Jul 132017
 

Militer Filipina melakukan pengepungan Kota Marawi (Philippine Information Agency)

Jakarta – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan siap berkomunikasi dan koordinasi dengan DPR terkait rencana pengiriman pasukan TNI ke Marawi, Filipina untuk mengantisipasi pasukan ISIS masuk wilayah Indonesia.

“(Koordinasi dengan DPR) pastilah, karena kita bukan negara abal-abal, karena harus melaksanakan Undang-Undang,” ujar Ryamizard di Gedung Nusantara II, Jakarta, Kamis, 13/7/2017.

Ryamizard mengatakan dirinya terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait rencana bantuan pasukan ke Filipina tersebut.

Namun dia menegaskan bahwa TNI siap diterjunkan apabila para pemangku kepentingan memberikan persetujuan pengiriman prajurit ke Marawi.

“Jangan sampai orang meminta (bantuan TNI) namun kita tidak siap, kan tidak bagus,” ujarnya.

Ryamizard mengatakan tentu masyarakat tidak ingin simpatisan ISIS yang ada di Filipina lari ke wilayah Indonesia sehingga dibutuhkan upaya pencegahan dengan pengiriman pasukan TNI di Filipina.

Namun Ryamizard menjelaskan dirinya belum bisa memastikan jumlah prajurit TNI yang dikirim ke Filipina karena masih melihat situasi terkini, dilansir ANTARA, 13/7/2017.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengingatkan pemerintah terkait rencana mengirimkan pasukan TNI ke Filipina untuk membantu menumpas ISIS, karena pengiriman pasukan melakukan pertempuran di negara lain tidak diatur dalam peraturan dan undang-undang.

“Pengiriman pasukan TNI untuk melakukan pertempuran di negara lain tidak diatur dalam peraturan dan undang undang, meskipun Presiden Filipina, Rodrigo Duterte membuka peluang bagi Indonesia untuk terlibat operasi militer dalam menggempur ISIS di Marawi, Filipina Selatan,” ujar TB Hasanuddin di Jakarta, Selasa (4/7/2017).

Bagikan:

  17 Responses to “Menhan Berkordinasi Terkait Rencana Pengiriman TNI”

  1.  

    hm nyimak

  2.  

    mudah2an TNI bantu tentara pinoy ahar hubungan kedua negara semakin erat dan demi keamanan wilayah kita juga. pinoy bisa jd lahan jualan senjata kita kedepan.

  3.  

    Keburu kelar duluan konfliknya

  4.  

    kirim 2 sniper Kopassus saja cukup.!

  5.  

    Lebih baek mencegah dr pd menumpas… mencegah isis masuk k Indonesia dg menghantam d luar daerah yg penduduknya sdh d ungsikan akan lbh baek drpd menumpas isis yg sdh kadung masuk wilayah Indonesia & berbaur dg masyarakat…. akibatnya akan lbh buruk kalo yg terakhir ini yg d pilih….

  6.  

    terlalu banyak perhitungan, jadinya ribet sendiri…aneh!,

  7.  

    Ga usah banyak2, kirim saja penasihat militer dan satgas Rajawali buat memburu oenta Maute yg kabur ke hutan…..

    •  

      walau banyak ato sdikit, kemauan ngirim kesana ga ada, gmn dong bung col? yg penting niat, jgn mencla mencle, ragu2 dan takut diserang balik…ya ga usah aja sekalian…xixi

      •  

        Mengirim personel militer dalam jumlah besar kesuatu daerah konflik di luar negara memang sangat riskan bung, kondisi geografi daerah yg bersangkutan, beda bahasa, budaya menjadi kendala besar.

        Berkaca pada perang Afghanistan, Irak, Suriah dan terutama Vietnam……. yg membuat militer Amirikiya mundur terampun2.

        Konon, saat perang Vietnam berkecamuk…… belum pernah sekalipun personel militer Amirikiya dan Vietnam diskusi menggunakan bahasa Vietnam.

        Saya lebih setuju seandainya militer Indonesia mengirimkan sejumlah kecil personel militer tapi punya peran yg sangat strategis.

        •  

          iya setuju bung, tp apa komentar ane diatas salah? ane blg walaupun ngirim pasuka banyak ato sedikit, tp kemauan dna niat ga ada, dibumbui dgn alasan2 takut dieerang balik, ragu2 dan mencla mencle…mending ga usah janji kan bung? itu mksud ane…duterte mieminta bantuan, trus pemerintah kita dl sempet meng iyakan…ya salah sapa dong?

        •  

          Yang seperti itu saya juga setuju bung. Yang penting mau bantu Filipina lah. Soalnya itu penting bagi keamanan Indonesia juga. Jika komplotan itu dapat dimusnahkan di sana, tentu akan mengurangi jumlah yang akan menyusup ke Indonesia.

        •  

          Pasukan darat sebaiknya dihindari bung, ini untuk meminimalkan korban di pihak kita. Belajar dari perang Irak Amerikapun nggak terlalu frontal ngirim pasukan darat dan melakukan pertempuran dalam jarak dekat, begitipun dengan Rusia, sangat riskan, dan Filipina telat belajar ketika melakukan operasi pembersihan di Marawi pada masa-masa awal. Jika memang terpaksa sifatnya operasi khusus, dimana data intelejen benar-benar matang dan presisi. Kita nggak mau, TNI dikirim dan ada korban dipihak TNI, kita harus menghargai nyawa seseorang walaupun itu tuntutan tugas. Kita tidak ngomong tentang The Raid yang memang benar2 jago dari sisi fisik, tapi apa mau dikata fisik sekuat apapun, otak secerdas apapun ketika peluru menembus kulit siapa yang bisa mengelak korban jatuh dipihak kita?

  8.  

    lebih baik bantu Philippine berupa pengiriman senjata berat : Mi35, Tucano, Leopard, MLRS sekalian uji lapangan biar battle proven plus personel terbatas untuk operasional senjata.
    sangat riskan kalo kirim ribuan tentara TNI, tentara Pinoy aja yg disuruh perang front line.

  9.  

    yang lebih penting dan lebih darurat
    segera sah kan UU terorisme biar gerak apatar kt cepat dan tepat, masa pulang dari Suriah /Irak cuma di pantau nunggu aksi br bisa di tangkap.

 Leave a Reply