Jan 142018
 

Desain pesawat tempur KFX/IFX (istimewa)

Jakartagreater.com – Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa Lockheed Martin tidak bersedia memberikan 4 teknologi inti KFX (AESA, IRST, Targeting Pod dan Jammer) walaupun pada awalnya inilah syarat “Imbal beli” Korea Selatan untuk pembelian F35. Untuk itu DAPA segera mencoba mengisi kekurangan ini dengan memutuskan Hanwa Thales yang mengalahkan LigNex1 untuk radar AESA. Tender AESA KFX ini kandidat yang potensial awalnya adalah LigNex1 akan tetapi kemudian dimenangkan oleh Hanwa Thales. LigNex1 sendiri adalah bagian dari Group LG sedangkan Hanwa adalah bagian dari Samsung. Lignex1 sendiri awalnya adalah mengembangkan Local AESA radar untuk FA50 NG sedangkan Hanwa Thales memakai platform AESA RBE2-AA yang digunakan Rafale. Reputase Radar Rafale dalam menghadapi Raptor menjadi cerita “heroik” tersendiri.

Baru-baru ini di-release informasi terbaru mengenai 3 teknologi INTI KFX yaitu untuk pengembangan Avionik dan Mission System, IRST dan Targeting Pod. Pada sebuah upacara yang diadakan pada pameran ADEX Seoul edisi 2017, Leonardo telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Hanwha Systems, untuk bersama-sama menyediakan sistem avionik dan mission system untuk KFX Korea dan pelanggan internasional lainnya. Kesepakatan tersebut pada awalnya akan melibatkan kedua perusahaan tersebut bekerja sama untuk mengembangkan dan memberikan sistem penargetan. Leonardo memberikan kontribusi keahlian dan pengalaman produksi sistem avionik untuk program jet tempur Eurofighter Typhoon dan Saab Gripen E.

Sebagai bagian dari kerjasama, Leonardo merencanakan untuk melokalisasi bagian-bagian produksi sensor dengan Hanwha Systems di Korea Selatan dan akan membantu mengembangkan kemampuan perusahaan di sejumlah bidang teknologi maju.

Keahlian Leonardo dalam bidang elektronika untuk jet tempur sudah mapan. Di bidang IRST, perusahaan menyediakan sistem ‘Skyward-G’ untuk jet Saab Gripen-E dan memimpin konsorsium EuroFIRST untuk sensor IRST ‘PIRATE’ untuk Eurofighter Typhoon. Yang terakhir ini telah diuji secara ekstensif oleh Angkatan Udara Inggris dan Italia dan akan dikirim untuk pelanggan Kuwait. Setelah menginvestasikan waktu bertahun-tahun dalam pemrosesan sinyal dan perangkat lunak yang ada di jantung sistem IRST, Leonardo akan dapat bekerja sama dengan Hanwha Systems untuk menghadirkan sensor yang efektif yang dapat mengenali dan melacak target dengan akurat, bahkan dengan mempertahankan pelacakan pada dua target yang terpisah.

Untuk kerjasama teknologi targeting pod ini, Leonardo akan membawa pengalamannya menyediakan laser target untuk berbagai sistem pesawat terbang canggih. Hal ini termasuk perancang laser untuk pod penargetan Sniper® dan LITENING sistem penargetan F-35 dan Apache EO. Di seluruh dunia, bisnis laser Leonardo mencakup sekitar 75% pasar global untuk laser militer berenergi tinggi dan kolaborasi terbaru ini akan menerjemahkan posisi kepemimpinan ini ke dalam sistem penargetan elektro-optik kelas dunia untuk pasar Korea dan ekspor.

Kesepakatan tersebut akan memperluas kegiatan Leonardo yang sudah substansial di Republik Korea. Leonardo telah sukses dalam memasok helikopter AW159 ke Angkatan Laut Republik Korea (RoKN) untuk memenuhi kebutuhan helikopter operasional maritimnya. AW159 yang dioperasikan oleh RoKN membawa avionik Leonardo seperti Suite Bantu Defender Helikopter (HIDAS), yang telah terbukti secara luas beroperasi dengan Angkatan Bersenjata Inggris di Afghanistan, radar AESA yang dioperasikan secara aktif oleh Discovery’s Seaspray 7000E dan elektronik terbaru perusahaan tersebut, peralatan peperangan yang disebut ‘SAGE’.

Disunting dari : www.leonardocompany.com
Oleh : Senopati Pamungkas

Bagikan:

  117 Responses to “Mengisi Teknologi Inti Pesawat KFX/IFX”

  1.  

    Sudah saya terbitkan yg bung SP.. Sesuai janji saya kemaren.

    •  

      xixixixi…..

    •  

      Dulu fans elbot sllu bilang sebaiknya indonesia membeli f-16 viper supaya TOT Kfx/ifx lancar, gk lihat korsel apa sudah beli f-35 dgn imbalan ToT 25 teknologi malah di PHP sama ameriki hanya di kasih 21 teknologi agar gk kelihatan ngibulin 😀 padahal 4 teknologi itu yg di incar korsel sekarang fans gripen yg bersuara gimana kalo indonesia beli gripen 3 skuadron buat patroli agar swedia mw membantu proyek kfx/ifx termasuk untuk melancarkan pengembangan radar AESA.

    •  

      Terima kasih Bung Ruskye dan Bung Diego,

      Proyek KFX/IF ini sudah menjadi kenyataan yang harus kita hadapi semenjak diputuskan oleh Bp. SBY 2012 lalu. Menarik diri dan memperdebatkan dengan siapa? oleh siapa? karena apa? mengenai keputusan itu tentu hanya akan menjadi debat tak berujung.

      Kita sebenarnya patut bersyukur KFX/IFX ini melampau ujian Pergantian pemerintahan di masing-masing negara baik Pemerintahan Korsel maupun RI untuk terus maju.
      Bahkan kita bisa melihat produksi pespur di luar “mainstream” saat ini, seperti Shinsin (postpone), Sulfur Block3 (baru mulai tahap desain2018), TFX (tahap desain) padahal kelahiran mereka lebih dulu/sama dengan KFX/IFX.

      Kenapa tidak berkutub ke Rusia ? karena memang mereka kalah dalam tender KFX/IFX.
      Kenapa referensi teknologinya adalah F35 ? karena pemenang tendernya LM.
      Kenapa tidak Gripen ? karena dari awal tender KFX sudah bermasalah, selain platform juga waktu lahirnya Gripen NG tidak tepat/sesuai.

      Waktunya sekarang adalah mengawasi/mengkritisi apakah pemilihan Teknologi KFX oleh DAPA benar-benar mencerminkan target dan ambisi tinggi yang kita harapkan. Beberapa langkah pemilihan 4 teknologi INTI ini sudah sangat menjanjikan sesuai uraian di atas. Tidak bisa lagi kita berdebat tentang ASAL MUASAL ini mahluk ini lahir, tetapi sekarang bagaimana caranya membesarkan MAHLUK ini.

      Mengenai TOT teknologi, sepertinya memang kita tidak bisa berharap banyak dengan 20% ini. Tetapi ada kentungan yang bisa kita ambil dengan sistem ini yaitu :
      1. Kita bisa merakit dan menguasai How Know design, develop dan membangun Pespur.
      2. Kita berhak untuk mendapatkan offset dan meningkatkan lokal konten (vendor lokal)
      3. (ini yg penting) , Kita boleh mengganti, merubah, mencangkok teknologi-teknologi di luar Produsen awalnya dengan teknologi lain yang kita dapatkan dari Source (mungkin dari Block lain).
      Saya bermimpi, jika KFX hanya bisa berbahasa Inggris dan makan McD ,
      so nantinya IFX bisa bahasa Inggris dan Rusia sama baiknya dan makan McD dan Minum Vodka tanpa canggung.

      •  

        Kesimpulan dari projek ini, menurut saya:
        Kemaslahatan akan lebih banyak kita dapatkan ketimbang mudharatnya.

        Untuk pengembangan lebih lanjut, IFX sendiri pasti akan lebih mantap citarasa bandrek hangatnya.

      •  

        Terima kasih pencerahannya bung! Kita berharap aja PT.DI, PT.LEN dan BUMN terkait bs mengajak R&D produsen2 kawakan bs joint produksi komponen terkait teknologi kedirgantaraan agar bs make in Indonesia seperti langkah yg diambil India.

      •  

        perjalanan masih jauh dalam meretas asa kemandirian{negara maju}penguasaan tehnologi bukan menjadi isu satu satunya….banyak yang harus dibenahi disegala lini ,,,agar sesuai dengan apa yang dicita citakan….!!!
        mungkin faktor ekonomi kebutuhan utama yang mendesak…mungkin akan seperti mimpi disiang hari…bila suatu saat nilai tukar rupiah menyamai dolar atau uero tanpa redenominasi{pemotongan nilai mata uang}….mungkin saya siang ini menjadi miliarder,,,karna uang disaku ada Rp400.000…..tapi sayang itu mungkin hanya mimpi disiang hari….xixizi…kembali kepada kenyataan sunguh menyakitkan…!!!

      •  

        Lah Bung SP, Ane dah bilang gitu ya tapi Ama Bung Yuli malah dibilang apa hubungannya Ama Rusia. Yaudah deh, Bung SP aja ya yg ngasih tau Bung Yuli. 4 teknologi inti yg masih harus dicari tinggal dijoin kan aja dg tempat lain. Jujur saja, IRST Rusia lebih bagus dan Jammer Pod Rusia juga tidak kalah. Bila targeting system’ serta radar AESA sudah dikembangkan dg pihak lain, Kita nyari sumber lain lagi untuk pengembangan blok 2 kita. Lagian kalo ttd Su-35 semuanya berjalan lancar, bisa saja kita minta ToT IRST dan Jammer Pod untuk IFX kita kedepannya.

        •  

          bisa jadi klise bila kita berpikir harus dari mana kita dapat ilmu{tehnologi}sedang kita tidak memilih saja sukarnya minta ampiun….!!!
          yang menjadi sukar dalam mecapai tujuan{tehnologi inti}ialah kurangnya daya tawar{keuntungan yang ditawarkan}kepada pemilik tehnologi…jadi rada angel yoo..maka sebab itu isu terus berkembang baik dibidang ekonomi maupun politik…demi mencapai keberhasilan…negosiasi tersebut….maka pembelian alutsista memakan banyak waktu dan nego berulang…karna yang dibutuhkan indonesia sekarang adalah bagai mana mencapai penguasaan tehnologi…maka kata darurat sebenarnya pada mendapatkan tehnologinya dari pada sekedar alutsiistanya…beda bila kita dalam keadaan krisis{konflik}pengadaan alutsista lebih diutamakan ketimbang faktor lainya…!!!

        •  

          Agato itu artinya kita tidak bisa menolak Russia dan amrik serta negara lain kan? Pembelian su 35 itu bisa menguntungkan Indonesia dan pendekatan dgn amrik bisa menguntungkan Indonesia, yg penting kita jgn diperbudak asing lah …

          Tumben ente bener sih haha

        •  

          Pembelian Su-35 sudah menggunakan mekanisme tersendiri… pengembangan IFX menggunakan mekanisme tersendiri dimana LM menjadi mitra pengembangan… kalau berharap mendapatkan ToT tersebut untuk pengembangan IFX jelas tidak relevan dan pasti Russia akan melihat itu juga…
          Project pengadaan Su-35 sudah include persyaratan ToT 35% dan imbal dagang… kalau dicampur aduk lagi dengan persyaratan ToT ini itu, jamin bakalan ga kebeli itu pespur… sekarang saja pembicaraan alotnya setengah mati…
          Lagian dipisah untuk project yang berbeda jangan semuanya di generalisasi, mumpunh beli ini butuh ToT ini harus dapet, ya itu namanya seperti pepatah diwenehi ati ngrogoh rempelo…
          Jangan apa2 terus di kaitkan dengan Russia, kalau butuh teknologi tambahan ya bikin pembicaraan terpisah, supaya Russia juga merasa dihormati, bukan dengan cara2 seperti maksud ente itu… ToT teknologi inti itu mahal…

          •  

            Rempelo ati goreng di jalan Slamet riyadi enak kang, kadang ada pete goreng nya

            😛

          •  

            Penjabaran bung Yuli sangat bijaksana..betul program IFX dengan Sukhoi/Russia sudah lain kebijakan pemerintah. Jangan dicampur adukkan..

          •  

            Kalau sama yang satu itu memang mesti sabar bung Hendria… bahkan kalau ngikuti alur dia, bisa kemana2 ga karuan pokoknya… saya hanya berusaha meluruskan saja… minimal tetap di jalur yang seimbang…

      •  

        haaahaa kfx cuma AS dan AS,sementara ifx kiri kanan ok

      •  

        Coba pahami inti dari tulisan bung SP dimana diantaranya adalah pengembangan pespur ini sebagai mitra pendukung adalah LM, ketika tidak mendapatkan semuanya dari LM ya sudah cukup dan tutup…
        Pengembangan lanjutan ya dilakukan kemudian, tidak serta merta kemudian kita ngoprek sana sini untuk mendapatkannya dari pihak lain hanya dengan alasan membeli pespur 11 biji… ga ada sangkutan dan hubunganya…
        Justru kalau ingin mendapatkan teknologi itu, ya kita melakukan hubungan yang lebih baik dengan Russia sembari melakukan pembicaraan untuk mendapatkan ToT untuk tenologi yang kita butuhkan dan jelas tidak akan ada yang gratis…
        Sekarang ini pengembangan KFX/IFX jelas masih banyak menjadi keputusan Korsel yang memiliki porsi 80%… apapun jadinya mau tidak mau kita harus mengikuti dan tidak bisa dengan semudah itu kita mengaplikasikan teknologi Russia untuk di cangkok disana, pasti Russia juga tidak mau alatnya main digangkok di pespur dimana mereka sudah kalah tender…

        •  

          Gak ada hubungannya dg kalah tender atau enggak. Dan untuk ToT 35% dari pembelian Su-35 jujur Ane belum pernah denger apa aja yg bakal dikasih, bahkan spoilernya sekalipun. Mungkin Bung Yuli atau Bung Jimmy bisa kasih gambaran apa aja yg bakal diterima oleh Indonesia dari 35% ToT itu.

          •  

            Hla itu kan untuk konsumsi militer… konsumsi militer itu top secret… jika diberitahukan kepada anda nanti LM ikut2an, kalau jualan ngasih ToT nya copas…

          •  

            Aneh tidak ada hubunganya… seharusnya teknologi inti itukan menjadi tanggung jawab pemenang tender, bukan tanggung jawab orang lain… masak yang disuruh mikir malah yang memberi tender… Hhhhhhhh

  2.  

    Wah, Bung Ruskye bisa nitip kirim artikel juga nggak??

  3.  

    ERA JAYA LEONARDO{SELEX’an}makin laris nii prodak…padahal engak pake sales…xixixizi…!!!

  4.  

    Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa Lockheed Martin tidak bersedia memberikan 4 teknologi inti KFX (AESA, IRST, Targeting Pod dan Jammer) walaupun pada awalnya inilah syarat “Imbal beli” Korea Selatan untuk pembelian F35.

    Licik sekali memang si loket… Ada yg masih mikir kalau indonesia beli viper bakal dikasih ilmu sm loket?? Haha… Ngimpi dikasih sm si super pelit… indihe aja yg mo borong banyak ga dikasih… Semoga loket memang di indihe terus kena jebakan tuan takur wkkkk….

    •  

      Bung Agato sama bung Tukang Ngitung PhD suruh loby ke loket aja kan sekutu setianya.. xixixi ?

    •  

      Indonesia gak beli F-35 tapi pengembangan IFX pake teknologi F-35. 20 dari 24 teknologi F-35 atau sekitar 83,33% akan diberikan dalam pengembangan KFX/IFX.
      Gggfggh Dr
      Bandingkan dg Embel-embel ToT 35% dari Su-35 untuk Indonesia, jika pembelian deal dan TTD terealisasi. Nah sekarang siapa yg licik?? Indonesia gak beli F-35 loh, cuma beli F-16V. Tapi kita dikasih lebih dari 80% teknologi inti yg dibutuhkan di KFX/IFX.

      •  

        Teknologi yg anti air hujan dan anti petir itu yaa?

        😀

      •  

        Napa bw2 rusia?? Rusia tidak terpilih dlm pengembangan KFX sm Korsel… Kalau saja mereka pilih kerjasam dng rusia dulu mungkin Hasilnya akan lain… Mau lihat Contoh teknologi hasil Kerjasama Rusia dan korsel?? Noh liat Km sam, sekarang malah mau dibuat Versi yg lebih Wah bareng Almaz Antey… Ada lagi lagi Hyunmoo Iskander misile versi Korsel… Padahal mereka bukan Sekutu lho, tapi dari situ aja udah bisa dilihat Rusia tidaklah pelit seperti yg dibayangkan selama ini… Dan Mungkin juga…. kalau si Boeing dulu yg terpilih hasilnya akan beda dari pada si Licik tukang kibul loket wkkkk….

        •  

          ngepot kan… memang suka ngepat ngepot, salah sendiri KF-X/IF-X kerjasama dengan Loket, coba kerja sama dengan yang sebelah… ga bakalan terkatung dan di gantung dengan PHP… kalau India lebih cerdik dengan dari awal sudah minta kejelasan teknologi inti, sehingga dengan mudah melakukan tender terbuka ulang… kalau KF-X sudah terlanjur jadi korban PhP

          •  

            Makanya sy bw2 boeing… Masalahnya simple “Loket tukang kibul ” dan kalau sj bukan Loket yg terpilih dulu, maka mungkin korsel sekarang tidak akan kesulitan mencari alternatif buat teknologi yg tidak dikasih sm tukang kibul itu xixixi….

          •  

            mungkin bisa jadi itu operandi loket bung… sengaja memperumit perkembangan KFX, karena bisa berpotensi menjadi pesaing berat F-35 mereka… dan dengan menarik ulur 4 teknologi intik mereka juga bisa memaksa Korea selatan dan Indonesia untuk membeli sebanyak mungkin pespur buatan loket…
            Pespur laku dan proyek ga jadi2… hitungan pebisnis itu adalah langkah brilian, dan bagi Korsek dan Indonesia jelas itu adalah sial dangkalan…

          •  

            Setuju Bung Yuli, hahahaha (sampai-sampai bawa sial dangkalan)

      •  

        @Sugimura agato “indonesia tdk beli f-35 tapi di kasih 80% teknologi buat kfx/ifx” cara berpikir anda gmn ya? Indonesia emang gk beli f-35 tapi yg beli korsel dgn imbalan amerika mentransfer 25 teknologi yg dibutuhkan dlm pengembangan kfx/ifx yg kemudian belakangan menolak menyerahkan 4 teknologi kunci yg sudah di sepakati kan kampret namanya, walau jika nnti indonesia mendpt teknologi tersebut itu jg tdk gratis karena indonesia terlibat dgn proyek jet tempur korsel dgn bantuan dana 20% dari indonesia.

      •  

        Ada yang harus digaris bawahi dari project KFX/IFX dalam hal ini adalah kemungkinan aka ada perbedaan spec antara KFX/IFX.

        •  

          saya rasa tahap awal{produsi perdana}tidak akan ada perbedaan….karna mengikuti kontrak…pengadaan dan pembagian baik modal maupun pengerjaanya…!!!

        •  

          Kalo spek ga akan beda, yg beda penguasaan tekonologi/hak intelektualnya.. Makanya di blok 2 baru dibedain speknya..

          •  

            saya rasa tidak atau belum ada hak kekayaan intelektual…karna pada dasarnya kita tidak menciptakan prodak {tehnologi}tehnologi …!!!

          •  

            Trus yg skrng lg dibikin 4 teknologi KFX bukan menciptakan produk maksudnya?? Trus KFX/IFX yg lagi dibuat namanya apa bung?

          •  

            terus yang mau dipatenkan itu yang mana bung…???

          •  

            Pesawat sama 4 teknologi intinya.. Walaupun gado2 dalemannya KFX/IFX tetep harus dipatenin..

          •  

            …mungkin anda kurang paham masalh kekayaan intelektual…!!!
            kalo kita mematenkan tehnologi yang sudah ada terus penemu dan peciptanya…mau kita bunuh dan rebut hak ciptanya…yaa….!!!

          •  

            Coba dibaca lagi yg bener ya mengenai hak intelektual biar paham ya.. Didalemnya ada yg namanya hak merk, hak cipta sama hak paten..

            Coba di baca lg atu2 ya biar tau bedanya.. Selamat membaca.. Xixixixixixixi

          •  

            oohhh maksudnya merk kfx/ifk…yaa bung…?!?!?!! berarti banyak yang bayar royalti kekita dong…seperti turki dengan tfx nya…xixixizi….kalo gitu mesti banyak kita buat merk…serupa…!!!

      •  

        mantap..

      •  

        Indonesia kagak beli viper juga emang udah pasti diijinin pake teknologinya ampe 80%.. Karena 4 teknologinya intinya ga dikasih bung.. Xixixixixixixi

        •  

          yang paling logika adalah, Indonesia dengan share 20% akan teramat sulit untuk mendapatkan hak yang sama dengan 80%.
          Amerika melakukan ToT lebih mengutamakan kepada Korsel, hal tersebut dikarenakan jumlah pembelian alutista Korsel terhadap Amerika (pespur dan lainnya) yang jauh lebih besar dari Indonesia.
          Dari 80% teknologi LM itu hanya penerapannya (instal) saja, bukan “pure” ToT.
          ToT adalah transfer teknologi (cetak biru dan sebagainya hingga konsumen mendapatkan pembuatan, perakitan, perawatan, atau hingga penjualan dari hak paten yang bersangkutan.)

          •  

            ToT atau alih teknoogi itu seperti halnya kita diberikan bocoran sehingga kita mampu membuatnya minimal untuk standard paling dasar, sehingga bisa membuat dan mengembangkan sendiri… mungkin untuk penjualan akan ada konsekuensi adanya biaya lisensi/hak paten…
            Dan perlu dipahami Korsel sudah memiliki pengalaman memproduksi T-50i sehingga proyek ini jelas bukanlah dari nol, dan mungkin kemampuan Korsel sudah 20-40 persen…

          •  

            Paling kita ini di support dgn produk mereka dan diajari merakit aja, bukan dikasih Tetot cara bikin produk tsb lah

            😀

  5.  

    Bisa gk ya kira2 indonesia menguasai ke 4 teknologi inti itu

  6.  

    Tapi 5tt

  7.  

    Utk IRST KFX pengembangannya base on Skyward-G sama kaya punya gripen.. Nah lohh.. Xixixixixixixi

  8.  

    Kan itu dari Leonardo, bukan SAAB punya. Masak iya mau pake itu harus beli Gripen dulu??

  9.  

    Mantap bung SP, cuma mau sampe kapan RI jg konsumen dan selalu ketergantungan?

  10.  

    Bung Kiwereupete gimana kabarnya nih. Katanya jadi jualan bakso di GBK hari ini ya. Moga aja gak dipake tuh baju Viking. Padahal yg Timnas lagi tanding lawan Viking asli loh. Bajunya juga biru gitu.

    •  

      Kagak bakalan berani dia! Takut rame yg beli tapi nembak gak mau bayar malah tambah dipalak lg.he3.

      •  

        Hhhhhhhhhh, semoga selamat Bung Kiwereupete. 1:1 skornya. Permainan timnas Indonesia harus terintegrasi Pepepa dan bermain senyap ala F-35. Jangan hanya mengandalkan manuver individu aja ala Su-35 karena bakal kalah dibantai Islandia ntar. Kerjasama tim itu sangatlah penting. Hhhhhhhhhh

        •  

          Indonesia kan dari kemarin terlalu percaya diri… seperti kebiasaan USA yang agresif dan menyerang posisi lawan dengan serangan2 frontal… Islandia tidak jauh berbeda dengan negara2 yang menang melawan Indonesia sebelumnya, bermain lebih bertahan dan mengandalkan serangan balik yang kuat dan efektif…
          Pertahanan yang baik akan membuat lawan frustasi dan ketika dilakukan serangan balik cepat maka langsung K.O… dalam sepak bola bagaimana caranya bermain senyap??? kecuali pemainya hollow man…
          Dimanapun dalam sepak bola dibutuhkan pemain dengan skill individu super untuk memporak porandakan pertahanan musuh yang super manuver seperti L.Messi dan memiliki kecepatan seperti CR7 dengan kemampuan komplit dan kemampuan jelajah luar biasa… dan itu dimiliki Su-35 bukan F-35 yang lamban gemuk dan kurang mampu bermanuver…

        •  

          Mereka bisa bagus kalo ada teamwork yg mumpuni. Kalo gak ada apalagi play maker yg luar biasa jelas mudah dipatahkan walopun punya pemain sehebat Messi/CR7 sekalipun. Sejarah sudah membuktikan hal itu.

          •  

            Sejarah membuktikan, Barcelona era Messi jauh lebih sukses daripada era sebelumnya… dan Real Madrid dengan CR7 bisa menjadi satu2nya tim yang menjuarai UCL beruntun… apakah bisa kalah??? jelas bisa, tetapi kesuksesan dan kekalahannya jelas lebih banyak suksesnya…
            Tidak berlaku untuk Timnas Argentina, karena kebanyakan bintang malah berguguran, tetapi CR7 membuktikan di Portugal dengan menjadi juara Eropa…

  11.  

    sangat setuju bung WK…!!!! pada intinya bangai mana kita mampu mengatasi segala kendala tanpa harus pesimis apa lagi sampai apatis…!!!

  12.  

    Yang penting ifx bisa terbang dululah. Masalah teknologi intinya belakangan di TOT sama kompetitornya si loket. Bisa terbang aja syukur untuk bawa bom dijatuhin di gunung2 dipapua markas OPM. Yg penting punya pespur sendiri lebih maju dari malingsial.

  13.  

    Negara bisa keluar kocek banyak untuk program ini, untung bagi pihak luar, rugi buat Indonesia. Gimana tidak, bikin pesawat sekelas KFX/IFX gen 4 uang yg harus di kucurkan oleh negara banyak bingit, terus hasilnya baliknya apa? di jual juga ndak bisa, kalaupun di gunakan, belum tentu juga bisa fight dengan jet tempur fighter lainnya. kenapa ndak satu fokus saja pengembangan market dan teknologi yg ada di PT. DI?

    •  

      PT DI itu cuma Fuselage CN 235/295, Puma/Superpuma, Cougar dsb. Belum mengumumkan know how pembuatan pespur apalagi Fuselagenya. Itu dah untung langsung lompat ke teknologi 4+. Gitu aja gak bersyukur.

      •  

        Ente ini gimana seee….negara ini lagi miskin, tuuuhhhh ada ndak nyimak berita, kalau mau ada impor beras….ituhhh beli beras duit pake duit siapa? lalu duitnya pake kurs asing pulak….lha kalau duit negara di hamburkan buat hal2 yg tidak menguntungkan, buat apa? enak buat orang asing….susah buat kita sendiri. Bocah mokong.

    •  

      Uang yang dikucurkan banyak banget ?

      Oalah thole, thole, luwih akeh biaya nek riset nggawe pespur saka nol (Oalah nak, nak, lebih banyak biaya yang dikeluarkan jika harus riset bikin pespur dari nol). Selain biaya juga waktu. Lihatlah Tejas India butuh waktu 30 tahun untuk riset dan pengembangannya.

      Kalian itu mesti harus berterima kasih sudah dibantu 80% dan riset serta pengembangan hanya makan waktu kurang dari 20 tahun sejak ide pembuatan IFX dicanangkan.

      Ibarat kalian jalan kaki ke suatu tempat yang jaraknya 30 km, kalian dibantu numpang mobil sejauh 24 km, yang 6 km sisanya silakan kalian selesaikan sendiri dengan berjalan kaki.

      Ibarat kalian mau makan, sudah ada nasi, sayur dan sambal, kalian tinggal menggoreng telur untuk lauknya.

      •  

        Ahhh Tuan PHD ini bagaimana, mana ada dalam dunia orang asing kasih free buat kita dpt mentahan yg sudah di olah? teknologi buat mereka adalah cara mereka keruk duit, mana mungkin mereka kasih tranfer of teknologi begitu mudahnya….apalagi gen 4…..gak kebayang kalau kita mau di palak sama orang asing.

      •  

        Dek TN, apa sdh yakin project ini bakal di support penuh sama amrik dan loket sampai jadi selesai semua nya?

      •  

        Tn phd hanya brharap pd orang kedua, bukan orang pertama, mmng kalau tn phd berharap pd orang pertama, mungkin akan dicuiki sampai mati, jd wajar ajja tn phd berharap broo

        Hahhaahaaaa

  14.  

    Mereka yang memiliki hak paten pada awalnya memerlukan biaya lebih besar dalam meriset pespur untuk menjadi yang terbaik dikelasnya.
    KFX/IFX tidak sepenuhnya hasil dari ToT dari pihak luar, contohnya yang mendisign KFX/IFX adalah KorSel dan Indonesia, hanya saja jika ada teknologi yang tidak dikuasai oleh KorSel dan Indonesia akan ditenderkan kepada pihak luar.
    Dalam hal ini pihak luar (Amerika / LM) hanya tidak bersedia memberikan sepenuhnya teknologi inti yang dibutuhkan project KFX/IFX karena alasan tertentu.

  15.  

    Kita kerjasama korea cuman sampai blok 1. Biar korean sendiri yg ngembangin sampai blok 3. Nanti klo udah jadi baru kita beli tuh kfx 2 squadron +tot. Untuk ngembangin ifx kita yg 50 bj . itu lebih murah…seperti cambogo class

  16.  

    Tidak apa2 ifx dilanjutkan asal ada janji kepastian dari penyuplai material pespur baik berupa mesin, tehnik perakitan dan pendukung…..

    Jangan pada bilang tetot tetot soal bikin material nya, apalagi percaya sama omongan si penjual kecap dan jamu, jika kita bakalan dapat tot bikin material sampai 80% itu mah ngawur kwadrat

    Huehuehue

    😎

 Leave a Reply