Militer AS Akan Persenjatai Pembom B-52 dengan MOAB

JakartaGreater.com – Angkatan Udara AS sedang berusaha untuk memodifikasi pesawat pembom B-52 Stratofortress untuk dapat mengakomodasi mengangkut dan mengirim apa yang disebut sebagai “induk dari segala bom”, sebuah julukan kreatif itu yang diberikan kepada senjata Massive Ordnance Air Blast (MOAB).

Menurut laporan terbaru yang dilansir dari laman Sputnik, bom tersebut digunakan bulan April lalu ketika sebuah pesawat militer AS menjatuhkan bom GBU-43 / MOAB di sebuah pemukiman teroris yang diduga dikelola oleh Daesh di Afghanistan. Bom GBU-43 dianggap sebagai bom non-nuklir paling kuat yang ada di gudang senjata AS.

Angkatan Udara AS kini sedang mencari informasi dari industri militer mengenai sumber yang mungkin memiliki keahlian, kemampuan dan pengalaman untuk memenuhi syarat kualifikasi untuk memasang bom GBU-43 / MOAB tersebut ke pembom B-52, salah satu peralatan militer tertua yang masih digunakan oleh AS hingga saat ini.

Induk dari segala bom atau MOAB di gudang senjata Angkatan Udara AS © Own Work via Wikimedia Commons

Ketika bom itu dijatuhkan pada tahun 2017, awak pesawat hanya melepaskan bom dari dudukan yang berada dalam pesawat kargo C-130, membiarkan gravitasi dan pemandu satelit (GPS) melakukan sisanya.

Pesawat B-52 Stratofortress memiliki “keterbatasan” untuk membawa senjata berat itu di bawah sayapnya, menurut RFI tanggal 21 Juni 2018, yang memerlukan modifikasi untuk dapat membawa amunisi yang lebih berat dari 5.000 pon. Pesawat B-52 ini biasanya membawa sebagian besar senjata mereka di bay senjata internal, tetapi pintu bay hanya berukuran 28 kaki sedangkan MOAB berukuran 30 kaki.

“Ketika [pylon senjata eksternal saat ini] diperkenalkan, tidak ada persyaratan dan tidak ada orang yang memperkirakan perlunya membawa senjata yang lebih berat dari 5.000 pon”, tulis dokumen itu.

Pylon senjata eksternal terbaru akan diperlukan untuk membawa “banyak senjata di kelas 5.000 hingga 20.000 pon”, menurut dokumen pengadaan militer. Berat MOAB diperkirakan sekitar 20.000 pon.

Di ranah senjata non-nuklir, “Bapak dari segala bom” Rusia (FOAB), peledak termobarik, memiliki kekuatan sebesar 88.000 pon TNT, kira-kira empat kali lebih kuat dari MOAB. MOAB juga merupakan senjata termobarik atau bahan peledak yang menggunakan bahan bakar terdispersi untuk menciptakan campuran udara yang mudah menguap yang bakal menghasilkan ledakan udara perkusi kolosal pada saat detonasi.

Pesawat pembom B-52 juga bisa membawa senjata nuklir, yang ironisnya, jauh lebih kecil daripada ukuran MOAB namun ribuan kali lebih kuat. Pembom B-52 bisa membawa 2 bom termonuklir B53, yang beratnya masing-masing sekitar 8.850 pon.

Tinggalkan komentar