pemerintah Indonesia mendelegasikan PT. Dirgantara Indonesia sebagai wakil pemerintah dalam pengembangan proyek ini.

Karenanya, diharapkan dalam pembelian pesawat tempur baru pengganti F-5 Tiger II nanti disertakan pula alih teknologi dari negara produsen yang menjadi pilihan dari pemerintah, sehingga bisa membantu juga pengembangan dari pesawat tempur “made in Indonesia” nantinya.

Mungkin dalam hal ini Indonesia bisa mencontoh India dengan program “Make in India” nya yang dicetuskan PM Modi pada 2015 silam, dimana India mengharuskan pembuatan alutsista nya di dalam negeri. Jadi walau India masih membeli beberapa alutsista nya dari luar negeri, perakitannya harus dilakukan di dalam negerinya sendiri dengan melibatkan Industri dan komponen lokal. Dari hasil kerja sama dan alih teknologi ini India pun berhasil menelurkan sebuah jet tempur “made in India” yang bernama HAL Tejas.

Su-35 Super Flanker memang masih menjadi kandidat terkuat untuk dibeli oleh pemerintah dalam mengganti armada F-5 Tiger kita. Dan memang, skadron 14 membutuhkan pesawat superioritas udara yang canggih guna mengamankan luas wilayah udara Indonesia yang luasnya mencapai sekitar 5.300.000 km2. Divbawah Su-35, ada F-16 Viper dan JAS-39 Grippen yang tetap mengintai untuk bisa menikung si super flanker dengan strategi pemberian ToT yang signifikan terhadap Industri pertahanan dalam negeri.

Nah apakah setelah hari jadi TNI AU ke 71 tahun ini akan ada kejutan dengan adanya pengumuman pembelian alutsista baru yang memang sudah dinantikan? Mari kita tunggu saja dan semoga pilihan yang diambil merupakan pilihan terbaik bagi kepentingan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dirgahayu TNI AU ke 71, Swa Bhuwana Paksa!

PENULIS : PRASTA KUSUMA, S.IP
ALUMNI ILMU PEMERINTAHAN UNPAD

  65 Responses to “Menanti Kejutan Pasca-Ulang Tahun ke 71 TNI AU”

  1. Rekkkk…tak kiro analisa opo, jebul penulise malah melok bingung?!!!!!!

  2. kadonya lilin, lilin yg bisa terbang n mbedug….hehee

    • Kejutannya adalah dtg nya super flanker
      Itu blok timur,.blok baratnya mana??? Katanya gado2
      Klo dilihat kasus pembelian heli kelas berat mi26 si paman nyodorin chinook
      Lalu klo su35 paman kasih apa ya…?
      Klo bisa menang lawan sayap delta dr negri ratu kemungkinan si elang (bkn alap2)kelas berat terbaru mungkin bisa hinggap,..

  3. rencana terus

  4. Shukoi 35 pasti….kadonya…..

  5. Pengganti F-5 Tiger nampaknya bukan Su-35. kalau toch Su35 hadir di indonesia paling banter 10 unit.

  6. Jika tdk mau Yg Boros Pemeliharaan Seperti pespur Belilah S-400 dgn Uang 400-420Jt USD Anda bisa mendapatkan 8 Peluncur dan 112 Rudal bebagai Jenis…

    • Tdk Efektif bung jika beli sedikit, 1 paket S400 itu cuma dilengkapi 12 peluncur, berarti max target yg bisa di cegat cuma 12, lalu harus reload lg.

      • Memang tdk Efektif klau Cuma beli 1 Paket klau Efektif itu Minimal 6 Paket… itupun jika mau lebih Efektif harus di tambah Buk

        • Cukup beli 2 paket aja bung, tapi juga dilengkapi 2 unit Buk-M3 dan 2 unit Pantsir, cukup untuk memblok hingga puluhan target, perkiraan saya kombinasi antara 1 paket s400 + 1 Buk-m3 + 1 pantsir mampu memblok hingga 47 target tanpa reload.

          • Tapi 2 Paket itu Tdk Cukup Bagi Indonesia Yg Sangat Luas…

          • Saya ralat deh, kemungkinan yg dpt diblok tanpa reload bisa sampe 40, bukan 47, hehehehehehe

  7. kalo persib mah kejutanya mang essien..untuk tni au kalo Su 35 bukan kejuatan lagi. tapi kalo beli fak pa, s 400/ 500, tu 160 / 22 baru itu kejutan .. wakwaw

  8. Sebelum menhan Mr.RR konferensi pers semua analisa masih Nol

  9. Kabar dari ayam, RI nego 8 unit F15SE Silent Eagle. Kok disini (bahkan di tempat lain) gk kedengeran yah tentang F15SE pengganti F5 tiger?

  10. persebaya, persija,arema,sriwijaya,persipura, kejutannya apa yah, moga aja ada yg memboyong kristiano ronaldo dan lionel mesi.

  11. kalo ToT SU35 ternyata sulit & mahal … lebih baik dapet offset minimal senilai 50% dari total pembelian, kalaupun msh sulit boleh jg minta ToT utk melengkapi IFX.

  12. .kokok ayamnya masih malam hari sih.. bukan pagi hari ..

  13. Typhoon….
    Semoga pemerintah bisa segera memutuskan pengganti f5…untuk memenuhi kuota pesawat serbu multirole….

  14. menelurkan sebuah jet tempur “made in India” yang bernama HAL Tejas.

    XAXAXAXAXA

  15. o>

  16. Make In Indonesia rasanya sangat tdk mungkin… kenapa karena indonesia belinya masih Sedikit ngak Langsung Borong Kaya India…

  17. semoga

  18. Kalau di lihat dari Buku Putih Pertahanan Indonesia tahun 2015. Harusnya Su 35 terwujud. Karena pada halaman 45. Itu kalau gk salah lihat ada gambar Su 35. Itu juga kalau gk rubah pikiran.

  19. Kejutan dari China, mereka akan dapat tambahan 10 Su-35 tahun 2017

  20. Sumuk gerah dah nunggu kabar baiknya, masih kabur kabarnya!

  21. Udah lahh…beli viper,gripen dan fa50 aja msing2 1skadron, ga usah pilih su35, udah ga suka sm su35…boros, cpt pensiun dan tanpa tot…utk apa beli gituan..???

    • Gripen dan FA-50 nya saya setuju.
      Viper, .. pikir-pikir dulu.

      • Justru pembelian Viper untuk bahan pembanding dengan Gripen.

        RI kepinginnya Gripen NG (E dan F), jumlahnya 36 unit.

        Brazil TOT 36 gripen ng besarnya biaya USD 4,68 milyar. Artinya USD 130 juta per unit.

        Prediksi pembelian untuk 4 skuadron medium multirole single engine total 64 unit.

        Viper janji di bawah USD 100 juta lengkap suku cadang, dirakit di sini dan ada offsetnya. Jumlah yg mau dibeli mungkin 24 – 28 unit.

        64 – 28 = 36

        Artinya dengan pembelian lebih sedikit kok harga Viper lebih murah, jika SAAB mau ambil jatah 36 unit ini maka SAAB harus banting harga untuk mutu barang dan TOT yang sama seperti Brazil.

        Jika SAAB nggak mau, 36 unit ini bakal diambil Viper lagi.

        In my opinion only.

        😛

  22. Kejutan apaaaannn..

    Ternyata cmn cerita lama su diulang lg..

    Mengkisahkan ttg
    Su tuh speknya gini gitu..
    Su tuh kemampuannya gini gitu..
    Su tuh senjatanya gini gitu..

    Dari duluuuu sekaleee cmn judulnya di rubaah rubaaaahhh teruussss..

    Wkk.. Ampuun miinn..

  23. Saya optimis gripen c/d block baru yg upgrade radar pake aesa.. Kan pernah tuh disodorin Saab..

    Su 35 cancel

  24. Tes

  25. Aturan TOT memang bikin susah … Mana mungkin siapapun produsennya mau kasih itu TOT kalo belinya ketengan apalagi maunya murah

    India beli >150 flanker baru dapet TOT. Brazil beli 36 Gripen E, dapat TOT dengan harga 30% lebih mahal daripada tanpa TOT

  26. Menurut mbah jumbleng setelah dpt wang sit su 35 batal

 Leave a Reply