Jan 092015
 
F/A 18 E/F Super Hornet

F/A 18 E/F Super Hornet

Sepertinya juga kita masih terlalu terpengaruh dengan aksi “gombal” Ausairpower yang mencaci-maki kemampuan Super Hornet, dan terus mengangkat Su-35S sebagai ancaman yang sangat serius!

Apakah kemampuan Super Hornet (yang dimiliki Australia) begitu jelek? Sama sekali bukan tandingan Super Flanker?

Video di Youtube memberikan satu gambaran yang menarik:

Pertama-tama, F-18F US Navy ini, tidak seperti Su-35 dalam atraksi-atraksi lain, membawa perlengkapan berat utk Air-to-Air mission; 6 AMRAAM, dan 2 AIM-9X — menambah beban dan drag rate. Jadi walaupun demonstrasinya tidak kelihatan terlalu hebat dibandingkan Flanker, kemampuannya sebenarnya patut dikagumi, karena F-18F ini mungkin lebih mendekati konfigurasi tempur di dunia nyata.

Di menit 2:20, F-18F yang membawa missile ini memperlihatkan manuever “high Angle-of-Attack” yang sangat menarik, melaju perlahan dengan moncong mengarah ke sudut lain — menunjukkan kemampuannya untuk mengarahkan moncong pesawat dengan cepat untuk mengambil posisi menembakkan missile WVR.

Patut dicatat disini, SEMUA Flanker dalam setiap atraksi selalu “kosong”, dan hanya membawa kurang dari setengah tangki penuh BBM. Dalam konfigurasi seperti ini, jelas, kemampuan manuever Flanker sangat piawai.

Thrust-to-weight ratio dengan bensin penuh dan dry thrust (tanpa afterburner) — ratio lebih tinggi diatas 1 berarti lebih bagus:

  • Su-35 rasionya 0.96 — tidak berbeda jauh dibanding F-18 E/F yg 0.94.
  • Gripen-C dan Typhoon jauh lebih unggul, dengan ratio 1.06 dan 1.07. Kedua tipe Eropa ini dalam perhitungan rasio juga memasukkan juga 2 tambahan missile (menambah beban dan drag rate).

Angka pembanding berikutnya adalah Wing Loading (semakin kecil angkanya, semakin bagus kemampuan manuever-nya):

– Gripen-C = 283 kg/m2
– Typhoon = 321 kg/m2
– Su-35 = 409 kg/m2
– F-18F = 459 kg/m2

** Angka untuk Gripen-E/F belum tersedia, karena pesawat pertama belum mengudara, dan datanya belum siap — tapi diklaim lebih tinggi daripada angka yang tersedia untuk Gripen-C. Tentu saja, mesin F414G akan memberikan daya dorong yang lebih kuat.

Angka wing-loading ini mempengaruhi kemampuan kinematis untuk manuever di jarak dekat dari segi Fisika, walaupun bukan penentu utama dalam instantenous-turn-rate.

Angka thrust-to-weight ratio dari Su-35 juga sepertinya menunjukkan kalau tipe ini belum bisa supercruise seperti Typhoon atau Gripen-E. Dari segi akselerasi, dengan FULL afterburner, Su-35S akan tetap lebih unggul dibandingkan F-18F atau Gripen, tapi FULL afterburner dalam pertempuran jarak dekat berarti mengundang WVR missile dengan IR-seeker.

Ini membuka kemungkinan, bahwa walaupun Su-35 jauh lebih piawai dalam atraksi akrobat, belum tentu bisa jauh lebih unggul dibanding semua pesawat pesawat lain buatan Barat.

Bacaan tambahan:
http://theaviationist.com/2012/11/21/tomcat-vs-hornet/

Pilot-pilot dan pengamat US Navy membandingkan kemampuan Super Hornet dengan F-14A Tomcat (ingat film Topgun?). Kesimpulan mereka menunjukkan kalau Super Hornet (SH) akan lebih menggunguli Tomcat dalam kemampuan manuever jarak dekat.

“In close air combat, the Super Hornet is much maneuverable (with a good authority at slow speed and high AOA – angle of attack) ”

Ini sepertinya menunjukkan alasan kenapa pemerintah Australia memutuskan untuk “mencuekin” Ausairpower, dan membeli SH. Biar bagaimanapun juga, SH bukanlah pesawat yang tidak terkalahkan di dalam air combat — dalam hal ini beberapa pendapat orang benar; SH tidak dirancang untuk 100% air combat seperti Flanker / Tomcat, tapi lebih didesain untuk serangan udara-ke-darat. Tapi bukan berarti kemampuannya bisa diremehkan.

Kalau F-35 kemampuan kinematisnya bisa menyamai F-18E/F saja, ini sudah luar biasa bagus. Tapi dari informasi yang ada (kebanyakan masih dirahasiakan, atau simpang-siur), kemungkinan F-35 bahkan tidak dapat menandingi F-18E/F. (oleh: wipe out).

Bagikan Artikel :

  93 Responses to “Mengukur Kemampuan Manuver F/A18 Super Hornet”

  1. Su 35 strong

  2. bagus ndaknya,, dlm jual beli alutsista yg utama kan tetep kekuatan diplomasi politik yg paling berpengaruh…..

  3. masa sih??
    nunggu komen sesepuh dulu ah

  4. orang INDONESIA udah kena tipu, tapi kok masih percaya ama us

  5. Pasti sama lah komentarnya .. Referensinya up to date

  6. Setiap membaca perbandingan pespur kok jadi teringat Moto GP. Honda unggul bla bla bla… hingga selalu unggul di tack lurus, Yamaha unggul bla bla bla..yang unggul di medan banyak tikungan,Ducati cuma bla.. ditangan biker yang tepat Ducati melibas mereka berdua.. :mrgreen:

  7. Sales AS

  8. hahahahha yayayayyaay ditunggu saja g mana jadinya mef 2

  9. sabar aja, terserah pemerintah aja mau beli yang mana…

  10. Ya udah kalo Russia jelek, US ngga mau, kita beli bikinan Cina saja: jay-tenbi

  11. Hayyyaa…

  12. mantap…..

  13. Wait & see ajelah.!!! Ini bagus itu bagus juga percuma, klo ga ada kesadaran dari pemimpin bangsa ini buat mandiri..!!! Dan bisa membawa bangsa ini berdiri diatas kaki sendiri..!!!

    ….NKRI HARGA MATI…

    • pemimpin y udh distir asing untk urusan pertahanan yg vital aja da di susupin asing………..asu ga bakalan biarin indonesia bisa mandiri n berdikari,……….

  14. asu lagi ..asu lagi..dimana negara akan hancur pasti dalang dibalik kehancuran sudah pasti negara asu yang menjadi dalangnya..Pelanggaran ham dan tebar fitnah menjadi senjata utamanya..ya allah tolong jauhkanlah Tanah air ini dari campur tangan asu amerika.

  15. propaganda yg dikumandangkan kirik mamarika emang bikin terlena,,

  16. ASU Tukang Kempul…diapusi sales lewat penulis..

  17. jika Indonesia membeli produk AS dengan sekala perbandingan pesawat pemukul brati Indonesia memang di dikte.. hornet itu sudah jelas dibawah su27, gak usah dibandingkan dengan su35. kejauhan..

  18. Mantap nih pespur dah betel propen lagi cocok dengan selera tni suka yang udah betel propen walopun udah lama menjanda wkwkwk

  19. y sekarang aj dah keliatan bgt pemerintah yg bru lbh condong k asu.. mulai dr laut dll, .. belajar dr cina yg setia condong k ruski akhir y jd slh satu negara militer trkuat d dunia. indonesia condong k asu tggl tunggu ancur y aj…. RI 1 soekarno is the best

  20. mulai terlihat tekanan dari AS dengan manipulasi lewat berbagai kerjasama..
    kalau perlu gak usah ada rahasia pertahanan, tukar-guling aset pertahanan yg digadang gadangkan rahasia negara! mungkin lebih baik.. lihat saja nanti, mungkin.., atau memperbanyak su dengan mengesampingkan kekayaan negara.

    maaf kalu saya ngtrol

  21. saya terlalu muak dengan PENJAHAT Dunia, dengan (si)-pembuat huru-hara dunia dan pelanggar ham dunia.
    kapan Indonesia merdeka?? aaah jagan indonesia, itu nama pemberian bangsa penjajah. cukup Nusantara, Nusantara yg kelak akan menjadi sebuah negara hebat sejahtra dan tentu saja merdeka seutuhnya..

  22. Tunggu realisasinya saja sambil berharap kedepan kita bisa buat pesawat tempur sendiri agar tidak bingung soal embargo

  23. pagi semua…
    Ngomong2,coba kitajgn suka berburuk sangka dulu sama amerika,blm tentu amerika berniat tdk baik kpd indonesia,agama apapun membenci org2 yg berburuk sangka dan menyebar fitnah..
    jk nanti pilihan tni jatuh ke pesawat2 tempur amerika tentu sdh melalui berbagai pertimbangan,semua pasti sdh dipelajari petinggi2 negri ini…jd jgn merasa lbh pintar dari para petinggi kita yah,nyantai bro…
    Pesawat tempur amerika mmg sdh sangat terkenal ketangguhannya,kita jg harus memiliki pesawat2 tempur amerika tsb,klo perlu f35 kita datangkan selain f18 dan f15…klo perisai rudal dan kapal selam saya setuju kita beli buatan rusia..tp klo pswt tempur cukup amerika/barat

    • dasar buruk sangka dari mana om, jelas jelas mamarika itu penjahat dunia.
      timur tengah, dan afrika selamanya tidak akan pernah damai selagi mamarika berjaya.
      radikal yg mengatasnamakan islam (isis) itu bukannya sudah jelas mamarika yg doping
      dan bagaimana dengen Indonesia??

    • apakah india bisa seperti sekarang karna negara2 barat. india tau siapa sebenarnya yang mau berbagi. brahmos? destroyer kapal selam nuklir, apakah dari negara2 barat? bukan dari negara beruang merahlah mereka belajar.

      negara tetangganya pakistan yang selalu menatap ke barat. mungkin di berikan banyak pesawat tp teknologinya?? maaf barat tidak berbagi. dan yang di berikan hanya sebatas sampai falcon blok 60. cukup sampai di situ.

  24. Ini orang otak atik terus, baca buku “Satu Dekade Sukhoi Indonesia” dimana dalam Pitch Black 2012 Flanker kita jadi bintang : duel satu lawan satu Super Hornet Ossie menang, dan jadi sweeper dalam latihan Red vs Blue force menang.

    Kalau paper exercise membandingkan pespur, semua fiturnya harus dibandingkan, jangan ambil satu dua yg menguntungkan saja. Dia sebut aksi “gombal” Ausairpower, setiap orang juga bisa sebut, tanpa memberikan argumentasi yg kuat, seperti juga saya bisa sebut artikel ini “gombal”.

    • di buku satu dekade sukhoi, pilot australia yg punya 2000 jam terbang, takhluk oleh pilot sukhoi yg punya 200 jam terbang, catat 200 jam terbang, sampai bedge 2000jam terbang pilot australia itu diberikan kepada sang pemenang!

    • setuju, saya respek dengan analisis dr carlo kopp yang selalu komprehensif dan sangat teknis…

  25. yang penting, pengadaan Alat Militer harus ada TOT nya sesuai undang-undang.. baru ketahuan kan sejak jaman presiden S** pun, Amerika sudah menancapkan kukunya…mulai 2010-2014 maka perlu diselidiki, ada apa selama masa pemerintahan sebelumnya dengan Tim Defense Institution Reform Initiative (DIRI) yang tidak diketahui rakyat..Saya yakin perusahaan sekelas Freeport tidak akan berproduksi di tanah papua lagi, kalau Presiden S** tidak mengijinkan. harusnya KPK juga memeriksa hal tersebut, siapa tahu ada gratifikasi di baliknya

  26. Salesnya mulai muncul.bandingin ga bawa rudal . emang waktu pitch black sukhoi kosong si sp hotnet muatanya penuh kang ?

  27. Project Jet Tempur KFX/IFX yang sedang dikembangkan oleh Korea Selatan bekerjasama dengan Indonesia, tampaknya kembali akan menghadapi tantangan. Tantangan ini adalah masalah anggaran Full Scale Development Jet Tempur KFX/IFX yang belum di setujui oleh Parlement Korea Selatan. Anggaran ini belum bisa sahkan parlemen Korea Selatan sampai dengan pemabahasan anggaran pemerintah Korea Selatan tahun fiscal 2016 yang akan digelar pada Desember 2015 nanti. Satu-satunya sumber yang menyebutkan informasi ini hanya dari Aviation Week saja.

    Plan B — membeli pesawat tempur lain dari pihak yg menawarkan 100% ToT adalah satu2nya pilihan yg logis, kalau Indonesia masih menginginkan produksi pesawat tempur yg mandiri.

    Ini juga akan menjadi satu2nya pilihan Indonesia, kalau mau menekan KorSel utk urusan KF-X ini dengan memberitahukan — “Seperti kalian, kita juga bisa memperlihatkan kalau KF-X ini hanyalah salah satu alternatif lain utk kita.”

    Pesawat tempur ini tidak perlu kita desain sendiri, atau lebih parah lagi, akan menjadi buah hasil desain orang Korea yg belum jelas hasilnya.

    100% ToT dari Eurofighter / Saab PASTI akan berbuah produksi lokal di PT DI, apalagi kalau Indonesia membeli lebih dari 50 unit. Kemungkinan breakdown-nya akan menjadi seperti demikian — mirip dengan ToT utk C-295:
    — 16 pesawat pertama diproduksi di produksi di negara asal (ahli2 PT DI turut serta utk belajar!)
    — 16 pesawat berikutnya dirakit di Bandung dengan sistem knock-down, oleh ahli2 PT DI, dibawah pengawasan ahli2 pembuat pesawat tempur
    — Mulai pesawat ke-33, Indonesia mulai bisa memproduksi penuh pesawat dari NOL tanpa pengawasan — tentu saja kebanyakan komponen vital seperti radar, komputer, mesin, avionics, electronics, dan persenjataan tetap harus di-impor. Tapi Indonesia akan memiliki kewenangan penuh (melalui perjanjian bersama dgn pembuat) untuk memproduksi / mengintegrasi / merakit sendiri jumlah pesawat yg kita butuhkan.

    Dassault saat ini tidak menjadi finalis proyek penggantian F-5E — sedangkan untuk Sukhoi, ToT tidak terlalu bisa diharapkan banyak. Kembali pertanyaannya begini: Apakah Indonesia sendiri akan mempunyai dana untuk membeli DAN mengoperasikan 100 Sukhoi Flanker? Karena Russia, dan Sukhoi belum pernah menawarkan ToT penuh dan produksi lokal ke negara yg kebutuhannya dibawah 100 pesawat.
    Bahwa proyek KF-X ini terus tertunda, (dan bahwa parlemen Korea belum menyetujui) ini tidaklah mengherankan. Dahulu kala sudah sempat disinggung, kalau “full-scale development” seharusnya sudah dimulai sejak Oktober-2014, dan prototype pertama seharusnya sudah terbang di tahun 2020 (Wow!)

    Terus terang, budget yg hanya $7.9 milyar utk membuat pesawat tempur G4.5 bermesin ganda, dengan target akhir mempunyai RCS < 1m2 itu amat teramat sangat optimis — atau dalam versi bahasa sederhana, berarti HAMPIR TIDAK MUNGKIN!

    http://aviationweek.com/awin/list-kf-x-opponents-grows

    Lee Juhyeong, researcher utk Korean Institute of Defense Analysis — sudah mempertanyakan angka ini, dan menyebut kalau proyek KF-X ini akan memakan biaya DUA KALI LIPAT dibanding pembelian pesawat tempur import. Korea Development Institute sudah menuliskan dari 2007, bahwa proyek KF-X sendiri adalah mustahil.

    Proyek pembuatan pesawat tempur BARU harus mempunyai cadangan dana. Setiap proyek pembuatan pesawat tempur baru sejak tahun 1980-an SELALU molor, dan overbudget. F-35 adalah contoh yg luar biasa jelek — dengan anggaran awal utk development cost dan biaya produksi adalah sekitar $400 milyar utk 2800 pesawat, sekarang sudah meledak ke $1 triliun (dan bertambah terus). Bahkan, Eurofighter Typhoon juga dana proyeknya naik dua kali lipat dari estimasi awal — ini bertambah parah karena SEMUA partner Eurofighter juga mengurangi jumlah produksi yg disepakati bersama pada saat proyek dimulai (jumlah produksi semakin sedikit, biaya produksi semakin mahal).

    Sekarang dimanakah ambang batas biaya anggaran untuk KF-X?
    Kalau biaya naik 100% saja, apakah pemerintah Korea Selatan MAU membayar untuk $15 milyar? Apakah Indonesia sanggup mengkontribusi $2 milyar lebih? Ini hanya utk biaya development cost — belum termasuk biaya produksi.

    F-15SE sebenarnya skrg juga masih terus ditawarkan Boeing sebagai salah satu alternatif aman utk KF-X. Dengan biaya produksi bersih hanya $100 juta / unit, biaya development cost KF-X yg $8 milyar itu sudah cukup utk membeli 80 unit. Kalau menghitung tambahan biaya produksi KF-X, mereka sudah dapat membeli lebih dari 150 unit F-15SE, dan Korea Selatan sudah mempunyai infrastruktur yg lengkap utk men-support F-15.

    F-18 ASH sebagai tawaran alternatif dari Boeing / EADS — boleh dibilang akan menjadi alternatif yg lebih murah. Penawaran ini kemungkinan lebih didorong oleh pilihan mesin utk KF-X — hampir dapat dipastikan Korea akan memilih F414 (mesin standar utk Super Hornet / SAAB Gripen-E).

    Kalau dibandingkan dari segi kemampuan, F-15SE mungkin akan mempunyai prospek utk menandingi / melebihi kemampuan Eurofighter Typhoon, dibanding proyek "kertas" KF-X atau alternatif kedua, F-18 ASH. Dua mesin GE yg lebih besar dan daya dorongnya lebih kuat, performa kinematis yg lebih unggul (dibanding F-18), ukuran radar AESA yg lebih besar, jarak jangkau yg lebih jauh, dan payload yg lebih besar. Demonstration model utk F-15SE juga sudah di tes, dan banyak part lain yg dipakai utk versi produksinya adalah off-the-shelf.

    Indonesia tidak akan mempunyai banyak suara dalam hal ini.
    Sepertinya permasalahan proyek utk KF-X ini lebih didominasi konflik internal Korea Selatan sendiri. Sampai dimanakah mereka bisa mempunyai komitmen utk proyek ini sendiri?

    Sebenarnya boleh dibilang, investasi Indonesia dalam proyek KF-X ini ibarat membeli saham dari perusahaan yg kemungkinannya tidak akan pernah bisa membuahkan hasil, kecuali harus terus ditambah modal lebih banyak, oleh pemegang saham mayoritasnya sendiri (Korea Selatan). Harga saham utk perusahaan ini tentu saja pasti akan anjlok. Kalau si pemilik mayoritas memutuskan sudah hengkang kaki, Indonesia akan bisa berbuat apa?

    Menurut saya, Indonesia justru harus hengkang kaki dari proyek KF-X secepat mungkin, dan jangan sampai terpuruk terlalu dalam ke dalam "lubang hitam" hanya karena terbuai ide muluk untuk membuat pesawat tempur sendiri.

    Atau kalau secara diplomatisnya, Indonesia HARUS menolak utk memberikan kontribusi finansial lebih lanjut daripada $165 juta yg sudah disetor — sampai Korea bisa menetapkan dengan jelas komitmen mereka dengan lebih pasti.

    Catatan tambahan utk prospek KF-X (kalau memang proyek ini berhasil
    Hasilnya adalah pesawat yg disebut sebagai "F-33".

    #1) Ingat kalau perjanjian ToT antara LM dan Korsel berarti KF-X sudah di persyaratkan untuk tidak boleh melebihi kemampuan F-35 — yg kemampuan kinematisnya sendiri skrg sudah diragukan.

    Ini bukanlah masalah untuk Korea yg sudah berencana membeli 40 unit F-35, tapi akan menjadi masalah utk Indonesia — karena F-35 akan dibeli Australia, dan kemungkinan juga oleh Singapore, tapi TIDAK MUNGKIN bisa dibeli Indonesia sendiri.

    Jadi apa artinya kalau Indonesia akan membeli pesawat "anak bawang" generasi ke-2??

    #2) Radar, software code, dan persenjataan
    Kemungkinan besar, kerjasama dengan LM, berarti semua persenjataan, radar, dan kebanyakan perlengkapan vital lainnya untuk KF-X akan dibeli dari US. Ini artinya, pembelian atau produksi setiap komponen untuk F-33 Indonesia akan dikontrol oleh program FMS (Foreign Military Sales) dari US Senate.

    Dimanakah kemandirian pertahanan Indonesia?

    Embargo militer dari US saat ini sudah hampir tidak mungkin, tetapi sama spt pembelian F-16, berarti kita menyerahkan kuasa kepada US utk bisa mendikte apa yg boleh melengkapi atau mempersenjatai "F-33" Indonesia.

    Di tahun 2030, berarti F-33 hanya dapat diperlengkapi dengan AIM-9M, dan AIM-120 C7 — sementara tentu saja, AU negara2 "kesayangan" paman Sam, sudah mendapatkan kado yang lebih mahal, dalam bentuk AIM-9X Block-4, dan AIM-120D.

    Apakah Indonesia akan dapat ijin untuk membeli Link-16 atau MIDS-LVT aerial network?
    Ingat, kontrol software yg dipegang US untuk F-33 berarti Indonesia TIDAK BOLEH memasang senjata lain selain senjata buatan US, atau memasang aerial networking lain, kecuali dalam versi Link-16 yg sudah disetujui US. Ini artinya, kalaupun boleh, kita juga akan mendapat perlengkapan yg seperti biasa — akan SATU TINGKAT dibawah Australia / Singapore.

    Apakah pesawat tempur demikian boleh dibilang "pesawat tempur buatan dalam negeri"?

    Kesimpulan
    —————
    Kemungkinan besar, karena kebimbangan dari pihak Korsel sendiri, proyek KF-X ini akan batal. Tetapi kalau proyek ini berhasil menciptakan F-33, sudah hampir dipastikan Indonesia tidak akan mendapat hasil yg memuaskan karena kedua masalah di atas.

    Maaf, tapi tidak ada jalan lain.

    Inilah alasan utama, kenapa Indonesia tetap HARUS memilih utk mengambil tawaran ToT dari Saab sekarang ini — agar kalaupun proyek ini berhasil, kita tetap sudah beberapa langkah lebih maju untuk menjamin kemandirian pertahanan udara Indonesia.

    SAAB Gripen-NG sedari awal sudah memprioritaskan kemandirian pembeli utk customize, dan mengembangkan kemampuan tempurnya tergantung kebutuhan sendiri. Saab Gripen-NG memang tidak bisa memenuhi mimpi "membuat pesawat tempur sendiri". Kenyataannya justru Gripen adalah satu2nya pilihan yg justru lebih menjanjikan kemandirian pertahanan udara Indonesia, yg tidak bisa didikte pihak luar.

    Indonesia akan bebas untuk memilih perlengkapan, atau persenjataan utk Gripen-E/F. Kalau mau, Indonesia bahkan dapat mengintegrasikan RVV-AE (R-77) atau R-73 buatan Russia, MICA-IR / MICA-EM buatan Perancis, Phyton-4 dari Israel, A-Darter dari Afrika Selatan, atau MAA-1B Piranha dari Brazil.

    Pesawat tempur yg bisa mengkombinasikan kemampuan sedemikian, network-centric, dan dgn availability rate yg lebih tinggi bahkan dibandingkan F-16, apalagi F-35 yg lemot, berpotensi besar untuk menjadi senjata yg paling ditakuti di seluruh Australasia. Skrg pilot2 Australia dan Singapore HARUS belatih untuk dapat mengalahkan beragam macam senjata yg berbeda, sedangkan pilot Indonesia hanya perlu berlatih utk mengalahkan AIM-9X dan AIM-120 C7 mereka.

    Bukankah lebih menjanjikan kalau bahkan para ahli tehnologi Indonesia bisa menyusuri kemungkinan pembuatan missile sendiri, dibanding pesawat tempur? Siapa tahu di masa depan ini Indonesia dapat menyusuri pengembangan Anti-stealth-missile dgn x tehnologi.

    Ayo, dukunglah kemandirian sistem pertahanan Indonesia, dan menjauh dari ide muluk "senjata buatan sendiri"!

    Akan jauh lebih baik kita menggunakan senjata import yg sudah lebih terbukti, dan dapat kita kuasai semaksimal mungkin dan dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan Indonesia semaksimal mungkin.

    Bandingkan dengan "senjata buatan sendiri" yg kualitasnya belum tentu jelas, dan justru dapat didikte kemampuannya oleh pihak ketiga. Lagipula sama saja. F-33 mesinnya juga akan memakai F414 buatan US, radar kemungkinan juga APG-80 atau APG-79 buatan US, dan tentu saja radar, dan komputer semuanya buatan US. Mana yg buatan sendiri? Kita justru menyerahkan kunci pertahanan kita ke US.

    • saya setuju gripen jika tujuan akhirnya kemandirian sistem pertahanan indonesia, tapi saya juga optimis kfx/ifx akan berhasil

    • analisa yang bagus. memang saab group menawarkan konsep “one stop shopping aka palugada”. tetapi kalau hanya perbagian pihak thales-pun mumpuni dalam hal ini. kekurangan pihak thales adalah tidak punya akses langsung ke manufaktur rafale. di sisi yang lain saab group bisnisnya membentang dari armor, kontrol, ks dan tentunya pesawat.

    • Benar, dan saya setuju analisa dan alasan anda. sebaiknya jangan terlalu berharap dgn proyek kertas IFX/KFX. apa bedanya jk kalaupun IFX berhasil di produksi, ttp aja komponen vitalnya import dan celakanya ttp jg komponen tsb di import dari negara yg kalau dipikir2 kembali, kita membuat IFX agar amerika dan konco2nya disini sprt aussie dan singaparno tdk macem2. pertanyaannya ya, ttp aja gak ada bedanya, misalnya kita udh bisa buat pespur IFX dgn keadaan saat ini? lha wong cuma bisa buat body dan rangkanya doang? mesin, radar, avionik, sistem dan data komputernya ttp diimport dari US? Jika dipikir dan di kaji, mending kerjasama dgn Saab, kebutuhan akan pespur yg modern sdh wajib diadakan mengingat program MEF, kuantitas utk penambahan armada pespur dpt terpenuhi, dgn ToT kita jg bisa memproduksi pespur kedepannya sprt halnya rencana IFX sdh tercapai, design Gripen yg sdh mature lbh mempercepat kemandirian dlm pen transferan teknologi pespur G4 tanpa perlu bersusah payah dalam RnD yg sangat menyita waktu dan dana. Sepertinya alasan penulis memilih Gripen patut didukung dan saya termasuk mendukung dlm hal percepatan kemandirian kita akan teknologi pespur dan alutsista termasuk radar2 dgn Saab swedia dibanding menunggu realisasi proyek IFX yg msh blm jelas, bahkan utk design aja sdh tdk sejalan dan berbeda dalam memakai brp engine dan bentuk sayap, canard, blm soal tarik ulur masalah dana yg diluar perkiraan awal dan blablabla.. singkat kata, kalaupun jd, masalahnya kembali ke komen diawal td. ttp aja Amerika walaupun anda benci, tp harusnya jangan di jauhi, krn kalau dijauhi anda tdk akan mengenal karekter dan kekuatan musuh anda, utk mengalahkan musuh maka anda harus mengenalnya, utk mengenalnya maka, anda berarti harus dekat dgn musuh anda, agar anda tau dimana kelemahan dan kelebihan musuh anda. intinya jgn koar2 membenci amerika cs jika kita masih tergantung dan membutuhkan mrk. Terima kasih utk Penulis yg sdh memberikan pandangan dan pencerahan dari sisi yg berbeda. hehehe… soalnya dimari, banyak fansboy russian stronk dunia akherat alam ghoib.

      Salam..

      • terus terang saja saya fans ruskie kok. tapi dalam benak saya pesawat dedain standar nato ditambah beberapa tips dari ruskie agar mudah main tenis tetapi misil standar rusia. kalau misil standar barat dapatnya kelas abal2 ntar.

      • Bung WP..tolong kl Copy Paste Analisa di cantumkan juga Penulis aslinya..kecuali memang artikel dan Tulisan anda di atas ini Murni Tulisan anda.
        Saya tdk tau persis Etika jurnalistik..apakah copy paste tanpa mecantumkan Penulis Asilnya itu etis.

        Mohon maaf sebelumnya.

    • Bung Wipe out ,kita anggap saja proyek KFXsebagai pembelajaran Insinyur kita .Tidak ada ilmu yang tidak berguna andaipun gagal kita punya kemampuan memodifikasi seperti yang israel lakukan.Super hornet itu pesawat bagus untuk pertempuran atas laut maritim.Itu sebabnya Aussie,asu ,malon memilikinya sememtara kita belum punya pesawat tempur yang punya seperti itu.Harusnya kita punya juga pespur untuk mengimbanginya seperti SU 34 fullback ,mengingat kita adalah negara maritim.

    • menarik analisanya..
      memang ibaratnya menjahit menjadi produk jadi baru belajar membuat per bagianya lebih cepat dari pada membuat perbagian kemudian trial n error untuk menjadi produk jadi
      tapi kembali lagi ke pimpinan kita yang cenderung condong kemana???
      yang anti kritik…
      rakyat menjerit pun cukup bilang bukan urusan saya…

    • Hahaha,

      Ini juga komentar yg baru saya tulis sendiri kemarin malam.

      Lucu juga sudah bisa di-post disini sbg blog entry.

      Saya tidak keberatan dengan post ini.
      Lanjut!

  28. kalau TNI dan pemerintah berminat ngga salah di beli aja itu Super Hornet atau F15 daripada menunggu SU35 yang ngga ada kepastian ujung pangkal nya

  29. dari 200 juta rakyat Indonesia yg merasa mampu bikin mesin pespur segera merapat ke pt DI.
    biar ifxnya cpet jadi.
    yg pessimistic bubu ja drumah 🙂

  30. 2015 tahun penentuan pengganti F5
    SU35 terus di goyang sales gripen dengan teori2 aneh..

  31. Komposisi impian saya :
    Heavy Fighter = Flanker family (SU27/30/34/35/T50)
    Medium Fighter = F16 akan digantikan IFX.
    Light Fighter = Hawk (akan pensiun) digantikan GE T50/FA50.
    ngarep.com

  32. tampaknya ini hanya pencitraan saja…. ko sekarang2 beritanya mengarah ke barat terus

  33. Mana nih pespur mutant..
    Keburu perang..keburu diinvasi..keburu digangbang..keburu dipecah pecah..keburu natuna papua dihajar..
    Cepetan dikit pak. Jgn terlena

  34. Bukan galau belajar sejarah indo deket russia strong
    Indo kemudian pro barat malah dilucuti dan digembosi spy lemah

  35. SELAMA MATA UANG INTERNATIONAL MENGGUNAKAN DOLLAR , USA MERUPAKAN RAJA DUNIA , GK PERLU DIRAGUKAN DAN DIBANTAH

  36. minatku hanya untuk IFX….. 😛

  37. Kemampuan akrobatik umumnya dilakukan pada very low speed dan masih dipertanyakan kegunaanya pada pertempuran yg sesungguhnya. Jika bobot kemampuan akrobatik adalah 75% maka lebih baik memilih Su-29 atau yang pesawat yg mirip-mirip yaitu Super Tucano. Saya melihat ada pesawat tempur yang lincah baik dalam low maupun high speed yaitu Rafale dan Gripen. Keduanya sanggup meninggalkan landasan dan menanjak secara cepat sehingga cocok utk menghadang penyusup. Untuk Gripen bahkan berani demo dengan “penuh” (full combat configuration) dan tetap lincah. Sayang… satu mesin tidak disukai di sini.

    • Setuju bung, semestinya kita harus Lebih open mind Dan realistis. Masalah embargo itu sudah resiko, mau beli Dari mana saja tetap Ada resikonya. Tinggal kita mau maju atau tidak. Kesempatan TOT harus bisa kita manfaatkan, agar kelak kita bisa mandiri. Mohon dilihat kemampuan keuangan Dan kebutuhan serta keinginan. Semua nya harus di ramu agar dapat terpenuhi bersamaan. Maaf, untuk Sukhoi, jika kita ingin servis saja harus keluar negri. Paling tidak dengan TOT kita bisa servis sendiri dsni, just my two cents

    • SETUJU Bung Loai
      Untuk Indonesia yang kemampuan anggaran militernya terbatas, tentu pilihan pesawat tempur bermesin satu lebih realistis, apalagi jika ada transfer teknologinya. Sebenarnya saya lebih menjagokan Eurofighter, cuma karena kelewat mahal tentu ada pilihan lain yang lebih baik.

  38. Masalah LCS saja kita masih diombang-ambingkan mau condong kemana dan mau dibawa kemana arah Alutsistanya…karena sinaga sudah berjalan di ringnya seperti jagoan yg mau menantang siapapun di area LCS sebagai arenanya bila pecah perang…sedangkan para jendral sedang berfikir Zig-Zag cari Alutsistanya yg aman dan tentram..apalagi Sang Presiden lebih suka Kerja….!!…Kerja…!…Kerja…..!! sehingga bawahan yg tadinya mukanya tidak sangar seperti dibuat harus lebih tegas dan disiplin….ya sudahlah namanya Negri Ken Arok menunggu Pangeran* yg ingin menjatuhkan Tahtanya…Mari Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh tanamkan dihati kalian supaya negri Ken Arok Tidak Terombang ambing disaat Nahkodanya Sang Satria Pemberani walaupun gelarnya dari negri kita sendiri bukan dari negri mama eli.

  39. apapun pesawatnya, darimanapun pesawatnya dukung aja wes
    yang penting pembangunan infrastruktur daerah tertinggal diutamain dulu
    jalan raya dilebarin, bandara diperbanyak, angkutan murah dan rakyat damai

    ngomong opo toh aku ki wkwkwk

  40. He.he.he….rusia strong lgi pada galau,
    barat strobg lgi dpt angin (tersenyum simpul,xi,xi,xi…)
    indonesia strong hi.hi.hi..(pada pesimis)
    sabtai aja mas bro, semua adalah bntuk proses (tdk harus ujug ujug jadi) SABAR,&sabar tetep optimis/jgn pesimis…pisss!

  41. SODARA….GAK USAH BINGUNG MAU MILIH ALUTSISTA DARI GENK BARAT ATO GENK TIMUR,
    KITA SBG BANGSA YG BESAR HARUS KONSISTEN.
    KITA KEMBALI KE
    SENJATA ANDALAN PEJUANG DULU,,BAMBU RUNCING..
    MURAH MERIAH GK PAKE IMPOR

  42. masa pakai cuma 6 bln, jadi besi tua rongsokan.. buruan di beli gak usah pakai mikir !

  43. saya setuju, kasih jempol 10 .

  44. you look this and you say WOW!!! heavyly armed su-35 (su-27m) aerobatic https://www.youtube.com/results?search_query=sukhoi+fully+armed

  45. bung Frans bung frans klo nanti negara kt di embargo ASU anda aja ya yg jadi tameng atau perisai di garis depan perang sama oztralala,PNG,Malay n singpok

  46. setuju dgn Analisa bung wipe out .. Lbh baik kita menarik dri dari proyek kf-x yg gk jelas ini. Klo emang niat kita adalah kemandirian dalam pembuatan jet tempur , beralih ke saab gripen bs jd opsi laen …
    klo gk salah, dlu ada warjag yg kerja di LM ikut mengomentari tntg krjsma kfx/ifx ini.. . Yg menyarankn indonesia menarik diri dr proyek ini n lebih baik mencari partner laen .

  47. canggihan malo **nlah… bisa eject kat hanggar & panen sawit.
    xi… xi… xi…

  48. waktu SBY datang ke ambalat jadi tameng hidup.kanjeng papi jokowi lagi ngukir kursi, jadi mana tahu soal embargo..

  49. hoi ali baba meneng wae cangkemu.jokowi itu tahu klo kamu rasani.jokowi itu lebih hebat.sopo yang kasih keluar mobil nasional pertama smk?sby…?bukan toh.mikiro.jokowi iku jokowibowo..titisan panglima sudirman dan diponegoro,panembahan senopati,raden wijaya,sby iku sopo?wong ndeso.jadi presiden lama…daerah pacitan tetep wae ngono.

  50. Ingat ketika F-18 ASU lock F-16 TNI?? tidak lama kemudian aust borong f-18 dari ASU.

    Ingat ketika Sukhoi TNI di lock ketika sedang latihan di Makasar?? Tidak lama kemudian Aust borong F-35 100 units.

    Sepertinya sebelum membeli, Aust coba real combat dulu di sini !!!

  51. Yang teriak-teriak supaya kita membeli Gripen dengan alasan supaya kita tidak terkena embargo, saya sarankan membaca dengan detail komponen2 yang dipakai Gripen:
    – Mesin: General Electric F414
    – Persenjataan: Jarak pendek pakai Sidewinder, Jarak jauh pakai AMRAAM, Air to Ground Missile pakai Maverick. Bisa kita opt untuk misil jarak pendek pakai IRIS-T dari Jerman, dan misil jarak jauh pakai MICA dari Perancis.

  52. pespur yang paling pas buat NKRI ya IFX

 Leave a Reply