Jun 152017
 

Anggota Brimob dan TNI melakukan penyergapan terhadap teroris dalam Latihan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama TNI-Polri di Markas Detasemen B Brimob Polda Jatim, Ampeldento, Malang, Jawa Timur, Kamis (18/5). Kegiatan tersebut dilakukan untuk melatih kesiagaan anggota TNI-Polri dalam mengatasi tindak terorisme. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)


Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyampaikan bahwa pelibatan TNI dalam pemberantasan terorisme yang diatur Revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme adalah penting.

“Iya dong, Tapi kan ada eskalasinya. Kapan polisi harus turun, tapi kalau sudah menggunakan alat perang ya tentaralah yang perang. Kalau kita menyuruh polisi yang perang namanya melanggar HAM,” ujar Ryamizard saat ditemui di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Kamis.

Ryamizard pun mempertanyakan perdebatan yang terjadi seputar pembahasan dan membuat RUU tersebut tidak selesai. “Yang pasti sudah kelihatan teroris ngebom sana sini. Heran saya, bahaya sudah di depan mata kok masih saja diskusi,” kata dia.

“Yang namanya teroris itu musuh bersama. Jadi semuanya berhak (menangani bersama) jangan situ-situ aja. Memangnya bisa? Ya enggak bisa. Harus dihadapi bersama. Kita suka lupa,” kata Ryamizard.

Ia berpendapat bahwa pelibatan TNI dalam RUU Pemberantasan Terorisme tidak akan tumpang tindih dengan tugas pokok dan fungsi Polri.

“Masa kalau ada maling di depan kita tidak kita tangkap. Masa harus nunggu aparat datang? Tapi kan ada eskalasinya, kapan polisi akan turun,” ucap Menteri Pertahanan.

Sumber: Antara

  7 Responses to “Menhan Ryamizard: Pelibatan TNI Penting Dalam Pemberantasan Terorisme”

  1.  

    Lebih baik tentara ikut turun brantas teroris….drpd nkri terjebak situasi macam suriah…

  2.  

    Lebih baik TNI ikut andil, kuatir nya jika terjadi kayak marawi, masa yg maju cuma polisi? TNI mau bergerak tp tdk ada payung hukum nya?

  3.  

    TNI memang harus turun tangan… itu jg sdh sesuai dg tugasnya…

  4.  

    TNI wajib terlibat pemberantasan teroris….jangan sampe Indonesia bernasib sama dengan Marawi, bobol dulu baru militer bergerak, musuh sudah mengusai, baru militer di terjunkan….menyakitkan jika itu terjadi….

  5.  

    DPR terlalu banyak wacana dan diskusi, ibarat kebakaran melanda bukan lgsg ditangani tapi dirapatkan dulu sapa yg boleh turun, air diambil dmn dan dananya gmn bagi2nya! Sesudah hangus baru sibuk bergerak terakhir saling menyalahkan lempar tanggung jawab!