Mar 182019
 

Horten Ho 229 (Horten H. IX) at the Smithsonian Institution’s Garber Restoration Facility. © Michael Katzmann via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Pada akhir 2018, raksasa kedirgantaraan dan pertahanan Northrop Grumman meloloskan tinjauan pengembangan program B-21, desain bomber strategis rahasia yang dimaksudkan untuk menggantikan B-2 Spirit. Namun, ternyata perusahaan juga telah mengutak-atik beberapa desain unik yang telah dikembangkan pada 1940-an oleh salah satu negara Eropa, menurut analis militer, Sebastian Roblin pada hari Jumat di majalah National Interest.

Pada bulan September 2008, dalam persiapan untuk sebuah film dokumenter National Geographic 2009 yang disebut ‘Hitler’s Stealth Fighter’, sebuah tim insinyur dari Northrop Grumman membersihkan badan pesawat terakhir yang kini tersisa dari prototipe Horten Ho 229 V3, desain bomber Nazi di fasilitas penyimpanan Smithsonian National Air and Space Museum di Maryland untuk terlibat dalam pengujian properti pesawat siluman.

Membangun mockup pesawat menggunakan “teknik modern”m termasuk stereo-litografi, insinyur mampu mensimulasikan kinerjanya terhadap komponen jaringan radar British Chain Home, yang dirancang untuk membantu menangkal serangan Luftwaffe.

Proyek ini mendapat pertimbangan serius, dengan pengujian dilakukan pada fasilitas uji radar cross-section (RCS) yang berbasis di California, dengan teknik imajiner “digunakan untuk memahami sumber hamburan RCS utama Horten 229 V3”, menurut museum.

Horten Ho 229 (Horten H. IX) at the Smithsonian Institution’s Garber Restoration Facility. © Michael Katzmann via Wikimedia Commons

Temuan mereka itu, dipresentasikan pada tahun 2010 di sebuah konferensi penerbangan di Texas, terbukti agak mengecewakan.

Sebastien Roblin baru-baru ini menulis, “pejuang siluman buatan Nazi itu akan terdeteksi pada jarak 80 persen dari pesawat tempur standar Messerschmitt Bf. 109 Jerman”, sebuah desain pesawat tempur telah diperkenalkan pada tahun 1937 yang menjadi sebagai tulang punggung Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) selama perang.

Pada saat yang sama, Roblin pun menunjukkan bahwa itu “memaksimalkan kecepatan dan jarak, jadi bukan siluman”, yang saat itu merupakan “motivasi utama di balik pesawat jet berbentuk kelelawar tersebut”.

Desain Ho 229 dibuat oleh Horten Brothers, sepasang pilot pesawat tempur Luftwaffe yang sebelumnya menjabat sebagai konsultan desain untuk produsen pesawat tersebut selama awal perang.

Komandan tertinggi Luftwaffe saat itu, Hermann Göring menetapkan spesifikasi desain untuk pesawat pada tahun 1943, meminta pesawat itu mampu terbang 1.000 kpj, dengan jangkauan 1.000 km, dan mampu membawa bom seberat 1.000 kg. Rancangan itu adalah ditujukan untuk mengalahkan pejuang musuh, dan diajukan di tengah kekalahan besar yang dihadapi oleh pasukan pembom Luftwaffe di Front Barat dan Timur pada saat itu dalam perang.

Prototipe Horten H.IX V1 Jerman © US Government via Wikimedia Commons

Desain berbentuk pesawat revolusioner ini bertujuan agar secara dramatis meningkatkan sifat aerodinamis Ho 229 untuk menghemat bahan bakar dan meningkatkan kecepatan, telah di restorasi oleh para perancang militer AS (akan tetapi dengan kemampuan stealth, daripada hemat bahan bakar dan kecepatan) di era 1980-an.

Tidak pernah beranjak dari tahap prototipe pada akhir perang, Ho 229 tidak menjadi salah satu dari ‘Wunderwaffe’ atau ‘Miracle Weapons’ Hitler yang dimaksudkan untuk mengubah arus melawan Sekutu. Namun, desain bomber tersebut memang mendapat perhatian kuat di luar negeri, dengan militer AS meluncurkan Paperclip Operation, yang bertujuan untuk merebut teknologi senjata Nazi, termasuk Ho 229, untuk mencegahnya jatuh ke tangan sekutu-sekutu Uni Soviet saat itu.

Menariknya, hanya dalam 1 tahun setelah rancangan program Ho 229 berhasil sampai ke tangan para insinyur AS, Northrop Corporation pun meluncurkan YB-35, desain pembom yang dilengkapi dengan mesin turboprop yang sangat mirip dengan pesawat Jerman itu.

Seperti banyak kekuatan penerbangan di saat itu, Northrop telah bereksperimen dengan desain sayap terbang sejak awal 1940-an, dan masih belum jelas seberapa besar pengaruh desain Ho 229 pada program YB-35, yang dibatalkan tahun 1949 hanya karena sebuah masalah teknis.

Desain jet siluman Horten H.IX Jerman © United State via Wikimedia Commons

Dalam pengujian 2008, para insinyur Northrop Grumman menemukan bahwa fitur desain utama dari Ho 229 yakni “kecepatan”, bisa terbukti menghancurkan bagi Pasukan Sekutu jika berhasil diterjunkan pada waktu itu. Seperti yang diingatkan Roblin, kecepatan Ho 229 “bisa melebihi kecepatan maksimum dari pejuang terbaik Sekutu pada saat itu sebanyak 33 persen”, yang berarti bahwa meskipun pesawat itu dapat dilihat oleh radar, “waktu deteksi bukanlah masalah penting jika bisa melaju lebih cepat dari semua pesawat yang dikirim untuk mencegatnya”.

Memang, dalam sebuah wawancara tahun 2016, kurator aeronautika Museum Dirgantara dan Udara Nasional Smithsonian, Russell Lee mengatakan, garis dasar penelitian insinyur Northrop Grumman 2008 menyimpulkan bahwa “mereka tidak dapat mengatakan bahwa pesawat itu lebih tersembunyi daripada selembar kayu lapis biasa”.

Legenda Ho 229 yang berfungsi sebagai pesawat proto-stealth mungkin telah dimulai oleh co-designer Reimar Horten, yang saat itu melarikan diri ke Argentina setelah perang dan mengklaim pada tahun 1983 bahwa desain sayap terbangnya dimaksudkan menampilkan semacam kemampuan proto-siluman melalui bahan penyerap radar termasuk arang guna mengurangi kemungkinan deteksi. Namun, makalah konferensi 2014 menyimpulkan bahwa “tidak ada bukti nyata yang mendukung atau membantah klaim ini”.