Menjaga Teras Maritim NKRI – Pengadaan Alutsista SAR

33
164
Air Asia QZ8501
Air Asia QZ8501

Berkaca dari pengalaman SAR kecelakaan AirAsia QZ8501 maka penyelamatan korban yang diperkirakan masih dapat diselamatkan jelas ditentukan oleh Kecepatan dan Kekuatan ALUTSISTA SAR baik yang dimiliki oleh BASARNAS, BAKAMLA maupun oleh TNI. Kecepatan berhubungan dengan kemampuan korban/penumpang yang masih memiliki kemampuan bertahan hidup (kemampuan untuk berenang/mengapung hingga bertahan terhadap Hypothermia ataupun binatang predator) sementara Kekuatan berkaitan dengan kemampuan melakukan Hovering, mengangkat penumpang selamat ataupun men-Dropping Perahu Karet agar penumpang selamat dapat lebih bertahan di lautan.

Dari hasil sementara pengamatan data yang diperoleh penulis berani menyimpulkan bahwa penumpang AirAsia QZ8501 masih ada yang dapat bertahan hidup namun mengalami kelelahan untuk mengapung dan gagal bertahan survive dari Hypothermia. Helikopter yang dikirimkan untuk misi SAR memiliki keterbatasan daya jangkau sehingga membutuhkan kapal pengangkut untuk menuju titik lokasi yang diperkirakan di mana korban/penumpang terapung di lautan.Sementara kapal penyelamat yang dikirimkan ke lokasi kecelakaan memiliki kecepatan yang relatif lambat belum lagi dihadang oleh gelombang laut yang tingginya bisa mencapai 3-4 meter.

Singkat saja dalam artikel ini penulis lebih merekomendasikan kepada Pemerintah untuk segera mengakuisisi OSPREY V22 yang dapat digunakan baik untuk Operasi Militer Perang ataupun Operasi Militer Selain Perang (SAR). Pesawat Berief Be 200 kurang dapat dihandalkan mengingat hanya dapat mengapung di lautan yang tidak bergelombang tinggi sementara OSPREY V22 dapat melakukan manuver Hovering ataupun mengirim Tim Pelopor Penyelamat dengan melakukan Dropping Kapal Karet yang dilengkapi motor tempel. Sebagai penutup pesawat AirAsia QZ8501 berjenis A320-200 dengan rata-rata kemampuan Jarak Tempuh 3.300 nmi/6.150 km.

No. Jenis Alutsista Crew (Max) Passenger (Seated) Service Ceiling Maximum Speed Average Range               (Maks. Jarak Tempuh)
1 Sea Hawk SH 60 4 5 12.000 ft 270 km/h, 168 mph 450 nmi (834 km)
2 Black Hawk UH 60 4 11 19.000 ft 295 km/h, 183 mph 1.380 nmi (2.200 km)
3 AS 332 Super Puma 2 19 20.000 ft 262 km/h, 141 mph 454 nmi (841 km)
4 EC 725 Super Cougar 2 28 19.997 ft 324 km/h, 201 mph 463 nmi (857 km)
5 AS 365 Dauphin 2 11 19.242 ft 306 km/h, 190 mph 447 nmi (827 km)
6 CH 47 Chinook 3 33 18.500 ft 315 km/h, 196 mph 400 nmi (741 km)
7 Osprey V22 4 24 25.000 ft 509 km/h, 316 mph 2.230 nmi (3.590 km)
8 Berief Be 200 2 20 26.246 ft 700 km/h, 435 mph 2.051 nmi (3.300 km)
Sea Hawk SH 60
Sea Hawk SH 60
Black Hawk UH 60
Black Hawk UH 60
AS 332 Super Puma
AS 332 Super Puma
 EC 725 Super Cougar
EC 725 Super Cougar
AS 365 Dauphin
AS 365 Dauphin
CH 47 Chinook
CH 47 Chinook
Osprey V22
Osprey V22
Beriev Be 200
Beriev Be 200

*Sumbangan artikel : Ayoeng – JKTR Biro Jambi

33 KOMENTAR

  1. Ada 1 lagi yg perlu dipertimbangkan, yaitu heli Kamov khusus SAR Ka-27PS atau Ka-32S (Helix C):
    Crew : 2+3; Passenger: s.d. 16; Service ceiling : 16.404 ft; Maximum speed : 270 km/h (168 mph); Range : 529 nm (980 km);

    Heli ini mempunyai coaxial rotors, tidak perlu lagi tail rotor, sehingga lebih stabil dan presisi dibanding heli biasa, memang didesain utk mendarat di kapal. Dapat dilengkapi dengan Bambi Bucket suspended fire-fighting system sampai kapasitas 5 ton air, seperti dioperasikan oleh Portugal sejak 2006. Service life s.d. 32 000 flight hours.

    Operator Algeria, China, India, Portugal, Russia, Syria, Ukraine, Vietnam, Republic of Korea: Air Force, Coast Guard, Forest Service.
    Civilian operators: Brazil Helicargo Canada Vancouver Island Helicopters; Switzerland Heliswiss; Japan Akagi Helicopter; Portugal Heliportugal.

    Dan yang paling penting harganya pasti paling murah. Osprey memang kinerjanya bagus, tapi selain paling mahal harga dan ongkos operasinya, tidak dapat mendarat di kapal2 kecil sekelas korvet/ frigate.

    Selain alutsista heli, perlu juga dipertimbangkan alutsista kapal khusus SAR sekelas KRI Banda Aceh yang dilengkapi dengan auto positioning system, sonar yg bagus dan ROV s.d. kedalaman 1000-2000 m.

      • Belibis itu memakai metode Wing-in-Surface-Effect / Ground-Effect yaitu efek terbang dekat permukaan (daratan atau laut) yang meningkatkan daya angkat.

        Nah, penggelaran pesawat maritim yang dibutuhkan itu perlu setinggi apa? Apakah pesawat dengan ground-effect dapat memenuhinya atau bukan?

        Pembagian kerja pesawat amfibi pada AU dan AL bagaimana?
        Apakah AU diberi pesawat amfibi seperti Beriev Be-200 Altair / ShinMaywa US-2, dan AL diberi pesawat ground effect seperti Belibis, atau bagaimana?

        Mengenai Beriev Be-200 Altair, ada saingan berat tuh, ShinMaywa US-2 dengan kapasitas angkut lebih tinggi, jarak jelajah dua kali lipat, STOL (hampir setengahnya), dan mampu Sea State 5 (3 meter).

  2. Sekilas Bodi V22 Osprey ini seperti N212 yang sedang diproduksi… Mungkin Indonesia bisa membuat yang lebih canggih, (hybrid).. combo antara coaxial rotor untuk vertikal dan turbofan untuk horizontal….. mungkinkah??…..
    #mojokmenghayal.

    • Bung Asep, kita warjager pernah sepakat untuk tidak lagi mengungkap hal-hal yang mendowngrade semangat kebangsaan seperti “Wani Piro”, “Rapopo” dan ungkapan lain yang lebih banyak mudarat daripada manfaat.

      Asumsi saya, komen anda mendekati wani piro diatas, ada baiknya kita lebih menyoroti aspek teknis-militer-politis daripada sekedar wacana yang menjatuhkan spirit bangsa ini…IMSO…

  3. OSPREY juga tingkat keamanannya juga kurang. dibandingkan hely lain osprey yang paling banyak alami kerusakan. apalagi biaya perawatan yang sangat mahal dibandingkan hely lain. Lebih baik pake cougard kapasitasnya n perawatan lebih baik. dan satu yang penting. kita mampu buat n perawatan.

  4. Indonesia negara kepulauan, pulau2 yg ada dpt berfungsi sebagai pangkalan sementara. Dari kejadian musibah kemarin, kinerja dari semua unsur yg terlibat kita pada angkat topi. Semoga ke depannya kita punya:
    1. Kapal sekelas Banda Aceh(?) digunakan sebagai pusat komando, semoga kedepannya ada kapal yg lebih besar dan dapat didarati heli sekelas ‘chinoox’, yakin kita bisa bikin sendiri. User utama bisa TNI, menginggat alutsista TNI sekarang berat2 dan besar2.
    2. Transportasi dari lokasi insiden (bisa di laut atau di darat) ke pangkalan (baik di kapal atau daratan). Diperlukan alat transportasi yg benar2 stabil di lautan dan di darat. Kelasnya apa ya? Osprey terlalu mahal ya? Chinoox kegedean biar TNI aja yg punya he he….
    3. Priolitas pengadaan alat berbanding lurus dengan banyak kejadian bencana (darat atau laut)
    Mohon maaf jika salah, masih banyak belajar dari Bung2 dan moga sehat2 semua

  5. Dikarenakan kebutuhan alutista yang mendesak untuk SAR, baik yang dimiliki oleh BASARNAS, BAKAMLA sangat kurang , maka pembeliat alutista untuk TNI dikurangi karena anggaran yang sangat terbatas
    untuk itu pembelian pengganti pesawat F5 ditunda 10 tahun kedepan beserta penambahan alutista lainnya

  6. hmm Osprey v22 cukup mahal dengan kisaran 217 million USD / unit. tapi ya jelas dari spek dan fungsinya memang berbeda dengan hello lain di tabel. saya beropini kalau TNI berniat membeli Osprey mungkin lebih optimal jika yg dibeli tambahan EC725 cougar (AU) atau AS565 Panther (AL) dua-duanya combat SAR multimissions. terlebih AS565 dengan karakteristik ASW sangat dibutuhkan sebagai tangan kanan bagi KRI. EC725 Cougar juga bagus untuk combat SAR di darat, serta kerjasama dari Eurocopter yg telah PT.DI jalankan untuk bisa lebih maju menyerap ToT. imho
    salam hangat

    • Saya rasa keputusan untuk AS365 sangat oke, melihat kemampuannya kemarin di selat karimata yang mampu untuk hovering diatas Bung Tomo cukup baik walapun di cuaca badai, setahu saya untuk hovering tanpa dibantu flight computer unit sangat sulit dalam cuaca seperti itu. Untuk versi militer keperluan ASW , AS565 sangat tepat hanya saja mungkin komparasi external fuel pod seperti seahawk seharusnya akan lebih baik jika disematkan pada heli AS series itu.

      • Ya betul dauphin juga bagus, hanya beda kelengkapan fungsi. Dauphin lebih ke heli sipil / SAR mission. Sedangkan panther sendiri adalah pengembangan dari dauphin versi militernya, lebih ke multimission untuk SAR dan kemampuan ASW sebagai pelengkap kapal perang.

  7. …Dari hasil sementara pengamatan data yang diperoleh penulis berani menyimpulkan bahwa penumpang AirAsia QZ8501 masih ada yang dapat bertahan hidup namun mengalami kelelahan untuk mengapung…

    sebaiknya kalimat ini diedit oleh admin karena mendahului penyelidikan KNKT dan juga karena secara analisis tidak layak.

    menyimpulkan ada penumpang yang masih hidup setelah pesawat membentur permukaan berkaitan mutlak dengan mengapa pesawat jatuh setelah masuk awan cumulonimbus.

    ada kecurigaan butiran es pada awan cb mengakibatkan pitot tube gagal berfungsi seperti kasus Air France Flight 447, yang berakibat auto-pilot berhenti bekerja dan menyerahkan kendali pesawat kembali kepada pilot.
    karena berada dalam turbulensi berat pilot gagal menyadari gawatnya situasi akibat pitot tube mengirimkan data yang tidak akurat ke kokpit, sehingga pesawatpun masuk ke stall yang mematikan.
    dilaporkan ‘crew tidak paham bahwa mereka sedang stall, sehingga tidak melakukan manuver untuk recover’.
    para penyelidik mencatat bahwa tak ada kemungkinan bertahan hidup pada kecelakaan ini.

    (jika terjadi stall, pesawat jatuh seperti batu dari langit, dan pecah ketika membentur laut)

    According to the report, a speed sensor on board the plane, called a pitot tube, stopped functioning after becoming clogged with ice at high-altitude while the plane was flying through a thunderstorm. This caused the auto-pilot to disengage and shift the controls back to the pilots. While flying in heavy turbulence, the pilots failed to properly diagnose the severity of the problem because the pitot tube, a critical piece of equipment to the aircraft, was sending inaccurate data to the cockpit, the report said. The pilots put the plane into a devastating stall and it fell rapidly from the sky, before pancake-ing into the ocean.
    “Despite these persistent symptoms, the crew never understood that they were stalling and consequently never applied a recovery maneuver,” the report said.
    Investigators noted that there was no possibility of surviving the accident.

    http://abcnews.go.com/Blotter/air-france-flight-447-crash-didnt-happen-expert/story?id=16717404

  8. Ngapain dibeli pesawat yg sdh direncanakan pentagon bakal di scrap. Darpa sdh membuat pengganti yg lbh baik dan lbh canggih. jk jeli anda pasti sdh membaca di formil2 kalau pentagon sdh berencana meng scrap pesawat ini, krn pesawat ini sebenarnya sangat tdk aman utk dinaiki dan biaya operasionalnya yg gede. sangat banyak pesawat ini yg kecelakaan, itu knp pentagon sdh menutup produksi osprey kedepannya, dan memerintahkan Darpa utk membuat pesawat yg yg lbh baik. tunggu tanggal mainnya Darpa mengenalkan pengganti si osprey ini, tdk brp lama lg.
    Utk Indonesia saran saya gak usah ambil pesawat yg sdh mau di scrap ini. lbh baik teruskan deal pembelian chinook yg diberitakan akan dibeli 2 ekor. kalau bisa Indonesia beli 8 ekor chinook dan lupakan osprey si pesawat odong2 ini. prajurit US navy aja banyak yg keberatan menaiki ini pesawat. mrk lbh suka menaiki blackhawk drpd naik osprey.

    Salam..