Aug 122013
 
Disain KFX Korea Selatan (KIA)

Disain KFX Korea Selatan (KIA)

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menugaskan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) merancang dan mengembangkan  pesawat tempur dan PT PAL menggarap kapal selam canggih.  Menteri Pertahanan  menjelaskan, PTDI saat ini dalam proses mengembangkan desain pesawat tempur canggih sekelas F22 bersama Korea Selatan.  “Pilihannya adalah F-22 atau naik ke F-35,” ujar Purnomo Yusgiantoro, Senin (12/8/2013).

Program pengembangan yang bernama Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) tetap berjalan, meski pemerintah Korsel sempat menghentikannya sementara.  Indonesia mengambil porsi pembiayaan hingga 20% dari total anggaran proyek, untuk pengembangan jet tempur KFX/IFX.

“Dulu kita sudah siapkan skema pembiayaan dan DPR sudah setuju. DPR kan sudah lihat desain kita yang di Bandung. Hanya kita nunggu dari Korea. Ini kan pemerintahan baru, nanti akan ada hubungan 60 tahun Indonesia Korea. Kita akan menandatangani pengukuhan kerjasama pertahanan,” tambahnya.

Disain Pesawat IFX PT DI (photo: detik.com)

Disain Pesawat IFX PT DI (photo: detik.com)

Selain PT DI, BUMN lainnya yakni PT PAL siap menerima penugasan untuk mengembangkan kapal selam canggih bersama Korea Selatan. Pada tahap awal dua unit kapal selam diproduksi di Korea Selatan. Kemudian PAL akan memproduksi sendiri kapal selam canggih di galangan kapal di Surabaya Jawa Timur pada tahun 2015 atau paling lambat tahun 2016. Untuk itu galangan kapal di Surabaya akan direnovasi, dibuatkan hanggar  tempat pembuatan kapal selam. (detik.com)

  29 Responses to “Menteri Pertahanan: “Program KFX/IFX Jalan Terus !””

  1. Kebalik tuh ucapannya, harusnya “Pilihannya adalah F-35 atau naik ke F-22″ … .

  2. KFX/IFX itu seperti “Napsu Besar Tenaga Kurang”. Industri hulu kita belum sampai kearah sana, terutama industri semi konduktor dan material komposit. Itu dulu dibenahi, biar klo mo bikin proyek ambisius nggak pada sinis. Mereka (Korsel) udah jalan di industri hulu mereka, meskipun di pespur gen 4 ke atas belum mature pada saatnya mereka bisa mengejar. Bukan maksud hati megecilkan mimpi anak bangsa, tapi ane kok merasa lompatan ini terlalu jauh. Tawaran Prancis dan Inggris masih dalam ingatan, kenapa nggak dipertimbangkan demi pemenuhan kebutuhan pespur dulu. Meskipun status merakit, pengalaman bikin pespur akan berguna dimasa datang. Apalagi klo bisa loby biar dikasih jatah bikin komponen, setidaknya ini lebih realistis daripada proyek mercusuar berbiaya tinggi kerjasma dengan negara yg belum fasih teknologinya. Belajar seperti Korea, China, dan Jepang. Mereka mengawali dari lisensi kemudian dikembangkan sendiri, baru belajar bikin sesuatu yg baru. Sambil berjalan mereka membangun dan mengembangkan industri hulu mereka, itulah cara membangun mimpi dengan baik. CMIIW lho ya…

    • Lama sekali kalau menunggu industri hulu kekar dulu. Industri hulu juga sulit berkembang kalau tidak ada yang membeli krn kalah bersaing dengan produk murah dan cantik Cina, Korea, Taiwan, dst … .. PT INTI yang dari dulu digadang2 menjadi ujung tombak industri telekomunikasi saja nggak maju-maju … Dulu waktu muncul HP Nokia yg mungil, HP buatan PT Inti segede gagang telepon … hmmm. Dan sekarang kita malah kebanjiran HP abal-abal buatan BUMN “PT INTI”-nya China, Hua Wei.

      Untuk pesawat, selain harga, yang lebih dibutuhkan agar laku, cepat balik modal lalu untung adalah: reliabilitas tinggi, bandel, downtime rendah, operating cost rendah, operator cepat untung, dsb., terserah komponennya dari mana. Kalau sudah laku dan mendapat kepercayaan luas, komponen sudah bisa mulai di beri pilihan buatan dalam negeri yg certified.

      Tidak haruslah meniru Korea. Rusia juga masih membutuhkan Snecma Prancis untuk mesin Sukhoi Superjet-100 nya. Belanda, negara sak uprit di Eropa, dalam mengembangkan pesawat Fokker yg cukup tangguh itu juga tidak menunggu industri hulunya maju dulu. Cina yang maunya komponen produk dalam negeri, pesawatnya malah jatuh melulu. Dua dari 15 MA-60 Merpati yang baru datang sudah jatuh.

    • Lha mau niru siapa lagi bang.. Ya belom kejauhan dikejer kan mereka2, mustahil ngejar US sama Rusia. Lha Rusia bikin mesin aja udah mature, beli mesin dari snecma tentu pake itungan ekonomi mereka, dan ane juga nggak bilang harus apa2 dibikin sendiri. Cuma klo liat didalam negri, liat industri hulunya, apa ya kuat menyokong industri hilir nantinya. China kan udah jalan di Industri hulu mereka, makanya ane rekomendasi buat ditiru langkah mereka. Kalopun belum mature dan masih banyak masalah,menurut ane cuman masalah waktu aja bang. Bisa dilihat kok perkembangan industri hulu mereka sekarang, dan bukan mustahil suatu saat menyalip Jepang. Klo nanti 100% Import dari bahan baku sampai komponen, meskipun kita ikut merancang pespurnya, kok ane merasa ada yg salah ya.. Sulit membayangkan Indonesia bikin pespur gen 5 dengan kondisi kita sekarang ini dan pengalaman kita selama ini..

      • Setiap negara itu unik ya, punya masalah, potensi dan tantangan yang berbeda-beda. Korsel praktis seluruh rakyatnya boleh dikata “kembar”, disamping satu ras mereka juga semua serempak terobsesi agar lebih maju, lebih makmur, dan lebih kuat daripada Korut. Jumlah PhD nya pun nggak kira-kira dibanding Indonesia. Sudah itu AS juga mau nggak mau harus menolong dan mendorong Korsel agar cepat maju untuk mebendung pengaruh Utara, caranya dengan industrialisasi beser-besaran yg lambat laun berhasil menarik riset industri hulu, seiring meningkatnya jumlah PhD. PhD itu tulang punggung riset ya, sementara insiyur itu pekerja. (ITB “baru sekarang” fokus menjadi perguruan tinggi riset semacam MIT di AS, seiring upaya meningkatkan jumlah PhD dan juga lulusannya … meskipun jumlah insinyur yg diluluskan masih sangat dominan krn besarnya kebutuhan industri hilir).

        PhD Cina jauh lebih besar lagi. Awalnya Cina diajari Soviet membuat rudal balistik nuklir dan kapal selam akhir 50-an. Namun belakangan hub Cina-Soviet cerai di akhir 1960-an karena perbedaan paham, Komunis Cina lebih cenderung ke model Kapitalis (meskipun tidak sepenuhnya) dibanding Sosialis demi menghidupi rakyatnya yang sangat banyak. Tidak hanya alutsista strategis, industri Cina memang dimulai dari hilir, rakyat makan dulu, baru kemudian hulu seiring tersedianya jumlah PhD yang “berlebihan” dan tarikan industri hilirnya yang luar biasa.

        Sejak dimulainya awal 1970, industri hilir Cina kini sudah berkembang pesat. Beberapa gambaran betapa kuatnya industri hilir Cina kini:
        – 10 tahun lalu selesai dibangun sebuah PLTA Three Gorges terbesar di dunia, output listriknya lebih dari 20 Giga Watt, setara dengan jumlah seluruh listrik Jawa-Bali.
        – sejak 10 tahun lalu juga Areva Perancis dan Westinghouse AS berlomba membangun 31 PLTN di Cina dalam 20 tahun ke depan, dan keduanya menang mendapat jumlah fifty-fifty. Sebuah akselerasi paling cepat di dunia dalam membangun PLTN di sebuah negara.
        – Lulusan pelajar SMA Taiwan kini lebih suka meneruskan kuliah di Cina dibanding AS, dgn berbagai alasan: kesempatan berbisnis di Cina dimasa mendatang lebih besar (dan juga kemungkinan penyatuan Cina-Taiwan).

        Konsep di Korsel dan Cina identik dengan konsep BJ Habibie yg sering kita dengar, “berawal di akhir dan berakhir di awal”. Menciptakan industri hilir dulu untuk membuat pasar bagi industri hulunya.

        Persis yg disampaikan Mas Eka di bawah.

    • Menunggu semuanya siap berarti tidak akan pernah siap, seperti orang yang berencana untuk menikah dan berprinsip “Jika semuanya sudah siap baru saya menikah” Orang macam ini biasanya akhirnya tidak pernah berhasil menikah atau terlalu tua baru menikah. Demikian pula dengan pengembangan teknologi.

      Kalau dilihat sekarang dimana PT. Pindad yang kebanjiran order pembuatan Panser, cepat atau lambat dengan order yang besar akan mendorong Pindad untuk melakukan subkontraktor pembuatan sub komponen ke dalam negri dari yang dulunya diimpor dari luar. Mungkin senjata, mesin penggerak, elektronika, sensor, dan lain lain. Ini akan mendorong banyak pengusaha untuk membeli hasil riset dari LAPAN, LIPI atau universitas-universits untuk dikembangkan dan diintegrasikan dengan kebutuhan pengembangan teknologi yang ada, Karena pasarnya sudah jelas.

      Ini sudah terjadi dengan batere lithium ion, dengan besarnya nafsu pemerintah membuat mobil listrik dan besarnya pasar, akhirnya NS battery berani bertaruh ratusan milyar rupiah untuk membangun pabrik baterai lithium ion untuk kapal selam, panser, tank, mobil listrik dll.

      Pola yang sama juga akan terjadi dengan PT. DI, PT. PAL, PT. Inti dll. PT. Inti saya yakin akan mampu membuat perangkat militer elektronik yang canggih manakala tuntutan untuk itu sudah ada. Pasar sudah jelas, standar kualitas yang diharapkan juga sudah jelas dll.

      Ini bisa dilihat juga pada PT INKA, dan PT. MBW yang berhasil membuat monorel. Ini hanya bisa terjadi karena ada demand yang jelas dari pemerintah: Program Monorel. Saya menggunakan analogi yang ekstrim tapi prinsipnya sama: Pelacuran tidak bisa dihilangkan selama masih ada pria hidung belang. Hukum supply dan demand selamanya akan berlaku.

      Begitu pula riset dan teknologi tidak akan pernah berkembang jika tidak ada pasar yang jelas. Nah, sekarang pemerintah sudah menciptakan pasar, tinggal apakah kita akan coba sebisanya untuk memenuhinya dari industri dalam negri ataukah membeli semuanya dari luar negri sembari “menunggu semuanya siap” ?

      Dilihat dari apa yang sudah dilakukan pemerintah saat ini, menurut saya Indonesia sudah ada di jalur yang tepat. Pemerintah mencoba untuk memenuhinya dari dalam negri, sembari membeli dari luar jika kita belum mampu dan melakukan alih teknologi.

      Rekan saya mengatakannya seperti ini “So what kalau program pesawat tempur dan kapal selam kita gagal, kalau berhasil gimana?”

    • gan Eka.. Oke ane dapet point-nya, dimana pasar diperlukan biar supply bisa masuk. Tapi ada satu point yg belum dibahas disini, bahwa kita sekarang sedang kekurangan pespur. Justru ini yg paling mengganjal di benak ane, dimana masa depan IFX ini masih panjang dan sangat mungkin molor. Dengan posisi kita saat ini yg masih kekurangan pespur berkualitas, bukannya malah blunder kita terlalu mengharapkan IFX yg (sory) masih belum jelas juntrungnya. Okelah klo mau diteruskan dengan segala konsekuensi, tapi ya musti ada backingnya dong. Terlalu riskan dimana masa 15 tahun kedepan kita harus menunggu pesawat kita dateng (itupun hasil produk-nya bagaimana juga kita nggak tau) tanpa ada plan-B jika proyek gagal atau molor, sedangkan tantangan kedepan kita nggak tau (potensi konflik nyata2 sudah didepan mata di LCS dan Ambalat). Okelah klo ada opsi penambahan F-16 baru, apa itu cukup? Apa sudah mumpuni jika benar2 terjadi pecah konflik seperti saya sebut diatas? Ingat juga kita dikelilingi tetangga yg punya air superiority yg bagus, sedangkan kita bukan sekutu raksasa manapun (China ally bukan, US ally bukan, Rusian ally juga bukan). Jika pecah konflik murni kita akan mengandalkan kekuatan sendiri, dan dengan keadaan pertahanan udara kita sekarang miris rasanya membayangkan apa yg bisa dilakukan jika benar2 terjadi konflik. Mumpung ada yg menawarkan barang bagus, kenapa nggak diambil mumpung lagi butuh. Ini sebenarnya kegundahan ane bang..

      • ya kalo begitu sepakat mendukung indonesia bisa punya memproduksi pesawat sendirikan, dan bung ari sendiri tahu kalo itu tidak bisa dicapai dalam waktu seminggu, sebulan, setahun. 5 tahun. kalo masalah kegundahan bung ari mengenai kekuatan regional yang mengancam, saya rasa tidak seluruhnya benar tapi tidak seluruhnya salah :).dan kalo nanti kita pakai semua uang yang ada untuk beli pesawat, saya kuatir bung ari jadi salah satu yang orang yang mengkeritik tajam, kenapa uang yang begitu besar tidak dipakai untuk membangun kemandirian industri senjata mulai riset dan industrinya?, tapi saya yakin bung ari memang benar-benar bermaksud baik dan ingin pertahanan kita mumpuni :).

        • Sepakat tapi miris dengan kesiapan kita kedepan bang.. Kita ketinggalan di teknology nano, semi konduktor dan material komposit seperti ane sebut diatas. Kenapa ane konsen disini, karena pespur gen 4 keatas banyak menggunakan teknologi tersebut. Apalagi gen 5, peran komputer hampir2 menguasai seluruh sendi pesawat, teknologi nano, semi konduktor itu intinya elektronik termasuk komputer (bahkan ane belum bicara masalah software, entah kemampuan kita sampai mana). Material komposit mainnya di frame pesawat, mungkin disini ada yg lebih tau material apa saja yg dipakai pespur gen 5. Mosok nanti kita impor semua, makanya ane pertanyakan kesiapan kita gimana (siapa tau disini ada pelaku industri yg tau persis kondisi teknologi kita gimana).. Ane diatas mempertanyakan tawaran lisensi rafale atau thypon kenapa nggak diambil bang, lisensi lho ya bukan asal beli aja. Gimanapun ini perlu mengingat kita belum punya pengalaman di pespur even cuman ngerakit doang. Keuntungannya banyak, selain pespur berkualitas nambah, nambah pengalaman bikin langsung plus TOT bikin komponen bisa dinego, terbuka lapangan kerja baru dan good value bagi industri yg mau berpartisipasi. Keuntungan bisa berlanjut jika mereka mau membantu pengembangan IFX kita nantinya. Pan syarat ngasih teknologi ya kita harus beli banyak produk mereka. Misal kita beli rafale dan bikin disini tarohlah 50 pesawat, mosok dimintain tolong ngasih radar ama mesin mereka masukin ke IFX mereka nolak. Justru klo kita nggak ngelakuin ini (beli, lisensi ato apalah) darimana kita dapet jeroan IFX nanti? Yakin dikasih spec sama ama punya korsel, sedangkan korsel aja mati2an ngebujuk US buat dikasih teknologi gen 4,5/5 buat KFX. Lha kita ngikut doang mana dikasih tuh teknologi sama US.. Ini bukan onani otak lho ya, karena ane yakin kita mampu. USD85m dikali 50 ketemu USD4.25b, ditambah bikin line produksi plus tool-nya tambahin sendiri. Nanti pespur kita di medium plus IFX total 100 ekor, termasuk pas buat geografis Indo yg luas banget..

      • Gan Ari,
        Silahkan dilihat China dan India. Mereka membuat pesawat tempur, kapal selam, peluru kendali, kapal perang dan sebagainya dari industri mereka sendiri. Tapi jangan lupa, China dan India juga membeli pesawat tempur dan kapal selam buatan Rusia. Turki dan Jepang juga melakukan hal yang persis sama Beritanya ada di situs ini juga.

        Saya lihat begitu pula dengan pemerintah kita. Beli iya, bikin juga harus. Tinggal masalah anggarannya yang diatur pemerintah. Dan lagi saya juga melihat pemerintah telah melakukan ini melaui APBN multi years-nya.

        Sebagai rakyat kita berharap semoga yang direncanakan oleh pemerintah menjadi kenyataan. Betapa bangganya kita kalau program kapal selam dan pesawat tempur ini berhasil!!

        Kekayaan negri ini sesunggunya bukan pada alam, tapi pada manusianya. Melalui program semacam ini pemerintah sesungguhnya sedang membangun sumber daya manusia kita, sumber daya yang tidak akan pernah habis, berkualitas, dan banyak kita miliki.

        • Sebenernya maksud ane sama ama ente bang, cuman salah persepsi aja. Coba liat uraian ane diatas (reply buat bang parnas).. Kita cuman beda persepsi di hulu ke hilir apa hilir ke hulu doang. But generally i agree with u..

      • konflik yang siap pecah didepan mata yaitu LCS dan ambalat. Pemerintah ingin TNI kuat dan siap dalam menghadapi konflik itu kapanpun dan bagaimanapun. langkah yang diambil pemerintah yaitu “bikin” dan “beli”. konkretnya yaitu IFX, bagaimanapun konflik bisa pecah kapan saja dan memburuk bila tanpa persiapan matang jangka panjang akan susah. Terlepas dari gagal atau berhasil, pemerintah hanya mengambil kesempatan yang ada untuk “bersiap”, dan ditambah lagi ada “niat” untuk menimba ilmu dari program tersebut. berani ambil resiko untuk loncatan besar. dalam hal ini pemerintah “sadar” peran waktu, infrastruktur, “konflik”, SDM, yang menopang. semoga program tersebut lancar dan menuai hasil yang positif bagi NKRI.

      • maaf beribu maaf bank wie ariwibowo sepertinya anda harus banyak belajar terutama mengembangkan wawasan pengetahuan… termasuk wawasan kepemimpinan…. ada perbedaan wasawan antara pemimpin dan yang di pimpin…. sang pemimpin duduknya diatas.. dan yang di pimpin duduknya di bawah .. jadi diibaratkan sang pemimpin akan lebih tau sekitarnya.. dari pada yang dipimpin kan.. jd belajarlah mempercayai.. pimpinan… sebab .. investasi di bidang teknologi … seperti menyekolahkan anak… hasilnya tdk bisa langsung di nikmati… tapi… tetap penting…. dan harus….

    • Teknologi semi konduktor dan material komposit tentunya akan ideal bila dikuasai, tapi bukan merupakan harga mati bagi sebuah negara yang ingin merancang bangun pesawat tempur sendiri (karena masih ada opsi memesan komponen tsb, baik dari vendor blok kapitalis maupun komunis/sosialis). Penguasaan desain dan manufaktur mesin jet malah jauh lebih vital dibandingkan teknologi semi konduktor dan material komposit, karena mesin dan parts-nya perlu lebih sering diganti secara berkala.

      Singapura memiliki kelemahan yang jauh lebih mendasar, bahkan dapat disebut Achilles’ heel, dan bisa membuat pemimpin mereka patah semangat dan kalah sebelum bertanding. Yang terjadi justru sebaliknya, mereka sangat ngotot membangun kekuatan AB.

      Lebih dari setengah kebutuhan air bersih Spore dipasok Malaysia. A deal signed in 1962 guarantees Singapore 946m litres of Malaysian water each day – an agreement that has become a source of political friction. The city state uses 1.7bn litres of water each day.

      Sebagian besar pembangkit listrik menggunakan gas alam, yang seluruhnya diimpor. Seluruh BBM juga diimpor, tanpa cadangan domestik. Imported natural gas fuels most of Singapore’s power generation, with small amounts of coal and renewable resources fueling the rest. Singapore has world-class refining, storage, and distribution infrastructure. However, the country has no domestic oil reserves and must import all its crude oil.

      Sangat mudah untuk bersikap skeptis dan pesimis; air, listrik, dan BBM tergantung impor. Pasokan diputus seminggu udah terkapar, buat apa F-35?

      • Banyak yang salah persepsi dari awal.. Point ane bukan ” Ngapain kita susah2 bikin wong tinggal beli aja jadi”, sama sekali nggak kesitu. Ane cuman kasih alternatip yg menurut ane lebih masuk akal dengan kondisi sekarang (lagi butuh pespur dan butuh belajar teknologi pespur), masalah pengambil keputusan mau jalan terus, its not my problem, silahkan saja toh sudah dianggarkan. Justru di paragraf awal bang Danu semakin menguatkan alternatif ane tentang lisensi Rafale ditambah tot komponen/spare part ditambah jika mereka mau ikut mengembangkan IFX impian warga sini. Ane malah sudah membayangkan IFX nanti pake radar RBE2 trus pake mesin Snecma M88. Dulu pernah baca diskusi di warung sebelah tentang problem kedepan buat IFX, ya itu tadi masalah isi jeroan IFX nanti mau diisi apa, sedangkan dapet mesin plus radar AESA dari US seperti keinginan Korsel sepertinya Indonesia bisa diganjal karena partisipasi kita di proyek ini minim plus kita bukan US Ally. US sangat selektif klo mo ngasih teknology. Negosiasi Korsel termasuk didalamnya ada opsi pembelian f-15SE (EADS dengan opsi Typhoon diabaikan sementara karena mereka lebih condong ke F-15SE, ane kira masalah comonality). Liat, untuk mendapatkan teknology (terutama yg mutakhir) itu susahnya minta ampun, perlu rayuan maut plus kudu menguntungkan mereka sebagai pemilik teknologi, baru itu dikasih teknologi pun dengan syarat2 tertentu pula. Makanya didiskusi itu banyak yg meragukan masa depan fighter impian kita. Lha status kita cuman ngikut doang, apa dikasih tuh teknologi.
        Masalah skeptis/pesimis masing2 punya sense sendiri, ane cuman pingin dapet ilmu/wawasan baru sekaligus menyampaikan uneg2 yg perlu dikeluarkan. Klo ada yg tau perkembangan terkini KFX/IFX ya monggo share dimari. Singapore beli F-35, so what? Jangan kalah dong ama mereka, beli dan bikin disini itu Rafale..

      • Bung wie, saya juga tidak mengartikan point anda “Ngapain kita susah2 bikin wong tinggal beli aja jadi” lho…

        Yang saya tidak sependapat adalah: KFX/IFX itu seperti “Napsu Besar Tenaga Kurang”. Industri hulu kita belum sampai kearah sana, terutama industri semi konduktor dan material komposit. Itu dulu dibenahi…dst.

        Diskusi tentang K/IFX bagi bangsa Indonesia akan terlalu sempit jika hanya berkutat diseputar technicalities seperti teknologi X, Y dan Z.
        Bercermin pada negara kecil Eropa Utara (penduduk 11 juta) dengan semangat kemandirian luarbiasa, kita baru sadar betapa jauhnya ketertinggalan -85 tahun! Betapa kita selama ini alih2 ‘Napsu Besar’ malah ‘Lemah Syahwat’ dalam hal kemandirian teknologi – terlalu abai, gak ada ngototnya samasekali (contoh aktual N-250, masih dicuekin terus, seperti dianggap gak pernah ada).

        Ketertinggalan 50 tahun (anggap titik start 1945 + 18 tahun) pasti bukan karena tidak menguasai teknologi ini itu, tapi karena ketiadaan ‘Politik Teknologi’, karena absennya tekad/determinasi…

        http://id.wikipedia.org/wiki/Nurtanio_Pringgoadisuryo

        (kutipan: Nurtanio berkata bahwa untuk proyek Gelatik yang begitu membumi saja dukungan dana dan pembiayaannya sudah tersendat-sendat. Ketika proyek Wilga/Gelatik berjalan, Nurtanio mengeluhkan kondisi sosial ekonomi para karyawannya yang membuat kaget orang Polandia. Sampai satu kali mereka perhatikan, kenapa semua karyawan meninggalkan pekerjaannya. Ternyata sedang mengantri minyak tanah…)

        Sejarah kemandirian pesawat tempur Swedia diawali dengan Svenska Aero Jaktfalken I, dilanjutkan tanpa putus dengan seri Saab, Saab 21A (mesin piston), Saab 21R (jet, satu diantara 2 rancangan pesawat yang sukses dikonversi dari piston ke jet, lainnya Yakovlev Yak-15), Saab 29 Tunnan, 32 Lansen, 35 Draken (salah satu pesawat tempur jadul yang mampu bermanuver Pugachev’s Cobra) , 37 Viggen hingga Saab JAS 39 Gripen.
        (Terlalu klise jika pertanyaannya; kenapa negara dengan penduduk sebanyak DKI bisa, negara 240 juta jiwa tidak bisa?)

        ‘Napsu Besar’? Wajib, khususnya bagi negara berpenduduk terbesar keempat sejagat. Kalaupun IFX ternyata buntu, bangkit lagi. Toh modalnya ‘hanya’ USD 1 M /Rp 10.5 T -bertahun2 kita bakar Rp 200 T per tahun untuk subsidi BBM.

    • untuk berdiskusi mengenai industri pesawat harus punya basic yang berimbang ga bisa terlalu jauh gapnya ibarat anak sd beru belajar berhitung di compare sama anak kuliahan yang sudah belajar calculus, pada prinsipnya industri pesawat butuh biaya tinggi & penguasaan ilmu dasar aeronotica yang berimbang, orang indonesia yang cerdas banyak yang bertalenta dibidang ilmu aeronotica ini seperti halnya orang india banyak yang bertalenta dibidang ilmu computer, untuk saat ini dalam rancang bangun industri pesawat terbang sudah tidak jamanya lagi membuat semua komponen sendiri sudah ada pabrikan yang memproduksinya

  3. Apapun itu sy berhrp pemrinth serius menajamkn perkmbngn teknologi ini,,sy berhrp jg insinyur2 yg dkrim ke korea itu betul paten dlm totrnya,,spy kedpan bsa mendesain peswt2 tempur ryg lbh kredibel,,serap ilmu itu dan tunjukn bhwa kt bsa kpn lg kt bs bersaing dunia smkin canggh,,ptr pal,pindan,lapan,lundin,dan msh bnk lg,bhn dasar dan kompnen indo 80 persen bs dimanfaatin,ayolh berkmbang tuk maju,,jadilh negra yg lbh maju setahp dm tahp,,dan sejahtrakn rakytnya,,aplg 2030 keats kt jd kekuatn ekonmi,,

  4. Ikut nimbrung om2..

    Emang bener, produk hilir bisa menarik pengembangan produk hulu tapi syaratnya yg hilir mesti laku dulu. emang kita mau bikin berapa unit tu KFX/IFX? liat tu perancis rafalenya ngga laku gara2 kemahalan soalnya demmand cuman dalam negeri. yakin TNI AU mo beli banyak KFX/IFX nya. Bukan cuman cost riset yg di itung, cost buat produksi Jet tempur juga, ngga mungkin khan pake tools nya CN 235 buat bikin jet tempur, kl bisa mungkin udh dari dulu dibikin.

    ane bukan ngga setuju kl kita maju, asal kita punya budget militer n R n D kaya China. berapa tu daya beli AU China n bandingkan dgn berapa lama tu pespur Su kita bisa jadi 1 skuadron. kl cara beli TNI AU belinya kaya sekarang/dobel dari sekarang lah ane yakin PT DI bakal bangkrut lagi. mo dijual keluar? jual alutsista ngga kaya jual HP keluar. banyak unsur politiknya, apalagi sekelas pespur n kasel. apalagi kita bukan negara yg temen deketnya siapa2, emang mo dikasi tu misal radar AESA? F/A -50 korsel tu ngga dikasi radar AESA ama US, yg buat pinoy akhirnya mungkin ambil yg punya italy yg ngga canggih2 amat. lha China bikin sendiri.. duit ada. Korsel bikin tapi tetep beli yg udh proven lewat program FX mrk, kita di isi dulu ama F-16 second sambil nunggu K/IFX jadi. miriis baang…

    • He he.. Mudah2an kita dan korea beli banyak om, harus itu biar bagaimanapun hasilnya ntar. Sekarang aja udah kebayang dimata ane pembangkakan cost dari mulai disain ampe produksi masal plus nilai akuisisi ditambah laju inflasi. Mungkin perlu belajar dari pengalaman US bikin F-35, biar bisa menghindari cost yg lebih tinggi lagi..

    • Ya elah mas kok takut gagal yg ditangkep… masalah gagal / berhasil itu belakangan, itu tergantung niat n mungkin nasib. masa mo riset cuman modal nekad gitu mas.. Israel gagal tapi dia pasti ada backup, alias ada duit buat beli yg dah jadi dari US. Korea jg sama, bahkan budget dia buat beli baru $9bil sedangkan KFX $8 bil biaya riset, gitu masi cari partner kenapa? karena ada planning n back up planning.

      Bahan pertimbangan, Anoa 2 kalo ngga salah armor keramiknya itu impor dari Afsel, padahal udh ada hasil riset Armor keramik dalam negri kok impor? karena lebih mahal costnya kl bikin sendiri, kl mahal TNI males beli/beli dikit. Kenapa C-295 ngga nerusin N-250 udh jadi pesawatnya? kenapa maksa beli Apachee ngga buat sendiri, udh ada desainnya bumble bee kalo ngga salah. Kenapa beli UAV “Philipine” ada UAV lokal. Karena kita ngga ada planning n niat yg bagus buat riset, itu masalahnya.. banyak yg udh di riset tp setengah2 semua. gini mo buka riset baru lagi n lebih susah lagi.. n riset jg buth dana, coba tu dana KFX, misal di kasi full buat pengembangan Roket LAPAN / Pindad buat medium tanknya/radar INDRA, krn ketiga item tersebut lebih menjanjikan n nyata dari KFX. menurut anda gimana jadinya roket LAPAN / medium tanknya PINDAD/ Radar INDRA kl di kasi dana lebih n diseriusin. keren jg khan?

      • Masalahnya pengambil keputusan udah memutuskan om.. Diteruskan monggo aja klo ane sih, cuman ya jangan menggantungkan harapan berlebihan ama proyek kaya gini, biasa aja. Coba liat proyek US buat F-35, berapa tahun tuh baru terbang sekarang? Mosok kita ngandalin F-16 terus ampe IFX-nya jadi? Tuh US udah biasa bikin proyek kaya gini, gagal berhasil udah biasa buat mereka. Makanya ane nanya plan-B-nya mana neh klo molor/gagal. Ane prihatin-nya disini seolah menggantungkan harapan banget ama ni proyek, dan ane belum melihat usaha pemenuhan kebutuhan pertahanan udara kita sekarang. Itu F-16 segitu mau berapa tahun lagi dipakai? Apa masih yakin kedepan masih Zero Enemy? Rafale masih menunggu, say hello for her..

      • F-35 adalah special case, tidak bisa dijadikan pembanding bagi pesawat yang dirancang untuk AU saja karena design criteria F-35 memang sangat njlimet, kebutuhan spesifik 3 angkatan yang saling berbeda (AU/AL/Marinir) mau dikemas dalam 1 rancangan. Mau untung (menghemat biaya) malah buntung…

      • Point ane bukan disitu bang.. Hubungan antara kebutuhan kita sekarang dengan program IFX yg nggak tau kapan kelarnya, trus berhasil tidaknya tuh proyek, itu point ane. Meskipun susah dibandingkan, satu alasan yg bikin proyek ini sebanding dengan kasus molor plus biaya bengkak F-35, yaitu kemampuan Korsel baru mencakup 60% untuk pengembangan pespur ini. Dimata ane tanpa bantuan pihak ketiga (dalam hal ini mungkin US), potensi molor plus pembengkakan cost relatif sama dengan kasus F-35. Yg membedakan kita dengan Korsel adalah, mereka biasa banget dengan ni program, mereka butuh fighter sekarang ya mereka ambil, dan sama sekali nggak menggantungkan harapan berlebihan ma ni proyek, yg penting armada cukup dulu buat potensi ancaman. Kita kan enggak, pengadaan F-16 malah disebut stopgap. Dimana stopgap-nya wong armada aja masih kurang banyak. Untuk negara seluas Indonesia lho bayangkan, pendekar terbang kita yg mumpuni cuman 1 ska Sukhoi sama 2 ska F-16. Ane sih positip thinking aja, mudah2an pasca 2014 ada program pengadaan fighter baru lagi.. Kompor mode on..

  5. kalau nak belajar kena bertatih.. kekadang iri hati juga tapi.. itu adalah pahit yang harus di telan.. tahniah.. teruskan.. usaha..

  6. yang penting konsisten and jangan korup, gitu aja kok repot

  7. klo ane sih mendingan indonesia ikutan project development MIG FLMS (toh ifx kan masuk kategori light multirole fighter kan?)dari pada hambur2 duit bikin project ma korea yang jelas2 ga punya pengalaman develop fighet jet…..

  8. Kerenn Maju terus Bangsaku meski Aku pesimis Indonesia Bisa 100% menyerap teknologi nya dan belum menguasai komposit segala macem pesawat sekelas F-35/ F-22, Tapi kemungkinan Karena Indonesia Punya pengalaman di dalam membuat jet Tempur. Diharapkan Setidaknya Indonesia dapat menyerap ilmunya sedikit demi sedikit Dari Plan A ini Dan Di kola borasikan Dengan Plan B (sukhoi) wkwkwk Ngarep Pesawat Stealth Siluman Expert dalam Manuver Made In Indonesia haha.. Semoga aja Semoga Aku tahu Indonesia Bisa Dan Yakin Banyak Anak Anak Bangsa Yang Pintar di Bidangnya kok Di Indonesia.. Dengan belajar di Korsel Indonesia Bisa mendapat Ilmu membuat Jet dan Bila Tidak bisa menyerap 100%, Bila terus dikembangkan Saya Yakin Suatu saat Indonesia Akan benar2 Bisa Membuat Jet Sendiri..

 Leave a Reply