Jan 302015
 
Gripen

Gripen

Kemungkinan besar Gripen yang dibeli Indonesia, dimana Typhoon ada kemungkinan menyalip ditikungan akhir. Lupakan Su-35 ataupun Su – Su lainnya, tidak akan ada pembelian ataupun penambahan dari varian tersebut. Petunjuknya sederhana, dari daftar belanja renstra 2015-2020 TNI AU yang telah dipublish Indonesia berencana melakukan pembelian 2 pesawat AWACS. Dimana model yang diminati salah satunya adalah SAAB Erieye yang diintegrasikan dengan pesawat C295. Dari sini sudah mulai terlihat kemana arah pembelian pesawat pengganti F-5, dan yang pasti bukan dari Rusia.

Sukhoi dan kawan-kawannya tidak dapat diintegrasikan dengan jaringan radar kohanudnas yang notabene sebagian besar buatan barat dan sudah pasti tidak akan bisa diintegrasikan dengan AWACS barat. Komunikasi diantara keduanya hanya sebatas radio, menghadapi tantangan pertempuran udara masa depan hanya bermodal radio itu sama saja dengan bunuh diri. Tanpa sistem yang terintegrasi darat-laut-udara akan menjadikan setiap penempur seperti “lone wolf” yang bertempur sendiri-sendiri, hanya tinggal menunggu detik jatuhnya saja. Lain halnya dengan pesawat yang memiliki sistem terintegrasi, walaupun terbang sendirian tapi seperti keroyokan, because he’s not fly alone.

Kemenangan besar Vietnam di udara melawan Amerika salah satunya karena taktik gerilya udara yang mereka terapkan. Mig-21 dan Mig-17 Vietnam seolah – olah dapat hadir dimana saja dan menyergap kapan saja, sehingga walaupun secara teknologi keduanya kalah namun mereka tetap dapat menguasai udara (hanya bermodal pelor tanpa rudal!). Dengan kemampuan Gripen yang mampu lepas landas pada jarak yang sangat pendek dikombinasikan dengan ribuan pulau-pulau Indonesia yang dapat berfungsi sebagai kapal induk dan pangkalan aju + sistem yang terintegrasi di ketiga matra. Akan menghasilkan kesiapan dan kemampuan tempur strategis yang sangat luar biasa. Mau itu Su-35, Pakfa atau F-22 dan adik tirinya F-35 sekalipun, monggo silahkan datang, kohanudnas SIAP menyambut!

Kehadiran Sukhoi di Indonesia pada esensinya adalah sebentuk respon (baca:ngambek) Indonesia atas embargo AS dan ulah mereka yang sering melanggar kedaulatan RI. Indonesia secara mendesak membutuhkan pelindung udara yang dapat dijadikan pemukul “sesaat”, perumpamaannya seperti “anda boleh menyerang tapi anda tidak akan keluar tanpa berdarah-darah”. Sukhoi dipilih karena Rusia secara nyata merupakan kontra barat. Langkah pembelian ini kemudian menjadi sinyal yang jelas bagi AS, “Jika anda terus mengusik kami, kami akan pindah haluan!” Keputusan Indonesia untuk membeli Sukhoi inilah yang kemudian memicu insiden pulau Bawean. Dengan dalih kesasar, AS mengirim kapal induknya masuk kedalam wilayah Indonesia untuk menguji dan mengejek pertahanan laut dan udara Indonesia. Sebentuk simbol gertakan dan pesan yang dengan jelas mengatakan “kami mampu melakukan apa yang ingin kami lakukan, walaupun anda berkawan dengan Rusia”. Pada intinya, kehadiran Sukhoi di Indonesia adalah karena kepepet dan bukan bagian dari perencanaan pertahanan strategis nasional.

Kebangkitan China dan ambisi mereka di LCS disatu sisi membawa keberuntungan bagi Indonesia. Secara politik tekanan barat serta merta menjadi sangat melunak terhadap Indonesia, berbagai program kerjasama dan penawaran strategis tiba-tiba saja mengalir deras dari Amerika dan Eropa. Amerika dan Inggris yang sebelumnya selalu menyenggol isu Papua tiba-tiba saja menyatakan dukungannya atas kesatuan Papua dengan NKRI. Hasilnya berbagai bentuk gerakan Papua merdeka di Amerika, Eropa dan Australia perlahan lahan meredup dan menghilang gaungnya. Semua itu karena mereka membutuhkan “peran” Indonesia terkait konflik LCS, hal ini semakin terbukti dengan kian bersemangatnya AS dalam mendukung program maritim Jokowi sebab secara tidak langsung program ini membantu kepentingan AS di ASEAN. Secara tersirat Indonesia menegaskan klaimnya atas wilayah dan garis perbatasannya termasuk segala nilai ekonomi yang terkandung didalamnya. Sikap Indonesia ini secara tidak langsung seperti mendirikan pagar pembatas di tepi LCS, yang mana dengan sedikit akal-akalan AS dapat memanfaatkan Indonesia seolah menjadi sekutu/kepanjangan tangan kepentingan AS. Dalam bahasa halusnya barat membutuhkan Indonesia sebagai “stabilisator kawasan” namun aslinya mereka hanya membutuhkan jongos untuk melindungi kepentingannya.

Namun semua itu tidak akan berguna jika Indonesia tidak kuat, oleh karenanya AS dan sekutunya perlu membantu Indonesia untuk menjadi kuat (kebalikan dari tahun 97-98). Hibah F16 juga merupakan bagian dari bantuan khusus itu, pada intinya tidak ada yang namanya makan siang gratis di dunia politik, semua ada imbalannya. Dan karena alasan politik internal dan masih belum yakinnya AS terhadap Indonesia menyebabkan AS tidak dapat membuka lebar-lebar kran FMS-nya. Namun mereka masih memiliki kepanjangan tangan dimana mana, salah satunya SAAB Swedia melalui JAS-39 Gripen-nya. Ingat, kandungan komponen buatan AS ada banyak di Gripen bahkan salah satu komponen vitalnya yaitu mesin adalah buatan AS. Karena Indonesia gigih mempertahankan sikap netralnya, dengan mendorong dari belakang pembelian Gripen, AS secara tidak langsung juga membantu menjaga “image sikap netral Indonesia” sembari melancarkan tujuannya sendiri. Dan bila Indonesia jadi mengoperasikan Gripen bersama Thailand dan Malaysia, maka akan tercipta rantai pertahanan udara yang kuat di selatan LCS dan inilah yang menjadi tujuan paling utamanya.

Bagaimana dengan Sukhoi? Jika Indonesia memutuskan untuk menambah dan mengembangkan armada Sukhoi-nya maka Indonesia harus merubah dan menyesuaikan sebagian besar sistem pertahanan udaranya agar Sukhoi tersebut mampu beroperasi secara efektif dan optimal. Namun itu membutuhkan biaya investasi yang sangat besar, sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi dan dilakukan Indonesia pada masa sekarang ini. Adalah sangat tidak mungkin bagi Indonesia untuk memulai membangun kembali dari awal (walaupun itu hanya sebagian) pada saat dan situasi saat ini! Bila melihat perjalanan Sukhoi di Indonesia dari awal hingga kini, nampaknya pada akhirnya Sukhoi hanya akan dipelihara agar tetap hidup sekedar agar tidak mati biar pemerintah dan TNI tidak dituduh menghambur hamburkan uang rakyat, sekedar menjadi mainan mahal para jenderal pada saat parade udara, sekedar biar tampak efek busa deterjennya ditelivisi, sekedar dan sekedar,..

Adakah diantara kita yang bertanya, kemanah keempat Sukhoi yang lama menghilang itu? Info dari bung Jalo mengatakan mereka saat ini menjadi pasien sekarat di hanggarnya, statusnya yang tidak kunjung terbang dan tidak pula segera diperbaiki menjadi bukti nyata ketidakmampuan Indonesia mengoperasikan/menjaga kesiapan operasi Su-family. Atau ini juga menjadi menjadi bukti betapa ruwetnya after service Rusia, tidak heran jika kemudian dubes dan menhan Rusia buru-buru menawarkan layanan after service yang ditempatkan di Indonesia. Namun jika sparepart-nya masih diproduksi di Rusia, maka tawaran itu sama saja bohong, hanya isapan jempol belaka toh selama ini kita juga sudah mendatangkan mekanik dari Rusia langsung lalu apa bedanya?!

Suatu sistem pertahanan dikatakan kuat jika sistem tersebut mampu memenuhi poin strategis yang ditetapkan, bukan sekedar untuk memenuhi gengsi, efek busa melimpah deterjen, fanatik buta atau ambisi sesaat. Suatu perencanaan sistem pertahanan harus mempertimbangkan aspek dimasa depan, bukan sekedar apa yang terjadi pada saat ini saja. Bila melihat pada kemampuan, kekurangan dan kelemahan, kelebihan yang dapat di ekspos serta tujuan dan kebutuhan Indonesia. Bila kita melihat secara realistis tanpa berhalusinasi, maka jawabannya sudah pasti bukan Sukhoi (tapi Rafale, hehe). Badan Sukhoi yang besar dan gripen yang kecil bukanlah tolak ukur kemampuan mereka yang sesungguhnya, tampang bukanlah acuan. Sekedar perumpamaan, jika Bruce Lee bertanding dengan The Rock/ Stalone/ Arnold/ Tyson dll yang berbadan besar dan bermuka sangar,,,saya masih memegang Bruce Lee + fur 10.

Apa yang terpenting saat ini adalah bagaimana mensukseskan tujuan kemandirian pertahanan nasional sembari membuat sistem pertahanan yang kuat secara jangka panjang. Jangka panjang disini berarti berkesinambungan yang salah satunya juga berarti dapat dan mampu mengoperasikan alutsista yang dibeli secara konstan dan efektif hingga ke masa depan. Hal ini menuntut lebih dari sekedar efek deterjen sabun colek tapi juga unsur operasionalitas yang meliputi reliabilitas, efektifitas, efisiensi, kompatibilitas, readiness dan availability. Dengan menggandeng Rafale, Gripen dan Typhoon dapat memberikan semua/sebagian dari aspek tersebut. Dan diantara ketiganya Gripen-lah yang paling memenuhi kriteria ideal yang sesuai bagi kebutuhan “rasional” Indonesia. Seperti menyelam sambil minum air dan sekali dayung 3 pulau terlampaui, kebutuhan pertahanan udara efektif jangka panjang terpenuhi dan tujuan kemandirian pertahanan nasional pun ikut sampai melalui ToT yang menyertainya. Lagi pula saat ini secara politik dalam kerjasama industri pertahanan, setelah Korea Selatan Indonesia kini juga mulai dekat dengan Swedia. Di darat dan laut aroma Swedia sudah mulai kental terasa, apakah di udara akan ikut menyusul? Who knows, kita lihat saja nanti.

Btw, saya penggemar Rafale.

(by: STMJ)

Salam

  207 Responses to “Mengapa Harus Gripen atau Typhoon …”

  1.  

    Pendapat admin memang bagus… tapi pilihan ke Rafale jelas2 salahhhh…

  2.  

    Kalau saya, bung STMJ dan bung Gripen-Indonesia, tetap dengan pemikiran saya:

    SU-35 dibutuhkan untuk heavy fighter, dan sebaiknya dapat dibeli. Penambahanan SU-35 tersebut akan melengkapi jajaran flanker yang ada sehingga dapat membentuk jaringan data link terpadu untuk kawasan timur Indonesia. Hal ini juga sebagai langkah antisipatif jika seandainya Barat mulai lagi menjatuhkan embargo, setidaknya Indonesia masih memiliki pesawat tempur yang dapat mengudara dan memiliki efek getar.

    Untuk medium fighter, diambil tawaran Gripen dengan TOT-nya atau sekalian aja Typhoon yang punya efek cetar membahana. TOT-nya yang paling berharga, dengan TOT tersebut kita harus belajar untuk menghasilkan pesawat tempur.

    Untuk F-5 yang akan digantikan, tetap dipelihara untuk dipakai latihan calon-calon pentempur baru RI, dan kalau perlu terus diupgrade untuk dapat dipakai dalam petempuran, dan satu pesawat dibongkar untuk dipelajari.

    hanya mimpi pemikiran saya saja, semuanya kembali kepada TNI kita hehehe

  3.  

    Udahlah ngomong yg realistis aja.. ngapain jg ngomong sampe ber busa2 kalau yg diomongin barangnya msh blm ada utk skrg sampe 2018 mendatang, sprt SU35 atw Gripen NG. yg jelas dan realistis barangnya sdh ada itu ya, Rafale, Typhoon dan F16 blok25/60. noh itu barang yg sdh ada dan siap dikirim kalau duitnya ada.
    Utk rafale pesawatnya jls sngt bagus tp gak bagus dikantong RI yg cekak.
    Utk F16 blok 25/60 udh jelas semuanya buatan us yg sdh rawan embargo blm lg persenjataan dan radarnya versi downgrade dari tetangga sebelah.
    Yang jelas lbh realistis adalah TYPHOON barangnya banyak di garasi UK dan Jerman tinggal pilih. ambil dulu 1 ska yg punya Jerman yg trance2 upgrade dgn LWR disini biar setara punya UK dan sekaligus pembelajaran ke PT.DI dan jg utk pergantian F5EF dgn cepat. lalu di MEF3 akuisisi lg 1 ska typhoon lanjutan dari perjanjian pertama yg semuanya di produksi di PT.DI utk rencana pengantian hawk 109/209 yg jg memasuki masa pensiun.

    Jadi efek deterent didapat, penggatian F5 terpenuhi dgn cepat dan UU dgn persyaratan TOT jg dpt dijalankan. Semua polemik akhirnya dpt dipecahkan. drpd menunggu barangnya yg kagak jelas kapan dapat nomor antriannya sprt SU35 ataupun Gripen EF yg msh dlm bentuk demonstrator yg jg menunggu lama.
    Typhoon adlh pilihan yg paling realistis utk saat ini dan bbrp tahun kedepannya.

    Salam..

  4.  

    EF Typhoon

    Ownership of EF Typhoon
    BAE UK 33%
    EADS Germany 33%
    EADS Spain 13%
    Alenia Italia 21%

    The world’s most advanced new generation multi-role/swing-role combat aircraft available on the market.
    Typhoon gives air forces the capability to effectively deliver a full spectrum of air operations – from air policing and peace support, through to high intensity conflict, thanks to its inherent flexibility and adaptability. The aircraft’s swing-role capability provides the widest possible range of air-to-air and air-to-surface mission profiles.

    Together with our partners we have developed an aircraft that boasts unrivalled combat capability, impressive situational awareness, high survivability and the most advanced array of integrated sensors. In short, Typhoon is a total solution for any modern air force.

    HOW IT PERFORMS

    Without question one of the Typhoon’s defining qualities is its versatility
    Powered by two Eurojet EJ200 engines providing an excellent combat thrust-to-weight ratio in excess of 1.2:1 with 30% thrust growth available.
    Typhoon’s robust design and Flight Control System enables the pilot to fly aggressively to outmanoeuvre enemy aircraft under all combat conditions.
    Brakes off to take off in less than 8 seconds and supersonic under 30 seconds.
    Brakes off to 36,000 feet Mach 1.6 in under 2½ minutes.

    DID YOU KNOW?
    A single load of Typhoon fuel can send a Ford Ka around the world 6 times
    Typhoon can pull up to 9g which creates loads equivalent to no less than 30 elephants pressing down on the wings
    Typhoon can fly from Lands End to John ‘O Groats (603 miles) in under 30 mins
    Alternatively we could go from London to Birmingham in under 6 mins
    From releasing its brakes a Typhoon can take off in under 8 seconds
    Typhoon can be supersonic in under 30 seconds

    http://www.baesystems.com/enhancedarticle/BAES_156125/typhoon?_adf.ctrl-state=sfx0i3227_4&_afrLoop=771693555067000&_afrWindowMode=0&_afrWindowId=null#!%40%40%3F_afrWindowId%3Dnull%26_afrLoop%3D771693555067000%26_afrWindowMode%3D0%26_adf.ctrl-state%3Diar92cq2n_4

    maaf hanya copas

  5.  

    untuk lebih jelas silakan download file berikut

    http://www.eurofighter.com/downloads/TecGuide.pdf

  6.  

    Memangnya ada ya tinju kelas kakap? 😀

  7.  

    he world has changed a bit. Operation Allied Force in 1999 presaged the air campaigns of the 2000s, when targets were soft but hard to find, and harder yet to pick out of the civilian environment. We can say little for certain about the nature of future conflict, except that it is likely to be led by, and revolve around, intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR). For the individual pilot, sailor or soldier, that translates into situational awareness.

    Demographics and economics are squeezing the size of the world’s militaries—nations with more than 100 combat aircraft are few and becoming fewer. There are no blank checks for overruns.

    Much of the technology of 1995, let alone 1985, has a Flintstones look from today’s perspective. (My 1985 computer boasted 310 kb. of storage and communicated at a screaming 300 bits per second.) Software is no longer what makes machines work; an iPhone is hardware that is valued because of the apps that it supports. This technology is characterized by development and deployment cycles measured in months. In aerospace, the lead in materials and manufacturing has gone to the commercial side.

    The conundrum facing fighter planners is that, however smart your engineering, these aircraft are expensive to design and build and have a cradle-to-grave product life that is far beyond either the political or technological horizon.

    The reason that the JAS 39E may earn a Gen 6 tag is that it has been designed with these issues in mind. Software comes first: The new hardware runs Mission System 21 software, the latest roughly biennial release in the series that started with the JAS 39A/B.

    Long life requires adaptability, both across missions and through-life. Like Ed Heinemann’s A-4 Skyhawk, the Gripen was designed as a small aircraft with a relatively large payload. And by porting most of the software to the new version, the idea is that all C/D weapons and capabilities, and then some, are ready to go on the E.

    The Swedes have invested in state-of-the-art sensors for ISR and situational awareness (AW&ST March 17, p. 28), including what may be the first in-service electronic warfare system using gallium-nitride technology. It’s significant that a lot of space is devoted to the identification friend-or-foe system. Good IFF is most important in a confused situation where civilian, friendly, neutral, questionable and hostile actors are sharing the same airspace.

    Sweden’s ability to develop its own state-of-the-art fighters has long depended on blending home-grown and imported technology. Harvesting technology rather than inventing it becomes more important as commercial technology takes a leading role and becomes more global. The JAS 39E engine is from the U.S., the radar from Britain, and the infrared search and track system is Italian. Much of the airframe may be built in Brazil.

    However, what should qualify the JAS 39E for a Gen 6 tag is what suits it most for a post-Cold War environment. It is not the world’s fastest, most agile or stealthiest fighter. That is not a bug, it is a feature. The requirements were deliberately constrained because the JAS 39E is intended to cost less to develop, build and operate than the JAS 39C, despite doing almost everything better. As one engineer says: “The Swedish air force could not afford to do this the traditional way”—and neither can many others.

    It’s an ambitious goal, and it is the first time that Sweden has undertaken such a project in the international spotlight. But if it is successful, it will teach lessons that nobody can afford not to learn.

  8.  

    Eurofighter Typhoon

    Indonesia kini sedang dalam rencana penggantian armada pesawat tempur F-5 Tiger.

    Budi mengatakan, saat ini perusahaan konsorsium dari Eropa, Eurofighter, menjadi pihak yang tengah bernegosiasi terkait persyaratan tersebut, yaitu menyerahkan proses perakitan jet tempur Typhoon di Indonesia.

    “Nanti setiap bagian pesawat akan datang ke Indonesia. Seperti sayap dari Italia dan Spanyol, badan pesawat dari Jerman atau Inggris, akan dikirim dan dirakit di sini,” kata Budi.

    Pengecekan akhir dan tes terbang yang pertama kali pun akan dilakukan oleh Indonesia, katanya.

    Budi lebih lanjut mengatakan Eurofighter menawarkan desain dan fitur khusus pada pesawat itu sehingga varian Typhoon milik Indonesia akan berbeda dengan varian yang dimiliki negara lain.

    “Ada Conformal Fuel Tank (CFT) di sisi atas, dan ini desain baru yang belum pernah dibuat. Sekarang mereka juga meminta saya untuk menghitung desainnya kepada mereka,” katanya.

    CFT pada Typhoon menambah daya angkut persenjataan di bagian sayap, serta meningkatkan aerodinamisme pesawat ketika bermanuver di udara.

    Budi menuturkan banyak negara yang menawarkan penjualan berbagai jenis pesawat tempur ke Indonesia, namun enggan memenuhi syarat tersebut.

    “Alasannya karena itu kan rahasia negara. Tapi Typhoon ini kan konsorsium dari Jerman, Inggris, Italia, dan Spanyol, jadi sudah bukan rahasia negara lagi dong?,” kata Budi.

    •  

      Nah ini yg bener, langsung dari bos PT DI yg memberikan pernyataan.
      Artinya, versi kita berbeda dengan Typhoon yg sudah ada. Artinya beli baru yg perakitannya hingga pengujian dilakukan di Indonesia, dan cuman perusahaan ini yg menawarkan pembelian minimalis dan ToT segambreeng. Terima kasih Pak Habibie, dan tim anak bangsa yg bekerja di Airbus Group.

      “Typhoon milik Indonesia akan berbeda dengan varian yang dimiliki negara lain.”

      “Pengecekan akhir dan tes terbang yang pertama kali pun akan dilakukan oleh Indonesia”

      “ini desain baru yang belum pernah dibuat. Sekarang mereka juga meminta saya untuk menghitung desainnya kepada mereka” (kita ikut terlibat dalam pendesainan versi terbaru)….

      Kurang apa lagi, ToT-nya sudah jelas…

      •  

        Bisa jadi pilihan yg lebih meyakinkan dan masuk akal dibanding Gripen NG.
        barang sudah ada bentuk, konsumen sudah banyak yang pake.
        jaringan dengan PTDI sudah jelas dan lama sejak C-212, CN-235 dan NC-295.
        dan tambah lagi Eurocopter Panther dan Fennec.
        Makin kuat dan meyakinkan. apalagi ada rencana buat skuadron AEW ( bisa diisi kelas NC-295 versi AEW)
        Radar GCI juga hampir semua produk negara NATO ( Thales Master-T, Thomson TRS,)
        dari era pak SBY sudah nego-nego ini barang dg PM David Cameron, PM Angela Merkel. tinggal teken kontrak. jadi apa ndak ama pemerintah sekarang.

  9.  

    Yg penting ada anggarannya lah, percuma sales nawarin ampe berbusa kl anggaran ga mencukupi, ane cukup realistis anggaran kita ga sebesar India n tiongkok tapi khusus buat malon, singaporn, aushit wajib kita punya S400 atau seri 500 kalo ada. Pespur sekelas F35 pun akan kagok kalo di lock rudal tsb dan dijamin black flight akan berkurang drastis kalau tiap pulau besar di nusantara dilindungi rudal ini. Kl buat pespur cukup lah 35 SI 6 unit buat jaga kandang sebagai herder. Gripen buat TOT Radarnya, Typhoon buat TOT mesin dan avionicnya. Jin rafa cukup 6 unit aja yg udah deal tahun lalu buat si Ep 22 nya ASU. Jangan anggap remeh bangsa iniyg akan terus menjadi besar. Selama ada duit apapun bisa kita lakukan termasuk menjadi negosiator ulung dlm pengadaan TOT tuk aluytsista. sekian.

  10.  

    Tolong temen2 nulisnya pake bahasa indonesia aje, pusing bacanya
    buat bung STMJ : anda terlihat cerdas, lugas & sigep mencari bahan trit… luaar biasa!

  11.  

    Bagi yg tertarik dengan analisis tambahan tentang Gripen NG, silakan rujuk ke artikel “Gripen for Canada” di bawah ini:

    http://gripen4canada.blogspot.com/p/the-saab-gripen-ng-capable-and.html?m=1

  12.  

    artikel yg menggelikan tetap focus ke SU 35.

  13.  

    wuihhh..topikkny bnyak yg koment yoooo mantap

    knapa indonesia takut diembargo sama USA / NATO ya….seharusnya klo pamarentahny berani….klo mereka ngancam embargo..kita ancam balek….Nasionalisasikan saja Freeport, Chevron, Exxon Mobil, Newmont….blum yg kayak Danone Aqua, kan banyak perusahaan USA yg merumput di Indonesia

    Gitu aja koq repot…..
    Pikiiiirrr….

  14.  

    Sebelumnya saya minta maaf karena saya bukan ahli militer,saya cuma suka saja hal2 yg berbau militer termasuk alutsistanya. saya termasuk penggemar jakarta greaters. Mengenai pengganti F5 tiger TNI AU disini terlihat sptnya terjadi persaingan sengit antara pro dan kontra dari fans dari SAAB39 GRIPEN NG VS SUKHOI 35 S/BM,dimana kedua belah kubu masing2 memberikan analisis argumentasi yg bagus. Semuanya memberikan nilai PLUS DAN MINUS dari masing2 produk. Menurut saya pribadi lebih baik ambil dua2nya saja. Gripen mungkin bisa diajak kerjasama dalam hal alih teknologi (saya kira mungkin juga dari pihak SUKHOI pun bisa memberikan TOTnya). Dengan teknologi gabungan atau gado gado alutsista ini,resiko jika terjadi embargo tidak terlalu fatal kelak dikemudian hari bagi TNI. misal alutsista barat sdg embargo TNI maka tinggal alutsista non barat PLUS alutsista buatan dalam negeri yg tetap bisa digunakan untuk menjaga kedaulatan NKRI begitu juga sebaliknya,tinggal bagaimana caranya kita bisa membuat SUATU ALAT ATAU SUATU METODE ATAU SUATU SISTEM yg bisa menggabungkan kedua teknologi tersebut. Saya percaya bahwa TNI atau ILMUWAN anak negeri bisa membuat atau melakukannya. Contohnya spt Rudal YAKHONT buatan RUSIA bisa ditempatkan dan sdh ujicobakan pada kapal fregate VAN SPEIJ buatan BARAT. Kenapa bagi TNI AU juga gak bisa melakukan hal yang sama spt TNI AL,bukankah dulu pesawat TNI AU buatan barat bisa pakai bom2 sisa ex masa orde lama yg notabene buatan SOVYET atau RUSIA sekarang. Ini adalah suatu contoh kecil saja bagi TNI bahwasannya TNI mampu menggabungkan cita rasa barat dan timur,bukankah bukan indonesia saja yg pakai alutsista gado2 negara2 lain kan banyak yg pakai alutsista gado2 spt kita,betul gak?! sekali lagi ini hanya sebagai masukan saya sebagai orang awam yang kurang ahli dalam hal alutsista militer. Menurut saya,SUKHOI 35 tetap perlu sebagai kekuatan pemukul garis depan TNI dan sebagai penyeimbang kekuatan militer tetangga serta untuk kesiapan jika terjadi hal terburuk masalah konflik LCS atau klaim dari negara lain yg bisa menggangu kedaulatan NKRI. Bagaimanapum juga TNI perlu alutsista yang setara serta mempunyai efek deterence yang tinggi dg kualitas bukan SETENGAH/SEDIKIT DIBAWAH negara2 sekutu dari kedua belah pihak. Bukankah Indonesia bukan sekutu dari blok2 manapun kan?! Sdg untuk SAAB 39 GRIPEN NG bisa juga dibeli bagi kepentingan TNI AU berikut TOT nya yg mana bisa dipakai untuk membuat sendiri kelak jet tempur buatan dalam negeri (barangkali juga bisa digabungkan teknologinya dari rusia),apabila kelak jet tempur KFX/IFX gagal dibuat atau jet tempur KFX/IFX berhasil dibuat di dalam negeri dengan kecanggihan yg setara atau bahkan melebihi dari yang digunakan oleh ROKAF korsel (sekutu NATO). Gripen bisa dipakai TNI AU sbg jet tempur kelas menengah spt F16 blok 15/52 yg sdh kita miliki dg tingkat efisiensi operasional yg lebih murah ketimbang sukhoi baik utk patroli atau penyergapan. Sekali lagi ini hanya adalah analisis saya pribadi yang sedikit awam tentang militer,tp mungkin bisa bermanfaat bagi TNI ku. Thanks atas perhatiannya dan maaf kalo gaya bahasa penulisan saya kurang bagus…

  15.  

    Apakah ngawurnya sengaja dimaksimalkan untuk memancing komentar ? Bruce lee vs tyson ? Are you nut ?? Bruce Lee mukul tyson yang ada tyson merasa digaruk-garuk. Subgguh terlalu konyol untuk dibaca …

  16.  

    Satu pertanyaan saya bung…”Apakah ketika terjadi insiden diatas langit BAWEAN kita sdh punya SUKHOI?” seinget saya kita belom punya SUKHOI, jika pernyataan saya salah mohon maaf. kalo saya salah mohon dikoreksi kalo benar artikel diatas mohon dikoreksi.tp menurut pendapat saya pribadi dan pengalaman EMBARGO dari Inggris dan Amerika yang pernah menimpa kita dan membuat tak berdaya, maka secara akal sehat kita tetap membutuhkan keseimbangan alutsita barat dan timur sekaligus untuk memperlihatkan bahwa kita negara netral yang tdk pro barat dan pro timiur. kalo alutsita dari blok timur semakin banyak juga bisa di integrasikan seperti halnya alutsita barat. alutsita barat banyak orang mengatakan sdh terbiasa, dulu era presiden Sukarno juga kita terbiasa dgn alutsita blok timur, jd itu bukan alasan yg dapat dijadikan justifikasi untuk cenderung ke salah satu produk. justru keseimbangan alutsita darri barat dan timur jika kita punyai dan kuasai akan meningkatkan bargaining power juga secara tdk langsung, kita nggak takut embargo dari salah satu blok. tentu setelah kita punya itu semua, selanjutnya ahli ahli kita bisa mempelajari dan memadukan kelebihan2 produk barat dan timur tersebut pada produk alutsita yg nantinya akan kita buat dan kembangkan kedepannya.

 Leave a Reply