Mesir Pesan 30 Pesawat Tempur Rafale Tambahan

Militer Dunia  – Paris dan Kairo telah menandatangani kontrak untuk pasokan 30 jet tempur Rafale buatan Prancis ke Mesir, ujar Kementerian Pertahanan Mesir dalam sebuah pernyataan Selasa, 4-5-2021 dan menambahkan bahwa pesawat-pesawat itu akan memperkuat “keamanan nasional”, ungkap Sputniknews.com.

Kementerian Mesir menolak untuk mengungkapkan nilai kesepakatan, yang mereka katakan akan dibiayai dengan bantuan pinjaman, yang akan dilunasi dalam 10 ke depan.

Reuters mengutip sumber kementerian yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa kesepakatan itu bernilai sekitar 4 miliar euro ($ 4,8 miliar).

Situs berita Disclose, pada gilirannya, memperkirakan harga kesepakatan itu sekitar 3,75 miliar euro ($ 4,5 miliar), dengan alasan bahwa kesepakatan itu telah ditetapkan pada akhir April 2021.

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly, pada bagiannya, mengatakan dia “menyambut baik” penjualan jet Rafale kepada “mitra strategis” Mesir, menekankan bahwa “keberhasilan ekspor ini sangat penting bagi kedaulatan (Prancis) kami”.

Dia menambahkan penjualan itu akan membantu mengamankan setidaknya 7.000 pekerjaan selama 3 tahun ke depan. Kesepakatan Selasa disepakati setelah Mesir membeli 24 jet Rafale pada 2015, sebuah kesepakatan yang dilaporkan bernilai 5 miliar euro ($ 6 juta).

Akuisisi baru ini melengkapi pembelian 24 Rafale Mesir pertama enam tahun lalu dan akan menambah armada Rafale di Angkatan Udara Mesir menjadi 54, menjadikannya armada Rafale terbesar kedua di dunia setelah Prancis.

Pesawat pertama dari kontrak baru ini ditargetkan akan dikirim tiga tahun setelah kontrak berlaku, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Prancis.

Laporan media mengatakan bahwa Mesir telah memutuskan untuk meningkatkan angkatan udaranya dengan pesawat tempur Rafale di tengah konflik hebat yang berkecamuk di negara tetangga Libya.

Libya telah terbagi antara 2 pemerintah yang berlawanan sejak penggulingan dan pembunuhan pemimpin lama negara itu, Muammar Gaddafi pada tahun 2011. Administrasi yang dikenal sebagai Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) dan Tentara Nasional Libya (LNA), masing-masing mengendalikan Barat dan Timur negara Libya.

File : Dassault Rafale C. (@Commons.wikimedia.org)

Tinggalkan komentar