Jan 092015
 
F/A 18 E/F Super Hornet

F/A 18 E/F Super Hornet

Sepertinya juga kita masih terlalu terpengaruh dengan aksi “gombal” Ausairpower yang mencaci-maki kemampuan Super Hornet, dan terus mengangkat Su-35S sebagai ancaman yang sangat serius!

Apakah kemampuan Super Hornet (yang dimiliki Australia) begitu jelek? Sama sekali bukan tandingan Super Flanker?

Video di Youtube memberikan satu gambaran yang menarik:

Pertama-tama, F-18F US Navy ini, tidak seperti Su-35 dalam atraksi-atraksi lain, membawa perlengkapan berat utk Air-to-Air mission; 6 AMRAAM, dan 2 AIM-9X — menambah beban dan drag rate. Jadi walaupun demonstrasinya tidak kelihatan terlalu hebat dibandingkan Flanker, kemampuannya sebenarnya patut dikagumi, karena F-18F ini mungkin lebih mendekati konfigurasi tempur di dunia nyata.

Di menit 2:20, F-18F yang membawa missile ini memperlihatkan manuever “high Angle-of-Attack” yang sangat menarik, melaju perlahan dengan moncong mengarah ke sudut lain — menunjukkan kemampuannya untuk mengarahkan moncong pesawat dengan cepat untuk mengambil posisi menembakkan missile WVR.

Patut dicatat disini, SEMUA Flanker dalam setiap atraksi selalu “kosong”, dan hanya membawa kurang dari setengah tangki penuh BBM. Dalam konfigurasi seperti ini, jelas, kemampuan manuever Flanker sangat piawai.

Thrust-to-weight ratio dengan bensin penuh dan dry thrust (tanpa afterburner) — ratio lebih tinggi diatas 1 berarti lebih bagus:

  • Su-35 rasionya 0.96 — tidak berbeda jauh dibanding F-18 E/F yg 0.94.
  • Gripen-C dan Typhoon jauh lebih unggul, dengan ratio 1.06 dan 1.07. Kedua tipe Eropa ini dalam perhitungan rasio juga memasukkan juga 2 tambahan missile (menambah beban dan drag rate).

Angka pembanding berikutnya adalah Wing Loading (semakin kecil angkanya, semakin bagus kemampuan manuever-nya):

– Gripen-C = 283 kg/m2
– Typhoon = 321 kg/m2
– Su-35 = 409 kg/m2
– F-18F = 459 kg/m2

** Angka untuk Gripen-E/F belum tersedia, karena pesawat pertama belum mengudara, dan datanya belum siap — tapi diklaim lebih tinggi daripada angka yang tersedia untuk Gripen-C. Tentu saja, mesin F414G akan memberikan daya dorong yang lebih kuat.

Angka wing-loading ini mempengaruhi kemampuan kinematis untuk manuever di jarak dekat dari segi Fisika, walaupun bukan penentu utama dalam instantenous-turn-rate.

Angka thrust-to-weight ratio dari Su-35 juga sepertinya menunjukkan kalau tipe ini belum bisa supercruise seperti Typhoon atau Gripen-E. Dari segi akselerasi, dengan FULL afterburner, Su-35S akan tetap lebih unggul dibandingkan F-18F atau Gripen, tapi FULL afterburner dalam pertempuran jarak dekat berarti mengundang WVR missile dengan IR-seeker.

Ini membuka kemungkinan, bahwa walaupun Su-35 jauh lebih piawai dalam atraksi akrobat, belum tentu bisa jauh lebih unggul dibanding semua pesawat pesawat lain buatan Barat.

Bacaan tambahan:

F-14 vs F-18: which one would you fly in combat?

Pilot-pilot dan pengamat US Navy membandingkan kemampuan Super Hornet dengan F-14A Tomcat (ingat film Topgun?). Kesimpulan mereka menunjukkan kalau Super Hornet (SH) akan lebih menggunguli Tomcat dalam kemampuan manuever jarak dekat.

“In close air combat, the Super Hornet is much maneuverable (with a good authority at slow speed and high AOA – angle of attack) ”

Ini sepertinya menunjukkan alasan kenapa pemerintah Australia memutuskan untuk “mencuekin” Ausairpower, dan membeli SH. Biar bagaimanapun juga, SH bukanlah pesawat yang tidak terkalahkan di dalam air combat — dalam hal ini beberapa pendapat orang benar; SH tidak dirancang untuk 100% air combat seperti Flanker / Tomcat, tapi lebih didesain untuk serangan udara-ke-darat. Tapi bukan berarti kemampuannya bisa diremehkan.

Kalau F-35 kemampuan kinematisnya bisa menyamai F-18E/F saja, ini sudah luar biasa bagus. Tapi dari informasi yang ada (kebanyakan masih dirahasiakan, atau simpang-siur), kemungkinan F-35 bahkan tidak dapat menandingi F-18E/F. (oleh: wipe out).

  93 Responses to “Mengukur Kemampuan Manuver F/A18 Super Hornet”

  1.  

    setuju dgn Analisa bung wipe out .. Lbh baik kita menarik dri dari proyek kf-x yg gk jelas ini. Klo emang niat kita adalah kemandirian dalam pembuatan jet tempur , beralih ke saab gripen bs jd opsi laen …
    klo gk salah, dlu ada warjag yg kerja di LM ikut mengomentari tntg krjsma kfx/ifx ini.. . Yg menyarankn indonesia menarik diri dr proyek ini n lebih baik mencari partner laen .

  2.  

    canggihan malo **nlah… bisa eject kat hanggar & panen sawit.
    xi… xi… xi…

  3.  

    waktu SBY datang ke ambalat jadi tameng hidup.kanjeng papi jokowi lagi ngukir kursi, jadi mana tahu soal embargo..

  4.  

    hoi ali baba meneng wae cangkemu.jokowi itu tahu klo kamu rasani.jokowi itu lebih hebat.sopo yang kasih keluar mobil nasional pertama smk?sby…?bukan toh.mikiro.jokowi iku jokowibowo..titisan panglima sudirman dan diponegoro,panembahan senopati,raden wijaya,sby iku sopo?wong ndeso.jadi presiden lama…daerah pacitan tetep wae ngono.

  5.  

    Ingat ketika F-18 ASU lock F-16 TNI?? tidak lama kemudian aust borong f-18 dari ASU.

    Ingat ketika Sukhoi TNI di lock ketika sedang latihan di Makasar?? Tidak lama kemudian Aust borong F-35 100 units.

    Sepertinya sebelum membeli, Aust coba real combat dulu di sini !!!

  6.  

    Yang teriak-teriak supaya kita membeli Gripen dengan alasan supaya kita tidak terkena embargo, saya sarankan membaca dengan detail komponen2 yang dipakai Gripen:
    – Mesin: General Electric F414
    – Persenjataan: Jarak pendek pakai Sidewinder, Jarak jauh pakai AMRAAM, Air to Ground Missile pakai Maverick. Bisa kita opt untuk misil jarak pendek pakai IRIS-T dari Jerman, dan misil jarak jauh pakai MICA dari Perancis.

  7.  

    pespur yang paling pas buat NKRI ya IFX

 Leave a Reply