Apr 112014
 

alutsista-2-mef

Menyimak apa yang telah kita lakukan hingga saat ini untuk kemandirian Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI, yakinkah dapat dicapai dalam kurun waktu 50 tahun kedepan, atau mungkin terpenuhi sebelum itu, atau setelah 100 tahun kedepan, atau tidak mungkin terealisasi sama sekali sampai kapanpun juga; hal ini perlu kita renungkan sebagai anak bangsa, yang bukan hanya punya mimpi atau keinginan saja, namun juga memiliki tekad dan berbuat untuk merealisasikannya.

Memang tidak mudah untuk mampu memenuhi seluruh kebutuhan Alutsista TNI dari hasil produksi dalam negeri kita sendiri. Namun untuk tahapan pemenuhannya, perlu konsisten, komitmen dalam perencanaan strategis yang baik, seberapa banyak yang ingin dan sekiranya mampu kita buat sendiri untuk 5, 10, 15, 20 hingga 25 tahun atau 50 tahun kedepan, walaupun mungkin harus bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mengatasi berbagai kendala seperti dari penguasaan teknologi (Know-How) atau dari kesiapan sumber daya manusianya, ketersediaan anggaran/budget ataupun berbagai fasilitas dukungan lainnya yang sekaligus juga merupakan bagian untuk pembangunan industrinya.

Saat ini untuk memenuhi berbagai prioritas kebutuhan Alutsista, kita terpaksa masih harus membeli dari luar negeri seperti meriam, tank, pesawat tempur, kapal selam dan banyak lagi alat perang lainnya. Sedangkan beberapa industri dalam negeri yang memang sudah mampu memproduksi sebagian Alutsista seperti senjata perorangan SS-1 berikut munisinya, Ranpur Panser 6×6 Pindad, pesawat angkut ringan CN235/CN250 dan helikopter BO-105 serta kapal patroli cepat (Fast Patrol Boat) harus tetap terus dipelihara dan ditingkatkan kemampuannya, seperti penguasaan teknologi, kecanggihan dan kualitas produknya, dariAssembling menjadi Full Manufacturing, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun juga bila memungkinkan sebagai komoditi yang mampu bersaing dan laku dipasarkan ke luar negeri. Sehingga sekali lagi kita perlu bertanya guna perencanaan strategis kita, seberapa banyak yang harus dapat kita buat sendiri, seberapa banyak yang masih harus kita beli dari luar negeri, dan seberapa banyak yang akan kita kerjasamakan dengan pihak luar negeri, sekaligus untuk kontribusi dunia sebagai komoditi yang menghasilkan devisa dan kesiapan/ antisipasi kita menghadapi persaingan/tekanan global.

Kemandirian Alutsista sebagai bagian dari Kemandirian Bangsa.

Untuk menuju kemandirian Alutsista atau yang lebih luas lagi kemandirian bangsa, kiranya perlu terlebih dahulu adanya kesamaan pengertian atau terminologi tentang ”kemandirian” itu sendiri yang dapat diartikan sebagai ”kemampuan untuk melakukan sendiri dari segala sesuatu yang dikehendaki/ diinginkan dan dari yang seharusnya mampu dilakukan sendiri, dan tidak menggantungkan diri kepada pihak-pihak lain untuk mewujudkan keinginan tersebut”. Sehingga untuk mencapai kemandirian bangsa ataupun Alutsista, sesungguhnya perlu terlebih dahulu kesamaan kehendak dan komitmen bangsa (Commitment to The Nation), seberapa besar keinginan bangsa itu sendiri yang harus diperbuat untuk pencapaiannya, yang berani dituangkan dalam rencana pembangunan strategis nasionalnya, yang dituangkan dalam aturan-aturan/regulasi untuk operasionalnya sampai ke teknis pelaksanaan atau prosedurnya (Rose of The Game and Action Plan) yang dibuat, dengan segala konsekwensi, risiko atau konsistennya.

Pada kenyataannya tidak mungkin seluruh aspek, bidang atau sektor kehidupan dapat diwujudkan sebagaimana hakekat kemandirian bangsa mampu dilakukan dan terpenuhi dari karya anak bangsa sendiri, dari desain/rancangannya sendiri, dari produksinya sendiri atau dari hasil budidayanya sendiri seperti ketersediaan berbagai komoditi untuk pemenuhan seluruh kebutuhan hajat hidup bangsa atau bahkan untuk bangsa-bangsa lain di dunia, demikian halnya untuk pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI untuk pertahanan negara, namun setidaknya semua hal penting yang harus terus bisa menjadikan bangsa Indonesia unggul, tangguh dan sejahtera, mampu hidup sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di tengah-tengah persaingan global, sebaiknya bisa diraih secara simultan, yaitu seperti dari :

a. Kemandirian untuk ketersediaan bahan pangan yang harus terus mampu diupayakan sendiri, dari hasil produk atau budidaya sendiri dengan mutu yang terus dapat ditingkatkan dan mampu bersaing dengan produk-produk lain dari luar negeri, yang tentunya dalam hal ini diperlukan campur tangan atau proteksi dari pemerintah dengan regulasi atau aturan-aturannya yang harus lebih menjamin terus berkembangnya produktifitas dalam negeri, baik yang berasal dari sektor pertanian, peternakan atau perikanan yang optimal mampu dilakukan oleh bangsa Indonesia itu sendiri.

b. Kemandirian untuk ketersediaan bahan sandang dan bahan bangunan untuk perumahan yang harus mampu diupayakan dan diproduksi sendiri di dalam negeri, yang harus mampu bersaing dengan produk-produk luar negeri yang memang dituntut kuat, kokoh dan terus dapat ditingkatkan dan dihandalkan mutu/kualitas serta ketersediaannya, baik dari aspek bahan baku, kemampuan memproses dan mengolah bahan baku ataupun kemampuan meningkatkan penjualan produk sampai untuk keistemewaan- keistimewaan (Privilege) layanan (Services) kepada Customernya.

c. Kemandirian di bidang rekayasa industri, untuk pembuatan mesin- mesin, sarana produksi atau peralatan kerja (Machinery and Tools), untuk pembuatan alat-alat ukur, untuk sarana pengujian (Measurement/Testing Equipment) atau alat/sarana laboratorium. Kemandirian untuk pembuatan berbagai peralatan/produk elektronik, komputer, barang komposit, baja, kimia atau polymer untuk kebutuhan rumah tangga, perkantoran, alat-alat pendidikan, kesehatan, olah raga, atau untuk alat-alat berat pertanian, pertambangan, pekerjaan umum, Heavy Engineering atau yang dibutuhkan pada proses-proses/kegiatan industri mulai dari tahapan desain, R&D, sampai ke proses produksi (Manufacturing) atau Maintenance yang mampu dilaksanakan oleh bangsa Indonesia sendiri.

d. Kemandirian di bidang pembangunan infrastruktur untuk pembangunan peradaban yang semakin maju, kuat dan modern, seperti untuk ketersediaan energi listrik, bahan bakar dan air bersih. Ketersediaan fasilitas publik untuk transportasi darat, laut dan udara berikut fasilitas pendukungnya (prasarananya) berupa jalan raya, pelabuhan laut atau bandar udara, sarana dan prasarana (jaringan) komunikasi sampai dengan fasilitas atau sarana dan prasarana untuk transaksi berbagai komoditi seperti pasar, bank dan sebagainya yang dimiliki, dibangun dan dikelola oleh bangsa Indonesia sendiri.

e. Kemandirian untuk eksplorasi, eksploitasi dan pengolahan sumber daya alam yang dimiliki mulai dari yang ada di daratan sampai ke dasar lautan untuk diwujudkan menjadi bahan baku (Raw Material) atau komoditi (End Product) dengan nilai jual paling tinggi yang mampu dilaksanakan sendiri, dengan modal dan Sumber Daya Manusia Indonesia sendiri.

f. Kemandirian untuk pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI, baik untuk daya tembak dan daya gerak (aspek darat, laut dan udara) berikut sistem manajemen tempurnya (Combat Management System) C4ISR, yang mencakup berbagai komoditi militer mulai dari sistem komandonya (Command), sistem kendali (Control), sistem komunikasi (Communications) dan sistem komputerisasinya (Computerized) yang juga didukung dengan sistem Intelijennya (Inteligence) mulai dari sistem deteksi dini, penjagaan dan pengamatan (Surveillance) sampai untuk ke sistem pengenalan ancaman atau lawan (Reconnaissance) dari rancangan/desain dan produk bangsa sendiri yang tidak kalah maju dengan buatan luar negeri.

Kemandirian bangsa dalam rangka ketersediaan berbagai komoditi untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun banyak pihak, harus mampu tersediakan oleh bangsa Indonesia sendiri, sehingga memiliki posisi tawar (Bargaining Position) untuk terus eksis menjadi bangsa yang unggul dalam persaingannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Tantangan yang dihadapi untuk Kemandirian Alutsista.

Dari sejarah dunia yang panjang, negara/kerajaan digdaya, eksis dan berkehendak ekspansi, utamanya datang dari keberanian pemimpinnya yang berani membesarkan dan menyiapkan kekuatan militer/tentaranya yang kuat, bersamaan dengan keinginan untuk membangun ekonominya yang kuat. Contoh bangsa-bangsa Eropa yang sejak jaman dahulu berkehendak mencari untuk menguasai berbagai sumber bahan baku, rempah-rempah, bahan bakar dan sebagainya guna berbagai kepentingan hidup masyarakatnya, dihadapkan dengan kemungkinan ancaman atau tantangan yang dihadapi, juga membangun tentara atau kekuatan militernya di darat, laut dan udara yang kuat. Sedangkan untuk membangun tentara yang kuat juga menumbuhkan keinginan untuk menguasai kemampuan teknologinya yang hebat. Sejalan dengan itu juga bidang-bidang lain berkembang, seperti dunia pendidikan, kepakaran atau R&D yang relatif akan lebih cepat dan sangat maju, yang dengan sendirinya juga perlu diimbangi dan diikuti dengan kemajuan infrastruktur, industri dan ekonomi serta peradaban manusia dengan hukum, etika dan disiplinnya yang semakin maju dan modern.

Sejak jaman Romawi hingga kekuasaan negara-negara adidaya saat ini, para pakar/ilmuwan/praktisi kaliber dunia yang tahu cara-cara pembuatan senjata atau peralatan militer, pada umumnya cenderung akan diawasi, dimonitor, direkrut, dikuasai dan diakomodasi segala kegiatan/aktifitasnya oleh pemerintah/militer/ Dephan atau industri pertahanan dinegaranya. Demikian halnya dengan sarana dan prasarana industri peralatan militernya, juga akan senantiasa diinventarisir, didata, diakreditasi, diawasai dan dikontrol/dikendalikan terhadap kemampuannya, mulai dari kemampuan desain, R&D, produksi (Manufacturing & Assembling), penjualan, sampai ke distribusi produk-produknya dan pemakainya. Pemerintah juga akan mengaudit investasi atau modal kerjanya, profit/keuntungannya, bahkan sampai layanan purna jualnya, untuk pemeliharaan (Maintenance) danIntegrated Logistic Support kepada pengguna produknya (Customer/User), terlebih untuk pengendalian produk-produk militernya yang dijual keluar negeri, disamping dalam rangka jaminan teknis untuk penggunaannya. Sehingga bagi Indonesia yang masih tertinggal penguasaan teknologinya dan selama ini hanya sebagai Customer/User produk luar negeri relatif akan lebih sulit untuk perolehan/transfer teknologinya.

Pada kenyataannya lebih separuh Alutsista yang kita miliki adalah buatan luar negeri, sehingga terjadi adanya ketergantungan pada negara asal, khususnya untuk kebutuhan suku cadang dan pemeliharaannya. Baru sedikit saja yang sudah bisa kita buat sendiri/tiru. Disisi lain, saat kita diajak dan dibukakan wawasan kita untuk melihat/meninjau fasilitas dan kemajuan teknologi Alutsista yang telah mampu dibuat/dikembangkan oleh negara yang relatif sudah lebih maju, dengan segala proteksi/keterbatasannya yang boleh dilihat, kita hanya mampu memperoleh info/data sebatas wacana kita untuk mengetahui fungsi atau kegunaannya, untuk mengetahui kemampuan, unjuk kerja atau Performance nya, yaitu sebagai bahan intelnik atau rencana pengadaan/pembelian produk yang kita tinjau industrinya tersebut. Penelusuran/survei teknologi terhadap barang-barang/komoditi militer (Alutsista) tersebut belum mencakup dan optimal memanfaatkan kompetensi para pakar/ilmuwan yang memiliki Basic pengetahuan dan teknologi yang proporsional/ sepadan untuk bagaimana meniru/cara-cara pembuatannya sebagai upaya mampu dirancang dan diproduksi sendiri di dalam negeri. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa Indonesia sebagai Customer/User terhadap Alutsista atau sarana pertahanan negara yang dibeli dari luar negeri dan akan kita digunakan, sesungguhnya tidak boleh terjadi kesenjangan (Gap) yang terlalu jauh dengan kemampuan/penguasaan teknologi yang dimilki perancang/pembuat atau pabrikannya. Kondisi infrastruktur keilmuan untuk industri inilah sebenarnya yang harus mampu kita wujudkan. Sehingga kedepan paling tidak hanya dikarenakan finansial, investasi atau modal kerja untuk pembangunan industri militer yang relatif besar sajalah yang sekiranya akan menjadi kendala untuk kemandirian industri Alutsista yang akan kita buat sendiri.

Kita masih terus membeli Alutsista dari luar negeri, juga karena belum optimal memberdayakan industri dalam negeri dan belum mewajibkan untuk menggunakan produk dalam negeri. Walaupun memang mungkin pada kenyataannya industri dan produk dalam negeri sendiri relatif masih tertinggal dengan berbagai kekurangannya. Namun apabila ide, rancangan, R&D atauPro-to-type sampai produk kita sendiri tidak pernah dikembangkan dan diberdayakan, terlebih hanya karena belum mampu memenuhi tuntutan persyaratan pengguna (User) yang berkiblat/mengacu kepada standar kemampuan teknologi luar negeri yang relatif sudah lebih maju, maka sebenarnya produk dalam negeri akan sulit untuk terus mampu dikembangkan, direalisasikan bahkan ditingkatkan. Padahal logikanya pada saat terjadinya perang berlarut, kita hanya akan tergantung pada teknologi yang masih ada dan tertinggal di dalam negeri kita sendiri tersebut, dan sebenarnya Alutsista yang kita beli juga saat ini relatif akan menjadi tertinggal lagi dihadapkan dengan teknologi di dunia militer yang terus semakin maju dan canggih.

Harapan dari kendala yang dihadapi, khususnya untuk biaya/dukungan kebutuhan pembuatan desain dan pengembangan prototipe komoditi militer (Alutsista) yang akan dibuat di dalam negeri, sebaiknya menjadi tanggung jawab pemerintah (Dephan,TNI dan institusi terkait lainnya seperti Kemenegristek, BPPT, LIPI, Depkeu, Bappenas dan perusahaan/industri terpilih), yang disusun satu paket dengan rencana tahapan produksinya. Desain/rancangan produk tetap melalui suatu kajian, penelitian dan tahapan pengembangan (Pro-to-type/Type), yang untuk keputusan realisasi produk serinya dijamin pasarnya oleh pemerintah (Dephan/TNI, Depkeu, Bappenas) melalui persetujuan wakil-wakil rakyat di DPR, yang selanjutnya diimplementasikan melalui tahapan/kontrak produksi sejalan dengan pencapaian/peningkatan mutu dan kemajuan atau penerapan teknologinya yang terus dikembangkan. Hal ini juga tentunya akan menjadikan biaya penelitian pengembangan (R&D) yang dilakukan oleh seluruh pihak terkait atau stake holder lebih efektif dan fokus untuk prioritas Alutsista yang paling dibutuhkan oleh pengguna (User) dan terpilih untuk terus dapat dikembangkan, diproduksi dan ditingkatkan penguasaan teknologinya di dalam negeri sesuai kemampuan dan ketersediaan alokasi anggaran pemerintah.

Berbagai Alutsista yang telah dan belum mampu dibuat sendiri.

Berbagai Alutsista yang dibutuhkan TNI sebenarnya sudah dapat ditentukan untuk pemenuhan jenis, fungsi dan standar kaliber/kelasnya dihadapkan dengan doktrin pertahanannya yang harus mampu menjaga dan menegakkan kedaulatan bangsa dan negara diatas wilayah teritorialnya yang sangat luas sebagai negara kepulauan dengan kepadatan penduduknya yang terkonsentrasi di sebagian wilayah pulau-pulau besarnya. Tuntutan untuk pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI juga berdasarkan atas perkembangan lingkungan strategis, dari perkiraan ancaman atau lawan yang mungkin dihadapi serta dari susunan tempurnya yang pada kenyataannya juga cenderung meniru/mengadopsi/mengikuti susunan tempur militer/tentara yang telah banyak diterapkan oleh negara-negara di dunia dengan berbagai modifikasinya, yaitu guna menyesuaikan dengan peralatan tempur yang mampu dimiliki atau sudah mampu dibuat di dalam negerinya sendiri atau karena adanya kerjasama dengan negara-negara sahabat, sekutu atau aliansinya. Adapun Alutsista TNI yang telah dan belum mampu dibuat sendiri untuk secara berangsur di desain dan diproduksi sendiri di dalam negeri pada periode 5 sampai dengan 30 tahun mendatang, antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Senjata berikut munisinya (termasuk alat bidik optik/optronik, alat-alat penginderaan/Sensory Radar maupun untuk kendali jejak otomatik dan penembakan elektroniknya/Automatic and Electronic Computer for Aiming, Tracking and Firing System kearah sasaran). Diprediksi dan diharapkan 10 sampai dengan 30 tahun mendatang, struktur dan infrastruktur industri untuk pembuatan keseluruhan sistem atau komponen-komponen utamanya telah siap untuk terus mampu dikembangkan sendiri di dalam negeri, walaupun untuk percepatan pembangunannya juga dapat melalui kerjasama industri/ teknologi militer dengan negara sahabat.

1) Senjata Infanteri atau senjata aspek darat atau untuk perorangan dan untuk kelompok/satuan berikut munisinya dengan standar kaliber internasional dan/atau yang telah disepakati/ digunakan untuk TNI (AD,AL,AU), diharapkan sampai dengan 10 tahun mendatang keseluruhannya telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri dengan atau tanpa melalui kerjasama industri/teknologi militer dengan negara sahabat.

a) Pistol Kal 9 mm (menggunakan Munisi 9x19mm), digunakan untuk Perwira mulai Dan Ton sampai pimpinan tertinggi di TNI, telah mampu dibuat/diproduksi sendiri di dalam negeri oleh PT Pindad.

b) Senapan Kal 5,56 mm (menggunakan Munisi 5,56x45mm), digunakan untuk prajurit, telah mampu dibuat/diproduksi sendiri di dalam negeri oleh PT Pindad : (1) Senapan serbu (Assault Rifle); (2) Karaben (Caraben), untuk Dan Ru; (3) Tipe Komando (Command), untuk para Komandan atau pasukan khusus penumpas (Raiders).

c) Senjata/Senapan Otomatis (SO) Kal 5,56 mm (menggunakan untaian Munisi 5,56x45mm dan perangkainya), untuk senjata kelompok, belum dibuat sendiri di dalam negeri.

d) Senapan Mesin Multi Guna (General Purpose Machine Gun, GPMG) Kal 7,62 mm (menggunakan untaian Munisi 7,62x51mm dan perangkainya), untuk berbagai kepentingan/ fungsi sebagai SO yang juga dapat dipasang pada Ranpur, pesawat udara atau kapal sebagai senjata utama, sebagai Penangkis serangan Udara (PSU) atau sebagai Co-Ax pada Kanon Ranpur/Kapal, belum dibuat sendiri di dalam negeri, baru riset untuk dikembangkan sendiri di dalam negeri oleh PT Pindad.

e) Senapan Mesin Ringan (SMR), Kal 7,62 mm, (menggunakan untaian Munisi 7,62x51mm dan perangkainya), belum dibuat sendiri di dalam negeri, baru modifikasi produk luar negeri oleh PT Pindad.

f) Senapan Mesin Sedang (SMS), Kal 7,62 mm, (menggunakan untaian Munisi 7,62x51mm dan perangkainya), belum dibuat sendiri di dalam negeri, baru modifikasi produk luar negeri oleh PT Pindad.

g) Senapan Mesin Berat (SMB), Kal 12,7 mm, (menggunakan untaian Munisi 12,7x99mm dan perangkainya) belum mampu dibuat sendiri.

h) Senapan Runduk (Sniper), Kal 7,62 mm, telah mampu dibuat/diproduksi sendiri di dalam negeri oleh PT Pindad.

i) Senapan Runduk (Sniper), Kal 12,7 mm, telah mampu dibuat/diproduksi sendiri di dalam negeri oleh PT Pindad.

j) Automatic Grenade Launcher (AGL), Kal 40 mm, belum mampu dibuat sendiri.

k) Senjata Pelontar Granat (SPG), Kal 40 mm, telah mampu dibuat/diproduksi sendiri di dalam negeri oleh PT Pindad.

l) Grenade Rocket Launched (GRL), Kal 40 mm, telah mampu dibuat/diproduksi sendiri di dalam negeri oleh PT Pindad.

m) Senjata Lawan Tank atau Rudal Anti Tank : (1) Senjata Tanpa Tolak Balik (STTB) Kal 108 mm, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri; (2) Peluru Kendali (Rudal), Disposable Launcher, Rocket Propelled Grenade (RPG), belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

n) Mortir Komando Kal 60 mm, pembuatan oleh PT Pindad tidak berlanjut.

o) Mortir Long Range Kal 60 mm, pembuatan oleh PT Pindad tidak berlanjut.

p) Mortir Split Barrel Kal 81 mm, pembuatan oleh PT Pindad tidak berlanjut.

2) Senjata-senjata untuk satuan intelijen atau untuk pasukan khusus, diharapkan pada 5 sampai 10 tahun kedepan sepenuhnya sudah dibuat sendiri di dalam negeri.

a) Pistol untuk satuan Intelijen, alternatif Kal 7,62 mm, 9 mm, 11 mm atau .22 dengan panjang munisi khusus, belum dibuat sendiri di dalam negeri.

b) Senjata Khusus Para/Komando, alternatif Kal 5,56 mm, 7,62 mm atau 9 mm dengan panjang munisi khusus, belum dibuat sendiri di dalam negeri.

3) Senjata untuk satuan Artileri Medan (Armed), diprediksi dan diharapkan 20 sampai dengan 40 tahun mendatang keseluruhannya telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri atau dibuat melalui kerjasama industri/teknologi militer dengan negara sahabat. Selanjutnya guna kemudahan dukungan bekal munisinya, standar kaliber meriam untuk tembakan lengkung dan jarak jauh (Howitzer) untuk Armed TNI AD atau yang digunakan untuk Bantuan Tembakan Kapal (BTK) TNI AL, sebaiknya juga ada kesamaan-kesamaan untuk dapat alih tukar, terlebih bila akan dibuat di dalam negeri sendiri.

a) Mortir Kal 120 mm, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

b) Meriam Howitzer (Tarik) Kal 76 mm, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

c) Meriam Howitzer (Tarik) Kal 105 mm, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

d) Meriam Howitzer (Tarik) Kal 155 mm, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

e) Meriam Howitzer Gerak Sendiri/GS (Self Propelled) diatas Ranpur Kal 105 mm, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

f) Meriam Howitzer Gerak Sendiri/GS (Self Propelled) diatas Ranpur Kal 155 mm, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

g) Rocket Multi Launcher Kal 2,75 inchi, baik yang ditarik atau diangkut diatas kendaraan, untuk diatas Ranpur, Kapal atau pesawat, pernah dikembangkan dan tidak berlanjut untuk dibuat sendiri di dalam negeri.

h) Rudal (Cruise Missile) jarak pendek/menengah/jauh, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

4) Senjata untuk satuan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud), dihadapkan dengan tingkat kesulitan pembuatan dan penguasaan teknologi/Know-How-nya, diprediksi dan diharapkan 20 sampai dengan 50 tahun mendatang keseluruhannya telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri atau dibuat melalui kerjasama industri/ teknologi militer dengan negara sahabat. Kaliber senjata dan Rudal Arhanud TNI AD atau untuk penjagaan bandara udara oleh Paskhas TNI AU ataupun untuk digunakan diatas Kapal Perang TNI AL sebaiknya memiliki kesamaan-kesamaan guna kemudahan dukungan bekal munisinya terlebih bila direncanakan untuk pembuatannya di dalam negeri sendiri, seperti : a) Rudal, basic Manpack dengan sistem pengejar panas/Hit and Forget yang dapat dikembangkan lebih lanjut dengan dipasang sistem peluncurnya lengkap dengan Early Warning System/Surveillance Radar, Radar Tracking, komputer dan peralatan optronik pengendali untuk dengan cepat mengetahui, menjejak dan mengikuti sasaran guna otomatisasi penembakan serta akurasi perkenaannya; b) Meriam 20 mm atau 40 mm yang dilengkapi dengan Early Warning System/Surveillance Radar, Radar Tracking, komputer dan peralatan optronik pengendali untuk dengan cepat mengetahui, menjejak dan mengikuti sasaran guna otomatisasi penembakan serta akurasi perkenaannya; c) Early Warning System/Surveillance Radar, untuk jarak dekat guna satuan-satuan taktis yang bersifat mobil atau untuk jarak jangkau yang relatif jauh untuk penjagaan pantai dan untuk penjagaan wilayah serta untuk di atas kapal.

b. Kendaraan (untuk sistem mobil di darat). Diprediksi dan diharapkan 10 sampai dengan 40 tahun mendatang, struktur dan infrastruktur industri untuk pembuatan keseluruhan sistem atau komponen utamanya telah siap dan mampu dikembangkan sendiri di dalam negeri dengan atau tanpa melalui kerjasama industri/teknologi militer dengan negara sahabat, seperti untuk pembuatan dan pengembangan berbagai jenis kendaraan :

1) Kendaraan Taktis (Rantis), dirancang dan dibuat berdasarkan kelas/standar tonase/muatan yang dapat diangkut (Truck) untuk barang dan jumlah muatan personelnya, dengan sedikit modifikasi dapat dibuat untuk berbagai variannya seperti untuk Kendaraan Ambulance, Komunikasi Mobil (Komob), Recovery/Crane, untuk Kendaraan Logistik (Cargo Barang, Tanki Air atau BBM dan sebagainya), diprediksi dan diharapkan sampai dengan 30 tahun mendatang keseluruhannya telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri. Standar klas/tonage kendaraan untuk TNI AD, TNI AL maupun TNI AU inipun diharapkan sama dengan sedikit modifikasi yang mungkin perlu disesuaikan untuk fungsi/kegunaannya. a) Rantis Tr ¼ Ton, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri; b) Rantis Tr ¾ Ton, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri ; c) Rantis Tr 1¼ Ton, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri; d) Rantis Tr 2½ Ton, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri; e) Rantis Tr 5 Ton, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

2) Kendaraan tempur (Ranpur), dibedakan dalam rancangannya yang beroda ban (Wheeled Armoured Vehicles) dan yang menggunakan rantai (Tracked Armoured Vehicles) berikut sistem persenjataannya yang terus dapat dikembangkan, baik untuk Angkatan Darat guna Infanteri, Kavaleri, Artileri maupun Arhanud bahkan untuk satuan pendukungnya seperti untuk Satuan Pemeliharaan serta untuk Marinir (Kavaleri atau kedepan untuk Infanterinya); diprediksi dan diharapkan 30 sampai dengan 50 tahun mendatang keseluruhannya telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

a) Ranpur Panser (Beroda Ban) 6×6 untuk Infanteri Mekanis atau untuk Kavaleri (Sersus/Reconnaisance), saat ini telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri, oleh PT Pindad.

b) Ranpur Panser (Beroda Ban) 8×8 untuk Infanteri Mekanis, belum pernah dibuat sendiri di dalam negeri.

c) Ranpur Panser (Beroda Ban) 4×4 untuk Kavaleri (Reconnaissance) atau Infanteri, sudah dikembangkan oleh PT SSE, PT DI dan saat ini telah dipesan Dephan kepada PT Pindad.

d) Ranpur Tank (Beroda Rantai) untuk Kavaleri dan/atau untuk Infanteri, belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

e) Ranpur Panser (Beroda Ban) 6×6 amphibi, untuk Marinir (Kavaleri atau Infanteri) belum ada sinyalemen untuk menggunakan produk dalam negeri, sementara PT Pindad juga baru akan mengembangkan tipe amphibiousnya.

f) Ranpur Panser (Beroda Ban) 8×8 amphibi, untuk Marinir (Kavaleri atau Infanteri), belum ada sinyalemen untuk menggunakan produk dalam negeri, sementara PT Pindad juga belum mengembangkan jenis 8×8 (amphibious).

g) Ranpur Panser (Beroda Ban) 6×6 atau 8×8 atau Ranpur Tank (Beroda Rantai), untuk Infantery Fighting Vehicles(IFV) guna Fight menghadapi Infanteri lawan yang juga Mobile, belum ada sinyalemen untuk pembentukan satuannya, sementara PT Pindad juga belum terpikirkan untuk rancangan/ desain model/tipe-tipenya, utamanya untuk kelengkapan sistem persenjataannya yang akan dipasang pada Ranpur tersebut.

h) Ranpur Tank (Beroda Rantai) Kelas Menengah dan Main Battle Tank (MBT) untuk Kavaleri, belum ada sinyalemen untuk pembentukan satuannya, sementara industri dalam negeri dan Dephan/TNI juga belum merencanakan untuk desain atau pengembangannya (Development).

3) Kendaraan Khusus (Ransus), dirancang dan dibuat untuk fungsi-fungsi Khusus atau kegunaannya yang spesifik, yang bukan merupakan varian/modifikasi standar Rantis; diprediksi dan diharapkan sampai dengan 30 tahun mendatang keseluruhannya telah mampu dibuat/diassembling sendiri di dalam negeri, contoh :

a) Tank Transporter, untuk pengangkut Ranpur Tank, belum dibuat sendiri di dalam negeri.

b) Trailer Rumah Sakit Berjalan, untuk kemudahan gelar Rumah Sakit Lapangan yang bersifat Mobil, belum dibuat sendiri di dalam negeri.

c) Dump Truck dan kendaraan-kendaraan Berat lainnya untuk Satuan Zeni, sebagiannya telah dibuat/diassembling di dalam negeri dengan atau tanpa modifikasi dari Civilian Type.

4) Kendaraan Administrasi (Ranmin), dirancang dan dibuat untuk dukungan kegiatan administrasi di Homebase dan tidak digunakan untuk tugas-tugas taktis di lapangan atau operasi-operasi militer, walaupun bukan termasuk kelompok Alutsista diharapkan untuk pengadaannya tetap menggunakan produk dalam negeri, contoh :

a) Sedan untuk pejabat/petinggi militer, alternative menggunakan produk Civilian Type, namun belum ada ketentuan menggunakan produk/rancangan anak bangsa (buatan dalam negeri sendiri).

b) Bus antar jemput personel (AJP) untuk anggota militer, belum ada ketentuan menggunakan produk/buatan anak bangsa sendiri di dalam negeri, namun selama ini sudah menggunakan produk Civilian Type.

c. Kapal Laut, baik untuk Striking Force, Patrolling Force dan Supporting Force saat ini hampir keseluruhannya belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri (kecuali Fast Patrol Boat, LCU, dan jenis kapal pendukung lainnya). Diharapkan 20 sampai dengan 30 tahun mendatang pembangunan industri kapal perang, struktur dan infrastruktur industri untuk pembuatan (Manufacture) berbagai komponen utama atau sistemnya telah siap dan mampu dikembangkan sendiri di dalam negeri dengan posisi tawar (Bargaining Position) yang lebih baik dan menjanjikan dalam kerjasama industri/teknologi militer dengan negara sahabat, baik untuk pembuatan, pengembangan atau penjualan berbagai jenis kapal perang seperti : 1) Destroyer, Fregat, Korvet (Klas 105/107 Meter); 2) Perusak Kawal Rudal (PKL); 3) Landing Platform Dock; 4) Landing Ship Tank (LST); 5) Landing Craft Utility (LCU); 6) Kapal Selam; 7) Kapal Patroli Cepat (Fast Patrol Boat); 8) Kapal-kapal pendukung lainnya seperti Tug Boat, Kapal Rumah Sakit,Hovercraft dan sebagainya.

d. Pesawat Terbang, hingga saat ini untuk keseluruhan kebutuhan pesawat tempur (baik untuk tempur strategis, tempur taktis dan angkut berat) belum mampu dibuat sendiri di dalam negeri (kecuali pesawat angkut ringan CN235 dan Helikopter BO-105). Diprediksi dan diharapkan 10 sampai dengan 50 tahun pembangunan industri pesawat terbang termasuk struktur dan infrastruktur untuk pembuatan berbagai komponen utama atau sistemnya telah mampu dikembangkan sendiri di dalam negeri dengan posisi tawar (Bargaining System) yang lebih baik dan menjanjikan dalam kerjasamanya dengan industri/teknologi militer negara sahabat, baik untuk jenis Sayap Tetap (Fix Wing) maupun Sayap Putar (Helikopter), seperti untuk : 1) Pesawat tempur strategis (memiliki kemampuan intai,pembom dan buru sergap); 2) Pesawat tempur taktis (memiliki kemampuan tempur udara/dog fight); 3) Pesawat Patroli ;4) Pesawat Latih; 5) Pesawat Angkut Ringan (sudah dapat dibuat sendiri) yang dapat dimodifikasi untuk berbagai fungsi/kegunaan seperti untuk Maritim Patrol/MPA dan sebagainya; 6) Pesawat Angkut Berat; 7) Pesawat Heli penyelamat (Combat SAR, sudah dapat dibuat sendiri) yang dapat dimodifikasi untuk berbagai fungsi/kegunaan seperti untuk Heli Angkut, Heli Serbu/Serang dan sebagainya; 8) Pesawat Tanpa Awak yang dapat digunakan untuk berbagai fungsi sepertiReconnaicance atau bahkan untuk satu sistem penyerangan/penghancuran terhadap pihak lawan.

d. Alat Komunikasi dan Elektronika; khususnya untuk Alkompur aspek darat yang juga dapat dikembangkan untuk aspek laut dan udara. Diprediksi dan diharapkan sampai dengan 10 tahun mendatang keseluruhannya telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri atau dibuat melalui kerjasama industri/teknologi militer dengan negara sahabat, seperti untuk :

1) Alat komunikasi (Alkom) Radio Frekuensi (Transceiver) standar militer yang dilengkapi dengan Freq Hopping dan Encryption System.

a) Radio HF/AM/SSB (0,5 – 30 MHz) dengan jarak jangkau yang relatif jauh, untuk Kiset, Yonset, Brigade Set. Alkom Tempur yang berbasis untuk mendukung taktik satuan (Manpack) ini juga dapat dikembangkan untuk sistem Mobile (pada Rantis/Ranpur atau Kapal Laut) atau Base Station, mulai dari 20 Watt, 40 Watt, 100 watt, 200 Watt atau sampai 400 Watt untuk Divisi Set sampai untuk antar benua dengan menggunakan Antena Menara/Broadband Antenna. PT LEN saat ini sudah mampu membuat dan mengembangkan Alkom Radio (Manpack Transceiver) HF/AM/SSB Frequensi Hopping (50 Hopping/Sec) untuk TNI.

b) Radio VHF/FM (30 – 88 MHz atau 108 – 150 MHz), untuk Tonset atau Kiset, Basic Manpack ini juga dapat dikembangkan untuk sistem Mobile (pada Rantis/Ranpur atau Kapal Laut). PT LEN saat ini sedang mengembangkan Alkom Radio (Manpack Transceiver) VHF/FM Frequensi Hopping (20 Hopping/Sec) untuk TNI.

c) Radio UHF/FM (150 – 2000 MHz) Hand Held, Mobile atau Base Station yang juga dapat dikembangkan untuk jarak-jarak jauh dengan dibantu Repeater. Industri dalam negeri saat ini belum mengembangkan untuk kebutuhan militer, khususnya untuk tipe Handheld.

d) Radio Multirol HF/VHF/UHF (20 – 200 MHz), untuk Tonset atau Kiset yang sekaligus juga umumnya digunakan untuk komunikasi jarak jauh atau antara pasukan di darat dengan pesawat (Ground To Air /GTA), Basic Manpack ini juga dapat dikembangkan untuk sistem Mobile (pada Rantis/ Ranpur). Industri dalam negeri saat ini belum mengembangkan untuk kebutuhan militer.

e) Radio HF/AM/SSB dan VHF/FM serta UHF untuk Air to Air yang digunakan pada pesawat udara. Industri dalam negeri saat ini belum mampu untuk membuat Alkom jenis ini yang utamanya harus tidak mengganggu dan tahan terhadap interferensi gelombang elektromgnetik yang dapat membahayakan sistem navigasi pada pesawat.

2) Alat Komunikasi dengan menggunakan Sistem Komunikasi Satelit (Siskomsat) TNI

3) Alat Komunikasi dengan jaringan kabel, serat optik dan selular yang terintegrasi dengan jaringan untuk pelayanan publik (Public Service Telecom Network)

e. Alat Perlengkapan Prajurit Perorangan untuk di lapangan/tempur, Perlengkapan Khusus dan Perlengkapan Satuan, baik untuk aspek darat, laut atau udara. Diprediksi dan diharapkan sampai dengan 10 tahun mendatang keseluruhannya telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri atau terpenuhi melalui kerjasama dengan negara sahabat dengan posisi tawar yang benar-benar diharapkan saling menguntungkan, seperti :

1) Pakaian, sepatu dan Ransel untuk pembawa bekal, saat ini telah mampu di produksi di dalam negeri sendiri walaupun bahan bakunya sebagian besar masih harus impor, kecuali untuk pakaian-pakaian khusus untuk penerbang yang tahan api, untuk menyelam dan sebagainya yang belum dibuat sendiri di dalam negeri.

2) Helm Tempur dan Rompi yang tahan tembak peluru MKK, saat ini telah mulai dikembangkan di dalam negeri, namun tidak berlanjut, yang memang membutuhkan kesiapan industri untuk pembuatan/ investasi permesinannya guna tuntutan perolehan mutu dan performance produk yang kuat, baik dan representatif.

3) Alat-alat navigasi untuk kelengkapan tempur parajurit, seperti Global Positioning Station (GPS), Teropong Binocular, Kompas Tempur, NVG atau Alat Deteksi Panas Tubuh Manusia (untuk mendeteksi/mengetahui adanya lawan dikegelapan) dan sebagainya, saat ini belum dikembangkan di dalam negeri.

Konsekwensi dan Konsistensi untuk Percepatan Realisasi Kemandirian Alutsista.

a. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertahanan sebagai penjuru depan (Leading Sector) bersama Institusi danStake Holder lainnya, mulai dari TNI selaku pengguna (User), Kemenegristek, Departemen Perindustrian, BUMN bahkan Bappenas dan Departemen Keuangan harus segera membuat komitmen untuk peta jalan (Road Map) dan rencana strategis (Grand Strategy) pencapaian kemandirian Alutsista, setidaknya untuk 5 sampai dengan 25 tahun kedepan, untuk berbagai target jenis komoditi/produk Alutsista yang akan dibuat sendiri di dalam negeri, sekaligus untuk rencana pembangunan industrinya yang akan digunakan/ditunjuk/ dimanfaatkan mulai dari pembuatan desain/rancang bangun, pembuatan Pro-to-Type sampai ke produksi/pabrikasinya (Manufacture/Assembling) berikut industri-industri pendukungnya (Out Sources) yang diharapkan mampu membuat berbagai komponen-komponen utama (Major Components) dari jenis Alutsista yang akan dibuat.

b. Institusi-institusi di internal Departemen Pertahanan sendiri harus siap dengan SDM nya yang memahami dan peduli (Concern) dengan tugasnya, kompeten, profesional dan memiliki moral serta dedikasi yang tinggi sesuai dengan kewenangan (Authority) yang dimilikinya. Dephan harus siap dengan cara-cara/sistem pengelolaan/manajemennya, dengan perangkat lunak, regulasi/aturan serta prosedurnya yang Acceptable untuk membina, membangun dan memberikan supervisi kepada Industri Nasional yang akan digunakan/ditunjuk/dimanfaatkan untuk pembuatan dan pengembangan berbagai komoditi/produk militer/sarana pertahanan negara atau (Alutsista) , yaitu :

1) Ditjen Ranahan Dephan dengan Direktorat Teknologi Industrinya (Dittekind) merupakan penjuru (Leading Sector) yang memiliki kewenangan mengkoordinir seluruh perwakilan Stake Holder atau Institusi Terkait untuk membuat peta jalan (Road Map) dan Rencana Besar Strategis (Grand Strategy) guna penentuan Alutsista yang akan dibuat sendiri di dalam negeri 5 sampai 25 tahun mendatang. Dittekind juga tidak bekerja sendiri untuk menjadikan/ menuntaskan rumusan Road Map dan Grand Strategy tersebut, namun tetap dibantu oleh Tim Indhan yang Independen (yang dibentuk Dirjen Ranahan Dephan untuk mewadahi seluruh perwakilan institusi terkait). Selanjutnya Dittekind menginventarisasi dan memberikan perijinan/persetujuan kepada industri atau konsultan yang akan digunakan/dimanfaatkan guna fokus percepatan pencapaian kemandirian Alutsista, seperti industri, badan hukum atau konsultan yang akan dijadikan partner/mitra kerja Institusi Litbang (Balitbang Dephan/Litbang Angkatan) dalam rangka mendesain, membuat prototype ataupun yang akan dijadikan mitra kerja Institusi Pengadaan (Ditada Ditjen Ranahan Dephan dan Dinas-Dinas/Institusi Pengadaan yang ada di TNI/Angkatan) sebagai industri Manufacture/ Assembling dan Trading dalam rangka produksi, pembelian atau pengadaan komoditi milliliter (Alutsista), khususnya yang akan dibuat sendiri di dalam negeri. Di jajaran Dephan/TNI sendiri, khususnya di internal Dephan, seperti Dittekin, Puslitbang Indhan, Ditada dan Ditkersin Ditjen Strahan dapat bekerjasama untuk memberikan rekomendasi, perijinan/persetujuan untuk pembuatan desain, prototype ataupun produk terpilih yang dibuat di dalam negeri, yang masih perlu/boleh di impor atau untuk kepentingan ekspor. Dittekin dengan dibantu Balitbang dan Ditkersin Ditjen Strahan juga memiliki kewenangan untuk membangun kerjasama teknologi/industri pertahanan/militer dengan negara-negara sahabat untuk lebih bisa meningkatkan kemampuan industri dalam negeri.

2) Selanjutnya guna independensi dan agar tidak terjadi keberpihakan (Take sides), Direktorat Standarisasi dan Kelaikan (Ditstandlaik) Ditjen Ranahan Dephan mengkoordinir Tim Kelaikan Dephan yang Independen melaksanakan verifikasi dan sertifikasi untuk akreditasi industri pertahanan/industri militer sesuai kemampuan/kualifikasinya, terlebih bagi industri/perusahaan yang akan digunakan/ditunjuk/dimanfaatkan untuk pembuatan produk-produk/komoditi militer di dalam negeri. Ditstandlaik juga melakukan sertifikasi kelaikan produk/komoditi untuk militer mulai dari desain, rancangbangun atau prototype/typenya sampai dengan produk serinya, termasuk untuk produk-produk yang dibeli dari luar negeri. Ditstandlaik mengkoordinir untuk pengesahan seluruh standar produk teknologi yang akan dijadikan/digunakan untuk kepentingan militer Indonesia, seperti untuk rancangan/desain sistem kerja pada berbagai fungsi produk komoditi militer, standar proses atau prosedur untuk penentuan persyaratan/spesifikasi teknis dalam rangka rekuisisi/ pengadaan atau penerimaannya, mulai dari dimensional, kandungan bahan, unjuk kerja atau Performance sampai dengan pengujian, pengukuran dan analisisnya. Sedangkan untuk proses akreditasi kemampuan industri pertahanan, antara lain dilakukan melalui verifikasi struktur organisasinya yang telah eksis atau akan dibangun, seperti dari kesiapan/adanya sumberdaya manusianya dengan berbagai sertifikat keahliannya, dari infrastruktur keberadaan fasilitas sarana dan prasarana industri yang dimiliki, dari kondisi dan kodusifitas lingkungan kerja dan sistem manajemen mutunya dalam rangka kompetensinya menangani produk/komoditi militer atau Alutsista yang ditekuni dan dapat dihandalkan dari berbagai kemampuannya seperti :

a) Kemampuan Desain (Design)

b) Kemampuan mewujudkan desain menjadi Pto-To-Type/Type (Developing).

c) Kemampuan memproduksi dan merakit secara massal (Manufacturing/assembling serial productions).

d) Kemampuan di bidang penjualan (Trading).

e) Kemampuan pelayanan purna jual dan penyediaan suku cadang (After Sales Service) serta pendidikan (Training) untuk penguasaan penggunaan produk-produk militer.

f) Kemampuan di bidang pelayanan pemeliharaan dan perbaikan serta peningkatan kemampuan/unjuk kerja (Performance) dan fitur produk. (Service, Maintenance and Upgrading/Modification).

g) Kemampuan memberikan dukungan logistik yang terintegrasi/terpadu dengan kegiatan pengguna (User) produknya (Integrated Logistic Support/ILS).

3) Adapun Balitbang Dephan berperan sebagai supervisi Litbang Angkatan dan sebagai Leading Sectoruntuk :

a) Pembuatan dan pengembangan desain/rancang bangun dan Pro-to-type/Type Alutsista/sarana pertahanan yang akan dibuat di dalam negeri.

b) Bersama Litbang Angkatan mengembangkan rancang bangun proses-proses modifikasi (Upgrading) sampai dengan Pro-to-type/Type untuk produk Alutsista/sarana pertahanan yang sudah dipakai/usang guna meningkatkan unjuk kerja (Performance) atau penambahan fitur-fitur (Feature) kemampuan lainnya.

c) Merumuskan standar teknologi, produk atau proses yang telah mampu dicapai oleh industri di dalam negeri untuk digunakan sebagai acuan rekuisisi pengadaan/pembelian produk-produk militer, dengan rekomendasi untuk tahapan pencapaian sasaran yang diharapkan lebih berpihak untuk menghidupkan dan mengembangkan industri militer di dalam negeri sendiri.

d) Mengkoordinir untuk penentuan komoditi militer/Alutsista terpilih, penting dan mendesak (Urgent) yang akan diteliti dan dikembangkan sampai dengan siap untuk diproduksi sesuai skala prioritas guna pemenuhan kebutuhan User/TNI, namun juga dipastikan teknologi dan Know-how nya mampu dikuasai dan diterapkan oleh ndustri di dalam negeri.

Disamping memberikan dukungan untuk terealisasinya desain/ rancang bangun hingga terwujudnya pembuatan/pengembangan (Developing) Pro-to-type/Type Alutsista/sarana pertahanan yang terpilih, prioritas dan mendesak untuk jangka pendek tahunan atau lima tahunan, Balitbang Dephan juga memfokuskan berbagai kegiatan Litbang komoditi militer yang perlu terus diwadahi/diakomodasi untuk pencapaian hasil jangka panjangnya hingga 25 tahunan, dengan mengefektifkan dan meningkatkan kemampuan industri militer/industri pertahanan, lembaga-lembaga pendidikan ataupun laboratorium terkait lainnya yang berpartisipasi dan diharapkan turut membantu penelitian dan pengembangan (R&D) Alutsista/sarana pertahanan.

Selanjutnya untuk pembuatan desain/rancang bangun hingga Pro-to-type/type Alutsista/sarana pertahanan tersebut diharapkan satu paket untuk pemesanan produk serinya yang dijamin pasarnya (dibeli) oleh pemerintah untuk terus dapat dikembangkan (improved) oleh pabrikan dalam tahapan-tahapan kontrak pengadaannya dari pemerintah (Dephan/TNI).

4) Ditjen Renhan sebagai Leading Sector dalam perencanaan anggaran Dephan/TNI untuk pencapaian kemandirian Alutsista/sarana pertahanan yang telah diformulasikan dan dituangan dalam Peta Jalan (Road Map) dan Grand Strategy mengkoordinasikan guna perolehan alokasi dukungan biaya pemerintah melalui perencanaan program kerja dan anggaran tahunan, lima tahunan sampai 25 tahunan, baik untuk pembuatan desain/rancang bangun atau prototype/type Alutsista/sarana pertahanan yang akan dilaksanakan/ dikoordinasikan oleh Balitbang Dephan dan Litbang Angkatan sampai dengan paket-paket untuk pengadaan/pembelian produk serinya yang akan direalisasi dan dieksekusi menjadi kontrak-kontrak jual beli oleh Direktorat Pengadaan (Ditada) Ditjen Ranahan Dephan dan Dinas-dinas/Institusi Pengadaan yang ada di TNI/Angkatan.

5) Institusi lain di luar Dephan/TNI, seperti Kemenegristek, BPPT, LIPI atau BUMN terkait dengan program dan anggaran tahunan, lima tahunan atau dua puluh lima tahunannya diharapkan dapat focus untuk membantu/mendukung pembuartan rancang bangun sampai dengan Pro-to-type Alutsista/sarana pertahanan terpilih dan prioritas, yang telah diformulasikan dan dituangkan dalam Road Map dan Rencana Besar Strategis menuju kemandirian Alutsista. Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat penguasaan teknologi (hulu sampai dengan hilir) yang dibutuhkan, baik yang sudah dianggap maju (Advance) hingga yang canggih (Sophisticate) untuk :

a) Sistem senjata/penembakan berikut munisinya.

b) Sistem platform/pembawa senjata matra darat, laut dan udara termasuk sistem proteksi dan pendukungnya (kendaraan, kapal laut dan pesawat).

c) Sistem komunikasi (RF, sonar, kabel/serat optik, selular atau Siskomsat).

d) Sistem deteksi (Surveillance Radar), navigasi dan kendali senjata (Tracking Radar & Computation System) termasuk sistem manajemen informasi untuk komando pengendalian pertempuran.

e) Sampai dengan berbagai penguasaan teknologi untuk kebutuhan bekal-bekal dan peralatan yang akan digunakan oleh prajurit atau satuan tempurnya yang lebih besar lagi, termasuk untuk alat peralatan keamanan (Security) lainnya.

6) Sedangkan dukungan dari Institutsi/lembaga-lembaga pendidikan seperti universitas diharapkan dengan kurikulum dan program-program penelitiannya, sebaiknya ada yang dialokasikan/ diprogramkan khusus untuk mengikuti dan menyesuaikan dengan program-program pengembangan (R&D) Alutsista yang telah dituangkan dalam Road Map dan Rencana Besar Strategis menuju kemandirian Alutsista/sarana pertahanan dengan berbagai target pencapaiannya untuk 5 sampai 25 tahun kedepan. Sasarannya dapat untuk membantu/mendukung pembuartan rancang bangun sampai dengan Pro-to-type Alutsista/sarana pertahanan terpilih/ prioritas atau untuk mempercepat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan (hulu sampai dengan hilir), mulai dari yang relatif sudah maju (Advance) hingga yang canggih (Sophisticate).

Kesimpulan.

a. Perlunya komitmen seluruh stake holder/bangsa untuk tercapainya Kemandirian Alutsista/sarana pertahanan, yang sinkron dengan tujuan yang lebih besar/luas lagi guna tercapainya Kemandirian Bangsa, yang bukan hanya mimpi, namun juga dituntut harus berbuat, dilakukan dengan konsisten dan konsekwen dalam mewujudkan/merealisasikannya.

b. Perlunya peta jalan (Road Map) dan Rencana Besar Strategis (Grand Strategy) untuk pemenuhan Alutsista TNI serta untuk pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak, bangsa atau dunia dari hasil karya anak bangsa sendiri, dari hasil desain/rancang bangun anak bangsa Indonesia sendiri, dari hasil produksi dan budidaya bangsa sendiri yang harus terus bisa menjadikan bangsa Indonesia unggul, tangguh dan sejahtera, mampu hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang relatif sudah lebih dahulu maju/sangat maju di tengah-tengah persaingan dunia/ global.

c. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertahanan sebagai Leading Sector bersama seluruh Stake Holder/Institusi terkait segera membuat peta jalan (Road Map) dan rencana strategis (Grand Strategy) untuk pencapaian kemandirian Alutsista, untuk target dan sasaran berbagai produk Alutsista yang akan dibuat sendiri di dalam negeri pada periode 5 sampai dengan 25 tahun kedepan, sekaligus untuk rencana pembangunan/pemanfaatan industrinya, mulai untuk pembuatan desain/rancang bangunnya, untuk pembuatan Pro-to-Type/Typenya sampai dengan produk seri/massalnya pada suatu industri Manufacture berikut untuk industri-industri pendukungnya (Out Sources) yang diharapkan mampu membuat berbagai komponen-komponen utama (Major Components) dari jenis Alutsista yang akan dibuat.

d. Walaupun pada kenyataannya kedepan tidak mungkin seluruh aspek, bidang atau sektor kehidupan dapat diwujudkan sebagaimana hakekat kemandirian bangsa, namun setidaknya semua hal penting yang terus dapat menjadikan bangsa Indonesia unggul, tangguh dan sejahtera, mampu hidup sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di tengah-tengah persaingan global, sebaiknya bisa diraih secara simultan sesuai peta jalan (Road Map) dan Rencana Besar Strategis menuju kemandirian Alutsista atau bangsa.

Oleh : Brigjen TNI Ir. Agus Suyarso ( Tim Litbang Kemenhan, tahun 2009) Post by Jalo 11/04/2014

  79 Responses to “Menapaki Kemandirian Alutsista”

  1. Pertamax..

    • Waduh.. tumben nih dapat pertamax.. yg lain dah pada bobo nih kayaknya.. bng diego posting nya kemaleman.. heuheu..
      Met mimpi indah deh buat warjager, mimpi naik lontong terus tembakin lontong tetangga..
      Bung nowy, sorry keduluan pertamaxnya.. hehehe

      • Izin melamun warjager..
        Indonesia kan baru saja mendirikan Universitas Pertahanan Indonesia, alangkah baiknya apabila digunakan sebagai wadah untuk mencetak dan menggodok calon leading researchers kita..
        Tidak sulit sepertinya mencari 500 bibit2 unggul yg ber IQ diatas 160 apabila Pemerintah kita serius ingin mandiri dalam teknologi, dan mengejar ketertinggalannya dari negara maju.
        Scouting dilakukan oleh agen resmi pemerintah yg terpercaya, setelah menemukan bibit yg berkualitas, lakukan pendeketan kepada orang tuanya dan meminta kewajiban mereka untuk berkontribusi kepada negara dengan mengutus anak mereka untuk belajar di Universitas Pertahanan Indonesia. Siapa sih orang tua yg gak luluh anak nya dibiayai negara untuk mengenyam pendidikan bertaraf internasional..
        Siswa2 yg terpilih kemudian mengenyam pendidikan dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan keahlian mereka. Berikan mereka pemondokan di dalam wilayah kampus, berikut fasilitas olahraga dan hiburan. Sehingga secara halus membatasi akses mereka terhadap dunia luar, agar tidak terkontaminasi sdengan hal2 yg tidak diinginkan..
        Lengkapi kampusnya dengan laboratoium2 dan fasilitas penunjang pendidikan lain yg bertaraf internasional . Kemudian staff pendidik yg merupakan profesor2 terkemuka dunia dari dalam maupun luar negri..
        Setelah para siswa lulus mengenyam pendidikan dan minimal telah mendapat gelar DR/ Ph. D., kemudian lulusannya disebar di berbagai BUMN, BUMNIS,dan BUMNIP sebagai leading researchers..
        Apabila hal diatas terwujud, dalam kurun waktu 30, insya Allah indonesia bisa mandiri..
        Ada beberapa keuntungan apabila pencetakan ilmuwan di sentralkan di Universitas Pertahanan Indonesia, diantaranya yaitu :
        1. Pendidikan gratis akan membuat ilmuwan loyal terhadap Indonesia, dikarenakan rasa hutang budi yg besar terhadap negara.
        2. Doktrin militer yg ditanamkan juga akan menumbuhkan rasa nasionalisme tinggi
        3. Pemerintah akan mudah untuk melakukan quality control terhadap lulusannya sehingga dapat dilakukan evaluasi dan problem solving apabila terdapat kekurangan
        4. Akan lebih leluasa untuk R&D hingga ketahap classified atau sampai topsecret R&D sekalipun, kaena dilakukan oleh lembaga Internal.
        5, manajemaen informasi dan telekomunikasi yg lebih mudah karena sentralisasi.
        Memang plan ini membutuhkan dana yg tidak sedikit, dan perlu waktu untuk membuahkan hasil, tapi kalo sudah berjalan optimal, indonesia tidak akan pernah kekurangan SDM untuk menunjang kemandirian kita.. semoga suatu saat nanti bisa terwujud.. Amiin..

        • Keilmuan tentang intelejen juga diberikan di Unhan kan bung?jadi banyak lulusannya yg bisa mengabdi di Kemenhan atau BIN..cmiiw

          • Kurang tau nih bung dewa kembar, komentar diatas hanya curhat saya sebagai tenaga pendidik biasa, cuma seorang guru smk.. mohon pencerahannya bagi orang yg punya clearance..

          • Bin mempunyai lembaga pendidikan sendiri yaitu STIN
            sedangakan di UI juga sudah ada S2 Kajian Stratejik Intelijen

            Sekolah Pertahanan biasanya juga dibekali Pendidikan pengenalan Intelejen.
            IMho

          • Tapi kalo kita udah mendirikan UnHan bung satrio, alangkah bagusnya bila disentralkan saja..
            Biar manajemennya lebih mudah.. biar fasilitasnya di mutakhirkan dan bisa dipakai barengan.. daripada pemutakhiran fasilitasnya di pecah2.. lebih mahal dan ribet..

        • dulu gue kemukakan tentang pentingnya STTP, sekolah tinggi teknologi Persenjataan.
          ternyata udah jadi Universitas ya, syukurlah… 😀

  2. Iman dan taqwa rakyat indonesia lah inti yg utama…Persenjataan bukan jaminan kemenangan.

  3. Premium…

  4. lhimabesar

  5. garis besar nya klo boleh di rangkum…

    1.Kemandirian bangsa dalam proses pengadaan alusista baik darat ,laut,udara dan perangkat pendukungnya

    2.hilang nya ketergantungan atas import alusista dari luar negeri

    3.mulai nya R / D dlm negeri untuk pengadaan alusista

    4.adanya kerja sama antar instansi dan lembaga strategis untuk mendukung kemerdekaan alusista yang bebas dari campur tangan asing dan disertai kebijakan yang mengutamakan produksi dalam negeri dalam pembuatan alusista

    5.kedepan nya alusista dalam negeri bisa menjadi sumber devisa negara dan mengharumkan nama bangsa serta mampu memberikan efek gentar dan kagum oleh kawan dan lawan

    maaf OOT..

    • Senantiasa perlu diingat Bung, bawa pemenuhan alutsista strategis buatan dalam negeri itu lebih penting. Dengan adanya kemampuan kita untuk memproduksi sendiri alutsista-alutsista strategis tersebut bisa dipastikan “daya gertak dan pukul” kita tentunya akan lebih, lebih dan lebih kuat powernya.

      Sementara ini untuk pengadaan alutsista strategis yang memang kita sendiri belum mampu membuatnya, maka pengadaanya dengan cara membeli dari negara-negara lain baik itu buatan blok barat maupun buatan blok timur. Tapi disini saya hanya ingin sedikit menjelaskan dan menceritakan bahwa setiap membeli alutsista-alutsista tersebut kita mempunyai prinsip kewaspadaan yang utama, yaitu :

      “Bahwa setiap Negara penjual Alutsista, pasti akan senantiasa berusaha “mengebiri” sebagian kemampuan tempur Alutsista perang mereka yang kita beli.”

      Prinsip ini kita pegang teguh, untuk itu segala sesuatunya akan amat tergantung dari kemauan dan usaha serta imaginasi kita sendiri, agar dapat mengexploitasi semaksimal dan seoptimal mungkin Alutsista-alutsita yang telah kita beli. Jangan kita membiarkan diri kita gampang di”kadali” oleh Negara lain (Penekanan Pak SBY dalam RAPIM TNI di Cilangkap). Sebagai salah satu contoh nyata : KS Type 209/1300 yang kita beli pada tahun 1978-1980 dari Jerman (saat itu Jerman Barat), tidak dilengkapi dengan peralatan Decoy “semacam Pillenwerfer dan projektil Bold” Ini penting karena reagen kimia decoy dapat menyerap energi pancaran sonar lawan, apalagi Pillenwerfer yaitu decoy pasiv anti torpedo.. (padahal seharusnya dalam kontrak diserahkan berbarengan dengan penyerahan KS ke kita, setau saya sampai KS Type 209/1300 ini di overhoul total pertengahan tahun 2000an Decoy ini enggak juga kita terima). Padahal Decoy ini sangat berarti untuk menghindari Wire Guided Torpedo alias Torpedo dengan pengendali kabel type Gould Mk.48 ataupun torpedo kendali non kabel dengan active / passive sonar homing head type Honeywell Mk 46 Mod 5 miliknya KS Collins Australian Navy. Decoy ini bila dilepaskan tepat pada waktunya akan membangkitkan signal akustik dominant, yang akan amat mempengaruhi system pencarian sasaran homing head torpedo. Sehingga torpedo tidak lagi mengejar KS kita, akan tetapi justru berubah arah akan mengejar decoy tersebut.

      Selain itu pada saat pelatihan disana awak KS kita juga tidak pernah diajari pemanfaatan “submarine chart”, yaitu suatu peta bawah air dari suatu daerah tertentu di dalam alut, yang memuat data tentang parameter CTD (temperature, kadar garam, berat jenis air laut) ditempat tersebut, yang sebenarnya, amat penting untuk pengaplikasian taktik peperangan KS dibawah air. Makanya ahli-ahli tempur TNI AL saat itu untungnya sempat membuat “doktrin” sendiri bagaimana cara pengoperasian KS Type 209 ini dengan baik dan benar bedasarkan pengalaman-pengalaman awak KS kita sendiri. ( Taskap Pasis Dikreg X SESKOAL TA.1983-1984 dengan judul “Pengoperasian kapalselam type U-209 dalam menunjang tugas pokok HANKAMNAS dilaut”)

      Disini kita bisa melihat bahwa Tidak ada Angkatan Perang Negara sebaik bagaimanapun, yang akan mau membagi taktik peperangannya secara “gratis” kepada kita. Mungkin buku atau pun naskah tentang taktik tersebut bisa kita peroleh dengan mudah, seperti contoh : ATP 28, atau naskah US Navy “Submarine Operation” NW 2003, serta US Navy “Anti Submarine Operation” NW 2004, seperti yang diajarkan di SESKOAL) tapi pada pelaksanaan rill operasinya dilapangan alias dilaut “bueeehh” berbeda 180 derajat!
      Contoh nyata terakhir adalah saat penembakan Yakhont pada latihan Armada Jaya tahun 2011 pertama kali yang gagal mengenai target sasaran ex KRI Teluk Bayur, padahal saat itu kita sudah dibantu oleh “awak-awak” dari negeri pembuatnya sana. Barulah setelah dilakukan “tapa brata” oleh “awak-awak” kita sendiri pada latihan Armada Jaya tahun 2012 Yakhont kita berhasil menghancurkan sasaran ex KRI Teluk Berau dalam waktu +/- 2 menit.

      Berdasarkan banyak pengalaman inilah maka pengadaan Alutsista strategis yang “terpaksa kita beli” dikarenakan kita belum bisa membuat sendiri, baik itu dari blok Barat maupun Blok Timur pasti ada embel-embel “kalo enggak barang kualitas satu kami tidak mau beli!” disini bisa berarti adalah bentuk “fisik” bisa sama tetapi boleh di check “jeroannya” pasti beda.
      Beberapa contohnya adalah : “Jeroan” Hawk 209/109 kita aslinya sudah bukan versi standart Hawk seri 200/100 kebanyakan. “Jeroan” SU.30 Mk2 kita bisa dicheck pasti lebih canggih dari SU.30 MKM sonora. Pembelian Tank MBT Leopard A4 walaupun bekas, tapi Jerman sampai-sampai mau menyibukan diri memenuhi permintaan kita untuk “mengupgrade” nya manjadi “lebih mumpuni” hingga akhirnya mereka sendiri menyebut versi Tank itu Leopard Revolution Indonesia. Contoh lebih anyarnya adalah kenapa kita membeli Pespur T.50i dari Korea sana tanpa “radar”, jawabannya adalah karena kita ingin mengemplementasikan sendiri jenis radar yang lebih canggih dibanding radar asli “bawaannya.”

      “Bahwa setiap pembelian Alutsista dari negara lain saat ini harus dalam bentuk G to G atau kita memesan langsung kepada pabrik dan negara pembuatnya. (tidak ada lagi rekanan/broker) dan tidak lupa Transfer of Technology nya.”

      Ada kisah KSAD kita yang sekarang Pak Budiman dulu pernah terlibat langsung dalam pengadaan multiplelaunch rocket system (MLRS), beliau pernah tanya kepada “broker” berapa harga pasti untuk satu batalion? Dijawab “sekian juta dollar Pak”. “tidak bisa turun?” “tidak bisa Pak.”. Pak Budiman enggak percaya dan beliau pergi sendiri kenegara dan pabrik pembuatnya. Hasilnya adalah dengan harga “sekian juta dollar” nya broker tadi ternyata kita mendapatkan MLRS untuk dua batalion plus dengan pusat pendidikannya. Begitupun dengan pembelian Tank MBT Leopard, dengan harga yang sama ditawarkan oleh “broker” kita hanya mendapat 44 biji Tank, setelah Beliau turun langsung kita malah mendapat 3x lipat jumlahnya plus juga Tank pendukung untuk recovery, Tank untuk tugas Zeni dan penyapu ranjau, serta tidak lupa 50 unit Tank Marder, itu semua dengan harga yang sama!

      Intinya dari kesemua itu adalah Pemanfaatan para ahli-ahli ORSA (Operation Resesach and System Analysis) masing-masing alutsista di lingkungan TNI untuk menciptakan Operational Requirements yang baik dan benar, dengan demikian alutsista-alutsista strategis yang sudah dan akan berdatangan nantinya enggak hanya “mangkrak” di pangkalannya masing-masing aja, akan tetapi mampu memberikan nilai deterent yang menakutkan bagi kekuatan musuh yang ingin coba-coba mengganggu kedaulatan negara kita

      Intinya lagi adalah Pemenuhan alutsista strategis dengan asli buatan bangsa Indonesia sendiri adalah suatu keharusan dan kewajiban! dan alhamdulillah semua itu saat ini sedang berjalan pada “track” yang benar.

      NKRI harga mati!

      • “Bahwa setiap Negara penjual Alutsista, pasti akan senantiasa berusaha “mengebiri” sebagian kemampuan tempur Alutsista perang mereka yang kita beli.” ==> sangat setuju dengan pernyataan ini. Tidak hanya Alusista yang dikebiri. Industri Alutsista di luar kelompok mereka juga akan dikebiri. Konon (kata dosen, seorang peneliti di balai MEPO-BPPT) dua buah mesin Cold Flow Forming Machine (mesin pembuat selongsong roket) yang rusak di PT DI, produsennya tidak mau memperbaiki karena terikat dengan rejim MTCR. Para peneliti BPPT sedang berusaha mengoprek kedua mesi tersebut. Salah satu bocoran dokumen intelijen USA via Wikileaks menunjukkan bahwa USA mengawasi dengan ketat penyebaran mesin ini (http://www.wikileaks.org/plusd/cables/07STATE130635_a.html).

        Beberapa waktu lalu perusahaan elektronik dari Korea tempat saya dulu bekerja bermaksud membeli Carbon Fiber Caliper dari Mitutoyo. Proses screeningnya lama sekali, empat bulan. Company profile benar-benar diteliti oleh mereka. Usut punya usut ternyata Mitutoyo pernah kecolongan karena instrumen Coordinate Measuring Machine yang dijual ke Thailand dire-ekspor ke Malaysia lalu dijual ke Libya. Ini diketahui setelah Badan Inspeksi Tenaga Atom (IAEA) melakukan inspeksi ke fasilitas nuklir Libya dan mereka menemukan CMM merek Mitutoyo.

        Kita berharap, negara ini segera menuju kemandirian dalam pembuatan mesin-mesin produksi dan instrumen berpresisi tinggi. Ahmadi Mesin (http://ahmadi-mesin.com/home_11.html) yang mengawali produknya dari mesin-mesin CNC semoga bisa menuju ke sana.

  6. nyimak…

  7. Nomer enem

  8. mantab!

    lumayan bisa 10 besar,hehe

    anonim lagi anonim lagi

  9. Busyeeett…
    Panjang banget ya, Bisa diamuk2in warjager nih saya…. 🙂
    Langsung di upload aja ama bung Diego, sebenarnya mau ngasih yg diedit biar gak kepanjangan… tapi terlanjur di upload, jadi mohon maaf ya teman2….

    Yg patut diketahui dari artikel itu, teknologi kita tertinggal sangat jauh. PR yg negara kita masih banyak, kalau Untuk mengejar ketinggalan itu apakah kita harus menunggu 100 kedepan atau gak sama sekali kita mengejar ketinggalan itu. Dan jika terjad perang yg berlarut2, senjata yg kita gunakan adalah produksi dalam negeri.

    Sekali lagi saya mohon maaf ya artikelnya kepanjangan…
    Dan semoga 10 besar 🙂

    • Teknologi kita jauh tertinggal? Hehehe..! Gak apa-apa, saya lebih memilih tertinggal daripada cuma sekedar diam. Dengan tertinggal setidaknya kita masih bisa melihat posisi kita ada dimana. Dan dengan posisi yang tertinggal juga akan mendorong kita untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi. Thanks sharingya bung Jalo..!

      • Iya bener bung Yayan, cuman masalah merubah mental orang Indonesia yg konsumer itu untuk mencintai produk2 dalam negeri itu susah.. Karena rata2 sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi luar, tapi selalu membandingkan dengan dalam negeri yg teknologinya baru mengejar, ya akhirnya jomplang. 🙂

        Ilmuwan kita membuat satu eksperiment itu pasti ada yg kurang, nanti seirng berjalan waktu barang itu pasti akan sempurna. Jadi ingat SS-1 pertama dibuat, itu banyak masalahnya. Sampai akhirnya jadi menjadi SS-2 juga tidak terlepas dari masalah tapi beberapa kesatuan TNI kita bangga menggunakannya. Meski dalam tahap penyempurnaan, senjata itu sudah menoreh prestasi2 didunia. Sampai sekarang SS-2 masih dilakukan penyempurnaan, belajar dari segala masalahnya SS2 telah banyak kali mengalami perbaikan sampai menjadi senjata yg sempurna bagi para prajurit kita.

        • Bung Jalo..ada perkembangan seperti apa di Combat Management System TNI kita..sepertinya akan bnyak mengalami peningkatan,tentunya di setiap matra memiliki platform CMS yg berbeda2 bukan??salam

          • Bung Dewa, Insyallah di renstra kedua 2015-2019 CMS kita sudah jadi nanti abis jumatan aja saya coba merangkainya… 🙂

          • Ok untuk CMS kita sudah bisa membuat :

            OMG DDS Compliant Middleware
            CMS Len menggunakan teknologi middleware yang memenuhi standar OMG-DDS, yang merupakan standar internasional yang mendefinisikan mekanisme komunikasi real-time & mission-critical.

            IHO S-57 and S-63 Compliant
            CMS Len mampu menampilkan peta elektronik yang memenuhi standard IHO S-57 and S-63.

            Software-Based Radar Scan Conversion
            CMS Len menggunakan teknologi software-based radar scan conversion sehingga integrasi dengan radar dapat dilakukan secara fleksibel, mulai dari radar legacy hingga radar modern.

            Multi Hypothesis Tracking (MHT)
            Algoritma radar tracking yang digunakan merupakan algoritma yang lebih mutakhir sehingga proses tracking radar menjadi lebih handal.

            C/Java Development
            CMS Len dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman C & Java, sehingga proses pengembangannya bisa dilakukan lebih cepat (kelebihan bahasa pemrograman Java) tanpa mengorbankan performansinya (kelebihan bahasa pemrograman C).

            Supported Interface Protocols
            CMS Len mendukung berbagai protokol software dan hardware yang umum digunakan pada aplikasi marine seperti: Serial Interface (RS-232, RS-422, RS-485), NMEA, Synchro/Resolver Interface, TCP/IP, dsb. Selain itu, Len juga siap mengimplementasikan protokol proprietary yang digunakan pada berbagai sistem sensor & senjata.

            Untuk prototipe CMS sudah dipasang dikapal PC-40, CMS kelas Army sudah di 2 KRI jenis Van Speijk, lalu ada KRI Mandau dan Singa dan kelas Parchim. Dan akan dipasang lagi di frigate kita yg sedang dibangun. 5 tahun kedepan ada CMS New Generation yg sudah terintergrasi dengan tactical data link buatan anak bangsa dan IFF/SSR…

            Untuk tactical data link buatan anak bangsa sudah terpasang sejak tahu 2013. Nanti ada juga BMS (Battlefiled Management System) dan Radar CGI 3D Medium Range/Long Range dan masih banyak lagi di renstra kedepan. Ini akan dibuat oleh konsorsium radar nasional. Semoga terhibur ya bung

          • Itu tuh keren kalau sudah sampai ke protokol proprietary .. hehhe

          • Makasih bung Jalo atas informasinya….untuk CMS/BMS ini apakah murni pengembangan dari dlm negeri/LEN atau ada kerjasama TOT dari negara luar?klo g salah pernah baca Marinir TNI AL ada mndapatkan tawaran penggunaan CMS/BMS tersendiri ya??cmiiw :Peace:

        • Bung Jalo, kalau fire control gimana? apa satu paket dengan pengembangan rudal?

        • Salah satu masalah dasar yang lazim ditemui di kita adalah rasa minder. Jadi kalau pakai produk dengan merek lokal akan minder.
          Contohnya mobile phone (sory keluar jalur). Kalau gaji masih sedikit, mau pakai yang merek lokal. Tapi kalau gaji mulai naik, malu pakainya. Bahkan lebih parah, kadangkala meskipun gajinya kecil, tetap malu pakai produk lokal (meski harus diakui produk lokal terbanyak masih sebatas assembling).
          Jadi mau tak mau, kita memang harus kejar kualitas produk, untuk membangun kepercayaan diri masyarakat.
          Balik lagi ke riset.
          Saya kira selain pendanaan, kebijakan lain yang bisa dilakukan adalah insentif pajak misalnya. Produsen yang bisa membuat komponen, diberi insentif diskon pajak. Jika ditambah riset, pajaknya bisa didiskon lagi. Intinya, bagaimana supaya pembuatan komponen dan R&D dilihat sebagai hal yang menguntungkan dibandingkan sekedar mengimpor.
          Kebijakan pengenaan pajak impor lebih tinggi juga bisa dilakukan, tapi mesti diiringi dengan pengawasan produk-produk ilegal.
          Harapan dari kebijakan-kebijakan semacam itu adalah akhirnya akan muncul produk lokal yang bagus kualitasnya dan bagus penampilannya, dengan harga kompetitif, sehingga diharapkan dari waktu ke waktu ada peningkatan kesukaan penggunaan produk sendiri.

    • Itu list 5 thn yg lalu bung Jalo. mudah2an skr sdh bertambah byk yg sdh di produksi dlm negeri, salam kenal wajager….mojok lagi….

      • Iya bener bugng, tapi dalam alpalhankam TNI tetap masih dominan produk luar yg banyak. Tapi Alhamdulillah dengan adanya UU no. 16 tahun 2012 Insyallah kita bisa mengejar ketinggalan itu…

  10. pas nomor 10 kekny…ekekke

  11. @bung Jalo, wkwkkwkkw… mata dah ngantuk baru nyampe rumah, eh poanjangnya ampyuunnn dech.
    @bung diego usul dech klo yg panjang2 kira2 di buat 2 sesi gimana, 2 artikel jadi bersambung gitu….sekedar usul aja,makasih

  12. Projeck pesawat tempur Lapan Fighter Experiment ,jembatan KFX/IFX Indonesia

    Salah satu industri Alutsista yang sangat penting adalah
    Pesawat Terbang dan pesawat Tempur ,karena dengan kemampuan nya yang serba bisa dan mematikan serta dapat meng cover seluruh Kawasan Nusantara.

    bangsa indonesia adalah bangsa dengan segudang para ahli dan orang pintar yang mumpuni dengan berbagai bidang keahlian, termasuk salah satu nya adalah kemampuan membuat dan menciipta pesawat , baik pesawat komersil atau pun pesawat tempur,sebut saja kita mengenal Prof.dr.ing .BJ Habibie profesor bidang aerodinamika ternama dan terbaik saat ini yang di miliki bangsa indonesia.dari tangan dingin nya kita mengenal N250 yang lahir dari hasil buah karya putra putri bangsa indonesia saat itu.

    Indonesia dengan Kondisi Geografis yang luas dan terdiri dari berbagai
    pulau, sangat membutuhkan Armada Pesawat Tempur yang memadai,
    untuk memenuhi kebutuhan Dalam Negerinya maka Indonesia merancang dan
    membuat sendiri Pesawat Tempur , hal ini didasarkan atas dasar kebutuhan yang mendesak dan vital.

    di mulai dengan kerja sama pembuatan pesawat tempur dengan Korea Selatan dengan program KFX /IFX dan saat ini masih berjalan kerja sama nya. adapun hasil kerjasama ini kelak diharapkan dapat membawa kemajuan penting dalam ilmu pesawat tempur bangsa ini kedepannya.

    menurut :Ir. SULISTYO ATMADI salah seorang Kepala Program LFX, saat ini ada kerjasama antara LAPAN.PT.DI,dan berbagai Universitas Teknik ternama dalam negeri untuk membantu terwujudnya program LFX ,KFX/IFX, dalam arti minimal kita mampu mencuri ilmu nya dari Korea Selatan. sementara tujuan dari kerja sama Lapan/PT.DI dan lain nya adalah:

    • Mendapatkan suatu konsep pesawat latih-lanjut generasi ke 4.5 dengan
    kemampuan multi misi.
    • Memperoleh Rancangan Pesawat Tempur yang sesuai dengan kondisi dan situasi
    Indonesia

    dalam hal ini banyak hal telah di lakukan LAPAN sebelum di mulainya program LFX dan KFX/IFX,seperti contoh:

    -LAPAN harus menyiapkan SDM nya utk mendukung Program KFX

    – Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, di bidang Teknologi,Penerbangan, khususnya Pesawat Tempur Supersonik GENERASI 4,5 serta generasi 5.

    -membuat Desain Konseptual Pesawat Tempur Supersonik

    -Pembuatan Model untuk Uji Terowongan Angin dan Uji
    dengan perangkat lunak berbasis CFD

    -Pengujian model Aerodinamik menggunakan Terowongan Angin

    -bekerja sama dengan perguruan tinggi (ITB) yang juga sebagai tim
    perancang KFX mempunyai Kemampuan/ Kelebihan dalam teori
    Perancangan, dan dari Industri (PT.DI,PTSmartAviation)

    -Koordinasi Sinergi antara Lembaga Riset (Puste
    kbang-LAPAN), Perguruan Tinggi jurusan AeroAstrodinamika Teknik Penerbangan ITB, diwakili oleh Dr. Ir.Rais Zain,PTDI, PTSmartAviation, diwakili oleh Ir. Agung Nugroho

    yang tujuan nya adalah :

    • Merealisasikan Pembuatan Prototipe Pesawat LFX dari hasil rancangan ini,
    setelah dilanjutkan dengan tahap Preliminary Desain dan Perancangan detail
    Tahapan Pengembangan ke depan

    • Evaliasi Rancangan Konseptual yang telah dihasilkan/prototipe

    • Melanjutkan Tahap Preliminary Desain (Rancangan Awal)single atau dobel engine

    • Melanjutkan Tahap Perancangan Rinci dan pembuatan terowongan angin

    • Pembuatan Prototipe Pesawat TerbangT empur Supersonik LFX Tiga tahun dari sekarang

    dengan demikian diharapkan hal ini menjadi gambaran bahwa bangsa Indonesia tidak main main dalam mengembangkan program mandiri pesawat tempur nya mari kita berdoa semoga tidak lama lagi bangsa indonesia dapat kembali menjadi macan asia di bidang industri pesawat tempur yang di segani oleh negara kawan dan lawan.

    note: gambar bisa di cek di email bung@NYD dan bung@diego

    sumber: kumpulan ( hoax)

    • Hahahahaha, dibuka semua, salam kenal bung Telik 🙂
      Saya tambahin sekarang lagi pengembangan untuk mesinnya yg diambil dari teknologi Turbojet dan Turbofan. Bukannya rencananya ke Gen 5 ya bung, dan diperlukan ToT untuk mengisi kekurangan basic knowledge baik dari program KFX/IFX atau program berikutnya…

      Selain itu dibantu PT. Infoglobal untuk masalah avionicsnya. Dan yg keren avionics buatan kita ada beberapa yg lebih bagus dari buatan Bae System salah satunya teknologi DVR…

      • waduh maaf komandan bung@Jalo.. jgn di jewer ya,,,abis bung jalo duluan yg buka lapak LFX hehehe..saya coba bantu aja…tolong den karung nya bung@jalo jgn culik saya….cuma dikit kok yg dibuka.. ( liirik kanan kiri) kaburrr ada den karung

      • sementara mantapin gen 4.5 biar mantep kaki kaki nya…klo udah mantep layangan nya baru bablas gen 5…bung@jalo kasih bocoran lagi donk..saya new bie

        • Hahahahaha, bisa aja bung Telik…
          Saya bukan den karung tapi cuman penjual karung… hehehehehe 😀

          Gak masalah New bie atau apa bung… Malh bocoran saya gak sebanyak yg ditulis bung Telik… Malah saya baru ngerti LFX itu arahnya kemana setelah membaca tulisan bung Telik… Terima kasih sudah di share ya bung, salam kenal 🙂

    • Assalamualaikum wr.wb
      yang saya tahu di dalam pesawat tempur generasi 5 terdapat canard besar/tempat untuk ruang load rudalnya yang biasanya memotong lubang angin, setahuku begitu kalau salah ya maaf 😀
      maaf oot 😀

      • betul..itu buat ngumpetin pencil nya..namun disitu kelemahan nya..biasanya Radar Cross Section masih bisa menembus pada saat pencil di tembak an..bukti nyata nya Stealth F 117 yang di tembak jatuh oleh pencil SAM punya Serbia pada perang balkan..

        maaf ngasal,,maklum cuma ofice boy

    • Bung Telik Sandi,
      Setahu saya Puspiptek Serpong punya Low Speed Wind Tunnel (kebetulan saya ikut pasangnya). Apa kita sdh punya yg lebih canggih high speed wind tunnel?

      • masih tahap pengembangan bung@Antonov, tapi yg jelas ke arah sana… mungkin bung@jalo bisa bantu…info nya

        • Wew, saya lagi bung Telik… :malu2

          Saya belum tahu definisi high speed wind tunnel. Yang saya tahu di Pustekbang Lapan ada wind tunnel supersonik, subsonik dan transonik

          • Oohh iya tambahan ada juga Wind Tunnel punya PT. DI

          • Maaf ralat, salah tulis itu wind tunnel punya BPPT namanya Laboratorium Aero Gas dan Getaran itu juga di serpong. Mungkin ini yg dimaksud bung Antonov ya. Lalu ada juga Wind Tunnel KemenESDM.

  13. Jauh amat ketinggalanya…
    Mungkin Cara leluhur kita mesti ditiru, mungkin perlu di adain sayembara nih ma pemerintah agar muncul tokoh2 sakti/ ahli di bidang militer/persenjataan dll…
    Bung jalo mau nanya nih, laras SS2 udah bikin sendiri ato msh impor?

  14. Bung jalo@ kmrn diartikel. Jkgr indonesia dan kemampuan dalam negeri dan pengaruh luar negeri ,,waktu saya liat sepeda motor bisa berubah jadi seperti helikopter buatan universitas surya saya bangga sekali,,kapan ya universitas surya bisa bikin robot kuratas ,,seperti pnya nya jepang. http://kasamago.files.wordpress.com/2012/08/kuratas.jpg

  15. Oleh : Brigjen TNI Ir. Agus Suyarso ( Tim Litbang Kemenhan, tahun 2009). skrng sdh tahun 2014, bgmn kelanjutanx ya…??? 🙂

  16. Beugh … Banyak amir neh … Tapi yg terpenting pembangunan mental dan kesadaran dalam bersikap, bahwasanya indonesia adalah bangsa besar. Hal ini dapat dilihat jaman majapahit aja kita dah punya meriam dan cara pembuatannya pun kita dah bisa … Jiwa inferior harus dibuang jauh-jauh. Sekarang jamanya visi kedepan tidak hanya wawasan nusantara aja , tapi wawasan global. Sudah saatnya kita lebih banyak lg aktif dikancah internasional … Maju indonesia Raya (the great Indonesian) … NKRI harga mati …

  17. bung Jalo itu ditulis Brigjen TNI Ir. Agus Suyarso ( Tim Litbang Kemenhan,) pada tahun 2009 ya?? Th 2009 itu waktu penulisan atau pembentukan team??
    Yang terbaru hasilnya gmn ??? Thanks

  18. 1. penemu: menemukan teknologi baru yang berbeda dengan yang sudah ada
    2. pembuat: membuat sesuatu sendiri dari awal hingga akhir tanpa bantuan.
    3. perakit: merakit sesuatu yg ada baik membeli komponen yg penting atau yang lain karena belum mampu membuat
    4. pengguna: membeli yang sudah jadi.

    indonesia no berapa ya?

    • Dari 1-4 ada semuanya. Trus mau apa?

    • @cziege..sekarang ini jarang sekali perusahaan manufaktur teknologi membuat 100 % produknya sendiri, mereka membutuhkan pihak lain untuk mensuplai komponen-komponennya.
      Yang benar-benar di buat sendiri paling 20-40 %.
      Contoh : Toyota dikatakan ‘membuat’ mobil dipabriknya, namun komponen-komponennya berasal dari berbagai perusahaan juga termasuk perusahaan dari negara lain.
      Contoh lain : Boeing atau Airbus, dikatakan ‘membuat’ pesawat namun komponen-komponennya berasal dari berbagai industri bahkan industri di luar negaranya. Salah satunya PT. DI.
      Mesin mereka jua di suplai dari perusahaan lain antara lain Rolls Royce, Pratt and Whitney dll

      Saat ini yang dimaksud dengan industri perakitan jika hampir 100 % komponen di datangkan dari luar negeri dalam bentuk CKD (compeletely knock down) lalu dirakit di sini, jika ada 20-40 % bisa dibuat sendiri atau disuplai industri lokal sudah dikatakan sebagai manufaktur.

      Contohnya Toyota Innova dikatakan manufaktur Indonesia karena lebih dari 60 % komponen dibuat di Indonesia dan dirakit di Indonesia. Meskipun mungkin anda akan mencibir karena sebagian komponen lokal tersebut ‘hanya’ ban atau karet wiper.

      Jadi Anda tidak perlu mencibir atau nyinyir gitu kalau dikatakan Indonesia sudah bisa membuat alutsista sendiri meskipun sebagian komponen di datangkan dari luar bahkan luar negeri

      • Anda betul bung cm klo mau jepang bs membuat toyota dr awal sampai akhir sedangkan kt meski ada kemauan tp tetap agak kesulitan bikin dr awal sampai akhir. Tp tdk perlu khawatir pilihan yg diambil indonesia dianggap yg paling benar dan realistis mirip dg mexico dan thailand. Pilihan yg diambil Malaysia dg memproduksi proton mrp strategi yg berbeda dan sementara ini otomotif malaysia kurang berkembang.

  19. Biarlah pembangunan alutsista RI tertatih-tatih dikarenakan masalah anggaran ,birokrasi dan korupsi yg selalu menghadang keterlambatan alutsista..sedang kemajuan jaman memang harus mempunyai tuntutan serba modern kombinasi antara Satelite,GPS dan Target yg bisa menghancurkan musuh dengan telak tanpa ada balasan perang modern akan berubah nantinya >>http://www.youtube.com/watch?v=IIAtSkRgYLM

  20. Semoga yang sudah disebutkan, dapat diwujudkan dan tidak dilupakan, ganti pimpinan biasanya ganti kebijakan dan lupa program2 pimpinan lama yang sebenarnya bagus, ego pribadi biasanya mengalahkan itu semua.
    SEMOGA !!!

  21. . Waduh kepanjangan tulisan’y. Mpe merem melek baca’y.
    Izin nyimak para sepuh.

    . Optimis indonesia pasti bisa menuju kemandirian bangsa.
    . Bangsa kita keturunan orang2 pejuang.
    . Semangaatttt.

  22. ” d. Senapan Mesin Multi Guna (General Purpose Machine Gun, GPMG) Kal 7,62 mm (menggunakan untaian Munisi 7,62x51mm dan perangkainya), untuk berbagai kepentingan/ fungsi sebagai SO yang juga dapat dipasang pada Ranpur, pesawat udara atau kapal sebagai senjata utama, sebagai Penangkis serangan Udara (PSU) atau sebagai Co-Ax pada Kanon Ranpur/Kapal, belum dibuat sendiri di dalam negeri, baru riset untuk dikembangkan sendiri di dalam negeri oleh PT Pindad. ”

    Kasihan ya..

    Senapan mesin Cal 7.62 mm dipakai sebagai PSU (penangkis serangan udara), pasti pakai radar MRIPAT.

  23. # maaf kebiasaan oot…

    mau nyari pandangan para sesepuh sekaligus bocorannya :

    Mengenai di ttd-nya kontrak freeport terbaru sampe 2041, yg kontrak sebelumnya berakhir di thn 2021.
    adalah suatu keanehan, knapa kontrak dan opsi perpanjangan kontrak tidak dilaksanakan pada era pemerintahan yg memang ada pada periode 2019-2024 nanti..??
    terlepas dari peningkatan royalti dan syarat pembangunan smelter, freeport lebih cenderung sebagai SYMBOL, symbol cengkraman tiada akhir. tapi ini akan jadi channel yg sama dgn tujuan sebaliknya jika ada paket yg waaaaahhh :

    Hal apa, atau paket apa yg berikan ASu sehingga ttd di akhir pemerintahan sby jadi seperti KEHARUSAN ..??
    – kalo cuma f-16, mendingan suruh pulang z lah, ga tau kalo paket f-22 lancar jaya, dipertimbangkan juga kali ya. 😀

    • Semalam sudah saya jawab bung donie..coba cari aja diartikel sebelum ini
      kalau kurang jelas nanti tanya lagi..

      • artikel yg mana ya bung satrio… ngubek2 ga ketemu nih…

        • Satrio says:
          April 10, 2014 at 12:51 am

          Masalah kontrak karya freport ini sudah lama pernah kita bahas dan juga sering saya singgung di artikel saya .

          Kontrak karya Freeport Indonesia tercatat bersifat nail down atau kontrak yang tidak mengikuti aturan atau perundang-undangan yang berkembang (bersifat tetap).
          Seperti diketahui, sesuai kontrak karya sejak 1991, masa kontrak Freeport di Papua habis pada thn 2021 dan dapat diperpanjang dua kali sepuluh tahun jika Freeport Indonesia menghendaki.
          Jadi akan benar benar lepas dari freport itu thn 2041.

          Freeport melakukan penandatanganan kontrak karya untuk masa 30 tahun pada 1967 silam. Kontrak karya itu yang menjadikan Freeport sebagai kontraktor eksklusif tambang Ertsberg, Papua, di atas wilayah 10 kilometer persegi. Pada 1989, Indonesia memberi izin perluasan area eksplorasi hingga 61 ribu hektare.

          Freeport menandatangani kontrak karya baru dengan masa berlaku 30 tahun berikut dua kali perpanjangan 10 tahun pada 1991 dan akan berakhir 2041 nanti. Royalti yang diberi Freeport kepada pemerintah hanya satu persen untuk emas, sedangkan royalti tembaga 1,5 hingga 3,5 persen.

          Royalti dipandang amat rendah oleh banyak pihak. Alasannya, di negara-negara lain, royalti kepada pemerintah dari pertambangan emas mencapai lima persen, sedangkan tembaga enam persen. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 3/2012, pemerintah membentuk tim evaluasi untuk penyesuaian kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B).

          Satrio says:
          April 10, 2014 at 12:55 am

          Tambahan
          Perlu diketahui kontrak karya antara Pemerintah Indonesia dan Freeport dikuatkan dengan dasar hukum Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 dan UU Nomor 11 Tahun tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan PP No 20/1994 dan UU 25/2007 tentang Penanaman Modal Asing dan UU Nomor 4/2009 tentang Mineral dan Batubara serta Permen Nomor 7 tahun 2012.

          http://jakartagreater.com/pesawat-kepresidenan-tiba-kamis-tapi-sby-tak-bisa-langsung-pakai-2/

  24. Tulisan di atas sebaiknya dijadikan standing point untuk diskusi. Saya yakin @Bang ed dan @Bravo setuju. Beberapa topik sebelumnya tdk ada yg kontra jd kurang menarik mungkin kedua beliau takut dibully krn melihat suasana kebatinan para warjeger sdg euphoria…

  25. waduhhh panjang amat…
    ibarat mau makan nasi satu piring penuh, selera mau mkanya jd kenyang duluan..
    kalau ini ibarat mau bacanya liatnya udah ngap duluan.. di baca tp ndak bisa di cerna dgn baik.
    bung@jalo kalau bisa jgn panjang2!! kalau bisa singkat padet gampang di cerna,
    maaf bolehkan sedikit kritik,…… ???????

  26. Asean Military Defense Review
    Yesterday at 22:06
    The Regional Implications of Indonesia’s Rise

    Despite a mild economic slowdown amidst China’s economic rebalancing and the U.S. Federal Reserve tapering—and despite a dip in Indonesian shares following a surprisingly weak performance by the favorites in Wednesday’s parliamentary election—the general direction of Indonesia’s economy seems clear: onwards and upwards. Since the Asian Financial Crisis and the fall of Suharto, Jakarta has learned lessons, expedited political reforms, and taken economic strides that today constitute a platform from which Southeast Asia’s largest country can continue to build on what it has achieved to date. That’s not to say corruption, infrastructure deficiencies and inequality do not remain problems for whoever takes the political baton after President Susilo Bambang Yudhoyono, but Indonesia’s economic trajectory is bending sharply in the right direction.

    Since the turn of the century, Indonesia’s economy has been one of the world’s best-performing and most consistent. Since 2001, the country has averaged 5.4 percent growth, far faster than the global average, despite the shocks of the global financial downturn. That growth has facilitated the fall of gross government debt from 95.1 percent of GDP in 2000 to around 26 percent today, the lowest of any ASEAN member-state except Brunei Darussalam, and enough for Fitch and Moody’s to grant Indonesia’s debt investment grade status. Indonesia has gone from being the world’s 27th largest economy in 2000 (nominal GDP) to the 16th largest today—an impressive leap in just fifteen years.

    Much more is expected to come. Indonesia is forecast to have the world’s seventh largest economy by 2030, surpassing the U.K. and Germany according to a report by McKinsey Global Institute, and the fourth largest in 2040 according to a Citibank report, trailing only China, India and the United States. While such projections are often over-reliant on extrapolating current trends, there is little doubt that Indonesia stands to benefit immensely from a rebalancing of the global economy towards the Asia-Pacific and from the demographic dividend of the country’s young population. The former will ensure relatively high ubiquity of capital, technology and demand in Indonesian markets, while the latter will ensure that the workforce will be able to maintain productivity and a low dependency ratio between workers and dependents, thereby setting the foundation for decades of robust growth and healthy public finances.

    The regional implications of this economic rise will be very significant, even if gradual.

    A bigger and more robust economy means that defense spending will continue to rise, albeit from an extremely low base. Indonesia currently spends less than 1 percent of its GDP on defense, at around $8 billion annually. In comparison, Singapore has a military budget of $12 billion, more than 4 percent of its GDP, while Australia spends $26 billion. By any measure, Indonesia lags well behind its neighbors relative to its size; however, its rapid economic growth has facilitated sharp annual defense budget increases, such as the 9 percent increase announced in August 2013. This much-needed growth comes as Indonesia attempts to increase defense spending to 1.5 percent of GDP by 2015, or a projected $14 billion, as sought by Yudyohono. While this target will not be met by next year, it at least recognizes Indonesia’s military potential and sets a spending benchmark.

    Much of this defense budget growth, particularly a $15 billion kit announced in 2010, will be allocated to equipment procurement and modernization. The country’s 2010 Strategic Defence Plan outlined a modernization vision that included 10 jet fighter squadrons, 274 ships and a dozen submarines by 2024—a significant qualitative and quantitative leap from Indonesia’s current military capabilities, even if the targets do not seem entirely realistic. Nonetheless, recent purchases are congruent with the vision, such as the purchase of six Sukhoi Su-30MK2s that were delivered last September and which completed a squadron of advanced air-superiority fighters consisting of sixteen Su-27 SKM and Su-30 MK2 jets. Similar major procurements and orders have included dozens of F-16 and Su-35 fighters, advanced air defense systems from Thales, Boeing AH-64 Apache Longbow gunship helicopters and more than hundred world-renowned German Leopard tanks.

    As it bolsters its military, Indonesia’s weight and importance in the region’s balance of power will only grow, particularly with respect to the U.S. and China. As Washington and Beijing seem set for an era of strategic rivalry across the Asia-Pacific, bringing Jakarta into one or the other’s sphere of influence becomes ever more appealing. For the U.S., greater security and economic cooperation with Indonesia, at the relative expense of China, helps strengthen and coalesce a grouping of states—which includes Japan, the Philippines and India—that is wary of China’s rise and territorial claims. China’s recent claim to the Natuna waters that are part of Indonesia’s Riau Islands could convince some Indonesian policymakers to lean towards Washington and hedge against Chinese assertiveness in the South China Sea. On the other hand, the seeming inevitability of China’s rise to great-power status, amidst the uncertainty of the viability and extent of America’s Asia “pivot” and security guarantees, constitutes a good case for Indonesia to move closer to Beijing and leverage China’s unprecedented economic force and growing military heft.

    However, the most likely strategic disposition, to use former Vice President Mohammad Hatta’s expression from 1948, remains having a “free and active” Indonesian foreign policy. As opposed to relatively passive non-alignment during the Cold War, Indonesia—on the back of rapid economic growth and growing power—is increasingly likely to see itself as entitled to a prominent role in the region and the world in its own right, and in light of its own interests and potential. Jakarta is therefore likely to seek prosperity and cooperation equally with both the U.S. and China, as opposed to creating any form of dependency on one power in the face of the other. Moreover, Indonesia might be uniquely positioned in trying to arrest any escalation in the region or prevent the entrenchment of a paradigm of strategic rivalry that could harm its own interests and development priorities.

    This independent streak is likely to take Indonesian foreign policy beyond the Asia-Pacific. As recent engagement with the Middle East shows, Indonesia increasingly sees itself as an important actor in the Muslim World. In late January, the country signed a defense cooperation agreement with Saudi Arabia—Jakarta’s first such agreement with an Arab state—which covered military industry cooperation, counter-terrorism and joint training. In 2012, Indonesia also co-sponsored UN General Assembly Resolution 67/19 on the statehood of Palestine, with foreign minister Marty Natalegawa delivering a strong speech in defense of the Palestinians’ choices and policies regarding Israel. This seems to be a natural extension of a more confident Indonesia more willing to articulate its population’s solidarity with Middle Eastern causes.

    As for Australia, Indonesia’s economic rise will shift the power dynamic and importance of the bilateral relationship. Indonesian GDP, on the basis of purchasing power parity, overtook Australia’s in 2004 and is today thirty percent bigger, and that gap will only expand as Indonesia outgrows Australia by a ratio of 2 to 1, with the IMF predicting 6 percent growth for Indonesia to the end of this decade compared with around 3 percent for Australia. This will not only enhance Indonesia’s economic primacy over Australia and entrench Prime Minister Tony Abbott’s maxim of “less Geneva and more Jakarta,” it will also shift the balance of power within the relationship. Australia’s dominance and transactional approach to the relationship will have to give way to a more balanced and strategic one, as Canberra comes to terms with the fact that a burgeoning Asian power of more than 250 million people cradles Australia’s northern borders.

    Indonesia’s economic rise will therefore pave the way for significant geopolitical change. The country’s economic growth engine is of such vigor relative to the rest of the world—perhaps surpassed only by China amongst the world’s twenty largest economies—that a military and strategic dividend for Jakarta is inevitable. Projected timeframes and Indonesian goals will shift with movements in the domestic and regional landscape, but the fact remains Indonesia will have more clout in the future than it’s ever had before.

    http://thediplomat.com/2014/04/the-regional-implications-of-indonesias-rise/

  27. Selamat malam semuanya 😀

    Maaf, sebelumnya

    Saya ingin mengungkapkan uneg-uneg yg ada dihati saya

    negeri segudang prototipe nan kaya akan SDM dan SDA yang belum mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah http://jakartagreater.com/titipalutsista-asli-bangsa-indonesia-kepada-para-capres/ jika suatu saat nanti ada sang pemimpin mau memakai/menggunakan “alutsista asli buatan bangsa indonesia” pasti!.. Kita bisa menjadi negara besar yang disegani baik kawan maupun lawan, kuat secara ekonomi dan sekaligus aman dari gangguan dari pihak luar

    Keseriusan pemerintah akir-akir ini mulai nampak dengan memberikan proteksi (pembelian alutsista wajib dibarengi dengan ToT)mendirikan univ pertahanan dan juga menggelontorkan dana (R&D) yg walaupun itu masih terhitung sangat kecil 😀

    Rencana moderenisasi “ALUTSISTA TNI” MEF I, II, III dan juga pembentukan KOGABWILHAN adalah langkah awal yg tepat untuk memberi pengobatan penyakit komplikasi kronis yg diderita oleh TNI agar bisa sembuh, sehat walafiat baik jasmani maupun rohaninya.

    RI (secuil surga ada di dunia) kaya akan SDA & SDM, luas wilayah dan keanekaragaman suku budaya nan elok dijagad raya ini, jumlah penduduk yg paling besar diurutan no. 4 di dunia seharusnya memberikan kita keuntungan berlipat ganda bagi bangsa ini.

    Saya yakin dengan rencana modernisasi pertahanan RI maju pesat dalam waktu singkat(berlari bukan berjalan dan tentunya waktu yg ditempuh akan lebih singkat 😀 ) mampu mencukupi bahkan kita bisa menjadikan kita eksportir alutsista yang mampu bersaing dengan negara besar lainya.

    maaf ini Bung Satrio, Bung Eric, Bung Jalo, Bung Diego,Bung Gue, Bung Now dan bung-bung lainya dan juga teman-teman yang lainya….saya berharap kedepanya para sesepuh warjag sering mengulas perkembangan industri strategis alutsista buatan dalam negeri baik itu yang sudah jadi maupun masih dalam bentuk prototif agar (saya) kita semua bangga dan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa kita juga bisa membuat produk-produk(alutsista) dalam negeri hasil jerih payah putera-puteri terbaik kita 😀 saya menganggap disini kampus/universitas (JKGR) adalah tempat belajar khususnya buat saya loh hehehe 😀

    Salam hangat dari saya buat teman-teman disini, semoga smakin cinta RI

  28. Kita jg jng cepat berbngga krn politik luar negeri kita dan adanya isu LCS shg kita brnhgapan spenuhnyaa bhw yh trjadi saat ini indonesia bgaikan gadis cantik yg menjadi rebutan para pria, mngapa dmikian ? Ken tdk tertutup kemungkinn para pria tsb akan mencari ‘gadis lain yg tdk jual mahal’ (suatu negara ug bisa membaca ad ksmptn lngsung dimbil dng cara bersekutu dng maksud jg mendapatkn alutsista yg dimiliki oleh ‘pria-pria besar’ spt yg dpt kita lht dng thailand, kita tdk tahu politiknya thailand itu apa tappi thailand membeli sbgn alutsista dr china, sbgn lg dr barat spt swedia dng adanya pswt tempur saab, memang singpura menitipkan sbgn pswt tempurnya ke thailand mskipun singapura adlh sekutu amerika tapi tdk menjamin thailand selamanya akan menjmin kepentingan singapura, oleh krn itu skalipun rusia tdk memberikan ToT kpd indonesia utk pswt tempur Su 35 dng alasan krn indonesia belum dpt memberikn jaminan ttg kepastian hubungn antara indonesia dng rusia akan tetap baik selamanya, ya wajar saja rusia brsikap spt itu, ttg hun baik kita bisa lihat dr hubungn rusia dng vietnam dan brazil serta china, nah krn kita blm bisa menjamin dn pumpung rusia jg menawarkn kpd kita alutsista yg dpt kita beli adl alutsista yg sama dng yg dipakai oleh rusia, menurut saya ambil saja alutsista yg berkualitas tinggi spt S 300/s400, pantsyr S1, BUK 2 ME, SU 35, pswt angkut Antonov, ks lada, armur yg menggunakan sistem propulsi AIP, tank armamata, Kamov 27, dll

    • IMO….
      Klo melihat dr letak geografis…..negara kita termasuk salah satu yg paling sulit utk diserang (asalkan dipersenjatai dgn alutsista modern dan cukup pada tiap matra)…..
      dpt menjadi lumbung supply logistik dan command centre di wilayah bumi selatan bagi siapapun yg menguasainya (makanya Tan Malaka dan Bung Karno pernah berkata siapapun yg ingin menguasai bumi bagian selatan hrs menguasai/beraliansi dgn Indonesia dulu)
      ditambah lagi kekayaan SDAnya……gimana gak bikin ileran negara2 besar di dunia….(si “mantan danjen” pernah membocorkan klo tambang freeport baru sekitar <10% tambang p*pu*)

      Saya fikir kita dan papa bear saling membutuhkan tetapi mereka trauma dgn pergantian kepemimpinan kita akan kembali menepikan mereka seperti era 60an….kepentingan mereka di ASEAN kan bukan di sini saja…..

      Padahal meskipun memang kita tdk bisa benar2 mempercayai sepenuhnya salah satu blok….berkaca dari sejarah papa bear menurut ane masih jauh dapat lebih dipercaya dibandingkan mama rika……

      sekalian menanggapi ulasan bung GH@ beberapa waktu lalu…

      IMO emang tdk mungkin kita bisa mendikte papa bear utk tdk menjual alutsista mereka kpada negara2 lain di kawasan….opsi lanjutan yg diberikan mereka thd hal ini sebenarnya sudah menunjukkan pentingnya posisi kita dimata mereka……entah mengapa kok masih keukeuh ditolak…..

      Maaf klo rada ngawur…..
      Cmiiw

  29. Ada trik lain utk mempeljari alutsista negara lain, yaitu beli alutsista sbnyak2nya, misl SU 35 beli aja 10 skuadron, ambil 1 utk dibongkar utk dipelajari, kecuali avioniknya yg minta ma rusia spy ada ToT krn avionik susah utk dipeljari sebab berhubungaan dng program slain avionik jg dng persenjataan spy ada ToT. Solusi lain yg jg harus dijlankan adl panggil pulang semya ahhli2 kita yg ada di luar negeri, kmdn bero mrk gaii tinggi, beri mrk rmh, asuransi utk keluarga dn jaminan keamanan serta kendaraan yg jg disertau dng pengawal spy penelitian rahasia tdk bocor kemna, pasang kamera dn alat penyadap disetip rungan dlm rumh tdk terkecuali di dlm kmr mndi dn juga di mobil, dlm rmh tsb harus ada jaringan tombol yg berhubungn dng markas dn ppabrik utk alarm darurat. Pengawal langsung dr negara jng boleh ada pengawal pribadi khaqatir peneliti kabur dng hasil penelitiannya dng keluarga, pengawal pribadi dan uang

 Leave a Reply