Meski Dicap Jet Tempur Mematikan, Ini Kelemahan Su-30MKI

Jakartagreater.com – Sukhoi Su-30MKI adalah pesawat tempur superioritas udara super-manuver yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia dan dibangun di bawah lisensi oleh Hindustan Aeronautics Limited (HAL) India). Pengembangan Su-30MKI dimulai pada tahun 1995 oleh Sukhoi Corporation dan diproduksi di lini produksi Hindustan Aeronautics Limited (HAL), Nasik, Maharashtra.

Su-30 adalah turunan dari Su-27 Flanker, ini adalah pesawat tempur jarak jauh yang berat, segala cuaca, dan dilengkapi dengan sayap canard dan nozel mesin dengan thrust vectoring, memberikan kombinasi manuver paling mematikan.

Selain Rafale, pesawat tempur ini adalah satu-satunya jet tempur paling modern dan canggih milik IAF (Angkatan Udara India), pesawat tempur ini diperkenalkan di Angkatan Udara India pada 27 Sept 2002. Hingga 2017 total ada 240 pesawat tempur yang diproduksi dengan satu jet tempur menghabiskan biaya produksi sebesar 358 crore rupee.

Sebelumnya Angkatan Udara India memesan 240 pesawat tempur, tetapi baru-baru ini karena kurangnya jet tempur India meningkatkan pesanannya dari 240 menjadi 314.

Setiap jet tempur memiliki kelemahan dan kelebihan. Bahkan pesawat tempur tercanggih di dunia, F-22 Raptor tidak dilengkapi Helmet Mounted Display & Sight (HMDS), dan Su-30MKI juga memiliki beberapa kelemahan.

Berikut ini adalah beberapa kelemahan Su-30MKI yang dilansir dari Quora

1. Tidak Memiliki Sistem Missile Approach Warning System (MAWS)

Seperti namanya, MAWS mendeteksi rudal yang menyerang masuk dan memberi tahu pilot tentang ancaman tersebut. Selain itu, MAWS mampu mendeteksi jenis rudal, yang membantu pilot memberikan tindakan pencegahan yang tepat saat melakukan manuver pertahanan.

Tanpa MAWS, Su-30MKI harus mengandalkan jammer, RWR, sistem kontrol Early Warning (EW) untuk bertahan melawan rudal yang menyerang. MAWS juga diperlukan karena mampu mendeteksi rudal dan arah datangnya sehingga manuver yang tepat dapat dilakukan dan tindakan balasan dapat dilakukan tepat waktu. MAWS juga mampu melacak rudal dengan sistem pencari panas paling efektif, yang tidak menggunakan panduan radar.

2. Mesin AL-31FP Yang Berumur Pendek

Kelemahan utama Su-30MKI adalah mesinnya. Sukhoi memiliki sepasang mesin AL-31FP yang sangat mumpuni, tetapi pada saat yang sama merepotkan, dan menyebabkan masalah dengan ketersediaan operasional pesawat yang hanya 60%.

Pabrikan HAL Nashik telah memproduksi 272 pesawat. Setiap pesawat menggunakan 2 mesin sehingga dibutuhkan 544 mesin, namun selama ini divisi mesin Sukhoi di HAL Koraput sudah memproduksi 930 mesin karena banyak mengalami kegagalan.

Dari 2012 hingga 2015 saja, ada 69 masalah terkait mesin yang terpisah, dengan beberapa penyebab umum, seperti :

Kelelahan logam

Kerusakan bantalan karena kelelahan logam. Kelelahan logam menyebabkan potongan-potongan kecil logam terlepas dari bantalan pengurang gesekan, yang kemudian memasuki sistem pelumasan oli. Ini menyumbang 33 dari 69 kegagalan.

Mesin memiliki masa pakai sekitar 3.000 jam, dan Su-30MKI seharusnya menggunakan siklus hidup penuh dari dua mesin selama masa servisnya (masa pakai Su-30MKI adalah 6.000 jam). Mesin memiliki MTBO (Waktu Rata-rata Antara Overhaul) 1.000 jam tetapi nozzle titanium memerlukan perbaikan setiap 500 jam. Angka-angka ini tidak terlalu besar & berdampak pada kemudahan servis pesawat mengingat Su-30MKI menggunakan dua mesin yang timeline perombakannya mungkin berbeda, tapi ini dalam teori. Pada kenyataannya, kerusakan mesin mulai menjalar hanya setelah 500 jam terbang (300 jam dalam beberapa kasus), bukan 1.000 jam.

Dengan angka yang disebutkan di atas, mesin jarang dapat menyelesaikan masa hidupnya secara penuh karena banyak kegagalan. Hal ini menyebabkan HAL Koraput memproduksi lebih banyak mesin untuk menjaga armada tetap bias terbang. Berkali-kali karena kerusakan mesin, Su-30MKI harus melakukan pendaratan darurat dengan satu mesin.

Mesin buatan India yang digunakan untuk Su-30MKI adalah AL-31FU yang memiliki vektoring dorong pitch & yaw. Mesin ini memiliki daya dorong maksimum 145 kN. Tetapi dalam model produksi, mesin AL-31FP yang digunakan memiliki daya dorong yang lebih rendah sebesar 123 kN, dan hanya memiliki kontrol vektor dorong (+/- 15 derajat). Jadi mesin yang digunakan saat ini sebenarnya kurang bertenaga dibandingkan mesin yang direncanakan semula.

Tingkat pendakian secara vertikal adalah 230 meter / detik sedangkan pada AL-31FU karena daya dorong yang lebih tinggi akan menjadi 280 meter / detik seperti pada Su-35.

Mesin juga rentan terhadap FOD (kerusakan benda asing). Solusi Rusia untuk itu adalah menggunakan panggangan titanium mesh yang akan menyaring puing-puing tetapi tidak jelas apakah Su-30MKI menggunakannya.

Mesin Su-30MKI juga bukan unit modular seperti Su-57 di mana hanya bagian yang rusak yang dapat diganti. Di sini seluruh mesin harus di bawa ke bengkel perbaikan bahkan jika ada satu bagian yang mati.

2. Radar BARS No11M

Su-30MKI menggunakan radar BARS No11M passive electronically scanned array, yang merupakan radar yang sangat mampu tetapi memiliki MTBF (waktu rata-rata kerusakan) hanya 100 jam. Setiap 100 jam radar membutuhkan perawatan yang membutuhkan beberapa jam kerja, dan membuat pesawat tidak dapat beroperasi. Namun diyakini ini lebih merupakan kesalahan perangkat lunak yang masih berusaha diperbaiki, dan hingga sekarang belum ada data akurat yang menjelaskan tentang hal itu.

4. Kelemahan lainnya adalah fusi Sensor

Pesawat ini menggunakan peralatan dari berbagai negara seperti Rusia, India, Prancis dan Israel. Peralatan ini dibuat di pabrikan yang berbeda dengan kode sumber yang berbeda & karenanya tidak dapat “berbicara” satu sama lain. Ini membuat peralatan menjadi unit yang berdiri sendiri, bukan sistem yang bersinergi & terintegrasi. Ini membuat sistem menjadi kompleks yang menyebabkan pilot kelebihan beban dan masalah operasional lainnya.

Penyelesaian pada masalah ini adalah memproduksi pesawat dalam beberapa batch dengan setiap batch secara berturut-turut dibuat lebih canggih dan menggunakan memiliki lebih banyak komponen buatan India daripada batch sebelumnya. Secara bersamaan, batch sebelumnya harus ditingkatkan ke standar terbaru.

Terlepas dari segala kelemahan diatas, Su-30MKI tetap menjadi pesawat tempur superioritas udara multiperan terbaik di anak benua Asia Selatan, berkat logistik yang kuat dan rantai pasokan serta kru pemeliharaan darat yang sigap, membuat flanker India tetap terbang dan siap bertempur.

Tinggalkan komentar