Mengenal Sistem Peperangan KCR 60 Batch 3 Indonesia

Jakartagreater – Hingga saat ini PT PAL Indonesia telah membangun 2 batch  Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 Meter, yang terdiri dari 4 kapal sejak tahun 2012.

Selanjutnya, saat ini PT PAL sedang membangun kapal ke-5 dan ke-6 dalam batch #3 yang direncanakan selesai pada tahun 2020, ujar Kepala Proyek FFBNW KCR 60 Meter Batch #2 PT PAL Indonesia, Bambang Djunaedi, dirilis situs PT PAL Indonesia.

Keel Laying Kapal Cepat Rudal (KCR) KCR-5 dan KCR-6  dilakukan 20 Desember  2019 di Dermaga Divisi Kapal Perang PT.PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur. Adapun kapal Batch 2 KCR-60, yakni KRI Kerambit-627 telah diserahkan PT PAL Indonesia kepada Kementerian Pertahanan, 25 Juli 2019.

Berbeda dengan batch sebelumnya, pada kontrak pembangunan batch #3 tidak hanya meliputi pembangunan platform, namun juga termasuk pada instalasi sistem sensor dan senjata.

Sebelumnya PT PAL Indonesia telah membangun 3 unit platform KCR 60 Meter yang merupakan bagian dari proyek pembangunan batch #1 yaitu KRI Sampari-628, KRI Tombak-629, dan KRI Halasan-630. Pada batch #2 dibangun platform KRI Kerambit-627 yang kemudian diikuti dengan proyek Fitted For But Not With (FFBNW) sistem sensor dan senjata KRI Kerambit-627.

Terdapat 2 tipe pembangunan kapal perang, yaitu platform saja atau secara lengkap platform dengan sistem sensor dan senjata. Untuk kapal perang yang dibangun hanya platform-nya saja, maka di kemudian hari setelah selesainya pembangunan platform, akan diikuti dengan program instalasi sistem sensor dan senjata sesuai dengan kebutuhan. Proses tersebut lebih dikenal dengan istilah FFBNW.

Fungsi utama kapal KCR adalah pengamanan wilayah maritim dan sangat relevan dengan karakteristik geografi Indonesia. Kapal KCR masuk dalam kategori Offshore Patrol Vessel (OPV) yang memiliki kemampuan manuver yang lincah, mampu bergerak secara cepat, serta dapat digunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kapal asing yang melanggar wilayah teritorial.

Kapal KCR 60 Meter batch #3 memiliki panjang 60 meter, lebar 8,10 meter. Kapal ini mampu mengakomodasi kru sebanyak 55 orang. Kapal memiliki berat 500 Ton dan dapat melaju dengan kecepatan maksimal 28 knot pada kondisi full load serta endurance 5 hari, kapal tersebut memiliki jarak jelajah 2400 Nm pada kecepatan 20 knot.

Keunggulan KCR 60 PT PAL Indonesia

Penggunaan Rudal mengubah taktik perang laut. Sistem senjata tidak lagi terbatas pada jarak jangkauan meriam dan torpedo kapal perang. Teknologi Rudal menjadi pembeda antara strategi perang laut konvensional dan modern.

Perbedaan antara kanon dan Rudal adalah jarak tembak, fleksibilitas penggunaan, dan daya hancur. Kapal perang yang mengandalkan kanon harus berada dalam jarak tembak target, harus memposisikan haluan kapal agar kanon dapat menembak dengan efektif.

Efek tembakan kanon tidak cukup untuk menghancurkan target dalam waktu singkat, peluru yang ditembakan oleh kanon tidak memiliki pemandu sehingga probabilitas mengenai target rendah.

Target sangat mungkin untuk melakukan manuver menghindar atau melakukan serangan balik, sementara serangan Rudal dapat secara efektif menghancurkan musuh dengan cepat, berapapun dimensinya dapat dihancurkan dengan perhitungan dan strategi yang tepat.

Kepala Proyek FFBNW KCR 60 Meter Batch ke-2 menjelaskan, KCR 60 Meter memiliki kepabilitas perang anti kapal permukaan (Anti Surface Warfare-ASW), perang anti pesawat udara (Anti Air Warfare-AAW), Electronic Warfare, dan Naval gun fire support.

Dengan ukurannya yang tidak terlalu besar, KCR 60 Meter dengan sistem sensor dan senjata lengkap memiliki daya gempur dan kemampuan peperangan yang mematikan. Rudal memiliki keunggulan daya hancur yang besar, kecepatan subsonik untuk mencapai target, presisi tinggi terhadap target berkat pemandu yang terus dikembangkan dan diperbaharui teknologinya.

Sistem pemandu yang baik dapat meminimalisir kemungkinan tembakan meleset dari target, Rudal dapat dikatakan ideal ketika memiliki kecepatan yang baik, daya hancur yang baik, dan memiliki circular error probality (CEP) kecil.

CEP merupakan analisis kuantitatif kemungkinan obyek balistik meleset dari target, semakin kecil CEP berarti semakin akurat obyek balistik tersebut.

12 pemikiran pada “Mengenal Sistem Peperangan KCR 60 Batch 3 Indonesia”

  1. Lha…trus pertahanan dirinya apa? iya kalo hit & run sukses,kalo kaprang target balik nyerang pake rudal.gimana?.kapal target kagak mungkin sendirian,biasanya ditemani heli intai/serang maritim,belom lgi pespur pendamping.sebaiknya…KCR60 dibekali CIWS lah,di anjungan atas dekat tiang master.

  2. @Juman; kok ukurannya kapalnya 60 mm (milimeter) atau 60 m (meter) … kayaknya lebih kepada jumlah kepemilikan rudalnya yang masih belum mencukupi jika dipasang masing2 kapal sebanyak 4 peluncur … kalau ada bawa cadangan 4 buah aja … setiap kapal perlu 8 buah rudal x 4 kapal (total jumalah batch 1 dan 2) = minimal 32 buah rudal yang mesti ada diatas kapal … isunya tahun 2019 Indonesia udah beli sebanyak 100 unit rudal C-705 barengan dengan pembelian 4 unit UCAV CH-4 Rainbow dari China.

    • Jadi ..
      Kesimpulan nya…
      Membawa 2 Missile C705/805 itu Karena stock Missile China yang kita miliki ini terbatas..?
      Jadi terpaksa 1 kapal KCR/FPB dijatah hanya bawa 2 Missile saja sampai ….anggaran kita cukup untuk beli lagi ??
      Kira Kira seperti itu??

  3. walau masih FFBNW semoga semua sarana yg tersedia bisa segera dilengkapi dengan sistem senjata yang memadai, pertanyaannya kapan kita mampu membuat rudal sendiri sepertinya terlalu kelamaan dan terlalu berlarut larut, harus ada revolusi rancang bangun rudal misal dengan contek dari produk yg sudah kita beli, toh kita beli dari negara yg dulunya juga contek dari negara produsen sebelumnya, dan barang yg sudah kita beli adalah hak kita sepenuhnya
    ……MERDEKA

Tinggalkan komentar