Mar 182015
 
Pesawat intai strategis B-737 AEW&C (photo : DID)

Pesawat intai strategis B-737 AEW&C (photo : DID)

TNI Angkatan Udara bertekad menghadirkan superioritas udara ke tengah samudera guna melaksanakan security coverage bagi kekuatan laut dalam mendukung visi Poros Maritim Dunia.

Visi Poros Maritim Dunia yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo disambut baik dan didukung penuh oleh TNI Angkatan Udara. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna menandaskan hal tersebut di sela Rapat Pimpinan TNI AU yang dilaksanakan awal Februari lalu di Jakarta dan dihadiri 306 komandan satuan dari seluruh jajaran TNI AU.

Dikatakan, relevansi TNI AU sebagai pembina kekuatan secara signifikan menentukan peran TNI AU sebagai subsistem dalam pertahanan poros maritim dunia. “TNI AU harus bisa menghadirkan superioritas udara ke tengah samudera, melaksanakan security coverage bagi naval forces,” ujar Agus Supriatna, alumni AAU 1983. “Ärtinya, Sistem Pertahanan Maritim tidak hanya butuh TNI Angkatan Laut yang kuat, namun juga TNI AU yang lebih kapabel,” jelasnya.

ADIZ dan FIR

Dalam rangkaian pembangunan poros maritim dunia, KSAU juga menyoroti masalah penerapan Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ – Air Defence Identification Zone). ADIZ dinilai penting sebagai wilayah payung perlindungan maritim dan ruang udara untuk menjaga keseimbangan geostrategi. Penetapan ADIZ di atas Pulau Jawa dipandang sudah tidak sesuai lagi dan ini harus menjadi suatu pemikiran bersama termasuk di dalamnya TNI AU. Menurut KSAU, penentuan ADIZ yang benar adalah harus mencakup seluruh wilayah kedaulatan NKRI hingga Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan harus berintegrasi dengan kekuatan Pertahanan Udara.

intai maritim

Untuk hal tersebut, pemerintah dan instansi terkait lainnya perlu membuat suatu pengaturan hukumnya sebagai wadah melakukan tindakan-tindakan dalam upaya pengendalian ruang udara. Hal yang sama juga terkait dengan pengelolaan Wilayah Informasi Penerbangan (FIR – Flight Information Region) di atas Pulau Natuna dan Kepulauan Riau. Terkait hal ini, TNI AU terus berupaya mendorong untuk segera diambil oleh Pemerintah Indonesia. “Tentunya, pemerintah harus menyiapkan sarana dan prasaran yang dapat meyakinkan dunia penerbangan internasional bahwa Indonesia sudah bisa mengontrol FIR di atas wilayah tersebut,” ujar KSAU.

Pesawat intai strategis

Dengan tidak mengubah rencana strategisnya, TNI AU saat ini tengah menetapkan prioritas program pembangunan kekuatannya guna mendukung Visi Poros Maritim Dunia. Peningkatan kemampuan tiga pesawat intai strategis B737-200 Surveiller Skadron Udara 5 masuk dalam program tersebut.

Disamping itu ada pengadaan pesawat intai strategis modern yang perencanaannya sudah masuk dalam daftar rencana strategis di Kementerian Pertahanan.

intai maritim cn

Agus Supriatna menhatakan, di era modern ini TNI AU sudah saatnya harus memiliki pesawat intai strategis yang modern sebagaimana negara tetangga telah memilikinya, yakni pesawat jenis AWACS (Airborne Warning and Control System) atau AEW&C (Airborne Early Warning and Control). Pesawat ini berkemampuan memberikan deteksi dini dan data-data sasaran yang terintegrasi baik dengan kekuatan udara maupun kekuatan laut.

“Dengan duduk di pesawat ini saja, kita sudah bisa mengontrol semua pergerakan sasaran baik di udara maupun di atas permukaan. Demikian juga bila terjadi perang udara,” ujarnya seraya mennggambarkan bahwa TNI AU akan optimal bila memiliki tiga pesawat jenis ini untuk ditempatkan di wilayah barat, tengah, dan timur.

Menurut Agus Supriatna, TNI AU memang lebih cocok mengoperasikan pesawat intai strategis, ketimbang pesawat intai taktis (seperti CN 235 MPA) yang lebih pas dioperasikan oleh TNI AL. (Angkasa Magazine, no 6 Maret 2016, tahun XXV)

(defense-studies.blogspot.com)

Bagikan :

  75 Responses to “Menghadirkan Superioritas Udara Ke Tengah Samudera”

  1.  

    Pertamax

  2.  

    he.. he…

  3.  

    hiduplah indonesia raya

  4.  

    ayo podo dituku

  5.  

    FIR di Natuna mutlak direbut dalam waktu secepatnya baru bisa memaksimalkan penguatan pertahanan di Natuna dan penerapan ADIZ di seluruh NKRI. Baru setelah itu kita bisa melenggang bebas “menghadirkan-superioritas-udara-ke-tengah-samudera” bersama green water navy

    •  

      sebenar’a LCS dpt menjadi momentum utk menunjukkan kedaulatan RI atas ruang udara’a yg terabaikan.
      tak ada salah’a meniru kepercayaan diri “Jepang dengan ADIZ’a yg tumpang tindih dng Taiwan”.

  6.  

    Semoga segera terwujud pesawat intai strategisnya…. mau yang mana terserah pada TNI AU yang lebih tahu kebutuhannya…

  7.  

    ambil..

  8.  

    haruus nunggu berapa puluh tahun lagi tuk ngrebut FIR kita dari singapura…

  9.  

    pasang balon iklan2 yg tinggi2 di sekeliiling batam udah pusing singapur,kalo ga bikin gedung 20 lantai keatas yg banyak.hehe

  10.  

    Para pejuang kemerdekaan telah mengorbankan jiwa dan raga yg tak ternilai harganya. Tinggal penerus bangsa saat ini harus berjuang utk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan NKRI di darat, laut dan udara. Jangan krn alasan sdm yg belum mampu atau alasan teknis belum punya alat yg memadai, kemudian membiarkan sebagian wilayah udara dikuasai oleh bangsa asing. Sungguh tidak menghargai pengorbanan para pahlawan dan pendiri bangsa. maaf oot.prihatin.com

  11.  

    sing penting jangkauan pantauan dan komunikasi antar entitas, baik komunikasi suara dan data…

  12.  

    untuk penerbangan sipil memang berlaku seperti itu. sedangkan penerbangan militer lain bung BHD. kemungkinan hanya membuat pemberitahuan bahwa pada hari H jam J menit M akan dilakukan kegiatan militer. Sekali lagi tidak perlu ijin.

    •  

      saudaraku @bung alugoro : klo begitu kita gak perlu izin HANYA lapor setiap kali kita mau bermain diteras kita sendiri kepada tetangga?….hehehe…teteup gak ada superioritasnya klo begitu. Harus direbut kembali baru kita superior di darat, laut dan udara. Peace – imho

      •  

        Kalau daerah latihan pesawat militer itu dekat dengan jalur penerbangan sipil, jelas harus memberitahu pengelola lalu lintas penerbangan sipil, dong. Bukan minta izin atau harus lapor lho, tapi harus memberitahu (jika kata “lapor” itu dianggap posisi inferior dibandingkan “memberitahu”).

        Ini masalah keselamatan penerbangan sipil lho.

        Jadi dalam konteks latihan militer ini, “memberitahu” itu tidak menyinggung kedaulatan.

        Kalau contohnya yang menyinggung bahkan melecehkan kedaulatan itu adalah pesawat latih pilot sipil dari Singapur yang nyelonong dari Singapur sampai ke KalBar, di mana ATC Singapur memberi izin melintas wilayah NKRI tanpa lapor (nah ini baru deh cocok, kata “lapor” daripada “memberitahu”) ke NKRI untuk izin terbang melintasi wilayah NKRI..
        Dan TNI-AU sudah sepatutnya scramble dan intercept itu pesawat latih sipil Singapur dan forcing it down.

        •  

          @bung dz : …hehehe…teteup gak ada superioritasnya klo begitu. Harus direbut kembali baru kita superior di darat, laut dan udara. Peace – imho

          KEDAULATAN adalah suatu hak eksklusif untuk menguasai suatu wilayah pemerintahan, masyarakat atas diri sendiri, yang berdasarkan pemberian dari Tuhan atau Masyarakat.

          Dalam hukum konstitusi dan internasional, konsep kedaulatan terkait dengan suatu pemerintahan yang MEMILIKI KENDALI PENUH urusan dalam negerinya sendiri dalam suatu wilayah atau batas teritorial atau geografisnya, dan dalam konteks tertentu terkait dengan berbagai organisasi atau lembaga yang memiliki yurisdiksi hukum sendiri….secara de facto dan de jure.

        •  

          Apakah sebuah kewajiban bagi kita untuk “memberitahu” kegiatan kita yang akan/sedang kita lakukan dipekarangan sendiri kepada tetangga kita? kecuali jika kita melakukan hal tersebut dipekarangan orang lain maka wajib kita memberitahu bahkan harus izin :).
          “Sudah terbukti bahwa : Putra putri Indonesia sangat sanggup untuk mengelola wilayah udara di bumi pertiwi ini apalagi hanya diatas sebagian kecil wilayah udaranya dibandingkan luasnya Nusantara”.
          Esensinya adalah kita wajib merebut hak atas FIR kita ini dengan sungguh2, sehingga kita tidak perlu berargumen mengenai lapor/memberitahu/izin atas kegiatan2 diwilayah kita kepada para tetangga. Ini baru namanya berdaulat atas : darat, laut dan udara.

        •  

          Bung raymond, maaf, mungkin saya ada kekurangan dalam menulis agar lebih jelas yang saya maksud.

          Bung raymond betul soal kedaulatan.

          Nah, tulisan saya itu fokus pada penerbangan sipil, bukan pada kedaulatannya. Saya tidak menyinggung soal FIR lho.

          Saya menanggapi soal tidak ada pemberitahuan dan dampaknya pada penerbangan sipil.

          Dalam penerbangan sipil, ya kalau sudah tidak ada masalah dalam hal izin lewat wilayah, berarti masuk ke masalah keselamatan penerbangan.

          Sama tuh seperti MH17 yang jatuh ditembak di wilayah Ukraina. MH17 pasti udah punya izin lewat dong ya?

          Saya fokus ke saat ini saja, bawah FIR sedang di tangan Singapura (saya sangat dukung untuk FIR diambil alih Indonesia), ya kalau ada latihan militer pesawat Indonesia bagusnya ngasih tahu, agar tidak terjadi apa2.

          Dan pihak militer Indonesia tidak perlu ngasih tahu detailnya latihannya dll. Kan ini cuma ngasih tahu, kasarnya, “eh ini gue mau latihan di marih, ente2 harap menjauh ye”. Gitu doang pun bisa.

          Superioritas? Ya pasti militer Indonesia memegang kendali penuh dong atas wilayah Indonesia.

          Singapura tidak berhak menolak atau melarang setelah militer Indonesia memberitahu kalau akan ada latihan militer.

        •  

          @bung alugoro : Kita doakan semoga hal ini hanya merupakan strategi yang cantik dari p’jonan untuk menarik atensi khalayak ramai ya bung dan segera di follow up 🙂

          @bung dropzone : Saya sangat faham terhadap apa yang telah disampaikan dan saya sangat menghargai kedalaman berfikir bung 🙂

          Semoga nanti bila kita bertemu dipersimpangan jalan lagi, jangan sungkan2 untuk berdiskusi kembali 🙂

  13.  

    Dronenya mana..dronenya manaa..

  14.  

    Nek iso tni kudu iso duwe pesawat induk sing guede,anti jamming, anti air, isine iso muat pespur 1 skdron+senjata virus, biologi, kimia, nuklir,rudal, bom, laser, n logistik)sing iso ngawang muter muter sak tahun gak mudun blass.( nek iso ngono, jempol papat buat tni)nek kapal induk wes akeh..pesawat induk urung ono negoro sing duwe.tni perlu inovasi..

  15.  

    kalau kover pertahanan mencakup keseluruhan dari sabang sampai merauki dibutuhkan berapa pesawat aew?? berapa jam kemampuan pesawat tersebut tiap hari? saya kira tidak efisien.

    alangkah idealnya sekalian menggunakan satelit mata-mata. dulu sepertinya pernah didengung-dengunkan indonesia mau beli satelit mata-matan, tapi sekarang mana gaungnya???

    •  

      Pesawat AWACS dengan satelit mata-mata atau satelit militer itu 2 hal yang saling terkait bung. Jadi anda benar sekali untuk idealnya satelit militer juga harus dimiliki.

  16.  

    Yang penting siapin bujetnya.. harga pesawat AWACS sekelas Wedgetail atau A-50nya Russia itu 300-400 juta dollar. Kalau kata KSAU butuh 3 untuk TNI-AU supaya optimal ya setidaknya butuh 1 milyar dollar.

  17.  

    Untuk AWACS ane dukung Boeing 737 AEW&C kalo gk ya C295 yg dipasang radar ELTA (EL/W 2090 mantap)
    kalo Erieye nanti dipasang dimanah :mrgreen: C295 dipasang Erieye gk cocok

    •  

      bisa saja erieye di pasang di c295 bahkan saab bersedia memasang radat erieye di platfom cn295 tapi yang memakan waktu adalah proses setifikasi dan tentu saja ada tambahan “sedikit” dana

      •  

        mau gak itu rusia berbagi data equipmentnya untuk swedia jikalau RI ingin menggabungkan pespur su series dan f-16 series ? ingat rusia lebih dekat ke perancis (thales) dibanding ke swedia (saab).

      •  

        Airbus Defence & Space bukan kah juga mengembangkan C295 versi AEW & C ?

        Jika dibandingkan dengan sistem Erieye?

  18.  

    “Menurut Agus Supriatna, TNI AU memang lebih cocok mengoperasikan pesawat intai strategis, ketimbang pesawat intai taktis (seperti CN 235 MPA) yang lebih pas dioperasikan oleh TNI AL”
    Udah jelas tuh, jangan rebutan lahan. Apalagi sampe mo beli Be 200 beriev buat atasi illegal fishing.

  19.  

    MATRANEWS.Sikap Menteri Perhubungan Ignatius Jonan terkait pengaturan informasi wilayah ruang udara (flight information regions/FIR) yang berada di tangan otoritas Singapura menuai kritik.

    Pernyataan Jonan dinilai bertentangan dengan sikap Presiden Joko Widodo yang ingin menegakkan kedaulatan di bidang politik.

    “Kedaulatan di udara tidak bisa dipisahkan dari kedaulatan negara. Jangan dibenturkan dengan keselamatan penerbangan,” kata mantan anggota Komisi I DPR, Helmy Fauzi, Minggu (18/1).

    Seperti diberitakan, Indonesia akan mendapatkan hak pengaturan informasi wilayah ruang udara di sebagian wilayah NKRI, seperti Batam dan Natuna selatan, pada 2019.

    Menanggapi hal tersebut, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menegaskan, masalah FIR jangan dilihat hanya dari sisi kedaulatan bangsa. Jonan berpendapat isu FIR harus lebih dilihat dari keselamatan penerbangan.

    •  

      Saya setuju dengan Jonan. Maksud beliau bukan kita tidak bisa tetapi kita masih belum mampu.

      •  

        Kalau belum mampu sekarang siapkan dong dari dari sekarang.Siapkan dana,sdm agar tahun 2019 sudah langsung operasional. Jangan nanti tahun 2019 bilang lagi kita belum siap.,belum siap.

      •  

        Keberhasilan menhub jonan ketika jadi dirut pt. KAI tidak lepas dari peranan tangan dingin sang meneg BUMN pak dahlan iskan..

        Dalam penanvanan isu strategis masalah Fir ini menhu johan ini tidak ada upaya sama sekali, hal ini bisa dilihat dalam progres perencanaan penganggarannya. Pada TA. berapa akan diadakannya pelatihan SDM operatornya. Pada TA. berapa akan diadakan belanja peralatannya.

    •  

      Berpikir kritis boleh2 saja tetapi harus punya rencana yg realistis dan bertindak strategis.

    •  

      Dari kecelakaan Air Asia menjadi ketahuan banyaknya kekurangan di pelayanan navigasi Indonesia.

      Fakta pertama, Indonesia kekurangan radar. Disindir sama pengamat kalau AirNav Jakarta pakai radar sekunder, radar primer udah lama mati. Makanya sering kan di Jakarta kalau radarnya mati, pesawatnya delay sama cancel. Anehnya AirNav berargumen bahwa mereka menemukan cara walaupun dengan radar sekunder, mereka masih bisa melakukan pelayanan.

      AirNav bisa berkilah dengan argumen tersebut, tetapi bagi orang luar, tidak adanya radar primer atau back up radar sekunder adalah ketidaksesuaian dengan SOP dan bentuk ancaman keselamatan.

      Kedua, Indonesia kekurangan petugas ATC sehingga petugas ATC yang sudah ada terbebani dengan work load dan tingkat stress yang besar. Sekali lagi, fakta ini menjadi nilai minus navigasi Indonesia.

      Ketiga, ATC luar dilengkapi radar cuaca sehingga mereka bisa menuntun pesawat melalui awan CB atau cuaca jelek. ATC Indonesia masih belum bisa. Fakta ini jadi nilai minus lagi.

      Untungnya, beberapa hari lalu saya baca pemerintah beli 3 radar, untuk Pekanbaru, Jakarta, satu lagi lupa. Jadi semuanya perlu proses dan perlu waktu.

      PS, fakta tersebut muncul di Mata Najwa dan ILC. Jonan sampe gak bisa ngomong. Jadi pantas kalau dia bilang kalau kita masih belum bisa.

      •  

        Pak Jonan hanya masalah cara menyampaikan “komunikasi” vs pemahaman umum dan awam.
        Masalah FIR ini bukan masalah SIN saja dan INA, yg berhak menentukan adalah ICAO . Audit icao dan negosiasi fir batam ini sdh dilakukan 4 kali  yaitu tahun 1994 di Jakarta, 1995 di Singapura, 2009 di Bali dan terakhir  Januari 2012 di bali dan kesimpulannya kita memang belum siap teknologidan sdm mengatur lalulintas udara salahsatu bandara tersibuk di dunia.
        Memang benar issue kedaulayan bangsa jadi nomor satu, tapi pertimbangan keselamatan penerbangan international juga real dan sangat penting. Taruhlah kita sdh punya navigasi dan sdm yg mumpuni, kita harus mengsejajarkan kualitas pelayanan navigasi batam harus sama dengan singapur. Ilustrasinya begini jika ada pesawat landing take off di singapur maka dalam waktu hitungan menit dia akan diambil alih oleh navigasi batam krn batas udara singapur yg sangat sempit. Di jaman pak SBY saja 2 x kali sidang ICAO tetap belum bisa meyakinkan kualitas pelayanan navigasi batam dpt menjadi “estafet” singapur.

    •  

      Segalanya hanya butuh KEMAUAN…klo ada kemauan semuanya pasti bisa. Alasan klasik selalu diutarakan : “Gak ada budget dan SDM belum siap”….kuno, gak akan berubah selamanya klo masih berfikir seperti itu atau memang gak niat dan sengaja diulur2/digadaikan? Mudah2an tidak. Jika serius… buat program nyata : siapkan anggarannya dan latih personelnya. Lah, klo dalam APBN tidak dianggarkan bagaimana mau jalan? dari sini saja sudah terlihat KEMAUANnya. Masa sih iya..sampai gak ada dana untuk sebuah prioritas KEDAULATAN NEGARA? Kata media..”Dana siluman” disatu provinsi saja sudah +Rp12T, di APBD-DKI dibudgetkan buat beli pohon sampai Rp150M/tahun belum yang lainnya sampai triliunan…weleh…weleh. Innama a’malu bi niyah…sesungguhnya semuanya harus diawali dengan niat…begitu kata ustad shalat jumat kemarin 🙂

      •  

        pertanyaannya sepele saja bung raymond, saudara2 kita yang muslim yang jadi penggede2 di negeri ini adakah niatnya yang putih bersih tidak tercampur abu2 (subhat) dan tidak silau dunia yang gemerlap ? kalau kenyataannya tolok ukur dept agama saja terjadi korupsi. banyak ustadz, kiai dan sebagainya terperangkap perkara abu2. bahkan dulu ada seorang ustadz berkata “meskipun kita kaya tidak perlulah menonjolkan kekayaan kita, contohlah Rasul SAW. walaupun beliau pengusaha yang sukses dan seorang nabi, beliau hidup bersahaja”. giliran kenikmatan dunia datang kepada ustadz tersebut, dipakailah itu jam “Rolex yang harganya puluhan juta”. alasannya sepele “Tidak bolehkah kita memakai jam yang bagusan dikit ?” kan agama tidak melarang. hahaha itulah kenyataan hidup. kalau golongan terpelajar dan alim saja seperti itu apalagi kita yang mayoritas orang awam.

        •  

          baiklah bung kalau dibatasi “Tetapi yang kita bahas sesungguhnya adalah diskusi/tanggapan kolom No.21 yaitu kedaulatan vs “Gak ada budget dan SDM belum siap”

          jadi jangan dilibatkan tentang hal lain. pertanyaannya siapakah yang bertanggung jawab mengontrol FIR ? Airnav indonesia ataukah kementrian perhubungan ? adakah yang bisa menjelaskan ? jika berdasarkan undang2/pp yang bertanggung jawab adalah kementrian perhubungan maka mengapa pak Jonan mengatakan belum siap ? apakah pak Jonan ada rencana kerja untuk merebut fir tersebut ? begitu juga jika seandainya hal tersebut menjadi tanggung jawab airnav indonesia. apakah dirut airnav ada rencana kerja untuk merebut fir tersebut ? jika tidak ada mengapa kementrian bumn diam saja ? bukankah sejak jaman presiden sebelumnya sudah digagas ? apakah gagasan presiden sebelumnya menjadi tidak berlaku ?

          selanjutnya jika ditarik ke presiden, apakah presiden sudah mengintruksikan ataukah belum ? jika presiden kelupaan mengapa anggota dpr yang membidangi bagian ini tidak menggunakan hak angket ? ataukah semua orang lupa ?

          mungkin ada yang bisa menjawab pertanyaan2 di atas.

        •  

          Melihat latar belakang Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI/Airnav Indonesia) yang dibawahi oleh Kemen-BUMN merupakan peleburan dari Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Nasional (PT.Angkasa Pura ) dengan Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, yang disahkan 13/09/2012 oleh Pres.SBY sesuai PP No.77/2012.

          Dapat dianalisa dari sini bahwa kewenangan atas pelaksanaan “ketugasan beserta kesiapan” Airnav Indonesia saat ini dikomandoi oleh menteri RS dari Kemen-BUMN. Bila kita telusuri lebih dalam lagi maka akan kita ketahui siapakah menteri RS ini?….silahkan bung telusuri di mbah google juga banyak 🙂

          Pos2/jabatan2 yang bung sampaikan sangat kecil kemungkinannya untuk lupa…karena saya yakin semuanya dalam bernegara teradministrasi dengan baik. Hanya motivasi untuk menjalankan program tersebut ada atau tiada?
          Seperti pada awal telah saya dengungkan…. masalah KEMAUAN, itu saja 🙂

          NB : mungkin….yang bisa menjawab hanya mereka….imho – hehehe 🙂

  20.  

    wahhh mantab :mrgreen:

  21.  

    http://foxtrotalpha.jalopnik.com/horrific-midair-collision-during-air-show-and-arms-expo-1691570381

    yang kecelakaan tim Jupiter tapi nama Malaysia tambah buruk karena kejadiannya di negara Malaysia. Orang -orang pada komentar buruknya penerbangan di Malaysia dan akhirnya asia tenggara kena getahnya.

    •  

      Betul bung, kasihan juga malaysia seolah identik dengan kesialan di dunia penerbangan. Ini sedikit kutipannya:

      MooseKnuckles
      Sunday 1:36pm
      Dear Malaysia, keep your feet on the ground.

      StarHustler
      Sunday 7:53pm
      Go home Malaysia, you’re drunk!

      Rx_37
      Monday 2:06pm
      “Airplane disaster” and “Malaysia” in the same sentence? Not surprised.

      MrTripps
      Sunday 5:17pm
      Malaysian air show? I’ll be there once I take a trip from the Hindenburg after a quick jaunt on the Titanic.

  22.  

    kans terbesar adalah aew&c system dari india platform bebas atau c295 radar thales

  23.  

    Ttp aew&c system dari india…keren.hhe.. bermesin jet ttp paling di unggulkan.hhe.

    Wacananya bagus. Dmna2…klw kekutan udaranya kuat…pasti negara lain mikir2 mw ganggu. Yg sebenarnya… TNI AU no 1 anggaranya..2 tni al & tni ad. Contoh militer USA.

    •  

      “Tentunya, pemerintah harus menyiapkan sarana dan prasaran yang dapat meyakinkan dunia penerbangan internasional bahwa Indonesia sudah bisa mengontrol FIR di atas wilayah tersebut,” ujar KSAU, pendapat KSAU memang benar tapi kayak sulit tercapai klo soal FIR krn Menhubnya saja pesimis mo ngambil alih FIR alasannya keterbatasaan Peralatan dan SDM bukannya semangat mendukung, ini malah minder
      kalo kurang peralatan usul beli ato gimna klo SDM kurang cari solusinya bukan minder gimna mo maju klo setiap pihak tidak saling mendukung

  24.  

    (Angkasa Magazine, no 6 Maret 2016, tahun XXV)
    ====================================
    Mungkin ini pertanda, tahun 2016 TNI-AU sudah punya AEW&C

  25.  

    Bung
    admin ayo kita rame rame buat slogan dukung ambil kembali FiR dari singoparno di medsos sebagai dukungan warjager kepada TNi dan biar pejabat negri ini melek ……..

  26.  

    Saya tidak habis pikir kalau banyak dari kita yang meragukan kemampuan bangsa ini untuk bisa berdaulat di negeri sendiri. kata kita belum mampu untuk merebut FIR dari singapura terlalu naif, wilayah FIR yang dikendalikan singapura lebih kecil bila dibandingkan wilayah FIR indonesia lainnya karena mencakup wilayah Riau saja. Kalau kita sanggup mengendalikan FIR di wilayah lain yang lebih luas kenapa kita tidak bisa untuk wilayah yg lbh kecil.

    •  

      Kita semua yakin dan optimis bahwa Indonesia mampu. Sayangnya, pejabat tinggi, elit2, dan pembuat kebijakan sering membuat kebijakan yang salah, kurang komunikasi antarlembaga negara, dan kurang wawasan jauh kedepan.

      Kejadian AirAsia semua menyalahkan Dephub padahal untuk navigasi sipil dipegang oleh AirNav yang merupakan institusi BUMN. Sengemis2nya Jonan dan Dephub, jika Kementrian BUMN tidak memberi ya gimana. Kementrian BUMN gelontor dana triliunan ke bank2 BUMN tapi dana beli radar aja gak dikasih, malah beberapa bulan kejadian Air Asia baru beli 3 radar kata koran.

      Kita semua (yang di bawah) yakin tapi sayang sekali yang di atas tidak meyakinkan.

  27.  

    (Angkasa Magazine, no 6 Maret 2016, tahun XXV)

    pantesan ga nemu..krn ga nyari..masih 2015

  28.  

    ayo kita bikin meme yg banyak.trs kita sebar lewat medsos.kita kritisi pemerintah..
    #save fir natuna & pekan baru. save indonesia merdeka

  29.  

    Ngelus dada.. …….:(

  30.  

    test … lmyn dpt almt email org lg ..bwt register di media.api …hehe

  31.  

    Terimakasih bung Raymond, bung alugro,bung dropzone atas komentarnya yg bermanfaat bagi saya dan semua follower Jakartagreater

    •  

      Yth. @bung bhd, dalam ini sebenarnya kita semua ini satu pemikiran hanya berbeda cara penyampaian…yang pastinya kita sama2 mencintai negara yang gemah ripah ini. 🙂

  32.  

    Alhamdulillah… Jkgr mendapatkan kembali ruh-nya. Penuh dengan ilmu dan debat sehat.

    thanks all.

  33.  

    Wow!
    TNI makin keren.
    Ayo hadirkan jg IFX diatas kapal induk nuklir Made In Indonesia yg terus berkeliling NKRI sepanjang tahun agar bs menyikat semua penyusup, baik lewat udara ataupun lewat laut.
    Jayalah TNI-ku!

  34.  

    Yg nulis artikel nya pasti John Titor neh…

  35.  

    Kabarnya pesawat2 patmar RI masih terbilang orisinil ya?

    Alias softwarenya jarang diupgrade…

 Leave a Reply