Dec 062014
 
CIMG1171

Pasukan TNI di Pos Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia (all photos: Eko Rizqa, Guru SM3T Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara)

Di sini saya akan sedikit menceritakan kehidupan sehari-hari para prajurit penjaga perbatasan Indonesia di kabupaten Malinau, Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Sarawak Malaysia. Nama daerahnya adalah Apau Kayan, tepat di tengah-tengah jantung Kalimantan. Kebetulan saya juga bertugas menjadi guru SM3T yang bertugas setahun di perbatasan sehingga sering berinteraksi dengan mereka.

Saat pertamakali bersilaturahmi ke pos PAMTAS (Pos penjaga Perbatasan) Long Ampung kesan yang saya dapatkan adalah miris. Bagaimana tidak, fasilitas yang dimiliki jauh dari kata layak. Listrik hanya menyala pada malam hari. Bangunan kayu yang sudah mulai lapuk. Senjata yang paling canggih pun masih senapan mesin ringan jenis FN Minimi.

Untuk sarana transportasi, hanya ada 1 motor trail untuk satu pos yang berjumlah 20 orang. Sehingga jika hendak bepergian ramai ramai kadang nebeng atau pinjam mobil yang dimiliki warga. Jika tidak ada kendaraan, terpaksa jalan kaki sampai ke kampung terdekat.

Untuk pergeseran pasukan dan logistik dari Tarakan ke Long Ampung yang biasanya menggunakan helikopter Mi-17 buatan Rusia, sekarang menggunakan pesawat perintis komersil. Hal ini disebabkan Heli Mi-17 tersebut ada yang jatuh dan mengalami kerusakan mesin. Mungkin diantara kita masih ada yang ingat tentang jatuhnya heli tersebut tahun lalu yang menewaskan penumpangnya. Nah itulah heli yang digunakan sebagai tulang punggung operasional di sana. Selama ketidakadaan Heli tersebut otomatis pengiriman logistik dan pergerakan pasukan pun terganggu.

Melihat kondisi seperti itu saya jadi membandingkan dengan kondisi pos perbatasan yang ada di film-film, hehe. Di mana semua fasilitas dilengkapi, dari transportasi yang memadai -ada helipad nya- sampai perlengkapan fitness. Tetapi meskipun kondisi serba kekurangan, jujur saya salut dan menaruh hormat kepada para tentara yang menjaga perbatasan. Mereka tetap melaksanakan tugas dengan baik dan sangat membantu pembangunan di perbatasan.

Kondisi jalan di perbatasan setelah diguyur hujan

Wigih mendorong motornya di tengah Kondisi jalan di perbatasan setelah diguyur hujan

Kehebatan tentara kita yang bisa bertahan hidup di tengah keterbatasan ternyata bukan isapan jempol. Itu saya buktikan di pos PAMTAS Long Nawang. Pos tersebut berjarak tempuh 2 jam dari Pos Long Ampung. Jika Pos Long Ampung dekat dengan kampung maka di Pos Long Nawang sama sekali tidak ada permukiman peduduk, tidak ada warung, tidak ada sinyal, dan sumber air jauh.

Meski demikian, tentara kita tetap enjoy. Tepat di seberang patok batas terdapat bangunan bekas pos tentara Diraja malaysia. Bangunan tersebut jauh lebih bagus daripada punya Indonesia tetapi sekarang ditinggalkan. Konon, tentara Malaysia tidak ada yang betah tinggal di situ karena tidak ada sinyal dan sumber air. Mendengar cerita tersebut, saya pun geleng-geleng kepala. Tentara Malaysia kok cemen betul.

Patok perbatasan Indonesia-Malaysia. Bangunan di belakang adalah pos Malaysia yang sudah kosong

Tentara yang kelihatan dari luar sangar ternyata sangat ramah. Mereka sangat senang jika kedatangan tamu dari luar karena dapat dijadikan teman ngobrol dan saling bertukar pandangan tentang berbagai macam hal. Kadang saya sampai tidak enak sendiri jika sedang main di Pos tentara karena sering disuguhi makanan. Sampai-sampai jatah lauk ayam yang sebenarnya sulit didapatkan di sana diberikan ke kita. Terimakasih ya, hehe.

Ada kisah menarik saat mereka mengecek patok perbatasan di tengah hutan. Sempat ada was-was dari prajurit yang ditinggal di pos karena dari jadwal semula 14 hari sampai hari ke -20 belum ada kabar. Dikhawatirkan mereka tersesat atau mengalami kecelakaan di tengah hutan hujan tropis kalimantan. Akhirnya 3 orang menyusul mereka ke tengah hutan, tidak lama kemudian saat rombongan penyusul tersebut baru jalan sebentar ternyata langsung bertemu rombongan pertama. Syukurlah tidak terjadi apa-apa.

Penyebab molornya rombongan pertama karena medan yang ditempuh sangatlah sulit. Menembus hutan hujan tropis Kalimantan yang merupakan salah satu hutan terlebat di dunia amatlah susah. Lintah mengintai sepanjang perjalanan, pepohonan sangat rapat sehingga menyusahkan untuk berjalan, siang haripun matahari tidak bisa menembus karena dedaunan amatlah rimbun. Setelah stok makanan yang dibawa habis, merekapun survival dengan makan apa saja yang mereka temui di hutan, entah kijang, ular, ataupun monyet.

Salah satu bandara perintis di perbatasan yang dikelilingi hutan lebat. nama daerahnya datadian, kecamatan kayan hilir, Malinau

Salah satu bandara perintis di perbatasan yang dikelilingi hutan lebat. nama daerahnya datadian, kecamatan kayan hilir, Malinau

Meskipun tentara sudah membawa peta, GPS, maupun kompas, itu kurang berguna lagi jika berada di hutan Kalimantan yang masih perawan. Para tentara juga dipandu oleh penujuk jalan lokal. Jika tidak, mereka pasti tersesat dan entah kapan bisa kembali..

Selain tugas rutin menjaga perbatasan, para tentara juga turut membantu pembangunan masyarakat perbatasan. Mereka melaksankan program bakti sosial, penyuluhan lomba-lomba dan sebaginya. Selain itu turut mengerjakan pembanguan jalan desa dan pembangunan bandara perintis yang kelak bisa disinggahi pesawat Hercules. Mereka bersama kami, guru SM3T, juga melatih siswa SD untuk upacara bendera, kegiatan MOS, Paskibra dan sebagainya.

Melihat itu semua, saya mengharapkan perhatian lebih dari Kementerian Pertahanan untuk bisa meningkatkan fasilitas militer di perbatasan. Dari infrastrukur sampai kendaraan harap ditingkatkan agar kegiatan operasional di perbatasan lebih baik. Saya bermimpi jika pos perbatasan tersebut kelak dilengkapi dengan panser, drone, helikopter, atau malah rudal R-han. Tentunya negara Sonora berpikir 1.000 kali untuk macam-macam dengan negara kita.

Tetap semangat dan terimakasih pengabdianmu di tengah keterbatasan.

Sebelum selesaikan tugas negara, Tetaplah Bertahan dan Bersiapsiagalah!

Oleh : Eko Rizqa, Guru SM3T Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Kumpulan Photo:

Bakti Sosial di SMA

Bakti Sosial di SMA

Bersama Danton pos PAMTAS Long Nawang

Bersama Danton Pos PAMTAS Long Nawang

CIMG1176

Prajurit TNI penjaga perbatasan di saat waktu senggang

Disuguhi makan siang saat berkunjung di pos PAMTAS Long Nawang

Disuguhi makan siang saat berkunjung di Pos PAMTAS Long Nawang

gardu pandang di pos PAMTAS Long Ampung

Gardu Pandang di Pos PAMTAS Long Ampung

Latihan Paskibra

Latihan Paskibra

upacara 17 agustus

Upacara HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus

Tentara ternyata bisa gokil juga

Tentara ternyata bisa gokil juga

tni-perbatasan-1

TNI di Perbatasan

Sholat Idul Fitri di bandara Long Ampung

Sholat Idul Fitri di Bandara Long Ampung

Sang Merah Putih gagah Berkibar

Sang Merah Putih gagah Berkibar

persiapan upacara 17 Agustus di Perbatasan

Persiapan upacara 17 Agustus di Perbatasan

Menenteng FN Minimi

Menenteng FN Minimi

Lomba volley lawan SMA Long Ampung

Lomba volley lawan SMA Long Ampung

Lomba volley di pos PAMTAS Long Ampung

Lomba volley di pos PAMTAS Long Ampung

Mengajar PBB siswa SMA

Mengajar PBB siswa SMA

Salah satu desa terdepan di perbatasan, Long Betaoh

Salah satu desa terdepan di perbatasan, Long Betaoh

CIMG6435 IMG_7614

Kiriman dari Raja Kelana

  75 Responses to “MENJAGA ASA DI TENGAH KETERBATASAN”

  1.  

    Sedih liat tentara yg diperbatasan itu.jauh dri kramaian..tpi demi negara mereka tabah menghadapinya.jauh bener dri yg ada dikota.yg pejabatnya korup2 tnpa ampun. TNI.aku bangga dgn mu

 Leave a Reply