Menjelang Pemilu Palestina, Abbas Hadapi Tantangan di Internal Fatah

Ramallah, JakartaGreater –  Menjelang Pemilu untuk yang pertama kalinya dalam 15 tahun, Presiden Palestina Mahmoud Abbas berjuang menghadapi perselisihan yang berkembang di dalam partainya Fatah, yang menimbulkan ancaman baru bagi dominasinya atas politik Palestina.

Tawaran untuk memisahkan diri dari salah satu sekutu partai Abbas meningkatkan spekulasi bahwa dia mungkin membatalkan pemilihan presiden yang direncanakan pada Juli 2021, karena khawatir akan adanya tantangan potensial oleh Marwan Barghouti, seorang pemimpin populer Palestina yang dipenjara oleh Israel, dirilis Antara, Minggu 7-3-2021.

Kantor Abbas membantah dia mempunyai rencana untuk menunda atau membatalkan pemilihan presiden. Barghouti 61 tahun adalah kekuatan pendorong dalam pemberontakan 2000-2005 Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki Israel.

Barghouti dijatuhi hukuman oleh pengadilan Israel pada 2004 dengan hukuman penjara seumur hidup setelah dihukum atas beberapa serangan mematikan terhadap Israel oleh militan Palestina. Namun, Barghouti selalu membantah tuduhan itu.

Abbas, 85 tahun telah memerintah Otoritas Palestina (PA) di wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri di Tepi Barat melalui dekrit selama lebih dari satu dekade.

Pada Januari 2021, ia mengumumkan pemungutan suara presiden dan legislatif, sebuah langkah yang sebagian besar dilihat sebagai tanggapan terhadap kritik domestik dan Barat atas legitimasi demokratis kepresidenannya.

Salah satu kecaman dilayangkan oleh Nasser al-Qudwa, seorang anggota lama Komite Sentral Fatah yang pekan lalu mengumumkan dia sedang membentuk daftar baru (anggota Komite Sentral Fatah) yang akan mencalonkan diri secara terpisah dari Fatah dalam pemilihan legislatif, pada Mei 2021.

“(Palestina) sudah muak dengan situasi saat ini  perilaku internal atau perilaku buruk, hal-hal seperti tidak adanya aturan hukum, tidak adanya kesetaraan, tidak adanya keadilan,” ujar Qudwa, keponakan almarhum pendiri Fatah dan Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina Yasser Arafat, kepada Reuters.

Jarang bagi para pemimpin dari 19 anggota Komite Sentral untuk secara terbuka memutuskan hubungan dengan Abbas. Qudwa, 67 tahun mengatakan dia berharap daftar anggota Komite Sentral Fatah akan dipimpin oleh Barghouti, seorang pemimpin Fatah yang telah lama diangkat sebagai calon penerus Abbas.

Namun, Barghouti belum mengatakan apakah dia akan bergabung dalam daftar itu atau mencalonkan diri dalam pemilihan presiden. Barghouti dan pengacaranya menolak permintaan wawancara.

Tetapi jajak pendapat menunjukkan Barghouti akan menang dengan mudah melawan Abbas dan para pemimpin dari Hamas, gerakan Islam yang menguasai Gaza dari Fatah pada 2007.

Sharing

Tinggalkan komentar