Jan 302015
 
Gripen

Gripen

Kemungkinan besar Gripen yang dibeli Indonesia, dimana Typhoon ada kemungkinan menyalip ditikungan akhir. Lupakan Su-35 ataupun Su – Su lainnya, tidak akan ada pembelian ataupun penambahan dari varian tersebut. Petunjuknya sederhana, dari daftar belanja renstra 2015-2020 TNI AU yang telah dipublish Indonesia berencana melakukan pembelian 2 pesawat AWACS. Dimana model yang diminati salah satunya adalah SAAB Erieye yang diintegrasikan dengan pesawat C295. Dari sini sudah mulai terlihat kemana arah pembelian pesawat pengganti F-5, dan yang pasti bukan dari Rusia.

Sukhoi dan kawan-kawannya tidak dapat diintegrasikan dengan jaringan radar kohanudnas yang notabene sebagian besar buatan barat dan sudah pasti tidak akan bisa diintegrasikan dengan AWACS barat. Komunikasi diantara keduanya hanya sebatas radio, menghadapi tantangan pertempuran udara masa depan hanya bermodal radio itu sama saja dengan bunuh diri. Tanpa sistem yang terintegrasi darat-laut-udara akan menjadikan setiap penempur seperti “lone wolf” yang bertempur sendiri-sendiri, hanya tinggal menunggu detik jatuhnya saja. Lain halnya dengan pesawat yang memiliki sistem terintegrasi, walaupun terbang sendirian tapi seperti keroyokan, because he’s not fly alone.

Kemenangan besar Vietnam di udara melawan Amerika salah satunya karena taktik gerilya udara yang mereka terapkan. Mig-21 dan Mig-17 Vietnam seolah – olah dapat hadir dimana saja dan menyergap kapan saja, sehingga walaupun secara teknologi keduanya kalah namun mereka tetap dapat menguasai udara (hanya bermodal pelor tanpa rudal!). Dengan kemampuan Gripen yang mampu lepas landas pada jarak yang sangat pendek dikombinasikan dengan ribuan pulau-pulau Indonesia yang dapat berfungsi sebagai kapal induk dan pangkalan aju + sistem yang terintegrasi di ketiga matra. Akan menghasilkan kesiapan dan kemampuan tempur strategis yang sangat luar biasa. Mau itu Su-35, Pakfa atau F-22 dan adik tirinya F-35 sekalipun, monggo silahkan datang, kohanudnas SIAP menyambut!

Kehadiran Sukhoi di Indonesia pada esensinya adalah sebentuk respon (baca:ngambek) Indonesia atas embargo AS dan ulah mereka yang sering melanggar kedaulatan RI. Indonesia secara mendesak membutuhkan pelindung udara yang dapat dijadikan pemukul “sesaat”, perumpamaannya seperti “anda boleh menyerang tapi anda tidak akan keluar tanpa berdarah-darah”. Sukhoi dipilih karena Rusia secara nyata merupakan kontra barat. Langkah pembelian ini kemudian menjadi sinyal yang jelas bagi AS, “Jika anda terus mengusik kami, kami akan pindah haluan!” Keputusan Indonesia untuk membeli Sukhoi inilah yang kemudian memicu insiden pulau Bawean. Dengan dalih kesasar, AS mengirim kapal induknya masuk kedalam wilayah Indonesia untuk menguji dan mengejek pertahanan laut dan udara Indonesia. Sebentuk simbol gertakan dan pesan yang dengan jelas mengatakan “kami mampu melakukan apa yang ingin kami lakukan, walaupun anda berkawan dengan Rusia”. Pada intinya, kehadiran Sukhoi di Indonesia adalah karena kepepet dan bukan bagian dari perencanaan pertahanan strategis nasional.

Kebangkitan China dan ambisi mereka di LCS disatu sisi membawa keberuntungan bagi Indonesia. Secara politik tekanan barat serta merta menjadi sangat melunak terhadap Indonesia, berbagai program kerjasama dan penawaran strategis tiba-tiba saja mengalir deras dari Amerika dan Eropa. Amerika dan Inggris yang sebelumnya selalu menyenggol isu Papua tiba-tiba saja menyatakan dukungannya atas kesatuan Papua dengan NKRI. Hasilnya berbagai bentuk gerakan Papua merdeka di Amerika, Eropa dan Australia perlahan lahan meredup dan menghilang gaungnya. Semua itu karena mereka membutuhkan “peran” Indonesia terkait konflik LCS, hal ini semakin terbukti dengan kian bersemangatnya AS dalam mendukung program maritim Jokowi sebab secara tidak langsung program ini membantu kepentingan AS di ASEAN. Secara tersirat Indonesia menegaskan klaimnya atas wilayah dan garis perbatasannya termasuk segala nilai ekonomi yang terkandung didalamnya. Sikap Indonesia ini secara tidak langsung seperti mendirikan pagar pembatas di tepi LCS, yang mana dengan sedikit akal-akalan AS dapat memanfaatkan Indonesia seolah menjadi sekutu/kepanjangan tangan kepentingan AS. Dalam bahasa halusnya barat membutuhkan Indonesia sebagai “stabilisator kawasan” namun aslinya mereka hanya membutuhkan jongos untuk melindungi kepentingannya.

Namun semua itu tidak akan berguna jika Indonesia tidak kuat, oleh karenanya AS dan sekutunya perlu membantu Indonesia untuk menjadi kuat (kebalikan dari tahun 97-98). Hibah F16 juga merupakan bagian dari bantuan khusus itu, pada intinya tidak ada yang namanya makan siang gratis di dunia politik, semua ada imbalannya. Dan karena alasan politik internal dan masih belum yakinnya AS terhadap Indonesia menyebabkan AS tidak dapat membuka lebar-lebar kran FMS-nya. Namun mereka masih memiliki kepanjangan tangan dimana mana, salah satunya SAAB Swedia melalui JAS-39 Gripen-nya. Ingat, kandungan komponen buatan AS ada banyak di Gripen bahkan salah satu komponen vitalnya yaitu mesin adalah buatan AS. Karena Indonesia gigih mempertahankan sikap netralnya, dengan mendorong dari belakang pembelian Gripen, AS secara tidak langsung juga membantu menjaga “image sikap netral Indonesia” sembari melancarkan tujuannya sendiri. Dan bila Indonesia jadi mengoperasikan Gripen bersama Thailand dan Malaysia, maka akan tercipta rantai pertahanan udara yang kuat di selatan LCS dan inilah yang menjadi tujuan paling utamanya.

Bagaimana dengan Sukhoi? Jika Indonesia memutuskan untuk menambah dan mengembangkan armada Sukhoi-nya maka Indonesia harus merubah dan menyesuaikan sebagian besar sistem pertahanan udaranya agar Sukhoi tersebut mampu beroperasi secara efektif dan optimal. Namun itu membutuhkan biaya investasi yang sangat besar, sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi dan dilakukan Indonesia pada masa sekarang ini. Adalah sangat tidak mungkin bagi Indonesia untuk memulai membangun kembali dari awal (walaupun itu hanya sebagian) pada saat dan situasi saat ini! Bila melihat perjalanan Sukhoi di Indonesia dari awal hingga kini, nampaknya pada akhirnya Sukhoi hanya akan dipelihara agar tetap hidup sekedar agar tidak mati biar pemerintah dan TNI tidak dituduh menghambur hamburkan uang rakyat, sekedar menjadi mainan mahal para jenderal pada saat parade udara, sekedar biar tampak efek busa deterjennya ditelivisi, sekedar dan sekedar,..

Adakah diantara kita yang bertanya, kemanah keempat Sukhoi yang lama menghilang itu? Info dari bung Jalo mengatakan mereka saat ini menjadi pasien sekarat di hanggarnya, statusnya yang tidak kunjung terbang dan tidak pula segera diperbaiki menjadi bukti nyata ketidakmampuan Indonesia mengoperasikan/menjaga kesiapan operasi Su-family. Atau ini juga menjadi menjadi bukti betapa ruwetnya after service Rusia, tidak heran jika kemudian dubes dan menhan Rusia buru-buru menawarkan layanan after service yang ditempatkan di Indonesia. Namun jika sparepart-nya masih diproduksi di Rusia, maka tawaran itu sama saja bohong, hanya isapan jempol belaka toh selama ini kita juga sudah mendatangkan mekanik dari Rusia langsung lalu apa bedanya?!

Suatu sistem pertahanan dikatakan kuat jika sistem tersebut mampu memenuhi poin strategis yang ditetapkan, bukan sekedar untuk memenuhi gengsi, efek busa melimpah deterjen, fanatik buta atau ambisi sesaat. Suatu perencanaan sistem pertahanan harus mempertimbangkan aspek dimasa depan, bukan sekedar apa yang terjadi pada saat ini saja. Bila melihat pada kemampuan, kekurangan dan kelemahan, kelebihan yang dapat di ekspos serta tujuan dan kebutuhan Indonesia. Bila kita melihat secara realistis tanpa berhalusinasi, maka jawabannya sudah pasti bukan Sukhoi (tapi Rafale, hehe). Badan Sukhoi yang besar dan gripen yang kecil bukanlah tolak ukur kemampuan mereka yang sesungguhnya, tampang bukanlah acuan. Sekedar perumpamaan, jika Bruce Lee bertanding dengan The Rock/ Stalone/ Arnold/ Tyson dll yang berbadan besar dan bermuka sangar,,,saya masih memegang Bruce Lee + fur 10.

Apa yang terpenting saat ini adalah bagaimana mensukseskan tujuan kemandirian pertahanan nasional sembari membuat sistem pertahanan yang kuat secara jangka panjang. Jangka panjang disini berarti berkesinambungan yang salah satunya juga berarti dapat dan mampu mengoperasikan alutsista yang dibeli secara konstan dan efektif hingga ke masa depan. Hal ini menuntut lebih dari sekedar efek deterjen sabun colek tapi juga unsur operasionalitas yang meliputi reliabilitas, efektifitas, efisiensi, kompatibilitas, readiness dan availability. Dengan menggandeng Rafale, Gripen dan Typhoon dapat memberikan semua/sebagian dari aspek tersebut. Dan diantara ketiganya Gripen-lah yang paling memenuhi kriteria ideal yang sesuai bagi kebutuhan “rasional” Indonesia. Seperti menyelam sambil minum air dan sekali dayung 3 pulau terlampaui, kebutuhan pertahanan udara efektif jangka panjang terpenuhi dan tujuan kemandirian pertahanan nasional pun ikut sampai melalui ToT yang menyertainya. Lagi pula saat ini secara politik dalam kerjasama industri pertahanan, setelah Korea Selatan Indonesia kini juga mulai dekat dengan Swedia. Di darat dan laut aroma Swedia sudah mulai kental terasa, apakah di udara akan ikut menyusul? Who knows, kita lihat saja nanti.

Btw, saya penggemar Rafale.

(by: STMJ)

Salam

Bagikan Artikel:

  227 Responses to “Mengapa Harus Gripen atau Typhoon …”

  1. Saling saliip..

  2. Ini komen bung STMJ dinaikkan jd artikel dahsyat.

    • Memang dahsyat.
      Cerdas, lugas, bernas, mudah dipahami orang awam.

    • Pengganti Hawk mutlak harus 5th gen. F35 atau Pak Fa. Mudah mudahan dari TOT Typhoon atau Gripen, IFX beneran jadi, maka Hawk pasti di ganti IFX.

      Mudah mudahan Typhoon atau Gripen bantu IFX samapi jadi. Kalau bisa bantu buat production linenya. Paksa mereka rancang pabrik untuk IFX.

      • saya rasa anggaran kita tetap minimalis, dgn minimum essential force.
        Jadi klo misal beli gripen cuma pespur 10-12 bh tanpa opsi lanjutan pada renstra 3 apa kita dapat TOT maksimal dari gripen untuk pengembangan IFX?
        Dan tehnologi IFX baru ke gen 4,5 belum gen 5

        • Makanya harus beli banyakan minimal 32 bh sama seperti Basil.

          Bukanya Anggarannya yg ditulis kemaren Rp 271 T? Kok belinya hanya 12 bh

        • Rasional itu kalo beli 32 pesawat gripen dapat TOT 100%. Beli 10-12 pesawat minta TOT 100% itu irasional.
          Memasuki MEF ketiga, sebanyak 32 pesawat tempur ringan Hawk 100/200 bakal pensiun. Rasional kalo penggantian itu dipesan sekarang, 5 tahun lagi diterima, pas buat gantikan pesawat tempur ringan.
          Sementara itu F16 sebanyak 32 pesawat udah ga bisa diperpanjang lagi usianya, bisa diisi dengan IFX sebanyak 50 pesawat, Amin.

        • Gripen-E pertama tidak akan terbang sampai 2018.
          Tapi ini bukan berarti tidak ada opsi kalau Indonesia menginginkan pengganti F-5E.

          ## Sama seperti Brazil, Indonesia dapat mengambil opsi untuk terlebih dahulu menyewa 12 Gripen-C/D dari Swedia.

          Semua Gripen-C/D di armada Swedia akhirnya akan di-pensiunkan secara bertahap, krn pemerintah Swedia sudah mengambil keputusan untuk memproduksi 60 – 80 Gripen-E baru untuk memenuhi kebutuhan mereka di masa depan.

          Ini artinya, armada Gripen-C/D akan available untuk disewakan bagi semua pembeli veri Gripen-E/F.

          Keputusan untuk menyewa Gripen-C/D akan memudahkan adaptasi training pilot Indonesia ke platform Gripen, sebelum akhirnya pindah ke versi E/F yang kemampuannya jauh lebih unggul.

          IMHO.

      • Asal tahu saja, penambahan hanya sedikit 6 – 8 Sukhoi — apalagi kalau dari tipe Su-35 — ini akan sangat menyulitkan maintenance.

        Harus ada investasi di infratruktur, dan komponen spare part baru untuk bisa men-support tipe baru yg sama sekali tidak mempunyai persamaan dengan Su-27SKM dan Su-30MK2 (walaupun bentuknya mirip).

        Jangka panjang, biaya perawatan akan selalu lebih murah dan lebih optimal, kalau Indonesia mempunyai 64 pesawat untuk 1 tipe saja, dibandingkan memiliki 64 pesawat dari 4 tipe yang berbeda.

      • asal tahu saja kalau nambah 6-8 unit gripenpun akan menambah sakit kepala. karena menambah jenis item yg harus dikontrol.

        kalau nambah sedikit item yang berbeda otomatis nambah rumit pekerjaan. kalau su-35 ada mirip2 su-27/30 kalau gripen mirip siapa ya ? adanya malah mirip punya tetangga.

      • penambahan Gripen justru semakin menambah varian pesawat yang ada. gado-gado kita makin sedap karena semakin beraneka ragam. Sukhoi 27, 30, F-16, T-50, Hawk, Supertucano, Grob, KT-1B dan bisa tambah lagi Gripen. Mantap sudah.

        Jika yang diharapkan Indonesia adalah dukungan untuk IFX sudah ada banyak pilihan.
        Sukhoi — Rusian teknologi – engine IFX bisa Klimov / Lyulka Saturn.
        F-16 — USA teknologi – engine GE 414/404.
        Thypoon — Europe teknologi – engine Eurojet EJ200 / Roll Royce.

        Gripen — Swedia + USA teknologi — engine USA juga (sama saja dg F-16)

      • Tentu saja Gripen akan menambah variant TNI-AU dalam jangka pendek. Perbedaan utama, Gripen, sudah dirancang dari awal untuk low maintenance, dan low logistical footprint.

        Lagipula, mesin F414G masih satu keluarga dengan mesin F404 dari 16 x T-50i yang sudah dibeli. Jadi biar bagaimana, pembelian T-50 sudah menuntut harus adanya komitmen jangka panjang untuk support mesin dari keluarga GE F404/414.

        Dari sudut pandang maintenance mesin, ini sudah menjadi langkah awal yg baik, dibanding skrng dengan 16 T-50i dan 11 F-5E/F.

        Idealnya, dalam tahap I; Indonesia membeli 2 skuadron Gripen-E/F (32 pesawat) — ini utk mengisi Skuadron-14 (sbg pengganti F-5E), dan juga untuk membentuk skuadron baru sebagai bagian dari langkah awal untuk mencapai target MEF.

        Kalaupun ini akan membuat harga pembelian di awal kelihatan mahal, ini sudah automatis akan menambah / memperkuat nilai ekonomis keluarga Gripen.

        ## Jangka menengah — spt sy sudah pernah tuliskan — jadikanlah Gripen-E/F sebagai pengganti BAe Hawk-209. Pesawat tempur ringan subsonic (tidak bisa supersonic) sudah dibeli dari sekitar tahun 1995 – 1997, dan dari 32 pesawat, hanya tinggal tersisa 23 pesawat di Skuadron-01, dan -12.

        Pesawat ini memenuhi kebutuhan MEF di tahun 1990-an dengan biaya operasional yg murah. Secara tehnologi menggunakan avionic dan radar yg sama dgn F-16 Block-15OCU. Faktor2 inilah yg membuatnya pilihan yg masuk akal yg membuatnya terpilih ke dalam jajaran TNI-AU waktu itu.

        Gripen-E/F tentu saja ahli waris yg paling masuk akal untuk menggantikan Hawk-209 di 2-skuadron ini. Biaya operasional murah, dan kemampuan yg berkali-kali lipat. Jumlah lebih banyak = jauh lebih ekonomis = training pilot, support crew, dan maintenance juga jauh lebih mudah.

        Batch yang kedua dari 32 Gripen-E/F berikutnya, dengan dukungan yang baik, dan melalui kerjasama dengan SAAB, hampir sudah dipastikan akan dirakit 100% di fasilitas PT DI.

        Bagaimana dngn training component dari armada Hawk? Masih ada 8 Hawk-109 2-seater. Tentu saja, pengganti paling logis adalah tambahan T-50 lagi dari KAe.

        Jadi total sejauh ini sudah 64 pesawat — Gripen-E/F sudah menggantikan F-5E/F, 2 skuadron Hawk-209, dan menambah 1 skuadron baru ke arah MEF.

        ## Patut diingat juga, pada tahun 2025 kelak, akhirnya Su-27/30 kemungkinan sudah akan dipensiunkan juga. Umur pesawat buatan Russia memang tidak terlalu lama — lihat saja nasib keempat Sukhoi pertama kita.

        Kita juga harus memikirkan dari skrg pesawat apa untuk menggantikannya?

        Su-35? Mungkin, tapi lihat dulu.
        Spy sudah sy tunjukkan sebelumnya, Su-35 kemungkinan besar tidak akan di-upgrade secara bertahap spt semua tipe Barat yg lainnya. Artinya post-2030, Su-35 sudah akan ketinggalan jaman dibanding tipe lain.

        Sedangkan tipe seperti Gripen?

        Asal tahu saja, SAAB sudah merencanakan untuk membuat “unmanned Gripen” sbg target jangka menengah.

        http://www.bloomberg.com/news/articles/2013-06-18/saab-working-on-unmanned-gripen-to-keep-combat-jet-competitive

        “What we are talking about is an optionally manned aircraft,” Chief Executive Officer Hakan Buskhe said in an interview at the Paris Air Show.

        “Just because you need an unmanned fighter does not mean it is affordable to build a new platform. If you like for a mission you can put a pilot into the aircraft and if you need to use it for high risk you fly without a pilot.

        Inilah kenapa komitmen negara pembuat untuk long-term continuous development / upgrades itu sangat penting!

        Kita tidak bisa melihat kalau Sukhoi mempunyai komitmen yg sama ke keluarga Flanker untuk 10 atau 20 tahun ke depan.

        Kalau mnrt sy, jangan pernah ambil pusing lagi dengan Sukhoi!

        Gripen-E/F juga akan menjadi pengganti ideal untuk Su-27/30 di Skuadron-11.

        Sehingga pada tahun 2030; peta armada pespur TNI-AU sudah akan berubah banyak:

        80 Gripen-E/F (5 Skuadron)
        32 F-16 C/D Block-52 (2 Skuadron)
        24 T-50i (1 Skuadron)

        Skrg TNI-AU hanya perlu berkomitmen untuk men-support 2 macam mesin utama;

        ## – Keluarga F404 dan F414 — (T-50i / Gripen-E/F) sama spt US Navy skrg dapat men-support Hornet-C/D dan Super Hornet E/F di atas kapal induk.

        ## Keluarga mesin P&W F100 PW200 — mudah2an mesin ini di-upgrade ke versi PW229 agar maintenance-nya juga lebih mudah.

    • Apa yang saya sampaikan di atas itu kondisi idealnya bung Gue, tapi teori dan praktik bisa berbeda karena dalam masalah ini ada politik dalam negeri yang turut bermain. Situasi kondisi yang berkembang saat ini terkait kasus KPK-Polri yang kemudian menarik keterlibatan TNI di dalamnya, dapat merubah prediksi saya di atas.

      Seperti yang telah diketahui sebelumnya, TNI telah begitu “ngotot” menampilkan Sukhoi dalam berbagai aksi, mulai dari unjuk hiburan udara hingga aksi mengejar pelintas batas udara. Namun aksi – aksi tersebut selama ini ditanggapi dingin oleh duo Jokowi-JK, itu karena keduanya berasal dari kalangan sipil yang melihat sesuatu secara realistis kedepan dan bukan sekedar mengikuti “gengsi mainan jenderal”. Hal ini juga dapat dilihat dari track record JK ketika bersanding dengan SBY, beliau telah berhasil “memaksa” para jenderal untuk memakai produk dalam negeri (anoa) untuk menghidupkan dan mencikal bakali industri militer dalam negeri.

      Peran serta TNI dalam dagelan kisruh KPK-Polri ini terlihat seperti sedang “menanam budi” pada KPK dan “menanam jasa” pada pemerintah, tentu saja ada imbalan yang diharapkan dari semua itu. Dalam tubuh TNI sendiri ada dua kubu aliran alut sista namun ada satu kesamaan diantara keduanya, jenderal-jenderal dari kedua kubu tersebut sebagian besar sama-sama dari kalangan konservatif, bahasa gampangnya “orang-orang tua kolot dari jaman dahulu”. Sedikit sekali dari mereka yang berpandangan kedepan dengan menaruh negara diatas gengsi dan kepentingan pribadinya.

      Sehubungan dengan acara tanam menanam budi dan jasa, imbalan yang mereka harapkan dari pemerintah salah satunya adalah mainan mahal sukhoi itu. Dalam kasus ini TNI telah memperlihatkan bahwa mereka memiliki peran dan fungsi yang “penting” baik dalam menjaga kadaulatan negara maupun menengahi kisruh politik. Oleh karenanya pemerintah perlu menyenangkan “TNI”, bagi orang-orang ini terserah pemerintah mau membuat program apa saja asal mainannya dibelikan. Mereka tidak peduli dengan manajerial pertahanan negara.

      Kedepannya akan ada tawar menawar dan tarik menarik yang cukup alot terkait Sukhoi antara pemerintah dan TNI, disinilah peran Menhan kemudian menjadi sangat penting. Pak RR bukanlah orang manajemen dan bukan pula orang politik, beliau adalah jenderal militer tulen sampai ke tulang. Beliau diposisikan sebagai Menhan untuk di plot sebagai jembatan antara sipil dan militer, antara pemerintahan Jokowi-JK dengan TNI. Diharapkan Menhan mampu meredam ego para jenderal TNI agar mampu menyesuaikan diri dengan arah kebijakan pemerintah. Jika Menhan tidak dapat berfungsi optimal maka kasus pembangkangan eksplisit Kasal akan dapat terulang lagi.

      Kesimpulan akhirnya, peluang penambahan Sukhoi masih ada walau pun kecil, tergantung perkembangan politik. Jikalau pun pemerintah “terpaksa” melakukan penambahan, saya rasa jumlahnya akan kecil sekali, dan selama Jokowi-JK masih menjabat Sukhoi tidak akan pernah lengkap 1 skuadron. Pemerintah dan para penasehat ahlinya pastilah sudah memahami, bahwa Sukhoi adalah penyimpangan dari jalan yang telah dirintis sebelumnya. Penyimpangan lebih jauh akan berdampak pada beban negara yang akan semakin membesar. Namun pada akhirnya, mari kita kembalikan lagi semua pada mereka yang duduk dikursi diatas sana, semoga mereka membuat keputusan yang terbaik bagi negeri ini.

      Perlu saya garis bawahi, ini hanyalah dugaan saya semata – imho

      • tegas dan lugas, itulah komen anda, tapi percayalah bung STMJ , masih banyak jendral disana yg mementingkan negara, bukan sekedar gengsi, ini konteks nya negara bukan satu rumah yg pengen beli mobil baru, cmiw, salam,

      • Kalau yg lewat global hawk yakin si Jokowi pasti lirik ahhahaah

      • Saya juga merasa ada yang aneh, karena radar kita semuanya buatan nato. Apapun itu, saya penasaran dengan mainan baru kita nih bung. Asal jgn buatan amrik lah, cape klo kena embargo.

      • Saya rasa tni gk hanya mementingkan gengsi semata dgn memilih flanker family bung karena mungkin tni gk ingin indonesia mengulangi kesalahan konyol seperti dlu dg mengisi seluruh skadron dg pespur barat, yg semula indonesia punya gigi menjadi ompong tak bersisa krna embargo barat mngkin bung masih ingat gimana trauma dan sakit hatinya rakyat indonesia waktu dikerjai sama ngara2 barat, gripen=tot okelah tapi apa salahnya tni ingin mengantisipasi embargo barat yg sewaktu2 akan terulang kmbali

        • betul bung@NoJustice alutsista rusia bukan bi beli hanya karena gengsi tapi lebih ke arah antisipasi jika sewaktu2 blok barat kembali mengembargo indonesia

        • karena itu pilihan terbesar hanya antara no.1 (SU-35) dan no.2 (Gripen)…entah mana yg jd pilihan akhir pemerintah tergantung dilihat dr keuntungan buat negara, produk murni buatan AS dkk. yg beresiko terikat politik dan embargo harus dinetralkan dgn alutsista dr Rusia dan atau Swedia…sekaligus menyeimbangkan posisi Indonesia sebagai negara non blok/netral…

      • Jangan lupakan andi wijayanto, beliau orang dekat pak jkw, dengan besic ilmu pertahanan, walaupun jabatan di seskab, paling tidak bisa membisiki jkw tentang arahan rencana strategis pertahanan Indonesia ke depannya, semoga akan bersinergi dengan pak RR dalam mengelola manajerial pertahanan Indonesia, membeli apa yang dibutuhkan, bukan membeli barang yang siapa tau nanti dibutuhkan.

      • saya orang awam ikutan komen saja : .yg bisa dikaitkan dgn analisa Mas STMJ : Indonesia memang melakukan TOT dari negara2 yg bukan pemuncak militer…contoh saja senapan SS itu asalnya FN Belgia..kemudian IPTN dasarnya dari Casa Spanyol…Kapal LPD itu dari Korea Selatan…jadi kalo SAAB bisa masuk dgn Gripen…itu sptnya sdh “jalannya” yang logis yah spt itu..

  3. Kereenn…

  4. Swedia akan menggantikan Rusia kah??

  5. alutsista om rusky digoib kan …

  6. Ya udah rafale cepetan dibungkus …

  7. Insya Allah tetap Sukhoi, tiada yg lain. Prioritas panglima tni jelas pesawat ini.

  8. saya suka efek deterjen sabun coleknya :D
    saya juga penggemar rafale
    =NKRI HARGA PAS=

  9. lalu kenapa flanky yang selalu dipake utk nguber para slonong boy selama ini????

    • Black flight pertama => karena memang hanya sk 11 yg menjaga langit timur…. jadi tak ada pilihan lain, harus flanker yg beraksi
      Black flight kedua => saat itu ndilalah flanker lagi latihan, jadi sekalian buat latihan interseptor
      Black flight ketiga => nggak tau kenapa flanker yg diturunin, padahal falcon masih bisa intersep. Mungkin karena kurang komunikasi kohanudnas.
      btw, hawk dan falcon juga sering buat intersep black flight. Tiger Singapura aja yg intersep hawk tahun 2013…. falcon juga pernah intersep hornet Australia.

      • Artinya -> Flanker is “Effective Proven” dunk !

        Daripada sama yg di Iklanin sampai berbusa2 ,
        Tapi Toh nantinya Cuma Jadi “Hangar Queen” doank,
        Krn Nggak cocok sma kebutuhan Geografis indonesia.
        dan saat Law Enforcement, Eh malah nyuruh2 Flanker lagi. xixixi Payah…!

        • Yah… Kalo effective proven sih hawk aja bisa… Eh, btw bukannya flanker batch pertama nongkrong di hanggar? Berarti siapa yg “hanggar queen”?
          Gw belum pernah denger super flanker aka SU-35 intersep pesawat lain paling SU-27…. Berarti belum effective proven donk? Nggak kayak Eurocanard yg udah kenyang pertempuran (simulasi & real combat)
          wakakaka

          • flanker batch pertama nongkrong di hanggar?
            ————————————————————-
            Mereka Nongkrong Ya Memang untuk diambil SparePartnya, Dan Memang Nggak Ada Niat Di Upgrade.., Itu Strategi Logistik klo ente mau tahu, dan bukan karena rusia pelit spare part dsb,
            Strategi spt itu untuk kecepatan dan Effisiensi waktu maintenance secara internal.
            Strategi maintenance mesin2 industri Sama juga gitu kok , itu juga klo loe pernah kerja :D

            Mau Pengen Tahu nggak Contohnya? , Masih inget nggak Hibah 24 Pesawat F16 Blok 52 ?, Nah Disitu disertakan 4-Unit Blok 25 dan 2-Unit Blok 15 Tambahan, Nanti di suruh duduk manis di hanggar trus disuruh bobo deh , Ya Memang untuk untuk diambil SparePartnya kan?, Dan Memang Nggak Ada Niat Di Upgrade lagi kan? , begitu juga Flanker, masak harus order pesawat bekas buat digituin,
            NAH ini Yang Sering di politisir Sama Sales2 Canard sampai Berbusa2 :mrgreen: , untuk menyesatkan para forumer2 Lugu .

            Jgn di Pikir order Spare part pesawat sama spt beli spare part mobil ,yg selalu ada di toko sebelah !,
            Misalnya nih kita mau order radar “Radom” 1 uniiit Aza , Via FMS prosesnya mesti mengajukan PO, trus manufacturer mengajukan ke DoD, boleh nggak, trus ke parlemen USA(misal) , nunggu disetujui ketok palu, wuiiih bisa berbulan2..Lamanya, Padahal cuma mau oder 1 biji.
            Kalau punya yg di hanggar tinggal dipindahin, 1 Jam Aza Kelar Deh.
            —————————–
            Berarti belum effective proven donk? Nggak kayak Eurocanard yg udah kenyang pertempuran (simulasi & real combat)
            ——————————

            Ayo Mana Buktinya kalau Sudah Efektif Di Indonesia, Dan Bukan Hanya Di MIMPI BASAH ente Doank ????

          • hehehehehe……

          • 4 flanker batch pertama kanibal? => logikanya dikanibal kalo udah rusak ato gak bisa terbang kan??? Bayangin aja beli tahun 2004 udah dikanibal…. Falcon sih wajar buatan 1986 buat kanibal… La ini, baru 10 tahun aja udah rusak. kw berapa?
            kecepatan internal? Mungkin bener…. Tapi kenapa harus banyak bgt yg dikanibal. Falcon aja yg 34 unit cuma 4 yg dikanibal. La ini, 16 unit yg dikanibal 4? Bikin gw geli aja….
            Pesen sparepart gak langsung dikirim? => lah….
            siapa yg bilang beli spartpart bisa langsung dikirim
            eurocanard efektif buat Indonesia? => Gw bilang eurocanard lebih proven…. Yg dah terbukti efektif buat Indonesia tuh hawk, falcon, tiger…. MAKANYA BACA YANG BENER…. Baca aja belum belum bener…. Oh ya, eurocanard pasti terbukti cocok untuk Indonesia (liat aja pespur barat kita). Yang nggak cocok itu fighter yang mahal perawatannya plus umurnya yg pendek (10 tahun). Pabrik pasti akan memilih mesin industri yg murah perawatannya dan dapat dipakai dalam jangka panjang dari pada IYKWIM

  10. Dan saya pecinta Typhoon Bung STMJ…mari kita bersinergi… 🙂

  11. mantab bung STMJ!!
    pemikiran yang jauh kedepan menjadi bangsa yang mandiri dan kuat

  12. Rawan embargo

  13. Satu aliran kita Bung STMJ.. Rafale aja dah….

  14. Nah ini baru keren paparannya udah masuk geo politik yang lebih luas.Keungulan suatu senjata tidak bisa berdiri sendiri,dia harus di ekosistem yang cocok untuk mendukungnya.Sekuat apapun seekor piranha akan mati juga bila keluar dari air dan lingkungannya.

  15. Waduh..sayang kalo su35 nya gak jadi..bakal di slonong boy sama si upil n si malon nih..hadeeh..

  16. Tahun 1990an, saat menjadi mahasiswa dan sedang merancang pesawat tempur dengan konfigurasi canard+delta wing, saya membaca banyak paper tentang close-coupled canard yang dikembangkan di Eropa yang dipublikasikan peneliti di SAAB, yang saat itu sedang dalam tahap akhir pengembangan JAS 39 (paper2 ini semuanya diterbitkan AGARD, lembaga riset aerospace NATO). Singkatnya, dengan melihat parameter aerodynamics dan flight dynamics saja, saya takjub dengan kemampuan insinyur SAAB (Swedia) dalam mengembangkan konsep Gripen. Meski saya akhirnya menyukai Rafale (subjective, the most beautiful airplane ever made), saya berkesimpulan bahwa Gripen bukan pesawat sembarangan.

    Jika pada akhirnya tidak laris manis di pasaran, alasannya lebih pada sejarah SAAB yang lebih banyak membuat fighter untuk kepentingan militernya sendiri sebagai bagian dari kebijakan politik LN Swedia yang netral (Swedia bukan anggota NATO dan Pakta Warsawa), dan tidak pernah agresif menjualnya di luar konsumen tradisional mereka.

    Jika SAAB-RI sepakat dengan 100% ToT, banyak hal yang bisa dipelajari dan diserap dari SAAB untuk kemudian dikembangkan di Indonesia.

  17. Saya cinta trio Eurocanard….. Mau Rafale, Typhoon, Gripen NG, yg penting dipilih yang paling berani memberi ToT…. Syukur2 mau beli semua :v (plus ToT semua)

    • Yeaaahh, ada temennya ternyata. Ane sih yakin dri ketiga fighter tersebut pasti ada satu yg diambil, entah itu typhoon, gripen, atau rafale. Tp gak tau jg sih klo kesalip F family…

  18. sebagus sebagusnya Alat tempur unjung – unjungnya utuk membunuh…..

  19. Yg penting tak ada makan siang gratis brow…

  20. Wah sepertinya sales Gripen berhasil membuat beberapa wajagers berputar 180% dari SU35 ke Gripen.

    Kalau saya lebih suka Typhoon versi terbarunya yg sudah ada AESA.

    Seandainya kalau Gripen dan typhoon harganya sama (150jt dolar). saya ambil Typhoon. soalnya TOTnya mungkin lebih komplit dan mesinya ada 2.

    Tapi kalau harga Typhoon terbaru 150jt gripen 100jt ya jelas sekali merem ambil gripen .

    Kalau Typhoon kaga berikut Aesa berarti kita diboongin. Tendang saja sales typhoon

    • Dengan Captor aja Typhoon bs melawan F22 Bung Jas39….kalaupun kita ambil Typhoon kita blm dapet yg pake AESA karena harganya pasti bengkak…kita memang pasti dapet yg bekas karena sebenarnya bkn Typhoon nya yg kita kejar tapi…. :mrgreen:

      • Captor M atau Captor E, bung wehrmacht?

      • Dalam klausal penawaran PT DI kepada KKIP, Airbus Group akan membantu kita dalam teknologi Multi mode Mission Radar. Tapi di situ gak dijelaskan, multi mode mission radarnya tipe apa, tapi awalnya kita bisa dapat referensi baik untuk pemahaman hingga pengembangan. Yg uniknya, disitu cuman menjelaskan bahwa penawaran itu berlaku untuk pembelian 12 unit Typhoon.

        • multi mode mission radar mungkin radar 1 step dibelakang aesa bung Jalo. karena kalau tidak salah t-50i/fa-50 standar (belum bisa bvr aam) itu juga radarnya sekelas multi mode mission buatan korea sendiri. hal itu merupakan kemajuan dalam industri avionic. jika sebelumnya baru bisa membuat tampilan layar dari alat lain.

        • Kalau emang benar klausal Typhoon mintanya 12 unit. berarti kemungkinan benar seperti apa yg di katakan bung gue, kita ambil 12 unit typhoon / gripen untuk TOTnya dan 6 buah SU35 atas permintaan panglima.

          Tapi kalau radarnya bukan AESA. saya condong ke Gripen E dari pada typhoon.
          Masalahnya typhoon trance 1 dan 2 mau di SCRAP sebelum 2020.

          jadi kalau kita ambil typhoon bukan AESA itu sama saja beli barang tua.

    • Bukan.

      Justru sebelumnya terlalu banyak agen sales buat Sukhoi atau Rosoboronexport,
      yang sepertinya mendukung pilihan Su-35 tanpa mau berpikir panjang.

      Dari tempo hari menunjuk masalah2 senjata buatan Russia, para sales Sukhoi tidak ada yg bisa menjawab:

      ## Apakah kita bisa menjamin Russia akan memberikan customer service yg bagus ke Indonesia?

      Sudah menjadi rahasia umum, pelayanan after-service Russia bukan main jeleknya.
      Dengan anggaran militer yg kecil, pelayanan seberapa yg bisa didapat Indonesia?

      ## Apakah Rosoboronexport dapat menjamin spare part?

      Semua laporan menunjuk kalau supply spare part dari Russia itu sangat jelek — sering tertunda lama (sampai nggak tahu kapan), seperti kena embargo saja.

      Apalagi, mengingat pembelian Indonesia yg hemat, berarti kita tidak dapat memborong seperti China, atau India.
      Lihat saja bagaimana China dapat membayar $700 juta untuk membeli mesin AL-31F dari Russia.
      http://www.ruaviation.com/news/2012/5/31/1037/

      Kalau Indonesia juga cuma memesan 4 – 5 mesin pada waktu yg bersamaan, prioritas mana yg akan didahulukan?

      ## Reliability issue

      Su-35 yg sama sekali baru (baru 40 unit diproduksi) dan belum teruji, akan mewarisi oleh2 dari keluarga Flanker — yg sudah memiliki reputasi gampang rusak, dan “haus spare part”

      India melaporkan Sukhoi generasi sebelumnya, Su-30MKI hanya mempunyai kesiapan terbang kurang dari 50%, dan melaporkan banyak problem dengan mesin AL-31FP.
      Ini walaupun mereka mewarisi ToT dari Sukhoi — armada MKI India jauh lebih modern dibandingkan 95% armada Sukhoi Russia sendiri yg kebanyakan buatan tahun 1980-an.

      Untuk armada Indonesia yg akan sangat kecil, dan tanpa support yg berarti seperti dari HAL India, berarti hanya 5 – 8 pesawat saja yg masih akan siap mengudara 10 tahun lagi.
      Mengingat modal kita juga kecil, mungkin 4 – 5 pesawat sudah akan “di-kanibalisasi” agar yang lain masih dapat terbang.

      ## Upgrade issue
      Russia tidak akan meng-upgrade Su-35.
      Jadi dalam 10 – 20 tahun lagi, pesawat yg sekarang kelihatan hebat “di atas kertas”, akan ketinggalan jaman jauh dibanding F-15, F-16, F-18, dan Eurocanards, hanya karena si negara pembuat malas dalam soal upgrade ini.

      Silahkan coba mendapatkan garansi dari Russia dan Sukhoi, untuk menjamin, kalau mereka akan rajin meng-upgrade, dan biayanya tentu saja harus terjangkau.

      ## Operating Cost

      Dengan jumlah armada yg akan sangat sedikit, dan seabrek masalah di atas yg akan menyertai pembelian Sukhoi, biaya operational yang mahal tidak akan dapat dihindari.

      Tidak mustahil untuk Su-35 yg sama sekali baru, biaya op-nya bahkan dapat menembus Rp 600 juta / jam.

      Memang enak kalau tidak memikirkan hal ini, karena “toh yg keluar uang kan negara, bukan gue sendiri! Yg penting Sukhoi pesawat HUEEBATT !!”

      • Memang enak kalau tidak memikirkan hal ini, karena “toh yg keluar uang kan negara, bukan gue sendiri! Yg penting Sukhoi pesawat HUEEBATT !!”

        kalem saja bung GI, yang memasukan prioritas pertama su-35 adalah Panglima TNI. apakah bung GI bisa mengucapkan kata2 di atas di depan beliau dan jajaran AU.

        • Bung alugoro,

          Setiap pernyataan ada tempatnya.
          Tentu saja pernyataan sy tidak ditujukan ke beliau.

          Ini masih di jakartagreater, bukan?

          • memang masih bung GI. tetapi harus diingat berita2 sebelumnya karena itu semua terikat rencana TNI untuk pengganti F-5 bukan ? ataukah kita bicara untuk negara antah berantah kah ?

          • Sekali lagi, konteks tulisan ini, kalaupun cukup keras, hanyalah sebagai “reality check” bagi pembaca “warung kopi” ini, untuk mengulas kembali fakta yang ada, dan berpikir baik2.

            Tulisan ini tidak ditujukan untuk menyinggung siapapun juga.
            Maaf, kalau sekiranya ada yg merasa demikian.

            Sama seperti semua, sy juga hanya memikirkan masa depan sistem pertahanan Indonesia yang baik.

          • mempergunakan kata2 yang seperti itu tidaklah membuktikan apa2. setiap orang dengan diberikan data pembanding dari dua jenis benda yang berbeda akan melihat jelas kenyataan tersebut tanpa perlu kata2 yang tidak pada tempatnya. saya menghargai maksud baik anda dan bung2 yang lain. saya pun melihat kebenaran dari argumentasi anda mungkin juga bung2 yang lain. sehingga jkgr belakangan ini terlihat sangat menarik. terima kasih. silakan dilanjutkan diskusinya.

          • Kalau saya, bung STMJ dan bung Gripen-Indonesia, tetap dengan pemikiran saya:

            SU-35 dibutuhkan untuk heavy fighter, dan sebaiknya dapat dibeli. Penambahanan SU-35 tersebut akan melengkapi jajaran flanker yang ada sehingga dapat membentuk jaringan data link terpadu untuk kawasan timur Indonesia. Hal ini juga sebagai langkah antisipatif jika seandainya Barat mulai lagi menjatuhkan embargo, setidaknya Indonesia masih memiliki pesawat tempur yang dapat mengudara dan memiliki efek getar.

            Untuk medium fighter, diambil tawaran Gripen dengan TOT-nya atau sekalian aja Typhoon yang punya efek cetar membahana. TOT-nya yang paling berharga, dengan TOT tersebut kita harus belajar untuk menghasilkan pesawat tempur.

            Untuk F-5 yang akan digantikan, tetap dipelihara untuk dipakai latihan calon-calon pentempur baru RI, dan kalau perlu terus diupgrade untuk dapat dipakai dalam petempuran, dan satu pesawat dibongkar untuk dipelajari.

            hanya mimpi pemikiran saya saja, semuanya kembali kepada TNI kita hehehe

  21. Kalau punya uang berlebih..saya setuju Rafale. Prancis itu tidak pelit kayak Rusia. Hasil kerjasama kita dengan Prancis sudah banyak dan yang paling sukses yaa Anoa. Swedia? Jadi ingat masa lalu saat ngadepin GAM!! Knp harus Swedia? Dulu ngelindungin petinggi GAM dan ngasih bantuan modal buat beli senjata..ee skrg malah nawarin dagangan dengan janji manis TOT, pret lah kau! Kayak ga ada alternatif lain aja. Kan masih ada Jerman. Pesawat idaman bung Wehrmacht lebih ok.

    • Pemikiran prajurit berbeda dengan pemikiran politikus bung Sempak, apa mau dikata jika ternyata arah anginnya menuju kesana. Saya ikut mana yang terbaiknya saja bagi negeri ini, dan kalau punya duit, saya juga sangat tidak keberatan milih Rafale hehe

    • swedia&norwegia adalah negara politik pintu terbuka.bukan cuma GAM yang tingal di norstborg – stockholm,banyak juga kelompok yang lain.subjektif bila itu dasar pemikirannya.apalagi situasi di aceh sudah berubah drastis.tapi boleh juga kalo ganja aceh di imbal beli dengan gripen.seperti laksamana john lie yang menyelundupkan opium&beras dibarter dengan senjata pada masa perang kemerdekaan.

    • Klo tdk pelit pembelian rafale 126 unit india mesti lancar donk?

      Trus nasib indonesia yg tradisi beli ketengan bin bekas jimana???

      Tyhpon,rafale dan gripen bagus kunci nya TOT.ini bwt jangka panjang indonesia jg mw buatan sendiri trauma dgn bayang2 embargo.

    • Hassan Tiro dan Zaini Abdullah sudah menjadi warga negara Swedia, nah masa’ negara tidak melindungi warganya dari ancaman negara lain?

      Secara negara, Swedia tidak campur tangan dalam masalah Aceh waktu itu, jadi hanya soal melindungi warga negaranya.

      Ini masalah politik luar negeri.

      Swedia memberikan modal beli senjata kepada GAM?
      Wah saya baru tahu nih.

  22. Kalo ane seh … Pro kemandirian.
    Kalo belum mandiri yah … Belajar sana sini, lirik sana lirik sini …
    Mana yang kasih TOT yg paling menjanjikan ane ambil …
    BUT … Daya deteren yang tinggi juga HARUS ada … Makanya sesuai dengan info Bung Sempak kita juga mengakuisisi SU 35 … Walau ngeteng …
    Nyimak aja ah …

  23. Saya penggemar sukhoi. Tp kalau lihat paparan diatas biisa kemungkinan sukhoi nggak bakal di beli. Tapi apa nggak kapok kalau sampai di embargo lagi.sekarang indonesia didukung karena konflik LCS. Kalau sdh nggak ada konflik dan papuabergejolak lagi. Pasti kena embargo lagi dengan dalih HAM. Semoga nggak jadi kdelai lagi.

    • Udah ga model embargo skrg mas. Selagi banyak pilihan dan punya uang, knp takut diembargo? Tidak hanya US dan sekutunya yang menjual senjata di dunia ini. Justru Indonesia harus bisa memanfaatkan betul dukungan barat saat ini untuk kepentingan dalam negerinya.

      • Bukan masalah bnyak uang pa sdikit uang.. tp ciba dipikir kalo alutsista kita kbnyakan / myoritas dr barat.. trus kita di embargo.. pasti militer kita akan lumpuh..
        Mskipun bamyak negra yang menjual senjata disana.. apakah dalam pralihan ideologi militer tersebut dapat dilakukan secara cepat? Jwbanya tentu tidak..
        Kita btuh waktu dan juga pastinya dana yang sangat besar..

        • Tenang mas. Pengalaman adalah guru terbaik. Makanya ada syarat ToT. Seberapa besar kita bisa menyerap ilmunya? Ini pertanyaan besarnya! US juga tidak bakalan nyari perkara dengan mengembargo Indonesia di tengah konflik LCS yang akan semakin bergejolak. Itu Semua sudah diperhitungkan dengan matang

          • “Ingat, kandungan komponen buatan AS ada banyak di Gripen bahkan salah satu komponen vitalnya yaitu mesin adalah buatan AS.”

            Andaikan saja 99% TOT sudah diserap oleh teknisi Indonesia

            1% yang bernama mesin ini bagaimana?

            SAAB saja impor dari AS

          • 1% yang bernama mesin ini bagaimana?
            ————————————-
            Bukan 1% Om, Mesin Itu 33% , dia 1/3 dari pesawat.

            ToT yg bisa didapat yaaaa “HuaAAAaaChiiimmm” :)

            ToT …. Kantong Oknum2 Penuh … 😛
            ToT …. Apanya yaaaaaa ? USA bgt seeeh…

          • Saya sengaja mengecilkan persentasenya bung…

            Biar sadar, andaikan mesin hanya 1% dari 99% TOT yang dikuasai namun jika mesin yang sangat vital ini masih impor dari AS apa bisa dibilang sudah terbebas dari embargo…

            99% spare part menguasai tapi mesin di tahan AS situ mau apa? :)

          • tenang saja, nanti pake mesin dongfeng

          • Anda justru harus khawatir dengan mesin AL-31F atau AL-41F1 buatan Russia, dibandingkan mesin F414G buatan Amerika.

            Mesin NPO Saturn AL-serries di Sukhoi adalah mesin yang “sekali pakai buang” — harganya $3,5 juta per unit, dan hanya tahan dipakai sampai 1,000 – 1,500 jam.

            Sebaliknya, mesin F414G dapat tahan lebih dari 7,000 jam (sama dengan umur pesawatnya sendiri). Maintenance dan service-nya juga jauh lebih mudah.

            Untuk apa cuman karena mental “takut embargo”, jadi rela keluar duit 10 – 20x lebih banyak?

            Ini juga belum tentu kalau mesin AL- rusak hari ini, besok Russia sudah mau nganter mesin baru.

            Dengan membeli mesin Russia — justru terjadi ancaman “embargo” spare part dari sistem industri Russia.

          • @GI
            Loe bisa jelasin Ini Nggak, F414 juga !

            Fighter pilots shut down CF-18 engines more than 200 times since 1988… Between 1988 and March 31, 2012, there were 228 precautionary engine shutdowns..

            http://o.canada.com/news/politics-and-the-nation/0919-jet-engines

            Untung F18 Double Engine <==
            Kalau Singgle Engine Kayak Gripen ,
            Akan Ada 228 Peti mati buat Pilot2 indonesia :mrgreen:

            “With two engines, pilots are trained so that when an engine malfunction occurs or is suspected,” , “they complete an early precautionary shut-down of the affected engine and return to base using a single engine.”

          • Inilah balik ke masalah debat “single engine vs twin engine.”

            Pesawat bermesin ganda selalu lebih rumit, dibanding pesawat bermesin tunggal — dan kenyataannya, kalau terjadi kerusakan hampir selalu karena ada kerusakan mesin.

            Gripen sudah mengumpulkan 160 ribu jam terbang

            http://www.saabgroup.com/About-Saab/Newsroom/Press-releases–News/2011—6/Gripen-passes-160-000-flight-hours-during-mission-over-Libya/

            Dan kenyataannya, sampai hari ini tidak ada satupun juga Gripen yg pernah mengalami kerusakan mesin.

            Sama dengan F-15 vs F-16.
            Hanya 1,25 pesawat F-16 jatuh per 100 ribu jam karena kerusakan mesin.

            Sebaliknya sekitar 1,85 – 2 F-15 justru rusak per 100 ribu jam karena kerusakan mesin.

            Kita masih bisa terus melihat ke belakang dalam sejarah, akan selalu menunjukkan data statistik yang sama.

            Mitos disini: Mesin ganda lebih aman dibanding single engine

            Kenyataannya:
            Twin engines = 2 x lebih rumit = kemungkinannya justru lebih besar kalau ada yang bisa rusak

          • @GI
            Mesin NPO Saturn AL-serries di Sukhoi adalah mesin yang “sekali pakai buang”
            ———————————-
            Gw Minta Bukti Officialnya mana?, Kalo loe nggak bisa !,
            Berarti ketahuan Loe tukang HOAX doank ,
            Mending nggak usah nulis lagi deh.
            malu2 in diri loe aza..!

            Krn yg benar adalah, Setiap mesin jet (rusia,Usa) bila masa lifetimenya habis(recomended OEM) maka disarankan Engine Overhaul dgn mengganti Turbine Blade nya, menganti Nozle nya dll lalu return kembali ke User.

            Rata2 mesin Jet Fighter High temp blade lifetimenya 1500 an jam (recomended OEM), mau itu F404,F414, EJ200, F110 , Saturn dll, kalau mau dipaksaain mereka bisa tembus diatas 5000 jam juga kok, tapi siapa yg bisa memperkirakan engine blade tiba2 terdapat Cracking, metal fatique .., Blade melengkung dll.
            kalau dari dari OEM recomendednya 1500 jam ya harus di Patuhi dunk.

          • @GI
            Mitos disini: Mesin ganda lebih aman dibanding single engine.
            ——————
            Ini Bukan Mitos, Ini data Statistik dan ILMIAH.
            Data Korsel dan USA, Mayoritas Crash f16 da FA50 adalah kerusakan mesin.

            Mesin boleh rusak, Tapi CRASH krn mesin adalah hal yg beda.

            FAKTANYA ADALAH :
            “With two engines, pilots are trained so that when an engine malfunction occurs or is suspected,” , “they complete an early precautionary shut-down of the affected engine and return to base using a single engine.”

          • Kenyataannya, service life untuk mesin AL-31FP (basisnya sama dengan AL-31F + hanya tambah thrust-vectoring) membutuhkan service yang lebih awal (700 jam) daripada rekomendasi NPO Saturn.

            http://www.tribuneindia.com/2014/20140721/main2.htm

            Jadi apakah kita dapat mempercayai pernyataan manufacturer?

            Tanyakanlah sendiri, kenapa India sampai harus membeli 920 mesin AL-31FP hanya untuk 200 Sukhoi MKI mereka (3 mesin baru per pesawat).

            http://www.ruaviation.com/news/2013/3/15/1578/

          • @GI
            Nih Gw Quote dari link ya:
            “The IAF has so far not arrived at a conclusion of its findings, but as a precautionary step, it has started servicing the engine after 700 hours instead of the mandated 1,000 hours of flying, adding to the non-availability of the aircraft.”
            ——————
            Baca ! “but as a precautionary step”” , Artinya mah Suka2nya standart baru IAF dunk, mau 500 jam kek, kan artinya “sebagai langkah pencegahan” sebelum time nya recomended Overhaul.
            bila 1 engine trouble sekian banyak blom bisa dianggap keseluruhan Fail, INTEL sendiri dalam produksi processor 1% barang NG=Not Good, bukan berarti 99% produknya ikut NG=Fail juga kan?

            yg pasti, Bukan “Habis pakai trus Buang” seperti Ocehan loe itu tadi !
            =>Gw Masih Minta Bukti pernyataan Officialnya mana?, hayo sini Tanggung Jawab !, Manusia cuma bisa dipegang lidahnya. klo nggak bisa? berarti apaan dunk?
            Btw, eh loe malah kasih link Junk beginian.

            ——————–
            Jadi apakah kita dapat mempercayai pernyataan manufacturer?
            ———————————–
            Emang siapa Lagi yg mesti loe percaya ttg Maintenance pesawat Tsb, Ya Manufacturer Lah, Masak Opini Loe?,
            Lihat, OEM sukhoi apakah lalu merubah jam SOP MTC recomended Engine Overhaul ?.. Nggak Kan?
            krn statistik nya Kecil. balik lagi cerita INTEL.

            ———————————–
            Tanyakanlah sendiri, kenapa India sampai harus membeli 920 mesin AL-31FP hanya untuk 200 Sukhoi MKI mereka (3 mesin baru per pesawat).
            ————————
            yah yg beginian aza Di politisir..
            =>Nah dari link sebelumnya yang lo kasih, nggak loe baca ya?..
            jawabannya nih “It takes four-five days to remove and replace the engine”. kalau mesin nya sudah ada/Ready. makanya krn IAF ingin selalu “Combat Readiness”, dia harus ready New Engine.
            Lah klo nggak pnya spare part mesin, atau numggu Perbaikan mesin Kelar, Mau berapa BULAN mangkrak nunggu mesin baru tuk datang kalau di saat lagi perang, Ingat india dalam status ‘Siaga”. makanya dia butuh ready full spare disaat damai.

            indonesia aza, pnya Spare 6 Unit f16 dan 4 Spare flanker kan? untuk mendapatkan spare-part cepat.
            krn bikin Mesin Jet nbaru nggak kayak bikin KUE, yg sehari jadi. Tanyain aza sama MenHan, Gimana Lamanya Nunggu Order mesin Baru, apalagi disaat perang atau embargo.

          • “precautionary step” — apakah anda membaca artikel di atas baik2?

            India sengaja mengganti / service 700 jam sekali, kalau tidak mesin AL-31FP itu bisa mati sendiri di udara — tanpa penjelasan sama sekali kenapa.

            Jadi kalau India tidak melakukan precautionary step itu, justru malah membahayakan keselamatan pilot2 Su-30MKI!

            Silahkan research sendiri di Internet, apakah problem yg sama dapat terjadi di F-15 atau F-18?

            Inilah bedanya antara buatan Barat vs Ruski — dan kenapa sebaiknya negara pembuat senjata itu juga demokratis (agar tidak ada yg ditutup2i).

            Kalau sampai kejadian yg sama terjadi di F-15 atau F-18, media akan cepat men-capnya sebagai skandal yg membahayakan nyawa pilot.

          • @GI

            “precautionary step” = “langkah pencegahan” kan?

            itu Hak IAF, belum tentu juga pas 700hrs Semua mesinnya meledak, Trus Ente Mau PUKUL RATA gitu ?
            kalau ada 1 yg Fail , lo anggap semua Jelek?
            Negara Lain Kok Nggak Begitu YA? IAF lebay Dunk !

            Kalau Lo pukul Rata, Judge Juga Mesin F135 juga dunk, padahal mesin masih dibawah 100 Hrs Lho, sudah Njebluk, trus logikanya loe juga harus Ngejudge semua mesin F135 Low Quality seharusnya, kenapa lo cuma menyudutkan mesin Sukhoi Doank?.. ketahuan Sales Kan?

            Trus Ente punya datanya Nggak Berapa mesin yg fail saat terbang dari 200 pesawat IAF itu ?
            Statistiknya kecil Kan ?
            dan Su MKI IAF nggak pernah Crash karena Mesin Fail kan?..
            Krn mesin fail/Shutdown juga terjadi di F18 canada (228 kali ). harusnya Loe Ngejudge Yg sama Dunk thd mesin F414 , di gripen juga( tinggal nunggu Crash doank).. !

            —————–
            F-15 atau F-18 . media akan cepat men-capnya sebagai skandal yg membahayakan nyawa pilot
            ——————
            Memang Sudah NIH !, baca lagi !
            http://o.canada.com/news/politics-and-the-nation/0919-jet-engines
            Fighter pilots shut down CF-18 engines more than 200 times since 1988… Between 1988 and March 31, 2012, there were 228 precautionary engine shutdowns..(F414 tuuh !)

          • http://www.tribuneindia.com/2014/20140721/main2.htm

            The IAF had told Russians after studying each failure in detail that Sukhoi’s engines – AL-31FP produced by NPO Saturn of Russia – had been functioning inconsistently for the past two years (2012 and 2013).

            The number of single-engine landings by planes in two years is high and not healthy. It lowers the operational ability of the fleet, besides raising questions about war readiness, said sources.

            A single-engine landing is necessitated after one of the power plants fails mid-air. The Sukhoi-30MKI is a twin-engine plane and a mid-air failure of one of its engines means the second engine allows it to land. Such a situation would be unacceptable during a conflict when the pilot would need an optimum speed to attack or to withdraw after an attack. The power of both engines is required to lift eight tonne of payload – missiles and rockets.

            The exact number of such engine burnouts and percentage of fleet that is not available for flying at any point of time are being held back from publication in the newspaper as it would adversely impact national security. Had the Sukhoi-30MKI been a single-engine plane, like the MiG 21, all engine burnouts would have led to crashes, in some case death of pilots and the resultant furore.

          • @GI
            The number of single-engine landings by planes in two years is high and not healthy
            ——————————————————

            pertanyaannya..! masih sama ! <====
            Ente punya datanya Nggak Berapa mesin yg fail saat terbang dari 200 pesawat IAF itu ? Statistiknya kecil Kan ?
            dan Su MKI IAF nggak pernah Crash karena Mesin Fail kan?..
            Gw juga tahu, dari 100 mesin pasti akan ada yg tiba2 shutdown, itu terjadi juga pada Kanada dan Korsel di psw F18 yg sering shutdown dan FA50 mereka yg Crash, Toh mereka nggak Mau pukul rata seperti itu.
            Dan nggak USah Panik seperti IAF.., Toh negara2 User lain Nggak panik seperti India saat mesin pesawat mereka ada yg Fail padahal pakai mesin yg sama.

            TRUS loe masih maksa mau pukul rata?, Grounded semua Aza pesawat2 yg pakai mesin F404,F414, F110, F135 karena Engine nya pernah Fail atau menyebabkan Crash(F110 dan F404), padahal blom 100 Hrs pakai (F135).

          • http://o.canada.com/news/politics-and-the-nation/0919-jet-engines

            Between 1988 and March 31, 2012, there were 228 precautionary engine shutdowns, the report reads, though it emphasizes that “a precautionary engine shut-down is not an engine failure.”

            “Since this is a precautionary measure, there is no way to know if the engine would actually have failed or not, had it continued to be used.”

            Jadi pertama:
            report ini tidak mengkonfirmasi kalau terjadi kerusakan atau tidak.

            Sama seperti kalau naik kendaraan, tiba2 lampu warning “check engine” warna kuning itu menyala. Saatnya pergi ke bengkel. Belum tentu ada yg rusak. Belum tentu mobil bisa tiba2 mogok di jalan.

            Kedua:
            Konteks dari report ini adalah untuk menjauhkan Canada dari pembelian F-35, dengan alasan single engine.

            Ketiga:
            Walaupun tujuan di atas benar (krn F-35 memang pswt terlalu mahal utk Canada, dan performancenya meragukan) — tapi report ini tidak berarti membenarkan twin-engine is safer than single engine.

            F135? Ini memang ada skandalnya sendiri.
            F-35 bukan contoh pesawat single engine yg baik. Tp buat apa membahas ini?

          • Jadi pertama:
            report ini tidak mengkonfirmasi kalau terjadi kerusakan atau tidak.
            =======================
            Jadi Sama Kasusnya Dengan CF18 Canada yg sering psw nya Engine shutdown, Cuma Canada Nggak Panik Spt IAF , dan CF18 nggak jadi bahan Propaganda Sales2 Gripen , Karena Mesinnya Sama , F414.. , takut Gripen Nggak laku !. Grrrr….

            =======================
            Kedua:
            Konteks dari report ini adalah untuk menjauhkan Canada dari pembelian F-35, dengan alasan single engine.
            =======================

            BODO amat deh, Yg Penting Gw mah , DATA dan FAKTA nya.. ! ,
            Fakta Mengatakan Dari data CF18 canada, Between 1988 and March 31, 2012, there were 228 precautionary engine shutdowns..(F414 ) , Artinya Pengalaman Mereka demikian.

            =================
            Ketiga:
            Walaupun tujuan di atas benar (krn F-35 memang pswt terlalu mahal utk Canada, dan performancenya meragukan) — tapi report ini tidak berarti membenarkan twin-engine is safer than single engine.
            ==================================

            Agh..TUKANG NGELEZZZzz… !

            ==============
            F135? Ini memang ada skandalnya sendiri.
            F-35 bukan contoh pesawat single engine yg baik. Tp buat apa membahas ini?
            ==============

            Hebat Sekali , masih Mencari ALIBI :D
            “GI” Tukang NGELEZZ …..Menggelikan ! :mrgreen:

    • Banyak komplain dari india tentang kesiapan tempur armada su 27 /30 nya .. Karena india tidak seprti china yg memproduksi scara mandiri .. Dan susahnya pelayanan service dari russia juga meruakan masalah bagi kesiapan armada tempur india yg kurang dari 60% .. Semoga 4 pesawat su kita bs terbang lagi dengan pengadaan 8 mesin sukhoi dari rusia ..

      • Itu buktinya Tot juga perlu dukungan dari kita sendiri,apa sdm nya mampu menyerap ditambah tentu saja dilengkapi tools yang modern.Sanggupkah kita invest sampai kesana ditambah lagi aturan yang mendukung.Jangan sampai buat sendiri malah lebih mahal dari pada beli jadi, karena dikenai pajak tinggi bila import bahan baku dan penunjangnya.Seperti industri perkapalan di Batam lebih menguntungkan dari pada di daerah lain karena penerapan pajak yang salah kaprah.

    • selama indonesia masih duitnya kenceng org luar pasti berbondong2 nawarin senjatanya, jgn kuatir santai aja.

    • embargo masalah HAM biasanya dimainkan oleh partai demokrat partainya clinton&obama,karena memang itu jualannya untuk konstituen mereka.partai republik cenderung cuek&siap berkerjasama selama indonesia selaras dengan kebijakan mereka.demokrat(obama)suka indonesia&republik melihat indonesia kampiun pemberantasan terorisme diASEAN.sebenarnya ini adalah saat baik buat indonesia morotin amerika macam bung karno pada kenedy.bung karno dulu senjatantnya allen pope sekarang bisa LCS.kecil kemungkinan embargo selama cina makin besar&belum tahluk.logikanya semakin besar armada PLA semakin besar pula postur TNI.

    • kalau takut embargo gak usah beli pesawat, itu kalimat yg paling realistis, kenapa?
      amrik, sudah terbukti meng embargo NKRI, sampai pada alergi kalu denger amrik,

      Jerman?
      Jerman menunda pengiriman senjata ke negara di timur tengah, pasti anda bertanya itukan bukan embargo, betul bukan embargo hanya menunda, tapi,,, senjata itu tidak bisa digunakan pada waktu yg dijadwalkan dan mungkin dbutuh kan, yo podho wae, jenenge “embargo halusss” hoho,,

      Inggris juga sudah pernah melarang alutsistanya untuk dipake perang NKRI,

      Prancis?
      Prancis yg katanya kuat pendiriannya, mandiri produksi alutsistanya, gak mempan sama tekanan amrik aj “klepek-klepek” , menunda pengiriman mistral ke Rusia,

      Brasil yg bukan ahlinya pesawat ikut2an molor tuh kirim super tucano,

      Negara yang masih bau amrik entah kawan dekat, sekutu, tetangga, cucunya, ato apapun itu masih bisa menerapkan embargo!

      yg belum pernah meng embargo adalah China, setuju?? trus anda setuju kita beli pesawat china?? hehehe

  24. saya tetap menyukai su-35,,dan saya tetap tidak percaya asu dan sekutunya ingin membantu indonesia untuk menjadi kuat,, semua alasan artikel diatas hanya ungkapan dari sekedar politik, jika su-35 gagal, berarti pemerintah dan TNI jelas2 telah kalah oleh politik busuk asu,,,saya setuju gripen atau typoon diakuisisi tapi su-35 juga,,,sudah dari dulu alutsista indonesia itu gado2,,kalau perlu tidak usah lagi beli alutsista dari blok barat, mengikuti jejak china, ini baru TNI punya harapan untuk menjadi kuat, seperti vietnam yg sudah dekat untuk menjadi macan asia tenggara,,,

    • Menjadi macan asia tidak hanya dilihat dari kekuatan militernya saja .. Banyak faktor yg mempengaruhi seperti pertumbuhan ekonomi dan sabilitas , kalo cuman membeli membeli baik itu dari blok barat atau timur itu tidak akan menjadikan indonesia menjadi macan asia , tapi mnjadikan indonesia sebagai negara importir alutsista terbesar di asia .. Macan gendut yg suka membeli senjata dari asia .. Pembelian senjata harus bs mmbangun kemandirian produksi militer nkri .. Kalo gripen dapat memberikan bantuan terhadap produksi alutsista secara mandiri ? Kenapa ga ? Begitu juga su 35

      • Betul sekali bung,, untuk menjadi negara yg kuat bukan hanya dilihat dari jenis alutsistanya, dan tidak hanya membeli dan membeli, saya sangat mendukung bahkan merindukan sekali kemandirian bangsa, makanya saya bilang perlu mengikuti jejak china yg telah sukses pertumbuhan inhan-nya,,,

        • Vietnam mendekati macan asia tenggara bagaimana bung?

          Kalau sesuai konsep anda dimana kemandirian bangsa merupakan tolak ukur kekuatan suatu negara seperti Cina, ya Vietnam masih dibawah Indonesia bung

          Vietnam itu tukang shopping, hampir sama seperti Singapore

          Dari Kilo sampai S-300 punya semua, tapi produksi APC, medium Tank, KCR, LPD sampai pesawat apa bisa?

  25. apapun pespurnya yang penting bisa buat mesinnya karena mesin merupakan jantung dari pespur itu sendiri

    • Wah kayanya butuh puluhan tahunbung kalo kita mau buat mesin pespur dan investasi miliaran dolar !
      itu akan sulit mengingat indonesia akan fokus membenahkan ekonominya dari pada berinvestasi miliaran dolar untuk sebuah mesin pespur.

      salam bung

  26. Saya setuju klw gripen ng dibeli tapi plus tot nya.su 35 wajib dibeli jg, wlpun sedikit buat penyeimbang pespur tetangga.semoga ekonomi indonesia semakin kuat kedepanya supaya punya duit buat beli kedua pespur tsb

  27. Setuju SU 35 BM 16 unit & JAS 39 Gripen NG Ind 32-48 unit full TOT design development versi IND (Indonesia)

  28. Garpu aja yg bukan alat tempur bisa untuk membunuh. Heli yg sejatinya alat tempur bisa jadi penyelamat…. Alat itu tergantung yg make.
    Kita butuh peralatan perang/tempur untuk perlindungan karena nggak semua orang ingin damai (atau iri dengan orang lain). Perasaan iri lakh yg membuat orang berlomba-lomba menciptakan teknologi baru. Termasuk alat perang atau alat pembunuh.

  29. Masih menunggu apakah Russia akan diam saja ! atau merayu bak Pria yang sedang gundah hatinya.
    ToT dan ToT. itu dia yang kita inginkan berbagi teknologi untuk kemajuan Industri pertahanan kita.

    salam bung

  30. Saya jujur pengagum su 35 tetapi dr ulasan bung stmj sangat masuk akal dan setuju sekali..pada akhirnya betapapun hebatnya pesawat jika segala pedukung perwatan n tetek bengeknya rumit mending cari yang mudah lebih ekonomis n pendukungnya sudah jelas..harapannya pelan2 kl ada duit kita perbanyak sukhoi family sekarang grippen lebih realistis

  31. bruce lee +fur 10 vs the rock/stalone/arnold dll, yg menang?..,royce gracie,knp?,uda jelas buktinya di ufc1,2,dan 4, skrg uda ketauan belangnya rusia, mmg bener kata pepatah duit gak kenal teman dan sodara.

  32. su 35 .lebih men janjikan

  33. Waduh malah tambah Galau nih…tapi klo saya merasa pesawat2 tempur yg di produksi setelah berakhirnya perang dingin dan perang Desert Storm berakhir, belum ada pesawat tempur yg benar2 yg battle proven sekelas F-22 pun belum yg benar2 mencatat Kill terhadap pesawat tempur lain, paling bertempur di latgab sekelas Red Flag bukan palagan pertempuran sesungguhnya, yg sering diberitakan malah kecelakan pesawat tempur

  34. duh sari kemarin bahas gripen dan su…

  35. Terserah Dech apa maunya….yg Penting Kalo dibelakang hari ada sesuatu yg mengganggu atau Propokasi Terhadap Ruang Udara NKRI yg Dilakukan Oleh Tetangga Sebelah yg Sebentar Lagi akan Punya Burung Siluman dan Jg Berkoar – koar apabila wilayah NKRI Diganggu…..Para Warjagers Jauh – jauh hari sudah Urun Rembug/pendapat agar Indonesia harus punya SU-35 untuk menghadapi Tetangga Sebelah yg Kadang Sering Demam dan Uring – uringan…..Biasanya Kalo Punya Mainan Baru ( F35) penginnya Pamer , mengejek …Ujung – ujungnya propokasi …

  36. ulasan yang cerdas, ngapain harus maksa ke SU , gripen lebih masuk akal untuk TOT, bungkus sekalian 2 skadron.

  37. ya btol sukhoi sudah bikin kepala sakit after sales rusia sgt trok malaysia pun sakit kepala dgn jet rusia

  38. Sukhoi di ghoibkan mantabbbb smart

  39. salam bung stmj … ane suka dg artikelnya …
    walau tetep ngarep SU35, ane jg dari duluuu ngarep kita bisa ambil Rafa utk dpt ToT nya buat modal tekno bikin IFX, bila bisa jalan dg Rafa maka engineer kita jg tdk terlalu sulit utk langsung bekerja sama dg engineer Perancis, sejak lama PT. DI sdh buat heli puma, super puma (aerospatiale) dan skrg buat cougar, sdh proven utk kerjasama.
    semoga pilihan TNI AU bisa jatuh ke Rafa … 1 ska + SU35 1 ska

  40. Pokoke SU35. Yang lain mah banyak, yang lebih superior mana ada….

  41. Sy rasa artikel ni cm bwt mnjwb artikel sblumx yg d dominasi gripen dn sukhoi,sy tdk setuju klo d ktkan sukhoi tdk mampu brkomunikasi dgn kohudnas,jd slama ni sukhoi intercept blackflight ap dgn sms?jgn remehin tni au dlm mengintegrasikan alutsista barat dn timur,yakhont aj bs d psng d kapal perang barat,sy pikir typhon ataupun rafale sdh tdk msuk hitungan tni untk dpertimbangkan,krn it panglima tni memprioritaskna sukhoi 35 jd pngganti F5,trus ad rumor yg blg 4 sukhoi qt d kandangkan krn rusak,logikanx sdrhana,klo sukhoi cpt rusak dn menyusahkan tni knpa su35 jd prioritas utama tni??knpa bukn gripen?knpa bukn rafale?it krna sukhoi adlh jawabn dr diakusisx F35 olh ausi dn singapur,gripen memang bagus,tp klo cm bli 12 biji mnding tdk usah.salam hangat.

    • Bisa jadi pakai sms karena utk
      intercept pesawat sipil saja
      tampaknya susah banget,
      entah bagaimana ceritamya
      kalau yang menyusup itu
      pesawat tempur.

      • Mungkin ada benernya bung, smsnya pending soalnya dikirim pake’ bhs inggris lalu diterjemahkan dulu ke bhs rusia, sampe’ sampe’ sukhoi ngebut ngejar tuh blackflight karena udah mau nyampe’ perbatasan

      • bung Loai bener tuh, gue aja yang baru bisa naik pespur nyegat F 35 ausie cuman 10 menit 9pakai mustang 1944), temen gue nyegat hornet ausie cuman 15 menit pakai mig 21 ex museum satria mandala. kapan2 kita cegat pesawat bareng2 yuk hehehehe

  42. Raptor jelas lebih unggul dari pada super flanker…. Eurocanard sudah teruji walaupun hanya ‘exercise proven’ dibanding super flanker….

  43. HIDUP EMBARGOOO !!!!

  44. mengapa harus gripen dan typhoon ? karna penulisnya keturunan barat , hahaha , kebanyakan sok nya daripada tau nya nih yg nulis , udah kaya yg ngambil kebijakan aja , engga semua yg anda analisis bisa jadi kenyataan bos ,

    • Ini bocah ngomongnya kayak kentut..! gw poore elo 100 plus baretta gw kalau elo bisa nulis sebagus tulisan diatas berikut bantahan dari tulisan diatas. jangan buat mata sepet dgn hujatan gak mendasar..! Dasar bocah geblek..! PM gw kalau tulisan elo diangkat admin.

  45. knapa TNI AU ga bikin latihan sendiri ala Redflag atau Pitch Black, kan pesawat barat (F16, Hawk, F5) dan rusia (Su-27 dan 30MK2) sudah ada. Jangan-jangan sudah pernah tapi ga dipublikasikan. Bahkan data-data hasil latihannya juga banyak diminta Staf AU Negara lain!

  46. tanpa su35 pun indonesia tdk akn kiamat bung, kalau mau sekalian yg gen 5 baru mantab.

  47. deadline sudah dekat. yg ga kebagian jatah mulai bingung. sudah susah payah promosi sampe bawa simulator tapi ga kepilih :mrgreen:

  48. Saya barharp..jinrafa. .Diakusisi

  49. kalo saya tetep su35 untuk efek deterjent – short term dan grippen untuk kemandirian (long term-sambil mbayangin data link klewang dan grippen yg sudah terkoneksi)

  50. Kuli tinta mana nih kuli tinta. jgn jgn sibukin KPK -Polri

  51. jadi kita tak akan beli su 35

    yah…jangan

  52. Bisa jadi pakai sms karena utk intercept pesawat sipil saja tampaknya susah banget, entah bagaimana ceritamya kalau yang menyusup itu pesawat tempur.

  53. terserah mau dr barat atau dr rusia krn selama belinya ngeteng ttp gak akan ada gunanya di perang beneran.paling jg buat ronda doang,lagian kalo perang diudara indonesia sanggup bertahan berapa lama sih?

  54. Rafale fighter yg anggun, dan prancis bukan negara yg mudah ditekan NATO
    tapi typhoon juga mantap, apalagi kalau ej2000nya bisa diaplikasikan di IFX, small but powerful!
    typhoon dibangun oleh konsorsium, bukan hanya inggris, dan kita punya hubungan yg baik dg Spanyol dan Germany
    yes for typhoon!

  55. saya tetap pilih “SU35”, logikanya sederhana “KETIKA AKAN TENGGALAM DI LAUT, KITA TIDAK BUTUH BUKU PELAJARAN BERENANG, TAPI BUTUH PELAMPUNG UNTUK MENYELAMATKAN DIRI” itu dulu, baru gripen atau lainnya terserah..

  56. Pada dasarnya.. pembelian alutsista itu harus terlepas dari ikatan politik dengan ancaman embargo…. Dan TOT pastinya…

  57. gosip penggantian f-5 ini kan udah dari thn 2013 ya..?
    jangan2 kasus nya sama dengan cakra/nenggal, cuma korban fitnahan z..
    f-5 lagi dan f-5 lagi….

    Kalo gue sih punya harapan bukan untuk mengganti skuad f-5, tapi kebutuhan untuk mendirikan skuadron baru, atas dasar siklus MEF itu sendiri 3 renstra (15 thn) juga pembentukan 3 kogabwilhan.

    sekalipun kondisi skuadron f-5 tidak optimal (skrg), tapi secara struktur perkuatan armada tempur dgn mendirikan skuadron2 baru sampe dikatakan ideal untuk 3 kogabwilhan lebih mendesak, baru pada renstra akhir 2019-2024 seluruh f-5 digantikan pespur yg lebih fresh.

    untuk 3 kogabwilhan, gue sendiri meng IDEAL kan 15 ska gabungan Heavy-medium dual engine.
    mengingat kewilayahan NKRI yg luas, jadi gue cenderung sepemikiran degan bung Antonov.
    Kalo pembentukan 15 ska ini terhitung memberatkan secara anggaran bagi siklus MEF 15 thn (3 renstra) maka opsi menggunakan 4 renstra bisa jadi harus dipertimbangkan, yg paling pokok dan penting adalah membentuk kekuatan air superiority yg ideal baik disaat damai maupun jadi modal awal pada kondisi perang.

    apakah 15 ska campuran Heavy – Medium jika dibangun dlm 20 thn (4 renstra) adalah rasional berdasarkan kemampuan anggaran..??

  58. Bagaimana dengan tawaran TOT dari Rusia, apa kagak ngiler ………… ???

  59. Sepertinya ada yg salah… apa ya?

  60. Maaf klo oot…
    Dasar dr diadakannya alusista mungkin diantaranya adalah potensi ancaman. Selama ini dr mana ancaman yg datang dgn jelas dirasakan, kalau pengancam mengunakan F35 apakah pespur yg dibeli dr AS & eropa mampu menghadapi. Mengenai alusista 3 angkatan yg sebagian besar dr blok barat, apakah sekarang telah dpt terintegrasi & terkoneksi, kalau blm mengapa hal tersebut bisa terjadi.
    Selanjutnya buat apa kita ikut proyek KFX/IFX yg beresiko gagal bila memang ada yg mau mengajari pembuatan pespur dgn membeli pespur mereka, apakah para pemikir kebijakan kerjasama tersebut tdk mengerti mana yg terbaik.

  61. Wis montor mabur opo ae lah sing penting iso mabur karo nembak…..
    salah sue mumet moco britane diwolAk walik digoreng digodog direbus dibakar dipepes… maklum wong awam

  62. whoa…selamat berkumpul kembali bung STMJ!!..ini agak keluar dari biasanya, bung STMJ menganalisa pespur daripada dinamika geopolitik.
    IMHO, sukhoi memiliki cerita panjang indonesia. Entah bagaimana perencanaan indonesia terhadap pesanan su 30 kithay indonesia (ki) itu, diantaranya single seater, non TVC, non canard, dll, sehingga meskipun pesanan itu tertunda varian ini dirupakan su 27 skm.cmiiw. Jadi , akuisis su 35 adalah keniscayaan entah itu keluar dari aspek geopolitik atau tidak. Bukannya menyederhanakan, tni-al merasakan betul kedekatan konsepsi dan reliable alutsista rusia.
    Dari deal awal, rentang rencana pengembangan sukhoi dan kemungkinan perubahan filosofinya kita sudah mendapatkan gambarannya.(bandingkan pengadaan operasi cobra a4 dari soviet yang sudah mengakuisisi rudal berpemandu laser..cmiiw).
    Jadi keadaan kini bagaikan pemerintah berusaha memiliki sedan dengan banyaknya bengkel variasi. Anggap saja semua pespur 4 itu akan berada pada masa akhirnya. Hanya karena pespur 5 – saja pada f 35 yang mengalami disfungsi di beberapa aspek maka pespur 4 bagaikan mendapatkan nafas baru. Bagi saya hanya Rafale saja yang layak kita pertimbangkan karena sedari awal filosofinya sudah demikian maju melampaui tuntutan jamannya, omnirole, vtol, aew. Dan jika kita mengikuti rentang pengembangan dan mempelajarinya pasti memberikan kemajuan industri dirgantara Kita.
    Terhadap typhoon, semata karena kedekatan pt.di dengan konsorsium EADS, maka pilihan logis ialah akusisi pespur ini.
    Mengenai gripen sendiri telah banyak dibahas artikel-artikel sebelumnya.
    Btw, pengadaan alutsista yang dilakukan untuk mencukupi kowilgabhan memang disikapi dengan cermat bung. Dari matra apa pun alutsista yang kita incar berasal dari surplus negara resesi kawasan eropa atau produk industri militer negara yang kesulitan menjual produk mahalnya.
    Pemerintah mesti berhati-hati ketika konsorsium tersebut menjual produk mereka, mereka juga merencanakan pembukaan lini produksi untuk mencukupi pasar asia yang sedang bergairah. Masalahnya pilihan ini juga berhadapan dengan penawaran surplus-surplus alutsista negara resesi seperti pada kasus pengadaan leopard kita. Dan pt.di mesti bersiap be as it may produk pespur aliansi kita gagal terserap pasar asia maka bayang-bayang kebangkrutan industri pt.di muncul kembali.
    Kampanye ifx sendiri disimpan saja dahulu karena sudah jelas mengincar kualifikasi pespur 5 -. Ketika pemerintah sudah menerka kemana kesepakatan yang tercapai maka realisasi ifx bisa dilaksanakan.
    Penting juga pemerintah untuk mencukupkan pendanaan, riset, pengembangan alutsista, maka perlulah dibentuk konsorsium bumn industri strategis hankam untuk mengamankan kepentingan tersebut.
    Salam tabik bung STMJ…cmiiw..

  63. Sukhoi masih rajin terbang koq, hampir tiap hari malah, cm terbang malam ga prnh lg

  64. idaman ane icbm nuke ,kapan nih ada?

  65. bung dacil ntar tungguin aja tahun 2150..

  66. Lama2 pusing baca beritanya. Ada yg mau gripen,thypoon,rafael,shukoi,f16 dll.
    Kalo sy sih berharap indonesia ga beli lg tp bikin sendiri made in indonesia 100% karna saya yakin indonesia pasti bisa. Asal jgn ada yg resee…

  67. Dan paling penting indonesia lebih butuh rudal canggih ketimbang pesawat. Percuma pesawat bagus kalo rudalnya ecek2 tetap saja ga berguna pesawatnya…

  68. ujung2nya, f16 yg d ambil, bekas atwpun baru.. d tambal sulam,( bekas jga)

  69. yg penting beli gitu pesawatnya…klo bsa jng f 16 deh..cri yg lain, biar gk bosen…f16 terus…hehe…maaf gan hbis makan permen

  70. Saya jd teringat dengan bung Erich Hartmann, sepertinya beliau yg lebih tau tentang masalah ini :mrgreen:

  71. Syapa bilang ke 4 sukhoi itu rusak?? sukhoi itu cuman lg ghoib aja kalee.. (heheheh.. ghoib lagii.. ghoib lagi)

  72. stuju kalo Su 35 & Grippen, gak stuju kalo cuma salah satunya aja!.

    kalo Grippen untuk bahan belajar biar mandiri, kalo sukhoi untuk jaga-jaga antisipasi Asu dkk kalo ngeyel. kalo sukhoi gak punya entar keder bin nyesel begitu barat yang terkenal muka dua mulai ngeselin dan akhirnya kita nyesel teriak2 “coba kalo kita punya Sukhoi family gak gini jadinya”.

    kedua-duanya bagus kita semua yakin, yang gak bagus kalo gak punya keduanya terus digebugin bangsa lain cuma bisa bilang Addaauuu …

    terima kasih, mohon maaf !!! hehehe

  73. Udahlah gaksah bingung pilih gepeng,teflon atau sukro semua itu demi epek sabun deterjen ngabisin anggaran aja gak bakalan perang mendingan banyakin pswt tukino made in pakde pele aja murah meriah cocok buat buru OPM

  74. Soal sukucadang, intinya adalah bagaimana RI dapat mengakses / mendapatkan sukucadang tersebut untuk kelangsungan hidup alutsista.

    Jadi, ketakutan embargo Barat dan info dari bung Jalo dkk mengenai mangkraknya beberapa pesawat buatan Timur, keduanya jelas dan sama posisi / akibatnya, ketiadaan sukucadang!

    Jadi harusnya dengan banyaknya informasi di sini, jelas bahwa RI harus tidak bisa percaya 100% baik kepada Barat maupun Timur.

    Dan di sini peran Transfer-of-Technology untuk mengobati sakit pening terhadap “embargo” baik dari Barat maupun Timur tersebut.

  75. Dan kata harus dalam judulnya … adalah yang menyebabkan Indonesia dijajah 3.5 abad more less..

  76. AU Thailand sudah mulai menerapkan Pola ini Brother…..heheheheh

  77. Article nya sangat bagus….walaupun menyedihkan Dan mengagetkan …ya sudah….Mau Bagaimana lagi….??

  78. Kok Ngga Ada Yang Posting SU47 Ya? Padahal ini Pesawat Juga bisa Di Pacuan Yang Pendek!!!

  79. Maaf ijin komentar
    Menurut ane Pak Presiden sudah memberi guideline untuk pembelian alutsista pada saat rapat di KKIP
    yaitu sbb :
    1. Pembelian alutsista lebih banyak ke industri dalam negri kalau harus import harus mampu memberikan TOT minimal 30 % (kalau gak salah). Lebih bagus kalau di bikin di Indonesia (ini pendapat pribadi).
    2. Harus dapat berkomunikasi ke 3 matra (ada link ke AD, AL dan AU)
    3. Perhatikan siklus produksinya mungkin artinya alutsista itu sudah lama diproduksi dan masih lama tahun produksinya bukan beli yang parbriknya sendiri mau tutup.
    Mungkin kira kira pembelian mengacu ke 3 guidence di atas tsb.
    Maaf mau tanya kalau kita beli Gripen NG sudah di tahap mana produksinya saat ini apa masih bentuk prototipe atau sudah test uji terbang (sampai saat ini saya belum pernah baca test flight gripen NG).
    Kapan Gripen NG sudah produksi massal dan berapa cepat delivery. Jadi selama belum delivery ada kevakuman dari tanda tangan kontrak butuh waktu lama.
    Saya pernah baca thypon mau kasih 1 skuadron bekas dan 1 skuadron baru kalau kita tanda tangan kontrak jadi kita punya pesawat untuk familizier dan latihan

  80. Ass. Wb : Selamat pagi Para Jakarta Greater , Salam kenal. Lumayan lama saya ikut nimbrung disini walaupun hanya melihat komentar temen2. Pingin informasikan mengenai SU 35.

    Paman saya beberapa minggu lalu sempat wawancara Panglima untuk media yang ia pimpin.

    Saya langsung menyeletuk : Om, suruh Panglima beli pesawat tempur Sukhoi SU35…hehehe.

    Paman saya bilang: Ini mau beli lagi, karena menurutnya ketahanan laut tidak kuat tanpa pertahanan udara. Tapi yo moga2 gak pensiun, kan agustus nanti, he he he.

    Saya : Mantap, Berapa skuadron om? australia sama singpur udah pesen F 35 Amrik, masa kita gandalin Sukhoi Su 27/30, walaupun bs ngimbangin peswat tsb. Kalau Su 35, sudah dibabat hbs tuh F 35. Soalnya lg gemes, dari dulupengadaan Su 35 pengganti F5 rencana doang sampe sekarang. Btw panglima jg ada rencana gambil kapal selam kelas kilo nggak om? Hehehe…..maaf, dwi demen liat situs alustita di websitu.

    Mudah2 Panglima nggak keburu pensiun dulu Agustus nanti.

  81. Pendapat admin memang bagus… tapi pilihan ke Rafale jelas2 salahhhh…

  82. Waduh, gripen ato tipooon mau di adu sama su35 di LCS, ato di adu sama f35 sonora dan sonotan. Yakin neh indonesia???? Apa gak bunuh diri neh indonesia????. Ane orang bodoh jg tau gripen ato tipoon itu bukan lawan sebanding. Ibarat klo tinju itu klas bulu mau lawan kelas kakap. Pesimis bgt gue.

  83. Kenapa harus beli SU 35. Ya jelas lah…masa untuk mengimbangi F35 tetangga mau pakai grifen ..apa mau.bunuh diri….emang grifen sangup mengintersep f35

  84. Kalau saya, bung STMJ dan bung Gripen-Indonesia, tetap dengan pemikiran saya:

    SU-35 dibutuhkan untuk heavy fighter, dan sebaiknya dapat dibeli. Penambahanan SU-35 tersebut akan melengkapi jajaran flanker yang ada sehingga dapat membentuk jaringan data link terpadu untuk kawasan timur Indonesia. Hal ini juga sebagai langkah antisipatif jika seandainya Barat mulai lagi menjatuhkan embargo, setidaknya Indonesia masih memiliki pesawat tempur yang dapat mengudara dan memiliki efek getar.

    Untuk medium fighter, diambil tawaran Gripen dengan TOT-nya atau sekalian aja Typhoon yang punya efek cetar membahana. TOT-nya yang paling berharga, dengan TOT tersebut kita harus belajar untuk menghasilkan pesawat tempur.

    Untuk F-5 yang akan digantikan, tetap dipelihara untuk dipakai latihan calon-calon pentempur baru RI, dan kalau perlu terus diupgrade untuk dapat dipakai dalam petempuran, dan satu pesawat dibongkar untuk dipelajari.

    hanya mimpi pemikiran saya saja, semuanya kembali kepada TNI kita hehehe

  85. Udahlah ngomong yg realistis aja.. ngapain jg ngomong sampe ber busa2 kalau yg diomongin barangnya msh blm ada utk skrg sampe 2018 mendatang, sprt SU35 atw Gripen NG. yg jelas dan realistis barangnya sdh ada itu ya, Rafale, Typhoon dan F16 blok25/60. noh itu barang yg sdh ada dan siap dikirim kalau duitnya ada.
    Utk rafale pesawatnya jls sngt bagus tp gak bagus dikantong RI yg cekak.
    Utk F16 blok 25/60 udh jelas semuanya buatan us yg sdh rawan embargo blm lg persenjataan dan radarnya versi downgrade dari tetangga sebelah.
    Yang jelas lbh realistis adalah TYPHOON barangnya banyak di garasi UK dan Jerman tinggal pilih. ambil dulu 1 ska yg punya Jerman yg trance2 upgrade dgn LWR disini biar setara punya UK dan sekaligus pembelajaran ke PT.DI dan jg utk pergantian F5EF dgn cepat. lalu di MEF3 akuisisi lg 1 ska typhoon lanjutan dari perjanjian pertama yg semuanya di produksi di PT.DI utk rencana pengantian hawk 109/209 yg jg memasuki masa pensiun.

    Jadi efek deterent didapat, penggatian F5 terpenuhi dgn cepat dan UU dgn persyaratan TOT jg dpt dijalankan. Semua polemik akhirnya dpt dipecahkan. drpd menunggu barangnya yg kagak jelas kapan dapat nomor antriannya sprt SU35 ataupun Gripen EF yg msh dlm bentuk demonstrator yg jg menunggu lama.
    Typhoon adlh pilihan yg paling realistis utk saat ini dan bbrp tahun kedepannya.

    Salam..

  86. EF Typhoon

    Ownership of EF Typhoon
    BAE UK 33%
    EADS Germany 33%
    EADS Spain 13%
    Alenia Italia 21%

    The world’s most advanced new generation multi-role/swing-role combat aircraft available on the market.
    Typhoon gives air forces the capability to effectively deliver a full spectrum of air operations – from air policing and peace support, through to high intensity conflict, thanks to its inherent flexibility and adaptability. The aircraft’s swing-role capability provides the widest possible range of air-to-air and air-to-surface mission profiles.

    Together with our partners we have developed an aircraft that boasts unrivalled combat capability, impressive situational awareness, high survivability and the most advanced array of integrated sensors. In short, Typhoon is a total solution for any modern air force.

    HOW IT PERFORMS

    Without question one of the Typhoon’s defining qualities is its versatility
    Powered by two Eurojet EJ200 engines providing an excellent combat thrust-to-weight ratio in excess of 1.2:1 with 30% thrust growth available.
    Typhoon’s robust design and Flight Control System enables the pilot to fly aggressively to outmanoeuvre enemy aircraft under all combat conditions.
    Brakes off to take off in less than 8 seconds and supersonic under 30 seconds.
    Brakes off to 36,000 feet Mach 1.6 in under 2½ minutes.

    DID YOU KNOW?
    A single load of Typhoon fuel can send a Ford Ka around the world 6 times
    Typhoon can pull up to 9g which creates loads equivalent to no less than 30 elephants pressing down on the wings
    Typhoon can fly from Lands End to John ‘O Groats (603 miles) in under 30 mins
    Alternatively we could go from London to Birmingham in under 6 mins
    From releasing its brakes a Typhoon can take off in under 8 seconds
    Typhoon can be supersonic in under 30 seconds

    http://www.baesystems.com/enhancedarticle/BAES_156125/typhoon?_adf.ctrl-state=sfx0i3227_4&_afrLoop=771693555067000&_afrWindowMode=0&_afrWindowId=null#!%40%40%3F_afrWindowId%3Dnull%26_afrLoop%3D771693555067000%26_afrWindowMode%3D0%26_adf.ctrl-state%3Diar92cq2n_4

    maaf hanya copas

    • Future upgrade

      Notable enhancements for 2016 and beyond include an active electronically scanned array (AESA) radar and the long-range Meteor missile.

      Further Eurofighter Typhoon planned upgrades include: laser warners; enhanced DASS (defence aids sub system); conformal fuel tanks; thrust vectoring for greater manoeuvrability; stand-off weapons, such as Storm Shadow and Taurus; advanced targeting pods; enhanced computing abilities; and passive missile warning systems.

      Taken together, these will keep Eurofighter Typhoon at the leading edge of swing-role combat aircraft technology.

      FEATURES
      of the aircraft
      Max speed
      MACH 2.0
      Thrust
      90 KN from each of the
      two Eurojet EJ200 engines
      Max altitude
      ABOVE 55,000 FT
      Length
      15.96 M
      Span
      10.95 M

      http://www.eurofighter.com/about-us

  87. untuk lebih jelas silakan download file berikut

    http://www.eurofighter.com/downloads/TecGuide.pdf

  88. he world has changed a bit. Operation Allied Force in 1999 presaged the air campaigns of the 2000s, when targets were soft but hard to find, and harder yet to pick out of the civilian environment. We can say little for certain about the nature of future conflict, except that it is likely to be led by, and revolve around, intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR). For the individual pilot, sailor or soldier, that translates into situational awareness.

    Demographics and economics are squeezing the size of the world’s militaries—nations with more than 100 combat aircraft are few and becoming fewer. There are no blank checks for overruns.

    Much of the technology of 1995, let alone 1985, has a Flintstones look from today’s perspective. (My 1985 computer boasted 310 kb. of storage and communicated at a screaming 300 bits per second.) Software is no longer what makes machines work; an iPhone is hardware that is valued because of the apps that it supports. This technology is characterized by development and deployment cycles measured in months. In aerospace, the lead in materials and manufacturing has gone to the commercial side.

    The conundrum facing fighter planners is that, however smart your engineering, these aircraft are expensive to design and build and have a cradle-to-grave product life that is far beyond either the political or technological horizon.

    The reason that the JAS 39E may earn a Gen 6 tag is that it has been designed with these issues in mind. Software comes first: The new hardware runs Mission System 21 software, the latest roughly biennial release in the series that started with the JAS 39A/B.

    Long life requires adaptability, both across missions and through-life. Like Ed Heinemann’s A-4 Skyhawk, the Gripen was designed as a small aircraft with a relatively large payload. And by porting most of the software to the new version, the idea is that all C/D weapons and capabilities, and then some, are ready to go on the E.

    The Swedes have invested in state-of-the-art sensors for ISR and situational awareness (AW&ST March 17, p. 28), including what may be the first in-service electronic warfare system using gallium-nitride technology. It’s significant that a lot of space is devoted to the identification friend-or-foe system. Good IFF is most important in a confused situation where civilian, friendly, neutral, questionable and hostile actors are sharing the same airspace.

    Sweden’s ability to develop its own state-of-the-art fighters has long depended on blending home-grown and imported technology. Harvesting technology rather than inventing it becomes more important as commercial technology takes a leading role and becomes more global. The JAS 39E engine is from the U.S., the radar from Britain, and the infrared search and track system is Italian. Much of the airframe may be built in Brazil.

    However, what should qualify the JAS 39E for a Gen 6 tag is what suits it most for a post-Cold War environment. It is not the world’s fastest, most agile or stealthiest fighter. That is not a bug, it is a feature. The requirements were deliberately constrained because the JAS 39E is intended to cost less to develop, build and operate than the JAS 39C, despite doing almost everything better. As one engineer says: “The Swedish air force could not afford to do this the traditional way”—and neither can many others.

    It’s an ambitious goal, and it is the first time that Sweden has undertaken such a project in the international spotlight. But if it is successful, it will teach lessons that nobody can afford not to learn.

  89. Eurofighter Typhoon

    Indonesia kini sedang dalam rencana penggantian armada pesawat tempur F-5 Tiger.

    Budi mengatakan, saat ini perusahaan konsorsium dari Eropa, Eurofighter, menjadi pihak yang tengah bernegosiasi terkait persyaratan tersebut, yaitu menyerahkan proses perakitan jet tempur Typhoon di Indonesia.

    “Nanti setiap bagian pesawat akan datang ke Indonesia. Seperti sayap dari Italia dan Spanyol, badan pesawat dari Jerman atau Inggris, akan dikirim dan dirakit di sini,” kata Budi.

    Pengecekan akhir dan tes terbang yang pertama kali pun akan dilakukan oleh Indonesia, katanya.

    Budi lebih lanjut mengatakan Eurofighter menawarkan desain dan fitur khusus pada pesawat itu sehingga varian Typhoon milik Indonesia akan berbeda dengan varian yang dimiliki negara lain.

    “Ada Conformal Fuel Tank (CFT) di sisi atas, dan ini desain baru yang belum pernah dibuat. Sekarang mereka juga meminta saya untuk menghitung desainnya kepada mereka,” katanya.

    CFT pada Typhoon menambah daya angkut persenjataan di bagian sayap, serta meningkatkan aerodinamisme pesawat ketika bermanuver di udara.

    Budi menuturkan banyak negara yang menawarkan penjualan berbagai jenis pesawat tempur ke Indonesia, namun enggan memenuhi syarat tersebut.

    “Alasannya karena itu kan rahasia negara. Tapi Typhoon ini kan konsorsium dari Jerman, Inggris, Italia, dan Spanyol, jadi sudah bukan rahasia negara lagi dong?,” kata Budi.

    • Nah ini yg bener, langsung dari bos PT DI yg memberikan pernyataan.
      Artinya, versi kita berbeda dengan Typhoon yg sudah ada. Artinya beli baru yg perakitannya hingga pengujian dilakukan di Indonesia, dan cuman perusahaan ini yg menawarkan pembelian minimalis dan ToT segambreeng. Terima kasih Pak Habibie, dan tim anak bangsa yg bekerja di Airbus Group.

      “Typhoon milik Indonesia akan berbeda dengan varian yang dimiliki negara lain.”

      “Pengecekan akhir dan tes terbang yang pertama kali pun akan dilakukan oleh Indonesia”

      “ini desain baru yang belum pernah dibuat. Sekarang mereka juga meminta saya untuk menghitung desainnya kepada mereka” (kita ikut terlibat dalam pendesainan versi terbaru)….

      Kurang apa lagi, ToT-nya sudah jelas…

      • Bisa jadi pilihan yg lebih meyakinkan dan masuk akal dibanding Gripen NG.
        barang sudah ada bentuk, konsumen sudah banyak yang pake.
        jaringan dengan PTDI sudah jelas dan lama sejak C-212, CN-235 dan NC-295.
        dan tambah lagi Eurocopter Panther dan Fennec.
        Makin kuat dan meyakinkan. apalagi ada rencana buat skuadron AEW ( bisa diisi kelas NC-295 versi AEW)
        Radar GCI juga hampir semua produk negara NATO ( Thales Master-T, Thomson TRS,)
        dari era pak SBY sudah nego-nego ini barang dg PM David Cameron, PM Angela Merkel. tinggal teken kontrak. jadi apa ndak ama pemerintah sekarang.

  90. Yg penting ada anggarannya lah, percuma sales nawarin ampe berbusa kl anggaran ga mencukupi, ane cukup realistis anggaran kita ga sebesar India n tiongkok tapi khusus buat malon, singaporn, aushit wajib kita punya S400 atau seri 500 kalo ada. Pespur sekelas F35 pun akan kagok kalo di lock rudal tsb dan dijamin black flight akan berkurang drastis kalau tiap pulau besar di nusantara dilindungi rudal ini. Kl buat pespur cukup lah 35 SI 6 unit buat jaga kandang sebagai herder. Gripen buat TOT Radarnya, Typhoon buat TOT mesin dan avionicnya. Jin rafa cukup 6 unit aja yg udah deal tahun lalu buat si Ep 22 nya ASU. Jangan anggap remeh bangsa iniyg akan terus menjadi besar. Selama ada duit apapun bisa kita lakukan termasuk menjadi negosiator ulung dlm pengadaan TOT tuk aluytsista. sekian.

  91. Tolong temen2 nulisnya pake bahasa indonesia aje, pusing bacanya
    buat bung STMJ : anda terlihat cerdas, lugas & sigep mencari bahan trit… luaar biasa!

  92. Bagi yg tertarik dengan analisis tambahan tentang Gripen NG, silakan rujuk ke artikel “Gripen for Canada” di bawah ini:

    http://gripen4canada.blogspot.com/p/the-saab-gripen-ng-capable-and.html?m=1

  93. artikel yg menggelikan tetap focus ke SU 35.

  94. wuihhh..topikkny bnyak yg koment yoooo mantap

    knapa indonesia takut diembargo sama USA / NATO ya….seharusnya klo pamarentahny berani….klo mereka ngancam embargo..kita ancam balek….Nasionalisasikan saja Freeport, Chevron, Exxon Mobil, Newmont….blum yg kayak Danone Aqua, kan banyak perusahaan USA yg merumput di Indonesia

    Gitu aja koq repot…..
    Pikiiiirrr….

  95. Sebelumnya saya minta maaf karena saya bukan ahli militer,saya cuma suka saja hal2 yg berbau militer termasuk alutsistanya. saya termasuk penggemar jakarta greaters. Mengenai pengganti F5 tiger TNI AU disini terlihat sptnya terjadi persaingan sengit antara pro dan kontra dari fans dari SAAB39 GRIPEN NG VS SUKHOI 35 S/BM,dimana kedua belah kubu masing2 memberikan analisis argumentasi yg bagus. Semuanya memberikan nilai PLUS DAN MINUS dari masing2 produk. Menurut saya pribadi lebih baik ambil dua2nya saja. Gripen mungkin bisa diajak kerjasama dalam hal alih teknologi (saya kira mungkin juga dari pihak SUKHOI pun bisa memberikan TOTnya). Dengan teknologi gabungan atau gado gado alutsista ini,resiko jika terjadi embargo tidak terlalu fatal kelak dikemudian hari bagi TNI. misal alutsista barat sdg embargo TNI maka tinggal alutsista non barat PLUS alutsista buatan dalam negeri yg tetap bisa digunakan untuk menjaga kedaulatan NKRI begitu juga sebaliknya,tinggal bagaimana caranya kita bisa membuat SUATU ALAT ATAU SUATU METODE ATAU SUATU SISTEM yg bisa menggabungkan kedua teknologi tersebut. Saya percaya bahwa TNI atau ILMUWAN anak negeri bisa membuat atau melakukannya. Contohnya spt Rudal YAKHONT buatan RUSIA bisa ditempatkan dan sdh ujicobakan pada kapal fregate VAN SPEIJ buatan BARAT. Kenapa bagi TNI AU juga gak bisa melakukan hal yang sama spt TNI AL,bukankah dulu pesawat TNI AU buatan barat bisa pakai bom2 sisa ex masa orde lama yg notabene buatan SOVYET atau RUSIA sekarang. Ini adalah suatu contoh kecil saja bagi TNI bahwasannya TNI mampu menggabungkan cita rasa barat dan timur,bukankah bukan indonesia saja yg pakai alutsista gado2 negara2 lain kan banyak yg pakai alutsista gado2 spt kita,betul gak?! sekali lagi ini hanya sebagai masukan saya sebagai orang awam yang kurang ahli dalam hal alutsista militer. Menurut saya,SUKHOI 35 tetap perlu sebagai kekuatan pemukul garis depan TNI dan sebagai penyeimbang kekuatan militer tetangga serta untuk kesiapan jika terjadi hal terburuk masalah konflik LCS atau klaim dari negara lain yg bisa menggangu kedaulatan NKRI. Bagaimanapum juga TNI perlu alutsista yang setara serta mempunyai efek deterence yang tinggi dg kualitas bukan SETENGAH/SEDIKIT DIBAWAH negara2 sekutu dari kedua belah pihak. Bukankah Indonesia bukan sekutu dari blok2 manapun kan?! Sdg untuk SAAB 39 GRIPEN NG bisa juga dibeli bagi kepentingan TNI AU berikut TOT nya yg mana bisa dipakai untuk membuat sendiri kelak jet tempur buatan dalam negeri (barangkali juga bisa digabungkan teknologinya dari rusia),apabila kelak jet tempur KFX/IFX gagal dibuat atau jet tempur KFX/IFX berhasil dibuat di dalam negeri dengan kecanggihan yg setara atau bahkan melebihi dari yang digunakan oleh ROKAF korsel (sekutu NATO). Gripen bisa dipakai TNI AU sbg jet tempur kelas menengah spt F16 blok 15/52 yg sdh kita miliki dg tingkat efisiensi operasional yg lebih murah ketimbang sukhoi baik utk patroli atau penyergapan. Sekali lagi ini hanya adalah analisis saya pribadi yang sedikit awam tentang militer,tp mungkin bisa bermanfaat bagi TNI ku. Thanks atas perhatiannya dan maaf kalo gaya bahasa penulisan saya kurang bagus…

  96. Apakah ngawurnya sengaja dimaksimalkan untuk memancing komentar ? Bruce lee vs tyson ? Are you nut ?? Bruce Lee mukul tyson yang ada tyson merasa digaruk-garuk. Subgguh terlalu konyol untuk dibaca …

  97. Tidak tepat, tidak ada yang mengatakan Gripen akan ditabrakan ke Su-35. Seandainya Bruce Lee membawa senapan mesin dan Tyson membawa pisau dapur, siapakah yang menurut anda akan menang? Ingat case kapal perusak Israel yang tenggelam karena dirudal patrol boat Mesir yang berukuran jauh lebih kecil?

  98. Satu pertanyaan saya bung…”Apakah ketika terjadi insiden diatas langit BAWEAN kita sdh punya SUKHOI?” seinget saya kita belom punya SUKHOI, jika pernyataan saya salah mohon maaf. kalo saya salah mohon dikoreksi kalo benar artikel diatas mohon dikoreksi.tp menurut pendapat saya pribadi dan pengalaman EMBARGO dari Inggris dan Amerika yang pernah menimpa kita dan membuat tak berdaya, maka secara akal sehat kita tetap membutuhkan keseimbangan alutsita barat dan timur sekaligus untuk memperlihatkan bahwa kita negara netral yang tdk pro barat dan pro timiur. kalo alutsita dari blok timur semakin banyak juga bisa di integrasikan seperti halnya alutsita barat. alutsita barat banyak orang mengatakan sdh terbiasa, dulu era presiden Sukarno juga kita terbiasa dgn alutsita blok timur, jd itu bukan alasan yg dapat dijadikan justifikasi untuk cenderung ke salah satu produk. justru keseimbangan alutsita darri barat dan timur jika kita punyai dan kuasai akan meningkatkan bargaining power juga secara tdk langsung, kita nggak takut embargo dari salah satu blok. tentu setelah kita punya itu semua, selanjutnya ahli ahli kita bisa mempelajari dan memadukan kelebihan2 produk barat dan timur tersebut pada produk alutsita yg nantinya akan kita buat dan kembangkan kedepannya.

 Leave a Reply