Menjajal Senjata dan Kendaraan Tempur Pindad

Menjajal Senjata dan Kendaraan Tempur Pindad

Bandung, Jakartagreater – Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Aan Kurnia berkunjung ke PT Pindad di Bandung, Jawa Barat, Kamis, 6 Agustus 2020, untuk menyaksikan secara langsung senjata dan kendaraan tempur hasil produksi PT.Pindad, dirilis Humas Bakamla.

Kedatangan Laksdya Aan Kurnia beserta rombongan disambut Direktur Utama PT. Pindad Abraham Mose dan pejabat PT Pindad lainnya. “Kami harap anda dapat mendapatkan pengalaman menyeluruh mengenai produk andalan kami,” ucap Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose.

Menjajal Senjata dan Kendaraan Tempur Pindad

Kepala Bakamla RI mengatakan peralatan pertahanan dan keamanan sudah tidak dapat dipungkiri kualitas yang dimiliki oleh PT. Pindad, tidak hanya di dalam negeri nama harum PT. Pindad sudah terdengar dan diperhitungkan dalam persaingan international.

Bakamla RI berterima kasih dan mengapresiasi setingginya atensi dari Menhan yang telah memberikan izin kepada Bakamla RI untuk menggunakan senjata dalam penegakan hukum di laut, terlebih kepada PT. Pindad yang telah turut mendukung kebutuhan senjata dan amunisi serta dukungan teknis pemasangan di kapal Patroli Bakamla RI yang saat ini masih proses pemasangan.

Menjajal Senjata dan Kendaraan Tempur Pindad

“Kesempatan selanjutnya, kami mengharapkan adanya jalinan kerja sama erat dengan PT. Pindad dalam pengadaan sistem persenjataan untuk melengkapi kapal patroli Bakamla RI khususnya,” harapnya.

Kepala Bakamla RI beserta rombongan mengunjungi fasilitas produksi di Departemen Produksi II Divisi Kendaraan Khusus untuk melihat proses perakitan komponen-komponen kendaraan khusus menjadi satu kendaraan utuh.

Menjajal Senjata dan Kendaraan Tempur Pindad

Selain itu, Kepala Bakamla RI dan para anggota rombongan mendapat kesempatan untuk menjajal produk kendaraan taktis 4×4 Maung, kemudian melihat defile kendaraan tempur Produk PT. Pindad yang berbaris mulai dari Komodo APC, Komodo Recon, Anoa APC, Anoa Amphibious, Badak dan Medium Tank Harimau.

Menjajal Senjata dan Kendaraan Tempur Pindad

Ruang display Divisi Senjata menjadi tempat berikutnya. Berbagai macam senjata yang pernah diproduksi PT Pindad ditampilkan di sana, mulai dari pistol, senapan, sniper, hingga munisi dengan berbagai kaliber. Kepala Bakamla RI beserta rombongan tampak antusias saat mencoba menembak dengan menggunakan senjata SS2-V4 Kal 5.56 mm, PM-3 Kal 9×19 mm, SS2-V5 A1 Kal 5.56 mm, pistol G2 Premium dan pistol G2 Elite.

Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Aan Kurnia saat mengunjungi PT Pindad di Bandung, 6/08/2020.

Menutup kunjungannya, Kepala Bakamla RI beserta rombongan melihat ketangguhan senjata SM-5 Kal 12.7 mm yang saat ini dimiliki Bakamla RI sedang di uji tembak.

5 pemikiran pada “Menjajal Senjata dan Kendaraan Tempur Pindad”

  1. Kapan kapal Bakamla dilengkapi CIWS misal AK630 versi Pindad spt yang dimiliki coastguard cina, atau buatkan saja dari bahan fiber lengkapi dengan meriam bambu pasang di haluan dan buritan kapal lalu bungkus pakai terpal rapat buat efek penggetar saja siapa tahu musuh di laut bergetar getar terpingkal pingkal

  2. Pindad klo bisa riset dan bikin torpedo mini portable… yang mudah di jinjing.
    Lumayan buat bawaan kapal kapal patroli kecil. bahkan perahu karet patroli juga bisa bawa torpedo portable. Semacam jevelin tp utk meluncur di dalam air. Kecil tapi mematikan kapal musuh yang mahal.

    • Ide bagus bang @babe, PT. DI sudah mampu bikin torpedo SUT kecepatan luncur 35 knot dimensi diameter 53 cm, panjang sekitar 6 m jarak tembak 38 km, didesain utk diluncurkan dari kapal selam, entah masih produksi atau tidak dulu jaman pak Harto itu semacam proyek mercusuar artinya sekarang apakah ekonomis buat sendiri atau beli jadi, mungkin karena masih manual belum ada seeker jadi luncur lurus saja (jadul mungkin sudah tidak efektif) padahal kapal2 perang sekarang kemampuan deteksi dan mengelak sudah sangat tinggi. Kalau harus dibawa kapal patroli kecil tidak effisien makan tempat banyak jika dimensi diperkecil jarak tembak juga makin dekat itu beresiko kapal patroli sudah ke deteck duluan resiko ditenggelamkan terlalu tinggi, misal diaplikasikan ke drone bawah air yang paling mungkin tapi repot itu harus dekat dengan pangkalan yg paling mungkin jika dibawa kapal perang yg lebih besar, kapal nanggung juga males bawa drone karena pada jarak 100 km pun kapal perang sudah saling salvo pakai rudal, jadi mungkin memang tidak efektif

  3. Seandainya texmaco perkasa masih ada mungkin ranpur, rantis dll bikinan pindad dikasih mesin buatan mereka, bisa neken harga n ikut membangun industri permesinan dalam negeri.

    Sayang, texmaco dimatiin n tinggal kenangan.

Tinggalkan komentar