Oct 202018
 

Rudal dan roket produksi LIG Nex1 untuk Angkatan Laut Korea Selatan © LIG Nex1

JakartaGreater.com – Sistem senjata close-in pribumi Korea Selatan, yang saat ini dalam tahap pengembangan akhir, diperkirakan tidak akan mampu menggagalkan rudal yang masuk berdasarkan evaluasi uji, menurut sumber militer dan industri yang dilansir dari laman Defense News.

Dijuluki sebagai “Sea Bow,” rudal permukaan-ke-udara jarak menengah berbasis kapal Korea Selatan (K-SAAM) telah dikembangkan sejak tahun 2011 untuk menggantikan RIM-116 Rolling Airframe Missile (RAM) buatan Raytheon dan memberikan pertahanan yang erat untuk kapal perang.

Badan Pengembangan Pertahanan yang didanai negara bertanggung jawab atas proyek senilai $ 140 juta untuk memproduksi rudal anti pesawat jarak menengah berbasis kapal laut yang bekerja sama dengan LIG Nex1, pabrikan rudal Korea Selatan.

Proyek tersebut telah menemui hambatan, akan tetapi karena periode pengembangan diperpanjang dua tahun setelah kegagalan tes pada tahun 2016, ketika dua dari lima rudal yang ditembakkan tidak mengenai sasarannya.

Dalam putaran baru uji operasional yang dimulai tahun lalu, rudal itu berhasil mencapai sembilan dari 10 target, kata para pengembang. Namun hasil pengujian tersebut masih diperdebatkan karena kriteria untuk tes terlalu lunak untuk mengatasi ancaman dunia nyata, menurut sumber yang mengetahui evaluasi tersebut.

“Dari 10 rudal, hanya dua rudal yang diketahui telah mencapai target yang diterbangkan rendah ke laut, sementara yang lain menghantam target yang masuk setinggi lebih dari 30 meter di atas permukaan laut”, kata sumber tersebut. “Itu berarti bahwa K-SAAM belum terbukti cukup memadai untuk menanggapi rudal sea-skimming yang ditembakkan oleh musuh”.

Masalah yang lebih besar adalah bahwa rudal K-SAAM hanya memiliki kecepatan sekitar 0,5 mach, jauh lebih lambat daripada kecepatan rata-rata rudal anti-kapal, yang dimiiki oleh negara-negara tetangga, tambah sumber itu. Dan menyebut bahwa tes itu tidak cukup realistis untuk mengevaluasi kinerja sistem senjata.

Sumber lantas merujuk pada rudal anti-kapal Korea Utara, Kumsong-3 sebagai contoh ancaman dunia nyata. Rudal turunan dari Kh-35U Rusia, Kumsong-3 ini dapat terbang hingga 0,8 mach dengan ketinggian jelajah hanya 10-15 meter, dan dengan ketinggian terminal 4 meter.

Sebagai perbandingan, China, misalnya, memiliki rudal anti-kapal supersonik CM-302 dengan kecepatan 2 hingga 3 mach, sementara Jepang memiliki rudal anti kapal Tipe 90 yang dapat meluncur hingga 0,9 mach pada ketinggian 5-6 meter.

Rusia sendiri mengoperasikan rudal jelajah anti kapal Yakhont dengan jangkauan 300 kilometer, kecepatan 2,5 hingga 4,5 mach. Ketinggian jelajah 10 meter dan ketinggian terminal 1 meter.

Para pengembang K-SAAM bersikeras bahwa evaluasi memenuhi kapabilitas operasional yang diperlukan (ROC). “Uji operasional ini telah sesuai untuk memenuhi ROC”, sebut sumber Angkatan Laut yang terlibat dalam evaluasi K-SAAM.

“Sistem senjata close-in dirancang untuk mengatasi berbagai jenis ancaman, jadi kami melanjutkan dengan pengujian di berbagai sudut dan ketinggian”, katanya. “Tidak benar kami telah menurunkan standar evaluasi”.

K-SAAM memiliki panjang 3,07 meter dijadwalkan akan dipasang pada fregat FFX-II/III baru dan kapal pendarat amfibi 14.500 ton kedua, bernama Marado, yang diluncurkan pada bulan Mei. Rudal itu akan ditempatkan dalam sistem peluncuran vertikal (VLS) 4 sel, empat diantaranya dimaksudkan untuk dipasang ke kapal perang dan menyediakan 16 rudal per kapal.

  One Response to “Mengukur Kemampuan Rudal K-SAAM Korea Selatan”

  1.  

    Indonesia segera mendapatkan rudal anti kapal VL MICA terpasang di Frigat sigma class

 Leave a Reply