Menteri Pertahanan Indonesia Takjub dengan Ka-52 dan Varshavyanka Class

72
219

3686171_original

Di ajang pameran Indo Defence 2016, tidak kurang dari 225 model senjata dan peralatan militer untuk berbagai layanan militer ditampilkan perusahaan eksportir pertahanan Rusia, Rosoboronexport.

3685877_original

Rusia yang menganggap pameran militer Indo Defence 2016 di Jakarta sebagai salah satu event yang sangat penting, tidak main main dengan menghadirkan beragam persenjataan dan peralatan militernya yang terbaru dan termutakhir.

3687580_original

Rombongan pejabat militer Indonesia yang menyambangi booth Rosoboronexport juga sangat takjub dengan berbagai peralatan tempur yang dipamerkan.

3687949_original
3687709_original

Terlihat Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu sangat serius saat melihat-lihat model helikopter serang Ka-52 Alligator. Menteri Ryamizard juga sangat seksama saat mendengar penjelasan dari Wakil Direktur FSMTC Rusia Mikhail Petukhov dan wakil Direktur Rosoboronexport Sergei Goreslavskii di booth yang menampilkan model kapal selam Project 636 Varshavyanka class.

72 KOMENTAR

  1. Melapor ke Jokowi, Pramono Sebut 34 Proyek Mangkrak Era SBY Rugikan Negara Triliunan Rupiah
    Saturday, November 5, 2016 Proyek pembangkit tenaga listrik pada era Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono diduga merugikan keuangan negara triliunan rupiah.Dugaan kerugian negara ini muncul berdasarkan temuan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).Hal tersebut dilaporkan Menteri Sekretaris NegaraPratikno dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung kepada Presiden Joko Widodo, Jumat (4/11/2016) pagi.Proyek yang diduga merugikan keuangan negara itu adalah proyek pengadaan 7.000 megawatt yang didasari Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2006 dan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2010.”PLN ditugaskan sekitar 7.000 megawatt listrik, tetapi sampai hari ini proyek itu tidak terselesaikan,” ujar Pramono Anung, seusai melaporkan hal itu kepada Presiden, di Kantor Presiden, Jumat.BPKP, lanjut Pramono, juga menemukan penggunaan uang negara untuk pembayaran 34 proyek dari 7.000 megawatt itu, yakni sebesar Rp 4,94 triliun.”Dari 34 proyek tersebut, ada 12 proyek yang dapat dipastikan tidak dapat dilanjutkan sehinggaterdapat potensi kerugian negara yang cukup besar dari nilai kontrak sebesar Rp 3,76 triliun,” ujar Pramono.Ia enggan menyebut besar kerugian negara dari mangkraknya 12 proyek pada era SBY itu karena hal tersebut merupakan wewenang BPKP.Selain itu, sebanyak 22 proyek listrik bisa dilanjutkan.Namun, kelanjutan 22 proyek itu membutuhkan tambahan biaya baru sebesar Rp 4,68 triliun-Rp 7,25 triliun.”Penambahan biaya baru ini cukup besar sehingga kami laporkan ke Presiden. Mohon arahan Presiden agar bisa menindaklanjuti temuan BPKP ini dan tidak menjadi masalah padakemudian hari,” ujar Pramono.(Baca: KPK Kumpulkan Bahan Terkait Mangkraknya 34 Proyek Pembangkit Listrik)Pramono mengatakan, Presiden telah memerintahkannya untuk berkoordinasi dengan PLN dan kementerian terkait untuk menindaklanjuti persoalan itu.”Presiden memberikan arahan kepada kami untuk segera menindaklanjuti ini dan dibahas dengan PLN, kementerian terkait, agar mengambil jalan keluar atas hal tersebut,” ujar Pramono.(vr)

      • klo semua peralihan antar presiden di permasalahkan bakal ngk ada habisnya. soeharto ke habibie ke gusdur ke megawati ke sby ke jokowi. pasti kebijakan berbeda”. mega ke sby dulu sby ngk bnyk ngeluh ke publik klo jaman mega ada yg janggal. move on aja.yg g besers mohon di beresin yg g bener mohon di benerin yg khasus mohon di tindak,jgn cari kambing congek.

    • SBY memerintah dari 2004 – 2014.

      Peraturan Presiden dikeluarkan tahun 2006 dan ternyata nggak jalan lalu dikeluarkan lagi Peraturan Presiden tahun 2010.

      Total ada 34 proyek sejak 2004 – 2014.

      Dan 34 proyek itu mangkrak sedang dana sudah keluar.

      Duit disalahgunakan sehingga kerugian negara lebih dari 3 Trilyun.

      Kerugian negara itu harus ditutup dengan dana lagi antara 4 – 8 trilyun.

      Mengapa bukan 3 – 4 trilyun saja untuk nutup kerugian ? Karena beberapa alat yang akan dipasang harus impor artinya beli barang dari luar negeri dan menggunakan mata uang asing.

      Menggunakan mata uang asing berpengaruh pada kurs. Selisih kurs bisa menaikkan besaran biaya.

      Selain itu juga kemungkinan barang tsb naik harga juga. Kenaikan harga barang yang dibeli memperbesar jumlah biaya.

      Maka keluarlah angka 4 – 8 Trilyun.

      Andaikata Sri Mulyani ada hal ini tidak akan terjadi.

      Sri Mulyani sengaja disingkirkan agar bisa korupsi berjamaah.

      Antasari pun disingkirkan dari KPK biar lebih banyak lagi dapat duitnya.

      Walaupun rezim lalu bilang Katakan Tidak Pada Korupsi tetapi ternyata ….. (silakan teruskan sendiri).

    • Kalau beli Sukhoi SU27/30 via broker/calo/perantara tidak termasuk KKN ya…?

      Politik oh politik…

      Dari zaman ke zaman pasti ada sandiwara untuk merugikan negara dan yang lebih menyeramkan lagi mereka bersandiwara untuk mencari tumbal untuk memuluskan sekenarionya.

      Hukum dunia mungkin dapat engkau hindari, tapi tidak untuk hukum akhirat.

  2. MI-28 Night Hunter “Havoc” kok tidak dipamerkan ya? Atau memang tidak dijual? Padahal saya lebih tertarik itu.

    MI-28N
    General characteristics

    Crew: Two: 1 pilot (rear), 1 navigator/weapons operator (front)
    Length: 17.91 m (58 ft 9 in)
    Rotor diameter: 17.20 m (56 ft 5 in)
    Height: 3.82 m (12.5 ft (150 in))
    Disc area: 232.35 m² (2,501 ft²)
    Empty weight: 7,890 kg (17,400 lb)
    Loaded weight: 10,500 kg (23,150 lb)
    Max. takeoff weight: 11,700 kg (25,800 lb)
    Powerplant: 2 × Klimov TV3-117 turboshaft, 1,636 kW (2,194 shp) each
    Performance

    Maximum speed: 324 km/h (175 knots, 201 mph)
    Cruise speed: 265 km/h (145 knots, 164 mph)
    Range: 435 km (234 nmi, 270 mi)
    Combat radius: 200 km (108 nmi, 124 mi) ; with 10 min loiter and 5% reserves
    Ferry range: 1,105 km (595 nmi, 685 mi)
    Service ceiling: 4,950 m (16,250 ft)
    Rate of climb: 13.6 m/s (816 m/min,[50] 2,677 ft/min)
    Power/mass: 0.31 kw/kg for TV3-117 ()
    Hovering ceiling: 3,600 m (11,811 ft)
    Armament

    Guns: 1× chin-mounted 30 mm Shipunov 2A42 cannon with 250 rounds (±110° horizontal fire)
    Hardpoints: Two pylons under each stub wing to mount bombs, rockets, missiles, and gun pods. Main armament configurations include:
    16 Ataka-V anti-tank missiles and 40 S-8 rockets, Or
    16 Ataka-V anti-tank missiles, and 10 S-13 rocket, Or
    16 Ataka-V anti-tank missiles, and two 23 mm Gsh-23L gun pods with 250 rounds each.
    Other ordnance: 9K118 Sheksna and 9A-2200 anti-tank missiles, 8 Igla-V and Vympel R-73 air-to-air missiles, 2 KMGU-2 mine dispensers
    —————
    Ka-50 (versi Ka 1 kursi)
    General characteristics

    Crew: 1
    Length: 16.0 m (52 ft)
    Rotor diameter: 14.5 m (48 ft)
    Height: 4.93 m (16.2 ft)
    Disc area: 330.3 m² (3,555 sq ft)
    Empty weight: 7,700 kg (17,000 lb)
    Loaded weight: 9,800 kg (21,600 lb) , 10,400 kg (22,900 lb) for Ka-52
    Max. takeoff weight: 10,800 kg (23,800 lb)
    Powerplant: 2 × Klimov VK-2500 turboshaft, 2,400 shp (1,800 kW) each
    Performance

    Never exceed speed: 350 km/h (220 mph; 190 kn) in dive
    Maximum speed: 315 km/h (196 mph; 170 kn) in level flight
    Cruise speed: 270 km/h (170 mph; 150 kn)
    Range: 545 km (339 mi; 294 nmi)
    Combat radius: 470 km (290 mi; 250 nmi)
    Ferry range: 1,160 km (720 mi; 630 nmi) with 4 drop tanks
    Service ceiling: 5,500 m (18,000 ft) operational, 4,000 m (13,000 ft) hover
    Rate of climb: 12 m/s (2,400 ft/min)
    Disc loading: 30 kg/m² (6.1 lb/sq ft)
    Power/mass: 0.33 kW/kg (0.203 hp/lb)
    Armament

    Guns: 1x mobile semi-rigid 30 mm Shipunov 2A42 cannon (460 rounds total, dual feeding AP or HE-Frag)
    Hardpoints: 4 (6 on Ka-52) under-wing hardpoints, plus 2 on wingtips for countermeasures or air-to-air missiles with a capacity of 2,000 kg and provisions to carry combinations of:
    Rockets: 80 x 80 mm S-8 rockets and 20 x 122 mm S-13 rocket,
    Missiles: 2 x APU-6 Missile racks, able to accommodate a total of 12 9K121 Vikhr anti-tank missiles, Vympel R-73 (NATO: AA-11 Archer) air-to-air missiles, Kh-25 semi-active laser guided tactical air-to-ground missiles
    Bombs: 4x 250 kg (550 lb) bombs or 2x 500 kg (1,100 lb) bombs,
    Other: 23 mm UPK-23-250 gun pods (240 rounds each), 500 L (130 US gal) external fuel tanks. Reportedly, twin Igla light air-to-air missile launchers under each wingtip countermeasure pod (total 4 missiles).[46]
    Two pods on the wingtips with flare and chaff countermeasure dispensers, 4 UV-26 dispensers each (total 512 chaff/flare cartridges in each pod)

  3. Yang penting takjub dulu, selebihnya urusan belakangan. Semua berawal dr takjub untuk sampai akhirnya kpd proses pembelian.
    Kalo gak takjub ngapain dibeli. Yg lebih parah lg sdh gak takjub, gak pernah beli jg. Sdh gak takjub gak pingin beli.

  4. Dari Takjub….menjadi Rencana…, rencana…dan rencana….
    Yaaa…. memang beli Alutsista Negara Ga seperti Beli Sandal Jepit (Beli Sandal Jepit Aja kita juga pilih” warna nya, model nya, nomer nya) Apalagi ini sesuatu yg penting buat Negara Tercinta ini..

  5. kalau yang Varshavyanka Class cuma model yg di pamerin di pameran yg asli ada 2 nomor tower 401 dan 402 saat ini sedang asyik berselam ria satu di selatan samudra Indonesia satunya di sekitar laut Natuna menjalankan tugas dari ibu Pertiwi menjaga kedaulatan wilayah perairan Nusantara

  6. Kamov 52 aligator sangat cocok utk tni al khususnya utk corp marinir. Mengingat jumlah pasukan si hantu laut ini terus membesar,saya kira tni al (marinir) membutuhkan heli jenis ini sbg sarana BTU dan payung udara secara mandiri,biarpun tak sebanyak atau sebesar milik saudara tuanya(tni ad) atau sehebat super hornet milik usmc saya kira udah cukup bagus utk tentara hantu laut NKRI.