Oct 262017
 

Pesawat Tempur Su-35 Rusia (Rostec)

Jakarta. Jakartagreater.com – Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menegaskan bahwa 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 yang dipesan Indonesia dari Rusia memiliki persenjataan lengkap.

“Senjatanya lebih dari lengkap karena dapat pengurangan diskon, jadi ada tambahannya,” ujar Ryamizard Ryacudu di lingkungan istana kepresidenan Jakarta, Kamis, 26/10/2017, dirilis Antara.

Rencananya, penandatanganan pembelian jet tempur Sukhoi Su-35 akan dilakukan pada November 2017. “Sudah tinggal tanda tangan pada November siap. Semuanya itu Rp 16 triliun,” ujar Menteri Pertahanan.

Sebelumnya, BUMN Rusia, Rostec sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan BUMN Indonesia, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia terkait barter 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 dengan sejumlah komoditas nasional.

Pembelian Sukhoi melalui mekanisme imbal beli tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

Artinya, Indonesia membeli pesawat tempur Sukhoi dari Rusia, dan Rusia sebagai negara penjual berkewajiban membeli sejumlah komoditas ekspor Indonesia. Persentase dalam pengadaan jet tempur SU-35 ini yaitu 35 persen dalam bentuk offset dan 50 persen dalam bentuk imbal beli. Dengan demikian, Indonesia mendapatkan nilai ekspor sebesar 570 juta dolar AS dari 1,14 miliar dolar AS total nilai pengadaan.

Sedangkan terkait kapal selam asal Korea Selatan, Ryamizard mengaku memang masih ada masalah dalam alih teknologinya.

“Kapal selam Korsel sudah kita proses kemarin, tapi lambat karena kapalnya besar tapi baterainya kecil, itu (kapal selam) yang pertama. Tapi saya sudah langsung ke pabrik, di sana sedangkan untuk kapal selam kedua dan ketiga dilakukan di PT PAL,” ungkap Menhan Ryamizard.

Menhan Ryamizard mengatakan bahwa pemerintah masih belum akan menambah jumlah kapal selam lagi.

“Kita lihat dulu kalau bagus tambah lagi, tidak mahal, yang mahal beli teknologi dan mendidik orang yang mahal,” ungkap Menhan Ryamizard Ryacudu.

  104 Responses to “Menhan : Jet Tempur Su-35 Indonesia, Bersenjata Lengkap”

  1. semoga bukan php jilid 1000

  2. semoga bukan php jilid 1000,

  3. menhan kok yg ngomong….yakin dehh….

  4. beli dari USA dapat apa ya 😀

  5. 35 persen dalam bentuk offset jd rugi deh ane, kalo bgtu batalkan sj ganti dg SU-57 Pakfa dg nilai 65% kandungan lokal

  6. ” yang mahal beli teknologi dan mendidik orang yang mahal,” ungkap Menhan Ryamizard Ryacudu”
    sudah tau mahal…tp nawarnya minta ampuuun….beli dikit maunya banyak..

  7. Senjatanya lengkap semoga jmlh pespurnya jg lengkap.. juga avionik lengkap..

    Apalagi kalo lengkap di tiap lanud se Indonesia ada..

    Gak kalah penting.. lengkap duit yg bwt beli..

  8. UNTUNG GAK KOSONGAN LAGI SUDAH SADAR TERNYATA

  9. Sudahlah… sudah tidak begitu menarik, sudah pasti ga berubah, sekarang gantian menggoreng perebutan antara F-16 dan Gripen… seharusnya F-16V diatas angin tetapi kejadian kemarin sepertinya akan berdampak…
    Bomber maritim… jika benar USA menawarkan F-15, bukanya malah aneh??? Superioritas udara untuk bomber maritim, mungkin sebenarnya F-14 lebih cocok…

    • F-15 HARGANYA MAHAL BANGET BRO DAN F-14 UDAH PENSIUN YANG PAKAI CUMAN IRAN . PILIHAN YANG TEPAT UNTUK BOMBER MARITIM YA SU-34 TAPI KALO DANA CEKAK YA REALISTIS AJA GRIPEN/VIPER

      • setuju… Gripen memiliki peluang mendapatkan suport rudal dari eropa yang lebih modern, sedangkan Viper saya berpikir platform F-16 ini anti dotnya ada di Viper, setelah ini, pengembangan apapun pada F-16 tidak akan memberikan efek signifikan…
        Meskipun berharap Su-34, tetapi benar sekali harus realistis

        • Dari Viper yg diincar itu TOT bung.

          Yg ditawarkan :
          35% offset Viper
          25% offset produk Lockheed lainnya
          TOT JDAM.

          Viper tidak cocok untuk maritim strike bomber sebab jika pakai CFT combat rangenya maximal hanya sampai 770 km. Kurang jauh.

          F15 lebih jauh jangkauannya, lebih tinggi altitudenya dan lebih banyak pula muat amunisinya. Bisa multirole pula.

          Kalau F15 jadi 3 skuadron bisa juga khan (1 skuadron air superiority dan 2 skuadron maritim bomber).

          Kalau Viper saja dapat TOT JDAM, F15 dapat TOT apalagi ya ?

          • F-15 basiknya superioritas udara, meskipun sekarang ini pabrikan2 USA mengarahkan pespurnya untuk menjadi multirole, termasuk opsi tambahan CFT pada F-16 untuk menambah jarak jelajahnya…
            Angkatan laut USA tidak menggunakan F-15 sebagai bagian dari pesawat tempurnya, bukankah lebih logis jika pendekatan untuk Bomber Maritim AL adalah F-18 yang digunakan oleh AL USA…
            F-16 memang basiknya bukan pespur patroli area yang luas, cenderung memiliki kesamaan seperti Mig-29 sebagai jet tempur pertahanan, meskipun sesuai perkembangan banyak digunakan sebagai pespur serang…

    • Kelihatannya beda ska bro yuli,single engine tetap nambah,(kecuali harga terlalu mahal,kemungkinan nambah SU 30 lagi),….ska pengebom juga beli(spesialis)…

      • Lha memang beda peruntukan.

        Single engine untuk workhorse.

        Idealnya single engine itu dihitung dari luas RI (termasuk ZEE) dibagi luas combat range F16 dapat 9 posisi. 9 posisi menggambarkan 9 skuadron.
        9 skuadron setara F16 cukup untuk melindungi RI.

        Namun double engine bisa untuk balas serang.

        Sehingga diperlukan double engine sebagai bomber serang maritim.

        • Bomber serang maritim di USA sejarahnya dari F-4 phantom, F-14, dan terakir F-18… yang kas dari pesawat tempur bomber adalah kemampuanya di kecepatan rendah untuk kepentingan akurasi target dan pengeboman…
          Dijaman dulu pespur dengan sayap ayun sangat dominan, seperti F-14 dan Su-24, karena memungkinkan pespur melaju dengan kecepatan tinggi sekaligus mampu terbang dengan kecepatan rendah dengan memanfaatkan fleksibilitas sayap ayun…
          Untuk Russia Jet bomber ada pada Su-24 dan Su-34, dimana memang kemampuan utamanya pada penargetan untuk tujuan serangan darat
          Counter Strike bukan tugas bomber fighter, tetapi bomber fighter harus memiliki kemampuan bertahan pada perang udara… serangan balik menjadi tugas Su-27/30/35 dan untuk USA itu adalah tugas F-15/F-22

        • Malah prediksi ane..yg 3 ska adalah setara FA-50..dr 12 ska,(anggapa aja 12 unit 1 ska)sekalian bentuk pilot,nambah jam terbang dan berotasi dr pangakalan2 tsb sekalian jadi penjaga…F16 kemungkinan max di 3-4ska..36-48 unit tapi sudah full ammo dengan dpt menembakan AMRAAM,(Sudah sadis lho ini,sebagai pensalvo,jika diformasikan dengan sukhoi kita)…coba aja rafale mengisi 2 ska..(ngimpi disiang bolong..ahahha)..sisanya lagi ska sukhoi(sambil nunggu kfx/ifx yg 50 unit,ini kedepannya utk mengganti 30 unit F16yg sekarang+16 sukhoi yg sekarang..pass..)…sekali lagi cuman opini saya aja..

          • Tambahan..SU 30 tetep ditambah kayaknya..dengan alasan..sebelum megang single set(setara SU27/35) pasti megang yg dobel set dulu…

      • Single engine tidak mahal sepanjang itu Viper atau Gripen C/D.

        • Ga mahal dr sisi mananya bung Tn, Viper aj harganya hampir 1T, gripen lbh mahal lg…klo ga salah sih hehe..

          • Hitungnya jangan dari sisi rupiah, kalau dari sisi rupiah semua juga mahal.

            Dari sisi USD toh.

            Viper itu di bawah USD 100 juta, kemungkinan USD 85 juta.

            Gripen NG harga untuk Brazil USD 130 juta.

            FA-50 paling murah.

            FA-50 untuk Mesir USD 41,67 juta.

            Gripen C/D second sisa 8500 jam terbang sekitar USD 50 – 60 juta.

            kalau saya cukupi dulu kebutuhan 9 skuadron setara F16 itu dulu :

            9 x 16 = 144 unit.

            144 unit terdiri dari 80 F16 + 64 gripen c/d. Itu sudah cukup kuat. Ditambah 56 unit FA-50 jadi lebih kuat. Ditambah arhanud yg kuat dan banyak tersebar di perbatasan, pasti jadi sangat ditakuti.

            Itu sudah 200 pespur lho.

            Kecil tapi banyak dan lengkap senjata, mereka bakal segan mengganggu kita.

            Sesudah itu selesai dilengkapi baru pengadaan double engine seperti Rafale dan IFX.

          • yang takut siapa dan yang segan siapa??? 200 pespur itu akan komplit dalam berapa tahun??? uangnya siapa yang mau dipakai untuk membeli pespur sebanyak itu???

        • Single Engine ada berapa sih???
          1. F-16
          2. Gripen
          3. FA-50/T-50

          Praktis yang lainya adalah pespur generasi lama…

    • Yg akan salib di tikungan krn duit cekak adalah : FA50, dipakai utk black flight non militer.
      Opsi ini bukan utk deteren tapi workshore

  10. Senjatanya lengkap plus BONUS… wah apa ini bonusnya… trs sdh lengkap dg X-35U / KH-35U jg kah….?

  11. secara jujur pak menhan mengakui ada masalah ToT kasel dg Korsel …

    jawab Korsel : lho kan kita jg dpt nya dari Jerman pak !!!, silahkan hubungi sendiri ke Jerman !!!

    *edisi hoax bin ngayal … hiks hiks hiks !!!

    • Kapal selam Korsel sudah kita proses kemarin, tapi lambat karena kapalnya besar tapi baterainya kecil, itu (kapal selam) yang pertama…
      Saya sedikit bingung dengan pernyataan ini… apakah kasel yang pertama itu Baterainya kecil jika dibanding dengan ukuran kapal selamnya??? bukankah sedikit banyak akan membuat kemampuan selam kasel itu menjadi pendek…

      • Ibarat keluarga yang anaknya banyak, akan butuh ongkos yang lebih gede buat ngempanin keluarganya.

        Nagapasa class sendiri kan fiturnya jauh lebih komplit dan lebih unggul dibanding CBG orisinil, maka konsekuensinya ia butuh sumber listrik yang besar juga utk mengakomodasi berbagai kelengkapan yang ada.

        Misalnya bermacam jenis sonar yang pating templok disekujur tubuhnya, fitur2 otomatisasi, jumlah ABK yang banyak jg menuntut mesin RO dg kapasitas lebih besar…akumulasi dr semua ini menuntut kapasitas batre yang besar.

        Karena kasel adalah mahluk siluman, maka sistim pembuangan panasnya jg harus mumpuni utk menekan panas yang timbul akibat kerja batere, mesin, sistim dlm kasel dan aktivitasnya ABK nya….lha kalo jomplang (sumber panas vs sistim pembuangan panas) konsekuensinya adalah kinerja yang tidak optimal

    • Sepertinya ada masalah performa (kurang memuaskan) di tenaga listriknya, gpp, tinggal diganti sama PLN.. :p

    • @den bdg

      Nganu den…enggak bisa begitu juga, soale “pemelaran” CBG menjadi improved CBG ini kan dikembangkan sdr oleh DSME tanpa campur tangan jerman, jd korsel gak bisa nyalain jerman krn HDW gak kasi liensi versi 1400 ton ke DSME.

      Pelajarannya adalah kalo kita milih jadi Konnsumen Perdana, artinya harus siap menanggung resiko dikemudian hari…karena memperbesar kasel itu tidak sekedar mengalikan faktor2nya tapi butuh pengalaman operasional dan pengetahuan teknis yang mumpuni.

      Kasel Collins clas milik aussy contohnya….

      Nasib nagapasa class kita, seandainya sudah diganti batre dg kapasitas yang lebih besar tidak serta-merta meniadakan potensi masalah dikemudian hari, karena menambah kapasitas batre, berarti tambah besar pula sumber panas yang muncul akibat kerja batre (juga mesin, peralatan didalam kasel dan aktivitas awaknya yang cukup banyak)…..padahal sistim pembuangan panas kasel itu harus didesain dari awal dan harus tepat !!!

      Konsekuensi dr masalah ini, maka sistim pembuangan panass harus ddisesain ulang atau kalau tidak memungkinkan maka berarti ada fitur atau manfaat dr sistim kasel yang harus dikorbankan.

      Pantas aja beda harga penawaran dsme vs penawaran turki/hdw cukup besar…2:3.

      Pak Habibi juga pernah berkomentar ttg yang ini, jauh-jauh hari : “Ini mah otak dagang”

  12. Dl di indonesia demam F4 nyang buatan taiwan. Pd kmn tuh F4 skrg ya ? Klu anda faham maksud saya dpt saya pastikan bahwa anda bkn lah seorang abg lg hahaha ..

  13. bung Yulihantoro
    kalo sy kepikiran, utk produksi kasel di PAL, Korsel blm bisa beri ToT nya, mungkin ada item parts + tekno nya yg sebenarnya Korsel sendiri msh beli utuh (modul) ke Jerman … mirip KFX dg masalah teknologi kunci dari Amrik.

  14. Yang jelas SU 35 dan F 16 V akan hadir d tanah air..

  15. klo berita sukhoi psti yg komen penuh, ane sampe jauh kebawah pngen komen

  16. Hhhmmm… Lagi-2 Gorengan… 😆

    #Balik Jadi SR Ahhh

  17. Ehemm, yakin nih bakal TTD bulan November?? Kalo bomber serang maritim selain pilihannya ada F-18 E/F Super Hornet juga bisa Su-34. Tapi kalo mau lebih banyak bawaan ya beli aja Xian H-6K buatan China sekalian buat nostalgia sama yg udah jadi penghuni di museum Satria Mandala Jogja. Bagus loh buat bawa rudal jelajah, sapa tau bisa bawa 4-6 Yakhont/Brahmos. Minimal sekelas LHD gak berani jalan2 di selatan pulau Jawa tuh. Tapi ya ttp aja B-1B ttp lebih bagus, ya tapi maaf ya, gak dijual soalnya.

    Hhhhhhhhhh

    • Siapa juga yang mau beli B-1B… bomber besar ngga kepakai, justru yang diperlukan itu bomber fighter sekelas Su-34 atau F-18, tetapi sepertinya untuk kemampuan jelajah lebih mumpuni Su-34 ditambah Indonesia tidak memiliki Kapal Induk tetapi memiliki area laut yang luas ditambah belum memiliki pesawat jenis AWACS…
      Setahu saya F-18/F-15 tidak pernah ditawarkan ke Indonesia, ga tahu kalau sekarang… lagian biasanya untuk memberikan ijin boleh dijual atau tidak akan melalui persetujuan dari parlemen yang lumayan ribet dengan persyaratan yang ketat

    • Kagak ada yg nawarin B-1B buat Indonesia, adanya Xian H-6K aja.

  18. Kalo Su-35 jadi serang maritim mungkin itu akan sangat menarik karena konon Brahmos bisa diangkut ke Su-35 selain Su-30MKI. Bung Jimmy bisa jelasin lebih lanjut tuh.

    Hhhhhhhhhh

  19. Super aneh total kasel kok sama Korsel ,bukan sama induknya ,la si Korsel aja masih belum ahli ,alias masih ngeteng ke Jerman juga, kok kita mau kerja sama Korsel ,aneh bin lucu kita ini

  20. Bingung aku…diblog. GI ada yang komen, kalo RI jd beli su-35 pas pilpres 2019 nanti gak mau pilih jokowi.

    Kalo disini malah pd komen yang sebaliknya….lha. nanti kalo. Pak Jokowi ngambek trus ga mau nyapres di 2019, trus klian akan melampiaskan kekesalannya pd siapa?

    Mbok ojo koyo cah cilik toyo…sithik-sithik ngambeg, ngambek kok ming sethitik…

 Leave a Reply