Mengenal Destroyer Korea Selatan

108
1020

-Belajar dari kasus cuaca buruk dalam evakuasi korban dan pesawat AirAsia QZ8501, Indonesia ternyata butuh kapal besar 5000 ton ke atas, sekelas Destroyer multirole-

Destroyer Chungmugong Yi Sun Shin class, Korea Selatan
Destroyer Chungmugong Yi Sun Shin class (KDX-II), Korea Selatan

Pilihannya antara lain: Destroyer Chungmugong Yi Sun Shin class, KDX-II yang dibangun oleh Hyundai Heavy Industries dan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, sebagai kapal perang multirole dan ocean going warships untuk Angkatan Laut Korea Selatan.

Kapal perang ini dibangun untuk memperkuat pertahanan ROK Navy menghadapi ancaman militer Korea Utara. ADA 6 destroyer yang dibangun sebagai bagian dari project KDX-II, sebagai kapal perang klasifikasi true blue water, ocean going capabilities, yang tidak lagi mempersoalkan tingginya gelombang laut dalam operasinya.

Kasus pencarian AirAsia QZ8501 yang sering terkendala cuaca buruk dan ombak besar, menyadarkan kita bahwa Indonesia membutuhkan kapal besar ukuran 5000 hingga 8000 ton, yang tidak lagi mempersoalakan ombak besar dalam operasinya. Kapal Destroyer ini pun multi peran.

Peran Destroyer dalam operasi di cuaca yang buruk telah ditunjukkan dengan terang benderang oleh Destroyer USS Sampson. Dalam satu hari Destroyer USS Sampson beserta helikopternya dapat mengevakuasai 12 jenazah korban AirAsia QZ8501.

Destroyer Chungmugong Yi Sun Shin class, Korea Selatan
Destroyer Chungmugong Yi Sun Shin class, Korea Selatan

Spesifikasi KDX-II:

Misi :

  • Misi Tempur Anti-Udara (Anti-air warfare)
  • Misi Tempur Anti-Permukaan (Anti-surface warfare)
  • Misi Tempur Anti-Bawah Laut (Anti0submarinre warfare)
  • dapat melakukan serangan presisi terhadap target darat

Type :
Guided Missile Destroyer (DDG)
Korean Destroyer eXperimental II

Crew:
300 sailors

Performance :
Speeds: 29+ kts
Range: 5,000 nm @ 15 kts
Endurance: n/a days at sea

Persenjataan

Meriam:

  • 1x Bae Systems 5″/62 Caliber Mark 45 mod 4(127mm) main gun
  • 1x Thales Goalkeeper 30 mm CIWS

Misil:
Total 56 Vertical Launch System (VLS) Cell, berisi:

  • 32x Mk41 VLS berisi RAYTHEON RIM-66 SM-2MR Block III surface to air Missile
  • 24x Doosan K-VLS berisi Hyunmoo III Land attack Cruise Missiles dan/atau bisa diisi dengan K-ASROC Red Shark Torpedo
  • 1x Raytheon Mk49 mod 1 Guided Missile Launcher berisi 21x RIM-116 RAM Surface to Air Missile
  • 8x SSM-700K Hae Sung anti-ship Missiles

Torpedo:

  • 2x 324-mm Mm 32 triple torpedo launchers berisi K745 LW Blue Shark Torpedoes

Sensor, Elektronik, dan Perangkap (Decoy)

Combat Management and Information Systems:

  • Thales TACTICOS Combat Management System (CMS)
  • BAE Systems-Samsung KDCOM Combat Data System
  • BAE Systems WDS Mk 14
  • Samsung Thales Naval Shield Integrated Combat Management System

Radar dan ESM:

  • 1x Raytheon AN/SPS-49(V)5 2D Long Range Radar (LRR)
  • 1x MteQ SPS-95K search/navigation radar
  • 1x Thales MW08 G-band 3D target detection & tracking radar
  • 2x Thales STIR 2.4 Fire Control Radars
  • 2x Raytheon OT-134 missile target illuminators

Sonar:

  • 1x Atlas Elektronik DSQS-21BZ hull mounted sonar
  • 1x Daewoo towed linear passive sonar

Decoys/Counter measures/Jammers:

  • LIG Nex1 SLQ-200K Sonata EW suite and Jammers
  • 4x Mark 36 SRBOC decoy launchers (6rounds each)
  • 1x Daewoo towed torpedo decoy system

Communications:

  • Link 11, 16
  • SATCOM
  • LIG Nex1 & Huneed Technologies JTDLS (Joint Tactical Data Link System)
  • Thales AN 453/N Naval TACAN System

Displacement :
5,520 tonnes (full load)

Aviation :
Up to 2x Super Lynx Mk99 or SH-60 Seahawk

Dimensions :
Length: 150 m
Beam: 17.4 m
Maximum Draft: 9.5 m

Engines/Propulsion/Power:

Propulsion type: CODOG (Combined diesel or gas)
Gas turbines: 2x GE LM2500
Diesel engines: 2x MTU 20V956 TB92
2x Propeller Shafts

KDX-III Sejong the Great  :

KDX-III Sejong (depan) dan KDX-II diapit ole
KDX-III Sejong -DDG-991 (depan) dan KDX-II Chungmugong Yi Sun Shin (belakang) diapit oleh kapal perang AS

Setelah berhasil dengan proyek KDX-II Destroyer Chungmugong Yi Sun Shin class, Korea Selatan meningkatkan kemampuan destroyer mereka dengan membangun KDX-III Sejong the Great (DDG 991), dengan kemampuan AEGIS, yang pembangunannya dimulai tahun 2007.

Jika KDX-II Destroyer Chungmugong Yi Sun Shin class, berbobot 5500 ton, maka kakaknya KDX-III Sejong the Great berbobot 8000 ton dengan persenjataan:

Armament:
  • 48-cell K-VLS

108 KOMENTAR

      • Sebenarnya mah, yg kita butuhkan cuma kapal dgn kelas diatas 10.000GT
        sejenis LPD sehingga Helikopter dapat mendarat tanpa Oleng.
        karena dgn berat dan size Kapal akan tahan cuaca Buruk dan Ombak lebih dari 5 meter.
        LPD makasar class juga udah cukup ( walau 7.400GT) ,
        yg penting Helicopternya yg tahan CrossWind hingga 45 Knot, Sejenis SeaHawk atau EC-725 Cougar TNI-AU.. , jadi bisa beroperasi 24 jam.

    • IMO

      belajar kok melompat-lompat. lebih baik tetap ke damen agar philosophi kaprangnya seragam sehingga memudahkan desain baru ke depannya. lagi pula sigma bisa diperbesar maksimal type 15015 dengan spesifikasi kira2 sbb :

      MISSIONS
      • AAW
      • ASuW
      • ASW
      • EW

      WEAPON SUITE
      • Otobreda 127 mm large calibre gun
      • 2 x Goalkeeper close in weapons systems/skyshield millenium
      • Mk 41 VLS for Evolved Sea Sparrow missile and Standard Missile 2/Sylver series
      • 2 x Harpoon anti-ship missile systems/Exocet block III
      • 2 x Mk 32 torpedo launchers
      • 2 x Oerlikon 20 mm guns
      • Thales Sabre ECM
      • 4 x decoy launchers

      SENSOR SUITE
      • Thales APAR multifunction radar system
      • Thales SMART-L 3D long range surveillance radar system
      • Atlas Elektronik hull-mounted sonar
      • Thales SIRIUS long range infra-red search and track system
      • Thales Mirador electro-optical surveillance and fire control system

      compatibility dengan diponegoro class dan bung tomo class sudah tidak perlu diragukan lagi.
      negosiasi dengan damen menjadi lebih kuat karena follow on order. seumpama belajar sudah jelas silabusnya yang bertingkat dan berkesinambungan dibanding dengan kurikulum baru (kdx ii class).

          • Itulah bung trauma vietnam setelah dulu pernah kalah perang perbatasandengan china .. Mereka terus. Memperkuat prsenjataannya .. Kita terlalu santai dan terus berpikir kita tidak terkalahkan karena sikap nsionalisme kita tinggi .. Tapi jaman semakin modern selain semangat kita juga butuh senjata mumpuni .. Semoga bs lebih baik .. NKRI jaya

          • ya jelaslah bung. jika jumlah sedikit harus punya senjata yang luar biasa ampuh. bukankah sejak jaman dahulu sudah diberikan pelajaran lewat kisah mahabarata. pandawa yang berjumlah 5 bisa mengalahkan kurawa yang berjumlah 99 karena bukan hanya bermodalkan jiwa yang teguh dan jasmani yang perkasa. tetapi masing2 anggotanya mempunyai pusaka yang hebat di kelasnya.

          • Bung majapahit. Nasionalisme tinggi bkn khas milik Indonesia malah kalo mau jujur Indonesia tdk dikenal sbg bangsa dg nasionalisme tinggi. Kalo belajar sejarah ribuan tahun, bangsa dg nasionalime tinggi Jepang, Inggris, Jerman… Indonesia nggak tau urutan berapa..

          • yang salah itu duitnya, kalau beli pasti mampu 1 atau 2 biji, yang ngak mampu adalah merawatnya dan mengoperasikanya.

            yang bener adalah, kita butuh kapal komando semacam LHD, 1 atau 2 biji, serbaguna, yang mampu menampung heli Chinock atau Mi-6

            Kalau Destroyer, saya kita kurang berfungsi, karena kita adalah negara kepulauan yg rawan bencana

          • lah iya bung jangankan sama negara lain. utk ngusir dan nangkep pecuri laut aja udah kerepotan

      • setuju bung alugoro, belajar gak boleh lompat2 tar jadinya kayak ”pocong” ih… syerrem….. piece bung ps, salam kenal bung alugoro. semoga kedepan kita mampu membuat destroyer kita sendiri dan menjadi bangsa yg mandiri, kuncinya adalah kedisiplinan dan kerja keras, jayalah indonesia. amiin……..

        • sepintas lalu memang bertahap bung freddy. coba kita telaah lagi. seumpama di bela diri kita belajar jurus. kita baru di level hanya mencontoh. sehingga kita tidak tuntas menggapai esensi dari jurus perguruan tersebut. selanjutnya kita keluar dan berguru di perguruan lain begitu juga baru tahap mencontoh jurus. mungkin kita bisa merangkai jurus bermacam-macam tetapi kosong. begitu ketemu lawan tangguh langsung ko. lain halnya kalau sudah lulus dari perguruan. silakan memperkaya khasanah dengan belajar kepada guru yang lain. harapan saya kita fokus pada satu acuan. contoh yang berguru berpindah-pindah sehingga harus kembali ke titik “ZERO” adalah proyek roket. dari berbagai artikel di warjag tentang roket esensi itulah yang saya tangkap. bisa jadi saya salah.

          lagi pula mengapa kita menaruh semua telur ke dalam keranjang yang sama ? bukankah lebih baik telurnya ditaruh di beberapa tempat ? ks & ifx atau entah apalagi ? IMO terlalu riskan. dengan konsep modularity tentang kapal perang mungkin lebih baik kita berkiblat ke eropa. silakan lirik desain meko 600 atau fremm.

          • waduh bahasa lu ketinggian gw agak bingung jg bacanya, gw bikin gampang dah mungkin maksutnya fokus sama 1 barang dl kali yah sampe bener2 ngerti belajarnya abis itu dikembangin yg jauh lbh besar, bgt gak kira2, kl emg bener ya gw jg bgt pikiranya.

      • Betul bung… Sebenarnya internal kita (PAL) sudah mampu membangun konstruksi kapal dengan dimensi apapun apalg untuk hull + kontruksi utk kaprang, yang susah kan membuat “inside” dari sebuah kapal perang dan ini yg kita masih dlm proses belajar. Semoga ke depannya industri internal kita sudah bisa membuat “inside alias jerohan” dari sebuah kapal perang yg diawali dengan Proyek Sigma & Changbogo tsb.

  1. …Belajar dari kasus cuaca buruk dalam evakuasi korban dan pesawat AirAsia QZ8501, Indonesia ternyata butuh kapal besar 5000 ton ke atas, sekelas Destroyer…

    kapal yang lebih besar betul, tapi lebih bagus lpd daripada destroyer, karena dek yang luas lebih versatile untuk memfasilitasi pergerakan heli dalam kegiatan evakuasi korban ke darat.

    kri makassar berbobot 8,400 ton.

    • Yang ada di TKP, KRI Banda Aceh spesifikasi panjang 125 meter, lebar 22.044 meter, berat 7.286 ton. Memiliki kecepatan maksimum 15 knot, daya angkut?mampu mengangkut 344 personel, 5 helikopter jenis Mi 2/Bel 412, 2 unit LCVP, 3 unit howitzer dan 21 Tank.

        • Kendala cuaca dalam penanganan korban air asia itu ga ada hubungannya dengan bobot kapal TNI AL. Kapal-kapal KRI itukan kalau mau ngambil jenazah harus menurunkan sekoci atau perahu karet, nah disini kendalanya. Bayangin aja sekoci atau perahu katet dihantam ombak 2-3 meter, kebalik dah.

          • KRI Kapiten Patimura dikabarkan/diberitakan tidak berani melaut ke lokasi pencarian AirAsia karena cuaca buruk..Itu adalah bukti kapal kita tidak bisa menghadapi gelombang besar yang ada di lapangan.Walaupun punya panjang 75 mtr .Memang kapal ini di rancang beroperasi bukan untuk laut indonesia yang punya karakteristik berbeda dengan peruntukan awal di negara asalnya.Tiap lautan berbeda karakteristik gelombang lautnya ,untuk itu perlu di perhatikan dalam perancangan kapal seperti misalnya meninggikan haluan kapal dari dari pada buritan.Untuk kapal kecil hal itu pasti sangat berpengaruh.Kalau kita perhatikan kapal US bagian depannya jauh lebih tinggi dari buritan sehingga dapat menahan ombak yang tinggi.

    • Saya setuju penggunaan Kapal perang kelas diatas 4000 ton mestinya tidak cuma dikelas LPD (makasar class), Kapal Bantu Cair Minyak (BCM) ( KRI TARAKAN -905 class),Kapal Angkut Personel (KRI Tanjung Nusanive class),Kapal Tanker (AOTL) (KRI Arun (903) class) namun terutamanya untuk kapal2 perang KRI yang biasanya dinamai dengan nama2 dari nama2 pahlawan bangsa ini biasanya dari jenis kapal Frigat,kapal Perusak yang dijamin mampu mengevakuasikan korban bencana tanpa pengawalan tidak cuma dalam masa damai dari suatu tempat namun juga dalam masa dibawah peperangan sehingga besaran korban perang dari tni kita dalam peperangan tidak didominasi oleh banyaknya korban2 kecelakaan udara dan air armada tni yang tidak tertolong karena hanya mengandalkan KRI2 non nama pahlawan yang sifat operasional sikapal “bisa dalam keadaan tertentu saja”

  2. Dah beberapa hari gak komen…. Enaknya komen apa ya?
    Semua negara pasti ingin memiliki semua jenis sista, tapi terkadang banyak kendala untuk memenuhi semua jenis sista tersebut sehingga harus dibuat skala prioritas. Destroyer dan kapal2 “kecil” kita butuh keduanya. karena keterbatasan anggaran, kita harus memilih mana yg paling dibutuhkan saat ini. TNI harusnya lebih tahu tentang ini.

  3. Salam kenal abang” warjang.

    Yang pasti semua unsur terlibat dalam misi ini setelah selesai pasti ada evaluasi tinggal kemapuan/daya beli Negara kita saja lagi untuk menutupi keurangan” ini.

    Saya membayangkan kalau dalam kondisi perang, cuaca buruk apakah KCR 40m, KCR 60m dapat berfungsi dengan baik..? mohon pencerahanya.

    • Kcr 40/60 tetap bisa berfungsi dengan baik, masih bisa mengarungi ombak setinggi sampai 5 meter. Persoalan combat management system tak masalah krn cmputerize.

      Untuk perang, siapa yang duluan deteksi, dia kemungkinan yang akan menang. Nah, untuk mempertajam deteksi, biasanya menggunakan helikopter untuk bawa sonar, cek kapal musuh di dalam laut, atau bawa radar utk cek kapal permukaan di over the horizone target.

      Kalau ombak besar, semakin sulit bagi helikopter utk terbang dan mendarat, krn goncangan ombak semakin tinggi. Dengan tidak bisa melepas helikopter, daya undus semakin kecil. Tentu kcr40/60 kita tidak ada heli.

      • Bung Diego kemaren ada berita KRI Patimura terpaksa lego jangkar di Pangkalan Bun,terpaksa tidak ikut mencari karena dikabarkan ombak dilokasi jatuhnya pesawat setinggi 5 meter. Padahal kapal itu punya panjang 75 meter,bagaimana anda menjelaskan hal itu?Dalam perang tentu ada stateginya dalam pengoperasian kapal misal dalam satu armada yang selalu berbagi informasi dan peran .Jadi tidak mutlak kapal kecil ,tidak punya heli bukan berarti kalah dari kapal besar .Untuk itu diperlukan ada link yang bisa menghubungkan informasi baik sesama kapal laut maupun dengan pesawat tempur ataupun heli ataupun satuan marinir dan AD yang jadi pertanyaan apakah alat tsb sudah dipunyai Indonesia atau belum mengingat kita punya alutsista gado gado dari beberapa negara.

      • Kapal ukuran 75 meter, sudah pasti bisa mengarungi ombak 5 meter, tapi belum tentu bisa menurunkan sekoci atau melakukan evakuasi, krn kapal akan bergoyang.

        Korvet kita sigma class, CMS nya pakai tacticos dan bisa nge-link (data link) dengan Bung Tomo Class. Ya lumayanlah.

        Kalau yang KCR 40/60 belum bisa tukar link dgn sigma. Inilah PR ke depan bagi Angkatan Laut, agar KRI yang ada bisa tukar datalink.

        Kalau sudah punya datalink, kapal terdepan bisa menjadi mata bagi kapal kapal lainnya. Bisa saja kapal A yg deteksi, Kapal lain yg nembak rudal. Tapi skrg baru bisa antara sigma class dan Bung Tomo class.

        • Terima kasih atas penjelasan Bung Diego dan Bung Jalo berarti KRI Patimura kemaren diberitakan tidak melaut bukan karena ombaknya setinggi 5 mtr tapi karena tidak bisa membantu mengangkat puing atau jenazah dengan ketinggian ombak segitu.Sangat disayangkan apabila ada produser dalam negri yang sudah bisa membuat tapi tidak dimanfaatkan oleh user kita.Mental kita harus di robah selalu memandang sebelah mata buatan bangsa sendiri.Ahli ahli kita sendiri.Jangan sampai mereka nanti pindah keluar sana karena frustasi dengan bangsa sendiri.Perang dunia ke II dimenangkan sekutu karena mampu menerjemahkan sandi jerman .Sekutu terpaksa mencuri mesin sandi Jerman sehingga jerman takluk.Pentingnya informasi telah terbukti dalam memenangkan perang.Apalagi ini buatan sendiri tentu lebih aman daripada beli dari luar yang mungkin saja disisipi alat sadap dsb.

  4. Sebenarnya, kalau dibandingkan dengan negara negara tetangga Indonesia sudah jauh tertinggal dalam hal pengadaan kapal kapal perang, lihat aja malaysia dan Singapura, Myanmar, mereka sebenarnya udah jauh melewati kita dgn kapal kapal yg lebih gahar, kita selama orde baru mandul dalam riset dan pengembangan ilmu kemiliteran karena selalu dikatakan oleh para jenderal tidak akan terjadi perang dalam waktu dekat,moga moga kedepan nya Indonesia bisa lebih maju lagi dalam hal riset dan percobaan untuk mengejar ketertinggalan kita. Dan semoga kebiasaan korupsi di negri ini bisa cepat ditinggalkan demi untuk kemajuan bangsa Indonesia.

  5. Mau bukti lihatlah KRI Banjarmasin (592) jenis
    yg dgn bobot 73000 ton dibuat oleh PT. PAL dimana Kapal ini dirancang
    sebagai kapal pendukung operasi amfibi, yang
    memiliki kemampuan mengangkut pasukan
    pendarat berikut kendaraan tempur beserta
    kelengkapannya. Kapal ini juga mampu
    mengangkut 5 buah helikopter (3 di geladak heli,
    2 di hanggar). Selain sebagai kapal tempur,
    kapal yang berteknologi desain semi- siluman ini
    juga berfungsi untuk operasi kemanusiaan serta
    penanggulangan bencana alam.

    Buatan sendiri tdk kalah dengan destroyer negara lain dan kita harus bangga dgn INDONESIA .. Kalau bisa sekelas KRI IRIAN BELI SAMA OM RUSKY ..

  6. salam kenal Bung Wardog, anda benar KRI BANJARMASIN bukan kelas Destroyer tapi Kita anak Republik harus bangga dgn nya dan bisa digunakan untuk misis penyelamatan air asia .. secara TNI AL telah memiliki KRI Jenis Destroyet UDALOY CLAS from Papa Bear ..

  7. Setuju TNI-AL harus punya generasi kapal perang jenis terbaru dan “Baru” bukan beli Second entah Frigate Atopun Destroyer Class yg bobotnya lebih dri 5000 ton Kasian tu Ahmad Yani Class udah hampir 30tahun lebih beroperasi belum ada penganti yg sepadan ato lebih hebat dri classnya

    • Ahmad Yani class akan diganti dengan PKR 10514 kerjasama PT. PAL dengan Damen dari Belanda, proses pengerjaannya 1 kapal dibuat di Belanda satunya lg di rencanakan di PT PAL Indonesia,,,setelah bisa buat nanti tinggal diperbanyak untuk menggantikan Ahman Yani Class..

  8. assalamualaikum agan agan terhormat,,,, hal seperti ini kita percayakan pada TNI dan pemerintah saja,,,,, saya yakin PAL pasti bisa bikin destroy suatu saat, apalagi skrang PAL kn sudah krjasma bkin frigat dg belanda,,,,, maaf kalo ada yg salah,,,,mhon di koreksi

    • Yup bener bung Zain, PT Pal sudah punya program jangka panjang. Tapi semua itu akan dimulai dengan pelan2, untuk membangun kapal sekelas destroyer menurut orang Pal itu gampang. Buktinya mereka sudah buat kapal star dengan panjang 189,840 meter dan lebar 30,50 meter . Lalu ada LPD, saya yakin kalau cuman kapalnya aja kita bisa, tapi menurut engineer PT Pal, yg susah itu aplikasinya baik system hingga armaments. Jadi untuk ini kita akan belajar pelan2, mulai dari PKR, kedepan pasti naik kelas. Yah dimaklumin bung, PT Pal baru dipercaya user baru2 beberapa tahun terakhir, dengan kesabaran Insyallah kedepan kita bisa membuat destroyer sendiri.

      Kesuksesan itu perlu pengorbanan. Biarpun pelan-pelan, asal bisa sampai ke tujuan, maklum anggaran kita tidak sebesar mereka. Pasti banyak yg protes kita sudah mau perang dengan asumsi2 yg gak ada bukti itu, tapi ingat negara besar itu terkenal karena apa yg mereka buat sendiri.

  9. Benar2…setuju bang saya, ujung2nya rakyat juga kan hehehehe…. Makanya Pemerintah dan TNI harus jangan terlalu terlena “1. Doktrin Perang/Pertahanan Rakyat Semesta tersebut (@Preman senen) 2. Dalam waktu dekat tidak akan ada perang (@garuda perkasa) sehingga kemajuan alutsista TNI terkesan “lamban dan seadanya” karena minimnya dukungan dan perhatian Pemerintah dalam anggaran alokasi APBN (harusnya sih ideal minimal 2%)…. Kalau ada serangan jangan ada di pikiran ” kalau kalah di gempur, kan ada rakyat”, seperti seorang anak yang kalah berkelahi kembali dan mengadu minta perlindungan pada ibunya. Tetapi bukan berarti kami sebagai rakyat akan berdiam diri negara kami dalam bahaya, meskipun kami tidak memegang senjata canggih,,, pake golok pun dah jadi kalau berperang heheheheh…
    Tapi bang.. sebenarnya kita telah di perangi dan di jajah secara Ekonomi (menurut saya sih, analisa orang awam). Syukurlah di era Pak SBY pembenahan sdh mulai di lakukan dengan adanya MEF… tinggal kita lihat di era Pak Jokowi ini bagaimana nasibnya 5 tahun kedepan.

  10. maaf Bung Wardog, berita Udaloy Clas TNI AL pernah dimuat di warung sebelah formil Alutsista blogspot.com .. bulan saya yang mengada ngada .. hanyasanya berita alutsista canggih di NKRI ini suka dighoibin deh … rakyat jadinya gagal paham ..

  11. DESTROYER MADE IN INDONESIA
    Ane stj skl RI punya kpl destroyer, bhkn kpl induk, tp yg hasil rancangan sndiri. Klu cm beli sih ttangga jg bs.
    Maaf sblmnya.
    Apa ilmuwan RI & PAL ga mmp buat kpl tsb dr hasil rancangan sndiri? Ga inovatif sm skl.
    Tiru tuh Lapan & DI, mrk bs buat pesawat yg lbh besar sndiri, tanpa hrs belajar utk setiap kelasnya. N2140 bhkn ter… didunia.
    Pregat diperbesar aja dah jd destroyer, lg jd penjelajah, dan lg jd induk.
    Cintailah ploduk2 Indonesia!
    Majulah bangsaku!

  12. kendala kita itu bukan dikapalnya, nyatanya KRI Bung Tomo tetap stay di TKP, cuma kita sensornya kalah canggih, dan hambatan utamanya adalah para Penyelam nggak Save mencari korban di gelombang setinggi dan cuaca seekstrim itu, ( simpulane wong awam, NKRI harga mati)