Aug 282017
 

Jakarta – Kementerian Perindustrian mendorong produksi kendaraan beremisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/LCEV) seperti mobil hybrid dan listrik sebagai pengembangan industri otomotif nasional agar berdaya saing di pasar global.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato mengatakan mobil hybrid yang menggunakan dua sumber energi, bahan bakar minyak dan listrik, serta mobil listrik bertenaga penuh, sesuai dengan tren industri otomotif kendaraan bermotor ramah lingkungan.

“Yang dimaksud pengembangan produksi kendaraan dengan emisi karbon rendah dan ‘fuel economy’ lebih tinggi, seperti kendaraan dengan teknologi hybrid yang konsumsi bahan bakarnya sekitar 20-28 kilometer per liter dan di atas 28 kilometer per liter,” kata Menteri Airlangga melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, 27/8/2017.

Menperin menjelaskan dengan mengacu standar konsumsi bahan bakar tersebut, kendaraan dinilai hemat bahan bakar dan ramah lingkungan.

Airlangga mencontohkan pada pameran otomotif beberapa waktu lalu, ada mobil hybrid dengan konsumsi bahan bakar 2,5 liter untuk 100 kilometer atau sekitar 40 kilometer per liter.

Kementerian Perindustrian pun sudah berdiskusi dengan para pelaku industri otomotif nasional yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengenai upaya pengembangan kendaraan masa depan tersebut dan telah mendapat masukan serta respons positif.

Pengembangan mobil listrik telah masuk dalam peta jalan Kemenperin. Pada 2025, produksi mobil listrik diharapkan sudah mencapai 20 persen dari total produksi kendaraan bermotor nasional.

Dalam waktu dekat, Kementerian Perindustrian akan melakukan uji coba terhadap 10 prototipe mobil listrik yang dikategorikan laik jalan.

“Prototipe itu akan dibagikan, antara lain ke Kementerian Perhubungan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar bisa dites sambil regulasinya kami siapkan,” kataya, dirilis Antara.

Pengembangan mobil listrik memerlukan infrastruktur dan teknologi yang memadai karena jumlah pemasok atau industri penunjangnya masih cukup sedikit dibandingkan produsen kendaraan yang ada saat ini. Oleh karena itu, butuh persiapan yang matang, seperti teknologi baterai dan tempat pengisiannya.

  8 Responses to “Mendorong Industri Otomotif ke Mobil Hybrid dan Listrik”

  1. oh…telulas toh…

  2. forum militer kok beritanya isinya ekonomi,otomotif,politik, gw jd bingung.

  3. TEKNOLOGI baterai pake dari Kasel yg Lagi TOT
    untung sama untung
    Kalo mesinya oleh ga buat sendiri . jepang biasa gak ngijinkan (dimonopoli)

    • laaaj ini dia…biang kerok mati suri nya industri otomotif indonesia..harus ada yng berani melawan mafia seperti mereka…demi kemajuan bangsa indonesia

  4. Harus didukung penuh pemerintah..janganlah ada yang membebani lagi..jikapun mesin buatan lokal belum layak ,,,ya terus di coba hingga layak di pakai untuk umum

  5. Makanya proyek Dahlan Iskan didukung ini malah dipaksakan jadi tersangka dan mulai proyek baru mobil listrik. Logika oh logika….

  6. anu… ee… saiya kok pesimis yah?!, lebih optimis kalau ada wacana RI punya destroyer dgn Aegis

  7. Jauh panggang dari api klu mau buat MobNas, Produsen Otomaotif dunia sudah memonopoli terutama pabrikan Jepang, akankah Pemerintah Konsekuen dgn kebijakannya sendiri!

 Leave a Reply