Menjemput Tank Leopard ke Jerman

79
86
Tank Leopard 2A4 TNI AD
Tank Leopard 2A4 TNI AD

Jakarta – 52 tank Leopard siap dikirimkan dari Jerman ke Indonesia di pengiriman yang pertama. Jumlah ini merupakan bagian dari total pemesanan TNI AD 2013, yang berjumlah 164 unit.

Upacara pengiriman pertama (roll out) 52 tank dilakukan di Unterluss, Jerman. Rombongan High Level Commitee (HLC) dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dan turut dalam rombongan tersebut mantan KSAD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo. Rombongan dijadwalkan bertolak dari Jakarta Minggu (22/6/2014) pagi ini menuju Hamburg.

Pembelian tank Leopard merupakan inisiasi KSAD saat itu, Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Adapun alasan perlunya pembelian alat utama sistem senjata (Alutsista) tersebut sebagai bagian dari modernisasi alutsista.

“Alutsista Indonesia termasuk yang paling terbelakang bahkan di antara beberapa tetangga negara ASEAN. Selama ini Indonesia hanya mengandalkan pada tank tempur ringan seperti Scorpion, dan AMX-13. Ketiga jenis tank ringan ini terbilang sudah uzur,” jelas Edhie dalam keterangan tertulisnya, Minggu (22/6/2014).

Selain itu, pembelian Leopard juga merupakan bagian dari penyegaran alutsista setelah 30 tahun lamanya tanpa penyegaran. “Penyegaran ini diperlukan Indonesia dalam menjamin kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tambah Edhie.

Sesuai dengan perjanjian jual beli yang dilakukan pada tahun 2013 lalu, Kemenhan telah memesan 164 tank Leopard jenis main battle tank dan medium tank IFV Marder. Tank Leopard ini dibeli lengkap beserta amunisi, peluru latihan dan suku cadang oleh Kemhan dari perusahaan Jerman, Rheinmettal AG, atas persetujuan Pemerintah Jerman.

“Kehadiran kami di Unterluss adalah untuk melihat langsung persiapan akhir yang meliputi inspeksi teknis dan uji coba unit tank Leopard yang akan dikirim ke Indonesia,” ujar Edhie.

“Rencananya 26 MBT dan 26 marder ini bisa tiba di Indonesia dalam waktu dekat dan bisa diperagakan pada upacara perayaan hut TNI 5 Oktober mendatang,” kata Komandan Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri (Danpusenkav) Brigjen TNI Mulyanto. (Detik.com).

79 COMMENTS

  1. Assalamualaikum semua, ijin nyimak .Bagi saya yang tidak bisa berkontribusi , hanya bisa mendoakan semoga sesepuh2 Bung Diego,Bung Gue ,Bung Jalo, BungNara ,Bung Yayan Bung PS ,Bung Erich ,Bung Lare Sarkem & sesepuh2 yang lain tetap exist selalu . dan salam hangat untuk semua warga JKGR.

  2. Welcome Leopard….mudah2an disusul TNI AL jg dpt memesan LST sekelas LPD KRI Makasar agar MBT Leopardnya dpt bisa mobile ke seluruh Wilayah NKRI bila diperlukan krn LST yg sekarang masih terlalu kecil utk bisa mindahin MBT sekelas Leopard dlm jumlah agak banyak…maju terus TNI

  3. Hmmm…yg menjadi pertanyaan doktrin pergelaran yg seperti apakah yg akan digelar TNI untuk Leo? yg seperti biasakah (pendukung infanteri) atau satuan pendobrak menurut doktrin guderian?

    Kalau seperti biasanya itu masuk akal karena medan asia memang kurang mendukung pergelaran masif lapis baja terutama MBT.namun sayang karena kelebihan lapis baja tdk dieksplorasi maksimal yaitu daya tembak,kecepatan dan daya lindung/proteksi…

    Kalau kita memilih doktrin guderian maka medan gelar yg menghambat hrs dicarikan jalan keluarnya…blm lg payung udara yg jg mobile untuk mengikuti gerak lapis baja kemanapun dia pergi…

    “Tank tank itu harus dikumpulkan menjadi satu seperti jari jari membentuk tinju…” Heinz Guderian – Achtung Panzer

    • @Wehr< penggelaran MBT dalam operasi tempur ini mmg mempunyai tipikal khusus, MBT tidak bisa di gelar tanpa payung udara seperti BUK, Pantsyr atau Tunguska atupun bantuan tembakan dari udara
      Penggelaran MBT jg harus di sertai pergerakan mekanis & serta gempuran artileri, tanpa itu semua MBT akan menjadi sasaran empuk tank hunter yg menggunakan RPG-7, RPG-29 & berbagai varian ATGM, hal ini sdh terjadi di perang Suriah.
      Bisa kita lihat di periode awal perang Suriah, T-72 sering menjadi bulan2an ATGM sampai kubahnya terbang ketika kena hit ATGM.

  4. 2 Capres mempuyai pendapat yang berbeda mengenai kelayakan pembelian Bang Leo ini untuk wilayah Indonesia. Jangan2 nanti malah dijual tuh Bang Leo, sm Capres yang berpendapat klo Bang Leo tidak layak utk Wilayah Indonesia. Semoga z tidak ya…..

    • Kalo tdk salah dr dulu udah disampaikan bhw leo emang dibutuhkan, tp tdk vital (hanya di teater tertentu). Cm berhubung ini MBT jd punya daya tarik tersendiri.
      kalo dijual sih nggak. Cm penggunaannya jd perhatian dan….konsumsi politik. contohnya di latgab barusan aja leo udah gak main. Piye dong?

    • Mohon maaf jika tidak salah tangkap atas pendapat salah satu capres dlm membahas masalah alutsista terutama terkait matra darat, terdapat perbedaan yg signifikan antara kemampuan panser dgn tank terutama tank MBT…
      Sayangnya pendapat salah satu kandidat capres belum membahas konsep pre emptive strike yg baru di gelar dlm latgab TNI 2024 dan konsep MEF yg saat ini sedang di jalankan.
      Mohon komentar para warjager yg lain.
      Terima kasih

  5. wadoooh capres favorit ane malah nggak dukung kita beli Leopard. jadi lemes nih ane. Padahal ngarep Pindad bakalan produksi sendiri Medium Tank dan Main Battle Tank dg mempelajari si Leopard dan Marder.
    trus aku kudu piye…? Semoga yang jadi siapapun asal minimal mendukung pengadaan MBT, Frigate, Destroyer, Kilo/Amur, SU-35, Apache, Medium dan Long range SAM.

    • Sepertinya beliau punya akun facebook dan twitter. Bisa posting usulan agar beliau meninjau kembali statement Leopard yg kemarin, bahwa dibalik pengadaan sebagian besar alutsista ada perjanjian transfer teknologi agar kita bisa mandiri bikin alutsista.

  6. memang capres tidak tahu strategi akhir dari si leo ini..

    syarat TOT adalah membeli barang dalam jumlah besar, baru mereka mau TOT..

    setelah pembelian ini Siap Siap produksi massal di Pindad, secara ASIA FASIFIK merupakan pasar yang gemuk untuk alutista …

    mungkin perlua ada yang sedikit membuka infonya

  7. TNI perlu belajar lebih efisien.

    keterlibatan High Level Commitee (HLC) cukup di awal, sejak seleksi kandidat mbt, memutuskan shortlist, meninjau ke lapangan / demo 2-3 jenis mbt yang masuk shortlist, memilih 1 sebagai mbt tni + negosiasi + tandatangan kontrak.

    realisasi kontrak / pengiriman sekedar masalah teknis lapangan, tidak ada urgensinya disaksikan HLC, cukup diwakili atase pertahanan di negara ybs.

LEAVE A REPLY