Jul 102014
 

f-16-52.jpg

Pesawat tempur F-16 C/D yang saat ini sedang di-upgrade di Hill AFB memiliki nama resmi F-16 C/D k 52 ID, memang akan memiliki kemampuan dalam banyak hal setara F-16 Block 52, khususnya kecanggihan avionik, kemampuan tempur, dan jenis persenjataannya. Seluruh pesawat hibah sebelumnya digunakan AU AS dan sudah disimpan dengan baik di Davis Monthan AFB/AMARG (Aerospace Maintenance & Regeneration Group) di gurun yang sangat kering sehingga sangat ideal sebagai tempat penyimpanan pesawat AU AS. Sementara seluruh mesin pesawat F-16 C/D 52ID yaitu F100-PW-220/E menjalani upgrade di pabrik Pratt & Whitney di Old Kelly AFB, sehingga memiliki umur komponen dua kali lebih lama dari mesin standar.

Sebetulnya F-16 C/D 52ID F-16 berdasarkan F-16 C/D Block 25 yang memiliki bentuk fisik dan berat kotor maksimum serta tipe mesin yang sama dengan F-16 Block 15 A/B OCU yang kita miliki. F-16 C/D 52ID memiliki berat kotor maksimum 37.500 lbs dan mesin jet turbo fan yang sama yaitu Pratt & Whitney F100-PW-220/E dengan daya dorong 24.000 lbs sehingga memiliki thrust to weight ratio 0,64. Beda dengan F-16 C/D Block 52 yang mempunyai berat kotor maksimum 52.000 lbs dan didorong mesin F100-PW-229 dengan daya dorong 29.000 lbs yang memiliki T/W ratio 0,56. Dalam close combat atau pertempuran udara jarak pendek, F-16 TNI AU dengan T/W ratio lebih besar memiliki kelincahan lebih baik dari F-16 Block 52.

Selanjutnya pesawat menjalani upgrading dan refurbished rangka serta sistem avionik dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center di Hill AFB, Odgen, Utah. Rangka pesawat diperkuat, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua sistem lama direkondisi menjadi baru dan sistem baru ditambahkan agar pesawat lahir kembali, siap menjadi pesawat baru dengan kemampuan jauh lebih hebat dari saat kelahirannya.

Menyangkut peningkatan kemampuan memang F-16 C/D Block 52 dengan daya dorong lebih besar mampu mengangkut senjata lebih berat dan bisa dipasang Conformal Fuel Tank di punggung dan menggotong drop tank 600 gallon sehingga bisa terbang lebih jauh. Namun untuk urusan pertempuran udara, dengan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder P-4/L/M dan IRIS-T (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C, jelas F-16 C/D 52ID TNI AU tidak kalah dengan Block 50/52.

Bahkan dipastikan dalam duel jarak dekat, F-16 C/D 52ID TNI AU mampu mengungguli Block 50/52 soal kelincahan. Untuk serangan permukaan darat dan perairan, F-16 ID juga mampu menggotong persenjataan kanon 20mm, bomb standar MK 81/82/83/84, Laser Guided Bomb, rudal AGM-65 Maverick, AGM-84 Harpoon antikapal, AGM-88 HARM antiradar, ACMI Pod serta mampu menggunakan navigation dan targeting pod untuk operasi malam hari serta misi Suppression Of Enemy Air Defence (SEAD), yaitu menghancurkan pertahanan udara musuh. Improved data modem memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara hanya menggunakan komunikasi data dengan pesawat lain dan radar darat, radar laut atau radar terbang.

Upgrade F-16 C/D 52ID tidak main-main karena mengejar kemampuan setara dengan Block 52, di antaranya memasang Mission Computer MMC-7000A versi M-5 yang dipakai Block 52+ dan bahkan F-22, dilengkapi komputer sistem kemudi (FLCS) digital, sepasang Multifunction Displays Berwarna block-52, HUD lebar block-52 dengan kemampuan night vision, digital terrain system & Digital Moving Map block 52, color cockpit camera block-52, throttle grip & side stick controller Block-52, countermeasures management switch to control ALE-47, voice message unit untuk collision avoidance system dan ground avoidance advisory function Block-52.

Pemindahan landing/taxi lights ke nose landing gear door untuk memberi tempat pada targeting pod, improved data modem link 16 Block-52, embedded GPS INS (EGI) block-52 yang menggabungkan fungsi GPS dan INS, common data entry electronics unit Block-52, AN/ALQ-213 electronic warfare management system, ALR-69 Class IV radar warning receiver, ALE-47 countermeasures dispenser set untuk melepaskan chaff/flare serta pemasangan instalasi drag chute Block-52 yang akan dipasang di Indonesia.

Sementara radar AN/APG-68 (V) di-upgrade software agar meningkat kemampuannya sesuai mission computer 7000A. Prinsipnya F-16 C/D 52ID TNI AU menjalani program The Common Configuration Implementation Program (CCIP) seperti yang dilakukan pada F-16 CD Blok 40/42 AU AS agar meningkat menjadi standar Blok-50/52.

Semua F-16 C/D 52ID TNI AU juga menjalani modifikasi struktur rangka pesawat dengan program Falcon STAR (Structural Augmentation Roadmap) sehingga umur rangka pesawat menjadi lebih dari 10.000 jam. Hal ini memungkinkan pesawat dipakai 10 tahun lagi sebelum menjalani Service Life Extension Program (SLEP) yang mampu menambah umur rangka pesawat sekitar 2.000 jam atau 10 tahun masa pakai.

Pada saat usia pakai F-16 C/D 52 ID berakhir maka diharapkan Indonesia sudah memiliki armada pesawat tempur modern masa depan generasi 4,5 atau generasi 5. F-16 C/D 52ID ini merupakan jembatan yang sangat baik untuk membawa Indonesia selangkah lebih maju, tidak hanya menghasilkan penerbang dan teknisi yang mahir, namun juga membawa kita untuk bersama-sama menguasai teknologi, manajemen, dan taktik pertempuran udara modern, khususnya dalam operasi gabungan dengan alutsista lain di darat, laut dan udara. Sehingga tahu apa yang diperlukan Indonesia untuk membangun air power yang kuat. (Kol. Pnb. Agung “Sharky” Sasongkojati – Angkasa.co.id).

  103 Responses to “Mengenal F-16 C/D Block 25 TNI AU”

  1. PERTAMAX

  2. Absen

  3. 10 besar

  4. hadir

  5. Hadir.. 5

  6. mantabs…

  7. suatu kemajuan tp klo ktmu F-22 sama aja jd bulan bulanan tu raptor

  8. top ten

    • “F-16 C/D52ID ini merupakan jembatan yang sangat baik untuk membawa Indonesia selangkah lebih maju”…. hanya untuk menambal kekurangan sekalian bwt belajar, sambil menunggu IFX kelar… semoga IFX nanti lebih gahar…

      • Yakin aja bung pespur indigenous kita pasti lebih ok, belajar dari kasus cn 235 yang kita anggap sebagai ajang magangn ternyata varian produksi lokalnya dikembangin gila2an, terakhir malah pake ditambah wingtips, lalu n250, Siapa sangka siswa magang bisa buat sendiri pesawat angkut yang dilengkapi fly by wire….andaiakan aja gak ada gonjang2 krismon….

      • ” tahu apa yang diperlukan Indonesia untuk membangun air power yang kuat ” dengan artikel dari pak Sharky ini kita menjadi lebih paham apa yang menjadi tujuan awal diakuisisinya hibah F16 dari amerika..jangan hanya dilihat dari kacamata awam yang negatif saja, mudah2an penjelasan dari artikel diatas sudah cukup membuat rekan2 yang kontra menjadi lebih mengerti..

  9. Doyan bngdz y negara qt nerima hibah dri ASU,,,,

  10. Horee 10

  11. Absen ah..

    • fill the Gaps dulu dengan mengejar kuantitas, baru nanti setelah gaps tertambal, memperbaiki kualitas piece by piece.. saya rasa langkah ini yang paling masuk akal melihat kondisi kita yg baru mulai revitalisasi kekuatan tempur armada kita.. duit kita banyak.. tapi keperluan kita juga banyak.. kalo masalah yg ghoib-ghoib, biarlah hanya TNI sebagai user. dan musuh yg kena kepruk oleh user yang tau…kita..? gak usah kepo lah.. hahahaha..

  12. Emang masih tren ya aplikasi di medan sebenarnya dogfight ? Saya kira nggak

  13. lumayan bisa utk hadapi black flight & bantu patroli laut buat menghajar kapal illegal fishing

  14. Ada yang tau kira” jumlah sukoi auri saat ini bung,.. kok tetangga pada kepo,.

  15. ada yang tau detil system arhanud iron dome milik israel..? mohon dibabar dimari…

  16. Absen

  17. @bung UCAV .. nyolek sesepuh siapa ya enaknya yang tidak lagi siaga 1 ?

  18. absen aaachh.. hadir komandan

  19. Kejar jumlah/kwantitas sih oke2 saja, tapi jangan lupa senjata pamungkas harus punya. Ibarat pendekar itu harus punya jurus pamungkas/jurus andalan kalau ingin jadi pendekar yg disegani dan ‘ditakuti’, tidak boleh menunggu kalau jurus2 biasa sudah fasih dan lengkap baru jurus pamungkas dikuasai. Meskipun anggaran TNI dalam kondisi serba terbatas, senjata pamungkas (penggetar) AD,AL,AU tetap harus punya. Masalah bentuknya seperti apa, para sesepuh yg lebih tahu. (Walau lagi siaga satu, boleh koq dicolek).Xixixixi.

    • Kebanyakan maen game jadi kali ya, jadi TNI harus beli ini itu dll…..kayak yang lebih ngerti dan ahli senjata dan strategi dari TNI sendiri he..he…he…, kalau masalah Palestina he..he…he…. kita yang jauh posisinya bung, yang sesama negara Arab dan bertetangga aja pada diem seribu bahasa, semua negara didunia ini bung mau tidak mau suka tidak suka tergantung sama Amerika/Israel, apalagi contoh kecil aja nch yang kita konsumsi Aqua ampe yang teman-teman pakai tiap hari Internet, google itu punya siapa bung, kalau masalah pespur kita tentunya masih ingat ketika F-5 E kita yang waktu itu ada di Kupang intercept Hornet Ausei yang tanpa ijin lewat, mungkin banyak temen kita yng lupa…….

  20. @bung nar or bung2 yg lainnya
    mau nanya

    knp kita boleh upgrade f16 bisa dibilang seenak kita?
    bahkan mungkin sdikit di bawah atau di atas singapur?
    ada kepentingan apa AS bisa seperti itu

    • kontrak karya freeport bung diperpanjang pek 2040

      • klo itu tanpa adanya hibah F16 juga ane pikir bakal di perpanjang bung
        dngan syarat freport buat smelter
        smelter di buat 2015 jdinya kan 2018
        klo tanpa perpanjang kontrak mana mau bikin smelter dan renegosiasi kontrak

    • Assallamualaiku..wr.wb.
      om Love Ina klo Puput berpandangn F 16 C/D 52ID apakah kepanjangn dr ‘ID’ ne adlh israel defence apakah jg ne versi upgrade/impor dr varian F 16 I SOUFA (Storm).yg di pakai oleh yg di Pakai oleh Angkatn Udara Isroil,klo bnr brarti F16 C/D 52ID ne adalh sm kemampuan dengan F 16I SOUFA.brarti ne adalh F 16 Super ?
      saiya alias Mutan.krna merupakn Fighter
      dan Ground Attack yg sangt
      mumpuni.krna pengmbangnnya adlh F16
      blok 50/52 yg di upgrade di Isroil
      sono.sdngkn versi TNI-AU adlh upgrade
      dr Blok F16 C/D Blok 25 sehingga di
      berinama F16 C/D 52ID yg merupkn
      saudara kembr hmpr serupa F160I
      Soufa.krna klo di
      liht dr spesifikasinya mirip.mulai dr
      Penggunaan engine yaitu F-100 PW 229.
      mungkin Perbedaannya slah satunya
      Sistem persenjataan,kendali tembak serta
      rak senjata.klo untk F 16I Soufa di instal
      dan di buat oleh IMI ‘Isroil militery
      Industries’ mungkn klo untk F16 C/D 52 ID
      di Instal dan di buat oleh AFB/
      AMARG.untk Persenjataan F 16I Soufa
      menggunakn Rudal air to air jark pendk
      ‘WVR’ dengn Phantom.untk jark jauh ‘BVR’
      menggunakn Phoinix.klo untk F16 C/D
      52ID Menggunakn Rudal AIM 9 Sidewinde
      r P-4 L/M untk WVR.sedangkn untk
      BVRnya menggunakn Rudal AIM-120
      AMRAAM C-5,C-7 mungkn jg sampai
      AMRAAM D type termutannya seperti yg di
      pakai oleh F-16 blok 52++nya
      Singapur,atwpn F 18 hornet/Super hornet
      Ausy.inilah salah satu alasan upgrade F16
      Blok 52++ milik Singapur menggunakn
      Radar AESA yg nantinya akn lebh canggih
      dr F16 Blok 60 milik Angktn Udara Arab
      saudi.baik dr sistem
      Persenjataan,Avionik,Kendali
      tembak,pemandu GPS,ESM,ECM maupun
      ECCM untk menghadapi Pernika.nah yg jd
      pertanyaan di hati Puput adalah F 16 C/D
      52ID banyak Perangkt yg di buat oleh IAI
      ‘Isroil Aircraft Industries’.di antaranya untk
      ventral vin,rudder,horizontal stabilizer dan
      engine acces door di buat bersama oleh
      IAI Dengan Pratt & Whitney di old Kelly
      AFB.Helmet khusus Dash 4 buatan
      Elbit.HUD lebar dengn sistem wide angle
      yg setara blok 52++ yg di buat oleh Elop.untk layar depan pilot sepasang multi
      fungsi Display berwarna buatan
      Austronautics C.A. Petah Tikva,Isroil.
      Beserta Transmitter set jg made in Isroil.
      untk radar AN(APG)V mungkn menggunakan AN(APG)V9.

      • Ralat ma’af maksudnya F16 C/D Blok 52ID maksudnya Indonesian Defence bukn Isroel Defence.
        ma’af klo ada yg kurang berkenan.
        Analisa ngawur dr Nak Sekulahn.
        wassalamualaikum.

  21. absen

  22. Bung nara..lma g muncul mngkin ge siaga 1,qu rindu hoex-hoax magrifahx nich…

  23. Ada penampakan F16 ID yg sudah ber tag TNI AU ga nih bung sepuh?

  24. Aku mo tanya nih F16 khan termasuk light figter, Sukhoi 27/30 khan tipe heavy fighter. Sejauh mana sih kebutuhan yang dilebihkan dahulu?. Untuk ronda saja mungkin F16/T50 cukup. Lha kalau untuk menggebuk musuh yang bandel yang datang secara kroyokan gimana….? Jadi mana yang lebih dulu dipenuhi agar angkasa kita ini tidak bolong….?

  25. “Sementara radar AN/APG-68 (V) di-upgrade software agar meningkat kemampuannya sesuai mission computer 7000A”

    Kalau ga salah Block 50/52 radar standardnya AN/APG-68 V(5) malah punya singpore udah di upgrade ke AN/APG-68 V(8). kalau punya kita upgradenya ke versi brapa ya ?

  26. jadi pengen tau nih,
    adakah yang masih menganggap F16 hibah yg bakal kita terima adalah barang rongsokan? odong-odong?

    :mrgreen:

    • bukan masalah rongsokan odong2 bung, tapi efek deterentnya yang kurang, apalagi dibanding pespur tetangga yang sejenis. kalo buat patroli ato nunggu kedatangn IFX se gakpo2 bung..Tapi gak masalah jga buat nambah otot TNI AU. Kalo saya tetep suka Flangker

      • Mungkin biarpun f16 hibah ne dah diuprek abis sekalian ngegendong pensil yang gahar tapi tidak menganggu kedantangan su-35nya

      • Benar, F16 hibah itu juga diperlukan utk ronda wilayah NKRI yg sangat luas, sekali2 juga utk akrobat udara. Kalau utk perang / menjaga kewibawaan ya harus punya armada pesawat tempur yg bisa menggetarkan sonotan dan sonora (analisa musuh yg paling besar potensinya) bukan armada pesawat tempur yg menggelikan sonotan dan sonora. Xixixi jadi ingat alat penggeli.

      • Efek deterennya kurang? Buktinya setiap latihan F16 OCU kita yang lebih kuno aja selalu berhasil nge lock F16 SG. Hehe apalagi ini yang sudah diretrofit. Sya pegang f16 Retrofit ini klo lawan F16 SG blok 52.

        • Kalu dogfight mungkin iya bs ngelock biung cakra soalnya F-16 lebih ringan sedangkan punya Upil ada external tank..tapi kalau BVR kalah bung f-16 kita

          • utk bvr, killing prob bvr missile cuman 20% utk hard target & sangat sulit memposisikan target dalam “non escape zone”. beda saat kondisi wvr…….so….silahken menilai sendiri dweh……. he,he,he

          • halo bung @mef

            dengan penjelasan bung @erich, sepertinya kita semua perlu belajar lebih banyak tentang hal ini, yang tampak di depan mata belum tentu seperti yang kita ketahui, yang kita ketahui berdasarkan spesifikasi teknis juga belum tentu akurat seperti paparan klaim pihak pembuat….so bung @erich boleh dong dibabar dimari ? …….hehehe

          • Bung Erich, apakah radar/sistem peringatan di pespur bisa memberi tahu pilot apabila pesawat di LOCK lawan (darat, laut, udara) dan memberi tahu dari arah mana datangnya rudal lawan?

            Salam bung Erich

          • @Bung Buddy90, pan ada AN/ALR-69 nyang fungsinya sbb:
            The ALR-69 Class IV Radar Warning Receiver [RWR] system provides the following functional capabilities: RF threat situational awareness, threat signal processing, reprogrammability, associated defensive support equipment and training equipment, and future Electronic Warfare (EW) interfaces to other avionics defensive/offensive equipment. The RWR system detects, identifies, processes and displays airborne interceptor (AI), surface-to-air missile (SAM) and anti-aircraft artillery (AAA) weapon systems. Situation awareness provides the crew with threat type, emitter mode and threat angle-of-arrival (AOA) information. The RWR system integrated diagnostics provide the crew and maintenance personnel system diagnostics data. The RWR Blanking Interface allows on-board systems to partially or totally inhibit the RWR’s ability to collect data

            The AN/ALR-69 continuously monitors the radar environment to alert the pilot of any hostile or foreign activity that may be taking place. When it receives a radar signature it compares that signature to its database of threats and displays a graphical symbol of that radar so the aircrew can see what kind of radar is “painting” their aircraft; whether it be friend or foe. If the system determines the radar is an immediate threat it will give a distinctive audible warning. The system is updated continuously as new threats are encountered or to improve system operation. …….kurang lebih spt itu penjelasannya bung Buddy90, salam………he,he,he

          • Terima kasih Bung @Erich, udah dijelasin panjang x lebar = mumet hehehe :mrgreen: . Tapi ane ngerti sih secara garis besarnya emang ada sistem peringatan dini yg ngasih tau akan adanya ancaman terhadap pesawat tsb sehingga memungkinkan pilot untuk menghindar.

            Jadi emang skill pilot yang menentukan di dalam pertarungan udara ya Bung, bukan semata-mata karena kecanggihan pespurnya.

            Selamat bertugas & selamat menjalankan ibadah puasa Bung @Erich

          • Trims bung Erick penjelasan BVR dan radarnya .. kalau boleh tahu (garis besar saja .. hehe) gimana bung strategi perang asimetris, misalnya strudi kasus F16 hibah melawan punya Singapur yang sudah punya AESA .. *ngarepdotcom .. 🙂

  27. Negara seribu hibah. Kalo yg di hibahkan f22 baru mantap. Kok Rusia gak pernah kasih hibah ya. Maunya di hibahin blackjak.

  28. gara amerika setuju serangan israel ke palestine,byk rakyat indonesia dgn emosional mencaci maki sumpah serapah amerika dan israel..
    gmna klo kita sarankan pemerintah utk batalin aja bli f16 nya,trus putusin hubungan diplomatik sm amerika dan usir duta besarnya..hayo pak sby ditunggu keberaniannya,rakyat pasti mendukung!

    • mungkin gula gula dari paman sam terlalu manis hingga kita lupa saudara jauh disana yang tengah menderita…
      apa kabar bung frans, sehat…
      salam…

    • Bisa aja ne komentar… HEBAT BENER, klo Amerika mbales gmana, spt nutup layanan internet, google, satelit komunikasi, menarik investasi, nutup pabriknya yang seabrek di Indonesia, bisa ngapain lu……paling teriak-teriak pake mikrophone aje, he..he…he .. komen kok asal emosional

  29. Bisa bung DD,
    Semua buatan manusia ada kelemahannya

  30. sebagus2nya barang bekas, saya sih lebih condong beli SU-35 dari Rusia dikarnakan pesawat itu generasi 5+ walaupun hanya 10 biji SU-35.

    • Setuju Kangsueb, saya kira semua akan setuju kalo barang baru lebih bagus dari pada bekas. terlebih pilihannya antara f16 vs su-35.
      Cuma mungkin pertimbangan yang tidak boleh kita lupakan adalah kebutuhan untuk menkover udara RI yang maha luas sehingga memaksa kita untuk mengutamakan kuantitas walau kualitas kurang bagus. Seiring dengan berjalannya waktu tentu secara bertahap kita akan memperbaiki baik kuantitas maupun kualitas.

      • Mungkn lain kelas om…
        untk sukhoi series qt pakai sebagai heavy fighter.untk Penggebuk utamanya om.sdngkn untk F 16 kita pakai untk ngronda om.di karenakn biaya operasional F 16 lebh murh di banding Sukhoi series.di samping itu. Sebagai strategi Pemerinth jg untk Pembagian Alutista trutamaPespur dr Blok barat dan timur.

        • kalau tujuannya hanya “Ronda” mungkin lebih baik kita beli FA-50 saja. dengan catatan bisa bvr juga. sehingga jargon baru, irit, harga murah dan bvr bisa didapat dengan pembelian itu.

          FA-50 buy puts Manila back in the jet business

          By: GREG WALDRONSINGAPORE Source: Flightglobal.com 02:23 28 Mar 2014
          The Philippines has signed a contract for 12 Korea Aerospace Industries FA-50 fighter aircraft.

          The deal is worth $420 million, with all aircraft to be delivered 38 months after the contract goes into effect, says KAI in a statement.

          The long-awaited deal was signed between the governments of the Philippines and South Korea, KAI adds.

          The announcement marks an important step for Manila, which has no operational fighter aircraft after it retired its Northrop F-5s in 2004. During the 2000s its focus was primarily on counterinsurgency missions in the southern Philippines, but China’s increasing assertiveness in the South China Sea has prompted Manila to rethink its conventional capabilities.

          The FA-50 is a logical choice for Manila because the aircraft, based on the T-50 advanced jet trainer, can serve in both training and light combat roles.

          Powered by a single General Electric F404 engine with afterburner, the FA-50 is entering service with the South Korean air force, and in late December Iraq signed a $1.1 billion contract for 24 aircraft. In 2011, Jakarta signed a $400 million deal for 16 T-50s, which is designated the T-50i in Indonesian service.

          The FA-50 is the most advanced variant of the T-50 family. Seoul’s FA-50s will have the Link 16 tactical data link, as well as an Elta Systems EL/M-2032 pulse Doppler radar.

          The FA-50 also has a radar warning receiver and a night vision imaging system. It is capable of carrying 4,500kg (9,920lb) of weapons, including the Boeing Joint Direct Attack Munition and Textron CBU-97 Sensor Fused Weapon. The FA-50 also has a 20mm cannon and can carry air-to-air missiles.

          KAI is also eyeing export opportunities for the T-50 in the United Arab Emirates, Thailand, and Peru.

          The greatest opportunity for the type, however, lies in the US T-X competition to replace the venerable T-38 Talon. KAI will team with Lockheed Martin, which assisted the development of the T-50, to compete for the T-X deal.

          Aside from the original T-50 and FA-50, KAI has also produced the T-50B enhanced manoeuvrability aerobatic variant, and the TA-50, which has a rudimentary air-to-air capability with a 20mm cannon and the ability to carry IR homing missiles.

          http://www.flightglobal.com/news/articles/fa-50-buy-puts-manila-back-in-the-jet-business-397548/

  31. Bung nara, sy mau tanya, apa pndapat bung nara tntg SU-37? Setau sy pespur ini menakjubkan loh. Tapi kok gk ada di gembor2kan dari pihak rusia yaa? Apa ini strategi rusia krna pespur ini trgolong rahasia n gk boleh di tau spek nya oleh negara luar?

  32. 48 pesawat F-16
    3 Skadron Su-27/30
    1 skadron Su-34
    1 skadron Tu-22M
    Blm hawk, skyhawk, F-5.
    Bntr lgi dtng Su-35, Typoon…
    Kn dh dibabarin clue2 nya…
    Buat jaga Angkasa Nusantara cukuplah smbil nunggu proyei IFX…

  33. Sy tetep no! Cm memancing selera musang buat mengganggu kedaulatan kita…gak ada dikit dikit pun deterance effectnya…

    Keruan dananya buat tambahan radar…setelah terdeteksi sisanya serahin serahin saja sama rakyat mau kita jepret pake karet gelang atau lempar dgn batu seperti di gaza kalau pemerentah masih ngeyel gak mau ngasih arhanud SAM medium…

    Miris…

  34. Assalamualaikum, ijin nyimak, tapi klo yang di korbanin su 35 , garuk2 kepala & ngelus dodo, haduhhhh…

  35. puji Tuhan sehat saudaraku,harapan yg sama dr saya untuk anda dan keluarga..amen

  36. stop press kfx :

    South Korea is accelerating its efforts to develop an indigenous warplane with a plan to give public notice of bids for the so-called KFX project as early as August.

    The military plans to confirm its required operational capabilities for the project at the Joint Chiefs of Staff Council session in mid-July, and finalize the bidding plan during a session of the national defense acquisition program committee next month.

    The KFX program, which includes both the development and production of the home-built warplane, is expected to cost nearly 20 trillion won ($19.7 billion). Under the project, Seoul seeks to deploy 120 fighters after 2023 to replace its aging fleets of F-4s and F-5s.

    Since February, a Defense Ministry task force consisting of officials from the Joint Chiefs of Staff, Defense Program Acquisition Administration and Air Force has been conducting research for the development project.

    The task force has had heated discussions particularly on whether to opt for a single- or double-engine platform. Sources said that the taskforce had chosen a double-engine platform.

    The Agency for Defense Development and Air Force have demanded a double-engine type. They argued that a plane with two engines could carry more weapons and fuel, and improve the plane’s mobility with a greater thrust. They also said the survivability of pilots would be raised given that one engine would still function should the other break down.

    But those favoring a single-engine platform have maintained that the double-engine type carries a higher price tag, thus making it less attractive for foreign buyers. They also argued that thanks to current advanced engine technology, the chances of engine-related accidents were not high.

    According to government research, the development of a single-engine platform would cost 6.4 trillion won, while the double-engine platform would cost 8.6 trillion won.

    Seoul’s efforts to accelerate the development of the new fighter underscores growing concerns over the potential air security vacuum. The Air Force is expected to face a shortage of around 100 fighters in 2019 when almost all of the F-4s and F-5s will be decommissioned.

    By Song Sang-ho (sshluck@heraldcorp.com)

    http://www.koreaherald.com/view.php?ud=20140708000771

 Leave a Reply