MiG-31BM Rusia Catat Rekor Penerbangan Non-Stop terjauh

35
146

Menghabiskan waktu tujuh jam dan empat menit di udara, pilot Rusia memecahkan rekor baru untuk penerbangan terpanjang non-stop pesawat tempur supersonik spesialis intersep MiG-31BM, rilis RIA Novosti mengutip juru bicara Russian Central Military District, Yaroslav Rashchupkin.

Rekor itu ditetapkan selama latihan yang melibatkan para pilot MiG-31BM yang ditempatkan di wilayah Krasnoyarsk timur Siberia, menjelajah hampir 8.000 kilometer jauhnya hingga ke wilayah Astrakhan di selatan Rusia.

“Saat ini, para pilot Angkatan Udara Skuadron ke-14 dan Air Defense Force dari Central Military District adalah satu-satunya yang melakukan penerbangan jarak jauh menggunakan MiG-31 dengan tiga kali melakukan pengisian bahan bakar di udara,” kata Roshupkin.

Salah satu pilot menjelaskan, penerbangan terbaru tersebut sebagai terjauh yang pernah dilakukan selama 36 tahun sejarah beroperasinya MiG-31.

MiG-31BM adalah jet intersep supersonik yang dirancang untuk mencegat dan menghancurkan target udara di ketingggian rendah, menengah hingga ke ketinggian maksimum.

MiG-31BM dapat melacak target yang berjarak hingga 320 kilometer jauhnya dan meluncurkan serangan sekaligus pada enam target potensial berkat dukungan radar dan rudal yang canggih. MiG-31BM dapat beroperasi di segala kondisi cuaca dan juga dilengkapi dengan avionik digital yang canggih.

Sputnik

35 KOMENTAR

    • Greyhound dan carin, beda pendapat itu biasa. Saling sindir antar teman juga tak apa, malah ngeri-ngeri sedap, xixixixi… Tapi akan lebih nyaman bila kalian berdamai. Ayo jabat tangan.
      Beli alutsista buatan Rusia ataupun USA tentu punya plus minusnya masing-masing. Mungkin baik apabila Indonesia pakai pesawat tempur dari banyak negara agar tidak tergantung pada satu pihak saja. Namun jika ingin pakai dari sedikit pihak saja (dengan alasan efisiensi) maka saya lebih ingin Indonesia memilih produk Rusia, karena pernah punya pengalaman buruk embargo USA. Lagian produk Rusia sekarang sudah meningkat jauh kecanggihan dan kehandalannya (analis Barat pun mengakuinya).
      Namun yang terbaik tentu jangan cuma beli beli melulu. Sebisa mungkin memproduksi sendiri. Maka yang sangat penting adalah riset riset riset seperti yang dilakukan bangsa-bangsa tangguh di teknologi.

  1. Saab Says Gripen Jet Is Best Option for Indonesia

    Swedish aerospace and defense company Saab has joined the bidding process to supply fighter jets to the Indonesian Air Force, which wants to replace its fleet of obsolete F-5s. β€œWe are absolutely prepared to work with the local industry … so we can support the end-user and work with the local defense industry in the country,” Dan-Ake Enstedt, head of Saab Asia Pacific, told the Jakarta Globe. According to Enstedt, Saab’s winning advantage is a guaranteed delivery time of 12 months. He also said that the Gripen is an extremely reliable multirole fighter with an ability to deploy quickly and land easily in any location. β€œFor us, it is important to build competence with the local people in the country. We are creating a lot of jobs with our concept, and this is something our competitor does not do. Those are a few things that make our proposal unique,” Enstedt said. The Gripen jets can carry Meteor air-to-air missiles that can hit targets within a 100-kilometer range, but can also used for surveillance tasks. The Swedes claim that the Gripen’s operational costs are just $4,700 per hour β€” allegedly ten times cheaper than the Sukhoi SU-35 or Lockheed Martin’s F-22 Raptor. The Jakarta Globe was not immediately able to independently verify those claims. “Gripen can meet every operational requirement that Indonesia faces and it is the most combat effective solution for Indonesia,” Enstedt said. Saab said it was also committed to transfer technological know-how if the Indonesian side would be willing to buy the Gripen. “I think we have a unique strategy. We don’t work with ‘black boxes,’ we really walk the talk,” said Enstedt, adding that Saab was ready to partner with local aircraft manufacturer Dirgantara Indonesia. Saab’s Gripen is currently competing against the Russian-made Sukhoi SU-35 and the Eurofighter Typhoon, which is built by a conglomerate of three European companies. The Indonesian Defense Ministry wants to buy ten fighter jets to replace the Air Force’s F-5 Tiger squadron. The Indonesian Military (TNI) and the Defense Ministry are currently reviewing the options. Former Air Force chief Chappy Hakim, now a defense analyst, says the Indonesian Navy has been reinforced but still needs support from the Air Force to be able to secure the country’s coastlines and border areas. “Even though its rather late to provide the military with an additional budget to the military,” Chappy said, “we still need to strengthen our defense.”

  2. dilihat dari penjelasan @tukang yungsep tentang perbandingan mig 31 vs sr 71 cukup menarik
    belakangan kita selalu diributkan oleh sukhoi seris tapi kita lupa dengan pesawat mig seris yang dulu menjadi pesawat kebanggan nkri dalam menjaga kedaulatan

  3. Dasar fansboy, otak pikiran selalu dalam tempurung, bisanya mengagumi karya junjungannya. Berpikir cerdas dikit napa??? Bisa tidak bangsa indonesia membuat seperti itu? Saya pesimis klo generasi muda seperti anda anda ini mampu memajukan bangsa ini, karena kontribusi pikiran anda selalu destruktif