Nov 242015
 

image001

Pada akhir 1930-an, Angkatan Udara Uni Soviet telah kaya akan pengalaman pertempuran udara. Pilot Soviet bertempur di Spanyol melawan pilot Luftwaffe yang paling berpengalaman, dan sengketa perbatasan dengan Jepang pada 1938-1939.Pada periode tersebut, pakar Soviet familiar dengan pesawat-pesawat terbaik Jerman dan jelas bahwa masa kejayaan pesawat lambat yang terbang rendah sudah hampir usai: Masa depan jelas menjadi milik pesawat tempur generasi terbaru yang dapat terbang dengan kecepatan beberapa ratus mil per jam. Soviet belum memproduksi pesawat semacam itu, kemudian memutuskan untuk menjadikan pabrik pesawat Moskow sebagai landasan desain untuk menciptakan pesawat baru. Sampai sekarang kecepatan menjadi ciri khas utama pesawat-pesawat tempur Rusia.

(Photo : Artyom Mikoyan (Kanan) dan Mikhail Gurevich (Kiri)

(Photo : Artyom Mikoyan (Kanan) dan Mikhail Gurevich (Kiri)

Biro tersebut terdiri dari sejumlah insinyur dan dikepalai oleh insinyur Artyom Mikoyan, dengan Mikhail Gurevich sebagai wakilnya. Keduanya sebelumnya bekerja di salah satu biro desain terkemuka Soviet yang diketuai Nikolai Polikarpov, dan staf utama pabrik baru ini juga diambil dari biro tersebut.

(Photo : Pesawat I-200)

(Photo : Pesawat I-200)

Polikarpov dan timnya sudah mulai mengembangkan pesawat tempur terbaru Soviet menggunakan desain I-200. Mikoyan dan Gurevich harus mengombinasikan pencapaian-pencapaian sebelumnya, memodernisasi tampilan pesawat yang sudah ada dan menawarkan hal yang benar-benar berbeda dengan pesawat yang sudah diproduksi oleh kompleks industri militer Soviet.

Mereka menyelesaikan tugas tersebut dengan cepat dan pesawat tempur yang mereka ciptakan mengudara pada April 1940, tampil dengan mengesankan dalam misi pertamanya. Setelah beberapa perbaikan pada Desember 1940, pesawat tersebut kemudian diproduksi dengan nama baru, MiG, akronim dari huruf pertama kepala biro desain tersebut.

(Photo : MiG 3)

(Photo : MiG 3)

Perang dan Pertempuran

 Gambar : MiG InfoGrafik

Gambar : MiG InfoGrafik

Dalam beberapa bulan, MiG-1 digantikan oleh MiG-3, model yang lebih cepat dengan jangkauan lebih tinggi. Pada tahun-tahun awal Perang Dunia II, pesawat tersebut merupakan pesawat tempur tercanggih dan berjangkauan terluas milik Soviet, dibanding pesawat generasi terbaru lain. Lebih dari tiga ribu pesawat MiG-3 diproduksi pada 1942. Namun, produksi tersebut terhenti tahun itu karena Uni Soviet mengalami kerugian berat di medan tempur sehingga membuat industri tersebut tak dapat memproduksi mesin canggih MiG dengan jumlah yang layak.

Pabrik di Moskow kemudian dievakuasi ke kota Kuibyshev, Volga (kini disebut Samara), namun tak mampu mereproduksi seluruh rantai produksi komplek MiG  (ini baru terjadi setelah perusahaan tersebut direlokasi kembali ke Moskow). Perancang Soviet segera mendapat tugas baru dalam pertempuran melawan Luftwaffe, jelas bahwa langkah selanjutnya ialah mengembangkan mesin jet yang dapat meningkatkan kecepatan pesawat secara signifikan. Pembuatan mesin diserahkan pada Mikoyan dan Gurevich, dan pesawat MiG-9 berhasil menampilkan keunggulannya dan menjadi pesawat jet pertama Soviet pada 1946.

Setahun kemudian, perancang tersebut menciptakan jet baru, MiG-15, yang pertama kali terbang dengan kecepatan seribu kilometer per jam. MiG-15 ditakdirkan menjadi jet yang paling banyak diproduksi sepanjang sejarah, dengan 15.500 pesawat dibuat dalam jangka waktu sepuluh tahun. Hebatnya, pesawat terakhir bertahan hingga 2006 di Angkatan Udara Albania.

Pada tahun 1950-an, Mikoyan menyempurnakan modelnya yang tersohor. MiG-17 dan MiG-19 muncul untuk mendobrak batasan suara, dan MiG-19 dapat terbang dengan kecepatan 1.500 kilometer per jam. Namun terobosan sesungguhnya muncul dua dekade kemudian. Saat MiG-21 mengudara dan menjadi pesawat supersonik yang paling banyak diproduksi dalam sejarah, dibedakan dengan karakteristik konfigurasi triangular pada sayapnya. Selama bertahun-tahun, lebih dari 60 negara menjadi lahan penerbangan MiG-21.

Mengejar AS: Membawa Kompetisi ke Antariksa

(Photo : F 22 dan MiG 35)

(Photo : F 22 dan MiG 35)

Pada akhir 1960-an, insinyur Soviet bertekad menciptakan rival pesawat terbaru AS. Pesawat Soviet model lama lebih inferior dari desain AS dari segi jarak dan persenjataan, namun MiG-29 berhasil mengejar ketertinggalan tersebut pada 1980-an, dengan sebuah desain pesawat pembom yang dapat mengangkut lebih dari dua ton kargo dan juga mampu mengangkut hulu ledak nuklir. Namun MiG-29 juga tetap menjadi pesawat tempur, mampu terbang di ketinggian 18 kilometer dan dengan kecepatan 2.400 kilometer per jam, dengan jangkauan 1.400 kilometer.

Pada masa Soviet, cakupan produk MiG sangat luas, termasuk proyek tentatif MiG-105. Pertama kali muncul pada akhir 1960-an, pesawat antariksa tersebut kemudian terus dikembangkan hingga 1970, sebagai respon atas program AS, namun kemudian dibatalkan karena Soviet lebih memilih menjalankan program antariksa Buran.

Superioritas pesawat MiG perlahan sirna diawali dengan runtuhnya era komunis ( Soviet ) ditahun 1990-an. Dimana di masa sebelumnya sukhoi dan MiG bisa jalan bersamaan dan saling melengkapi berdasarkan fungsi dan tugas sehingga memiliki karakter tersendiri dari masing-masing pesawat. Di era 1990-an ( Rusia ) popularitas MiG perlahan-lahan memudar. Tanpa adanya dukungan dari pemerintah, MiG semakin sulit untuk mengembangkan riset pesawat terbaru yang sesuai dengan kebuuhan Angkatan Udara Rusia.

Biro desain tersohor ini mempertaruhkan pengalaman mereka, brand awareness, dan fakta bahwa, menurut Korotkov “pasar global untuk jet tempur ini cukup besar”. MiG memutuskan untuk mengikuti jejak kompetitornya, Sukhoi, yang dilakukan pada 1990-an. Langkah tersebut melibatkan perubahan target pasar pada pasar global dan menarik investasi asing untuk menciptakan pengembangan baru. Bedanya, kali ini MiG harus melakukan upaya tersebut tanpa kehadiran kontrak pertahanan.

Sukhoi Jadi Prioriotas

(MiG 1.44 : Pesawat Generasi 5 MiG)

(MiG 1.44 : Pesawat Generasi 5 MiG)

Sejak tahun 2000, negara menjadikan pengembangan yang dibuat Biro Desain Eksperimental Sukhoi sebagai prioritas. Hal tersebut karena perusahaan itu berhasil bertahan di tengah situasi sulit berkat kehadiran pesanan dari luar negeri dan membuktikan efektivitasnya. Di saat yang sama, proyek pesawat generasi kelima diambil dari Biro Desain Eksperimental MiG dan prioritas diberikan untuk proyek S-37 Sukhoi. Bahkan pada 1999, MiG 1.44 telah melakukan penerbangan pertamanya (prototipe pertama pesawat tempur generasi kelima MiG 1.44, atau Multifunctional Frontline Fighter/MFF).Pada akhirnya, meski negara siap menampung pesawat yang dibuat oleh MiG, pemerintah memilih untuk memprioritaskan pendanaan bagi proyek Sukhoi. Bahkan setelah jelas bahwa S-37 ditakdirkan untuk hanya menjadi model eksperimen, proyek MiG tetap diabaikan, dan pemerintah lebih memilih mengembangkan PAK FA, yang baru dimulai pada 2002, dan terbang untuk pertama kali pada 2010.

Pengembangan MiG 1.44 dimulai pada awal 1980-an, dan ketika Uni Soviet runtuh, desain awal dan model pesawat tersebut sudah siap, sehingga ia sangat layak untuk dikembangkan menjadi jet tempur generasi kelima. Pada tahun 1990-an, bahkan tanpa kehadiran dana, tim MiG membawa proyek ini ke tahap pengembangan sampel terbang pertama. Namun, sepertinya pemerintah tak membutuhkan hasil dari upaya tersebut.

Pada 2006, MiG menjadi bagian dari United Aircraft Corporation (UAC), yang kemudian mengurangi independensi dan prospek promosi bagi proyek biro desain eksperimental tersebut. Menurut Ovanes Mikoyan, putra dari pendiri MiG di era Soviet dan kini menjadi perancang pesawat di Biro Desain Eksperimental Mikoyan, pesawat generasi kelima yang dibuat oleh Mikoyan telah ‘hancur’. Menurut Mikoyan, dalam sistem industri aviasi Rusia saat ini, “ia yang punya lebih banyak uang dan pengaruh akan bertahan”. Sedangkan menurut veteran aviasi Soviet dan Rusia, MiG dan Sukhoi selalu mengembangkan pesawat tempur dengan tipe berbeda (MiG mengembangkan pesawat ringan, Sukhoi mengembangkan pesawat berat), sementara kompetisi baru dimulai saat ‘kepentingan pendanaan mereka mulai bertabrakan’. Sederhananya, MiG kalah dalam perebutan pendanaan dari pemerintah.

Saat ini, perusahaan MiG tak punya pesanan. Kontrak besar terakhir untuk memasok pesawat tempur MiG-29K bagi Angkatan Laut Rusia dan India telah selesai. MiG kalah dalam tender untuk memasok pesawat tempur ringan untuk India, yang dimenangkan oleh perusahaan Rafale Prancis. Proyek desain UAV yang ditawarkan oleh MiG tak mendapat pendanaan pemerintah. Sehingga, kini manajemen perusahaan harus mencari kesempatan untuk memperbaiki portofolio pesanan, termasuk mencari mitra atau pembeli bagi pesawat tempur generasi kelima. Ini tak akan mudah dilakukan tanpa produk yang sudah ditangan, dan perusahaan kini harus membuat setidaknya prototipe terbang atau demonstrasi teknologi.

Peluang bagi Indonesia

Melihat sejarah MiG sudah pasti tidak diragukan lagi dalam pembuatan pesawat tempur, setiap pesawat yang dibuat selalu melahirkan maha karya yang luar biasa di erannya. Tanpa adanya dukungan pemerintah membuat MiG tidak mampu berbuat banyak dalam pengembangan pesawat tempur dalam jangka waktu yang lama. Dalam keterbatasan tersebut, MiG bersusah payah tetap melakukan Riset untuk menghasilkan maha karya walaupun tanpa dukungan dari pemerintah rusia. Disaat keterpurukan MiG ditambah lagi ketiadaan pembeli semakin membuat sesak keuangan perusahaan. Kini peluang yang ada didepan mata bisa diambil pemerintah Indonesia untuk pengembangan bersama MiG sebagai alternatif Pengambangan pesawat IFX/LFX.

Jelas sekali ketertarikan MiG untuk mengembangkan pesawat Gen 5 sangat tinggi dan sesuai dengan Visi dari Program IFX untuk mengembangkan IFX yang lebih Stealth. Dengan pengalaman dan Maha Karyanya yang telah dibuat MiG, Indonesia tidak perlu ragu terhadap program dan produk MiG. Blue print pesawat Gen 5 sudah ada ditangan MiG, Prototipe sudah dibuat, hanya terbentur tahap pengembangan selanjutnya. Inovasi dan teknologi terobosan yang dilakukan MiG sebenarnya jauh diatas sukhoi dalam pengembangan pesawat Gen 5.

Salah satu contohnya, mesin pesawat yang dipakai di MiG 1.44, saturn AL 41F dan bobot pesawat ini yang ringan yang menjadi acuan pesawat Pakfa saat ini. Dan bukan tidak mungkin kalau Mesin AL 41F1A / 117S bisa dipasang di pesawat IFX/LFX kita. Hanya karena ketiadaan dukungan pemerintah Rusia, Pesawat MiG generasi kelima saat ini hanya menjadi sebatas Prototipe. Kurangnya dukungan dari pemerintah Rusia bisa kita manfaatkan untuk mengambil simpatik MiG dalam pengembangan bersama pesawat generasi kelima untuk mendapatkan teknologinya.

Hampir adanya Kesamaan desain IFX C 200 ( blok II ) dan MiG 1.44 yang sama-sama memakai canard akan memudahkan MiG dan PT DI/Lapan untuk menyatukan Visi Misi menjadi mitra bagi pesawat tempur generasi kelima. Dimana IFX blok II, indonesia sudah diberi kebebasan untuk mengembangkan pesawat masa depannya sendiri. Keuntungan kerjasama PT DI dan MiG, yaitu bisa mengembangkan pesawat rasa barat dan timur yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan TNI AU.

Keunikan sistem Avionik yang di gadang-gadang bisa dicangkokan dengan teknologi barat bisa jadi pertimbangan pemerintah Indonesia. Mengenai kebenaran pihak MiG mengklaim jika MiG 35 bisa dicangkokan dengan sistem barat, pasti MiG sudah melakukan Riset and Development sebelum mengeluarkan pernyataan tersebut.

Mengenai persenjataan yang akan dibawa bisa disesuaikan dengan perkembangan suhu politik dikawasan. Selama tidak ada masalah dengan rusia persenjataan yang digotong masih standar MiG dari Rusia. Dan sejauh ini hubungan bilateral kita dengan Rusia atau Eropa masih terjalin baik. Sistem avionik barat yang bisa dicangkokan di MiG dari Israel dan Prancis. Mengingat tidak ada hubungan bilateral antara Israel dan Indonesia, kemungkinan yang paling cocok dari sistem avionik prancis. Karena sebagian radar yang dipasang di negara kita saat ini adalah Thales Prancis.  

Selama bangsa ini serius dalam pembuatan Pesawat tempur pasti ada jalan untuk mewujudkan pesawatt IFX. Jalan selalu ada, mengenai jalan mana yang akan dipilih kita serahkan kepada pemerintah. Semoga pembuatan pesawat IFX yang selama ini diharapkan rakyat Indonesia tetap terwujud. Dengan adanya alternatif pengembangan bersama MiG jika program KFX gagal, bukan hal yang tidak mungkin kalau sejarah masa lalu tentang teknologi pesawat MiG yang superior bisa disematkan di IFX/LFX.

 

Posted by : AL

  40 Responses to “MiG : Antara Sejarah, Mimpi dan Kenyataan Pahit”

  1. keren juga ne pesawat.

  2. test komrn

  3. Wah telat nih coba dari awal joint nya dengan MIG mungkin saat ini sudah proses uji terbang

  4. Selamat pagi warjag semuanya

  5. Antara Sukhoi dan Mikoyan
    Kalau boleh memilih,saya pilih MiG 1.44 ketimbang S-37/Su-47 Berkut

  6. Kesempatan tdk datang 2 x beri

  7. Selamat pagi Indonesia…
    Artikel terbaru dari jakartagreater membuat saya jadi lupa kalau lg masak air di dapur,heheheheehe……
    Semoga ini bkn cmn sebuah artikel tapi menjadi sebuah rancangan dan strategi KemenHan dan TNI AU kita untuk kemandirian pespur IFX kita nantinya.
    Kalau artikelnya sdh naik di jakartagreater,,,,hehehehehe ane yakin dehh pasti n pasti….kita tggu aja perkembangannya…

  8. Saya kira ngga semudah itu bagi Indonesia untuk “merayu” MiG dalam pengembangan pesawat generasi ke-5. Selain keuangan kita yang pas-pasan sehingga dianggap kurang menarik, faktor lainnya adalah dari pemerintah Russia sendiri. Saya kira ga akan semudah itu pemerintah Russia membiarkan MiG berpartner dengan negara asing lain, apalagi menyangkut teknologi sensitive. Kalo emang beneran gampang, saya yakin India udah gandeng MiG dari dulu. Harap diingat, India saat ini punya 2 proyek pengembanganjet tempur generasi ke lima: Yang pertama adalah kerjasama HAL dengan Sukhoi dimana merupakan turunan dari PAKFA, dan yang kedua adalah proyek rancangan HAL sendiri untuk jet ringan-sedang (HAL AMCA). Nah kenapa ga nggandeng MiG misalnya? Soal duit saya rasa ga masalah. Dari segi kedekatan juga India jauh lebih dekat dengan Russia dibanding Indonesia. Satu-satunya alasan ya dilarang pemerintah Russia.

    • Ohhh jadi paman bear lebih dekat dgn india toh…karna india infes gila gilaan di dunia pespur paman bear,gitu ya om??
      Kalau gitu gini aja om..dalam dunia bisnis selalu aja ada yg namanya kejutan,kita gk tau kan di india lain dan di Indonesia lain ceritanya,jadi kita optimis aja dan berdoa untuk yg terbaik bagi bangsa ini.selamat beraktifitas om,sukses ya sayyyyy…..

    • Saya ijin jawab bung bluesky.. anda yakin uang kita pas2an? $ 2 milyar menurut anda pas2an yah bung?xixixixi Ditengah krisis kaya gini, tp negara yg katanya pas2 tp malah gencar2nya membangun infrastruktur.. silahkan anda bayangkan dlm waktu 3 tahun setelah proyek infrastruktur kita jadi.. pertumbuhan ekonomi negara kita seperti apa..

      Saat ini MiG bukanlah prioritas, kurangnya dukungan pemerintah rusia mau tidak mau MiG butuh bantuan investasi asing.. karena pemerintah rusia sudah terbebani proyek PAKFA.. yg ada MiG cuma di PHP in aja.. justru rusia merasa trbantu dgn biaya riset yg ada.. dimana sebenernya pemerintah rusia pun membutuhkan pesawat ringan utk mendampingi Pakfa mengingat MiG 29 yg makin menua.. sejauh ini hubungan bilateral kita dgn rusia baik2 aja bung, malah cenderung membaik tiap tahunnya..

      Alasan India tdk memilih MiG, karena India butuh teknologi utk pengembangan pesawat Tejasnya dikelas ringan.. Banyaknya masalah di proyek tejas, yg membuat India mau tidak mau mencari teknologi yg bisa mendukung Tejas.. karena platform pengembanganTejas dari Mirage.. sehingga memudahkan india mencangkokan teknologi yg ada di rafale ke Tejas.. makanya MiG sempat membuka option utk sistem avionik di MiG bisa menggunakan produk prancis.. karena ketidak cocokan MiG dengan Tejas dan hanya sebagian teknologi yg bisa diserap ke Tejas.. membuat india menoleh ke rafale.. Demi proyek Pesawat nasioanalnya pemerintah india harus rela tetap mengaktifkan pesawat lawasnya.. dibandingkan harus mencari kuantitas skuadron pesawat tempurnya.. dimana kalo opsi MiG yg diambil bisa menutupi skuadron lawas India yg harusnya sudah pensiun..

    • Maaf bung @BS sy krg spendapat dgn opini anda.
      Mari kita brdiskusi:
      Realita tdk slalu selaras dgn harapan/cita2,
      Analisa yg objektif tdk bisa di samakan dgn analogy sederhana.
      Apalagi dgn analogy rokok getengan yg bung gambarkan.

      Soal ‘teknologi strategis’ stiap negara pasti punya batasan2 & tdk serta-merta diberikan bgtu saja.(trmasuk indonesia)

      Sy lebih spendapat dgn bung @boldun dlm menganalisa.
      Modal project tolak ukur nya tdk hanya uang smata, investasi jangka panjang adalah salah satu tawaran yg menggiurkan bagi rusia di indonesia.
      (Bbrapa contoh sdh di paparin bung boldun).

      Contoh thn 1960an:
      Saat indonesia mrebut papua barat?
      bgmn, sprti apa dan dgn apa saat itu indonesia yg msh ksulitan&brperang dgn sekutu bs mmiliki armada tempur kuat di 3 matra dr produk timur?
      Mari direnungkan..

      Salam, bung @BS sllu ttp optimis dan brusaha..

  9. dengan mig negara kita pernah jadi macan asia,jasmerah,,, tidak ada salahnya untuk mengulang hal yg sama bersama mig,, dgn tekhnologi tinggi dan pengalaman yg matang dari mig,tidak susah untuk mewujudkan pespur nasional yg handal,,,proyek kerjasama dgn mig kyknya lebih realistis untuk bekerjasama dgn proyek LFX,,, sementara menunggu proses produksi KFX/IFX yg masih dalam tahap pengembangan tidak ada salahnya RI juga menggandeng mig untuk joint produksi ditanah air,,, mig dgn produk yg sudah jadi bisa jadi bahan modifikasi yg bagus bagi tekhnisi kita yg cukup brilian dan tentunya tidak hrs menunggu hingga tahun 2025 pespur nasional rasa rusia bisa segera menari nari di langit nusantara,,,

  10. info hoax yang beredar adalah : alasan Korea mengajak indonesia dalam proyek kfx/ifx, karena Indonesia ‘bisa’ mengusahakan 4 teknologi yang di banned USA. Tapi karena hoax ya jangan dipercaya yah,…

  11. Benar sekali bung seperti nick anda….
    Ifx itu nantinya kita buat fersi kita sendiri tdk murni ikut korea,nah dstlah kita butuh yg lain dari yg lain.
    Bukan untuk mengubah/atau berpaling dari IFX..

  12. Oooh ini toh clue hoaxnya…yg pernah gue denger,baca tentang produsen pespur yg mau bangkrut bangkit kembali karena dapat suntikan modal dari indonesia…dan rasa terima kasihnya pem.rusia kpd indonesia..ajiiib..hahahaha..

  13. untuk diingat,mig pernah menjadi raja udara sebelum tekhnologinya jatuh ke tangan USA,,,sebelum itu tekhnologi pespur rusia jauh meninggalkan tekhnologi pespur USA,,dan untuk menjadi raja kembali mig sudah punya formulasinya dgn segudang pengalaman dan riset yg sangat cermat

  14. saya kira rusia gak bakal mau kerjasama dengan indonesia…kenapa???bedakan india dengan indonesia….india itu tak segan gelontorkan uang besar demi riset dan pembelian alutsista….sedang indonesia???rusia tau banget kelakuan indonesia…ribet berbelit2..ngeteng lagi….apa mau diharapkan???

  15. Nickny kyk judul film perang somalia. Yg tentara asu KO sama.pemberotak somalia

  16. setuju banget kalau PT DI kerjasama dengan MiG. Gausa pesawat generasi kelima dulu deh, bisa bikin pesawat tempur ringan seperti Eagle Korea atau Tejas India sudah hebat. kalau sudah bisa bikin pesawat tempur ringan, baru deh langkah selanjutnya pesawat tempur berat.

  17. Kalo pun iya mau ada kerjasama dgn MiG yg jelas ga mungkin skrg krn nanti ada tabrakan kepentingan antara Barat sm Russia. Kalo proyek IFX udah kelar ya mungkin2 aja, amin.

  18. Bukannya ketinggalan jaman bung koplak,, lebih tepatnya kurang dana untuk riset.. buktinya walaupun kurangnya dana & dukungan pemerintah, MiG tetap melakukan riset utk teknologi trbaru.. semangat yg patut dicontoh..

    Keuntungan perusahaan yg udah sekarat biasanya ga banyak neko2 dibanding yg sehat.. biaya akusisinya pun murah.. namanya jg orang butuh..xixixixi

    Teknologi gen 4++ itu hanya jangka pendek.. jangka panjangnya tetep gen 5.. yg harus dilakukan saat ini kita memberi simpatik dan kepercayaan ke MiG, kalo kita partner yg baik dan mampu dlm membuat pesawat tempur..

  19. sungguh beruntung negara rusia yg memiliki banyak pabrik pesawat terbang,diantaranya sukhoi,mig,irkut,yakolev dll,atau USA dgn boeing,lokheed martin,northrop grumman,mc donald douglas dll,,,dan mereka mandiri,,,

    berharap agar RI punya proyek pespur selain IFX/KFX yg bekerjasama dgn korsel, Indonesia negara besar dan merdeka,bukan hal mustahil jika proyek kerjasama LFX/mig bisa terealisasi,,,siapa tahu dari hasil dua proyek ini nantinya,RI bisa menghasilkan produk pespur nasional yg benar”made in Indonesia mengingat adanya TOT dan riset anak bangsa sendiri yg jelas tidak mau ketinggalan zaman,,,

    tidak akan ada benturan kepentingan jika kita mampu bermain cantik,yg ada kerjasama yg saling menguntungkan,,,ingat Indonesia adalah bangsa besar yg merdeka bukan jajahan barat atau timur,,, jika sekarang ada istilah PAPA MINTA SAHAM yg berarti negatif, kedepannya kita berharap ada ANAK BELI SAHAM yg berarti positif untuk kemajuan bangsa

  20. pak menhan camana selerah kagak ama mig. . .moncer juga ne pesawat. .

  21. mig 35 keluarga mig termodern yang mewarisi kelincahan sukhoi dan yang lebih penting udah gak ngebul knalpotnya…pesawat bagus dng harga bagus terlepas dari unsur politik..

  22. Artikel yg brmanfaat bung @AL dan sangat membuka fikiran..

    Selalu optimis dlm mnggapai cita2..
    Peluang slalu ada utk yg brsunguh2..

    Semoga…

    Salam sejahtera utk semua

  23. Wah mayan nih, kohanudnas kan sedang nyari 2 skudron pencegat tuh. Borong aja dah ini, minta tot sekalian

 Leave a Reply