May 052014
 

roket-lapan-1

Indonesia dalam upaya mengejar penguasaan teknologi roket :

1. Tahun 1964 program penguasaan teknologi roket pengorbit satelit (RPS) melalui reverse engineering roket Lambda (Jepang) dengan Prof. Hideo itokawa. Diawali dengan roket Ionosfer Kappa-8 (Sub-orbital 200 km). Upaya tersebut terhenti karena gejolak politik 1965.

2. Tahun 1976, program kemandirian dalam sistem antariksa termasuk RPS kerjasama dengan Werher Von Braun (Fairchild) AS. Terhenti karena keterbatasan dana.

3. Tahun 1977, program reverse engineering reaktivasi roket Kappa-8 belajar tentang upaya statik dan operasi peluncuran roket Kappa-8 dengan misi pengukuran karateristik atmosfir atas dan lingkungan antariksa (x-ray, gamma ray). Ini bekal untuk membangun roket2 RX. Namun tahun 1978 terhenti karena dana.

4. Tahun 1977 program roket sonda kerjasama dengan Aerojet Liquid Rocket Company, AS. Program ini terhenti juga karena masalah dana.

5. Tahun 1988, program Wahana Peluncur Satelit Orbit Rendah (WPSOR), tersendat karena dana. dan masih banyak program2 lainnya yg gagal karena dana dan politik lainnya.

Peneliti kita di lapan ada tidak sampai 300 orang, untuk perekayasa di bawah 30 orang, teknisi litkayasa di bawah 200 orang, perancang UU itu dibawah 5 orang.

ini foto anggaran Lapan tahun 2012 (kolom ke tiga APBN, APBN Perubahan dan Perubahan). Di tahun 2013 dan 2014 anggaran malah turun.

budget-lapan (by Jalo)

  52 Responses to “Mengejar Penguasaan Teknologi Roket”

  1. one

  2. PERTAMAX…

  3. nice info @bung jalo

  4. Dana lagi… Dana lagi.

  5. Ngimpi ada roket kita namanya kartika lagi

  6. letih telat truss

  7. Hahahahaha, jadi artikel lagi… :mrgreen:

  8. @ bung jalo dan bung2 lain serta para sesepuh warjager sebelumnya salam kenal…sudah cukup lama mengikuti forum ini, banyak dapat pengetahuan2 menarik dan bermanfaat.
    @bung Jalo…mohon bisa menuliskan perkembangan teknologi Nuklir di Indonesia…Mengapa pemerintah kelihatannya kurang tertarik membangung energi nuklir, apa karena takut LSM, green peace? Padahal di Indonesia masih sangat kekurangan pasokan energi listrik di semua daerah. Dan kalau melihat sumber energi atau bahan baku untuk nuklir banyak terdapat di pulau di Indonesia. Semua negara maju dan berkembang berusaha menbangun energi nuklir, bagaimana dengan Indonesia.

    • Kayaknya sudah dibahas di artikel2 sebelumnya bung, untuk PLTN memang ada rencana, kemarin tim sudah berhasil mendapat tempat diwilayah Jepara. Nah nunggu kalau gak tahun ini, mungkin tahun depan mulai pengerjaannya. kita juga sudah menjalin kerjasama dengan beberapa mitra termasuk Jerman. Kalau kita tidak takut, cuman masalahnya menurut DPR itu opsi terakhir.

      • btul tu bung djepara..kayaky masyrakt jepara pada protes pmbangunan pltn..truss yg skrg mala brdiri pltu..emg jd tu bung..

        • Ane orang jepara gan salam kenal,masalah pltn ya jelas lah masarakat menolak lagian juga hasil listriknya gak seberapa tpi resikonya luar biasa,Dan juga jaman sekarang pltn di dunia banyak yg dah di tutup,walaupun tanpa pltn jepara itu kota energi yg paling banyak pembangkit listriknya,kalo riset nuklir di banten tuh dah ada reaktornya

          • PLTN di negara maju ditutup adalah PLTN generasi ke 1 dan 2. Tetapi untuk generasi 4 malah dibuat. Contoh di Korea.

          • Nanti saya tunjukin tempatnya, di sebuah pulau kecil… Sebenarnya gini bung, saya lucu aja dengan ketakutan. Saya rada pasti ada aktor di masalah ini. Singapura skrg mau mulai belajar teknologi nuklir, untuk mendukung itu mereka menganggarkan sekitar Rp. 700 m. Mereka semua melakukan dari nol, dan dengan negara sekecil itu begitu bangganya masyarakat mereka dengan rencana pemerintah mereka hingga tahun 2024. Lah kita sudah puluhan tahun dan Alhamdulilah di teknologi nuklir sudah berhasil, tapi masyarakatnya tetap aja takut. Saya cuman bisa bilang, masyarakat kita dan singapura itu memang beda class… 😀

          • Ya kalo memang keamanannya terjamin sih ok saja,pertanyaannya yg di indonesia ini generasi berapa?,Masalah bangga pasti juga saya bangga,tpi Sebenarnya untuk pembangkit listrik itu masih banyak opsi lain yg menurut saya lebih baik,omong2 pltn waktu itu mau di buat di jepara itu sebenarnha juga karna keamanannya baik sih,daerah jepara itu bebas gempa karna gak di lewati lempeng,dan rencana akan di buat di balik gunung muria yg bukan gunung aktif,gak tau sekarang di lanjut apa tidak

          • Tambahan lagi di jepara itu pltu nya terhitung besar dengan 4 generator

        • kalo saya cenderung setuju dengan pembangunan PLTN tp yg skalanya medium to micro agar bisa menghemat biaya transmisi. IMHO, seharusnya sumatera bisa dibangun 3 PLTN skala medium agar dapat memenuhi kebutuhan listrik di pulau tsb. Begitu juga di kalimantan, sulawesi, timor, papua dll. Jawa kalo ga mau dibangun PLTN biarin aja pake alternatif lain asal pembangkitnya jangan pake bahan bakar yg disubsidi.
          Sedih rasanya kalo lagi jalan ke daerah, listrik yg bisa mereka nikmati sangat terbatas dan tak jarang lebih sering padam daripada nyala. Sementara di sisi lain, jabodetabek begitu terang benderang.
          Contoh kasus utk memenuhi kebutuhan listrik jabodetabek yg besar, bisa bangun PLTN di salah satu kepulauan seribu atau lokasi lainnya. PLTN itulah nanti yg mensupply kebutuhan listrik area jabodetabek. Yg repotnya, jabodetabek ini konsumsi listriknya paling besar se Indonesia Raya tapi utk memenuhi kebutuhan listriknya sebagian besar ngambil dari pembangkit yg dibangun di daerah lain. Sementara tempat asal listrik nya sendiri dpt jatah listrik yg minim (dgn alasan yg macam2). Gimana ga meradang tuh yg punya lahan… IMHO lagi, 70% s/d 90% kebutuhan listrik jabodetabek sudah seharusnya dihasilkan oleh jabodetabek sendiri, barulah kekurangannya dipenuhi oleh pembangkit dari daerah lain. Jangan dibalik… Itu yang disebut kerjasama, tapi kalo kondisinya dibalik jadi ngerjain sesama…

          • Betul gan,walaupun jepara disebut daerah energi juga masih sering mati lampu,padahal yg banyak kena masalah warga jepara seperti Masalah limbah,kalau mau bikin pltn ya di daerah jabodetabek yg kebutuhan listriknya besar

          • gk bisa bung soalnya tanah di pulau seribu tergolong lunak
            semua ada perhiungannya contoh kandungan airnya hingga komposisi tanahnya juga

            kalo reaktor jenis mikro itu max 200Mw
            itu rugi loha bung karena tiap reaktor harus punya lahan kosong radius 2km an
            ini di tujukan untuk tidak terjadi hal2 yg tidak diinginkan misal orng yg masuk sembarangan
            1 komplek bisa lebih dari 1 reaktor bung

            saya kurang setuju masalah lokasi energi
            saya lbh setuju di kelompokkan misal cirebon lumbung pangan, jepara lumbung energi, dll
            jadi gk trus2 bangun transmisinya

            masalah limbah @bung gint tau gk batu bara itu radiasinya tinggi?
            itu karena di batu batra mengandung thorium dan U 238
            kalo dari batubaranya sih kecil tapi abunya yg besar
            ane dah pernah ngukur tumpukan abu ampe agak mundur karena hasilnya cukup tinggi
            nah ini yg perlu anda pelajari bung masalah radioaktiv
            hehe

            main2 lah bung ke yogya
            nanti kita sharingw bareng

          • yang harus dipahami bersama adalah teknologi nuklir adalah teknologi masa depan. saya rasa satu pltn kecil dengan daya 200MW itu sudah bagus. mengapa disebut bagus karena setara dengan PLTA besar seperti PLTA Sudirman di Banjarnegara. PLTA terbesar kita ada di Saguling afaik 1200MW. PLTU dengan menggunakan batubara juga akan menghasilkan cemaran berupa partikel2 kecil (debu) dan mencakup daerah yang sangat luas. sampai kapan kita harus melakukan subsidi bbm untuk PLTGU ? Dana subsidi PLTGU sebaiknya digunakan untuk pembebasan tanah PLTN micro.

          • Bung love INA, saya terima masukannya mengenai spek yg harus dipenuhi sebagai syarat suatu daerah dipilih utk dibangun PLTN. Tapi kalo pengelompokan spt yg anda sebutkan di atas (lumbung energi) juga kurang aplikatif kalo dilihat dari bentuk negara kita yg terdiri dari ribuan pulau (IMHO). Misalkan saja PLTN jadi dibangun di bangka dengan kapasitas gigawatt (atau mungkin lebih), apa iya listrik yg dihasilkan PLTN bangka tersebut bisa dinikmati saudara kita yg ada di flores, palu, manado, ambon atau bahkan papua? Itu sebabnya tadi saya usul PLTN skala medium to micro, kenapa? itu untuk memenuhi kebutuhan listrik penduduk di pulau/daerah yg tersebar di negara kita. Mereka juga butuh listrik, tapi mungkin tidak banyak2 amat. Kalo kebutuhan listrik itu mau disupply dari pembangkit besar yg lokasinya jauh, apa ngga kemahalan biaya untuk bangun transmisinya (utamanya transmisi bawah laut)? Beda halnya kalo bentuk negara kita spt india, cina atau bahkan US yg bentuk geografis nya cenderung mainland.

            Di luar itu semua, saya sangat setuju PLTN mulai dibangun di bangka biar kita (sebagian) bisa tau dan merasakan bahwa nuklir itu tidak selalu identik dengan bencana, ada sisi manfaatnya yg bisa kita nikmati (apalagi cadangan uranium kita konon katanya bejibun). Harapannya, kalo ada satu yg udah jadi akan disusul oleh pembangunan PLTN di daerah lainnya.

            Iran begitu ngototnya terus membangun PLTN karena selain harus memenuhi kebutuhan listrik mereka yg tinggi, mungkin mereka ogah menghabiskan cadangan minyak yg mereka miliki utk bahan bakar pembangkit listriknya.

      • Bukannya yg mitra dengan jerman itu tenaga panas bumi ya bung?

      • Ketakutan saya kalau penolakan masyarakat itu karena hanya ketidaktahuan dan dimanfaatkan oleh pihak asing melalui LSM2 yang didanai nya, mereka akan terus melakukan penolakan. Sedangkan bahan baku yang melimpah yang ada hanya akan digunakan dan dinikmati oleh pihak asing. Pertanyaan saya kenapa negara yang kaya dengan minyak seperti Iran juga masih ingin membangun PLTN?

      • Saya gak nampik kalo demo penolakan kemarin itu permainan mafia,saya juga tau yg demo itu di bayar kalo gak salah itu di koordinir prangkat desa waktu itu,Bagaimana ya …yg saya maksud itu daripada kita mengeluarkan modal banyak untuk sesuatu yg beresiko besar yg menurut saya gengsi2an,kan mending yg resiko lebih kecil pembangkit tenaga panas bumi misalnya yg potensinya luar biasa,pltn itu opsi terakhir apbila memang gak ada pilihan lainnya seprti di negara maju lain,Nuklir buat senjata kan lebih asik tuh atau buat macam2 riset lainnya

      • Saya termasuk orang yg jelas2 menentang PLTN dgn alasan berikut :
        1. Kita ini pintar membangun tapi jelek sekali dalam masalah perawatan dan pemeliharaan berkala, dibuktikan dengan pengalaman saya. Biaya pemeliharaan ini yg selalu tidak ada/ tidak masuk rencana. Instalasi PLTN adalah instalasi yg perlu dimonitor 24 jam selain pemeliharaan berkala , yg kalau instalasi PLTN gagal, tidak bisa diperbaiki lagi, akibatnya benar2 tidak bisa dibayangkan kengeriannya. Selain itu nuclear wastenya perlu dibuang/ disimpan, jadi masalah lagi.
        2. Negara kita masuk ring of fire, terdapat risiko gempa bumi, tsunami. Bayangkan kalau insiden tragedi semacam Fukushima terjadi disinii.
        3. Masih banyak alternatif energi terbarukan lain, seperti mini/mikro hidro, angin, ombak, matahari dan panas bumi yg dapat dikerjakan.

      • Dan sepertinya ada pemahaman yg keliru bahwa listrik pltn itu gak pake subsidi,saya agak heran knapa ini tidak di jelaskan pada promosi pemerintah

  9. ko ditutunin ya anggarannya? cukup kolor aje kali yg turun, hehehe…

  10. Ok saya melanjutkan yg diatas…

    6. Tahun 1976 dibuat proyek swasat antara Lapan dengan Kohanudnas, melakukan reverse engneering Roket SA75, roket berbahan cair, untuk dikembangkan sendiri. Namun roket litbang cair ini terhenti karena kekurangan SDM dan dana. Proyeknya cuman berjalan setahun.

    7. Tahun 1980 dibentuk proyek desain satelit, terhenti karena keterbatasan dana dampak kebijakan prioritas program peroketan.

    8. Tahun 1982-2000, program pembuatan dan uji terbang muatan roket sub-orbital dengan misi telemetri dan digital repeater. Berhasil mencapai radius 6..km. Dilanjutkan menjadi program satelit mikro.

    9. Tahun 2005 perusahaan Rusia, Air Launch System (ALS) berminat menggunakan pulau Biak sebagai terminal pengorbitan satelit melalui udara menggunakan roket Polyot yang dibawa pesawat AN-124. Terhenti karena masalah finansial dan juga terbentur masalah keimigrasian, mereka berkeberatan komponen2 ALS diperiksa di kantor imigrasi kita.

    10. Tahun 1976 kita bekerjasama dengan Rockwell Rocketdyne, AS (pembuat space shuttle) membangun bandar antariksa ekuator di Biak. Program terhenti karena masalah politik.

    saya ijin pamit ya… :mrgreen:

    • Hehehehehe, tulisan ini gak laku, padahal ada clue-nya loh…
      Ya udah ijin pamit ya… selamat malam

      • “Berhasil mencapai radius 6..km.” Wuidih dah tiga digit tuh..harusnya dah ga perlu nitip ke negara lain buat nempatin satelit ke orbitnya ya :mrgreen:

        • iya, 6..km itu sudah hebat sekali, kalo berhasil, kayaknya gak mungkin dhentikan, pasti dlanjutkan. iya gak bung jalo??

        • kayaknya yang ini nih yang dijagain ama special force :mrgreen:

          • bung master n bung arek minta di intipin ma bung jalo saja kelanjutannya 6..km it gimana, siapa tau beliau berbaik hati, boleh dong bung jalo.. hehe

          • Hehehehehe… kita tunggu aja bung dari bung jalo, bung jalo baik kok orangnya… tar cluenya pasti kluar deh 🙂

      • Saya paham dg “clue” anda, Bung Jalo. Semoga dugaan saya tidak salah bhw kemampuan mencapai level 6** tentu sudah diaplikasikan ke sistim surface-to-surface r*c**t cicitnya Kartika. Mungkin anda atau sesepuh yg lain bisa menambahi atau mengkoreksi pendapat saya ini, monggo dan matursuwun.

    • 1976..melakukan reverse engneering Roket SA75, roket berbahan cair, untuk dikembangkan sendiri. Artinya sdh bisa membuat sendiri meski terbatas ya bung@Jalo…
      1980….dilanjutkan kembali dan sudah bisa mencapai 6 km… Artinya tinggal dilanjutkan ke tingkat yg lebih dalam masalah guidancenya…

      • Pengerjaan SA-75 cuman setahun. Kalau 3 tahun mungkin kita sudah bisa mengembangkan sendiri, tapi dokumen penelitian setahun ini sudah dilanjutkan lagi tahun 2010… Untuk 600 km, itu disampaikan mantan ketua Lapan berinisal A, nih proyek saya gak tahu apakah dilanjut atau gak tapi dokumen pengembangannya masih ada di library.

  11. Mimpi yang terwujud soal rudal jarak jauh belum ada menyedihkan

  12. @ bung jala: selamat istirahat,tapi sebelumnya saya masih penasaran,maoritas penyebab kegagalan diatas,apa murni benar benar dana atau memang faktor politik yg menjadi penyebab utama?
    Karena menurut saya,ambisi besar IPTN untuk bisa membuat CN 235, CN 250, maupun N 2130 juga membutuhkan dana yang sangat besar?
    Mohon pencerhannya bung Jalo
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

  13. Sedih bAcanya.. semua riset trhnti karna dana ya dana….giliran buat jalan jalan anggota dewan yg kurang terhormat lancar….

  14. Saya tertarik dg point 8 bung jalo itu jangkauanya 600 / 6000 ya.?? Masih dilanjutkan kah sampai sekarang.?? Klo masih berarti………????? Mohon pencerahanya jadi mupeng nih..!!

  15. Pertama roket dulu setelah itu rudal aminnnn..lebih baik terlambat daripada gak dikerjakan sama sekali, tapi ya jangan kelamaan juga

  16. Kasihan proyek strategis dapat anggaran sedikit, pltn ditolak padahal kita butuh enegi yg banyak untuk produktifitas padahal jika suatu desa di indonesia ada listrik produktifitasnya langsung melonjak untuk aktifitas malam hari kalau enggak ada listrik jam 09:00 sdh tidur ,tambah banyak anak.jika untuk roket saya rasa lebih banyak tekanan politiknya daripada ekonomi/dana.

  17. Agak sangsi kita bisa lancar dalam pengembangan teknologi roket indonesia dalam 5tahun kedepan,melihat banyaknya konflik kepentingan dalam pemerintahan yg ada. Ditambah mitra pemerintah yg dihasilkan oleh pemilu legislatif kemarin(yg saya yakin sebagian motifnya mencari uang),bakalan lambat.

    mudah2an pemilu presiden kelak menghasilkan pemimpin yg betul2 menghargai karya anak bangsa dan mempunyai visi dan misi memajukan bangsa indonesia.
    cuma pendapat awam…..maaf

  18. sedap sekali indonesia semakin maju

  19. Iya bung septic,
    Maju dalam hal korupsi, kolusi, bayangin aja bung, kalau saja kebocoran apbn indonesia setiap tahunnya itu dipakai untuk riset roket dan rudal kita saya rasa untuk Indonesia mempunyai icbm dan roket sstelit itu gampang banget, untuk orang pintar kita tdk kekurangan,bayangin sja bung ahli radar di nasa itu orang Indonesia dan banyak lagi orang pintar kita di luar negri,cobs kita lihat with uncle panda, mereka panggil semua warga intelek mereka untuk kerja didalam negri mereka, sebenarnya kita tidak tahu kibijakan umum pemerintah kita tentang kemandirian tehnologi kita, kalau lihat dana riset yg dikurangi pda thn 2014.

    Salam dari medan untuk Ibu pertiwi tercinta,

    Hiduplah Indonesia raya.

  20. jarak jangkau 150km itu roket diameter berapa ya bung Jalo ?

  21. Berharap sekali Kemandirian Rudal bs cepat terlaksana,Ntr keburu Gunung LCS segera Meletus kan kita g tau tuch kpn terjadinya..Masih “AWAS”he..he..Maju & Jaya Indonesiaku…

  22. Mantab bung jalo artikelnya mkn bangga aq. Sbgsi rakyat indonesia

  23. Kamus warjag : dihentikan=dilanjutkan, ditolak=diterima, akan=sudah, dll… ups… maaf sotoy… 😀

  24. harusnya Palestina dibantu roket,bukan uang. duitnya nanti dikorupsi pejabatnya. kalo langsung roket, mereka bisa melawan. diujung roket pasang gas sarine supaya tentara israel mampus tiada tersisa. untuk gasnya,belajar ama yakusa. sambil menyumbang,karya bangsa langsung uji keampuhan dilapangan. Hitung2 persiapan kalau amerika dan australia mau obok2 indonesia.
    Amerika cs pendukung israel harus jangan dikasih hati. Boikot produk amerika,australia dan israel. Untuk pekerja diperusahaan bangsa tsb baiknya mogok kerja. Hentikan operasi tambang dan industri mereka di Indonesia dari sabang sampai Timika. Jangan biarkan OBAMA menginjakkan kakinya lagi di negeri ini.
    Kasihan Palestine,berjuang sendiri !!. korban bergelimpangan, orang arab jadi penonton, ummat islam dunia melongo tak tau mesti berbuat apa. Hanya satu cara, berikan mereka rudal penghancur yang mobile ntuk menghancurkan musuh mereka.

 Leave a Reply