Jan 072019
 

K30 Hybrid Biho buatan Korea Selatan © Angkatan Bersenjata Korea Selatan via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Alasan mengapa India memilih Hybrid Biho buatan Korea Selatan atas kombinasi artileri-rudal Pantsir-S1 buatan Rusia terasa aneh dan telah menimbulkan banyak pertanyaan, menurut analisis media Vietnam, Bao Dat Viet.

Dalam sepekan terakhir ada sebuah peristiwa dianggap sebagai kejutan yang terjadi di pasar senjata dunia ketika India memilih kompleks rudal anti pesawat jarak-pendek Hybrid Biho, yang diproduksi oleh Hanwha Techwin dari Korea Selatan mengalahkan kompleks artileri-rudal Pantsir-S1 yang diproduksi oleh Tula dari Rusia.

Pihak Rusia mengatakan bahwa adanya kekurangan evaluasi kinerja diantara para kandidat, misalnya, menurut pandangan Moskow, Pantsir-S1 memiliki jangkauan radar pengintaian serta jangkauan operasi rudal tingkat lanjut, membantu perluasan payung udara.

Selain itu, Pantsir-S1 telah diuji dalam pertempuran nyata dimedan perang Suriah dan telah memperoleh beberapa keberhasilan, sedangkan Hybrid Biho masih merupakan satu-satunya produk yang diuji pabrikan dan belum pernah digunakan dilapangan perang nyata.

Sistem pertahanan udara jarak pendek Pantsir-S1. © Alexxx1979 via Wikimedia Commons

Setelah menerima umpan balik dari Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu di pertemuan bilateral yang berlangsung pada tanggal 28 Desember 2018, pihak India merilis beberapa informasi yang relevan untuk menjelaskan keputusannya.

Masalah pertama adalah harga, Hybrid Biho buatan Korea Selatan ditawarkan seharga $ 13 juta, sementara Pantsir-S1 adalah $ 25 juta, hampir dua kali lebih mahal, mengalikan angka ini dengan kebutuhan 104 unit adalah merupakan jumlah yang besar.

Selain itu, artileri-rudal Pantsir-S1 serta Tunguska-M adalah non-probe seperti Shingung, sangat cocok untuk menghadapi serangan roket, pesawat terbang rendah dan tidak efektif terhadap UAV, ini pernah diuji dengan rudal 57E6 di medan perang Suriah.

Alasan penting lainnya adalah bahwa kombinasi artileri-rudal anti-pesawat terbang ini harus dapat menghindari rudal anti-radar karena jangkauan dan sudut pengamatannya tidak dapat lepas dari rudal YJ-91 China atau HARM Amerika Serikat.

Biho II, Terminator pertahanan udara jarak pendek buatan Hanwha, Korea Selatan © Army Recognition

Solusi Pantsir-S1 ketika digunakna menghadapi rudal anti-radiasi adalah mematikan radar dan menggunakan perangkat pembidik optik, disisi ini, Hybrid Biho dinilai sebagai paduan Pantsir-S1 dan Tunguska-M, terutama artileri dan misilnya dapat ditembakkan ketika radar tidak dinyalakan, yang mana tidak bisa diikuti oleh senjata Rusia.

Tentunya, India selalu memberikan “prioritas” kepada negara-negara yang menjual senjata plus teknologi manufaktur sehingga mereka dapat memproduksi secara domestik di bawah program “Make in India”, Korea Selatan menunjukkan bahwa mereka siap untuk memenuhi persyaratan tersebut.

Ini dibuktikan dengan program kerjasama untuk pembuatan senjata swagerak K9 Vajra yang berdasarkan prototipe dari K9 Thunder Korea Selatan.

Sementara itu, perjanjian Rusia guna menyediakan teknologi ke India untuk memproduksi Pantsir-S1 dalam bentuk IKD sangat sulit, ini adalah “penghalang besar” bahwa New Delhi pasti menghapus opsi persenjataan Rusia untuk beralih ke Korea Selatan.

  3 Responses to “Mengapa India Memilih Hybrid Biho Ketimbang Pantsir-S1?”

  1.  

    Harga murah alasan utama nya. Indonesia lebih baik merapat ke Korsel untuk membeli dan mendapat ToT payung udara jarak pendek ini.

    Karena TNI belum punya yg mobile. Startrek kurang pas di iklim tropis sehingga beberapa kali gagal dalam ujicoba.

  2.  

    Rsua ngambek karena kalah tender Sementara itu saab juga ngambek kalah tender…

    https://sputniknews.com/asia/201811291070242514-saab-mulls-llegal-recourse/