Sep 122018
 

Jet tempur multiperan Su-30MKM Angkatan Udara Malaysia patroli di Laut China Selatan© USAF via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Permasalahan mengenai armada pesawat tempur seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamad Sabu pada bulan lalu tidak berhubungan dengan lemahnya pemeliharaan, menurut pejabat tinggi yang mengetahui Angkatan Udara Malaysia (TUDM).

Seperti dilansir dari laman Free Malaysia Today, sumber yang berbicara kepada dalam kondisi anonimitas mengatakan bahwa Angkatan Udara Malaysia (RMAF) sedang ada di bawah tekanan karena terbatasnya anggaran untuk mempertahankan armadanya yang terdiri dari berbagai jenis pesawat tempur.

Mohamad, atau Mat Sabu, bulan lalu mengatakan bahwa RMAF memiliki 18 unit Sukhoi Su-30MKM buatan Rusia dan 10 unit MiG-29. Namun hanya 4 dari Su-30MKM yang layak terbang, sedangkan bahwa 14 lainnya sedang diperbaiki.

Akan tetapi ia menyebut bahwa kunci masalahnya adalah negara manufaktur itu sendiri.

“Masalah dengan pesawat Rusia adalah cara mereka melakukan bisnis”, kata sumber tersebut.

Su-30MKM adalah jet tempur paling canggih dalam inventaris RMAF, itu dibeli dalam sebuah kesepakatan senilai US $ 900 juta pada tahun 2003, yaitu tahun terakhir Dr. Mahathir Mohamad bertugas.

Kesepakatan itu ditandatangani pada tahun 2003. Sebanyak 6 unit Sukhoi Su-30MKM dikirim pada 2007 dan sisanya pada tahun 2009.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Rusia membeli minyak sawit dari Malaysia, dan melatih seorang astronot Malaysia yang pada tahun 2007 menjadi orang Malaysia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa.

Pejabat itu mengatakan awalnya, RMAF menerima dukungan baik dari Rusia, namun akhirnya menemukan tentang “kerumitan” birokrasi Rusia. Diantaranyaadalah bahwa pembelian harus melalui perusahaan milik negara, yang kemudian berurusan dengan pabrikan atau biro desain aslinya, jadi tidak bisa langsung.

“Itu menyulitkan kami. Mereka seharusnya mendukung kami sampai waktu tertentu setelah kami mendapatkan jet, mereka tidak mengungkapkan semuanya. Di tengah-tengah pengadaan, kami tidak diberitahu tentang perlunya melakukan pemeliharaan setelah 10 tahun, yang mana hanya mereka yang bisa melakukan”, katanya.

Di sisi lain, jet tempur buatan AS mudah dikelola karena pemeliharaan dan juga sistem pengadaan mereka bersifat langsung dan sistematis, tambahnya. Dia pun mengatakan AS memiliki program Penjualan Militer Asing (FMS) untuk memfasilitasi penjualan senjata, peralatan pertahanan, jasa pertahanan dan pelatihan militer pada pemerintah asing, meskipun harus melalui persetujuan Senat AS.

Sumber itu lantas mengatakan meskipun pemerintah Malaysia telah selama bertahun-tahun menyampaikan alokasi anggaran untuk RMAF, semuanya tidaklah mencukupi dengan memperhitungkan armada yang beragam dan menua.

Sementara sumber industri pertahanan, menggemakan kekhawatiran yang sama, serta mengatakan bahwa servis jet tempur Rusia ini lebih mahal karena harus melalui pihak ketiga.

“Masalah dengan pengadaan pertahanan di negara ini adalah bahwa pejabat Malaysia tidak suka membeli jet tempur dari AS atau Inggris karena bila kita membeli dari mereka maka banderolnya akan lebih tinggi”, tambahnya.

Lebih jauh dia mengatakan, bahwa cara-cara yang lebih transparan dalam menangani negara-negara seperti AS dan Inggris bukanlah sesuatu yang akan disambut baik oleh para pejabat setempat.

Bagikan: