Mar 302017
 

Indonesia telah menandatangani Letter Of Intent (LOI) untuk membeli pesawat militer A-400M Airbus, ungkap kantor Kepresidenan Prancis pada hari Rabu.

Penandatanganan kesepakatan sementara itu diteken selama kunjungan Presiden Hollande ke Indonesia, dengan jumlah pesawat yang masih belum ditentukan.

Jika sudah lengkap Indonesia bisa menjadi negara kedua pelanggan ekspor pesawat A 400 yang bermasalah, setelah Malaysia.

Sebelumnya Afrika Selatan pernah membatalkan pembelian pesawat A400M pada tahun 2009, dan negara lain yang kemungkinan berminat adalah Chili.

Pesawat angkut dan transport A 400 beberapa kali mengalami penundaan pembangunan dan pembengkakan biaya hingga miliaran euro.

Reuters
Editor : Muhidin

Bagikan Artikel:

  80 Responses to “Menurut Perancis, Indonesia Tanda Tangani Kesepakatan Sementara Pembelian A-400M”

  1. first

  2. 8 unit,… I wish…

    • Lalu yg sayab delta gimana kabarnya.?

      • Sayap delta yg single engine dulu bung, biar ngirit.

      • Pengadaan tetap ada, alokasi kapan dan tahun anggaran berapa, seperti yang sudah -sudah bung rusky.. biarlah waktu yang menjawab. kalau kita berpikir itu hoaks maka coba dapatkan inti dari ini

        “Dari statment TNI atas urgensi pengadaan Radar di timur Indonesia kita seharusnya sudah bisa menerka apa yang mereka ingin lakukan. jelas maksudnya TNI akan kewalahan dengan rencana pengadaan sista yang mereka gulirkan jika pemerintah tidak mendukung rencana mereka timur indonesia. yaitu melengkapi infrastruktur”

        soal alutista, gmn ya jelasinnya.. begini..
        bukan berarti uangnya tidak ada. tetapi karena keputusan tertentu di pakai untuk hal yang lebih urgent( dalam hal ini, uang berasal dari pendapatan negara).
        tetapi sumber uang untuk membelui alutista bisa dari berbagai sumber.
        foreign loan (pinjaman dari luar negeri) adalah salah satu contoh. jika anggaran militer 2016 dengan nominal sekian tentu masih bisa di tambah dengan metode yang bukan berasal dari uang rill yang ada di kas negara. metode ini banyak di terapkan oleh berbagai negara dalam kondisi mendesak demi memenuhi suatu target tertentu. seperti yang kita lakuakn dulu saaat berhadapan dengan belanda dengan bantuan rusia. dalam sekejap militer kita menjadi yang paling di takuti di antara tetangganya.

        pengadaan pesawat buru sergap, multi role dan tempur taktis adalah mutlak.
        hitungannya langit indonesia terlalu luas bila hanya di jaga segelintir pesawat campur. memperbantukan komponen dari squadron yang satu untuk mengamankan wilayah lainnya jelas tidak efisien, memaksa umur pesawat dan boros. sejumlah kecelakaan terjadi karena isu ini dan sekarang ini menjadi perhatian serius pemerintah dan kementrian pertahanan.
        30 squadron adalah angka yang terlalu kecil. dimana tiap squadronnya terdiri dari +18 pesawat.
        Hawk jelas akan segera di gantikan T-50 atau Grifen atau campuran keduanya mengingat efisiensi kedua kandidat ini dan peran yang sama seperti pesawat tempur taktis hawk
        Dan kalau kita bertanya apakah semua petempur kelas berat harus berada di pulau jawa dan sulawesi dan akan terus di perbantukan seperti yang sudah-sudah sementara sumatra memiliki kemungkinan mendapat ancaman dari kluang, malaysia dan paya lebar, singapur. dan kalimantan dari sabah (malaysia) ,thailand dan philipina. tentu saja tidak. jawabannya adalah penambahan sista baik petempur ataupun PSU sesuai dengan pemekaran tiap pangkalan udara menjadi kelas 1. itu adalah kunci jawabannya.

  3. Yes… !!
    Yg penting tot nya bisa utk Changbogo, ifx, atau rudal…

  4. Pertamax!!!

  5. Gagal!! Lagi!!!son son.

  6. Ada komentar disebelah pembelian A400 ini tidak melibatkan PT.DI tapi Pelita Air Service. Kalau benar memang bukan peruntukannya untuk TNI AU tapi BUMN untuk angkutan logistik.

    • Bukan..itu tetap barang milik TNI AU,yang ngoprasikan TNI AU, peruntukan juga melalui kordinasi dengan TNI AU. cuma supaya “aman” budgetnya berbagi bersama antar kementrian. kenapa berbagi????

      kata “aman” di sini karena kita tau politik sekarang susah. ini pesawat mahal, sedikit2x di gulirkan hak angket dalam setiap keputusan, di pertanyakan.. di booming di media besar-besaran. ada satu BUMN yang ngeyelnya tingkat dewa. selalu mempertanyakan kenapa pakai produk luar, mahal dan tidak mau mendukung kemajuan produk dalam negeri? isu-isu ini merupakan amunisi bagi anggota dewan yang terHORMAT untuk selalu “memberatkan” pemerintah dengan embel-embel lembaga yang mengawasi kinerja pemerintah. kalau yang di kritik benner yang gak apa-apa, ini malah cuma supaya kelihatan ada kerja saja. ruang gerak pemerintah terbatas. karena itu perlu di akali sana dan sini. dengan membagi 2 sumber pendanaan maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa MILITER INDONESIA tidak mendukung kemandirian teknolgi. karena pemilik budget di atas kertas bukanlah militer saja.
      jadi, sebenarnya lebih kepada deal politik dengan pribahasa sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui. yang bertujuan menjaga pemerintah aman dari tekanan dan tetap menjalankan rencana sesuai dengan sedikit improvisasi.

      Begini, sebenarnya ada masalah internal antara kementrian industri strategis dengan salah satu BUMN yang bergerak di bidang dirgantara yang berhubungan dengan airbus. masalah ini bisa berdampak merusak citra BUMN itu sendiri sebenarnya bila semuanya harus di buka di depan publik. jadi sekarang demi baiknya biarlah BUMN yang satu tadi memperbaiki diri atau di paksa memperbaiki diri dengan menghadapkan dirinya kepada sebuah persaingan. karena jika harus di matikan sayang.. dan akan menimbulkan gejolak.

      Sebenarnya yang berpartisipasi Bukan cuma pelita air. tapi, juga GMF AeroAsia (semua punya kita).tujuannya supaya ada sinergi,supaya ada persaingan. mendapatkan ilmu dari vendor yang sama. jika BUMN tadi tidak mau berubah maka publik akan melihat perbedaan besarnya. publik bisa melihat sendiri. jadi kelak tidak ada spekulasi yang di gulirkan.
      dalam hal ini pemerintah aman, pencapaian teknologi di dapatkan dan BUMN bandel di tertibkan.

      Kelak, publik yang menilai. dari Guru yang sama, yang satu baru mulai belajar sedangkan yang satu sudah lama belajar. kalau sampai si murid lama bisa di saingi si anak baru, berarti si murid lama ada masalah yang di sembunyikan. bila terus bersikeras, maka Pelita air, si anak baru yang akan menggantikan posisinya selama ini. dengan kata lain publik yang memberikan keputusan pantaskah sebuah BUMN yang bandel,tidak ada peningkatan dan merugikan di pertahankan. begitulah kira-kira yang pemerintah kita pikirkan.

      • Mabuk aku baca tulisanmu brroooooooo..
        Kepanjangan..

      • Mantp penjelasannya, šŸ™‚

      • Yup betul.

        Pembagian tugas :
        MRO A330 MRTT oleh GMF
        MRO A400m oleh Pelita Air
        MRO airbus Helikopter oleh PTDI.

        Melalui kompetisi dan kompetensi nanti dibandingkan apakah si BUMN itu akan mau memperbaiki diri.

        Saya sih berharap bukan hanya 8 unit A400 tetapi 24 unit, namun 24 unit itu dibagi 3 periode pemerintahan.

      • setuju bang stepanus, kita perlu belajar dari pertamina. Dulu sekali sebelum diikutkan dengan persaingan melalui mekanisme pasar, pelayanan di pom-pom bensin pertamina pelayanannya kacau balau, boro-boro ucapan salam, takarannya saja sering tidak pas. Tapi, sejak Shell, Total, dan Petronas (sepanjang yang saya tau, udah ga operasi) mulai ada perbaikan pelayanan, mulai dari salam, jaminan “pasti pas” dan pengisian angin secara gratis. Nah, si BUMN yang bang stepanus sebut ini perlu meniru apa yang dilakukan pertamina. Kadang, mengingatkan murid yang sedikit bandel tidak cukup dengan omongan, sekali-kali perlu dicubit juga kan??

      • Wow…terimakasih bung @B.Stepanus atas penjelasannya, saya masih ingat kemarin2 waktu lagi ramai antara PT.DI dan TNI AU terkesan perang mereka sangat sengit. Tapi saya kira memang sudah waktunya kedua institusi ini menggeser paradigmannya dan lebih mengedepankan kerjasama yang baik.

        Perlu diaudit semua agar kedepannya polemik seperti kemarin tidak muncul lagi.

      • Saya jadi ingat artikel di JKGR tentang Heli VIP. Banyak banget warjager yg membela PT. DI tanpa tahu masalahnya…hehehe

        Pertanyaan saya, yg gak beres itu di level TOP Managementnya atau memang salah kebijakan. Kalo di level TOP Managementnya kenapa si Dirut nya gak diganti ya.?

      • @stephanus

        Aku gagal paham dg istilah “bumn bandel”…bandelnya itu dimana lho, mbok diungkap gitu bung?

        Lg pula kalo menyandingkn industri manufaktur dg MRO jelas tidak seimbang…penitikberatan tugasnya berbeda, lebih tepat dikatakan dg pembagian tugas spy potensi pasar MRO tidak lari keluar negri…lebih baik “dikroyok” rame2 oleh perusahaan nasional

        • @prendjak
          mana yang penting.. mendahulukan konsumen laur negeri atau mendahulukan militer negara sendiri yang tengah sangat membutuhkan pesanan yang sedang di tunggu-tunggunya.
          karena mereka terlalu bernafsu memenuhi rantai produksi airbus mereka melupakan pesanan custumer lainnya yang juga tidak kalah penting. alhasil modal usaha fokus pada custumer luar negeri. pesanan pihak militer molor.
          udah di kasih peringatan berapa kali, udah di booming di media tapi masih aja berkata semuanya masih berada dalam kendali. itu bandel atau ngeyelllllllllllllll

          • Kemarin baru ada rilis dr bumn tsb, ttg alur proses produksi dr mulai kontrak, proses pembiayaan, pemesanan barang, produksi, uji terbang sd deliveri.

            Ternyata ada perbedaan persepsi antara user dan produsen…pdhl user sebenarnya bisa menanyakan kpd kemhan…pesanannya sdh dibayar belum?

            Ada kok rilisnya di gatra ato defense studies, GM

        • @Prendjak
          Yang mana satu, yang soal effective suatu perjanjian ya…
          bung, sejak di tanda tanganinya perjanjian kontrak uang muka sudah turun. seharusnya pengerjaan sudah di mulai oleh PT.DI dengan modal usaha PT.DI sendiri sebagai industri. itu yang terjadi biasanya. menurut bung bila uang muka sudah di cairkan, masihkah PT. DI harus nunggu uang cast dari kredit ekspor baru bisa mulai kerja??? kalau begitu buat apa jadi “Industri” kalau toh tidak punya modal usaha, toh kalau cara kerjanya begitu, menunggu uang ada baru di kerjain mending beli langsung dari airbusnya. uang DP ada, barang langsung di produksi sebelum tenggat waktu terpenuhi. jadi tinggal pembayaran saja. malah ada barang yang sudah di produksi unit hijaunya tinggal di tawarkan saja dengan kredit ekspor pada indonesia.
          yang jadi pertanyaan jadi uang PT. DI selama ini dan Uang muka kemana???????
          kita gak usah ngeles lah……. masak suatu industri baru bisa produksi bila di bayar dahulu oleh pembeli itupun maksudnya dengan full payment??? anehhhh???
          kalau mau buka-bukaan ya ayo.. ayo masih mau bela lagi???

          maksud kita semua itu baik. bukan mau menjatuhkan PT.DI nya. evaluasi ya perlu-lah. ingat, PT. DI masih nyusu sama pemerintah, masih nyedot uang pemerintah sevagai BUMN strategis. jadi bila di rasa memberatkan, kan wajar dong di tegur. emangnya PT.DI itu punya pribadi atau punya airbus bisa suka-suka.. kan tidak.

          • Bung stepanus,

            Intinya dirut PTDI belum dianggap salah oleh Meneg BUMN. Jika sudah dianggap salah jangankan dirut PTDI, dirut Pertamina aja yang prestasinya fantastis dipecat, bukan karena masalah teknis, tapi lebih karena hubungan yang gak harmonis dengan direksi lain.

            Hak jawab PTDI terhadap Gatra saya pikir udah sangat menjelaskan banyak hal..

            Pokoknya Meneg BUMN top bgt -tanpa basa basi, holding perkebunan PTP aja tahun kemarin udah mulai profit, setelah se-umur2 rugi. Dirutnya dipindah ke Pertamina..

      • Lah jelas-jelas A400 itu bukan kelas nya PT. DI kok masih juga dikaitkan klo PT. DI Mbandel DLL ? PT. DI marketnya masih dibawah kelas angkutnya A400.

        Aneh menurut saya , satu hal dikaitkan ke hal lain.
        Malahan sebenarnya pembelian A400 ini mendukung terlibatnya PT. DI dalam TOT dengan airbus.

        Saya kok gagal paham pembelian ini ke Pelita kok karena PT. DI Mbandel ?? sangat ga nyambung. Kenapa BUMN yang membeli karena :
        1. militer dan DPR masih memerlukan waktu untuk menyatukan pendapat, terutama adanya opsi lain yaitu C-17 atau C-130 yang lebih familiar dengan kita.
        2. Opsi BUMN adalah supaya campur tangan DPR bisa dikurangi, karena ini murni keputusan bisnis BUMN
        3. Opsi BUMN-BUMN akan lebih mudah mengkoordinasikan TOT atau maintenance program nya, dibandingkan BUMN-TNI AU yang masih menyisakan PR keterlambatan beberapa pesanan.

  7. Gimana dengan barang impor yg berjubel apa terus dipelototin
    Tidak adakah yg mau tot supaya nkri bisa buat sendiri
    Ini

  8. Ini pesawat nggak laku kok ya mau dibeli

  9. Lha Mr Muhidin ngangkat berita dari”REUTERS” yg mengatakan pesawat ini bermasalah,REUTERS itu bkn media abal2 yg suka hoax,mbok ya dipikirkan dulu beli A400nya,ingat nyawa prajurit,beli barang ini pake wang rakyat lho

  10. Catat : YANG BERMASALAH….
    Bkn produsennya yg bermasalah, tp yg beli bermasalah, salah besar dan suka barang rusak…ya kita2 ini yg bermasalah juga…(terutama yg pro pembelian a400m)

  11. Tes

  12. kesepakatan kok sementara emang knpa? apa karena harga, tot susah, ato produk belum terlisensi atau botol pulpen?

  13. cuman buang duit …

    punya pswt model baru musti beli peralatan/perlengkapan ground handling, beli perkakas maintenance baru, pelatihan SDM dll.dsb. … harganya jadi super mahal 2 B … hitungannya ? gak jelas !!!

  14. Kalo peruntukannya untuk sipil kenapa ga ambil LM-100J aja yg emg punya spesifikasi sipil, kalo sipil pake versi militer apa ga megap2 kaya merpati yg dulu pake CN235 versi militer

    • karena yg mo d angkut ndak bisa dibawa pake herky bung
      A-400 dpt membawa alat berat untuk kegiatan recovery bencana dan mendarat d landasan yg sederhana jg
      contohnya A-400 yg dikirim france untuk operasi d afrika mendarat d landasan rumput

  15. Apapun itu..marilah qt dkung untk nkri.
    Slmt siang…smua…smg shat sllu..

  16. Masih LOI blm MOU dan kontrak beli dan pengiriman, kayaknya masih dikendala harga, TOT dan dana yg tersedia.

  17. udah lulus Ph.D kok msh di tes mulu, kyk yg msh kuliah aj heheee

  18. lebih baik beli a400 dibanding an-70 atau hercules.

  19. Sebetulnya bagus klo produsen itu mengetahui produknya ada yg cacat, dan dpt segera mengatasi masalah tsb. Lain halnya klo tutup mata, main jual, trs dipake pembeli, jatuh…baru investigasi.
    Mending preventif drpd rehabilitatif.

  20. mending beli pes. bermasalah ketimbng pes. tak ada masalah begtu trbang tiba2 muncul masalah. #bruakkk #jatoh

  21. Good. Upgrade supaya nambah umur, sekaligus upgrade avionik dan sensor, dan jgn lupa beli pod jammer khibiny atau knirty

  22. Upgrade semua SU27nya.. klo bisa naik kelas menjadi SU30MK2

 Leave a Reply